Cersil Online Karya Kho Ping Hoo

Pedang Kayu Harum Jilid 02

Pedang Kayu Harum

Jilid 02

Karya Kho Ping Hoo

PEDANG ini terbuat dari kayu yang jarang terdapat di dunia ini, karena kayu itu adalah kayu harum yang terdapat di dekat Puncak Pegunungan Himalaya di dunia barat. Dalam perantauannya Sin-jiu Kiam-ong mendapatkan pedang itu sebagai anugerah dari seorang pertapa India yang sudah mendekati saat terakhir.

Kayu dari sebatang pohon yang mungkin hanya tersisa beberapa batang saja di seluruh puncak Himalaya. Kayu yang sangat harum baunya, dan keras laksana baja. Akan tetapi di samping harum kayu ini juga merupakan obat penolak segala pengaruh racun. Barang beracun apa saja apa bila tersentuh kayu ini seakan-akan terhisap racunnya dan tidak berbahaya lagi.

"Siang-bhok-kiam ini adalah sahabatku selama puluhan tahun," ia berkata sambil menarik napas panjang dan mencium pedang itu dengan ujung hidung. "Bukan hanya merupakan pedang wasiat yang amat keramat, juga pemilik pedang ini akan dapat membuka rahasia tempat simpanan seluruh milikku, mulai dari kitab-kitab pusaka berisi pelajaran ilmu-ilmu yang tinggi sampai simpanan perhiasan-perhiasan berharga dan senjata-senjata mustika. Betapa pun juga hanya dia yang berjodoh saja agaknya yang akan dapat memiliki semua itu melalui pedang ini. Akan tetapi kalian juga harus ingat baik-baik, karena kalian semua menghendaki pedang ini, maka kurasa siapa pun di antara kalian tidak akan mudah dapat membunuhku sungguh pun aku berjanji tak akan melawan dengan sebuah jari tanganku. Nah, aku sudah siap, siapa mau turun tangan merampas pedang, lakukanlah, aku tidak akan menghalangi!"

Setelah berkata demikian, Sin-jiu Kiam-ong segera menaruh pedang itu kembali ke depan kakinya di atas tanah lalu bersedekap dan memejamkan matanya. Mulutnya tersenyum ikhlas, sama ikhlasnya dengan hatinya yang telah bulat menyambut datangnya maut.

"Sie Cun Hong, aku maafkan dosamu asal kau mau memberikan pedang itu kepadaku!" terdengar teriakan Kiu-bwe Toanio Lu Sian Cu.

Teriakan itu disusul bunyi bergeletar nyaring sekali. Sinar-sinar hitam manyambar karena sembilan ujung cambuk yang memiliki kaitan-kaitan itu telah menyambar ke arah pedang kayu di depan Sin-jiu Kiam-ong.

"Trang-trang-trang...!" Bunga api berpijar dan kesembilan ‘ekor’ cambuk terpental.

"Kalian mau apa?" bentak Kiu-bwe Toanio marah dan mukanya menjadi merah. Matanya mendelik memandang ke arah delapan orang lain yang sudah serentak maju menangkis cambuknya.

"Hemm, bukan kau seorang saja yang membutuhkan pedang Siang-bhok-kiam, Kiu-bwe Toanio, kami pun memerlukannya!" Ucapan ini keluar dari mulut Coa Kiu kakek tokoh Hoa-san-pai dan secepat kilat Coa Kiu dan Coa Bu, kedua Hoa-san Siang-sin-kiam telah menggerakkan pedang mereka menjadi sebuah cahaya panjang dan kuat menuju ke arah Siang-bhok-kiam dengan maksud mendahului dan merampas pedang kayu itu sebelum yang lain sempat bergerak.

"Trang-trang...!" Kembali sinar pedang yang kuat ini terpental akibat ditangkis oleh banyak senjata.

"Ho-ho-ho, Hoa-san Siang-sin-kiam, jangan tergesa-gesa! Pinceng juga butuh…!" Thian Kek Hwesio tokoh Siauw-lim-pai yang berkulit hitam itu mengejek.

Senyum di bibir Sin-jiu Kiam-ong melebar dan kini sembilan orang yang saling pandang itu mengerutkan kening. Baru mereka ketahui apa artinya ucapan Sin-jiu Kiam-ong tadi yang mengatakan bahwa siapa pun di antara mereka takkan mudah membunuh kakek itu biar pun si kakek tidak melawannya. Kiranya kakek itu sudah dapat menduga lebih dulu bahwa di antara sembilan orang ini tentu akan terjadi perebutan!

Sementara itu, di balik sebatang pohon besar bersembunyi Keng Hong. Bocah ini tadinya meniup suling di atas punggung kerbau dan memasuki hutan sambil melanjutkan meniup sulingnya perlahan-lahan. Setelah tiba di tengah hutan, dia terpaksa menghentikan tiupan sulingnya yang tadi dilakukan hanya untuk menentramkan hatinya yang berdebar-debar.

Dia menyelinap di antara pohon-pohon ketika melihat banyak orang berdiri di lapangan terbuka di hutan mawar itu. Sambil menahan nafas dia pun menonton dan mendengarkan seluruh percakapan. Diam-diam timbul rasa suka dan kasihan di hatinya terhadap kakek aneh yang duduk bersila, apa lagi setelah dia mendengar ucapan kakek itu seakan-akan telah menyerahkan nyawanya kepada sembilan orang yang sikapnya mengancam itu.

Dan pada saat yang sama timbullah rasa tidak suka kepada mereka. Dia sudah banyak membaca tentang watak orang-orang budiman, bijaksana dan gagah perkasa, watak para pendekar yang selalu menjunjung tinggi kebenaran, keadilan dan kegagahan. Akan tetapi sembilan orang itu hendak mengeroyok seorang kakek tua renta yang sama sekali tidak mau melakukan perlawanan. Alangkah picik dan hina!

Sembilan orang itu kini saling berhadapan dengan pandang mata penuh kemarahan. Tak ada seorang pun di antara mereka mengeluarkan kata-kata, tetapi pandang mata mereka sudah menyatakan perasaan mereka dengan jelas dan seluruh urat syaraf di tubuh sudah menegang, siap menggempur lawan untuk memperebutkan pedang pusaka yang sangat mereka inginkan itu.

Akhirnya Kok Cin Cu, orang termuda dari Kong-thong Ngo-lojin, menghela napas panjang dan berkata, suaranya seperti biasa halus namun penuh wibawa.

"Mencapai cita-cita tinggi tidaklah mudah, mendapatkan Siang-bhok-kiam benda pusaka tentu saja amat sukar. Memang patut ditempuh dengan mempertaruhkan nyawa. Baiklah, mari kita semua membuktikan, siapa di antara kita yang paling tepat dan berjodoh untuk memiliki Siang-bhok-kiam." Setelah berkata demikian, Kok Cin Cu meraba pinggangnya dan…

"Singgg…!" terdengar suara nyaring ketika tosu tua ini melolos sabuknya yang ternyata merupakan sabuk baja yang tipis dan halus.

Kiranya sabuk ini adalah senjata istimewa tosu itu, dimainkan seperti orang memegang sebuah pecut yang tajam. Sabuk ini mengeluarkan suara berdesing dan tampak sinarnya berkelebatan menyilaukan. Sambil memutar sabuk itu di atas kepala, lengan kiri tosu lihai ini mengeluarkan bunyi berkerotokan, terisi oleh Ilmu Ang-liong Jiauw-kang yang agaknya lebih mengerikan dan lihai dari pada sabuk baja itu sendiri!

"Omitohud! Terpaksa kita melanggar pantangan membunuh, Sute!" kata Thian Ti Hwesio yang beralis putih kepada sute-nya sambil memutar tongkat yang dibawanya.

Bukan tongkat sembarangan tongkat, karena tongkat itu adalah sebatang tongkat senjata yang disebut Liong-cu-pang (Tongkat Mustika Naga), tongkat yang ujungnya besar bulat seperti bola baja, dan beratnya tidak akan kurang dari dua ratus kati!

Sute-nya, si tinggi besar berkulit hitam Thian Kek Hwesio juga telah mengeluarkan suara gerengan dan segera dia menggerakkan tangan kanan.

"Wuuuuttt...!" terdengar suara dan angin keras menyambar.

Kiranya dia telah melolos jubah yang dipakainya tadi dan kini jubah itu sudah dia pegang ujungnya. Jangan anggap ringan senjata jubah ini, karena berada di tangan hwesio tinggi besar itu, jubah ini bisa berubah menjadi senjata yang kerasnya melebihi baja, lemasnya melebihi sutera dan tajamnya menandingi pedang!

Keng Hong memandang dengan mata terbelalak dan dada berdebar. Dia melihat betapa kakek tua renta yang duduk bersila itu sama sekali tidak bergerak, masih memejamkan mata akan tetapi senyum di mulutnya jelas mengandung ejekan, seakan-akan kakek itu menahan rasa geli dan memaksa diri tidak tertawa bergelak.

Dia sendiri pun merasa geli dan ingin tertawa menyaksikan tingkah laku sembilan orang itu yang dianggapnya seperti badut-badut tak tahu malu atau seperti segerombolan anjing hendak memperebutkan tulang. Dari tempat dia sembunyi, pedang di depan kakek tua itu memang seperti sepotong tulang saja. Akan tetapi mana mungkin dia bisa tertawa kalau menyaksikan sembilan orang itu kini telah mengeluarkan senjata semua?

Pada lain saat pandang Keng Hong menjadi silau dan kabur, telinganya seperti tuli ketika terdengar suara desing senjata yang hiruk pikuk, matanya melihat sinar-sinar berkelebat. Dia ternganga keheranan dan hampir tidak dapat mempercayai pandang matanya sendiri.

Tubuh sembilan orang-orang tua itu telah lenyap dan yang tampak kini hanya bayangan-bayangan berkelebatan dibungkus bermacam-macam sinar, ada merah, putih, hijau dan kuning. Suaranya juga bising sekali, ada suara meledak-ledak seperti halilintar, suara mendesis seperti ular marah, suara bersuitan seperti angin badai, berkerosokan seperti angin mengamuk dan berdentangan, seperti di situ terdapat banyak pandai besi bekerja!

Di tengah-tengah semua hiruk pikuk dan sinar berkelebatan itu, jelas nampak kakek tua renta masih duduk bersila dengan mulut tersenyum lebar. Pedang kayu itu masih tetap menggeletak mati di depan kakinya.

Pertempuran yang kacau-balau itu amat serunya dan terutama sekali perhatian masing-masing ditujukan untuk mencegah lain orang merampas pedang. Maka, sampai lama tak ada korban yang jatuh, apa lagi karena mereka itu terdiri dari orang-orang yang sudah mencapai tingkat tinggi dalam ilmu silat. Tanpa mereka sadari, mereka itu saling bantu dalam pertempuran kacau-balau itu.

Biar pun kedua matanya dipejamkan, telinga Sin-jiu Kiam-ong dapat menangkap jalannya pertandingan dan hatinya terpingkal-pingkal, akan tetapi juga mata hatinya terbuka lebar. Beginilah watak manusia di seluruh jagat, pikirnya. Pertempuran antara tokoh besar ini mencerminkan keadaan di dunia, mencerminkan watak manusia yang sangat bodoh dan lucu, seolah-olah manusia di dunia ini memainkan peran badut yang menggelikan!

Manusia di dunia ini selalu saling hantam, saling memperebutkan demi pemuasan nafsu pribadi yang mereka sebut cita-cita. Padahal, hakekatnya mereka hanya memperebutkan kedudukan, atau nama, atau harta, atau pemuasan nafsu. Untuk mencapai ‘cita-cita’ ini, mereka tidak segan-segan untuk saling menjatuhkan fitnah, saling menyalahkan, saling mengejek, saling menipu, saling merugikan dan apa bila perlu saling membunuh!

Yang besar melahap yang kecil, yang kecil mencaplok yang lebih kecil lagi sedangkan yang besar dilalap oleh yang lebih besar lagi! Kedudukan, kemuliaan, nama besar, harta benda, benda-benda indah, wanita cantik diperebutkan secara tak tahu malu seolah-olah kesemuanya itu akan mendatangkan bahagia dalam hidup masing-masing.

Padahal, dan hal ini sudah dialami oleh Sin-jiu Kiam-ong selama petualangannya puluhan tahun, semuanya itu kosong belaka. Semuanya itu akan musnah kenikmatannya setelah didapatkannya, bukan kebahagiaan yang didapat, melainkan terlalu sering sekali bahkan mendatangkan kepahitan. Karena yang menang akan mabuk dan diintai mata dan hati si kalah yang penuh iri dan dendam, yang kalah akan mabuk oleh dendam dan penasaran sehingga mencari segala daya upaya untuk menjatuhkan kembali yang menang
!

Kakek ini seakan-akan dapat melihat betapa siapa yang akhirnya mendapatkan pedang Siang-bhok-kiam selalu akan dirundung malang, selalu dimusuhi, dikejar-kejar. Ingin dia tertawa kalau memikirkan hal ini!

Tiba-tiba terdengar suara ketawa tergelak-gelak. Suara tawa yang memekakkan telinga, yang membuat Keng Hong tiba-tiba saja roboh berlutut karena kedua kakinya menggigil. Tampak berkelebat tiga bayangan hitam dan pertandingan yang tadinya kacau balau itu tiba-tiba berhenti karena sembilan orang itu terpelanting ke kanan kiri.

Sekarang mereka bersembilan berdiri siap siaga dengan wajah penuh keringat, mata liar mengganas memandang ke arah tiga orang yang mendadak muncul dan yang sekaligus membuat mereka yang sembilan orang tokoh-tokoh kenamaan yang berilmu tinggi itu terpelanting ke kanan kiri.

Keng Hong kini dapat berdiri kembali dan dia pun mengintai, memandang ke arah tiga orang itu. Jantungnya berdebar keras dan mulutnya melongo, matanya terbelalak, hatinya diliputi kengerian. Tentu bukan manusia yang muncul ini, melainkan tiga iblis penghuni hutan.

Belum pernah Keng Hong melihat orang-orang yang memiliki wajah dan tubuh demikian mengerikan. Orang pertama adalah seorang nenek yang rambutnya kemerahan, rambut gimbal yang kasar serta riap-riapan menutupi sebagian mukanya. Muka itu sendiri merah seperti udang direbus, mulutnya menyeringai memperlihatkan gigi yang besar-besar dan panjang-panjang sehingga bibirnya tidak dapat tertutup dan selalu menyeringai.

Pakaiannya dari sutera hitam berkembang merah dengan potongan ketat hingga melekat di kulit tubuhnya, mencetak tubuhnya bagaikan telanjang bulat sehingga tampak betapa sepasang buah dadanya besar-besar seperti buah semangka. Nenek ini tidak memegang senjata, akan tetapi sepuluh buah kuku jari tangannya panjang-panjang dan meruncing seperti sepuluh batang pisau yang hitam kemerahan, amat mengerikan!

Orang ke dua adalah seorang kakek yang usianya sebaya dengan nenek itu, kurang lebih delapan puluh tahun. Tubuhnya tinggi besar laksana raksasa, tentu sedikitnya ada dua meter, besar dan kulitnya hitam arang penuh bulu. Apa bila tidak pakai pakaian dia tentu lebih patut disebut orang hutan.

Pakaiannya juga dari sutera berwarna berkembang. Oleh karena kulit mukanya juga hitam seperti arang, maka tampaklah biji matanya putih lebar menyeramkan. Kedua telinganya seperti telinga gajah, lebar. Yang mengerikan adalah sepasang tengkorak kecil, agaknya tengkorak anak-anak, yang tergantung pada kedua rantai baja, dua buah tengkorak yang sudah menghitam dan agaknya mengeras seperti besi karena kedua tengkorak itu telah direndam racun sampai puluhan tahun lamanya.

Ada pun orang ke tiga, sungguh pun tidak tinggi besar menyeramkan, akan tetapi cukup mengerikan karena bentuknya yang tidak lumrah. Tubuhnya kecil kate, namun kepalanya besar sekali dan berbentuk lonjong seperti buah labu. Mukanya sempit dengan sepasang mata yang hanya merupakan dua buah garis kecil, sikapnya pendiam dan alim. Tangan kanannya memegang sebatang hudtim (kebutan dewa) yang gagangnya hitam namun bulu kebutannya putih. Kedua lengannya bersedakap dan bibirnya selalu bergerak-gerak seperti orang membaca doa!

Yang tertawa-tawa adalah nenek dan kakek tinggi besar itu. Kini pun kakek tinggi besar masih tertawa sehingga dua buah tengkorak kecil yang tergantung di pinggangnya turut bergerak-gerak dan saling beradu menimbulkan suara seolah-olah dua buah tengkorak itu ikut pula tertawa.

Sembilan orang tokoh kang-ouw, yang tadinya terpelanting ke kanan kiri, sesudah dapat memandang tiga orang ini, tampak terkejut sekali, tercengang dan gentar. Tiga orang manusia iblis ini memang jarang muncul di dunia ramai, namun sebagai tokoh-tokoh kang-ouw kenamaan tentu saja mereka mengenal siapa adanya tiga datuk persilatan, raja-raja dari golongan sesat ini.

Nenek itu bukan lain adalah Ang-bin Kwi-bo (Nenek Iblis Muka Merah) yang seolah-olah merajai kaum sesat pada sepanjang pantai laut timur. Kakek tinggi besar berkulit hitam dengan senjata dua buah tengkorak itu adalah Pak-san Kwi-ong (Raja Setan Gunung Utara) yang merajai kaum sesat di sepanjang tembok besar di utara, bahkan terkenal sekali dan ditakuti oleh bangsa-bangsa Mongol, Mancu dan lain-lain. Orang ketiga yang kate dan bersikap seperti dewa itu dikenal dengan nama julukan Pat-jiu Sian-ong (Raja Dewa Lengan Delapan), karena Pat-jiu Sian-ong ini selalu merantau ke barat dan tidak pernah ada tokoh yang sanggup menandinginya. Inilah tiga orang di antara empat datuk kaum sesat yang pada masa itu merupakan tokoh-tokoh yang tertinggi ilmunya dan yang tersebar merajai empat penjuru.

"Ha-ha-ha!" Pak-san Kwi-ong tertawa mengejek dan menyapu sembilan orang itu dengan pandang matanya. Biji matanya yang putih itu bergerak-gerak lliar ke kanan kiri, sungguh menyeramkan. "Ternyata sembilan tikus ini pun kepingin mendapatkan Siang-bhok-kiam! Ha-ha-ha! Memang benar sekali, sebelum berhak mendapatkan pedang pusaka, harus menjadi pemenang terlebih dulu. Kalian ini tikus-tikus pelbagai golongan, setelah melihat kami bertiga datang, tidak lekas menggelinding pergi, apakah ingin kami turun tangan dan menjadikan kalian sebagai setan-setan tanpa kepala?"

"Kwi-ong, usir saja anjing-anjing itu. Apa bila dibunuh, tentu kelak teman-temannya akan menggonggong, akan membikin repot saja!" kata Ang-bin Kwi-bo sambil menyeringai.

Sembilan orang itu adalah tokoh-tokoh dunia kang-ouw golongan bersih. Meski pun pada saat itu mereka saling bertentangan dalam memperebutkan Siang-bhok-kiam, akan tetapi mereka tetap merasa diri mereka bersih. Kini menghadapi tiga orang tokoh yang menjadi datuk kaum sesat, tentu saja mereka merasa bertemu dengan lawan sehingga otomatis mereka melupakan pertentangan sendiri, di dalam hati sudah bersatu untuk menghadapi tiga lawan yang mereka tahu memiliki kesaktian hebat itu. Namun sebagai tokoh-tokoh besar dunia persilatan, mereka tidak menjadi gentar.

"Bagus! kalau kami tidak salah kira kalian bertiga ini tentulah tiga orang di antara Bu-tek Su-kwi (Empat Iblis Tanpa Tanding)! Memang, siapa yang paling kuat di antara kami berhak memiliki Siang-bhok-kiam, akan tetapi kalian ini iblis-iblis berwajah manusia tidak masuk hitungan, dan sudah menjadi kewajiban kami semua pendekar golongan bersih untuk membasmi iblis-iblis kaum sesat macam kalian bertiga!"

Terdengar suara ketawa terkekeh melengking tinggi dan Ang-bin Kwi-bo telah menerjang maju menyerang Sin-to Gihiap yang bicara tadi. Pendekar ahli golok yang sudah berusia delapan puluh tahun, sudah banyak pengalamannya bertanding dan pada masa itu sukar dicari tandingannya dalam permainan golok, menjadi kaget bukan main karena nenek itu menyerangnya dengan senjata yang amat luar biasa, yaitu....rambutnya!

Rambut yang gimbal kasar panjang ini bagai ratusan ekor ular serentak menerjangnya, mengeluarkan suara seperti anak panah menyambar dan didahului bau amis seperti ular beracun. Cepat Sin-to Gi-hiap memutar goloknya untuk menjaga diri, namun sebagian dari pada rambut itu menggulung goloknya dan sebagian lagi terus menyambar ke arah lehernya!

Pada saat itu terdengar seruan keras, "Omitohud!" dan kedua orang Siauw-lim-pai yaitu Thian Ti Hwesio dan Thian Kek Hwesio telah menerjang secara berbarengan.

Thian Ti Hwesio menggunakan Liong-cu-pang menghantam kepala nenek itu, sedangkan Thian Kek Hwesio menggerakkan jubahnya menangkis ke arah rambut yang mengancam nyawa Sin-to Gi-hiap! Sambil terkekeh aneh Ang-bin Kwi-bo menarik kembali rambutnya dan melangkah mundur kemudian ia mengulurkan kedua lengan, lengan kiri menyampok Liong-cu-pang sehingga hampir saja terlepas dari pegangan Thian Ti Hwesio, sedangkan lengan kanannya melingkar di depan dada.

Kini sepuluh buah kuku jari tangan nenek itu telah berubah makin menghitam dan jari-jari tangan itu bergerak-gerak aneh, sangat mengerikan. Betapa pun juga, dua orang tokoh Siauw-lim-pai bersama Sin-to Gi-hiap tidak menjadi gentar dan siap-siap mengurungnya.

Pendekar-pendekar tua yang lain tidak tinggal diam. Walau pun tidak ada yang memimpin dan tidak ada komando, mereka sudah menerjang maju. Kiu-bwe Toanio bersama dua orang tokoh Hoa-san-pai telah maju mengurung Pak-san Kwi-ong. Kiu-bwe Toanio lantas menggerak-gerakkan pecut berekor sembilan yang mengeluarkan bunyi ledakan-ledakan kecil, sedangkan kedua orang tokoh Hoa-san-pai itu sudah menyatukan pedang mereka.

Sedangkan sepasang suami isteri piauwsu, yakni Hek-houw Tan Kai Sek dan isterinya, bersama Kok Cin Cu tokoh lihai Kong-thong-pai, telah mengurung Pat-jiu Sian-ong yang tampak tenang-tenang saja. Si kate kepala besar ini hanya mengebut-ngebutkan hudtim di tangannya seperti orang mengusir lalat, namun hudtim yang hanya dikebut-kebutkan perlahan-lahan itu mengeluarkan suara bersiutan seakan-akan datang angin topan yang dahsyat! Suara ini diimbangi oleh suara menderu yang keluar dari rantai yang ujungnya ada sepasang tengkoraknya, yaitu senjata yang kini diayun-ayun oleh Pak-san Kwi-ong.

Keng Hong menonton dengan jantung berdebar-debar. Sungguh keadaan telah berubah amat mengherankan. Sembilan orang yang tadinya saling bertanding dan bayangannya lenyap terganti oleh sinar-sinar berkelebatan, kini bersatu padu menghadapi ketiga orang manusia iblis yang mengerikan. Meski pun mereka itu belum saling serang, akan tetapi keadaan sudah amat menegangkan.

Ketika Keng Hong melirik ke arah kakek tua renta yang duduk bersila, dia melihat betapa Sin-jiu Kiam-ong masih duduk diam tidak bergerak, namun senyum mengejek di bibirnya kini tidak tampak lagi dan kedua mata yang tadinya dipejamkan kini terbuka. Keng Hong terkejut karena sepasang mata kakek tua renta itu mengeluarkan sinar yang berkilat!

Akan tetapi perhatian Keng Hong segera tertarik dengan pertandingan yang telah dimulai. Begitu dia mengalihkan pandangan matanya, dia menjadi pening. Pertandingan sekali ini ternyata lebih hebat dan cepat dari pada tadi. Bayangan-bayangan manusia berkelebat, sukar dia mengenali bayangan siapa, berkelebatan cepat di antara sinar-sinar terang dan gulungan-gulungan uap hitam, kemudian terdengar pula bermacam-macam suara yang menusuk-nusuk telinga, selain itu tercium bau yang amis dan keras memuakkan.

Namun pertandingan itu berjalan sebentar saja. Terdengar kekeh tawa Ang-bin Kwi-bo diseling gelak tawa Pak-san Kwi-ong, disusul oleh suara senjata-senjata patah dan tubuh sembilan orang pengeroyok itu terpelanting lagi ke kanan kiri, akan tetapi sekali ini agak keras, bahkan terbanting ke tanah.

Pada saat sinar-sinar itu mulai lenyap, Keng Hong melihat betapa sembilan orang itu ada yang terbanting roboh, ada yang terhuyung-huyung ke belakang. Mereka ini menyeringai kesakitan dan bangkit bangun lagi dengan wajah pucat.

Pecut sembilan ekor di tangan Kiu-bwe Toanio kini ekornya tinggal lima, Liong-cu-pang di tangan Thian Ti Hwesio semplak pada bagian ujung yang bulat, jubah di tangan Thian Kek Hwesio robek, pundak Sin-to Gi-hiap berdarah.

Napas kedua Hoa-san Siang-sin-kiam terengah-engah, sedangkan tangan mereka yang memegang pedang menggigil. Juga Kok Cin Cu berdiri sambil memejamkan mata dan mengatur pernapasan untuk memulihkan tenaga sambil mengobati luka di sebelah dalam tubuhnya. Kedua suami-isteri piauwsu itu pun memandang pedang mereka yang tinggal sepotong, adapun kantong-kantong senjata rahasia mereka sudah kosong karena isinya hanya habis dihamburkan dengan sia-sia.

"Hi-hi-hik-hik! Kalian berani menentang Bu-tek Sam-kwi (Tiga Iblis Tanpa Tanding)?" kata Ang-bin Kwi-bo.

"Kelancangan kalian harus ditebus dengan nyawa!" kata Pak-san Kwi-ong sambil tertawa.

"Bersembahyanglah lebih dahulu sebelum menemui Giam-lo-ong (Raja Maut)!" Kini untuk pertama kalinya terdengar suara Pat-jiu Sian-ong dan ternyata suaranya halus dan seperti suara orang yang penuh kasih sayang!

Sembilan orang itu sudah bersiap-siap. Mereka itu semuanya sudah menderita luka, dan yang tak terluka telah mengorbankan senjatanya yang menjadi rusak. Akan tetapi karena maklum bahwa nyawa mereka terancam maut, mereka siap-siaga untuk melawan sampai detik terakhir.

Meski pun tidak tahu akan ilmu silat, apa lagi ilmu silat tinggi yang dimainkan mereka, dari percakapan itu Keng Hong maklum pula bahwa ketiga orang manusia iblis itu siap untuk membunuh sembilan orang tokoh pendekar itu, maka dia membelalakkan matanya sambil memandang dengan penuh ketegangan. Suling bambu di tangannya dia pegang erat-erat, seolah-olah dia pun bersiap-siap menerima terjangan maut.

Setelah tertawa lagi, tiga orang manusia iblis itu bergerak. Gerakan mereka berbarengan, masing-masing mengarah tiga orang lawan terdekat. Rambut pada kepala Ang-bin Kwi-bo menyambar ke depan, berlomba cepat dengan rantai tengkorak serta hudtim pada tangan kedua orang kawannya.

Sembilan orang yang sudah lemah itu maklum bahwa kali ini nyawa mereka tak berdaya menghadapi kehebatan ketiga orang lawan ini, apa lagi sekarang setelah mereka terluka dan lemah. Betapa pun juga mereka terluka dan lemah, mereka tetap saja menggerakkan tangan untuk mempertahankan diri.

Tiba-tiba saja terdengar suara mencicit keras dan nyaring sekali, berbarengan berkelebat sinar hijau yang panjang dan tebal, kemudian disusul bunyi nyaring.

"Cring-cring-tranggg...!"

Tiga orang manusia iblis itu cepat mencelat mundur sambil mengeluarkan seruan kaget. Tangkisan cahaya hijau tadi membuat sebagian rambut di kepala Ang-bin Kwi-bo rontok, kedua tengkorak Pak-san Kwi-ong berputaran, ada pun kebutan hudtim di tangan Pat-jiu Sian-ong bodol tiga helai!

Peristiwa ini bagi tiga orang manusia iblis merupakan hal yang amat hebatnya, karena tak pernah mereka mengira ada orang yang mampu sekali tangkis menolak mundur mereka. Karena kaget dan heran, mereka mencelat mundur dan kini mereka memandang dengan mata terbelalak penuh dengan kemarahan.

Kiranya di hadapan mereka sudah berdiri Sin-jiu Kiam-ong yang tersenyum-senyum dan pedang Siang-bhok-kiam yang diperebutkan itu sudah berada di tangan kanannya. Kakek ini tenang-tenang saja menoleh ke belakang dan berkata kepada sembilan orang tokoh kang-ouw yang memandang dengan mata terbelalak kagum.

"Harap Kiu-wi (kalian sembilan orang) suka mundur. Biar aku yang menghadapi mereka karena tiga iblis ini adalah tandinganku!"

Meski berwatak angkuh dan menjunjung kegagahan, sembilan orang ini pun merupakan orang-orang yang mengenal keadaan. Maka sambil menghela napas panjang mereka lalu melangkah mundur dan hanya menonton dari pinggiran.

"Sin-jiu Kiam-ong!" Kini Pak-san Kwi-ong membentak dan menudingkan telunjuk kirinya ke arah muka kakek tua renta itu. "Kabarnya engkau sudah mengundurkan diri dan tidak mau mencampuri urusan dunia ramai. Bahkan tadi kami mendengar bahwa engkau telah menyerahkan nyawa, tak akan melakukan perlawanan. Kenapa sekarang engkau hendak menentang kami? Apakah engkau sudah melupakan kegagahanmu dan hendak mampus sebagai seorang pengecut rendah yang menarik kembali ucapannya yang gemanya pun masih terdengar?"

Sin-jiu Kiam-ong tertawa, kemudian menjawab, "Hemm, kalian Bu-tek Sam-kwi dengarlah baik-baik! Aku sama sekali tak pernah berjanji kepada kalian bertiga! Aku berjanji kepada sembilan orang yang mewakili partai-partai yang dahulu pernah kuganggu. Aku berhutang kepada mereka, karena itu sekarang aku bersedia membayar dengan nyawaku. Pedang Siang-bhok-kiam ini sama harganya dengan nyawaku, maka kalau kalian bertiga datang hendak memperoleh Siang-bhok-kiam, harus lebih dulu dapat merampas nyawaku!"

"Bagus! Sin-jiu Kiam-ong manusia sombong yang sudah hampir mampus! Kami masih suka bicara denganmu karena mengingat bahwa engkau setingkat dengan kami. Jangan sekali-kali mengira bahwa kami takut kepadamu!" bentak Ang-bin Kwi-bo marah.

"Heh-heh-heh, Kwi-bo, dahulu, setengah abad yang lalu, engkau cantik jelita dan memiliki kesukaan yang sama dengan aku, yaitu berenang di dalam lautan asmara. Akan tetapi sekarang, heh-heh-heh, engkau buruk sekali......!"

"Gila...!" Ang-bin Kwi-bo langsung menerjang dengan kedua tangannya dan sepuluh buah kuku runcing mengandung racun dahsyat itu sudah mencakar ke arah Sin-jiu Kiam-ong.

Kakek ini menggoyang pergelangan tangannya. Sinar hijau lantas berkelebat dan si nenek memekik keras kemudian cepat menarik kembali kedua tangannya yang dari kedudukan menyerang berbalik terancam dibabat buntung oleh Siang-bhok-kiam!

Kedua orang kawannya tidak tinggal diam. Mereka sudah menerjang maju dan terjadilah pertempuran yang lebih dahsyat lagi dari pada tadi. Sembilan orang sakti yang menonton, hampir berbarengan mengeluarkan seruan-seruan kagum.

Mereka adalah orang-orang sakti, karena itu dengan pandang mata yang terlatih mereka dapat menikmati dan mengagumi permainan pedang Sin-jiu Kiam-ong yang benar-benar belum pernah mereka saksikan keduanya di dunia ini. Juga mereka merasa ngeri setelah kini mereka dapat mengikuti sepak terjang tiga orang iblis itu yang benar-benar luar biasa dan amat berbahaya.

Bagi Keng Hong, tentu saja penglihatan pada saat itu lain lagi. Ia tidak melihat lagi Sin-jiu Kiam-ong dan tiga orang iblis. Bayangan mereka sudah lenyap. Yang kelihatan olehnya hanyalah segulung sinar hijau bagaikan seekor naga bermain-main di antara mega-mega yang beraneka warna, ada mega hitam, ada yang putih dan ada yang kemerahan.

Pandang matanya berkunang dan kepalanya terasa pening sehingga Keng Hong terpaksa harus memejamkan matanya. Bila ia membuka matanya, ia menjadi silau dan berkunang lagi. Terpaksa ia pejamkan terus matanya, dan hanya mendengarkan dengan telinganya. Yang terdengar hanya lengking dan suara bercuitan, dia tidak tahu bagaimana jalannya pertandingan itu, siapa yang menang dan siapa yang kalah.

Jangankan bagi mata Keng Hong yang belum terlatih, bahkan sembilan orang sakti yang telah tinggi tingkat kepandaiannya itu pun menjadi silau dan pening. Makin lama gerakan Sin-jiu Kiam-ong dan ketiga orang lawannya, terutama sekali gerakan Raja Dewa Lengan Delapan, semakin cepat sehingga sukar diikuti pandangan mata lagi.

Sinar pedang Siang-bhok-kiam yang hijau itu mendadak menjadi lebar sekali pada waktu terdengar Sin-jiu Kiam-ong membentak, kemudian nampaklah sinar hijau mencuat ke tiga jurusan seperti bercabang, disusul pekik kesakitan tiga orang iblis itu. Tetapi tampak jelas oleh kesembilan orang itu betapa ujung pedang Siang-bhok-kiam sudah berhasil melukai dada ketiga orang iblis, dan sebaliknya, pipi kanan Sin-jiu Kiam-ong terkena guratan kuku tangan Ang-bin Kwi-bo dan punggungnya terkena gebukan salah sebuah tengkorak yang terbang membalik dan seolah-olah mencium punggung kakek itu.

Sin-jiu Kiam-ong terhuyung ke belakang, akan tetapi tiga orang lawannya juga mencelat sampai tiga tombak jauhnya. Mereka kini berdiri saling pandang, tak bergerak. Tiga orang iblis itu terengah-engah, pandang mata mereka beringas, mulut menyeringai.

Tiga orang iblis ini diam-diam merasa girang sekali. Sin-jiu Kiam-ong sudah terkena luka beracun. Racun-racun pada kuku Ang-bin Kwi-bo amat hebatnya, dan racun di tengkorak Pak-san Kwi-ong juga tak kalah ampuhnya.

Apa bila mereka bertanding lagi, amatlah sukar mengalahkan kakek itu yang benar-benar patut berjuluk Raja Pedang oleh karena permainan pedangnya memang hebat di samping pedang itu sendiri amat ampuh. Akan tetapi kalau mereka mengadu sinkang, pengerahan tenaga sakti akan membuat racun itu menjalar secara hebat dan akan membunuh Sin-jiu Kiam-ong! Dada mereka terkena tusukan ujung pedang Siang-bhok-kiam, namun karena tubuh mereka kebal dan luka itu tidak terlalu dalam, juga tak mengandung racun, mereka tidak khawatir untuk mengerahkan seluruh sinkang di tubuh mereka.

"Sin-jiu Kiam-ong, bersiaplah untuk mampus!" bentak Pak-san Kwi-ong.

Ia telah menekuk kedua lututnya, berdiri setengah jongkok, kemudian setelah melibatkan senjata rantai di pinggangnya raksasa hitam ini mendorongkan kedua lengannya sambil mengerahkan tenaga sinkang. Itulah pukulan jarak jauh yang mengandalkan Iweekang yang sudah sempurna, dikendalikan oleh sinkang (hawa sakti) untuk memukul lawan dari jarak jauh.

Pada waktu yang bersamaan, Ang-bin Kwi-bo yang tadi memutar-mutar kedua lengannya sehingga terdengar suara berkerotokan dan kedua lengannya menggigil, kini mendorong lengan kanan ke depan sedangkan lengan kirinya diangkat lurus ke atas dengan telapak tangan menghadap ke atas.

Pat-jiu Sian-ong telah menancapkan hudtim-nya di pinggang, kemudian kedua tangannya bergerak-gerak mendorong ke depan. Berbeda dengan dua kawannya yang mendorong sambil mengerahkan sinkang tanpa menggerakkan lengan, kakek kate ini terus-menerus menggerak-gerakkan kedua lengan dengan telapak tangan menghadap ke arah Sin-jiu Kiam-ong dan melakukan gerakan-gerakan memukul dengan telapak tangan.

“Wut-wuut-wuutt…!” Terdengar bunyi dari kedua telapak tangan itu.

Sin-jiu Kiam-ong masih tersenyum. Ia maklum bahwa lawan-lawannya hendak mengadu sinkang. Di samping Kiam-ong (Raja Pedang) dia juga berjulukan Sin-jiu (Tangan Sakti). Dia maklum bahwa lukanya yang mengandung racun itu merugikannya dalam mengadu sinkang, namun karena tiga orang lawannya sudah siap menantang, dia sebagai seorang yang berjuluk Sin-jiu, bagaimana mungkin akan menolak? Penolakan mengadu sinkang berarti memperlihatkan rasa jeri.

Karena itu sambil tersenyum dia pun lalu duduk bersila dan begitu tiga orang lawan itu menggerakkan lengan, dia pun langsung mendorong ke depan dengan kedua lengannya, menghadapi lawan. Segera terasa olehnya tenaga gabungan lawan menyerang dirinya. Dia mengerahkan sinkang, disalurkan ke dalam kedua lengannya, berkumpul pada kedua telapak tangannya dan ketika dia mendorong, serangkum tenaga dahsyat menerjang ke depan dan menahan angin pukulan tiga orang lawannya.

Apa bila sembilan orang tokoh kang-ouw itu memandang dengan hati penuh ketegangan, maka Keng Hong memandang dengan melongo dan hati penuh keheranan. Apakah yang mereka lakukan, pikirnya. Sungguh lucu. Mengapa mereka itu diam tidak bergerak seperti patung dengan lengan diluruskan ke arah lawan dan hanya kakek kate itu saja yang terus menggerak-gerakkan kedua lengan, mendorong-dorong angin kosong? Apakah mereka itu sedang bermain-main? Ataukah mereka sudah sedemikian tuanya sehingga menjadi pikun atau kehabisan tenaga setelah pertandingan yang serba cepat tadi?

“Trik-trik-trik…!” Tiba-tiba terdengar suara terus-menerus, makin lama makin nyaring.

Kiranya suara itu keluar dari kuku-kuku jari tangan Ang-bin Kwi-bo yang sengaja sambil mendorong menyentil-nyentil antara kuku-kukunya sendiri sehingga mengeluarkan bunyi seperti itu.

Beberapa detik kemudian suara itu disusul oleh suara menggereng keras yang keluar dari kerongkongan mulut Pat-san Kwi-ong yang terbuka. Suara gerengan yang rendah, tetapi tiada hentinya, sambung-menyambung dan mengandung getaran hebat.

Segera dua suara ini disusul pula dengan suara duk-creng-duk-creng seperti tambur dan gembreng. Kiranya suara ini keluar dari sebuah tambur kecil yang pinggirannya dipasangi kelenengan. Pat-jiu Sian-ong memegang tambur ini dengan tangan kirinya sedang tangan kanan masih terus didorong-dorongkan ke arah Sin-jiu Kiam-ong. Oleh kakek pendek ini tambur itu dipukul-pukulkan pada paha dan lututnya, sekali dipukulkan pada kulit tambur kemudian pada tepi lingkaran sehingga menimbulkan suara duk-creng-duk-creng nyaring sekali.

Sembilan orang itu mendadak duduk bersila dan memejamkan mata. Keng-Hong menjadi heran sekali dan lebih kagetlah dia ketika tiba-tiba kedua kakinya gemetar dan dia pun jatuh terduduk. Jantungnya berdebar aneh dan telinganya seperti ditusuk-tusuk rasanya.

Ia melihat betapa Sin-jiu Kiam-ong menjadi pucat wajahnya, tubuhnya menggigil, dahinya penuh keringat dan tubuh kakek yang bersila itu pun mulai gemetar, kedua lengan yang dilonjorkan ke depan bergoyang-goyang! Dia tidak mengerti dan sama sekali tidak tahu bahwa suara-suara yang dikeluarkan oleh ketiga orang manusia iblis itu merupakan suara mukjijat yang mengandung tenaga getaran amat hebat dan dapat melumpuhkan bahkan membinasakan lawan!

Untung bahwa Keng Hong belum pernah mempelajari Iweekang, karena kalau dia sudah mempelajarinya dan mengerti akan pengaruh suara ini, tentu dia pun telah roboh binasa. Memang suara-suara mukjijat tidaklah begitu hebat pengaruhnya terhadap mereka yang tidak mengerti sama sekali, hanya menimbulkan suara tidak enak yang menusuk-nusuk telinga, dan getaran itu hanya membuat kaki menggigil dan lemas.

"Dasar manusia-manusia iblis!" Keng Hong menjadi marah karena rasa tidak enak pada telinganya hampir tak tertahankan olehnya.

Dia teringat akan sulingnya, maka dengan gemas dan marah dia lalu meniup sulingnya. Suara-suara itu begitu bising dan amat tidak enak didengar, pikirnya. Maka lebih baik aku memperdengarkan suara suling yang merdu untuk mengusir suara tidak enak! Pendapat secara ngawur ini segera dilaksanakan dan tak lama kemudian, suara-suara bising tidak enak itu sudah bercampur dengan suara tiupan sulingnya.

Bocah ini memang seorang ahli meniup suling yang berbakat. Tapi karena tidak ada yang membimbing, maka dia merupakan peniup murid alam! Dia dapat menirukan suara-suara yang didengarnya. Kalau hatinya senang, tiupannya mengandung suara yang gembira ria dan tentu terasa oleh siapa pun juga yang mendengarnya. Kalau dia berduka atau marah, suara sulingnya tentu membawa getaran perasaannya ini tanpa disadarinya.

Sekarang ia sedang marah, maka suara sulingnya juga penuh kemarahan, bergelora dan membubung tinggi, melengking-lengking bagai bocah rewel menangis. Akan tetapi akibat terpengaruh oleh bunyi-bunyi lain, kepandaiannya yang timbul dari bakatnya membuat dia meniru suara-suara itu sehingga terdengarlah suara suling yang amat aneh.

Kadang-kadang meniru suara berkeritik kuku-kuku Ang-bin Kui-bo, kadang-kadang seperti menggerengnya tenggorokan Pak-san Kwi-ong dan sering kali mengarah suara tambur di tangan Pat-jiu Sian-ong! Hiruk-pikuk tak karuan, akan tetapi justru kekacauan inilah yang mengacau pula daya tekan dan daya serang rangkaian tiga suara yang dikeluarkan oleh Bu-tek Sam-kwi!

Setelah meniup sulingnya untuk menyatakan kemarahannya terhadap suara-suara bising yang tak sedap didengar itu, Keng Hong merasa kekuatannya pulih kembali. Ia kemudian mengangkat muka memandang dan melihat betapa kakek tua renta yang duduk bersila itu kini tidak lagi menggigil sungguh pun wajahnya masih pucat.

Sepasang mata kakek itu ditujukan kepadanya, hanya sekilas pandang, akan tetapi Keng Hong dapat merasa betapa pandang mata kepadanya itu penuh kagum, rasa syukur dan gembira! Hal ini menimbulkan kegembiraan di dalam hatinya.

Keng Hong bukan seorang anak bodoh. Tidak, sebaliknya malah. Dia sangat cerdik dan biar pun dia tidak mengerti mengapa demikian, namun dia dapat menduga bahwa suara sulingnya tadi sudah membantu kakek ini! Kegembiraannya membuat dia bertekad untuk mengacau terus suara-suara bising yang keluar dari tiga orang manusia iblis itu.

Setelah meniup sulingnya makin keras dan makin kacau, tiba-tiba ia menghentikan tiupan sulingnya untuk diganti dengan suara nyanyian yang nyaring. Bocah ini memang memiliki suara yang nyaring dan cukup merdu. Akan tetapi karena dia ingin mangejek orang-orang yang mengganggu kakek tua itu, dia teringat akan bunyi ujar-ujar dalam kitab-kitab kuno yang dibacanya, yang kini dia lupa lagi entah dari kitab mana. Kemudian dia menyanyikan ujar-ujar itu dengan lagu yang dikarangnya sendiri sejadi-jadinya:

Mengerti akan orang lain adalah bijaksana pikirannya,
mengerti akan diri pribadi adalah waspada batinnya!
Menaklukkan orang lain adalah perkasa tubuhnya,
menaklukkan diri pribadi adalah kokoh kuat batinnya!
Merasa puas dengan keadaannya berarti kaya raya,
memaksakan kehendak kepada orang lain berarti nekat!
Tahan tanpa derita berarti terus berlangsung,
mati tapi tidak musnah berarti panjang usia!


Karena banyak membaca kitab-kitab kuno tanpa mengerti betul maknanya, bocah ini lupa bahwa yang tadi dinyanyikannya adalah ujar-ujar dalam kitab To-tik-kheng yang menjadi pegangan penganut Agama To, dan tidak tahu bahwa ujar-ujar itu mengandung makna yang amat dalam. Akan tetapi sebagian dari pada kata-kata itu kena betul dan mengejek mereka semua yang berada di sana, tidak hanya tiga orang manusia iblis, bahkan juga sembilan orang sakti yang kini sudah tidak lagi terpengaruh suara-suara tiga iblis yang dikacau oleh Keng Hong dan yang mendengarkan dengan mata terbelalak.

Mereka ini, sembilan orang gagah tokoh kang-ouw, mengerti bahwa jiwa Sin-jiu Kiam-ong sudah tertolong. Tadinya, setelah tiga orang iblis itu menambah serangan mereka dengan suara-suara menekan, kakek itu telah terdesak amat hebat dan sewaktu-waktu pasti akan roboh binasa. Kini, karena suara itu diganggu, Sin-jiu Kiam-ong kembali dapat menekan mereka tiga orang lawannya.

Tiga orang iblis itu marah sekali. Mereka menghentikan suara mereka dan sambil berseru marah mereka itu lantas meloncat ke depan, menubruk Sin-jiu Kiam-ong. Kakek ini dalam keadaan masih bersila mengeluarkan seruan panjang pula. Tubuhnya mencelat ke atas menyambut terjangan ke tiga orang lawan.

Pertemuan hebat terjadi di udara dan terdengar suara nyaring bertemunya senjata yang disusul dengan jeritan kesakitan tiga orang manusia iblis itu yang terpelanting ke kanan kiri. Kakek itu pun melayang turun lagi dan berdiri tegak dengan pedang Siang-bhok-kiam di tangan.

Tiga orang manusia iblis itu pucat wajahnya, kulit leher mereka bertiga lecet dan terluka oleh guratan Siang-bhok-kiam. Setelah memandang sejenak, mereka cepat membalikkan tubuh dan dengan hanya beberapa kali loncatan saja ketiganya sudah lenyap dari tempat itu. Kiranya mereka kini menjadi jeri karena maklum bahwa mereka bertiga tidak akan dapat menenangkan Sin-jiu Kiam-ong sungguh pun selisihnya hanya sedikit saja. Mereka menyesal mengapa tidak mengundang Lam-hai Sin-ni (Wanita Sakti Laut Selatan) yang menjadi orang keempat dari Bu-tek Su-kwi!

Setelah tiga orang manusia iblis itu lenyap dari tempat itu, Sin-jiu Kiam-ong menarik nafas panjang dan tiba-tiba dia terhuyung-huyung lalu roboh! Dengan gerakan lemah kakek ini lalu bangkit dan duduk bersila, wajahnya pucat, napasnya terengah-engah dan tiba-tiba dari mulutnya menetes-netes darah segar!

Melihat keadaan kakek ini, sembilan orang tokoh sakti itu maklum bahwa Sin-jiu Kiam-ong sudah terluka parah dan mereka melihat kesempatan yang sangat baik untuk merampas pedang Siang-bhok-kiam yang kini masih berada di dalam genggaman Sin-jiu Kiam-ong. Agaknya mereka sudah dapat menerka isi hati masing-masing, karena seperti mendapat komando, sembilan orang itu lalu bergerak maju menghampiri Sin-jiu Kiam-ong.

Terdengar kakek itu tertawa di balik batu, kemudian berkata, "Ha-ha-ha...! Kalian hendak mengambil Siang-bhok-kiam? Sudah kukatakan, aku tidak akan melawan, apa lagi dalam keadaan seperti ini... uh-huh... Bu-tek Sam-kwi betul-betul tangguh... Nah, ambillah siapa yang berjodoh...!" Ia menancapkan pedang kayu itu di depannya di atas tanah.

Sembilan orang itu tidak ada yang berani bergerak. Mereka percaya bahwa kakek itu tak akan melarang kalau mereka mengambil pedang, juga maklum bahwa kakek itu sudah lemah sekali. Akan tetapi mereka tidak ada yang berani bergerak karena tahu pula bahwa jika ada yang berani mengambil pedang, tentu akan dihalangi oleh yang lain! Hal ini yang membuat mereka menjadi ragu-ragu.

"Tahan...! Tahan...! Kalian orang-orang tua yang tak mengenal malu!" Tiba-tiba terdengar teriakan marah.

Keng Hong yang sudah keluar dari tempat sembunyinya itu sekarang menghampiri Sin-jiu Kiam-ong dan memeluk leher kakek itu dari belakang sambil memandang sembilan orang itu dengan pandang mata penuh kemarahan.

Sembilan orang yang mengenal anak ini sebagai bocah yang tadi telah meniup suling dan mengacau Bu-tek Sam-kwi, memandang heran. Tadi mereka seperti lupa kepada bocah yang sangat berani itu karena mereka terlalu bernafsu untuk mendapatkan pedang. Kini baru mereka teringat dan mereka lalu menduga-duga apakah hubungan anak ini dengan Sin-jiu Kiam-ong.

"Heh, bocah lancang! Siapakah engkau dan mau apa?" bentak Kiu-bwe Toanio dengan pandang mata marah.

Akan tetapi Keng Hong tidak mempedulikan nenek itu, melainkan bertanya kepada Sin-jiu Kiam-ong, "Kong-kong (kakek), engkau terluka? Ahhh, mereka ini orang-orang yang tidak mengenal budi!"

Sin-jiu Kiam-ong membuka matanya dan memandang bocah itu dengan pandang mata penuh kekaguman dan keharuan. Anehnya, ada dua butir air mata yang menitik turun dari kedua mata kakek itu!

Sin-jiu Kiam-ong terkenal sebagai seorang petualang di dunia persilatan dan selalu hidup gembira, tak pernah berduka apa lagi sampai menangis! Bahkan ratusan kali menghadapi ancaman maut sekali pun belum pernah memperlihatkan kedukaan. Akan tetapi sekarang dia menitikkan air mata! Sesudah menarik nafas panjang, Sin-jiu Kiam-ong memejamkan matanya kembali.

Keng Hong melepaskan rangkulannya pada kakek itu, cepat meloncat ke depan Sin-jiu Kiam-ong seolah-olah dia hendak melindunginya, lalu berkata kepada sembilan orang itu, "Kalian ini orang-orang gagah macam apa? Tidak kenal budi, berhati kejam! Siapa tidak tahu bahwa kalau tidak ada kakek ini, kalian sudah mati semua di tangan tiga iblis tadi? Kakek ini yang tadi menolong kalian mengusir tiga iblis dan mengorbankan dirinya hingga terluka, namun kini kalian tanpa malu-malu hendak membunuhnya! Sungguh pengecut, curang dan kalian ini lebih jahat dari pada si tiga iblis! Mereka itu sudah terang adalah orang-orang jahat dan menggunakan nama iblis, tetapi mereka sedikitnya lebih jujur dari pada kalian. Sebaliknya kalian, yang tadi kudengar menggunakan nama sebagai golongan bersih, sebagai pendekar-pendekar perkasa, namun kenyataannya kalian ini orang-orang munafik yang hanya pada lahirnya saja bersih namun di sebelah dalam lebih busuk dari pada yang busuk! Aku Cia Keng Hong walau pun tidak ada hubungan dengan kakek ini, akan tetapi sebagai manusia aku tidak rela menyaksikan kejahatan yang melewati batas. Kalau kalian hendak membunuh penolong kalian yang terluka parah ini, jangan kepalang tanggung melakukan kekejaman, bunuhlah aku terlebih dahulu!"

Wajah kesembilan orang itu menjadi merah sekali. Ucapan yang keluar dari mulut anak kecil ini sangat tajam dan runcing melebihi pedang yang langsung menghujam ke ulu hati mereka. Akan tetapi urusan yang mereka hadapi jauh lebih besar. Apa artinya makian seorang anak kecil penggembala kerbau? Tadi pada saat memasuki hutan, mereka telah melihat Keng Hong menyuling di atas kerbaunya.

Di balik perbuatan mereka terhadap Sin-jiu Kiam-ong yang kelihatan kejam, tersembunyi persoalan-persoalan dendam yang besar dan kiranya tidak perlu diperdebatkan dengan seorang bocah! Tidak mungkin kalau hanya karena maki-makian bocah ini mereka harus membatalkan niat yang sudah dikandung di hati, dibela dengan perjalanan jauh, bahkan yang hampir saja membuat mereka binasa di tangan Bu-tek Sam-kwi.

"Bocah bermulut lancang, kau tahu apa? Hayo minggat dari sini!" Hek-how Tan Kai Sek piauwsu tua itu melangkah maju hendak menyeret dan mendorong pergi Keng Hong.

Akan tetapi tiba-tiba dia terhuyung mundur akibat ada tenaga hebat yang mendorongnya. Kiranya Sin-jiu Kiam-ong kini sudah bangkit dan berdiri di dekat Keng Hong. Wajah kakek ini masih pucat, akan tetapi sinar matanya berseri-seri dan mulutnya yang masih merah karena darah tersenyum.

"Tiada seorang pun yang boleh mengganggu Cia Keng Hong! Dia ini muridku, dan dialah ahli warisku. Perkenalkan, hei, para pendekar! Pandanglah baik-baik. Inilah dia muridku, orang yang akan mewarisi semua milikku termasuk pedang Siang-bhok-kiam. Ha-ha-ha!"

Sembilan orang itu tercengang! Mereka bersusah payah mengandalkan dendam mereka untuk berusaha mendapatkan pedang pusaka serta warisan kitab-kitab dan ilmu si raja pedang, tetapi kini begitu saja si raja pedang mengangkat murid dan hendak mewariskan Siang-bhok-kiam kepada seorang bocah penggembala kerbau!

"Omitohud! Kehendak Tuhan terjadi penuh mukjijat!" Thian Ti Hwesio mengeluh panjang.

"Sin-jiu Kiam-ong! Engkau melanggar janji...!" bentak Sin-to Gi-hiap.

Sin-jiu Kiam-ong tertawa. "Siapa melanggar janji? Bukankah kukatakan bahwa aku tidak akan melawan kalau kalian hendak membunuhku di sini? Bukankah aku pun tidak pernah melawan kalian tadi dan tidak menghalangi bila mana kalian hendak merampas pedang Siang-bhok-kiam? Bukankah kukatakan sebulan yang lalu bahwa yang berhak memiliki Siang-bhok-kiam ialah orang yang berjodoh dengannya? Nah, ternyata bocah inilah yang berjodoh dengan aku dan dengan pedang ini. Dan ketahuilah, sesudah aku mengangkat murid, tentu saja aku tidak mau mati sekarang. Aku ingin hidup lebih lama lagi untuk mendidiknya, sesuai dengan tugas kewajiban seorang guru! Pergilah kalian, pergilah...!"

Sembilan orang itu ragu-ragu dan mereka kecewa serta menyesal sekali. Biar pun Sin-jiu Kiam-ong sudah terluka, akan tetapi ilmu kepandaiannya yang hebat amat sukar dilawan. Selain itu, mereka sendiri pun sudah terluka dan kehilangan senjata.

Mereka ini adalah orang-orang cerdik. Mereka tahu bahwa Sin-jiu Kiam-ong sudah amat tua, apa lagi menderita luka hebat. Kiranya takkan lama lagi usianya. Dan bocah itu jelas belum mengenal ilmu silat sama sekali. Digembleng bagaimana hebat pun, hanya dalam beberapa tahun apa artinya? Akhirnya mereka tentu akan dapat merampas pedang dan kitab-kitab itu, bukan dari tangan Sin-jiu Kiam-ong, melainkan dari tangan ahli warisnya ini!

Pada saat itu, bersilir angin halus dan tahu-tahu di situ sudah berdiri seorang tosu yang berwajah gagah penuh wibawa. Dia ini bukan lain adalah Kiang Tojin, tokoh Kun-lun-pai yang berilmu tinggi itu.

Ketika semua orang yang memandang, ternyata bukan hanya Kiang Tojin yang datang, melainkan banyak sekali tosu-tosu Kun-lun-pai, sedikitnya ada tiga puluh orang, semua memegang pedang seperti Kiang Tojin. Gerakan mereka begitu rapi, tangkas dan ringan sehingga tahu-tahu tempat itu telah dikepung!

Sejenak Kiang Tojin memandang pada Keng Hong dengan heran, kemudian dia menjura penuh hormat kepada Sian-jiu Kiam-ong dan berkata, "Mohon maaf kepada Sie-taihiap (pendekar besar she Sie) bila mana pinto dan saudara-saudara mengganggu. Kehadiran banyak sahabat kang-ouw di Kun-lun-san masih dapat kami biarkan mengingat bahwa mereka itu adalah tamu-tamu Taihiap, Hanya kehadiran tiga Bu-tek Sam-kwi benar-benar tak dapat kami biarkan begitu saja. Tokoh-tokoh datuk hitam macam mereka tidak berhak mengotori bumi Kun-lun! Harap Taihiap maklum dan maafkan pinto yang datang karena memenuhi perintah suhu."

Sin-jiu Kiam-ong tertawa, dan menarik napas panjang. "Thian Seng Cinjin bersikap amat sabar, sungguh patut dipuji." Kemudian dia menoleh ke arah sembilan orang tokoh yang mengganggunya dan berkata, "Apa bila kalian sembilan orang masih tidak hendak lekas pergi, aku tidak akan menganggap kalian sebagai tamu lagi dan terserah kepada pihak Kun-lun-pai akan menganggap kalian bagaimana."

Kiang Tojin memutar tubuhnya memandang sembilan orang itu, keningnya dikerutkan lalu ia berkata, suaranya penuh wibawa dan kereng. "Di antara cu-wi (tuan sekalian) terdapat tokoh-tokoh partai persilatan besar, tentu cukup tahu akan kedaulatan tuan rumah. Cu-wi datang tanpa memberi tahu Kun-lun-pai, hal ini berarti pelanggaran kedaulatan dan tidak memandang mata kepada kami. Sungguh kami tidak dapat dikatakan keterlaluan kalau terpaksa mengusir cu-wi."

Sikap Kiang Tojin amat kereng dan sembilan orang itu sudah cukup mengenal siapa tosu ini, maklum bahwa selain tingkat ilmu kepandaiannya sangat tinggi, juga saudara-saudara Kiang Tojin yang berjumlah tiga puluh orang dan telah mengurung tempat itu merupakan kekuatan yang tak mungkin sanggup dilawan oleh mereka yang sudah terluka. Belum lagi diperhitungkan kalau Thian Seng Cinjin ketua Kun-lun-pai sendiri yang datang!

Maka setelah menjura dan menggumamkan kata-kata maaf, mereka segera membalikkan tubuh dan pergi meninggalkan tempat itu. Karena mereka merupakan orang-orang pandai, maka gerakan-gerakan mereka amat cepat sehingga dalam sekejap mata saja tempat itu menjadi sunyi dan bayangan mereka tak tampak lagi.

Kiang Tojin sudah menyimpan kembali pedangnya, ditiru oleh saudara-saudaranya yang tetap berdiri menjauh karena mereka itu semuanya merupakan tokoh-tokoh yang sangat menghormati si raja pedang yang pernah melepas budi kepada Kun-lun-pai. Hal itu terjadi belasan tahun yang lalu ketika Kun-lun-pai diserbu oleh kaum sesat yang dipimpin oleh seorang datuk kaum sesat yang berilmu tinggi, sehingga Kun-lun-pai mengalami bencana hebat dan terancam kedudukannya.

Semua tokoh Kun-lun-pai, termasuk Thian Seng Cinjin, telah terdesak dan hanya setelah Sin-jiu Kiam-ong yang secara kebetulan mendengar akan serbuan ini kemudian datang membantu, maka pihak musuh dapat dihalau dan si datuk sesat tewas di tangan Sin-jiu Kiam-ong dan Thian Seng Cinjin. Sin-jiu Kiam-ong lalu dianggap sebagai penolong dan diperbolehkan menggunakan Kiam-kok-san, tempat yang tadinya dianggap keramat oleh golongan Kun-lun-pai karena dahulu menjadi tempat bertapa sucouw mereka.

"Kiang-toyu, harap sampaikan kepada Thian Seng Cinjin guru kalian, bahwa aku meminta perkenannya untuk memperpanjang penggunaan Kiam-kok-san sampai beberapa tahun lagi, atau lebih jelasnya sampai matiku karena aku ingin menggunakan sisa usiaku untuk menggembleng muridku ini." Sin-jiu Kiam-ong meraba kepala Keng Hong yang semenjak tadi sudah berlutut ketika melihat Kiang Tojin dan saudara-saudaranya muncul.

Kiang Tojin dan saudara-saudaranya tercengang hingga terdengar seruan-seruan kaget dan heran.

"Siancai..., sungguh luar biasa sekali nasib anak ini....! Akan tetapi, Taihiap, menyesal bahwa hal itu tidak mungkin dapat dilakukan oleh karena... karena anak ini adalah orang Kun-lun-pai...!"

Sin-jiu Kiam-ong mengerutkan alisnya dan pandang matanya berubah kecewa. Selama hidupnya dia selalu membawa kehendak sendiri dan tidak mempedulikan peraturan orang lain, akan tetapi terhadap Kun-lun-pai dia merasa sungkan dan dia tahu benar bahwa jika memang anak ini adalah seorang murid Kun-lun-pai, amat tidak baik kalau dia memaksa dan mengambilnya sebagai murid, betapa pun sukanya dia terhadap anak ini. Dia lalu menunduk dan bertanya kepada Keng Hong.

"Hong-ji (anak Hong), benarkah engkau seorang anak murid Kun-lun-pai?"

Keng Hong tadinya terheran, bingung dan juga diam-diam merasa tegang ketika secara tiba-tiba dia diangkat murid Sin-jiu Kiam-ong, dijadikan ahli waris kakek yang luar biasa itu. Namun, perasaan yang aneh sekali membuat hatinya menjadi besar dan bahagia dan timbul tekad di hatinya bahwa dia harus menjadi murid kakek ini, harus menjadi seorang pandai agar bisa menghadapi manusia-manusia jahat, terutama sekali manusia-manusia munafik yang banyak terdapat di jagat ini. Sekarang mendengar percakapan antara tosu penolongnya dan Sin-jiu Kiam-ong, dia pun cepat berkata,

"Bukan, aku bukan murid Kun-lun-pai! Memang sekarang aku bekerja menjadi kacung di Kun-lun-pai, akan tetapi aku sama sekali bukan anak muridnya dan sama sekali belum pernah mempelajari ilmu silat di Kun-lun-pai!"

"Kiang Tojin! apa artinya keterangan yang bertentangan ini?" Sin-jiu Kiam-ong menoleh kepada tosu itu dengan pandang mata penuh teguran.

"Maaf, harap Taihiap suka mendengarkan penjelasan pinto. Tadi pinto sama sekali tidak mengatakan bahwa Keng Hong adalah anak murid Kun-lun-pai, tetapi hanya mengatakan bahwa dia adalah orang Kun-lun-pai. Hendaknya Taihiap ketahui bahwa anak ini berasal dari sebuah dusun yang dilanda bencana perampokan, seluruh keluarganya musnah dan secara kebetulan pinto dapat menyelamatkan dia kemudianmembawanya ke Kun-lun-pai. Semula kami hendak menjadikannya murid Kun-lun-pai, akan tetapi kami terbentur oleh peraturan baru. Belum lama ini suhu membuat peraturan baru bahwa setiap orang anak murid dari Kun-lun-pai harus seorang penganut agama To. Karena Keng Hong tidak mau menjadi calon tosu, maka hingga kini dia berada di Kun-lun-pai dan selama dua tahun ini bekerja sebagai pembantu. Namun, kami telah menganggapnya sebagai orang sendiri."

"Hemm, begitukah? Kalau begitu, dia bukan anak murid Kun-lun-pai, hanya kacung, tiada halangan bagiku untuk mengambilnya sebagai murid. Ehhh, Kiang-toyu, apakah engkau berkeberatan kalau dia kuambil murid?"

"Mana pinto berani, Taihiap? Hanya saja, hal ini tergantung kepada si bocah ini sendiri. Keng Hong, pinto sudah menyelamatkanmu dari pada bencana. Apakah sekarang kau begitu tak ingat budi dan hendak meninggalkan pinto? Apakah benar-benar engkau suka menjadi murid Sin-jiu Kiam-ong?"

Keng Hong bangkit berdiri. Sesudah dia menyaksikan sepak terjang tiga orang manusia iblis dan sembilan orang yang mengaku sebagai tokoh-tokoh kang-ouw, hatinya menjadi dingin terhadap Kun-lun-pai yang tadinya dia junjung tinggi sebagai pusat orang-orang sakti yang budiman. Dia memandang tajam kepada Kiang Tojin lalu berkata,

"Totiang, sampai mati pun saya tidak akan menyangkal bahwa Totiang sudah menolong nyawa saya dan sampai mati pun saya akan selalu ingat dan akan berusaha membalas budi Totiang itu. Akan tetapi, apakah budi yang dulu Totiang lepas mengandung pamrih supaya selama hidup saya harus ikut dan menuruti segala kehendak Totiang? Apakah Totiang hendak merampas kebebasan saya? Totiang, pernah saya membaca ujar-ujar di dalam kitab kuno bahwa budi disertai pamrih bukanlah pelepasan budi namanya, akan tetapi pemberian hutang yang harus dibayar kembali beserta bunga-bunganya! Apakah Totiang menghutangkan budi kepada saya?"

"Ha-ha-ha...!" Sin-jiu Kiam-ong tertawa terpingkal-pingkal dan dia mengelus-elus kepala anak itu. "Bocah, engkau penuh dengan semangat menggelora! Eh, Kiang-toyu, maafkan saya, ya. Agaknya bocah ini sudah ketularan watakku! Sekarang engkau hendak bilang apa lagi, Toyu?"

Wajah Kiang Tojin menjadi merah, ia menjadi gemas kepada anak itu karena sebetulnya tidak ada sedikit pun pamrih di hatinya minta dibalas budi oleh anak itu. Dia tadi berusaha memisahkan Keng Hong dari Sin-jiu Kiam-ong karena sesungguhnya di dalam hatinya dia tidak rela dan tidak suka melihat Keng Hong menjadi murid kakek luar biasa ini. Perasaan ini semata-mata timbul karena rasa sayang kepada Keng Hong.

Dia mengenal orang macam apa adanya Sin-jiu Kiam-ong, seorang yang sejak mudanya hanya mengandalkan kepandaian malang melintang, seorang petualang yang tak pernah segan-segan melakukan segala jenis kemaksiatan, pengejar kesenangan pemuas nafsu. Dia ingin melihat Keng Hong menjadi seorang yang baik dan dia mengerti bahwa kalau anak ini menjadi murid si raja pedang, tentu akan mewarisi pula wataknya yang liar dan jiwa petualangnya. Ia menghela nafas dan berkata,

"Siancai... hanya Tuhan yang mengetahui isi hati manusia! Taihiap, tidak sekali-kali saya ingin mempengaruhi Keng Hong dan terserahlah kalau memang dia sendiri suka menjadi murid Taihiap. Akan tetapi ada satu hal yang hendaknya diketahui baik oleh Taihiap dan terutama oleh Keng Hong sendiri. Karena dia bukan anak murid Kun-lun-pai, dan tidak ada sangkut pautnya dengan Kun-lun-pai, maka pada kelak kemudian hari segala sepak terjangnya tidak ada hubungannya dengan Kun-lun-pai. Taihiap dipersilakan menempati Kiam-kok-san sebab Taihiap merupakan seorang penolong Kun-lun-pai, akan tetapi kelak bila mana Taihiap tidak lagi berada di Kiam-kok-san, tentu saja kami akan melarang Keng Hong untuk berada di wilayah kami. Nah, selamat berpisah, Taihiap, semoga Thian selalu melindungi dan melimpahkan berkahNya."

Tosu itu memberi isyarat kepada saudara-saudaranya, kemudian setelah menjura ke arah Sin-jiu Kiam-ong segera meninggalkan tempat itu untuk kembali ke puncak dan memberi laporan kepada Thian seng Cinjin.

Sin-jiu Kiam-ong tertawa dan memegang tangan Keng Hong untuk diajak mendaki puncak Kiam-kok-san sambil berkata, "Jangan menganggap semua omongan tosu itu, Hong-ji. Mereka itu adalah orang-orang yang terikat, terbelenggu kaki tangannya oleh agamanya, kasihan...! Segala aturan yang dibuat oleh manusia merupakan belenggu-belenggu yang akan mengikat kaki tangannya sendiri. Ehh, namamu memakai huruf Hong, sama dengan namaku. Memang kita berjodoh... aughhh...!" Kakek itu memegangi dadanya dan kakinya terhuyung.

"Ehh... kenapa? Suhu.... Suhu terluka...?"

Wajah yang menyeringai menahan nyeri itu berseri kembali. "Ahh, tidak seberapa hebat. Tahukah engkau bahwa pada saat engkau menyebut Kong-kong kepadaku, aku merasa seolah-olah engkau ini cucuku sendiri? Ha-ha-ha-ha! Alangkah lucunya, kawin pun belum pernah, bagaimana bisa punya cucu? Kau lebih tepat menjadi muridku. Hemmm..., akan kuberikan seluruh milikku kepadamu, muridku. Mudah-mudahan saja tak terlambat. Mari kita naik ke Kiam-kok-san dan engkau harus rajin belajar karena waktunya tidak banyak. Aku... setan laknat tiga iblis itu... aku terluka, kalau hanya racun saja sudah dipunahkan Siang-bhok-kiam, akan tetapi... ahhh…, pukulan mereka merusak isi dadaku yang sudah kurang kuat...! Mudah-mudahan tidak terlambat..."

Keng Hong tidak mengerti apa yang dimaksudkan suhu-nya, namun dengan patuh dia lalu mengikuti suhu-nya mendaki puncak. Ketika mereka tiba di bawah batu pedang, Sin-jiu Kiam-ong mengempitnya dan merayap ke atas. Keng Hong merasa ngeri, akan tetapi dia menguatkan hatinya dan sedikit pun tidak menyatakan rasa ngerinya!

Ketika mereka memasuki halimun tebal yang menutup bagian puncak batu pedang, Keng Hong hampir menjadi kaku oleh rasa dingin. Seluruh tubuhnya menggigil hingga gigi atas beradu dengan gigi bawah. Namun dia tetap bertahan, tidak mau mengeluh sama sekali.

Ketika suhu-nya melepaskannya dan Keng Hong memandang sekelilingnya, dia melihat bahwa kini dia berada di puncak batu pedang, dan bahwa puncak itu tidak meruncing seperti nampaknya dari bawah. Halimun tebal itu pun tidak mencapai puncak, melainkan mengambang di bawahnya.

Puncak itu sendiri tersinar cahaya matahari yang amat indah dan puncak itu cukup lebar berbentuk segi empat, seolah puncak itu tadinya meruncing kemudian patah. Lebarnya lebih dari lima puluh meter dan di situ terdapat sebuah pondok kecil, dan tanah atau batu di situ ditumbuhi rumput dan lumut hijau muda.

Sekeliling puncak itu hanya tampak halimun belaka, seolah-olah tempat itu bukan bagian dunia lagi, melainkan di dunia lain, di tengah-tengah langit antara awan-awan putih! Akan tetapi Keng Hong tidak kuat lagi karena tiba-tiba perutnya menjadi kejang-kejang saking dinginnya dan dia roboh pingsan di dekat kaki gurunnya!

Keng Hong sadar di dekat api unggun. Ketika dia bangkit dan duduk, dia melihat gurunya bersila di dekatnya dan guru ini menempelkan telapak tangan pada punggungnya.

"Duduklah bersila, Keng Hong, dan atur napas perlahan-lahan. Dengan bantuan api yang panas, tekankan dalam hati dan pikiranmu bahwa hawa sama sekali tidak dingin, bahkan agak panas. Jangan ragu-ragu, kubantu engkau."

Betapa mungkin, bantah hati anak itu. Hawa amat dinginnya, bahkan panasnya api tidak terasa sama sekali olehnya. Apa bila tidak ada telapak tangan gurunya yang menempel pada punggungnya, telapak tangannya yang seolah-olah memasukkan hawa panas yang menjalar ke seluruh tubuhnya, tentu dia takkan kuat menahan.

Akan tetapi dia mematuhi perintah suhu-nya, duduk bersila dan bernapas dalam-dalam, panjang-panjang, sambil menekankan keyakinan bahwa hawa sebetulnya tidak sedingin yang dianggapnya semula. Memang tadinya agak sukar, akan tetapi semakin hening dia memusatkan perhatian, makin terasa bahwa memang dia keliru menduga. Memang hawa tidaklah amat dingin. Makin lama makin panas sampai mulailah keluar peluh di lehernya!

"Tubuh kita hanya merupakan alat, muridku. Bila mana batin kita kuat, maka kita akan dapat menguasai alat yang akan melakukan segala perintah otak dan kemauan kita. Kau harus berlatih seperti ini, memperkuat kemauan hingga seluruh anggota tubuhmu tunduk dan taat kepadamu. Jika hatimu bilang panas, tubuhmu harus merasa panas, sebaliknya bila menyatakan dingin, tubuhmu harus merasa dingin pula." Demikian kakek itu memberi pelajaran pertama.

Guru dan murid itu amat tekunnya. Sukar dikatakan siapa di antara mereka yang lebih tekun, si guru yang mengajar ataukah si murid yang belajar. Keng Hong belajar ilmu dan berlatih tanpa mengenal waktu. Tidak ada perbedaan antara siang atau malam baginya, baik puncak batu pedang itu sedang terang ataukah sedang gelap. Baginya kini tidak ada bedanya karena dia dapat melihat di dalam gelap saking hebatnya gemblengan yang diberikan gurunya.

Ia mengaso kalau tubuhnya sudah tidak kuat lagi, hanya tidur kalau matanya sudah tidak kuat menahan kantuk, hanya makan kalau perutnya sudah tidak dapat menahan lapar dan minum kalau kerongkongannya sudah tidak dapat menahan haus. Dalam beberapa bulan saja dia sudah dapat turun dari batu pedang dan menggantikan pekerjaan gurunya untuk mencari bahan makanan.

Sin-jiu Kiam-ong menggembleng muridnya itu dengan cara-cara yang luar biasa. Segala pengertian dasar ilmu silat dia berikan dengan cara kilat. Latihan lweekang dan ginkang dia berikan dan tekankan agar dilatih terus-menerus oleh muridnya. Latihan semedhi dan mengatur pernapasan untuk mengumpulkan sinkang (hawa sakti) di dalam tubuh, sambil sedikit demi sedikit ‘memindahkan’ sinkang-nya sendiri melalui telapak tangan yang dia tempelkan di punggung muridnya.

Luar biasa sekali kemajuan yang diperoleh Keng Hong. Cepat dan memang anak ini amat cerdik, setiap pelajaran yang diberikan selalu menempel di dalam ingatannya. Akan tetapi sebaliknya, bila Keng Hong memperoleh kemajuan yang hebat dan cepat, adalah Sin-jiu Kiam-ong makin lama makin lemah dan pucat.

Kakek ini semakin sering terbatuk-batuk, dan kadang kala batuknya mengeluarkan darah. Kakek ini menderita luka di sebelah dalam tubuhnya akibat pertandingan melawan Bu-tek Sam-kwi dahulu dan sekarang karena terlampau rajin dan memaksa tenaga, dia menjadi berpenyakitan dan lemah.

Namun hal ini tidak mengurangi semangatnya. Dia terus melatih muridnya secara tekun dan teliti karena dia merasa yakin bahwa hal ini merupakan kewajiban terakhir di dalam hidupnya yang tidak berapa lama lagi itu.

********************

Cerita Silat Online Karya Kho Ping Hoo Serial Pedang Kayu Harum


Sang waktu lewat dengan sangat cepatnya. Memang tidak keliru apa bila dikatakan oleh penyair kuno bahwa kecepatan waktu melebihi kilat, akan tetapi lambatnya mengalahkan kelambatan seekor keong berjalan. Bila tidak diperhatikan setahun terasa seperti sehari, sebaliknya bila diperhatikan dan ditunggu, sehari terasa setahun! Demikian cepatnya sang waktu berputar sehingga tak tampak dan tak terasa lagi, seakan-akan berhenti, padahal segala sesuatu terseret kemudian hanyut dalam perputarannya, dilahap dan ditelan habis, untuk kemudian dilahirkan dan dilenyapkan lagi.

Tanpa terasa, apa lagi bagi yang mengalaminya sendiri, telah lima tahun lamanya Keng Hong hidup berdua dengan gurunya di puncak batu pedang. Dari seorang bocah berusia dua belas tahun, kini berusia tujuh belas tahun! Tubuhnya tinggi tegap, wajahnya tampan dengan kulit yang segar dan putih kemerahan membayangkan kesehatan sempurna dan kekuatan mukjijat tersembunyi di dalam tubuhnya. Pakaiannya model sederhana, hanya kain polos berwarna kuning yang kasar, dibuat secara kasar pula. Warna kuning adalah warna kesukaannya.

Akan tetapi, selama lima tahun itu, kalau muridnya menjadi makin sehat dan kuat, adalah si guru semakin lemah dan tua. Kalau orang yang lima tahun lalu bertemu dengan Sin-jiu Kiam-ong kini melihatnya, tentu akan menjadi kaget. Kakek ini sudah kelihatan tua sekali, tubuhnya kurus kering dan hanya sepasang matanya saja yang kadang-kadang tampak berseri penuh semangat, itu pun hanya kalau dia sedang melatih muridnya.

Pada hari itu, sinar matahari sudah menembus awan tipis menerangi permukaan puncak batu pedang. Seperti biasa, Keng Hong bersila dan berlatih, memusatkan panca indera agar bisa menerima sinar matahari pagi yang mengandung daya kekuatan mukjijat untuk meningkatkan tenaga sinkang di tubuhnya. Seperti biasa pula, gurunya duduk bersila tak jauh dari tempat dia duduk.

"Keng Hong....!"

Suara gurunya merupakan satu-satunya suara yang sanggup menyadarkan Keng Hong setiap saat, karena selama lima tahun ini hanya suara gurunya inilah yang menjadi pusat perhatiannya. Dia cepat sadar dari latihannya dan membuka mata, memandang gurunya. Hati pemuda remaja ini berdebar.

Wajah gurunya tampak berbeda dari biasanya. Biar pun wajah itu masih membayangkan seri dan gembira, namun ada sesuatu yang menonjol, sesuatu pada wajah pucat dan kurus itu yang membuat jantungnya berdebar. Hari ini wajah gurunya bagaikan matahari tertutup awan tebal, suram-muram kehilangan cahayanya.

"Suhu memanggil teecu? Ada perintah apakah, Suhu?"

Sin-jiu Kiam-ong tersenyum sambil mengangkat lengannya yang kiri, gerakannya lemah ketika dia menggapai, "Mendekatlah, Keng Hong dan bersilalah di depanku sini, aku ingin bicara denganmu."

Keng Hong menjadi makin heran. Sikap gurunya ini pun tidak seperti biasanya. Tentu ada sesuatu yang amat penting. Ia cepat-cepat bangkit dan menghampiri suhu-nya, lalu duduk bersila di depan suhu-nya.

Karena baru sekali ini selama lima tahun dia berdekatan dengan gurunya dalam keadaan tidak sedang berlatih, maka dia mendapat kesempatan untuk memandang dengan penuh perhatian. Kini nyatalah olehnya betapa suhu-nya amat kurus, tinggal kulit membungkus tulang dan bahwa hanya oleh daya tahan yang luar biasa saja suhu-nya dapat bertahan selama ini. Ia kini sudah mengerti bahwa suhu-nya menderita luka-luka parah di sebelah dalam tubuh, luka yang akan merenggut nyawa setiap orang dalam waktu beberapa bulan saja. Namun suhu-nya dapat bertahan sampai lima tahun!

"Keng Hong, tahukah engkau sudah berapa lama kau berada di tempat ini?"

"Teecu tidak terlalu memperhatikan, akan tetapi kalau melihat dari banyaknya perubahan musim, tentu kurang lebih lima tahun."

"Benar, memang sudah lima tahun, muridku. Dan sudah cukup banyak kau belajar dariku. Sayang waktunya amat tergesa-gesa hingga terpaksa aku hanya memperbanyak latihan ginkang dan Iweekang kepadamu. Mengenai gerak cepatmu dan tenaga dalam, kurasa sudah cukup sebagai landasan dan aku tidak khawatir kau akan mudah terkalahkan oleh orang lain. Akan tetapi ilmu silatmu.... ahh…, tidak ada waktu bagi kita sehingga hanya dasar-dasarnya saja kau kuasai. Padahal ilmu silat di dunia ini amatlah banyaknya Keng Hong. Dan selain dasar-dasar ilmu silat tinggi, engkau baru menguasai ilmu silat dengan tangan kosong yang sederhana dan juga ilmu pedang Siang-bhok Kiam-sut belum kau kuasai seluruhnya. Hal inilah yang memberatkan hatiku, karena apa bila engkau bertemu dengan orang-orang sakti seperti sembilan orang tokoh yang pada lima tahun yang lalu menyerbu ke sini, apa lagi bertemu dengan Bu-tek Su-kwi (Empat Iblis Tanpa Tanding), kepandaianmu masih belum dapat diandalkan."

Keng Hong mengerutkan alisnya yang hitam panjang dan tebal. "Akan tetapi, Suhu, apa hubungannya kesaktian mereka dengan teecu? Suhu sudah tahu pendirian teecu, yaitu hendak belajar ilmu kepada suhu untuk memperkuat diri lahir bathin, ilmu dipelajari untuk menjaga diri dari pada serangan dari luar, baik itu serangan lahir mau pun batin. Teecu tidak ingin mencari musuh!"

"Ha-ha-ha, muridku, engkau masih hijau dan tidak mengenal watak manusia, juga belum mengenal watak dan dirimu pribadi. Tidak ada makhluk seserakah manusia. Bila mana engkau sudah turun ke dunia ramai, akan kau temui semua sepak terjang manusia yang membabi buta karena dorongan nafsu mereka sendiri. Kau tidak mencari musuh, namun engkau akan dimusuhi! Dan mau tidak mau engkau akan terseret dan terlibat ke dalam rantai yang tak kunjung putus, rantai pergulatan dan permusuhan antara manusia demi untuk memenangkan dan memuaskan hawa nafsu yang menguasai diri pribadi. Aku pun dahulu menjadi seorang di antara mereka yang menjadi abdi nafsuku sendiri, Keng Hong. Aku tidak pernah memusuhi orang, juga tak pernah mengandung maksud hati melakukan kejahatan terhadap diri orang lain. Akan tetapi, pengejaran ke arah pemuasan nafsuku membuat aku bentrok dengan lain orang, dan membuat aku dicap sebagai seorang tokoh sesat. Baru sekarang aku menyesal, namun apa gunanya sesal yang terlambat? Biarlah, akan kutanggung segala akibat dan hukuman. Dan aku minta kepadamu supaya engkau pun kelak akan berani mempertanggung jawabkan semua perbuatanmu! Jangan menjadi seorang manusia yang munafik, yang pura-pura alim. Kalau memang bersih, usahakan supaya bersih luar dalam. Kalau engkau tak kuasa menahan hasrat melakukan sesuatu, lakukanlah dengan dasar tidak merugikan orang lain dan berani bertanggung jawab atas segala akibat kelakuanmu itu. Hal ini berarti melakukan sesuatu dengan mata dan hati terbuka."

"Teecu mengerti, suhu."

"Nah, kuulangi lagi. Kepandaianmu masih jauh dari pada cukup untuk menghadapi lawan yang tangguh. Akan tetapi tiada waktu lagi bagiku." Ia menghela napas panjang. "Bu-tek Su-kwi benar-benar hebat. Sampai sekarang masih ada bekas tangan mereka. Rambut dan kuku Ang-bin Kwi-bo amat berbahaya, juga senjata tengkorak milik Pak-san Kwi-ong. Hudtim dan ilmu silat tangan kosong Pat-jiu Kiam-ong sukar dilawan pula. Apa lagi kalau kau bertemu dengan Lam-hai Sin-ni.... wah, sukar dikatakan atau diukur sampai di mana sekarang tingkat kepandaian wanita iblis itu! Kiranya engkau baru akan dapat menandingi mereka bila engkau sudah mempelajari semua kitab peninggalanku yang rahasia tempat persembunyiannya berada di dalam Siang-bhok-kiam ini, muridku."

Keng Hong memandang ke arah pedang di tangan suhu-nya itu dengan perasaan penuh heran. Mengertilah dia sekarang mengapa tokoh-tokoh sakti itu memperebutkan pedang kayu ini, kiranya merupakan kunci pembuka rahasia kitab-kitab pelajaran silat tinggi yang dahulu telah dikumpulkan oleh suhu-nya.


Tag: Cerita Silat Online, Cersil, Kho Ping Hoo, Pedang Kayu Harum

Thanks for reading Pedang Kayu Harum Jilid 02.

Back To Top