Cersil Online Karya Kho Ping Hoo

Pedang Kayu Harum Jilid 03

Pedang Kayu Harum

Jilid 03

Karya Kho Ping Hoo

SUDAH sering kali dia diperbolehkan mempergunakan Siang-bhok-kiam untuk berlatih ilmu pedang Siang-bhok Kiam-sut yang sengaja diciptakan gurunya untuk dia, akan tetapi tak pernah dia melihat sesuatu yang aneh pada pedang itu, kecuali huruf-huruf kecil yang terukir di dekat gagang pedang yang isinya merupakan ujar-ujar kuno.

"Apakah suhu menyuruh teecu untuk mempelajari kitab-kitab itu?" tanya Keng Hong untuk menyembunyikan ketegangan hatinya.

"Barang yang mudah didapat tidak akan dihargai, yang sukar didapat barulah berharga, Hong-ji. Kitab-kitab dan benda-benda yang terkumpul di dalam tempat rahasiaku itu juga baru akan berharga bagimu kalau kau mendapatkannya dengan sukar. Akan tetapi tidak hanya kesukaran menjadi syarat, namun terutama sekali jodoh! Apa bila engkau memang berjodoh dengan peninggalanku itu, tentu kelak akan bisa kau dapatkan. Boleh kau cari sendiri melalui Siang-bhok-kiam ini. Nah, kini kau terimalah Siang-bhok-kiam, pedang ini kuberikan kepadamu, muridku..."

Keng Hong terkejut dan memandang wajah gurunya dengan mata terbelalak. Dia belum menerima pedang yang diangsurkan kepadanya, malah bertanya meragu, "Akan tetapi... Suhu pernah bilang bahwa Siang-bhok-kiam seperti nyawa bagi suhu... bagaimana dapat diberikan kapada teecu...?"

"Ha-ha-ha, pedang ini milik siapa dan nyawa ini milik siapa? Kau terimalah sebagai tanda patuh kepada guru."

Keng Hong tidak berani membantah, kemudian menerima pedang Siang-bhok-kiam yang telanjang itu.

"Keng Hong, meski pusaka warisanku harus kau cari dengan dasar jodoh dan kesukaran, akan tetapi ada sesuatu yang dapat kuberikan kepadamu kecuali Siang-bhok-kiam, dan mudah-mudahan pemberianku ini akan dapat menjadi perisai bagimu menghadapi semua lawan tangguh. Selipkan Siang-bhok-kiam di pinggang dan mendekatlah."

Keng Hong segera menyelipkan pedang kayu di ikat pinggangnya, kemudian menggeser duduknya mendekati suhu-nya. Sin-jiu Kiam-ong mengangkat kedua tangannya, yang kiri dia taruh di atas ubun-ubun kepala Keng Hong, dan yang kanan diletakkan di punggung pemuda itu, baru kemudian dia berkata lirih,

"Pusatkan segala dan buka semua, Keng Hong, pergunakan sinkang-mu untuk membuka semua jalan darah, jangan pernah menentang sedikit pun juga, dan bantu dengan daya penyedot…"

"Suhu... suhu hendak..."

Keng Hong gelisah sebab dia sudah beberapa kali menerima bantuan hawa sinkang yang disalurkan oleh suhu-nya ke dalam tubuhnya, dan yang selalu mengakibatkan kelemahan tubuh suhu-nya sehingga akhirnya dia memohon agar suhu-nya tidak mengulangi hal itu. Kini suhu-nya hendak melakukannya lagi!

"Apakah dalam saat terakhir ini muridku hendak membantah perintah gurunya?"

Suara ini halus, namun penuh wibawa dan sekaligus memusnahkan niat hati Keng Hong hendak menentang. Dia terpaksa lalu bersila dan memusatkan perhatiannya, membuka semua jalan darah dan mengosongkan hawa di pusarnya untuk menerima saluran hawa sinkang dari gurunya.

Sebentar saja sudah terasa oleh Keng Hong betapa hawa yang sangat kuat menerobos masuk melalui kepala serta punggungnya, hawa yang sebentar hangat, lalu panas dan perlahan-lahan berubah dingin lalu panas kembali. Terasa pula olehnya betapa dari dirinya sendiri timbul semacam tenaga menyedot yang membuat aliran hawa sinkang itu makin lancar menerobos, berputaran di dalam pusarnya lantas buyar dan menyusup-nyusup ke seluruh bagian tubuhnya.

Hebat bukan main sinkang dari suhu-nya dan hampir dia tidak kuat menerimanya. Ada kalanya hawa yang memasuki tubuhnya sedemikian panasnya hampir tidak tertahankan, akan tetapi karena dia pun sudah bertahun-tahun berlatih, dia dapat melawannya dengan menyesuaikan diri melalui kekuatan kemauannya sehingga secara perlahan-lahan yang panas itu terasa hangat-hangat saja.

Entah berapa lamanya guru dan murid ini duduk tak bergerak. Keng Hong sendiri tidak tahu karena dia telah memusatkan seluruh perhatiannya ke dalam tubuh. Dia seolah-olah berada dalam keadaan mimpi atau pingsan. Baru dia sadar ketika merasa betapa hawa yang terasa seolah-olah air mancur memasuki tubuhnya melalui kepala dan punggung itu telah berhenti, dan betapa ubun-ubun dan punggungnya terasa dingin.

Keng Hong membuka mata, melihat suhu-nya masih bersila sambil memejamkan mata, bibirnya tersenyum membayangkan kepuasan. Akan tetapi ada sesuatu yang membuat Keng Hong cepat memegang kedua lengan suhu-nya yang tadinya masih terletak di atas ubun-ubun dan punggungnya.

Sepasang tangan suhu-nya terkulai lemas dan dingin. Suhu-nya telah menghembuskan napas terakhir, entah sudah berapa lamanya.

"Suhu...!!" Keng Hong meloncat bangun.

Melihat tubuh yang bersila itu kini kehilangan sandaran dan akan roboh, cepat-cepat dia menyangganya dan merebahkannya di atas permukaan batu. Sekali lagi dia memeriksa detak jantung dan napas. Tak terasa lagi! Suhu-nya sudah meninggal dunia karena dia! Karena ‘mengoper’ sinkang sampai kehabisan segala-galanya.

Tiba-tiba Keng Hong meraung, meloncat berdiri dengan muka merah sambil memandang kedua tangannya. Dia merasa seolah-olah dialah yang membunuh suhu-nya! Kenapa dia tadi begitu bodoh dan mau saja padahal ini akan membahayakan kesehatan suhu-nya?

Rasa duka, menyesal dan marah kepada diri sendiri membuat wajah pemuda itu menjadi merah dan beringas. Tiba-tiba dia memekik lagi dan tubuhnya mendadak melesat ke arah permukaan puncak batu pedang yang menonjol setinggi orang, tangannya menghantam.

"Pyarrrrr....!" Batu gunung yang keras itu hancur berantakan menjadi kepingan-kepingan kecil yang beterbangan ke sana sini!

Keng Hong berdiri dan ternganga heran. Memang dia sudah memiliki kekuatan sinkang yang tidak lemah, tapi kalau dia memukul batu, biasanya tentu hanya akan memecahkan bagian ujung saja. Akan tetapi sekali ini, dari tangannya keluar kekuatan yang sedemikian hebatnya sehingga batu yang menonjol setinggi orang itu hancur sama sekali sedangkan tangannya tidak merasakan nyeri sedikit pun juga!

Rasa girang, tercengang, kaget dan duka bercampur menjadi satu, membuat dia terharu sekali. Sinkang yang tadi telah disalurkan ke tubuhnya oleh gurunya ternyata membuat dia memiliki tenaga yang hebat, bahkan loncatannya juga sepuluh kali lebih cepat dari pada biasa.

Ginkang dan lweekang di tubuhnya sekaligus mendapat kemajuan yang amat luar biasa. Ia kembali melesat ke dekat suhu-nya kemudian menangis sambil memeluk mayat Sin-jiu Kiam-ong. Sesuai dengan pesan Sin-jiu Kiam-ong yang pernah dinyatakan kepadanya, Keng Hong mengangkat jenasah gurunya itu dan meletakkannya ke dalam gubuk kecil tempat gurunya beristirahat.

Kemudian, setelah menangisi mayat itu dan bersembahyang tanpa upacara karena tiada alat, memohon kepada Thian agar supaya dosa-dosa gurunya diperingan hukumannya dan arwah gurunya mendapatkan tempat yang baik, Keng Hong lalu membakar gubuk itu. Dengan hati penuh keharuan dia menjaga dan memandang api yang berkobar membakar gubuk berikut jenasah Sin-jiu Kiam-ong.

Oleh karena dia harus selalu menambah bahan bakar, pembakaran jenasah ini memakan waktu setengah hari lamanya. Kemudian, sesuai pula dengan pesan suhu-nya, dia lantas mengumpulkan abu jenasah dan pada malam hari itu, disaksikan laksaan bintang yang menghias langit biru, Keng Hong lalu menabur-naburkan abu itu dari puncak batu pedang. Angin bertiup dan membawa abu itu bertebaran ke segenap jurusan, seolah-olah Sin-jiu Kiam-ong benar-benar kini bersatu dengan alam di sekeliling tempat yang dicintanya itu.

Semalam suntuk Keng Hong duduk melamun, di samping terkenang pada suhu-nya juga memikirkan keadaan dirinya sendiri. Tadinya dia tak pernah memikirkan keadaan dirinya karena setiap hari segenap perhatiannya dia curahkan untuk belajar serta berlatih, dan selain itu ada gurunya di sampingnya yang membuat dia tidak merasa kesepian.

Akan tetapi sekarang, sesudah Sin-jiu Kiam-ong tidak ada lagi, bahkan bekas-bekasnya tidak ada lagi, dia mulai merasa dan melihat kenyataan bahwa dia sesungguhnya hanya seorang diri saja di dunia ini! Sesudah gurunya tidak ada, apa yang akan dilakukan? Ke mana dia akan pergi? Apa tujuan hidupnya selanjutnya? Kembali ke kampung halaman?

Dia masih ingat dengan kampung halamannya, dusun Kwi-bun di mana dia terlahir dan bermain-main sampai usia sepuluh tahun. Akan tetapi, mau apa dia kembali ke Kwi-bun? Keluarganya sudah terbasmi habis, rumah pun tidak ada, dan kembalinya ke sana hanya akan membongkar kenangan-kenangan lama yang sangat tidak menyenangkan hati.

Ke kuil Kun-lun-pai? Di sana banyak orang-orang yang baik hati, tosu-tosu yang selain baik dan ramah terhadapnya, seperti pernah dia alami sampai dua tahun lamanya. Akan tetapi dia teringat akan pesan Kiang Lojin kepada Sin-jiu Kiam-ong bahwa karena dia bukan ‘orang Kun-lun-pai’, maka dia tidak boleh tinggal di Kun-lun-pai, bahkan dia tidak diperkenankan tinggal di batu pedang yang berada di Kiam-kok-san kalau suhu-nya tidak ada!

Habis ke mana? Tetap tinggal di situ? Tidak mungkin! Dia bukan seorang yang nekat dan tidak tahu malu. Dia maklum bahwa gurunya dan dia adalah orang-orang yang ‘mondok’ karena Kiam-kok-san merupakan wilayah Kun-lun-pai. Dan bila mana tuan rumah tidak memperbolehkan tinggal di sana, dia pun tidak sudi memaksa. Akan tetapi kalau pergi, kemanakah?

Dalam bingungnya, Keng Hong teringat pada suhu-nya. Andai kata dia menjadi suhu-nya, apa yang akan dilakukannya? Suhu-nya adalah seorang yang selalu hidup gembira ria. Jangankan berduka, bingung dan takut pun tidak pernah dikenalnya. Teringatlah dia akan semua cerita suhu-nya tentang diri suhu-nya pada waktu muda. Masih terngiang-ngiang di telinganya ucapan yang keluar dari bibir tua yang masih tersenyum, wajah cerah dan mata berseri itu.

"Hidup satu kali di dunia, apa gunanya berkeluh kesah dan berhati susah? Kegembiraan dan kesenangan dapat dinikmati, tinggal meraih saja! Semua berkah dari Dia yang telah dilimpahkan untuk kita, mengapa mesti disia-siakan? Nikmatilah berkah itu!"

Keng Hong mulai berseri wajahnya. Sambil menengadah memandang bintang-bintang di langit, dia mengenang semua cerita suhu-nya dan mengenang kembali semua ucapan-ucapannya.

"Aku paling suka dengan keindahan. Tamasya alam yang indah, makanan lezat, semua bunyi-bunyian merdu, ganda yang harum, wanita-wanita cantik! Kita sudah dianugerahi mata, hidung, telinga, mulut. Gunakanlah sebaik-baiknya untuk menikmati berkah-berkah yang memenuhi dunia. Pergunakan matamu untuk segala keindahan dan menikmatinya. Lihat tamasya alam yang amat indah, lihat bunga-bunga yang cantik, lihat wanita-wanita yang jelita! Pergunakanlah telingamu untuk menikmati segala bunyi-bunyian yang merdu, burung-burung berkicau, margasatwa berdendang, alat tetabuhan dan nyanyian merdu. Mulut? Nikmati segala makanan yang lezat karena memang itu adalah hak kita. Rasakan segala rasa di dunia ini. Manis, asin, gurih, masam dan pahit! Hidung? Pakailah untuk menikmati hidup, untuk mencium ganda harum, sedap dan wangi! Pendek kata, selama seratus tahun aku hidup cukup penuh kenikmatan dan sekarang menghadapi mati aku tidak penasaran dan menyesal lagi, Keng Hong."

Keng Hong tersenyum pahit mengenang ucapan suhu-nya ini. Biar pun pada lahirnya dia tak berani membantah, namun di dalam hatinya dia kurang menyetujui pendapat tentang hidup seperti yang dikemukakan suhu-nya. Mungkin sudah terlalu banyak dia dipengaruhi kitab-kitab kuno yang mengajarkan tentang filsafat hidup, tentang kesusilaan, peradaban dan kebudayaan.

Gurunya tidak mempedulikan semua itu. Gurunya pengejar kesenangan duniawi. Namun, sungguh pun dia tidak menyetujui pendapat suhu-nya yang dalam hal ilmu bun (sastra) tidaklah sangat mendalam pengetahuannya, dia dapat menemukan kesederhanaan dan kejujuran yang tidak dibuat-buat, dan tahu pula bahwa di balik cara hidup ugal-ugalan seperti suhu-nya itu tersembunyi dasar watak yang baik dan gagah perkasa.

"Entah berapa ratus orang wanita cantik yang menjadi kekasihku, Keng Hong." Demikian suhu-nya pernah bercerita. "Aku tak pernah menolak cinta kasih seorang wanita! Wanita bagiku adalah bunga yang membutuhkan belaian dan kasih sayang. Karena itu aku tidak pernah menolaknya, tidak peduli dia itu cantik jelita, manis, buruk, muda mau pun tua! Tentu saja terutama sekali yang cantik molek, tidak peduli dia itu gadis, janda, atau sudah bersuami, sudah beranak atau bercucu! Aku menerima kedatangan mereka dengan hati dan kedua lengan terbuka! Hanya satu yang merupakan pantangan bagiku, yaitu bahwa aku tidak sudi mendekati wanita yang tidak suka menerima kedatanganku. Aku tidak sudi menggagahi wanita yang tidak menghendaki aku. Aku tidak sudi cinta sepihak saja!"

Teringat akan ini, Keng Hong menggeleng-gelengkan kepalanya. Suhu-nya benar-benar seorang mata keranjang! Pelahap wanita! Tentu saja dia tak ingin seperti suhu-nya, akan tetapi dia merasa terharu kalau teringat akan pendirian terakhir suhu-nya yang tidak sudi menggagahi wanita yang tidak cinta kepadanya. Tentu saja merupakan hal yang sangat buruk kalau suhu-nya berjinah dengan wanita yang bersuami, akan tetapi kalau si wanita itu sendiri suka..., sungguh dia tidak tidak tahu harus menilai bagaimana.

"Hanya satu pesanku, Keng Hong. Engkau boleh saja mencinta seribu wanita, akan tetapi jangan sekali-kali kau membiarkan kakimu terikat oleh pernikahan! Sekali engkau terikat, maka akan lenyaplah kebebasanmu dan tak mungkin pula dapat mempertahankan hidup seperti aku!"

Keng Hong makin bingung. Soal-soal tentang cinta dan pernikahan masih belum menarik perhatian. Betapa pun juga suhu-nya bukan golongan jai-hwa-cat (penjahat pemerkosa wanita). Dan suhu-nya tidak pernah dengan sengaja melakukan kejahatan kepada orang lain.

Bila dia sampai dimusuhi adalah sebagai akibat dari sikapnya yang ugal-ugalan, melayani cinta kasih wanita-wanita isteri orang lain, kemudian apa bila menghendaki setiap benda, terus diambilnya begitu saja dengan dasar bahwa yang kehilangan benda itu tidak akan menderita! Maka terjadilah perampokan benda-benda berharga milik pembesar-pembesar tinggi yang kaya raya, pencurian kitab-kitab dari partai-partai persilatan besar, permainan jinah dengan isteri-isteri cantik, dan sebagainya sehingga di dunia ini dia memiliki banyak sekali musuh!

Keng Hong bergidik ngeri. Ia tahu bahwa banyak sekali orang sakti menginginkan pusaka warisan suhu-nya yang kuncinya terdapat dalam Siang-bhok-kiam. Bagaimana kalau dia turun gunung kemudian dikejar-kejar mereka yang hendak merampas Siang-bhok-kiam? Gurunya selama ini dapat mempertahankan pedangnya, akan tetapi bagaimana dengan dia? Musuh terlalu banyak, dan di antara mereka banyak yang sakti. Betapa mungkin dia dapat menandingi mereka dan mempertahankan Siang-bhok-kiam?

"Kiranya engkau baru akan dapat menandingi kesaktian mereka itu kalau engkau sudah mempelajari semua kitab-kitab peninggalanku..." Begitu antara lain gurunya meninggalkan pesan sebelum menutup mata.

Dan rahasianya berada di Siang-bhok-kiam! Kenapa turun gunung sebelum dia mendapat bekal kesaktian yang akan cukup kuat dipakai mempertahankan Siang-bhok-kiam? Lebih baik dia mencari dan mempelajari kitab-kitab itu!

Pada esok harinya, Keng Hong mulai memeriksa dan meneliti pedang Siang-bhok-kiam. Pedang itu tidak bersarung, pedang telanjang yang terbuat dari pada bahan kayu yang berbau sedap harum. Warnanya kehijauan dan kerasnya melebihi baja!

Keng Hong meraba-raba pedang Siang-bhok-kiam sambil meneliti ukiran huruf-huruf kecil yang pernah dilihat dan dibacanya. Kini dia memeriksa dan membacanya kembali:

Kebijaksanaan tertinggi seperti air!
Tulus dan sungguh mengabdi kebajikan.
Tukang saluran mengalirkan airnya ke mana dia suka!


Keng Hong mengerutkan kening. Sepanjang pengetahuannya, Sin-jiu Kiam-ong gurunya itu adalah orang yang paling memandang rendah para pendeta yang dia anggap sebagai orang-orang munafik yang pura-pura suci. Karena itu, pengetahuan suhu-nya mengenai kitab-kitab suci hanya sepotong-sepotong dan ngawur saja. Akan tetapi mengapa pedang itu diukir dengan bait-bait yang terdiri dari kata-kata yang hanya dipergunakan di dalam kitab-kitab suci?

Sudah jelas bahwa gurunya yang membuat huruf-huruf ini. Dia mengenal huruf tulisan suhu-nya yang bengkak-bengkok tidak dapat dikatakan indah. Namun orang yang sudah bisa menuliskan huruf-huruf kecil pada tubuh Siang-bhok-kiam, kiranya di dunia ini hanya dapat dihitung dengan jari tangan! Apakah artinya huruf-huruf itu? Apakah artinya sajak yang bukan sajak, ujar-ujar yang setengah matang itu?

Keng Hong merasa seperti sering membaca kalimat-kalimat ini. Akan tetapi setelah dia ingat-ingat, dia tahu betul bahwa tidak ada ujar-ujar seperti itu bunyinya dalam kitab yang mana pun juga! Sehari semalam lamanya dia merenungi arti tiga baris tulisan ini, namun tetap saja dia tidak dapat mengerti.

Akhirnya dia berpendapat bahwa mungkin rahasianya bukan terletak di dalam baris-baris sajak yang tidak karuan ini, melainkan pada pedang itu sendiri. Diperiksanya pedang itu, ditekan sana-sini, dicarinya kalau-kalau ada bagian yang mengandung rahasia. Namun dia tak berhasil menemukan sesuatu yang aneh di pedang itu kecuali huruf-huruf tadi.

Keng Hong telah berlatih ketekunan selama lima tahun di tempat itu, maka kini pun dia tidak mudah putus asa. Dengan tekun dia lalu mencari-cari di seluruh permukaan puncak batu pedang memeriksa kalau-kalau ada goa rahasia atau ada lubang-lubang yang cocok dengan ukuran pedang untuk dicongkel, kalau-kalau di situ terdapat pintu rahasia tempat penyimpanan pusaka suhu-nya.

Namun, sampai sebulan sejak suhu-nya meninggal dunia, dia tidak berhasil menemukan pusaka itu di permukaan puncak batu pedang. Sementara itu, persediaan buah-buahan sudah habis. Maka diambilnya keputusan untuk meninggalkan tempat itu, sesuai dengan pesan Kiang Tojin karena dia merasa tidak berhak tinggal di situ lebih lama lagi.

Untuk penghabisan kalinya ia berlutut dan bersembahyang ke arah empat penjuru sambil menyebut nama suhu-nya, kemudian menyelipkan Siang-bhok-kiam di sebelah dalam bajunya. Ketika menyelipkan Siang-bhok-kiam ini, dia tersenyum dan menoleh ke sebuah sudut di atas permukaan puncak batu pedang.

Ia merasa girang bahwa akhirnya timbul keberaniannya untuk turun dan menghadapi apa saja dengan dada lapang. Dia sudah lupa akan watak ayah bundanya, namun dia masih ingat benar akan watak gurunya.

Gurunya seorang periang, mengapa dia sebagai muridnya tidak mencontoh watak guru? Ia harus menghadapi segala rintangan yang mungkin timbul dengan hati riang dan penuh kepercayaan kepada diri sendiri! Dia kini bebas lepas seperti seekor burung terbang di udara. Mengapa tidak gembira?

Dengan wajah berseri, pemuda remaja yang tampan ini lalu menuruni puncak ini. Setelah mengoper sinkang darisuhu-nya sebulan yang lalu, dia merasa tubuhnya demikian penuh hawa yang amat kuat, yang membuat dia dapat meringankan tubuhnya. Menuruni tebing yang curam itu dapat dia lakukan dengan amat mudahnya, jauh lebih mudah dari pada yang sudah-sudah kalau dia turun mencari persediaan makan untuk suhu-nya dan dia.

********************

"Aiiih...! Tolonggg...! Lepaskan aku...!" Jerit melengking ini jelas keluar dari mulut seorang wanita.

Keng Hong yang tadinya mengira bahwa turunnya tentu akan langsung dihadang musuh, mendapatkan kenyataan bahwa Kiam-kok-san (Puncak Lembah Pedang) di bawah batu pedang sunyi saja. Akan tetapi tiba-tiba saja dia mendengar lengking yang mengerikan itu, yang membuat bulu tengkuknya berdiri! Apa lagi karena sebagai seorang yang telah tergembleng hebat, dia mendapat perasaan seolah-olah banyak pasang mata yang selalu mengikuti gerak-geriknya.

Keng Hong tidak mempedulikan perasaan ini karena dia sudah melesat ke kiri, berlari ke arah suara yang menjerit tadi. Apa pun yang akan terjadi, sudah pasti bahwa di sana ada seorang wanita yang minta tolong, yang membutuhkan bantuan karena keselamatannya terancam.

"Jangan menolak setiap uluran tangan yang minta pertolongan," demikian pesan gurunya, "Namun waspadalah terhadap tangan yang berniat menolongmu."

Bukan karena teringat akan pesan suhu-nya, melainkan terutama sekali karena dorongan hati sendiri. Keng Hong melesat cepat untuk menolong wanita yang terancam bahaya, timbul dari dorongan welas asih yang memang sudah ada pada setiap hati manusia.

Tidak lama kemudian tibalah dia di sebuah lapangan terbuka dan dia tercengang. Di situ telah berkumpul puluhan orang tosu Kun-lun-pai dan paling depan tampak penolongnya, Kiang Tojin berdiri dengan sikap angker, tangan kirinya mencengkeram pundak seorang wanita cantik yang meronta-ronta dan merintih-rintih.

Dan selain tokoh-tokoh Kun-lun-pai, tampak pula Thian Seng Cinjin sendiri berdiri dengan bersandar pada tongkatnya! Ketua Kun-lun-pai ini tampak sudah tua sekali. Sikap mereka semua yang kini memandang Keng Hong membayangkan bahwa mereka semua memang sedang menantinya!

Keng Hong menghentikan larinya dan otomatis dia menoleh. Benar saja seperti sudah diduganya tadi, di sebelah belakangnya kini muncul belasan orang tosu Kun-lun-pai dan dia berdiri terkurung di tengah, berhadapan dengan Kiang Tojin yang menangkap wanita cantik itu serta ketua Kun-lun-pai yang berdiri dengan sikapnya yang agung dan ramah! Keng Hong merasa seolah-olah menjadi seekor kelinci yang dikurung oleh puluhan ekor harimau kelaparan!

Akan tetapi, dia adalah seorang yang semenjak kecil sudah belajar kesopanan. Melihat Kiang Tojin yang menjadi penolongnya serta para tosu Kun-lun-pai yang pernah melepas budi selama dua tahun kepadanya, dia cepat-cepat menjatuhkan dirinya berlutut di depan Thian Seng Cinjin dan Kiang Tojin sambil berkata,

"Boanpwe (saya yang rendah) bekas kacung Cia Keng Hong datang menghadap para locianpwe (orang-orang tua gagah), mohon di maafkan segala kesalahan boanpwe!"

Thian Seng Cinjin tersenyum lebar dan Kiang tojin berseri wajahnya lalu menggerakkan tangannya yang mencengkeram pundak wanita itu sambil berkata kepada anak muridnya, "Belenggu wanita jahat ini!"

Dua orang tosu lalu datang dan mengikat kaki tangan wanita itu pada sebatang pohon. Keng Hong melirik dengan ujung matanya, melihat betapa wanita yang usianya sekitar dua puluhan tahun dan amat cantik jelita itu menangis perlahan sehingga hatinya merasa kasihan sekali. Akan tetapi dia cepat-cepat mengalihkan perhatiannya ketika Kiang Tojin berkata.

"Baik sekali, Keng Hong. Bangun dan berdirilah karena engkau bukan anak murid kami, juga bukan kacung kami lagi. Sudah sebulan lamanya kami menunggumu. Apakah yang menyebabkan engkau terlambat sampai sebulan baru turun dari Kiam-kok-san?"

Keng Hong terkejut. Kiranya para tosu Kun-lun-pai ini sudah tahu bahwa suhu-nya telah meninggal sebulan yang lalu dan diam-diam sudah menjaga dan menanti dia turun dari puncak batu pedang. Yang menjaga dan memata-matai di Kiam-kok-san hanyalah anak murid Kun-lun-pai, agaknya ketua Kun-lun-pai dan Kiang Tojin masih tak mau melanggar pantangan untuk mengotori Kiam-kok-san!

Kemudian dia teringat betapa dia sudah membakar jenasah suhu-nya di dalam pondok. Agaknya pembakaran itulah yang memberitahukan para tosu. Sebelum dia menjawab, karena melihat dia meragu dan bingung, Kiang Tojin sudah berkata lagi,

"Kami melihat betapa ada asap mengebul dari puncak Kiam-kok-san. Kami tidak suka mengganggu seorang murid yang berkabung atas kematian gurunya, maka kami hanya menunggu. Akan tetapi, alangkah banyaknya orang yang sedang menanti-nantimu, Keng Hong. Wanita jahat ini adalah orang terakhir dari kaum sesat yang menunggumu turun gunung dan yang sudah siap menurunkan tangan jahat kepadamu."

"Bohong! Tosu bau tak pernah mandi! Siapa yang hendak turun tangan jahat terhadap pemuda itu? Aku hanya ingin menonton keramaian, kemudian tersesat di sini dan kalian menggunakan pengeroyokan menangkap aku! Cih, tak tahu malu! Segerombolan kakek tua bangka mengeroyok seorang gadis! Kau kira aku tidak tahu? Kalian hanya pura-pura menjadi pendeta, padahal menggunakan kesempatan untuk meraba-raba dan membelai belai tubuhku dengan alasan hendak menangkap seorang penjahat!"

Hebat bukan main penghinaan ini. Banyak di antara para tosu Kun-lun-pai menjadi merah sekali mukanya, entah merah karena malu ataukah karena marah. Akan tetapi yang jelas, banyak di antara mereka yang melotot marah dan memandang wanita cantik itu penuh kebencian.

Akan tetapi Kiang Tojin dan Thian Seng Cinjin hanya tersenyum saja, sedikit pun tidak terpengaruh oleh ucapan-ucapan menghina itu. Kiang Tojin hanya membalikkan tubuhnya dan tiba-tiba tangan kanannya bergerak ke depan dengan jari telunjuk menuding ke arah wanita yang terikat di pohon itu.

Jarak di antara mereka ada tiga meter, akan tetapi terdengar angin bercuit dan... tubuh wanita itu lantas menjadi lemas dan ia tak dapat mengeluarkan suara lagi karena ia telah terkena totokan yang dilakukan dari jarak jauh! Hanya matanya saja yang memandang dengan mendelik penuh kemarahan.

Diam-diam Keng Hong terkejut dan kagum sekali. Juga merasa betapa ketekunannya selama lima tahun ini sesungguhnya tidak ada artinya kalau dibandingkan dengan tingkat kepandaian tosu yang menjadi penolongnya ini. Sebagai orang yang pernah mempelajari ilmu silatnya masih kalah jauh sekali oleh Kiang Tojin, dan agaknya kalau harus melawan tosu ini, belum tentu dia sanggup bertahan sampai lima jurus!

"Keng Hong, ketahuilah bahwa baik kaum sesat atau orang-orang gagah yang menaruh dendam kepada gurumu selalu mengincarmu untuk merampas pedang Siang-bhok-kiam serta rahasia penyimpanan kitab-kitab gurumu. Kami para tosu Kun-lun-pai sama sekali bukanlah orang-orang serakah dan tak menghendaki apa-apa, baik dari Sin-jiu Kiam-ong atau dirimu. Akan tetapi mengingat bahwa engkau datang ke Kun-lun-pai tidak membawa apa-apa, maka kepergianmu dari sini pun tidak boleh membawa apa-apa! Jadi bila mana Siang-bhok-kiam berada bersamamu, pedang itu harus kau tinggalkan pada pinto. Begitu pula segala benda lain yang kau bawa, kitab-kitab atau apa saja, harus ditinggalkan. Hal ini bukan sekali-kali karena pinto ingin memilikinya, melainkan pertama, benda-benda itu hanya akan mendatangkan mala petaka padamu, dan dari pada jatuh ke tangan kaum sesat sehingga mereka menjadi lebih lihai, lebih baik kami simpan atau kami hancurkan di Kun-lun-san!"

Keng Hong mengerutkan keningnya, "Akan tetapi, pedang yang saya bawa ini merupakan pemberian suhu, bukan hasil mencuri milik Kun-lun-pai!"

Kiang Tojin tersenyum dan mengangguk-ngangguk, "Betul, akan tetapi Sin-jiu Kiam-ong telah meninggal dunia di Kiam-kok-san, maka semua peninggalannya harus ditinggalkan di Kiam-kok-san pula. Biar pun engkau muridnya, tak boleh engkau membawanya pergi dari Kun-lun-san."

"Kalau saya menolak?"

Kiang Tojin mengerutkan alisnya dan mengangkat mukanya. "Keng Hong, tidak tahukah engkau bahwa peraturan kami ini demi keselamatanmu sendiri? Kalau engkau menolak, berarti engkau lupa akan budi dan pinto terpaksa menggunakan kekerasan!"

Keng Hong dapat menyelami maksud hati Kiang Tojin dan dia makin kagum dan tunduk kepada tosu Kun-lun-pai yang bijaksana serta cerdik ini. Akan tetapi untuk mengalah begitu saja dia merasa enggan. Apa lagi tidak ada kesempatan yang lebih baik dari pada berlatih melawan Kiang Tojin yang tidak mempunyai niat buruk terhadap dirinya. Biarlah dia berlatih dengan penolongnya yang berilmu tinggi ini.

"Maafkan saya, Totiang. Sebelum menyerahkan pedang ini ingin sekali saya menerima petunjuk Totiang dalam hal ilmu silat."

Kiang Tojin tertawa, "Ha-ha-ha, memang sejak dahulu engkau keras hati. Baiklah, Keng Hong. Kau boleh menyerangku, pinto juga ingin melihat sampai di mana hasilmu berguru kepada mendiang Sin-jiu Kiam-ong! Mulailah!"

Biar pun belum pernah menggunakan kepandaian yang dipelajarainya selama lima tahun itu untuk bertanding dalam pertempuran sungguh-sungguh, akan tetapi Keng Hong sudah menguasai dasar-dasar ilmu silat tinggi. Juga dia selalu ingat akan semua nasehat dan petunjuk suhu-nya. Ia ingat akan nasehat gurunya bahwa bagi seorang yang sudah tinggi ilmu silatnya, lebih baik diserang lebih dahulu dari pada menyerang, karena lawan yang menyerang itu otomatis akan membuka bagian yang kosong sehingga mudah ‘dimasuki’ dalam serangan balasan yang dilakukan otomatis pula.

Karena dia tahu bahwa Kiang Tojin adalah lawan yang amat berat, maka setelah berseru keras dia maju memukul dengan gerakan perlahan dan berhati-hati, hanya menggunakan seperempat bagian perhatiannya saja untuk menyerang, yang tiga perempat bagian dia cadangkan untuk penjagaan diri agar begitu lawannya membalas, dia dapat menghindar dengan elakan atau tangkisan.

"Wuuuttt!" Pukulan tangan kanannya menyambar, mendatangkan angin yang kuat.

"Bagus...!" Kiang Tojin berseru, kagum melihat kenyataan betapa kuatnya pukulan Keng Hong sehingga tidak mengecewakan menjadi murid Sin-jiu Kiam-ong karena dia sendiri tidak akan sanggup melatih seorang murid selama lima tahun sudah memiliki sinkang yang sedemikian kuatnya. Namun diam-diam dia kecewa menyaksikan gerakan-gerakan yang amat sederhana itu, padahal dia tadinya mengira bahwa ilmu silat yang diturunkan kakek raja pedang itu kepada muridnya tentu hebat.

Melihat pukulannya hanya dielakkan Kiang Tojin dan ternyata tosu itu sama sekali tidak membalasnya, bahkan jelas menunggu serangan selanjutnya, tahulah Keng Hong bahwa tosu penolongnya ini benar-benar hanya ingin mengujinya. Pujian yang keluar dari mulut Kiang Tojin itu membuat telinganya merah. Sudah jelas bahwa dia tadi memukul dengan gerakan sederhana saja, bahkan dengan tenaga yang hanya seperempatnya, bagaimana bisa di sebut bagus? Apakah tosu penolongnya ini mengejeknya?

Biarlah, kalau aku kalah biar kalah, roboh di tangan tosu yang menjadi tokoh kedua dari Kun-lun-pai ini, apa lagi yang menjadi penolongnya, tidaklah amat memalukan. Maka dia pun berkata,

"Totiang, maafkan kelancanganku!"

Seruan ini dia tutup dengan gerakan menyerang. Kini Keng Hong tidak mau diejek untuk kedua kalinya. Ia mengerahkan sinkang dari pusarnya. Hawa panas meluncur cepat ke arah kedua lengannya dan dia menggunakan ginkang-nya. Tubuhnya melesat bagaikan kilat menyambar ke arah Kiang Tojin dan sekaligus dia memukulkan kedua tangannya dalam serangan berantai.

Harus diketahui bahwa dalam silat tangan kosong, Keng Hong belum dapat dikatakan lihai. Ia hanya digembleng dengan pengertian dan gerakan-gerakan dasar ilmu silat saja. Setiap gerakan tangan dan geseran kaki memang dapat dia lakukan dengan mahir, tetapi rangkaian ilmu silat belum banyak dia pelajari karena waktunya tidak mengijinkan.

Dari suhu-nya dia hanya baru dapat memetik ilmu silat tangan kosong yang oleh gurunya dinamai San-in Kun-hoat (Ilmu Silat Awan Gunung) yang diambil dari keadaan di puncak Kiam-kok-san. Ilmu silat ini merupakan gerakan-gerakan inti ilmu silat tinggi, namun diatur amat sederhana sehingga hanya terdiri dari delapan buah jurus serangan saja!

Dalam serangan ke dua ini Keng Hong yang tidak mau diejek itu sudah mempergunakan jurus yang disebut Siang-in-twi-an (Sepasang Awan Mendorong Gunung). Kedua kakinya masih di udara ketika dia melompat, namun siap melakukan tendangan susulan sebagai perkembangan jurus ini, ada pun kedua lengannya didorong ke depan secara bergantian sambil mengerahkan tenaga sinkang sekuatnya.

"Siuuuuttt...!"

"Siancai...!" Kiang Tojin terkejut bukan kepalang.

Ia sudah merasa amat kagum melihat tenaga pada serangan pertama tadi, tapi serangan kedua ini benar-benar membuat ia kaget karena serangan ini bukan merupakan serangan main-main dari seorang pemuda yang baru lima tahun belajar ilmu silat!

Serangan ini lebih pantas kalau dilakukan seorang tokoh persilatan yang sudah melatih diri selama puluhan tahun! Tenaga pukulan itu dapat dia ukur dari angin yang menyambar dan biar pun Kiang Tojin sendiri tidak berani menerima pukulan sehebat itu.

Cepat tosu itu meloncat ke samping dan memutar tubuhnya sambil mengangkat tangan karena melihat kedudukan tubuh Keng Hong di udara itu dia maklum bahwa pemuda ini akan melanjutkan jurus itu dengan tendangan. Dugaannya memang tepat, karena itu baik dorongan tangan mau pun tendangan Keng Hong hanya mengenai angin belaka, dan hanya berhasil membuat pakaian tosu itu berkibar.

Ketika serangan kedua ini gagal, Keng Hong yang khawatir kalau-kalau menerima akan serangan balasan, lalu segera menggunakan ginkang-nya dan di udara tubuhnya sudah berjungkir balik dibarengi seruannya yang keras sekali. Tubuhnya berputaran di angkasa dan membalik, lalu meluncur turun dan langsung menyerang untuk ketiga kalinya ke arah Kiang Tojin yang masih berdiri terbelalak.

Gaya serangan tadi saja sudah membayangkan ilmu silat yang luar biasa sekali, apa lagi tenaga serangan itu yang membuat kulit tubuhnya terasa pedas dan dingin sekali, maka kini tosu ini melongo menyaksikan ginkang sehebat itu. Tapi pada detik berikutnya, tubuh pemuda ini sudah meluncur dan menyerangnya dari atas seperti seekor burung garuda menyambar.

Sekali ini Keng Hong menggunakan jurus ke delapan atau jurus terakhir dari ilmu silat San-in Kun-hoat, yaitu jurus yang disebut In-keng Hong-i (Awan Menggetarkan Angin dan Hujan). Jurus inilah yang paling sukar dimainkan, karena keempat kaki tangan melakukan serangan dari atas secara bertubi-tubi.

Keng Hong yang ingin memperlihatkan apa yang telah dia pelajari dari suhu-nya supaya tidak dipandang rendah, telah menggerakkan kedua kakinya susul-menyusul menendang ke arah dada dan perut, disusul dengan hantaman tangan kiri yang terkepal ke arah leher dan akhirnya dengan jari terbuka ke arah ubun-ubun kepala lawannya!

Benar-benar serangan yang amat hebat, cepat dan mengandung tenaga mukjijat karena pada saat itu dia mempergunakan seluruh hawa sinkang di tubuhnya yang dia lancarkan melalui kedua tangan dan kakinya! Ketika dia marah-marah kepada diri sendiri di puncak batu pedang, dengan pukulan seperti inilah dia telah menggempur batu menonjol hingga batu setinggi orang itu telah hancur lebur.

"Hayaaaa...!" Kiang Tojin benar-benar kaget sekali sekarang.

Ia maklum bahwa sedikit pun dia tidak boleh memandang ringan serangan ini dan dia pun maklum bahwa serangan ini terlalu dahsyat dan berbahaya. Maka dia lalu mengerahkan perhatian dan tenaganya.

Tendangan kedua kaki mengarah perut dan dadanya dia hindarkan dengan elakan cepat, demikian pula pukulan ke arah lehernya. Akan tetapi tamparan ke arah ubun-ubunnya sedemikian cepat dan hebatnya sehingga amat berbahaya kalau dielakkan karena sedikit saja bagian kepalanya terkena, tentu akan mendatangkan bencana hebat. Maka dia lalu mengerahkan tenaganya, miringkan kepala dan tubuh, lantas secepat kilat dia menangkis tamparan itu sambil terus menangkap tangan Keng Hong yang terbuka.

Kiang Tojin adalah seorang tokoh besar yang telah mempunyai tingkat kepandaian amat tinggi, juga mempunyai tenaga sinkang yang sukar dicari bandingannya. Maka sangatlah mengherankan kalau sekarang menghadapi seorang muda yang baru belajar selama lima tahun dia terpaksa harus berhati-hati dan mengerahkan tenaganya.

"Plakk...! Aihhhh....!"

Kiang Tojin berseru kaget bukan main. Ketika ia menangkis tamparan Keng Hong dengan telapak tangannya, dia merasa seolah-olah lengannya tertindih oleh tenaga yang sangat kuat dan berat sehingga hampir tak kuat dia menahannya, yang membuat seluruh lengan sampai setengah dada terasa ngilu! Sebagai seorang yang sakti, tentu saja dia terkejut namun tidak kehilangan akal. Cepat dia memutar telapak tangannya bergerak, membuat tubuh Keng Hong terbanting ke bawah.

Akan tetapi, karena pemuda itu memiliki ginkang yang luar biasa, dia terbanting dalam keadaan berdiri sungguh pun bantingan itu membuat dia berdiri setengah berlutut dengan tangan masih menempel dengan tangan Kiang Tojin yang menangkapnya.

"Heeiiiitttt...!" Kembali Kiang Tojin memekik kaget dan megerahkan tenaga sinkang untuk melepaskan pegangannya.

Akan tetapi sungguh aneh sekali, dia tidak dapat melepaskan pegangannya pada tangan Keng Hong! Dapat dibayangkan betapa terkejut dan herannya ketika dia merasa betapa semakin dia mengerahkan sinkang, maka hawa sakti itu seakan-akan air dituangkan ke dalam laut, amblas dan hanyut tanpa bekas, bahkan kini tidak dapat lagi dia menahan sinkang-nya yang terus mengalir keluar melalui lengannya dan tersedot masuk ke dalam tubuh Keng Hong melalui tangan!

"Iiiiihhhh..., ehhhh...!"

Kiang Tojin menjadi pucat, matanya terbelalak dan ia meronta-ronta hendak melepaskan pegangannya. Namun sia-sia belaka, karena seperti ada tenaga mukjijat yang membuat tangannya lekat dan dia pun tak dapat menahan sinkang-nya yang menerobos keluar.

Tentu saja Kiang Tojin tidak mengerti bahwa kalau tadi dia hampir kalah kuat oleh Keng Hong adalah akibat pemuda itu telah menerima pengoperan sinkang dari Sin-jiu Kiam-ong dalam saat terakhir sehingga dapat dikatakan bahwa yang dia lawan bukan sinkang asli Keng Hong, melainkan sama dengan melawan Sin-jiu Kiam-ong! Dan kini, baik dia sendiri mau pun Keng Hong tidak mengerti betapa ada tenaga ‘menyedot’ luar biasa pada diri Keng Hong sehingga hawa sakti dari tubuh tosu itu mengalir keluar dan pindah ke dalam tubuh pemuda itu!

Pada saat Keng Hong merasa betapa ada hawa panas mengalir dari tangan tosu itu dan menerobos memasuki tubuhnya melalui tangannya tanpa dapat dicegah lagi, dia pun tahu apa yang sedang terjadi dan dia menjadi terkejut sekali. Mula-mula dia mengira bahwa seperti apa yang sudah dilakukan mendiang suhu-nya, tosu penolongnya ini pun hendak mengoperkan sinkang kepadanya, akan tetapi saat melihat wajah tosu itu menjadi pucat, sikapnya yang gugup dan betapa tosu itu dengan sia-sia hendak melepaskan pegangan, dia menjadi kaget bukan main.

Tanpa dia ketahui sendiri, dalam dirinya telah timbul semacam ‘penyakit’ yang tak mampu diobatinya sendiri, yaitu telah timbul semacam daya sedot yang amat hebat dan yang tak dikuasainya. Hal ini terjadi diluar di luar kehendaknya. Dia tidak tahu bahwa ketika Sin-jiu Kiam-ong memaksakan sinkang-nya berpindah ke tubuh muridnya, paksaan yang tidak wajar ini telah mengacau hawa sakti di tubuh Keng Hong dan telah merusak susunannya sehingga menimbulkan kekuatan daya sedot yang amat luar biasa ini.

Dalam bingungnya, Keng Hong juga membetot-betot tangannya sambil mulutnya berkata gagap, "Totiang... lepaskan..., lepaskan tanganku...!"

Selagi mereka berkutetan, masing-masing ingin melepaskan tangan yang saling melekat, beberapa orang tosu yang menjadi sute dari Kiang Tojin, menjadi marah. Mereka ini juga merupakan orang-orang yang berilmu tinggi. Mereka tidak tahu apa yang sedang terjadi, akan tetapi melihat betapa suheng (kakak seperguruan) mereka menjadi makin pucat dan tampak gugup serta bingung, mereka itu sebanyak empat orang sudah melangkah maju menghampiri Keng Hong. Seorang di antara mereka berseru marah.

"Bocah jahat, lepaskan!"

Empat buah lengan yang kuat dan mengandung penuh tenaga lweekang lalu menyentuh tubuh Keng Hong. Dua orang memegang tangannya, dua orang lagi memegang kedua pundaknya. Keng Hong tidak melawan dan dia masih dalam keadaan setengah berlutut.

Namun begitu empat buah tangan itu menyentuh Keng Hong, terdengar seruan-seruan kaget, bukan hanya empat orang tosu itu yang berseru kaget, bahkan Keng Hong juga mengeluh dan berteriak.

"Lepaskan...!"

Ternyata bahwa kini empat orang tosu itu tak dapat melepaskan lagi tangan mereka yang menempel tubuh Keng Hong dan seperti tempat air bocor, sinkang di tubuh mereka juga mengalir dan disedot masuk ke dalam tubuh pemuda itu!

"Bocah berilmu iblis!" Seorang di antara tosu itu memaki dan dia memukul dengan tangan lain ke punggung Keng Hong.

“Plakkk!” terdengar suara keras, akan tetapi upayanya sia-sia belaka.

Kini tangannya yang sebelah lagi itu pun melekat, maka makin hebatlah tenaga tosu ini tersedot sehingga dia menjadi pucat dan lemas seketika!

Keliru besar kalau mengira bahwa Keng Hong merasa senang menerima terobosan hawa sakti yang berkelimpahan memasuki tubuhnya ini. Tubuhnya menjadi makin panas, tidak karuan rasanya, seolah-olah sebuah bola karet yang terisi angin, tubuhnya terasa seperti akan meledak, dadanya penuh hawa, pusarnya penuh hawa yang menekan-nekan dan memberontak hendak keluar, kepalanya pening sekali dan mukanya menjadi merah bagai udang rebus!

Dia merasa tersiksa sekali, apa lagi karena dia maklum bahwa lima orang tosu itu bisa tewas kalau mereka tidak lekas-lekas dapat melepaskan tangan mereka dari tubuhnya. Namun dia sendiri tidak tahu bagaimana caranya agar dapat terlepas dari mereka! Kalau tadinya dia masih dapat berteriak-teriak minta mereka supaya melepaskan tangan sambil meronta-ronta, kini dia hanya mampu mengeluarkan suara "ah-ah-uh-uh" bagaikan orang gagu.

Keadaan Kiang Tojin beserta empat orang tosu itu lebih menderita lagi. Mereka merasa betapa tenaga sinkang mereka makin lama semakin menipis, tersedot secara ajaib tanpa mereka dapat mencegahnya. Tubuh mereka menjadi lemas, kepala menjadi pening dan pikiran tak dapat dipergunakan dengan baik lagi, membuat mereka menjadi bingung dan tidak tahu harus berbuat apa.

"Siancai... siancai...!" Seruan ini keluar dari mulut Thian Seng Cinjin, seruan yang halus saja dan tahu-tahu tubuh kakek ini sudah melayang mendekat.

Kemudian dia menggerakkan kedua tangan setelah menancapkan tongkat di atas tanah. Dengan kedua tangannya dia memegang dua pangkal lengan Keng Hong, lalu merenggut dan menghentak keras.

Keng Hong merasa betapa sebuah tenaga raksasa menariknya, dan tenaga yang jauh lebih kuat dari pada tenaga kelima tosu yang membocor ke dalam tubuhnya ini sudah menghentikan hubungan atau aliran hawa sakti itu, melepaskan dua lengannya sehingga tahu-tahu tubuhnya terlempar sampai sepuluh meter lebih jauh sampai bergulingan.

Keng Hong meloncat bangun, loncatannya amat ringannya dan dia berteriak kaget sebab tubuhnya itu mencelat jauh lebih tinggi dari pada yang dikehendakinya. Tubuhnya terasa seperti penuh dengan hawa yang membuatnya ringan sekali, akan tetapi juga amat berat di sebelah dalam. Hawa yang memenuhi tubuhnya minta dikeluarkan, membuat mulutnya menghembuskan suara mendesis seperti orang yang mulutnya kepedasan!

"Aahhhh... minggir... aaahhhhh... minggir semua...!" pekiknya dengan suara menggereng bagaikan seekor harimau, kemudian tubuhnya sudah melesat ke depan, menuju ke arah pohon-pohon besar.

Para tosu yang menyaksikan keadaannya ini menjadi amat kaget, heran dan juga gentar sehingga otomatis mereka lalu minggir dan menjauhkan diri. Keng Hong hanya merasa bahwa dia harus menyalurkan semua hawa sakti yang kini memenuhi tubuhnya, harus mengeluarkan tenaga yang membuat dadanya serta kepalanya bagaikan akan meledak.

Maka dia terus saja menggunakan kedua kaki tangannya untuk menghajar pohon-pohon yang tumbuh di hadapannya. Dia memukul, menendang dan mendorong. Dengan ngawur saja dia lantas memainkan keseluruhan delapan jurus dari ilmu silat San-in Kun-hoat.

“Dessss… kraaak-kraaaaak... bruuuuk!"

Terdengar suara-suara dahsyat berkali-kali, dan begitu ia selesai mainkan delapan belas jurus Ilmu Silat San-in Kun-hoat maka dia telah merobohkan delapan belas batang pohon besar yang menjadi tumbang, batangnya remuk dan kini malang melintang seperti baru saja diamuk topan!

Setelah dapat mengeluarkan sebagian hawa sinkang yang mendesak-desak di tubuhnya itu melalui pukulan-pukulan dan tendangan-tendangan yang merobohkan belasan batang pohon, barulah Keng Hong merasa tubuhnya tidak tersiksa lagi. Dadanya dan kepalanya tidak lagi terasa seperti mau meledak, napasnya tidak sesak dan dia seperti baru timbul dari keadaan seorang yang hampir tenggelam ke dalam air yang amat dalam tanpa dapat berenang!

Ia kini menggoyang-goyang kepalanya untuk mengusir sisa kepeningan, lalu memandang ke depan. Ia melihat betapa Kiang Tojin dan empat orang sute-nya sudah duduk bersila mengatur pernapasan serta mengumpulkan tenaga dengan wajah pucat. Teringatlah dia akan semua peristiwa akibat gara-garanya, maka cepat dia menghampiri Kiang Tojin dan menjatuhkan diri berlutut sambil mengangguk-anggukkan kepala penuh penyesalan.

"Saya mohon ampun dari Totiang sekalian...!" Suaranya pilu dan tak terasa lagi pemuda ini menangis sesenggukan!

"Siancai..., engkau bocah telah mewarisi ilmu iblis milik Sin-jiu Kiam-ong, masih baik tidak mewarisi wataknya yang ugal-ugalan. Hatimu masih bersih...!" Thian Seng Cinjin memuji sambil mengelus jenggotnya yang putih.

Tosu tua ini maklum bahwa kalau hati anak muda itu mengandung kekejaman, pasti dia akan kehilangan beberapa orang murid. Malapetaka besar tentu akan timbul kalau saja pemuda itu menyalurkan hawa sinkang yang hebat itu bukan kepada pohon-pohon, akan tetapi kepada manusia.

Kiang Tojin membuka matanya, mulutnya tersenyum sabar tapi pandang matanya penuh kengerian dan juga kekaguman. "Keng Hong, engkau telah mewarisi ilmu yang hebat dan mengerikan..."

"Totiang, saya bersumpah bahwa semua itu terjadi di luar kehendak saya. Sekarang saya mohon kepada Totiang agar Totiang sudi melenyapkan daya sedot yang mencelakakan orang tanpa saya kehendaki ini. Tolonglah, Totiang...!" Pemuda ini merasa tersiksa sekali batinnya dan dia menganggap ilmu kepandaian aneh yang berada di dalam dirinya, daya sedot yang ajaib itu, tidak lain hanya sebagai sebuah penyakit hebat yang menyeramkan dan menjijikkan!

"Keng Hong, tingkat kepandaianku masih belum sampai ke situ, tidak mungkin aku dapat melenyapkan ilmu iblis itu. Entah kalau suhu, barang kali bisa kalau kau suka memohon kepada suhu."

Keng Hong sudah menoleh dan hendak memohon kepada ketua Kun-lun-pai, akan tetapi Thian Seng Cinjin sudah mengangkat tangannya sambil berkata, suaranya halus namun penuh wibawa.

"Ada semacam ilmu hitam yang disebut Thi-khi I-beng (Mencuri Hawa Pindahkan Nyawa) yang cara kerjanya juga menyedot kekuatan tubuh lawan. Namun pinto rasa untuk masa kini tak ada lagi yang mempunyai ilmu yang mukjijat itu. Kini secara aneh ilmu itu dimiliki olehmu, Keng Hong. Entah Sin-jiu Kiam-ong sengaja atau tidak telah menurunkan ilmu itu kepadamu. Melihat betapa kau sendiri tidak sadar akan ilmu itu, agaknya dia pun tidak menurunkannya kepadamu dan sudah terjadi keanehan yang sangat ajaib. Engkau bukan anak murid Kun-lun-pai, maka tidak berhak bagi Kun-lun-pai untuk melenyapkan ilmu itu dari tubuhmu. Pula, melenyapkan ilmu itu dari tubuhmu berarti membahayakan nyawamu dan nyawa dia yang mengusahakannya. Ilmu tetap saja ilmu, baik buruknya atau hitam putihnya tergantung dia yang mempergunakannya. Walau pun Thi-ki-i-beng kelihatannya ganas dan keji, namun kalau engkau dapat menguasainya dan mempergunakan untuk kebaikan, perlu apa dilenyapkan?" setelah berkata demikian, kakek ini lalu merenung dan memejamkan mata, mulutnya berkomat-kamit seperti orang membaca doa.

"Bagaimana, Kiang Totiang...?" sekarang Keng Hong menujukan pertanyaannya kepada penolongnya.

Kiang Tojin tersenyum dan menghela napas. "Tepat seperti yang dikatakan suhu, engkau bukan murid Kun-lun-pai, karena itu kami tidak berhak mencampuri urusan ilmu silatmu. Sekarang, kau pun terpaksa harus meninggalkan pula pedangmu kepada kami."

Keng Hong menarik napas panjang. Tosu-tosu ini terlalu angkuh, pikirnya. Kalau ketuanya tahu akan cara melenyapkan ‘penyakit’ yang berada dalam tubuhnya, kenapa tidak mau menolongnya?

Anak ini memiliki keangkuhan dan tidak sudi merengek-rengek merendahkan diri. Dia lalu mencabut pedang kayu dari pinggangnya dan meletakkannya di depan kaki Kiang Tojin sambil berkata,

"Saya tidak mempunyai niat buruk, kenapa membawa-bawa pedang? Kalau Kun-lun-pai merasa bahwa pedang itu hak mereka, biarlah saya tinggalkan. Selain pedang ini, saya hanya mempunyai pakaian yang saya pakai ini. Apakah ini pun harus ditinggalkan pula?"

Kiang Tojin memandang dengan sinar mata sedih, lalu menggeleng-gelengkan kepala. "Sungguh sayang, Keng Hong. Saat ini hatimu dipenuhi oleh kemarahan dan dendam, engkau masih belum mengerti akan maksud baik kami. Akan tetapi biarlah, kelak engkau akan mengerti sendiri mengapa kami minta kau meninggalkan Siang-bhok-kiam kepada kami."

"Ehh, bocah tolol! Namamu Keng Hong tadi, ya? Kenapa kau begitu tolol menyerahkan Siang-bhok-kiam kepada para tosu bau itu? Jangan berikan! Kau sudah ditipu, mereka itu menginginkan pedang pusaka itu. Ambil lagi dan lekas pergi! Dengan ilmu kepandaianmu yang mukjijat seperti iblis mereka takkan bisa memaksamu!" Teriakan ini adalah teriakan wanita cantik yang diikat pada pohon.

Kiranya totokan Kiang Tojin yang dilakukan dari jarak jauh tadi tidak lama membuatnya gagu. Hal ini saja sudah membuktikan bahwa wanita itu bukanlah orang sembarangan pula, melainkan sudah memiliki ilmu kepandaian yang cukup tinggi.

"Sudah cukup kiranya, Keng Hong. Kami menerima pedang Siang-bhok-kiam dan akan menyimpannya baik-baik. Engkau boleh pergi dengan hati lapang dan ingatlah, engkau tidak boleh datang ke wilayah kami ini tanpa perkenan kami. Apa bila ada keperluan yang memaksamu datang ke wilayah ini, engkau harus datang lebih dahulu ke Kun-lun-pai dan menghadap suhu untuk minta ijin."

Keng Hong mengangguk-angguk. Di dalam hatinya dia menjawab bahwa dia takkan sudi datang ke situ lagi dan tidak akan mengganggu Kun-lun-pai selamanya. Akan tetapi dia melirik ke arah wanita itu dan berkata,

"Maaf, Totiang. Sebelum saya pergi, ada sebuah permintaan saya, harap Totiang sudi mengabulkannya."

"Permintaan apa? Sekiranya patut dan bisa pinto lakukan tentu permintaanmu akan pinto kabulkan."

"Saya mohon kepada Totiang sekalian sudilah kiranya membebaskan wanita itu!"

Terdengar seruan-seruan kaget dari mulut para tosu, dan hanya Kiang Tojin yang tampak tenang, sedangkan Thian Seng Cinjin tidak peduli, masih berdiri seperti orang termenung dengan kedua mata dipejamkan.

"Keng Hong ada hubungan apakah engkau dengan wanita itu maka kau minta supaya dia dibebaskan?"

"Tanpa alasan apa-apa, Totiang, hanya dilandasi perasaan yang sama seperti perasaan mendiang suhu ketika menolong Kun-lun-pai yang diserbu oleh kaum sesat!"

"Apa? Apa maksudmu?" Kiang Tojin memandang heran.

"Totiang, menurut cerita suhu, suhu menolong Kun-lun-pai juga hanya dilandasi perasaan kasihan melihat pihak yang ditindas dan diancam. Suhu tidak mempunyai hubungan apa pun dengan Kun-lun-pai, akan tetapi suhu tetap menolongnya. Saya pun tidak mempunyai hubungan dengan wanita ini, akan tetapi melihat dia terancam bahaya di sini, perasaan saya yang mendorong saya untuk menolongnya."

"Ahh, akan tetapi hal itu jauh sekali bedanya, Keng Hong. Dulu gurumu membantu kami melawan golongan hitam, kaum sesat dan orang jahat. Sebaliknya, kau harus tahu bahwa wanita itu bukan orang baik-baik, bahkan kedatangannya memiliki niat buruk terhadapmu, untuk merampas Siang-bhok-kiam..."

"Bohong! Tosu tua bangka bau! Bohong...!" wanita itu memaki.

Keng Hong menggeleng-geleng kepalanya. "Agaknya Totiang tak dapat mengenal watak suhu. Saya yakin bahwa suhu bukan mendasarkan pertolongannya atas baik dan buruk, karena menurut wejangan suhu, bagi suhu dan saya, baik dan buruk itu tidak ada, yang ada hanyalah pendapat orang yang selalu tidak adil karena menurutkan kepentingan diri pribadi."

"Ehh, apa maksudmu?"

"Pandangan baik dan buruk oleh pendapat manusia adalah miring dan berat sebelah, Totiang, dipengaruhi oleh nafsu pribadi demi kepentingan diri sendiri. Apa bila seseorang melihat orang lain yang menguntungkan dia, juga bersikap menyenangkan hatinya, maka serta-merta dia akan menganggap orang itu baik! Sebaliknya kalau dia melihat orang lain merugikannya, memusuhinya dan tak menyenangkan hatinya, maka tanpa ragu-ragu lagi akan menganggap orang itu jahat! Karena itu, saya seperti suhu tidak percaya dengan pandangan orang tentang baik dan jahat dan saya menolong wanita ini hanya terdorong oleh perasaan ingin menolong, kasihan melihat dia terancam bencana di sini. Bagaimana, Totiang? Permintaan Kun-lun-pai untuk meninggalkan pedang telah saya penuhi, apakah Kun-lun-pai demikian pelit untuk menolak permintaanku yang tidak sama sekali terdorong keinginan menguntungkan diri sendiri ini?" Dengan kalimat terakhir ini terkandung ejekan bahwa Kun-lun-pai minta pedangnya dengan dasar ingin untung sendiri!

Kiang Tojin tercengang. "Pendapat keliru..., wawasan yang menyeleweng..."

Akan tetapi tiba-tiba terdengar suara Thian Seng Cinjin yang halus, "Bocah ini kelak lebih menggegerkan dari pada Sin-jiu Kiam-ong. Bebaskanlah wanita itu dan lekas suruh anak ini pergi, lebih cepat lebih baik!"

Kiang Tojin memberi tanda dan dua orang tosu segera menghampiri wanita itu hendak melepaskan ikatannya. Akan tetapi sekali bergerak, wanita itu ternyata telah meloloskan tangan kakinya dari ikatan tanpa mematahkan ikatan itu. Dia meloncat dan memandang ke arah Keng Hong dengan senyum mengejek.

"Bocah tolol! Cih, tolol dan goblok, dasar anak dusun!" Setelah berkata demikian, wanita itu membanting-banting kaki kanannya lalu berkelebat cepat pergi meninggalkan tempat itu.

Keng Hong tidak peduli. Ia lantas berlutut menghaturkan terima kasih kepada para tokoh Kun-lun-pai, kemudian berdiri dan pergi meninggalkan pegunungan Kun-lun-pai dengan wajah berseri.

Dia setengah memaksa diri untuk bergembira, berjanji di dalam hatinya untuk menempuh hidup dengan cara gurunya, yaitu tetap bergembira, tidak memusingkan masa depan. Dia akan hidup seperti gurunya, yaitu menghadapi bayangan masa depan yang bagaimana pun selalu gembira dan dengan tekad: Bagaimana nanti sajalah.

********************

cerita silat online karya kho ping hoo

"Heii, tolol! berhenti dulu!"

Keng Hong menghentikan langkahnya. Dia telah jauh meninggalkan Kun-lun-san dan kini berada di sebuah hutan yang tidak lagi menjadi daerah Kun-lun-san. Tanpa menoleh dia sudah mengenal suara itu, suara yang nyaring merdu dan galak, suara wanita cantik jelita yang telah dibebaskan oleh para tosu Kun-lun-pai.

"Kau mau apakah?" tanyanya sambil berdiri tegak tanpa menoleh.

"Waduh sombongnya! Orang tolol masih bisa bersikap sombong ya?"

"Aku tidak merasa sombong, walau pun mungkin kau benar bahwa aku tolol," jawabnya sabar sambil tersenyum. Gembira! Harus menghadapi segala sesuatu dengan gembira, betapa pun menyakitkan hati dan pahitnya maki-makian itu.

"Walah-walah, malah senyum-senyum! Kau bicara tanpa melihat aku, bukankah itu sikap sombong, sikap orang berkepala angin, memandang orang lain seperti rumput saja? Jika tidak sombong, lihatlah ke sini. Benci aku melihat orang diajak bicara kok menengok pun tidak!"

Keng Hong tertawa. Betapa pun galaknya, ucapan orang itu dia anggap jenaka dan lucu, juga segar dan menyenangkan hatinya. Ia kemudian membalikkan tubuhnya dan melihat penegurnya itu duduk di atas rumput hijau di bawah sebatang pohon sambil makan paha besar seekor ayam hutan. Daging paha itu masih mengepul panas, juga api unggun untuk membakar daging itu masih menyala.

"Nah, aku sudah memandangmu sekarang. Kau mau bicara apakah?"

"Wah, memang sombong dan angkuh! Apakah karena engkau telah minta tosu-tosu bau itu membebaskan aku lalu engkau boleh bersikap angkuh seperti ini?"

"Ehh..., adik yang baik..."

"Cih! Aku bukan adikmu!"

"Cici yang baik..."

"Siapa sudi menjadi kakak perempuanmu?"

Keng Hong merasa bohwat (kehabisan akal). "Habis, harus kusebut apa?"

"Panggil aku nona!"

"Wah, nona...?"

"Habis, aku masih gadis, kalau tidak disebut nona, masa engkau hendak menyebut aku nyonya besar?" Gadis itu merengut, bibirnya yang merah itu berlepotan minyak gajih dari paha ayam, mukanya coreng moreng terkena hangus, kelihatan makin cantik dan lucu sehingga kembali Keng Hong tertawa.

"Baiklah, Nona. Engkau memaki aku sombong dan angkuh berkali-kali, karena aku tidak mau menengok. Setelah aku menengok, kau masih memaki aku angkuh. Habis aku kau suruh bagaimana supaya tidak kau maki angkuh?"

"Aku mau berbicara denganmu, duduklah di sini dan jangan berdiri pringas-pringis seperti monyet mencium ikan asin!"

Keng Hong mengangkat sepasang alisnya yang hitam tebal. Selamanya baru sekali ini ia bicara dengan gadis, apa lagi gadis yang begini lincah. Ia tertarik sekali, akan tetapi juga merasa canggung. Kemudian teringat dia akan watak suhu-nya, maka dia lalu tersenyum lebar dan melangkah menghampiri gadis itu, lalu menjatuhkan diri duduk di atas rumput di hadapan gadis itu.

Dalam beberapa detik, pandang matanya yang tajam sudah meneliti gadis yang duduk makan paha ayam panggang di hadapannya itu. Wajah yang berkulit halus kemerahan, cantik jelita dengan bentuk wajah bulat telur. Rambut hitam gemuk yang kacau dan tak tersisir, menutup sebagian pipi kirinya karena kepala itu agak dimiringkan ke kanan. Alis yang panjang kecil dan hitam. Sepasang mata yang jeli, lebar dan jernih sekali, dengan kerling yang sangat tajam, mata yang aneh karena dia seperti dapat melihat bayangan gembira, berani, menantang dan merenung di dalamnya.

Hidung kecil mancung di atas sepasang bibir yang dianggapnya merupakan bibir terindah yang pernah dilihatnya. Penuh dan berkulit halus seakan-akan sepasang bibir itu mudah pecah, berwarna kemerahan dan basah berminyak. Dagunya kecil agak meruncing, jelas menambah kemanisan.

Pakaiannya terbuat dari sutera halus dan mewah, tapi potongannya amat ketat sehingga membayangkan dada yang penuh menonjol, pinggang kecil dan pinggul yang lebar. Kulit yang mengintai dari balik leher baju, dari lengan, tampak halus dan putih sekali.

Beginikah wanita cantik yang suka disebut-sebut suhu-nya dan diumpamakan setangkai bunga yang harum? Dia kini dapat merasakan persamaannya. Memang laksana bunga sehingga membuat hati ini kepingin menyentuh, kepingin mencium, kepingin memandang dan menikmati keindahannya.

"Mungkin aku seperti monyet, akan tetapi saat ini sama sekali aku tak mencium bau ikan asin, melainkan mencium bau sedap gurih daging panggang!"

"Kau kepingin?" Gadis itu menghentikan gigitannya. Mulutnya yang penuh dengan daging itu mengunyah perlahan, matanya mengerling Keng Hong.

Pemuda remaja ini memandang mulut yang sedang mengunyah itu. Tanpa terasa lagi dia menelan ludah dan perutnya mendadak berkeruyuk. Dia lalu mengangguk sambil kembali menelan ludah.

"Kalau kepingin, ambillah. Kau tunggu apa lagi? Jangan malu-malu kucing, kalau kepingin mengapa tidak ambil dan makan sejak tadi?"

"Ahh, tapi daging itu punyamu..."

"Siapa bilang punyaku? Ayam itu berkeliaran di hutan, entah punya siapa!"

"Tapi kau yang menangkap dan memanggangnya..."

"Sudahlah, cerewet benar sih engkau ini! Ambil saja dan ganyang, habis perkara. Bicara saja mana bisa kenyang?"

Meski ditegur, Keng Hong menjadi geli dan tertawa. Gadis ini benar-benar menimbulkan rasa gembira di hatinya. Cocok benar dengan watak suhu-nya. Bagaimana jika suhu-nya yang bertemu dengan gadis seperti ini?

Dia segera menyambar daging ayam panggang, merobek bagian dada lalu mulai makan daging itu. Benar lezat sekali, gurih dan manis, lagi hangat dan perutnya memang amat lapar.

Setelah habis semua makanan, gadis itu lalu mengeluarkan seguci air dingin dan minum dengan cara menggelogoknya dari mulut guci. Air minum memasuki mulut yang kecil itu, ada yang tumpah membasahi pipi dan tercecer memasuki celah-celah bajunya di leher. Setelah itu, dia menurunkan guci dan menyerahkannya kepada Keng Hong.

Pemuda yang mulai mengenal watak polos dan terbuka gadis itu, menerima guci, akan tetapi dia merasa ragu-ragu juga untuk menggelogok air itu begitu saja. Bibir guci itu masih berlepotan minyak gajih, tentu ketika bibir guci tadi bertemu dengan bibir si gadis.

"Mana cawannya? Kupinjam sebentar untuk minum!"

"Tidak punya cawan!"

"Habis bagaimana minumnya?"

"Tuang saja, seperti aku "

"Tapi... tapi... bekasmu..."

Gadis itu meloncat bangun, lalu bertolak pinggang dan membungkuk memandang Keng Hong dengan mata terbelalak.

"Kau... kau menghina aku, ya? Tolol kurang ajar!"

Keng Hong juga membelalakkan matanya, bukan karena marah melainkan karena heran. Ia betul-betul merasa tolol berhadapan dengan nona ini. "Menghina...? Aku... aku tidak... ehh, apa sih maksudmu?"

"Kau jijik ya minum secara menggelogok seperti aku? Kau tidak sudi ya karena bibir guci itu berbekas mulutku? Kau kira aku ini penderita sakit paru-paru atau batuk kering? Kau jijik?"

"Wah-wah-wah, harap jangan salah paham dan mengamuk tidak karuan. Bukan... bukan begitu, hanya... aku tadi khawatir kau tidak suka..."

"Tidak suka apanya? Kau benar-benar laki-laki cerewet. Sudah tolol, cerewet lagi! Sialan bertemu laki-laki sepertimu!"

Keng Hong tidak mempedulikannya lagi. Celaka, pikirnya. Kalau wanita ini dilayani, bisa habis dia dimaki-maki. Ia lalu tidak mau mendengarkan lebih jauh melainkan menuang air ke dalam mulutnya, tidak peduli bibirnya bertemu dengan bekas bibir wanita itu. Air yang jernih dan sejuk.

"Terima Kasih," katanya sambil mengembalikan guci air.

"Kenapa sedikit amat minumnya? Apakah kau takut kalau minuman ini kucampuri racun?" Sambil berkata demikian, gadis itu kembali minum dengan cara menempelkan bibirnya pada bibir guci tanpa memilih-milih lagi.

Heran sekali hati Keng Hong, mengapa menyaksikan bibir wanita itu menjepit bibir guci yang tadi diminumnya, hatinya berdebar dan mukanya terasa panas. Namun dia merasa mendongkol juga mendengar ucapan itu. Betul-betul wanita yang wataknya mau menang sendiri saja. Masa apa yang dia kerjakan selalu disalahkan? Tidak mau minum salah, sekarang sudah minum masih di sangka yang bukan-bukan. Ia menjadi gemas dan andai kata wanita ini adik perempuannya, tentu sudah dia jewer telinganya!

"Aku tidak takut kau beri racun," jawabnya jengkel, dan dia lalu membuang muka sambil melanjutkan, "Sebetulnya, kau menghentikan perjalananku ada urusan apakah?"

Sampai lama gadis itu tak berkata-kata, melainkan memandang wajah Keng Hong penuh perhatian. Pemuda itu tahu akan hal ini sebab dia mengerling dari sudut matanya. Melihat gadis itu terus memperhatikannya, kembali dia mengalihkan pandang matanya.

Kemudian terdengar gadis itu bertanya, "Namamu siapa tadi? Dan berapa usiamu?"

"Cia Keng Hong... Kalau tidak salah usiaku tujuh belas tahun."

"Hemmm..., dan engkau murid Sin-jiu Kiam-ong? Heran benar aku..."

"Mengapa heran?"

"Seorang tokoh sakti seperti Sin-jiu Kiam-ong mengapa mempunyai seorang murid tolol seperti engkau?"

Makin panas rasa perut Keng Hong. Terlalu benar perempuan ini, pikirnya. "Kalau sudah tahu aku tolol, kenapa engkau menghentikan aku?"

Sampai lama wanita itu tidak berkata-kata, kemudian terdengar dia tertawa merdu, tawa cekikikan. "Ehh, kau marah?"

Hemmm, benar-benar tukang menggelitik hati orang, pikir Keng Hong. Gemas dia. Kalau tidak ingat bahwa dia itu seorang wanita tentu sudah ditamparnya. Dia tidak menjawab, hanya menggelengkan kepalanya.

"Ahh, kau marah. Bilang saja kau marah. Ingin aku melihat bagaimana kalau kau marah!"

Digoda terus-menerus, Keng Hong menjadi merah mukanya dan dia memandang dengan niat untuk balas memaki. Akan tetapi melihat mata yang bening dan indah itu, mulut yang manis tersenyum, dia menjadi tidak tega untuk memaki, maka dia menundukkan muka lagi.

"Kau memang tolol. Jika kau tidak tolol, tentu tidak kau berikan Siang-bhok-kiam kepada tosu-tosu bau itu."

"Itu adalah hak mereka dan aku tak mau membantah permintaan mereka. Mereka adalah tosu-tosu yang bijaksana dan baik, permintaan mereka patut dipatuhi. Pula, tak mungkin menggunakan kekerasan menentang. Mereka amat lihai, terutama sekali Kiang Tojin dan ketua Kun-lun-pai."

"Kau penakut dan bodoh! Heran aku mengapa Sin-jiu Kiam-ong mempunyai murid seperti engkau! Padahal menurut pendengaranku Sin-jiu Kiam-ong gagah perkasa, tak mengenal takut terhadap siapa pun juga dan amat cerdik."

Keng Hong menarik napas panjang. Gurunya memang seorang yang selalu gembira dan tidak pernah mengenal takut. "Terserah wawasanmu. Aku tidak takut terhadap siapa pun juga, dan tentang kebodohan... hemm, tentu saja aku tidak secerdik suhu."

Sunyi yang agak lama. Keng Hong menunduk sebab teringat akan suhu-nya dan mulailah hilang kegembiraannya. Pada hari-hari pertama semenjak dia sendirian di dunia ini, telah terjadi hal-hal yang tidak menyenangkan hatinya. Apa bila begini terus nasibnya, bertemu seorang wanita saja selalu mengejek dan memakinya, mana mungkin dia dapat meniru watak suhu-nya yang menghadapi segala sesuatu dengan gembira. Betapa mungkin bisa bergembira rasa hati ini kalau seorang wanita cantik jelita mencemoohkan dan memaki-makinya?

"Keng Hong..."

Pemuda itu terkejut. Benarkah wanita itu memanggilnya? Suaranya begitu halus dan dia terkejut juga dipanggil secara tiba-tiba setelah lama berdiam diri.

"Hemm...?" Ia menengok dan makin gugup melihat betapa kedua mata itu memandang dirinya tajam-tajam dan mulut itu tersenyum manis akan tetapi hanya sebentar saja sebab bibir yang merah itu segera cemberut lagi. "Kau memanggilku?"

"Kau laki-laki canggung benar..."

"Sudahlah, Nona. Kalau engkau menghentikan aku hanya untuk mencela, untuk apa..."

"Engkau marah?"

"Tidak"

"Engkau memang canggung, tidak seperti gurumu yang khabarnya... ahhh, apakah kau tidak ingin tahu siapa aku, siapa namaku dan mengapa aku datang ke Kun-lun-pai?"

Baru sekarang Keng Hong teringat dan dia merasa bahwa dia memang kurang perhatian, "Siapakah nama Nona?"

Gadis itu menahan kekehnya. Sikap Keng Hong benar-benar amat canggung dan gugup sehingga kelihatan lucu. "Namaku Bhe Cui Im. Bagus tidak namaku?"

"Bagus... bagus...," jawab Keng Hong cepat-cepat dengan pandang mata mendesak agar nona itu terus bercerita.

"Hi-hi-hik, kau ternyata pandai juga memuji..."

"Ehh..., aku... ahhh, teruskanlah, Nona."

"Aku mendengar tentang keramaian yang khabarnya akan terjadi di puncak Kun-lun-san yang disebut Kiam-kok-san, bahwa kabarnya tokoh-tokoh besar hitam dan putih hendak menjemput turunnya murid Sin-jiu Kiam-ong yang mewarisi Siang-bhok-kiam yang sangat diinginkan oleh seluruh tokoh kang-ouw."

"Termasuk engkau sendiri, nona."

"Tentu saja! Apa kau kira aku ini anak kecil yang suka menonton keramaian begitu saja? Dan aku malah berhasil sekali, lebih berhasil dari pada mereka yang memakai kekerasan. Mereka itu semua terusir oleh tosu-tosu bau Kun-lun-pai, belasan orang gagah di dunia kang-ouw, sama sekali tak berhasil, melihatnya pun tidak! Aku sengaja membiarkan diriku tertangkap oleh tosu-tosu bau itu. Memang harus diakui bahwa kalau aku melawan, tidak akan mampu mengalahkan tosu-tosu yang demikian banyak, apa lagi tosu she Kiang dan gurunya itu amat lihai. aku sengaja menjadi tawanan dan akalku berhasil memancing kau datang karena jeritan-jeritanku. akan tetapi siapa kira, karena ketololanmu kau serahkan pedang itu begitu saja!"

Mulai lagi maki-makian! Sekarang mengertilah Keng Hong mengapa gadis ini telah dapat meloloskan diri dari ikatan kaki tangannya sebelum dilepaskan. Kiranya gadis itu memang sengaja membiarkan dirinya ditawan. Benar-benar seorang gadis yang cerdik sekali, dan juga penuh keberanian.

"Untuk apakah engkau menginginkan pedang Siang-bhok-kiam, nona?"

"Eh-ehh-ehh, masih bertanya untuk apa lagi? Tentu saja untuk mendapatkan rahasianya. Keng Hong, katakanlah terus terang, apakah engkau sudah mendapatkan pula rahasia penyimpanan kitab-kitab pusaka yang terdapat di pedang itu?"

Pandang mata itu penuh gairah, agaknya gadis ini bernafsu sekali untuk mendapatkan kitab-kitab pusaka simpanan Sin-jiu Kiam-ong.

Keng Hong menggelengkan kepalanya. "Belum dan agaknya tak akan dapat kutemukan. Aku pun selamanya tidak ingin kembali ke Kun-lun-san. Nona, mengapakah mereka itu semua memperebutkan rahasia itu? Sampai mati-matian dan saling bermusuhan?"

Gadis itu menggerakkan alisnya dan memandang pemuda ini dengan terheran. "Engkau benar-benar masih hijau! Sudahlah, yang penting sekali ini ceritakan kepadaku ilmu apa saja yang kau pelajari dari Sin-jiu Kiam-ong? Tadi kulihat engkau menggunakan ilmu yang mukjijat, kau pandai menyedot sinkang orang lain, bahkan Kiang Tojin yang begitu lihai hampir mampus di tanganmu. Ilmu apakah itu? Sukakah kau menceritakannya padaku?" Tiba-tiba saja sikap gadis ini manis sekali. Wajahnya berseri, matanya bersinar-sinar dan bibirnya tersenyum.

Keng Hong hanya dapat menggelengkan kepalanya saja, kemudian melihat wajah cantik itu menjadi murung dia pun cepat berkata, "Sungguh mati, aku sendiri tidak mengerti. Aku sendiri membenci penyakit yang ada pada tubuhku ini. Aku tidak mempelajari apa-apa kecuali dasar-dasar ilmu silat serta beberapa pukulan dan permainan pedang. Apa bila dibandingkan dengan orang lain, tentu tidak ada artinya."

"Hemm, engkau pandai merendahkan diri dan bersikap sungkan, alangkah jauh bedanya dengan gambaran mengenai gurumu!" Akan tetapi kegalakan ini segera berubah lagi, kini gadis itu tersenyum manis, dan membuka tutup guci hendak diminumnya. Akan tetapi dia mengerutkan kening dan berkata seorang diri, "Ahh, air ini kurang sedap!"

Dia lalu mengeluarkan sebuah bungkusan dari saku bajunya dan ketika dibuka, ternyata berisi daun-daun dan kembang-kembang kering. Dia menuangkan sebungkus daun dan kembang kering ini ke dalam guci airnya, lantas dikocoknya guci itu sambil memandang kepada Keng Hong. Ditatap sepasang mata seperti itu, Keng Hong menjadi tak enak hati kalau berdiam diri saja maka dia bertanya,

"Apakah yang kau masukkan dalam air minum itu?"

"Daun wangi dan kembang harum, pengganti teh yang sangat lezat dan sedap!" jawab gadis itu sambil menggelogok air dari guci seperti tadi. Segera tercium bau yang harum keluar dari mulut guci. Selesai minum gadis itu lalu menyerahkan gucinya kepada Keng Hong sambil berkata, "Kau minumlah."

Keng Hong menggelengkan kepala. "Aku tidak haus."

"Ehh, walau pun tidak haus, air ini sekarang sudah menjadi minuman enak. Coba cium, tidak harumkah?"

Gadis itu mendekatkan mukanya kemudian membuka mulutnya, menghembuskan napas ke arah muka Keng Hong. Pemuda itu terkejut sehingga mukanya terasa panas sekali, jantungnya berdebar tegang. Ia merasa canggung dan juga jengah.

"Apakah kau takut kalau air ini kucampuri racun?"

Untuk mencegah gadis itu melakukan hal-hal aneh yang lebih hebat lagi, tanpa banyak cakap Keng Hong segera menerima guci air dan menggelogoknya. Memang harum dan terasa agak manis, akan tetapi mulut dan lidahnya yang terlatih mendadak merasakan sesuatu yang tidak asing baginya. Racun! Racun yang amat kuat dan jahat!

Tetapi dia cepat-cepat dapat menekan perasaannya, tidak memperlihatkan sesuatu pada mukanya, bahkan lalu terus menuangkan air beracun itu hinggahabis berpindah ke dalam perutnya! Gadis itu memandangnya dengan sepasang mata bersinar-sinar pada saat dia menurunkan guci kosong dan berkata, "Lezat sekali!"

Sambil tersenyum-senyum gadis itu kini mengambil sesuatu dan karena yang diambilnya itu agaknya berada di saku dalam dari bajunya, ia lalu membuka dua kancing baju bagian atas. Cara ia membuka kancing secara terang-terangan begitu saja di depan Keng Hong, dengan gaya memikat dan manis sekali.


Tag: Cerita Silat Online, Cersil, Kho Ping Hoo, Pedang Kayu Harum

Thanks for reading Pedang Kayu Harum Jilid 03.

Back To Top