Cersil Online Karya Kho Ping Hoo

Pedang Kayu Harum Jilid 09

Pedang Kayu Harum

Jilid 09

Karya Kho Ping Hoo

KENG HONG sebenarnya adalah seorang pemuda yang baru berusia delapan belas tahun, masih hijau dan belum ada pengalaman sama sekali mengenai pergaulan dengan wanita. Akan tetapi, sebagai murid Sin-jiu Kiam-ong Sie Cun Hong, seorang ‘jagoan’ besar, bukan hanya tentang ilmu silat akan tetapi juga mengenai ilmu menjatuhkan hati wanita, sedikit banyak Keng Hong ketularan penyakit itu.

Sering kali suhu-nya bercerita tentang petualangan-petualangan cintanya di masa muda, bahkan memberinya nasehat-nasehat tentang wanita, mengajarkan ‘teknik-teknik’ merayu wanita, sehingga biar pun pada dasarnya Keng Hong tidak berbakat menjadi seorang pria mata keranjang dan hidung belang, akan tetapi watak suhu-nya menular dan dia menjadi seorang pemuda yang lebih berani menghadapi wanita dari pada pemuda-pemuda lain yang sebaya dengannya.

Apa lagi sesudah dia berjumpa dengan Ang-kiam Tok-sian-li Bhi Cui Im dan remajanya gugur oleh wanita cabul yang cantik itu, pengalaman hebat ini menambah keberaniannya menghadapi Ciang Bi. Hanya ada satu hal yang menguntungkan bagi batin Keng Hong, yaitu bahwa dia amat taat kepada pesan-pesan suhu-nya sehingga betapa pun terpupuk dan bangkit selera serta nafsunya untuk berdekatan dan bermain cinta dengan wanita, tetapi seperti suhu-nya, memaksa dan memperkosa wanita merupakan pantangan mutlak baginya.

Kalau ada wanita suka kepadanya, dia akan melayaninya. Akan tetapi betapa pun cantik seorang wanita dan betapa pun tertarik hatinya, kalau wanita itu tidak suka kepadanya, dia tidak akan menyentuh seujung rambutnya. Ketaatan ini menguntungkan Keng Hong sendiri dan para wanita, karena andai kata tidak, tentu dia akan tersesat menjadi seorang jai-hwa-cat (penjahat pemetik bunga) atau tukang pemerkosa wanita yang berbahaya sekali!

Mendengar jawaban gadis itu, Keng Hong tertawa, merangkul lehernya dan menundukkan muka. Mereka berciuman dan biar pun keduanya belum berpengalaman dalam bermain cinta, namun karena didorong hati yang mencinta, mereka berciuman mesra.

"Hong-ko..." Ciang Bi merintih, tubuhnya menggetar, semua bulu di tubuhnya meremang pada waktu kedua lengannya merayap seperti ular melingkari leher pemuda perkasa yang menjatuhkan hatinya itu.

"Bi-moi... engkau jelita sekali..." Keng Hong juga berbisik di dekat telinga gadis itu dan kembali mereka berdekapan dan berciuman mesra.

Cinta adalah perasaan yang dimiliki oleh setiap makhluk di dunia, setiap makhluk yang hidup wajar sesuai dengan kodrat dan kekuasaan alam. Cinta bukan merupakan sesuatu yang kotor dan bukan merupakan hal yang tak patut dibicarakan. Sebaliknya dari pada itu!

Cinta antara pria dan wanita adalah hal yang amat wajar, merupakan anugrah dari Tuhan, merupakan dorongan alamiah yang tak dapat dibantah, bahkan tak dapat dihindarkan dan tak dapat dibuang karena cinta ini pula yang membuat manusia masih berlangsung ada di dunia ini, berkembang biak dan menciptakan generasi demi generasi. Karenanya, cinta adalah bersih dan murni, tidak kotor dan bukanlah sesuatu yang tidak patut dibicarakan, bahkan seharusnya dibicarakan agar tidak disalah gunakan.

Biar pun cinta antara lawan kelamin merupakan kodrat dan dimiliki oleh setiap makhluk, dari yang terkecil sampai yang terbesar, namun karena manusia adalah makhluk yang berakhlak dan berakal budi, maka tidaklah dapat disamakan dengan makhluk lain yang dalam hal cinta kasih semata-mata menurut dorongan kodrat belaka. Cinta antara pria dan wanita diciptakan oleh kodrat dan pembawaan yang sudah ada pada setiap makhluk, yaitu daya tarik yang ada di antara lawan kelamin.

Tanpa diberi tahu, tanpa membaca buku, jika masanya sudah tiba sesuai dengan usianya, seorang pemuda akan tertarik melihat seorang pemudi, dan sebaliknya. Rasa tertarik ini menimbulkan suka yang disebut cinta, kasih atau asmara. Tidak berhenti sampai di situ saja. Cinta antara pria dan wanita yang normal diikuti oleh bangkitnya nafsu birahi yang wajar, diikuti pula oleh hubungan kelamin yang juga sudah wajar.

Segala macam makhluk di dunia ini, kecuali manusia, akan melakukan hal ini, yaitu saling tertarik dan saling mendekati, menurut nafsu birahi melakukan hubungan kelamin. Adakah seorang pun dapat mengatakan bahwa perkembangan dan perbuatan itu kotor dan tidak patut? Sama sekali tidak!

Akan tetapi, sekali lagi ditekankan bahwa manusia bukanlah sembarang makhluk! Tanpa berunding lebih dulu, manusia seluruh dunia ini sudah membangun dan mendirikan mercu suar di antara segala makhluk yang disebut peradaban dan melahirkan peri kemanusiaan! Peri kemanusiaan inilah yang melahirkan hukum-hukum yang dibuat oleh manusia sendiri, disesuaikan dengan rasa, dengan kebiasaan, dan dengan kepercayaan golongan masing-masing.

Lalu lahir pula hukum-hukum susila yang melarang pria dan wanita melakukan hubungan kelamin di luar pengesahan hukum. Terciptalah istilah-istilah dan sebutan bagi perbuatan-perbuatan yang melanggar garis yang ditentukan ini, misalnya perjinahan, perkosaan dan lain-lain. Cintanya itu sendiri, nafsu birahinya itu sendiri, dan hubungan kelamin itu sendiri tetap bersih dan murni, bukanlah hal yang tidak patut. Hanya perbuatan melanggar garis hukum itulah yang tidak patut, karena sudah tahu ada garis tetap dilanggar sehingga tentu saja menimbulkan pertentangan-pertentangan
.

Keng Hong adalah seorang pemuda yang kurang pengalaman. Dia bertumbuh menjadi dewasa dalam asuhan seorang aneh seperti Sin-jiu Kiam-ong yang menjadi gurunya. Dan sejak dia masih muda, Sin-jiu Kiam-ong sudah meninggalkan dan tak lagi mengindahkan gari-garis hukum buatan manusia ini. Dia melakukan apa saja yang dia anggap benar, biar pun itu melanggar hukum manusia dan sebaliknya dia tidak akan melakukan hal yang dianggapnya tidak benar, biar pun hal itu dibenarkan hukum.

Maka timbulah perbuatan-perbuatannya yang menggemparkan sebab tidak cocok dengan hukum manusia lain, permainan cinta dengan banyak wanita yang merasa tertarik dengan ketampanan dan kegagahannya, juga pencurian-pencurian dan perampasan-perampasan benda-benda pusaka, atau pertolongan-pertolongan tanpa melihat bulu, dan pertentangan-pertentangan lain yang mengakibatkan dia dimusuhi orang-orang gagah sedunia!

Watak aneh Sin-jiu Kiam-ong yang pada hakekatnya seorang pendekar yang sakti dan berjiwa besar itu hanyalah akibat. Akibat dari kepatahan hati. Di waktu masih muda, baru berusia dua puluh dua tahun dan baru saja menikah dua tahun dengan seorang wanita yang cantik jelita, masih belum mempunyai keturunan, pada suatu malam pendekar muda yang sakti ini, yang baru pulang dari perantauan selama sebulan, menemukan isterinya yang tercinta itu sedang melakukan hubungan kelamin dengan seorang pria lain, sahabat baiknya sendiri!

Tadinya Sin-jiu Kiam-ong Sie Cun Hong amat marah dan hampir saja dia meloncat masuk dan serta-merta membunuh isterinya dan sahabatnya itu, yang dalam keadaan seperti itu tidak tahu bahwa perbuatan mereka ditonton oleh Sie Cun Hong yang mengintai di luar jendela kamar. Akan tetapi tiba-tiba pikiran yang aneh menyelinap dalam benaknya.

Kekecewaan dan pukulan batin yang amat hebat agaknya telah membuat jalan pikiran Sie Cun Hong menjadi tidak normal, tidak lumrah seperti manusia biasanya, bahkan menjadi berlawanan dengan pendapat umum! Pada saat itu timbul pendapat dalam hatinya bahwa dia tidak perlu marah karena kalau isterinya sampai mau melakukan hubungan kelamin dengan pria lain, tentu ini didasari hati suka kepada si pria itu. Kenapa dia akan melarang orang yang mencinta? Kedua orang itu, biar pun isterinya dan sahabatnya namun tetap orang, saling mencinta dan menumpahkan rasa cinta mereka dalam hubungan kelamin. Mengapa dia harus marah dan membunuh mereka?

Sie Cun Hong tertawa, suara ketawanya meninggi dan melengking sehingga mengejutkan isterinya dan sahabatnya yang baru saja mengakhiri perbuatan mereka. Isterinya terkejut setengah mati, begitu pula sahabatnya, sehingga kedua orang ini dengan tubuh menggigil menjatuhkan diri berlutut di atas lantai sambil memejamkan mata, siap menanti datangnya maut sebab mereka kenal suara ketawa di luar jendela itu. Bila pendekar itu turun tangan, mereka berdua tak akan dapat tertolong lagi. Akan tetapi Sie Cun Hong tidak pernah lagi memasuki kamarnya itu, bahkan tidak pernah lagi berjumpa dengan bekas isterinya dan bekas sahabatnya itu.

Peristiwa itulah yang menjadi sebab munculnya seorang pendekar aneh yang kemudian menggegerkan dunia persilatan. Sie Cun Hong melakukan banyak hal yang bagi manusia biasa dianggap jahat dan keji, tidak lumrah dan dia dikutuk oleh banyak tokoh kang-ouw. Bermain cinta dengan wanita mana pun juga, bahkan wanita-wanita yang sudah menjadi isteri orang lain, kalau dasarnya suka sama suka, dia tidak segan melakukannya. Banyak sekali wanita yang tergila-gila kepadanya karena memang pada waktu mudanya Sie Cun Hong merupakan seorang pria yang gagah perkasa dan tampan.

Sekarang Sie Cun Hong sudah tidak ada lagi, akan tetapi dia sudah mewariskan seluruh miliknya kepada murid tunggalnya, yaitu Cia Keng Hong. Seluruh sinkang-nya dia berikan, seluruh pusakanya dia tinggalkan untuk muridnya, bahkan sebagian wataknya juga dia wariskan sehingga kini, dalam usia delapan belas tahun, Keng Hong telah melayani nafsu birahi Ang-kiam Tok-sian-li Bhe Cui Im, dan sekarang, untuk kedua kalinya dia bermain cinta dengan seorang gadis Hoa-san-pai yang mengaguminya dan jatuh hati kepadanya.

Apa bila gurunya tidak peduli akan hukum susila karena pernah patah hati menyaksikan isterinya berjinah dengan sahabatnya, adalah Keng Hong melakukan hal itu semata-mata karena dia menganggap hal itu benar dan wajar saja, sesuai dengan nasehat-nasehat dari mendiang gurunya! Dia tidak memperkosa, dia juga tidak memaksa, dia dan Ciang Bi sama-sama mau, cocok sudah dengan pesan suhu-nya, maka tentu saja hal itu sudah benar dan baik!

Sim Ciang Bi, gadis remaja yang dikuasai nafsu birahinya sendiri, sudah seperti mabuk dan buta bahwa dia telah melakukan pelanggaran garis hukum. Lupa bahwa garis hukum susila itu diadakan oleh manusia semata-mata agar dapat melindungi dan membela nasib hidup dan kebahagiaan wanita. Lupa bahwa hubungan kelamin di luar pernikahan, maka si wanitalah yang akan menanggung akibat-akibat pahit getir, bahkan yang akan dapat menyeretnya ke lembah kesengsaraan, mungkin ke lembah kehinaan.

Manusia tidak dapat membebaskan dirinya dari pada hukum-hukum manusia yang sudah tersusun dan bertumpuk ribuan tahun lamanya. Apa lagi, dalam hubungan kelamin, alam sendiri sudah menjatuhkan kodrat bahwa si wanitalah yang akan menanggung akibatnya, yaitu kehamilan.

Setiap gadis yang bijaksana, yang sadar betapa satu kali saja salah langkah melanggar garis hukum kesusilaan ini maka bisa mengakibatkan mala petaka sepanjang hidup, akan selalu pandai mengekang nafsu, pandai menjaga diri tidak terseret oleh gelombang yang memabukkan, tentu akan menjaga kesusilaan dan kehormatannya yang dia junjung lebih tinggi dan berharga dari pada nyawa! Kehilangan nyawa hanya berarti mati. Akan tetapi kehilangan kehormatan sebagai gadis ternoda, berarti akan hidup terhina oleh manusia-manusia lain yang sudah melekatkan batinnya pada hukum
.

Dua orang yang tenggelam dalam lautan kasih asmara itu tidak sadar bahwa Sim Lai Sek menjulurkan kepalanya keluar dari gubuk. Di tengah malam itu, pemuda remaja ini sudah terbangun dari tidurnya dan menggerakkan tubuh, lantas menjenguk keluar gubuk. Dapat dibayangkan alangkah terkejut hatinya pada saat dia menyaksikan keadaan cici-nya dan penolong mereka itu di atas rumput, di dekat api ungun.

Sejenak dia terbelalak, mukanya berubah merah, akan tetapi dia lalu menarik diri lagi dan rebah di dalam gubuk, napasnya sedikit terengah dan diam-diam dia menangis, berdoa semoga cici-nya yang telah tersesat itu akan menjadi isteri yang sah dari Cia Keng Hong. Mengingat ini lenyaplah kemarahan dan kedukaan hatinya, terganti rasa girang karena dia memang suka sekali dan amat kagum pada penolongnya yang demikian gagah perkasa. Kalau dia dapat mempunyai Cihu (kakak ipar) seperti itu, betapa senangnya dan dia akan memperdalam ilmu silatnya, belajar dari cihu-nya. Kelegaan hati inilah yang membuat Lai Sek tertidur kembali, lupa akan perutnya yang lapar.

Lewat tengah malam, Keng Hong tertidur nyenyak, sedangkan Ciang Bi pulas pula di atas dadanya. Mereka tidur berdekapan, pipi Ciang Bi terletak di atas dada Keng Hong, rambut gadis itu terurai lepas menutupi dada, leher dan sebagian muka Keng Hong. Mereka tidur dengan nikmat, karena badan lelah hati pun bahagia.

Mereka tidak sadar dan tidak tahu bahwa tak jauh dari tempat itu tampak sepasang mata yang bening dan jeli memandang ke arah mereka dengan sinar berkilat-kilat. Mulut yang manis dengan bibir merah itu bergerak-gerak, tampak giginya berderet rapi putih laksana mutiara. Kemudian, tangan yang halus itu merogoh kantong di dalam baju, mengambil sesuatu, tangan digerakkan dan sinar putih meluncur ke arah Ciang Bi yang masih tidur pulas berbantal dada Keng Hong.

Jerit melengking yang keluar dari mulut Ciang Bi adalah jerit kematian, ada pun bayangan putih itu berkelebat cepat sekali, lenyap ditelan kegelapan malam. Keng Hong tersentak bangun, secara otomatis lengannya memeluk leher Ciang Bi. Dapat dibayangkan betapa kagetnya ketika tangannya menjadi basah oleh darah yang mengucur keluar dari pelipis itu!

Di bawah cahaya api unggun yang masih menyala sedikit, dia memandang dan merasa kerongkongannya tercekik ketika dia melihat sebuah benda bulat berduri menancap pada pelipis gadis itu. Senjata rahasia Biauw Eng yang tadi sudah menolongnya merobohkan pengeroyokan para penjahat. Sekarang sebuah di antara senjata rahasia itu menancap di pelipis kiri Ciang Bi, merenggut nyawa dari tubuh yang masih hangat itu.

"Biauw Eng...!" Seruan Keng Hong ini seperti jerit tangis.

Setelah dia merebahkan tubuh yang masih hangat dan tak bernyawa lagi itu di atas tanah bertilam rumput yang juga hangat dan rebah semua karena tindihan tubuh mereka berdua semalam, dia meloncat dan mencari-cari dengan pandang matanya. Namun keadaan di sekeliling tempat itu sunyi dan agak gelap.

Dia maklum bahwa akan percuma saja dia mencari Biauw Eng. Maka dia lalu berlutut lagi dan memeluk tubuh gadis yang semalam sudah menyerahkan segala-galanya kepadanya dengan penuh kasih sayang, penuh kemesraan dan kehangatan.

"Ciang Bi... ahh, Bi-moi...!" Keng Hong teringat akan sikap gadis ini semalam dan dengan hati penuh keharuan dia menundukkan muka, kemudian mencium mulut mayat itu yang semalam membisikan kata-kata cinta kepadanya.

"Cici...! Cia-taihiap, ada apakah...?"

Sim Lai Sek melompat keluar dari gubuk. Sepasang matanya yang masih mengantuk itu belum dapat melihat jelas, hanya dia tadi terbangun mendengar jerit cici-nya.

Keng Hong mengangkat mukanya dan dua titik air mata menetes turun. Kini Lai Sek dapat melihat pelipis cici-nya dan melihat pula darah membasahi leher dan baju, melihat bahwa tubuh cici-nya telah lemas tak bernyawa.

"Cici...!!" Ia menubruk, berlutut dan menangis, memanggil-manggil nama cici-nya.

Keng Hong hanya memandang dengan penuh keharuan, lalu memegang pundak pemuda itu sambil berkata halus, "Dia... sudah mati..."

Tiba-tiba Lai Sek meloncat bangun. Tangan Keng Hong yang menyentuh pundaknya itu terasa olehnya seperti serangan seekor ular berbisa.

"Kau...! Kau... telah membunuh cici...! Kau... telah berpura-pura menjadi pendekar berbudi yang menolong kami, merayu cici, memperkosanya... kemudian membunuhnya...!"

Sim Lai Sek menerjang maju dengan pukulan tangannya ke arah kepala Keng Hong, akan tetapi sekali tangkis, tubuhnya terpelanting ke atas tanah. Akan tetapi dia bangkit kembali dengan kemarahan meluap.

"Sabar dan tenanglah, siauwte, bukan aku yang membunuhnya. Lihat, pelipisnya terluka oleh senjata rahasia..."

"Aku tahu! Senjata rahasia ini adalah senjata rahasia wanita yang menolongmu. Dia tentu sahabatmu, atau... kekasihmu! Tentu dia melihat engkau merayu dan memperkosa cici, lalu ia membunuh cici. Sama saja, berarti engkau yang telah membunuh cici-ku, keparat!"

Lai Sek menerjang kembali sehingga Keng Hong terpaksa meloncat pergi. Dia tidak dapat membantah lagi karena omongan atau tuduhan itu mendekati kenyataan. Hanya dia tidak merasa memperkosa Ciang Bi dan baru sekarang dia tahu bahwa pemuda remaja ini agaknya malam tadi telah melihat dia bermain cinta dengan Ciang Bi!

Memang dugaan itu tidak salah. Sekarang dia sendiri merasa yakin bahwa Biauw Eng membunuh Ciang Bi karena cemburu. Bukankah puteri Lam-hai Sin-ni itu terang-terangan menyatakan bahwa gadis itu mencintainya? Agaknya Biauw Eng terus mengikutinya, lalu membantunya merobohkan para pengeroyok dan tadi melihat dia bermain cinta dengan Ciang Bi, lalu datang pada saat dia pulas dan membunuh Ciang Bi. Memang bukan dia yang membunuh, namun sudah jelas gadis ini tewas karena dia!

"Siauwte, aku menyesal sekali... tetapi demi Tuhan, aku tidak bermaksud mencelakakan dia. Bukan aku yang membunuhnya dan... sekiranya aku tidak sedang tidur pulas, tentu aku dapat melindunginya... akan tetapi..."

"Laki-laki laknat! Jai-hwa-cat! Setelah engkau memperkosa cici, engkau bisa saja bicara seenakmu! Engkau sudah mempunyai kekasih yang bersenjata bola putih itu! Akan tetapi engkau masih merayu enci-ku! Hayo katakan, apakah engkau berniat mengawini enci-ku? Apakah engkau berniat mengambil dia sebagai isteri?"

Keng Hong menghela napas dan menggelengkan kepala. Urusan ini amat pelik dan tidak boleh dia main-main dan membohong. "Tidak, kami memang saling suka dan hubungan cinta kami dilakukan dengan kesadaran kami berdua, dan aku sudah menjelaskan kepada Bi-moi bahwa aku tidak dapat menjadi suaminya..."

"Keparat! Jahanam! Sudah kuduga seperti itu! Kalau aku tahu tentu malam tadi sudah kuremukkan kepalamu!" Lai Sek kembali berteriak-teriak dan menerjang maju.

Keng Hong merasa bingung dan berduka sekali. Dia maklum bahwa tidak mungkin dia dapat menenangkan dan menyabarkan hati pemuda yang sedang diamuk kemarahan dan kesedihan itu, maka dia lalu meloncat jauh dan melarikan diri, pergi dari tempat itu. Jalan satu-satunya yang paling baik hanyalah menjauhkan diri pada saat seperti itu.

Perhitungannya memang tepat. Setelah maklum bahwa tak mungkin mengejar Keng Hong yang tingkat kepandaiannya jauh lebih tinggi, Lai Sek kembali berlutut dan menangisi jenazah kakaknya dengan sedih. Setengah malam dia menangis sampai matahari muncul dan penduduk dusun pergi ke sawah ladang.

Para penduduk terheran dan terkejut, apa lagi setelah mendengar dari pemuda itu bahwa kakak perempuan pemuda itu malam tadi telah terbunuh oleh penjahat. Mereka menaruh kasihan dan beramai-ramai mereka itu membantu Lai Sek mengurus jenazah Ciang Bi dan menguburnya di tanah perkuburan dusun itu secara sederhana.

Pada keesokan harinya, ketika malam sedang gelap, sesosok bayangan hitam datang ke dalam tanah perkuburan itu dan berlutut di hadapan gundukan tanah yang masih baru. Bayangan ini menangis dan dia bukan lain adalah Keng Hong!

Sampai semalam dia berkabung dengan penuh kedukaan di depan kuburan itu, dan baru pada esok harinya dia meninggalkan kuburan baru itu, pergi secepatnya meninggalkan dusun di mana Ciang Bi dikuburkan, meninggalkannya sambil membawa pergi kenangan sedih yang tak akan pernah dapat terlupakan. Hatinya penuh kedukaan, bukan semata karena kematian Ciang Bi, akan tetapi yang lebih dari pada itu, adalah karena kekejaman Biauw Eng!

Ia suka kepada Biauw Eng, perasaan suka yang aneh dan berbeda kalau dibandingkan dengan rasa suka kepada wanita lain seperti kepada Cui Im dan Ciang Bi. Suka bukan semata karena kecantikan gadis puteri Lam-hai Sin-ni itu, melainkan karena pribadinya, dan mungkin sekali karena dia mengingat bahwa gadis itu adalah puteri suhu-nya, puteri Sin-jiu Kiam-ong! Inilah agaknya yang membuat dia merasa suka kepada gadis itu, dan kini kenyataan betapa puteri suhu-nya itu berhati kejam seperti iblis, membunuh Ciang Bi yang sama sekali tidak berdosa, benar-benar mendatangkan rasa duka di hatinya di samping rasa marah terhadap Biauw Eng.

Keng Hong melakukan perjalanan cepat, tujuannya adalah Kun-lun-san karena dia ingin kembali ke Kiam-kok-san, yaitu puncak di mana terdapat batu pedang tempat suhu-nya menggemblengnya selama lima tahun. Dia harus pergi ke tempat itu, mengambil pedang Siang-bhok-kiam yang memang dia sembunyikan di puncak Kiam-kok-san!

Ketika dia turun gunung setelah tak berhasil mencari rahasia penyimpanan barang-barang pusaka gurunya, dia maklum akan bahayanya kalau dia membawa Siang-bhok-kiam turun gunung, maka dia segera membuat sebuah pedang tiruan, pedang dari kayu harum pula yang dia dapatkan di puncak, pedang yang mirip sekali dengan Siang-bhok-kiam. Dia lalu menyembunyikan pedang Siang-bhok-kiam tulen di balik tumpukan batu-batu karang dan membawa turun pedang palsu.

Tepat seperti yang telah diduganya, begitu turun gunung pedangnya lantas menimbulkan keributan sehingga terpaksa dia menyerahkan pedang palsu itu kepada Kiang Tojin! Kini, pedang tulen masih berada di puncak Kiam-kok-san.

Setelah mengalami banyak hal yang amat tak enak, bertemu dengan orang-orang pandai yang memusuhinya, dia tahu bahwa dia harus kembali ke sana, harus menggembleng diri seperti yang dipesankan suhu-nya. Dia harus dapat menemukan kitab-kitab peninggalan suhu-nya, memperdalam ilmunya agar dia dapat menjaga diri kalau berhadapan dengan tokoh-tokoh dunia kang-auw, baik para datuk hitam mau pun para datuk putih!

Seminggu setelah dia meninggalkan dusun di mana terdapat kuburan Ciang Bi, dia telah tiba di kaki Pegunungan Bayangkara yang menyambung dengan Pegunungan Kun-lun, setelah dia berhasil melewati Pegunungan Min-san. Akan tetapi untuk sampai di tempat markas Kun-lun-pai, masih amat jauh dan sedikitnya dia harus melakukan perjalanan naik turun gunung selama setengah bulan.

Selagi Keng Hong enak-enakan berjalan mendaki sebuah lereng, tiba-tiba saja terdengar bentakan keras dan muncullah puluhan orang yang menghadang jalan, bahkan segera mengurungnya. Keng Hong terkejut bukan main karena orang-orang yang mengurungnya ini jumlahnya tidak kurang dari lima puluh orang dan semuanya memegang senjata tajam! Apa bila dilihat keadaan mereka, pasti bukan perampok, karena selain mereka terdiri dari bermacam-macam orang yang berpakaian cukup baik, juga di antara mereka terdapat pula wanita-wanita yang cantik dan gagah.

"Berhenti dulu, orang muda!" Yang membentak adalah seorang kakek berjenggot panjang, tangan kiri bertolak pinggang dan tangan kanan meraba gagang golok yang terselip pada pinggangnya. Gagang golok ini indah sekali, terbuat dari emas yang diukir seperti kepala naga. Kakek yang berjenggot panjang dan berusia kurang lebih lima puluh tahun ini masih kelihatan gagah dan kuat sehingga Keng Hong merasa kagum dan cepat menjura.

"Locianpwe siapakah dan ada kepentingan apa menghadang perjalanan saya?"

Kakek itu mengelus jenggotnya dan tercengang, juga bangga dan girang. Tak diduganya bahwa pemuda yang menurut laporan anak buahnya yang telah membunuh muridnya itu begini sopan dan halus, dan menyebutnya ‘Locianpwe’! Sikap Keng Hong ini saja sudah melenyapkan sebagian dari kemarahannya.

Akan tetapi mengingat akan kematian muridnya dan banyak anak buah muridnya, dia lalu berkata lagi dengan suara nyaring, "Aku adalah Kiam-to (Si Golok Emas) Lai Ban, wakil ketua Tiat-ciang-pang dan mereka semua ini adalah anak buah Tiat-ciang-pang!"

Keng Hong memandang penuh perhatian. Seingatnya ia belum pernah berurusan dengan orang-orang dari Tiat-ciang-pang (Perkumpulan Tangan Besi), hanya pernah mendengar bahwa perkumpulan ini adalah sebuah perguruan silat yang lumayan besar dan kabarnya membantu atau memihak kepada pemerintahan utara.

"Maaf, menurut ingatan saya yang bodoh, belum pernah saya berurusan dengan pihak Locianpwe, maka entah kesalahan apa yang telah saya lakukan di luar kesadaran saya terhadap Tiat-ciang-pang, mohon Locianpwe suka memberi penjelasan."

Lai Ban semakin suka kepada pemuda ini. Dia lalu menoleh ke belakang dan bertanya dengan suara keras.

"Heiii, benar inikah bocah yang kalian maksudkan itu?"

Tiga orang muncul, laki-laki tinggi besar yang segera menuding ke arah Keng Hong dan berkata, "Benar, Ji-pangcu (Ketua Ke Dua), dia inilah bocah setan yang telah membunuh Kiang-twako dan mengaku bernama Cia Keng Hong!"

Teringatlah Keng Hong sekarang bahwa tiga orang ini terdapat di antara anak-anak buah penjahat yang mengeroyok Ciang Bi. Ketika dia membela gadis itu di depan kuil dalam hutan, dia merobohkan kepala penjahat yang wajahnya seperti Kwan Kong tokoh jaman Sam-kok yang bersenjata golok, kemudian setelah dia merobohkan beberapa orang lagi, diam-diam dibantu pula oleh Biauw Eng dengan senjata rahasianya, sisa gerombolan itu melarikan diri. Agaknya tiga orang ini lalu melapor, dan sungguh di luar dugaannya bahwa kepala penjahat yang brewok dan bersenjata golok besar itu adalah salah seorang anak murid Tiat-ciang-pang.

Kiam-to Lai Ban Si Golok Emas itu memandang kepada Keng Hong dengan pandang mata tidak percaya. Pemuda halus tutur sapanya dan lemah lembut gerak-geriknya inikah yang telah menewaskan muridnya? Sukar untuk dipercaya!

"Orang muda, benarkah engkau bernama Cia Keng Hong?"

"Tidak keliru, Locianpwe. Nama saya adalah Cia Keng Hong!"

"Benarkah engkau telah membunuh muridku Pun Kiong di depan kuil tua di dalam hutan dekat dusun Ciang-cung?"

Keng Hong menggeleng kepala. "Saya tidak tahu siapa yang menjadi murid Locianpwe, akan tetapi memang benar saya telah membunuh beberapa orang anggota penjahat yang hendak berlaku keji dan mengganggu dua orang enci dan adik..." Keng Hong berhenti dan lehernya terasa seperti tercekik karena dia teringat kepada Ciang Bi, nona cantik jelita yang tewas secara mengerikan di tangan Song-bun Siu-li Biauw Eng itu.

Kakek itu menggerakkan alisnya dan matanya mulai menyinarkan kemarahan. "Hemmm, kalau begitu benar engkau yang membunuh muridku dan anak buahnya. Bocah lancang, mengapa engkau membunuh mereka? Berani engkau menghina Tiat-ciang-pang dengan membunuh seorang anak muridnya?"

"Maaf, Locianpwe. Saya tidak tahu bahwa dia itu murid Locianpwe atau anak murid dari Tiat-ciang-pang. Saya hanya tahu bahwa mereka itu sangat jahat dan hendak menghina seorang gadis baik-baik..."

"Aahhh! Engkau seperti orang baik-baik, bukan orang jahat. Akan tetapi mengapa engkau selancang itu? Apakah engkau anak murid Hoa-san-pai?"

"Bukan, Locianpwe."

"Kalau bukan, mengapa membela orang-orang Hoa-san-pai?"

Keng Hong merasa terdesak. Kakek ini benar pandai berdebat sehingga dia tersudut oleh pertanyaan-pertanyaan itu. "Saya... saya hanya melihat seorang gadis dan adiknya... eh, diganggu orang-orang jahat..."

"Cia Keng Hong! Bagaimana kau bisa membedakan bahwa gadis dan adiknya itu adalah orang-orang baik dan anak buah muridku orang-orang jahat?" Kakek itu membentak lagi, membuat Keng Hong tertegun karena memang tentu saja dia tidak dapat membedakan, dia hanya membantu Ciang Bi dan Lai Sek berdasarkan rasa kasihan melihat seorang gadis dikeroyok banyak laki-laki tinggi besar.

"Tentu karena gadis itu cantik dan kami laki-laki mana mampu melawan kecantikannya?" teriak salah seorang di antara mereka yang dahulu mengeroyok Keng Hong dan ucapan ini disambut dengan suara ketawa.

"Cia Keng Hong, agaknya engkau seorang pemuda hijau yang baru saja muncul di dunia kang-ouw. Akan tetapi menurut pelaporan anak buah muridku, engkau lihai sekali. Dari golongan atau partai manakah engkau? Siapa gurumu?"

"Maaf, saya bukan dari golongan mana pun dan guruku yang sudah meninggal tidak boleh diganggu namanya. Harap Locianpwe suka jelaskan, kesalahan apakah yang telah saya lakukan dalam membela gadis dan adiknya yang dikeroyok itu?"

"Kami orang-orang gagah dari Tiat-ciang-pang merupakan pendukung-pendukung gerakan raja muda Yung Lo di utara yang perkasa dan yang sepatutnya dan seharusnya menjadi kaisar yang menguasai seluruh tanah air. Akan tetapi Hoa-san-pai begitu tidak tahu malu untuk membela kaisar palsu yang kini berkuasa di selatan, yang secara tidak tahu malu mengangkat diri sendiri menjadi kaisar padahal sesungguhnya singgasana menjadi hak raja Muda Yung Lo. Sudah sering kali terjadi bentrokan di antara anak murid pihak kami dengan anak murid Hoa-san-pai, maka saat terjadi bentrokan lain di dusun Ciang-cung, tanpa melihat perkaranya, engkau langsung turun tangan membantu pihak Hoa-san-pai dan membunuh orang-orang kami. Tidak salahkah itu?"

Keng Hong terkejut sekali. Hal ini sungguh tidak pernah disangkanya, bahkan ketika dia bercakap-cakap dengan Ciang Bi, gadis itu tak pernah menyebut-nyebut tentang itu, tidak pernah membicarakan tentang permusuhan antara Hoa-san-pai dan Tiat-ciang-pang yang diakibatkan perbedaan faham itu.

Dia merasa menyesal juga mengapa dia tergesa-gesa turun tangan membunuh orang. Ternyata perbuatannya itu menimbulkan kemarahan di pihak Tiat-ciang-pang. Betapa pun juga, Keng Hong seorang yang berwatak jantan yang diwarisinya pula dari suhu-nya. Dia tidak mengenal takut apa lagi karena dia merasa bahwa perbuatannya dalam urusan ini tidak salah!

Menurut ajaran suhu-nya, dalam keadaan benar dia harus berani menghadapi apa saja, bahkan mati pun bukan apa-apa apa bila mati dalam kebenaran. Lebih baik mati dalam kebenaran atau membela kebenaran dari pada hidup dalam keadaan tercemar atau pun terhina karena kejahatan! Tentu saja baik atau jahat menurut penilaiannya sendiri! Dan betapa pun dia pertimbangkan, dia tidak merasa salah dalam hal itu!

"Maaf, Locianpwe. Baru sekarang setelah mendengar penuturan Locianpwe, saya tahu akan persoalannya. Akan tetapi pada waktu hal itu terjadi, saya hanya tahu bahwa ada seorang gadis muda yang dikeroyok oleh banyak laki-laki tinggi besar yang mengeluarkan ucapan-ucapan menghina. Tentu saja saya lalu turun tangan membela wanita itu, karena bukankah hal itu merupakan tugas seorang gagah yang menjunjung tinggi kebenaran dan keadilan? Sekarang, ternyata ada sebab-sebab lain tersembunyi di dalam perkelahian itu, sebab-sebab yang tidak saya ketahui. Semua sudah terjadi, sekarang saya berhadapan dengan Locianpwe, harap jelaskan, apa yang harus saya lakukan dan apa pula yang akan Locianpwe lakukan terhadap saya?"

Kembali kakek itu diam-diam menjadi kagum sekali. Terang bahwa bocah ini bukan bocah sembarangan dan mulailah dia percaya bahwa pemuda ini memiliki kelihaian yang luar biasa, murid seorang sakti yang tentu amat terkenal. Walau pun dia merasa kagum dan sayang, namun sebagai ketua Tiat-ciang-pang, dia harus membela perkumpulannya dan harus menuntut atas kematian murid Tiat-ciang-pang agar tidak ditertawai dan dipandang rendah dunia kang-ouw, apa lagi dipandang rendah oleh Hoa-san-pai!

"Cia Keng Hong, ucapanmu membuktikan bahwa kau seorang laki-laki sejati yang tidak menyangkal perbuatan yang pernah kau lakukan. Kau sudah mengaku bahwa kau telah membunuh murid Tiat-ciang-pan, oleh karena itu, aku sebagai wakil ketua Tiat-ciang-pang berkewajiban untuk menangkap dan membawamu ke depan ketua kami untuk menerima keputusan dan hukuman."

Keng Hong mengerutkan alisnya dan menggeleng kepala. "Permintaanmu ini sukar sekali untuk dapat saya terima, Locianpwe, karena apa pun yang sudah terjadi, saya berbuat demi kebenaran dan kebaikan, sedikit pun tidak mengandung dasar yang jahat dan buruk, sedikit pun tak merasa salah. Karena itu, saya tidak dapat menghadap Tiat-ciang-pangcu (ketua) untuk menerima hukuman. Harap Locianpwe suka memaafkan."

Sinar mata yang tadinya sabar dan penuh kagum itu menjadi marah. "Ehh, orang muda, boleh jadi engkau lihai, murid seorang sakti, akan tetapi ketahuilah bahwa engkau sedang berhadapan dengan seorang tua seperti aku yang telah mengejar ilmu sebelum engkau lahir! Kami orang-orang Tiat-ciang-pang mengutamakan keadilan, setelah nanti didengar semua keteranganmu, tentu pangcu kami tidak akan menjatuhkan hukuman sewenang-wenang! Apa bila engkau menolak, sungguh menyesal sekali bahwa aku terpaksa harus memaksamu!"

"Ahh, ternyata Locianpwe hanya ingin mencari benar sendiri!" kata Keng Hong.

"Hemm, apakah bukan engkau yang hendak mencari benar sendiri, orang muda? Engkau sudah membunuh murid kami, dan kami sekarang hendak menangkapmu. Siapakah yang salah dan siapa benar dalam hal ini? Siapa yang jahat dan siapa yang baik?"

Mendadak terdengar suara ketawa, suara ketawa yang mengakak seperti suara burung gagak (goak) atau suara seekor ular besar. Mendengar suara tawanya, sepatutnya orang yang tertawa seperti itu tentulah seorang yang tinggi besar. Akan tetapi ternyata bahkan sebaliknya.

Ketika semua orang memandang ke atas karena suara ketawa itu terdengar dari atas, mereka melihat seorang kakek yang amat lucu tengah duduk dengan kedua kaki telanjang ongkang-ongkang di atas dahan pohon tak jauh dari tempat itu. Kakek ini tubuhnya kecil dan bongkok berpunuk, rambut, kumis dan jenggotnya panjang terurai akan tetapi bagian atas kepalanya botak dan kelimis.

Mukanya membayangkan kegembiraan total hingga tampak seperti wajah seorang bocah nakal yang selalu tertawa-tawa. Pakaiannya bersih sekali dan baru, akan tetapi sepasang kakinya telanjang. Tangan kirinya memegang sebuah guci arak, dan setelah tertawa dia lalu menuangkan isi guci ke mulut. Bau arak wangi memenuhi tempat itu.

"Ha-ha-ha-ha-ha!" Ia tertawa lagi setelah minum arak. "Semua salah, semua benar, tidak ada yang baik tidak ada yang buruk. Sama saja! Ha-ha-ha-ha! Yang tinggi yang pendek ya sama saja! Yang gemuk yang kurus ya sama saja! Yang salah yang benar, yang buruk yang baik, yang cantik yang bopeng, semua ya sama saja! Ha-ha-ha-ha-ha!"

Bila semua orang merasa geli dan juga jengkel mendengar kata-kata tak karuan dan sikap seperti orang gila itu, Keng Hong sebaliknya menjadi tertarik sekali. Dia dapat menangkap inti sari ucapan yang tidak karuan itu maka lalu menjura ke atas terhadap kakek itu sambil berkata,

"Kebetulan sekali Locianpwe yang arif bijaksana muncul pada saat ini. Mohon petunjuk Locianpwe siapakah yang salah dan siapa yang benar dalam urusan antara saya dengan pihak Tiat-ciang-pang ini?"

"Urusan ini tidak ada sangkut-pautnya dengan orang lain dan kami tidak membutuhkan pendapat orang lain," kata Kim-to Lai Ban yang tentu saja merasa direndahkan kalau sebagai wakil ketua Tiat-ciang-pang dia harus mendengarkan pendapat orang luar untuk mengambil keputusan atas urusan yang mengenai perkumpulannya.

"Lai-pangcu," kata Keng Hong dengan wajah tidak senang, "dalam setiap urusan antara kedua pihak, selalu harus ada pihak ke tiga yang dimintakan pertimbangan supaya dapat dipertimbangkan siapa salah siapa benar. Kalau tidak, bagaimana kedua pihak yang bertentangan itu akan dapat menyelesaikan urusan secara musyawarah?" Kemudian dia menoleh lagi kepada kakek bongkok di atas dahan itu sambil berkata, "Mohon petunjuk Locianpwe."

Kakek bongkok itu tertawa lagi. "Bocah, kau awas dan berbakat sekali! Di dunia ini mana ada baik dan buruk? Mana ada salah dan benar? Yang ada hanya pandangan manusia, tentu saja disesuaikan dengan selera masing-masing, disesuaikan dan didasari oleh nafsu mementingkan diri sendiri masing-masing! Mana ada manusia baik atau manusia jahat? Manusia ya manusia, tidak baik tidak jahat. Baik atau buruknya tergantung dari pendapat masing-masing, pendapat yang diuntungkan atau dirugikan. Pendapat manusia didasari sifat mementingkan diri pribadi. Contohnya? Biar orang sedunia menganggap seseorang itu baik, kalau orang itu merugikan dirinya, dia tentu menganggapnya jahat! Sebaliknya, biar orang sedunia menganggap seseorang jahat, kalau orang itu menguntungkan dirinya, dia tentu akan menganggapnya baik! Demikian pula perbuatan. Perbuatan ya perbuatan. Salah atau benarnya, baik atau buruknya, selalu diciptakan manusia yang terkena akibat perbuatan itu. Kalau menguntungkan, dianggapnya benar, tapi kalau merugikan, salahlah perbuatan itu! Buktinya sekarang ini. Perbuatan bocah ini terang sudah merugikan pihak Tiat-ciang-pang, tentu saja oleh pihak Tiat-ciang-pang dianggap salah dan jahat! Padahal, bagaimanakah sifat perbuatan itu sesungguhnya? Tanyakanlah kepada pihak murid-murid Hoa-san-pai yang oleh perbuatan bocah ini diuntungkan terhindar dari kekalahan, tentu saja perbuatan ini dianggapnya benar dan baik! Mana yang benar? Baik atau jahat? Salah atau benar? Ya sama saja! Ha-ha-ha-ha-ha-ha!"

Wakil ketua Tiat-ciang-pang dan anak buahnya menjadi marah dan mendongkol. Akan tetapi diam-diam Keng Hong merasa terkejut dan kagum. Kata-kata yang kedengarannya tidak karuan artinya itu sekaligus mencakup segala rahasia pertentangan dan keributan yang selalu timbul tiada henti-hentinya di atas bumi di antara manusia! Rahasia dari pada timbulnya segala bentuk pertentangan telah tercakup dalam kata-kata kakek bongkok itu, yaitu bahwa semua pertentangan timbul akibat manusia memperebutkan ‘kebenaran’ yang sesungguhnya selalu didasari oleh sifat mementingkan diri pribadi.

"Maafkan saya, Locianpwe yang bijaksana. Kalau kebenaran dan kebaikan sepalsu yang Locianpwe katakan, bagaimanakah sesungguhnya yang asli?"

"Heh-heh-heh, tidak ada yang asli tidak ada yang palsu! Yang benar dan baik bagi diri sendiri bukanlah kebenaran, yang benar dan baik bagi orang lain tanpa dipaksakan dalam pengakuannya barulah mendekati kebenaran!"

"Ahh, wejangan Locianpwe amat dalam dan sukar dimengerti. Mohon petunjuk bagaimana saya harus menghadapi kemarahan Tiat-ciang-pang?"

"Ha-ha-ha-ha-ha, sikap terbaik adalah seperti air! Kebijaksanan tertinggi seperti air, tidak memaksa tidak mendesak, sepenuhnya mematuhi kekuasaan yang ada...!"

Jantung Keng Hong berdebar. Dia sudah banyak membaca kitab-kitab kuno, juga sudah banyak menghafal ayat-ayat dalam kitab-kitab suci, maka tentu saja dia bisa menangkap inti sari ucapan kakek ini, ialah bahwa dia harus bersikap wajar, tidak dibuat-buat, seperti gerakan air yang wajar mengalir ke bawah. Tetapi bukan maknanya yang mendebarkan jantungnya, melainkan disebutnya kalimat itu.

Kebijaksanaan tertinggi seperti air! Bukankah itu merupakan kalimat di baris pertama dari pada huruf-huruf yang terukir di pedang Siang-bhok-kiam? Hanya kebetulan saja, ataukah mungkin sekali kakek bongkok ini dapat memecahkan rahasia huruf-huruf di pedang itu?

"He, orang tua yang lancang mulut! Jangan mencampuri urusan kami!" bentak Lai Ban yang menjadi marah karena pemuda itu mengobrol dengan si kakek bongkok demikian asyiknya seolah-olah puluhan orang Tiat-ciang-pang itu dianggap bagaikan segerombolan pohon saja!

Karena kakek itu tak menjawab dan hanya tersenyum-senyum sambil tetap duduk di atas dahan pohon dengan kedua kaki bergantungan, Keng Hong menoleh kepada Lai Ban dan berkata dingin,

"Lai-pangcu, salah-menyalahkan dalam urusan ini memang tidak ada habisnya dan tidak akan dapat membereskan persoalan. Aku tidak memusuhi Tiat-ciang-pang, dan aku tidak merasa bersalah dalam peristiwa antara anak murid Tiat-ciang-pang dengan anak murid Hoa-san-pai, dan karena tak merasa bersalah, aku tidak mau bila diharuskan menghadap ketua Tiat-ciang-pang untuk menerima hukuman. Kalau Ji-pangcu hendak menggunakan paksaan dan kekerasan, silakan."

Kali ini wakil ketua Tiat-ciang-pang itu benar-benar hilang kesabaran dan menjadi marah sekali. "Orang muda! Engkau betul-betul tidak tahu tingginya langit dan dalamnya lautan! Boleh jadi engkau lihai, akan tetapi engkau masih seorang muda remaja, masih seorang bocah! Sebetulnya aku merasa sungkan untuk turun tangan menandingi seorang yang sepantasnya menjadi cucu muridku kalau melihat usianya..."

"Ha-ha-ha! Pintar dan bodoh tidak mengenal tua atau muda. Yang makin tua makin tolol sangat banyak, yang muda-muda sudah pintar seperti orang muda ini pun tidak jarang! Siapa sih orangnya yang tahu akan tingginya langit dan dalamnya lautan? Heh-heh-heh!" Kakek bongkok itu tertawa-tawa lagi sambil memberi komentar, seakan-akan dia sedang menonton pertunjukan yang lucu.

Kim-to Lai Ban menjadi semakin marah. "Ehhh, kakek tua yang lancang mulut! Pergilah engkau dari sini, jangan mencampuri urusan orang lain! Kalau tidak, akan kuseret turun engkau!"

"Wah-wah-wah, ini aturan dari mana, ya? Sebelum kalian datang aku masih enak-enakan tidur di pohon ini. Kalian datang lalu membikin ribut sampai aku terkejut dan terjaga dari tidurku. Menurut patut, aku yang menegur kalian. Kalau kalian mengenal malu, pergilah dari sini dan carilah tempat lain untuk main ribut-ribut agar tidak mengganggu orang!"

Kim-to Lai Ban membentak kepada dua orang sute-nya, "Seret dia turun dan tendang dia jauh-jauh dari sini!"

Dua orang sute-nya itu adalah orang-orang yang sudah mempunyai kepandaian tinggi. Di dalam perguruan Tiat-ciang-pang, terdapat sebuah ilmu yang dipakai ukuran tinggi tingkat murid-muridnya, yaitu ilmu Tiat-ciang-kang (Tangan Besi).

Kedua tangan atau sebelah tangan saja, digembleng dan dilatih sedemikian rupa hingga tangan itu menjadi kuat dan kebal seperti besi. Makin hebat latihannya, makin kuat tenaga sinkang si murid, makin kebal dan kuat tangan besinya. Kekuatan tangan besi inilah yang dijadikan ukuran tingkat.

Tingkat pertama tentu saja diduduki oleh ketuanya yang bernama Ouw Beng Kok, sedang tingkat kedua diduduki oleh Kiam-to Lai Ban. Kini, kedua orang sute yang menghampiri pohon di mana duduk kakek bongkok, dan yang menerima tugas untuk menyeret turun kakek itu, adalah orang-orang tinggi besar dan kuat sekali, apa lagi karena mereka telah menduduki tingkat ke empat di Tiat-ciang-pang yang menandakan bahwa ilmu ‘tangan besi’ mereka sudah amat hebat.

"Orang tua bongkok, engkau sudah mendengar permintaan Ji-pangcu kami, harap lekas turun dan pergi dari sini karena kami merasa tidak enak sekali kalau harus menggunakan kekerasan terhadap seorang kakek tua seperti engkau," kata seorang di antara dua murid Tiat-ciang-pang tingkat empat itu.

"He-he-heh-heh, apakah sih artinya kekerasan? Kalian hendak menggunakan kekerasan seperti apa? Aku sejak tadi duduk di sini dan hanya tertawa bicara, hanya menggunakan kelemasan, duduk mengandalkan kelemasan kaki, bicara mengandalkan kelemasan lidah, akan tetapi kalian ini agaknya suka sekali akan barang yang serba keras. Agaknya, lebih baik lagi kalau Tiat-ciang (Tangan Besi) ditambah dengan Tiat-sim (Hati Besi)!"

"Kekerasan seperti inilah!" Seorang di antara mereka tiba-tiba menghantamkan tangan kanan dengan jari-jari terbuka ke arah bantang pohon itu.

"Kraaakkkkk...!"

Hebat bukan main hantaman tangan yang penuh berisi hawa Tiat-ciang-kang itu. Batang pohon yang besarnya sepelukan orang itu, sekali kena dihantam tangan besi itu, menjadi patah dan tumbang! Tentu saja tubuh kakek bongkok yang duduk di dahan pohon itu ikut pula terbawa roboh ke bawah!

Akan tetapi saat dua orang tokoh Tiat-ciang-pang itu siap hendak menubruk dan menyeret kakek cerewet itu pergi, tiba-tiba hanya tampak bayangan berkelebat dan tahu-tahu kakek bongkok itu sudah berjongkok lagi di atas dahan pohon lain sambil terkekeh-kekeh.

"He-he-he, itukah yang kalian sebut kekerasan? Bagiku, lebih tepat disebut pengrusakan! Pengrusakan ciptaan alam, sungguh besar dosanya!"

Karena merasa bahwa mereka diejek dan ditertawakan, dua orang tokoh Tiat-ciang-pang itu menjadi makin marah. Mereka berlari menghampiri pohon besar di mana kakek itu kini berjongkok di atas dahan, lalu mereka berdua secara berbareng memukul batang pohon yang amat besar itu.

Kembali terdengar suara yang lebih keras dari pada tadi dan batang pohon itu tumbang, membawa dahan-dahan dan daun-daun berikut tubuh si kakek bongkok. Seperti tadi pula, bagaikan seekor burung saja, kakek itu sudah meloncat seperti terbang melayang lantas ‘hinggap’ di atas pohon lainnya. Cara dia bergerak meloncat benar-benar mengagumkan sekali, selain cepat dan ringan, juga aneh gerakannya karena dalam meloncat, kakek ini mengembangkan dan menggerak-gerakkan kedua lengan seperti sayap burung!

Dua orang tokoh Tiat-ciang-pang makin penasaran sehingga mereka terus mengejar dan memukul tumbang semua pohon yang dijadikan tempat ‘mengungsi’ kakek itu sehingga hanya dalam waktu tak berapa lama, belasan batang pohon telah tumbang!

"Wah-wah-wah, kalian berdua ini bisa menjadi tukang-tukang penebang pohon yang amat baik dan menguntungkan sekali, heh-heh-heh!" Kakek bongkok itu tertawa-tawa.

"Sute, tahan...!" Tiba-tiba Kim-to Lai Ban berseru.

Kedua orang sute-nya itu lalu mundur, akan tetapi muka mereka merah dan mata mereka melotot ke arah kakek bongkok yang kini masih duduk ongkang-ongkang di atas dahan sebuah pohon yang lain, agak jauh dari situ karena pohon-pohon yang berdekatan telah tumbang semua.

"Asal kakek itu tidak mencampuri urusan secara langsung, biarkan saja dia menggoyang lidahnya, setidaknya dia sudah tahu bahwa Tiat-ciang-pang tak boleh dibuat main-main." Kemudian Lai Ban menghadapi Keng Hong dan berkata, "Orang muda, kau sudah melihat sendiri kehebatan pukulan Tiat-ciang-kang dari dua sute-ku. Aku tidak ingin menggunakan kekerasan terhadapmu. Apa bila kau menyerahkan diri tanpa perlawanan, kami pun akan membawamu ke hadapan pangcu tanpa kekerasan."

Semenjak tadi Keng Hong memandang kakek bongkok dengan penuh perhatian. Ia dapat menduga bahwa kakek itu bukanlah sembarang orang, akan tetapi yang paling menarik hatinya adalah bunyi kalimat yang merupakan kalimat pertama yang terukir pada pedang Siang-bhok-kiam. Ingin dia bertanya mengenai kalimat itu kepada si kakek bongkok, akan tetapi dia masih menghadapi urusan dengan orang-orang Tiat-ciang-pang ini, dan karena itu dia harus dapat membereskan urusan ini lebih dulu.

Tadi dia melihat kehebatan pukulan dua orang tokoh Tiat-ciang-pang itu dan dia maklum bahwa orang-orang ini benar-benar amat lihai dan memiliki pukulan maut yang amat kuat. Dalam hal ilmu silat tentu saja dia masih kalah jauh sekali, akan tetapi dalam hal sinkang, mereka itu tidak ada artinya baginya. Juga dia mempunyai kecepatan gerakan yang jauh melampaui mereka.

"Lai-pangcu, kedua orang sute-mu telah mendemonstrasikan kelihaian dan hal ini hendak kau gunakan untuk menundukkanku, apa bedanya itu dengan kekerasan? Tidak, Pangcu, karena aku tidak merasa bersalah, aku tetap tidak mau kau bawa pergi menghadap ketua kalian di Tiat-ciang-pang."

"Bocah, kau benar-benar keras kepala!" teriak seorang di antara dua orang sute Lai Ban yang tadi mengejar-ngejar si kakek bongkok. Mereka masih terlalu penasaran dan marah karena merasa dipermainkan oleh si bongkok, dan sekarang mereka seolah-olah hendak menimpakan kemarahan mereka kepada Keng Hong. "Ji-suheng, serahkan saja bocah ini kepada kami, tidak perlu kiranya Ji-suheng turun tangan sendiri!"

Kim-to Lai Ban adalah seorang cerdik. Apa bila tadi dia menyuruh kedua orang sute-nya untuk mundur adalah karena pandang matanya yang awas dapat menduga bahwa kakek bongkok itu bukanlah orang sembarangan. Kalau pemuda yang lihai ini saja belum dapat ditundukkan, sungguh tak menguntungkan jika menambah seorang lawan lagi yang belum dapat diukur sampai di mana kelihaiannya.

Kini, dia harus mengawasi gerak-gerik si bongkok yang dia duga tentu akan membantu Keng Hong, maka dia mengambil keputusan untuk ‘menyerahkan’ Keng Hong pada anak buahnya dan dia sendiri yang akan turun tangan kalau kakek bongkok itu mencampuri urusan ini. Anak buahnya ada puluhan orang, masa tidak akan mampu menangkap Keng Hong. Maka dia lalu mengganggukkan kepala dan berkata,

"Baik, tangkaplah bocah sombong ini! "

Dua orang tokah Tiat-ciang-pang yang tinggi besar itu lalu bergerak dari kanan kiri Keng Hong sambil membentak keras, "Bocah, engkau ikutlah dengan kami!"

Mereka mencengkeram ke arah pundak Keng Hong dari samping kanan dan kiri dengan niat menangkap dan sekaligus membuat pemuda itu tidak berdaya dalam cengkeraman tangan besi mereka.

Keng Hong dapat merasakan sambaran angin pukulan tangan mereka yang sangat kuat dan mantep. Dia tidak takut menghadapi cengkeraman itu karena kalau dia mengerahkan sinkang ke arah sepasang pundaknya, kulit pundaknya akan menjadi kebal dan agaknya tidak perlu takut menghadapi cengkeraman mereka.

Akan tetapi setidaknya bajunya tentu akan menjadi robek-robek dan dia tak menghendaki ini. Pula, dia pun harus memperlihatkan kelihaiannya, maka cepat dia mengangkat kedua tangan ke kanan kiri, mengerahkan tenaga dan menangkis dengan tolakan dari samping mengadu pergelangan kedua tangannya dengan lengan kedua orang lawannya.

"Plak! Plak!"

Dua orang tokoh Tiat-ciang-pang itu berteriak kaget dan tubuh mereka lantas terdorong ke belakang. Lengan mereka yang tertangkis terasa nyeri dan panas sekali. Hanya dengan pengerahan tenaga saja mereka dapat mencegah tubuh mereka terguling, dan sekarang mereka memandang dengan kemarahan berkobar, sejenak mengelus pergelangan tangan yang terasa senut-senut.

Orang-orang Tiat-ciang-pang menjadi marah sekali dan tanpa menanti komando, mereka sudah menerjang maju dengan senjata di tangan mengeroyok Keng Hong. Hal ini bukan hanya menunjukkan bahwa orang-orang Tiat-ciang-pang suka main keroyok, melainkan karena mereka telah terlatih dalam perang melawan pasukan-pasukan kerajaan sehingga mereka memiliki jiwa setia kawan yang tebal dan setiap melihat seorang kawannya, apa lagi pimpinan, terdesak atau terpukul, tanpa dikomando mereka lalu maju menerjang.

Hal ini menimbulkan rasa marah di hati Keng Hong. Tadinya dia tidak marah, hanya ingin berpegang kepada kebenaran menurut faham dan pendapatnya sendiri dalam urusannya dengan orang-orang Tiat-ciang-pang, karena itu dia pun tidak berniat untuk menurunkan tangan maut. Akan tetapi, sekarang melihat betapa puluhan orang itu bergerak seperti semut menggeroyoknya, dia menjadi marah dan membentak keras.

"Kalian manusia-manusia curang tak tahu malu!"

Dan tubuhnya langsung menerjang ke depan. Sambil mengerahkan tenaga pada kedua lengannya, Keng Hong menangkis, mencengkeram dan memukul. Karena pengeroyoknya hanyalah para anggota Tiat-ciang-pang tingkat rendahan, maka berturut-turut robohlah enam orang yang mengeroyok dari sebelah depan!

Tiba-tiba angin pukulan yang amat dahsyat menghantam dari arah belakang, dari kanan kiri menuju ke punggung Keng Hong. Pemuda ini terkejut karena angin pukulan ini hebat bukan main. Dia maklum bahwa kedua orang tokoh Tiat-ciang-pang tukang merobohkan pohon tadi telah menyerangnya dari belakang, menggunakan kesempatan selagi dia sibuk menghadapi pengeroyokan banyak orang dari depan. Kemarahan Keng Hong memuncak dan dia mengeluarkan suara pekik melengking sambil mengerahkan sinkang ke tubuh bagian belakang.

"Bukk...! Bukk...!" Dua kepalan tangan yang amat kuat telah menghantam punggung Keng Hong di kanan kiri.

Akan tetapi pada waktu itu, Keng Hong yang sedang marah sekali sudah mengerahkan tenaganya dan tenaga mukjijatnya segera timbul di luar kehendaknya sehingga begitu dua kepalan itu menyentuh tubuhnya, maka dua kepalan itu melekat pada punggungnya dan tak dapat dilepaskan pula.

Kedua orang itu adalah ahli-ahli pukulan Tiat-ciang-kang, sungguh pun belum mencapai tingkatan paling tinggi, namun sudah cukup hebat dan tenaga sinkang mereka pun sudah amat kuat. Kini, menghadapi kenyataan mengerikan bagi mereka itu, kepalan tidak dapat dilepas dari punggung dan tenaga sinkang mereka molos keluar bagaikan air membanjir akibat tanggulnya bobol, tanpa dapat mereka tahan, mereka menjadi amat kaget dan juga panik.

Cepat mereka menggunakan tangan kiri mereka, mengirim pukulan dengan pengerahan tenaga sepenuhnya, dan kini mereka memukul ke kanan kiri lambung. Pukulan ini adalah pukulan maut, karena selain yang memukul adalah kepalan-kepalan tangan yang penuh dengan hawa sakti Tiat-ciang-kang, juga yang dipukul adalah sisi lambung yang biasanya merupakan tempat yang lemah.

Akan tetapi, justru bagian tubuh Keng Hong yang dekat pusar merupakan bagian-bagian yang paling ‘peka’ dan aktif sekali bila tenaga mukjijat yang menyedot itu sedang bekerja. Maka, begitu dua pukulan itu menyentuh lambung, kontan saja tersedot dan melekat!

Dua orang tokoh Tiat-ciang-pang itu kini menjadi seperti dua ekor lintah yang melekat, tak dapat terlepas pula dan tenaga sinkang mereka terus menerobos keluar melalui sepasang tangan mereka memasuki tubuh Keng Hong yang gerakan-gerakannya menjadi semakin lamban akan tetapi menjadi makin hebat tenaga sinkang-nya.

Dia hanya melangkah perlahan-lahan ke depan, kedua lengannya bergerak perlahan pula, namun kedua tangannya itu mengeluarkan angin bersuitan dan setiap orang pengeroyok yang terdorong oleh angin pukulan ini tentu roboh terjengkang! Hal ini tidaklah aneh kalau dipikir bahwa pada saat itu tenaganya yang memang telah amat kuat, kemudian ditambah lagi oleh tenaga Tiat-ciang-kang dari kedua orang yang menempel yang di tubuhnya dari belakang itu!

"Pemuda iblis!!" Kim-to Lai Ban menjadi marah sekali. 'Lepaskan dua orang sute-ku!" Dia marah dan juga ngeri menyaksikan betapa dua orang sute-nya itu kini telah bergantung pada tubuh Keng Hong dengan lemas, wajah mereka pucat separti mayat.

Sebetulnya hal ini adalah kesalahan dua orang itu sendiri. Tenaga mukjijat yang bergerak di seluruh tubuh Keng Hong adalah tenaga yang hanya mengenal dan menyedot tenaga sinkang dari luar. Andai kata seorang manusia biasa yang tidak pernah berlatih sehingga tenaga sakti dalam tubuh mereka tidak bangkit, membuat mereka itu hanya bertenaga biasa dari otot-otot saja, maka tenaga mukjijat di tubuh Keng Hong takkan dapat berbuat apa-apa, dan orang yang tidak ber-sinkang itu tidak akan dapat terlekat dan tersedot.

Demikian pula bagi mereka yang memiliki tenaga sakti seperti dua orang Tiat-ciang-pang itu, andai kata mereka tidak mempergunakan tenaga sinkang, tentu mereka akan terlepas dengan sendirinya dari tubuh Keng Hong. Tadi mereka memukul dengan tangan kanan, disusul dengan tangan kiri, mempergunakan Tiat-ciang-kang, pukulan yang sepenuhnya didasari tenaga sinkang, tentu saja mereka segera terlekat dan tersedot.

Setelah demikian, mereka meronta-ronta dan mengerahkan tenaga pula untuk berusaha melepaskan diri. Tentu saja usaha pengerahan tenaga ini menjadi ‘makanan empuk’ bagi tenaga mukjijat di tubuh Keng Hong yang bekerja sehingga makin hebat mereka berusaha untuk melepaskan diri makin hebat pula mereka tersedot dan melekat terus!

"Aku... aku tidak bisa melepaskan mereka...!" kata Keng Hong gugup.

Peristiwa seperti ini terulang kembali namun selalu dia menjadi gugup. Apa lagi sekarang bukan hanya dua orang itu yang melekat dan tersedot sinkang-nya, juga ada dua orang lain yang tadinya berusaha membantu kawan mereka, kini turut menempel dan tersedot sinkang-nya. Yang menjemukan adalah, dua orang ini menjerit-jerti seperti dua ekor babi disembelih! Ingin Keng Hong melepaskan diri dari mereka, akan tetapi dia sendiri pun tak tahu bagaimana caranya!

Jawabannya yang memang sesungguhnya itu diterima salah oleh Kim-to Lai Ban, maka dia menjadi makin marah dan dicabutlah golok emasnya. "Terpaksa aku membunuhmu, pemuda iblis!" serunya dan dia menerjang maju, lalu meloncat ke atas dan berteriak keras menyerang Keng Hong.

Pemuda ini maklum betapa hebat dan berbahayanya serangan Kim-to Lai Ban itu. Maka dia pun mengeluarkan pekik melengking dan tubuhnya telah mencelat ke atas, membawa ke udara empat tubuh yang menempel di sebelah belakang tubuhnya sendiri itu.

Menghadapi serangan golok lawan yang sedemikian dahsyatnya, yang berubah menjadi sinar keemasan yang melengkung panjang, Keng Hong sudah mengerahkan tenaga dan menggunakan jurus In-keng Hong-wi (Awan menggetarkan Angin dan Hujan), yaitu jurus kedelapan atau jurus terakhir, jurus yang paling dahsyat dari pada ilmu silatnya, San-in Kun-hoat (Ilmu Silat Tangan Kosong Awan Gunung) yang hanya terdiri dari delapan jurus itu.

Jurus ini amat sulit dimainkan, namun juga amat hebat gerakannya, karena selagi berada di angkasa menyambut terjangan lawan yang juga meloncat ke udara itu, kaki kiri Keng Hong bekerja susul menyusul dalam rangkaian yang selain cepat tak terduga, juga amat aneh dalam kerja sama yang rapi sekali. Kedua kakinya sudah susul menyusul melakukan tendangan ke arah pergelangan tangan Kim-to Lai Ban yang memegang golok dan ke arah pusar, sedangkan kedua tangannya susul menyusul pula melakukan serangan, yang kiri mencengkeram ke arah ubun-ubun kepala, sedangkan yang kanan mengikuti gerakan golok yang ditarik ke belakang karena tendangannya sedetik yang lalu!

"Hayaaaaa..!!"

Selama hidupnya baru sekali ini Kim-to Lai Ban menjadi gugup. Tadinya dia memutar goloknya dan melompat ke atas melakukan serangan dengan jurus yang terampuh dari ilmu goloknya. Ia harus menyelamatkan dua orang sute-nya, maka dia tidak segan-segan lagi menurunkan serangan maut, goloknya membentuk lingkaran dan sasarannya adalah leher lawan, sedangkan tangan kirinya yang terbuka jarinya mencengkeram ke arah lehar Keng Hong.

Akan tetapi, siapa kira, lawannya itu malah meloncat pula dan menyambut serangannya secara terbuka di udara! Tentu saja tubuh mereka bertemu di udara dan dalam beberapa detik ini telah terjadi beberapa gebrakan hebat.

Kim-to Lai Ban terpaksa segera menarik goloknya karena pergelangan tangannya yang membacok itu dipapaki tendangan dari bawah, akan tetapi tangan kirinya berhasil ‘masuk’ dan mengcengkeram leher Keng Hong karena dia menang dulu. Tapi dapat dibayangkan betapa kagetnya ketika jari-jari tangannya yang mencengkeram leher itu terasa bagaikan mencengkeram daging yang amat lunak dan sekaligus tenaganya tersedot dan tangannya melekat! Sebelum hilang rasa kagetnya, pusarnya sudah terancam tendangan yang cepat dia elakkan, akan tetapi tiba-tiba goloknya terampas oleh tangan Keng Hong dan juga ubun-ubunnya terancam oleh cengkeraman sebelah tangan pemuda luar biasa itu!

"Celaka..!" Lai Ban berseru keras, berusaha membetot tangannya dan pada detik lain, dia mengirim tusukan dengan dua buah tangannya ke arah mata Keng Hong dan hal ini sama sekali tak dapat dielakkan mau pun ditangkis oleh pemuda itu! Dalam detik itu, nyawa Lai Ban terancam maut oleh cengkeraman pada ubun-ubunnya, ada pun keselamatan Keng Hong terancam kebutaan oleh dua jari tangan Kim-to Lai Ban.

"He-heh-heh, sayang… sayang…!" Terdengar kakek yang duduk nongkrong di atas pohon itu tertawa dan dari tangannya menyambar dua butir buah mentah dari pohon itu.

Yang sebutir menyambar siku lengan Lai Ban yang menusukkan jari tangannya ke arah mata Keng Hong, ada pun yang sebutir lagi melayang ke arah siku lengan Keng Hong yang mencengkeram ke arah ubun-ubun lawannya. Biar pun buah mentah itu tidak keras, namun ternyata tenaga luncuran dan tenaga totokannya dahsyat sekali sehingga tiba-tiba kedua lengan yang tertotok buah-buah mentah itu menjadi lumpuh dan kedua orang itu meloncat turun ke bawah.

Untung bagi Lai Ban bahwa ketika dia tertotok oleh buah mentah yang melayang tadi, kelumpuhannya membuat dia terlepas dari tenaga mukjijat Keng Hong yang menyedot dan menempelnya sehingga dia dapat meloncat ke bawah. Dia terkejut bukan main dan hanya dapat memandang kepada Keng Hong dengan mata terbelalak, ada pun mulutnya menggumamkan bisikan, "Iblis...!"

Kemudian dia terbelalak kaget ketika tubuh dua orang sute-nya beserta dua orang anak buahnya, mereka berempat yang tadi melekat di belakang Keng Hong seperti lintah, kini sudah menggeletak tak bernyawa lagi! Kiranya tadi karena terlalu lama mereka tersedot sinkang-nya dan mereka sama sekali tidak berdaya, hawa sakti tubuh mereka tersedot sampai habis sama sekali sehingga mereka dengan sendirinya terlepas dan jatuh ke atas tanah dalam keadaan tak bernyawa lagi.

Melihat ini, Kim-to Lai Ban menjadi makin marah. Selagi dia bersiap untuk mengerahkan anak buahnya yang amat banyak dan mengeroyok mati-matian untuk menebus kematian dua orang sute-nya, tiba-tiba Keng Hong meloncat pergi, melempar golok rampasannya ke atas tanah sambil berseru,

"Locianpwe, tunggu dulu...!"

Ketika Lai Ban memandang lebih teliti, kiranya pemuda iblis itu telah lari mengejar kakek bongkok yang juga telah melarikan diri amat cepatnya. Kim-to Lai Ban menggeget giginya sambil memandang jauh ke depan sampai dua bayangan itu lenyap, kemudian menghela napas dengan penuh duka sambil menggeleng-gelengkan kepala.

Sungguh tak dia sangka bahwa hari ini nama besarnya, juga nama besar Tiat-ciang-pang akan hancur hanya oleh seorang bocah yang tak ternama! Dengan hati penuh penasaran dan dendam terhadap Keng Hong, Kim-to Lai Ban segera menyuruh para anak buahnya mengangkut empat jenazah itu dan membawa pergi dari tempat itu.

Dia maklum bahwa mengejar pemuda itu takkan ada gunanya. Sudah dia saksikan betapa ilmu berlari cepat pemuda itu amat hebatnya ketika mengejar si kakek bongkok, bagaikan terbang saja. Dan ilmu kepandaiannya pun mukjijat. Belum lagi diingat kakek bongkok itu yang juga memiliki kesaktian.

Biarlah untuk sekali ini Tiat-ciang-pang boleh mengaku kalah, akan tetapi urusan ini tidak akan habis sampai di situ saja! Pada suatu saat, dendam ini harus terbalas! Demikianlah tekad hati Lai Ban sambil mengiring jenazah ke empat orang kawan, atau lebih tepat, dua orang sute dan dua orang anak buah itu kembali ke pusat Tiat-ciang-pang yang berada di sebuah di antara puncak-puncak pegunungan Bayangkara&.

********************

cerita silat online karya kho ping hoo

Kakek kecil pendek yang bongkok itu ternyata dapat lari cepat sekali. Tadinya kakek itu menggunakan ilmu berlari cepat secara melompat-lompat sepert katak, sekali melompat ada sepuluh meter jauhnya dan begitu kakinya tiba di atas tanah terus melompat lagi ke depan.

Akan tetapi Keng Hong yang oleh mendiang gurunya digembleng terutama sekali untuk tenaga dan kecepatan, dapat bergerak lebih cepat lagi. Tubuh pemuda yang kini terlalu penuh dengan hawa sinkang ‘rampasan’ dari orang-orang Tiat-ciang-pang tadi, sekarang ringan seperti sebuah balon karet penuh hawa, maka dia dapat berlari cepat dan ringan sekali mengejar sambil berteriak, makin lama makin dekat.

"Locianpwe, tunggu dulu...!" Mendengar ini, kakek itu berlari makin cepat lagi.

"Heiii, Locianpwe yang bongkok, tunggu...!" Suara Keng Hong makin keras.

Ketika kakek itu menoleh dan melihat betapa pemuda itu mengejarnya dengan cara yang sama, yaitu melompat-lompat seperti katak, akan tetapi dengan lompatan yang lebih jauh dari pada lompatannya, dia terkejut sekali dan cepat mengubah caranya berlari. Kini dia tidak berlompatan lagi, namun berlari dengan gerakan yang luar biasa cepatnya sehingga kedua kakinya itu lenyap bentuknya dan tampak seperti kitiran berputar sehingga terlihat bagaikan roda. Langkah-langkahnya pendek-pendek, sesuai dengan kedua kakinya yang pendek-pendek, namun gerakannya cepat sekali sehingga tubuhnya meluncur ke depan seperti seekor kuda membalap.

"Heh-heh-heh, tak mungkin kau dapat mengejarku lagi, bocah bandel" Kakek itu terkekeh dan mengerahkan seluruh tenaganya untuk berlari secepat mungkin.

Beberapa lamanya kakek itu berlari sampai dia merasa yakin bahwa pemuda itu kini tentu telah tertinggal jauh dan kalau dia teruskan, napasnya mungkin akan putus meninggalkan tubuhnya yang sudah amat tua. Selagi dia hendak memperlambat larinya, tiba-tiba dekat sekali di belakangnya terdengar teriakan Keng Hong.

"Heiii, Locianpwe, mengapa melarikan diri? Saya hendak bicara..!"

Kakek bongkok itu menengok dan alangkah kagetnya ketika mendapat kenyataan bahwa kini pemuda itu pun berlari cepat seperti dia, cepat sekali seperti terbang melayang saja. Karena merasa bahwa lari pun tidak ada gunanya, kakek itu berhenti dan membalikkan tubuh menanti sampai Keng Hong tiba di depannya.

Muka pemuda itu masih merah sekali, sampai matanya pun masih merah sebagai akibat dari pada kebanjiran sinkang pada tubuhnya, akan tetapi dia sudah agak tenang karena kelebihan hawa sakti itu tadi sudah banyak dia pergunakan untuk melakukan pengejaran terhadap kakek yang amat cepat larinya itu, dan juga pada sepanjang jalan Keng Hong sempat menggunakan tangannya mendorong roboh beberapa batang pohon besar.

"Ehh, bocah yang keji seperti setan. Apakah engkau masih belum kenyang sehingga terus mengejarku untuk menyedot habis sinkang-ku dengan ilmu sesatmu Thi-khi I-beng?" Dia bertanya sambil memandang tajam. "Seekor lintah sudah puas dengan hanya menyedot darah sampai kenyang, akan tetapi engkau menyedot hawa orang sampai empat orang mati masih belum puas, sungguh jauh lebih keji dari pada seekor lintah!"

Keng Hong mengerutkan alisnya dengan hati risau. "Locianpwe, benarkah ada ilmu yang dinamai Thi-khi I-beng itu? Apakah benar tenaga menyedot yang keluar dari tubuhku itu tadi Ilmu Thi-khi I-beng?"

Kakek itu membusungkan dada menegakkan kepala dan memandang Keng Hong dari bawah dengan sikap seorang guru memandang muridnya, kemudian dia menunjuk hidung sendiri sambil berkata,

"Aku Siauw-bin Kuncu (Budiman Berwajah Ramah) selamanya tidak suka membohong. Seorang kuncu (budiman) tidak akan membohong! Terang bahwa kau tadi menggunakan ilmu menyedot sinkang lawan, apa lagi namanya jika bukan Thi-khi I-beng yang kabarnya sudah lenyap dari permukaan bumi dan dibawa lari ke neraka untuk dijadikan ilmu para iblis dan setan? Akan tetapi kini ternyata engkau memilikinya. Hihh, sungguh mengerikan, sungguh keji menakutkan!"

Sesudah berkata demikian, dia bergidik dan mengangkat guci araknya, terus menuangkan isi guci ke dalam mulutnya sampai terdengar bunyi menggelogok. Kemudian dia menutup mulut guci, mukanya menjadi merah dan wajahnya tertawa-tawa lagi.

"Heh-heh-heh, seteguk arak mengusir semua kerisauan hati! Biar pun engkau mempunyai ilmu iblis, tentu tak akan kau pergunakan untuk menyedot hawa dari tubuhku, bukan?"

Dengan cepat Keng Hong menggelengkan kepala. "Locianpwe telah menolong saya, telah menyelamatkan nyawa saya dengan sambitan tadi, mengapa saya hendak mengganggu locianpwe yang budiman? Tidak sama sekali, bahkan saya mengejar locianpwe agar bisa menghaturkan terima kasih atas pertolongan itu dan .."

"Tidak ada tolong menolong! Siapa suka menolong orang yang semuda ini telah memiliki ilmu begitu keji sehingga tidak segan-segan membunuh orang? Seekor lintah menyedot darah hanya secukupnya saja, setelah kenyang akan melepaskan diri. Akan tetapi engkau menyedot hawa orang sampai orang-orang itu mati. Aku tidak menolong siapa-siapa, aku hanya tidak suka melihat pembunuhan-pebunuhan."

"Ahh, akan tetapi saya tidak sengaja membunuh mereka, Locianpwe..."

"Bohong! Ingat, membohong itu tidak baik dan aku, Siauw-bin Kuncu selamanya tidak sudi membohong! Kebohongan itu perbuatan berantai, sekali berbohong engkau harus selalu membohong untuk menutupi kebohongan-kebohongan yang terdahulu."

Keng Hong menahan senyumnya, "Saya tak perlu berpura-pura, Locianpwe, sekali waktu, kalau perlu saya akan membohong. Akan tetapi sungguh saya tidak pernah mempunyai niat di hati untuk membunuh siapa pun juga. Dan ilmu Thi-khi I-beng yang tadi Locianpwe sebut-sebut itu sama sekali saya tidak mengerti dan tak pernah mempelajarinya. Tenaga penyedot yang berada di dalam tubuh saya ini bukan saya pelihara dan bergerak di luar kesadaran saya."

"Eh, ehh, ehh, mengapa begitu? Aku melihat engkau seorang bocah yang baik, maka aku condong memihakmu ketika engkau ribut-ribut dengan orang-orang Tiat-ciang-pang. Akan tetapi aku kecewa melihat engkau mempergunakan ilmu yang sesat itu. Dan sekarang kau mengatakan tidak sadar akan ilmu itu? Sungguh luar biasa...!"

"Sudahlah, Locianpwe. Sesungguhnya selain hendak menghaturkan terima kasih kepada Locianpwe, saya hendak mohon penjelasan, hendak bicara dengan Locianpwe…"

"Hemm, boleh. Bicara tentang apa?"

"Tentang air!"

Kakek itu melongo. Mulutnya masih tersenyum akan tetapi karena terbuka lebar kelihatan lucu, sepasang matanya terbelalak, tangan kirinya perlahan-lahan diangkat ke atas lantas menggaruk-garuk bagian atas kepalanya yang botak kelimis.

"Eh, orang muda, apakah kau sudah gila?" tanyanya, pertanyaan yang sungguh-sungguh dengan wajah serius, bukan main-main atau memaki.

Timbul kegembiraan di hati Keng Hong. Pemuda ini memang mempunyai dasar watak gembira, maka walau pun kelihatannya pendiam, setiap kali bertemu dengan orang yang bersikap riang dan lucu, tentu dia akan mudah terbawa riang pula...


Tag: Cerita Silat Online, Cersil, Kho Ping Hoo, Pedang Kayu Harum

Thanks for reading Pedang Kayu Harum Jilid 09.

Back To Top