Cersil Online Karya Kho Ping Hoo

Pedang Kayu Harum Jilid 43

Pedang Kayu Harum

Jilid 43

Karya Kho Ping Hoo

Go-bi Thai-houw memandang Keng Hong dengan mata terbelalak. Ia bergidik mengingat daya sedot yang keluar dari telapak tangan pemuda itu dan diam-diam merasa gentar karena maklum bahwa kalau dilanjutkan melawan pemuda ini, akhirnya dia akan kalah. Ia lalu menoleh dan melihat betapa Cui Im juga terdesak hebat, dikeroyok oleh Biauw Eng, Cong San dan lima orang hwesio Siauw-lim-pai. Bahkan Mo-kiam Siauw-ong agaknya sudah terluka dan Yan Cu sudah bersiap membantu pengeroyokan atas diri Cui Im.

Nenek itu tiba-tiba melengking nyaring dan dari kebutannya menyambar sinar-sinar kecil ke arah Keng Hong. Itulah bulu-bulu kebutan yang hampir separuhnya dari seluruh bulu kebutan itu meluncur bagaikan jarum-jarum panjang menyerang Keng Hong. Pemuda ini sudah maklum akan kelihaian si nenek iblis dan betapa bahayanya bulu-bulu itu, maka cepat pedangnya berkelebat membentuk gulungan sinar dan meruntuhkan semua senjata rahasia itu.

Kesempatan ini dipergunakan oleh Go-bi Thai-houw untuk mencelat ke belakang, lantas sekali sambar dia memegang lengan Mo-kiam Siauw-ong sambil berseru, "Muridku, kita pergi dulu!"

Cui Im yang sudah terdesak hebat itu tertawa. Segera pedangnya berputar cepat sekali, membuat para pengeroyoknya menangkis dan mundur. Ia lalu meloncat ke belakang dan tangannya terayun. Berhamburanlah jarum-jarum merah ke arah para pengeroyok.

Tentu saja para pengeroyok yang terdiri dari orang-orang pandai itu dapat menghindarkan diri dari jarum-jarum ini, bahkan Biauw Eng yang maklum bahwa sekali terlepas akan sukar melepas bekas suci-nya, sudah melepaskan senjata-senjata rahasianya yang tidak kalah hebatnya dari pada jarum-jarum merah Cui Im, yaitu bola-bola kecil putih berduri dan sebatang tusuk konde bunga bwee.

Terdengar suara berdencingan nyaring dan ternyata semua senjata rahasia itu runtuh disambar kebutan Go-bi Thai-houw yang memberi kesempatan kepada Cui Im untuk lari lebih dulu. Sekarang para pengeroyok Cui Im menerjang nenek itu, akan tetapi dengan memutar kebutan, nenek itu bisa menghalau semua pengeroyok kemudian sekali melesat dia telah meloncat jauh sambil menarik tubuh Mo-kiam Siauw-ong.

Keng Hong tidak mengejar karena dia telah berlutut di dekat tubuh nenek Tung Sun Nio, memeriksa sebentar kemudian tetap berlutut dengan wajah berduka. Tanpa menoleh dia berteriak,

"Sumoi...!"

Yan Cu beserta Biauw Eng ingin sekali mengejar musuh, akan tetapi mendengar suara panggilan suheng-nya, Yan Cu menoleh dan wajahnya berubah pucat. Cepat dia berlari menghampiri dan begitu melihat subo-nya yang masih duduk bersila, dia cepat berlutut dan menangis.

"Subo...! Subo...!" Suaranya tercekik di kerongkongan dan dia tentu roboh pingsan kalau tidak cepat dirangkul oleh Keng Hong yang menghiburnya,

"Sumoi, kuatkan hatimu!"

Biauw Eng juga berlutut di hadapan tubuh Tung Sun Nio yang telah menjadi mayat itu. Ketika Cong San hendak lari menghampiri, Thian Lee Hwesio berkata,

"Yap-sute...!"

Cong San tersentak kaget dan menoleh. Suara suheng-nya tadi terdengar keras seperti mengandung kemarahan, apa lagi ketika dia memandang kelima orang suheng-nya dan melihat sikap mereka yang kaku dan dingin.

"Ada apakah...?" Ia tergagap bertanya.

"Sute, hayo tinggalkan tempat ini dan ikut kami menghadap suhu. Tempat dan keluarga ini tidak layak bagimu dan ada urusan besar mengenai kedudukan suhu sebagai ketua Siauw-lim-pai!"

Cong San makin terbelalak heran dan kaget. "Akan tetapi...!"

Dia menoleh dan melihat Yan Cu, isterinya, menangis tersedu-sedu dihibur Keng Hong yang merangkulnya. Ada perasaan yang sangat tidak enak naik ke hati serta kepalanya, akan tetapi cepat ditekannya dan dia menjawab,

"Mana mungkin, Suheng? Aku baru saja menikah dan... dan guru isteriku agaknya sudah meninggal... biarlah kelak aku menyusul Suheng."

"Yap Cong San! Kalau engkau tidak mau memutuskan hubungan dengan isterimu beserta keluarganya, engkau bukan sute kami lagi, bukan murid Siauw-lim-pai lagi!" kata Thian Lee Hwesio dengan sikap dingin dan suara mengandung kemarahan.

Cong San menjadi terkejut sekali. "Suheng! Ada apakah...? Apa artinya semua ini...?"

Thian Lee Hwesio mengerti bahwa tadi sute-nya ini tidak mendengarkan kata-kata Go-bi Thai-houw dan belum tahu akan rahasia yang amat memalukan dari suhu mereka.

"Mari engkau ikut kami dan akan kami ceritakan semua. Pendeknya, kalau engkau ingin dianggap sebagai murid Siauw-lim-pai, engkau harus taat kepada kami dan memutuskan hubunganmu dengan mereka itu!"

Cong San mengerutkan keningnya. Apa pun yang sudah terjadi, tidak mungkin dia dapat memutuskan hubungannya sebagai suami isteri dengan Yan Cu yang dicintanya, dan dia merasa penasaran melihat sikap suheng-suheng-nya.

"Suheng tidak adil. Biarlah kelak aku menghadap suhu dan minta pengadilan!"

Lima orang hwesio itu menghela napas, kemudian tanpa berkata apa-apa mereka pergi meninggalkan tempat itu, meninggalkan Cong San yang masih berdiri dengan kedua alis berkerut. Setelah menggerakkan kedua pundak karena benar-benar merasa bingung dan tidak mengerti akan sikap lima orang suheng-nya, dia lalu menghampiri Yan Cu yang masih menangis. Tanpa berkata apa-apa dia lalu berlutut di dekat isterinya. Keng Hong melepaskan rangkulannya dan berbisik,

"Cong San, kau hiburlah isterimu," katanya perlahan yang tidak dijawab oleh Cong San, akan tetapi dia segera merangkul pundak isterinya. Yan Cu tersedu dan menyandarkan kepalanya di dada suaminya.

"Aihhhh... Subo... tewas dalam membela kita...! Si keparat Bhe Cui Im, aku bersumpah hendak membalas kematian Subo!" Teriak Yan Cu. Baginya, nenek Tung Sun Nio bukan hanya merupakan seorang guru, melainkan juga menjadi pengganti ibu karena sejak kecil dia dirawat dan dididik oleh nenek itu.

"Sumoi, tenanglah. Lupakah engkau bahwa kematian adalah kehendak Tuhan? Tangan Cui Im dan Go-bi Thai-houw hanya merupakan alat saja bagi kematian Subo. Kalau Thian tidak menghendaki, biar ada sepuluh Go-bi Thai-houw tak mungkin Subo sampai tewas. Pula, Subo sudah berusia tinggi dan beliau tewas sebagai seorang gagah perkasa, tewas dalam pertempuran melawan musuh yang memang amat sakti. Lebih baik kita mengurus jenazahnya secara baik-baik."

Pertempuran sudah selesai karena melihat betapa pimpinan mereka melarikan diri, para sisa anak buah bajak cepat melarikan diri pula. Ada beberapa orang di antara mereka yang tidak sempat lari dan roboh oleh para tokoh kang-ouw yang mengamuk.

Ternyata perang kecil itu menjatuhkan korban yang amat banyak, terutama sekali di pihak bajak yang kehilangan lebih dari lima puluh orang yang kini malang melintang menjadi mayat. Belasan orang tamu yang tidak berkepandaian juga menjadi korban, dan enam orang kang-ouw yang tadinya menjadi tamu, tewas pula. Ada beberapa orang terluka, di antaranya Ouw Kian ketua Tiat-ciang-pang yang terluka pahanya karena sabetan golok.

Kini mereka sibuk mengobati yang terluka serta mengurus mayat-mayat yang memenuhi lereng Gunung Cin-ling-san. Pesta suka ria menyambut pernikahan dua pasang mempelai kini berubah menjadi perkabungan yang menyedihkan disertai sumpah serapah terhadap para bajak yang datang mengacau, terutama sekali terhadap dua orang tokoh golongan hitam, yaitu Ang-kiam Bu-tek dan Go-bi Thai-houw.

Biauw Eng dan Yan Cu menangisi jenazah Tung Sun Nio. Setelah mereka mengangkat jenazah nenek itu ke dalam ruangan rumah yang masih belum dimakan api sebab keburu dipadamkan oleh para tokoh kang-ouw yang tadi ikut bertanding membantu pihak tuan rumah, kedua orang pengantin wanita ini lantas mencari ganti pakaian untuk mengganti pakaian pengantin mereka.

Ketika Yan Cu bertukar pakaian menanggalkan pakaian penggantinya, barulah ia terkejut melihat tanda darah di pakaian dalam yang dipakainya ketika bertanding tadi. Maklumlah ia bahwa tendangan kaki Go-bi Thai-houw tadi biar pun tidak mendatangkan luka dalam yang parah, namun telah mengakibatkan sesuatu di bagian tubuhnya yang membuat ia merasa terkejut dan juga cemas sekali. Kedua pipinya menjadi pucat, kemudian merah. Ia cepat membersihkan darah dan berganti pakaian, kemudian keluar lagi untuk mengurus jenazah gurunya dengan hati penuh duka.

Sementara itu, Keng Hong dan Cong San sibuk mengurus mayat-mayat para tamu yang menjadi korban dan para sahabat kang-ouw yang juga tewas di dalam pertandingan tadi. Setelah senja tiba, mereka yang dibantu orang-orang kang-ouw dan penduduk di wilayah Pegunungan Cin-ling-san, baru menyelesaikan tugas mereka menguburkan semua mayat termasuk mayat-mayat para bajak.

Jenazah nenek Tung Sun Nio dimasukan dalam peti dan selama sehari semalam mereka mengadakan upacara sembahyang dengan penuh duka. Pada hari kedua, peti itu dikubur, diiringi tangisan Yan Cu dan Biauw Eng. Setelah selesai, barulah Yan Cu teringat akan ucapan nenek Go-bi Thai-houw, maka ia menghampiri suaminya yang kelihatannya selalu bermuram sambil berkata,

"Kita harus cepat pergi ke Siauw-lim-si. Aku sangat mengkhawatirkan keadaan gurumu, ketua Siauw-lim-pai."

"Hemmm... mengapa?" Mendengar suara suaminya, Yan Cu memandang dengan heran.

Suara itu demikian kaku dan dingin, sedangkan pandang mata suaminya selalu seperti hendak menghindari pertemuan secara langsung. Sejak mereka bersembahyang sebagai suami isteri, mereka tidak mendapat kesempatan untuk banyak bicara dan berkumpul berdua saja sehingga pada saat itu dia hanya menjadi isteri dalam sebutan saja.

"Apakah yang terjadi, Sumoi?" mendengar percakapan mereka, Keng Hong bertanya dan memandang Yan Cu dengan sinar mata penuh selidik.

Juga Biauw Eng menghampiri dan memegang lengan Yan Cu sambil bertanya, "Mengapa engkau mengkhawatirkan keadaan ketua Siauw-lim-pai?"

Dengan suara tersendat-sendat dan air mata kembali mengalir mengingat akan nasib subo-nya yang sebelum tewas di tangan Go-bi Thai-houw lebih dahulu harus mendengar betapa rahasia pribadinya yang tidak harum itu dibongkar oleh nenek iblis itu, yang tidak didengar oleh Cong San, Keng Hong dan Biauw Eng, Yan Cu lalu menceritakan akan ucapan-ucapan Go-bi Thai-houw.

"Pembongkaran rahasia Subo yang sudah sama kita ketahui itu didengar pula oleh lima orang hwesio Siauw-lim-pai sehingga mereka itu kelihatan marah. Mereka menghentikan pertandingan kemudian mendesak kepada mendiang Subo untuk mengatakan hal yang sebenarnya. Subo mengaku dan... dan para hwesio itu agaknya menjadi amat benci dan menyesal, sehingga mereka tidak mau membantu kami, bahkan baru mau turun tangan membantu mengeroyok Cui Im setelah didesak oleh Subo. Maka aku khawatir kalau-kalau mereka itu akan membawa perkara ini ke Siauw-lim-pai dan..."

"Ahhh! Begitukah? Pantas saja sikap mereka tiba-tiba menjadi murung dan marah-marah kepadaku!" Cong San tiba-tiba berkata.

"Sikap mereka bagaimana, Cong San?" Keng Hong bertanya.

Cong San sejenak memandang Keng Hong dan pendekar muda yang sakti ini, seperti juga Yan Cu, melihat sesuatu yang aneh dalam pandang mata Cong San, seakan-akan pemuda itu menjadi dingin terhadapnya. Cong San membuang muka dan menggeleng kepalanya.

"Tidak apa-apa, hanya aku... aku sekarang juga harus menyusul para suheng itu pulang ke Siauw-lim-si! Aku akan berangkat sekarang!" Sambil berkata demikian, murid Siauw-lim-pai itu bangkit berdiri, membalikkan tubuhnya dan hendak pergi dari situ.

"San-koko...!" Tiba-tiba saja Yan Cu meloncat bangun dan menghampiri Cong San yang membalikkan lagi tubuhnya secara acuh tak acuh, "Apakah engkau tidak mengajak aku?"

"Ahhh... maaf, kusangka kau... akan mengabungi kematian subo-mu dan... dan... ahh, aku menjadi bingung oleh urusan suhu sehingga terlupa..."

"Aku ikut bersamamu!" kata Yan Cu yang memandang suaminya dengan terheran-heran dan juga kasihan karena dia mengira bahwa suaminya menjadi seperti linglung karena benar-benar terlalu mengkhawatirkan keadaan gurunya dan karena pukulan batin yang terjadi akibat penyerbuan bajak-bajak itu!

"Marilah...," jawab Cong San, sikapnya masih dingin.

"Suheng, Biauw Eng cici, aku pergi dulu!" kata Yan Cu.

Biauw Eng dan Keng Hong hanya bisa mengangguk dan setelah mereka berdua pergi, mereka saling berpandangan dengan penuh keheranan. Keadaan di situ menjadi sangat sunyi karena para tamu telah pulang semua, sunyi dan amat menyeramkan kalau mereka teringat akan peristiwa hebat yang terjadi dua hari yang lalu.

Keng Hong menjadi terharu sekali ketika memandang bayangan Yan Cu yang menghilang bersama suaminya. Ia merasa amat kasihan kepada sumoi-nya itu yang harus mengalami kedukaan hebat pada saat pernikahannya. Saat yang mestinya menjadi saat yang paling mengembirakan bagi sumoi-nya berubah menjadi saat yang menyedihkan.

Pemuda yang sudah banyak tergembleng oleh pengalaman-pengalaman pahit di dalam hidupnya ini, biar pun masih muda, sudah pandai menyisihkan diri pribadi ke samping dan lebih memprihatikan keadaan orang lain. Dia lupa bahwa mala petaka itu bukan hanya menimpa diri sumoi-nya, akan tetapi juga dia sendiri, akan tetapi tidak ada penyesalan untuk dirinya sendiri!

"Kasihan sekali Sumoi..., heran, mengapa sikap Cong San seperti itu?" Ia menggumam seperti bicara kepada diri sendiri.

"Aihhh..., aku mengerti sekarang!" Tiba-tiba Biauw Eng berseru. Semenjak tadi dia pun memikirkan Cong San yang dingin dan wajahnya yang muram itu. "Dia cemburu!"

Keng Hong tertegun, tidak mengerti. "Siapa yang cemburu?"

"Yap Cong San, hatinya penuh cemburu, pantas saja sikapnya seperti itu!"

"Hah?! Cemburu? Kepada siapa?"

"Kepada Yan Cu tentu! Kalau tidak cemburu kepada isterinya, kepada siapa lagi?"

"Apa?! Cong San cemburu kepada Yan Cu? Apa maksudmu? Dicemburukan dengan siapa?"

"Dengan siapa lagi kalau bukan dengan engkau, Keng Hong! Betapa bodohnya engkau!"

Keng Hong makin melongo. "Apa? Mencemburukan Yan Cu dengan aku? Dia sumoi-ku sendiri! Dan mengapa Cong San mencemburukannya dengan aku?"

Melihat keheranan suaminya, Biauw Eng tersenyum menggoda, "Justru karena engkau suheng-nya inilah maka dia cemburu setengah mati!"

Keng Hong mengerutkan keningnya melihat isterinya tersenyum seperti itu. "Eh, Moi-moi, jangan main-main kau! Ini urusan penting dan besar. Apakah sesungguhnya yang sudah terjadi sehingga kau menduga Cong San cemburu?"

"Bukan hanya menduga, bahkan aku yakin. Dan semua ini gara-gara si keparat Bhe Cui Im!"

Mendengar ini, Keng Hong menjadi semakin khawatir. Terbayanglah olehnya akan semua pengalamannya dahulu pada saat dia pun termakan racun cemburu terhadap Biauw Eng akibat perbuatan Cui Im yang amat licik, maka dia cepat bertanya,

"Apa maksudmu? Ceritakanlah!"

Biauw Eng lalu menceritakan mengenai ucapan-ucapan Cui Im yang merupakan racun berbahaya, fitnahan-fitnahan yang dilontarkan oleh Cui Im terhadap hubungan antara Yan Cu dan Keng Hong di depan Cong San.

"Melihat sikap Cong San, tidak salah lagi dugaanku bahwa tentu dia sudah terkena racun itu dan menjadi cemburu terhadap isterinya, dalam hubungannya dengan engkau."

Wajah Keng Hong berubah merah sekali mendengar penuturan ini dan dia pun mengepal tinjunya. "Celaka! Kalau begitu aku harus cepat mengejar mereka untuk meyakinkan hati Cong San!"

Biauw Eng cepat memegang lengan suaminya yang sudah hendak melompat dan berlari mengejar Cong San dan Yan Cu.

"Tenanglah. Orang yang bersalah selalu ingin tergesa-gesa menyangkal kesalahannya, sebaliknya orang yang sabar akan tetap tenang karena yakin akan kebenarannya. Kalau kepercayaan Cong San demikian dangkal terhadap isteri sendiri sehingga hatinya diracun cemburu, biarlah dia merasakan dan mengalami penderitaan dari kebodohannya sendiri. Kalau engkau tergesa-gesa mengejar mereka dan menyangkal semua itu, hatinya bukan menjadi yakin malah akan lebih besar rasa cemburunya. Biarkan mereka pergi."

Keng Hong menghela napas panjang. "Engkau betul, isteriku. Engkau selalu benar karena dalam hal cemburu ini aku sendiri sudah merasakannya, sudah banyak menderita karena kebodohanku itu. Akan tetapi, menurut penuturan Yan Cu tadi, akan terjadi hal-hal yang hebat di Siauw-lim-pai mengenai diri dan kedudukan Tiong Pek Hosiang terkait dengan urusannya di waktu muda dengan subo. Karena hal ini menyangkut diri mendiang suhu dan subo-ku, dan juga berarti menyangkut diri mendiang ayah kandungmu dan ibu tirimu, sudah sepatutnya kalau kita berusaha meredakannya dan mengunjungi Siauw-lim-pai."

Biauw Eng mengangguk-angguk, lalu menjawab tenang, "Sepatutnya, memang. Namun tak semestinya. Urusan ketua Siauw-lim-pai dan para muridnya merupakan urusan dalam partai itu sendiri. Cong San adalah murid Siauw-lim-pai, ada pun Yan Cu adalah isterinya, sudah semestinya kalau mereka itu menyusul ke Siauw-lim-si. Akan tetapi, kita berdua adalah orang-orang luar, bagaimana kita boleh lancang mencampuri urusan dalam Siauw-lim-pai? Jangan-jangan nantinya justru akan timbul salah faham dan akan mengakibatkan permusuhan. Keng Hong, sungguh pun tidak sempurna, tapi engkau telah berhasil untuk melenyapkan sikap permusuhan dunia kang-ouw terhadap mendiang ayahku dan engkau telah mengalami banyak hal yang tidak menyenangkan dari permusuhan itu. Apakah tidak mengerikan kalau sampai pihak Siauw-lim-pai menjadi salah faham oleh campur tangan kita dan memusuhi kita? Alasan apa yang akan kau kemukakan, hak apa yang kau miliki untuk mencampuri urusan dalam mereka?"

Keng Hong merasa terpukul dan sejenak dia tidak mampu menjawab, hanya memandang wajah isterinya itu sampai lama, baru kemudian dia menjawab dengan ketenangan goyah, "Eng-moi... isteriku yang bijaksana, habis bagaimana baiknya menurut pendapatmu?"

"Kita tidak perlu mencampuri urusan pribadi ketua Siauw-lim-pai bila kita tak ingin terlibat ke dalam permusuhan yang tidak enak. Akan tetapi benar seperti katamu tadi bahwa urusan itu masih menyangkut pula diri mendiang ayahku dan ibu tiriku, maka sebaiknya kita melihat-lihat dari dekat sambil melakukan perjalanan tamasya di dekat daerah Siauw-lim-si. Bukankah kita dalam masa pengantin baru dan dalam suasana bulan madu? Ada pun tentang Cong San yang cemburu, kelak engkau bisa saja mengirim surat kepadanya, mencoba untuk meyakinkan hatinya dan mengusir perasaan cemburu yang berbahaya itu dari hatinya. Bagaimana, setujukah?"

Keng Hong menjadi girang sekali, wajahnya berseri dan dia memeluk isterinya.

"Engkau hebat, Moi-moi. Satu pertanyaan lagi."

"Perlukah itu?"

"Perlu sekali, pertanyaan yang timbul dari sikap Cong San yang terkena racun omongan Cui Im. Hatiku tak akan tenteram sebelum mendapat jawabanmu."

"Tanyalah."

"Mendengar ucapan-ucapan Cui Im yang beracun, Cong San menjadi cemburu kepada Sumoi, bagaimana dengan engkau? Apakah engkau tidak cemburu kepadaku? Mengingat akan tingkah lakuku di masa lalu..."

"Husshhh... sudahlah. Aku bukan orang yang suka menangisi masa lalu, melainkan orang yang melihat masa depan. Hal-hal yang sudah lalu itu kuanggap sebagai ujian terhadap cinta kasihmu kepadaku, Keng Hong. Buktinya, pada saat terakhir engkau tetap memilih aku sebagai isterimu!"

"Biauw Eng..." Keng Hong menjadi terharu dan merasa bahagia sekali, dirangkulnya leher isterinya dan diciumnya bibir yang mengucapkan kata-kata bijaksana itu.

Akan tetapi hanya sebentar saja Biauw Eng membalas ciumannya, lalu merenggutkan dirinya terlepas dari ciuman dan pelukan suaminya. "Jangan di sini! Apa kau tidak malu?"

Keng Hong tersenyum menggoda. "Malu-malu kucing! Malu kepada siapa? Di sini tidak ada orang..."

Biauw Eng melotot dan bertolak pinggang, dengan sikap marah buatan. "Di depan makam subo-mu kau masih berani bilang di sini tidak ada orang?"

"Wah-wah-wah, kau benar... aku salah lagi. Maafkan aku, Moi-moi, akan tetapi ada satu permintaan lagi dariku."

"Asal yang pantas, sebagai isterimu tentu saja aku akan memenuhi permintaanmu."

"Setelah kita menikah, mengapa engkau masih saja menyebut aku dengan namaku begitu saja? Engkau benar-benar isteri yang kurang ajar!"

Biauw Eng menjadi merah kedua pipinya. "Maafkan aku... Koko..."

Demikianlah, hanya mereka yang pernah mengalami masa pengantin baru sajalah yang dapat merasakan kebahagian yang dirasakan Keng Hong dan Biauw Eng pada saat itu. Omongan-omongan kecil-kecil yang kosong, pandangan mata yang saling mencurahkan, percakapan tanpa kata dengan kasih sayang mendalam dan mesra, gerakan-gerakan yang kelihatan tidak berarti, senyuman-senyuman penuh madu, semua ini membuat sinar matahari kelihatan amat cerah, warna-warni di permukaan bumi menjadi lebih cemerlang dan dunia kelihatan indah bukan main, seolah-olah dalam sekejap mata berubah menjadi sorga!

Ketika hendak berangkat meninggalkan bekas tempat tinggal nenek Tung Sun Nio yang kini menjadi makamnya, Biauw Eng memasuki bekas rumah yang terbakar untuk mencari sisa-sisa pakaian dan barang-barang berharga untuk dibawa pergi sebagai bekal dalam perjalanannya berbulan madu dengan suaminya.

Dia melihat pakaian pengantin Yan Cu bertumpuk di sudut kamar yang tadinya disediakan untuk kamar pengantin Yan Cu dan Cong San. Sambil menghela napas panjang, karena diam-diam dia mengkhawatirkan kebahagiaan Yan Cu dengan suaminya, lalu diambilnya pakaian pengantin itu dengan maksud untuk dibawanya dan kelak diberikannya kepada Yan Cu. Pakaian pengantin tidak boleh dibuang begitu saja karena pakaian itu merupakan benda pusaka peringatan bagi seorang isteri.

Akan tetapi, betapa terkejutnya ketika dia melihat tanda-tanda darah pada pakaian bagian bawah. Dia memegangi pakaian itu dengan alis berkerut. Jelas bahwa Yan Cu terluka di dalam pertempuran tadi, akan tetapi mengapa Yan Cu diam saja, bahkan tidak kelihatan seperti orang menderita luka sama sekali? Tentu hanya luka ringan, akan tetapi sampai berdarah!

Biauw Eng memutar otaknya, kemudian mengangguk-angguk dan hatinya makin khawatir akan kebahagiaan Yan Cu. Akan tetapi diam-diam dia menyimpan pakaian itu dan telah mengambil keputusan untuk tidak menceritakan kepada siapa juga.

Tidak lama kemudian, suami isteri yang masih pengantin baru ini bergandengan tangan meninggalkan lereng Pegunungan Cin-ling-san, menuju ke timur di mana matahari pagi yang cerah menyinarkan cahaya keemasan. Permulaan yang baik bagi mereka, seakan mereka sedang memulai dengan perjalanan hidup baru, menuju sinar terang! Akan tetapi siapa tahu apa yang menanti di depan? Perjalanan hidup penuh lika-liku, penuh rahasia dan peristiwa yang tak terduga-duga sebelumnya, seolah-olah keadaan laut yang kadang-kadang tenang kadang-kadang bergelombang…..

********************

Cong San dan Yan Cu melakukan perjalanan yang cepat. Ilmu ginkang mereka yang tinggi membuat mereka dapat lari cepat dengan kaki yang ringan sekali. Akan tetapi, hati mereka tidaklah seringan gerakan kaki mereka. Hati mereka berat dan terhimpit, tertekan oleh duka dan keraguan.

Di sepanjang perjalanan itu, Cong San selalu murung dan pendiam, sedangkan Yan Cu yang menyangka bahwa suaminya tentu sangat gelisah memikirkan gurunya dan masih berduka oleh peristiwa yang menimpa saat pernikahan mereka, ikut pula berprihatin dan sekali-kali apa bila ada kesempatan, berusaha menghibur suaminya yang disambut oleh Cong San dengan dingin.

Tidak keliru dugaan Biuaw Eng. hati Cong San terhimpit oleh rasa cemburu. Dan karena pemuda ini berusaha sekuat tenaga batinnya untuk mengusir dan melawan perasaan ini, maka terjadilah perang hebat di dalam hatinya yang membuatnya di sepanjang perjalanan itu murung dan pendiam. Terngiang dalam telingannya selalu ucapan Cui Im ketika dia bertanding melawan iblis betina itu.

"Yap Cong San, apakah kau kira isterimu itu belum ditiduri Keng Hong?"

Dia mengerutkan alis dan berusaha mengusir gema suara ini, akan tetapi dia malah mendengar suara Cui Im yang melontarkan tuduhan-tuduhan keji,

"Kau pemuda tolol yang tidak mau melihat kenyataan! Engkau mengenal siapa Keng Hong. Aku berani bertaruh bahwa isterimu itu bukan gadis lagi. Karena hanya Biauw Eng satu-satunya gadis yang belum bisa dia dapatkan, maka dia memilih Biauw Eng. Isterimu adalah bekasnya, hi-hi-hik!"

"Keparat betina bermulut keji Bhe Cui Im!" dia berusaha sekuat tenaga untuk melupakan semua ucapan itu.

Fitnah belaka, pikirnya. Akan tetapi, seolah-olah setan selalu mendekati benaknya, dan tiba-tiba saja di depan matanya terbayang adegan yang dianggapnya tidak semestinya, di depan tubuh Tung Sun Nio yang sudah menjadi mayat, Yan Cu menangis dan dirangkul oleh Keng Hong yang berbisik-bisik dengan sikap mesra!

Sesudah gadis itu menjadi isterinya, Keng Hong masih merangkulnya, apa lagi sebelum menjadi isterinya! Mereka pernah melakukan perjalanan berdua, selama berbulan-bulan. Yan Cu demikian cantik jelita, tidak mungkin ada pria yang tidak timbul gairahnya jika melihat Yan Cu.

Dan Keng Hong seorang pria yang tampan dan gagah perkasa. Gagah perkasa dan lihai sekali, jauh melebihi dirinya! Juga dia pun sudah tahu akan sifat Keng Hong yang mata keranjang, suka akan wanita-wanita cantik.

Hanya Biauw Eng yang belum bisa didapatkannya, maka Keng Hong memilih Biauw Eng! Yan Cu adalah bekasnya, pernah ditidurinya! Bekasnya! Pernah ditidurinya! Ucapan ini terngiang berkali-kali di dalam kepala dan langsung menusuk hati Cong San sehingga tiba-tiba dia mengeluarkan seruan keras,

"Tidak! Keparat! Tidak...!" Dia berhenti dan memejamkan sepasang matanya, tubuhnya bergoyang-goyang.

Yan Cu terkejut sekali dan mendekap pundak suaminya, "Koko, engkau kenapakah? Ada apakah?" Ia bingung dan khawatir menyaksikan suaminya.

Bisikan-bisikan mengejek memenuhi telinga Cong San. Huh, perempuan rendah seperti ini, lemparkan saja. Dia membujuk-bujukmu mengandalkan kecantikannya, tahu? Tidak, bantah suara lain dalam hati Cong San. Engkau gila oleh cemburu yang dibangkitkan oleh omongan beracun Bhe Cui Im. Dalam beberapa detik itu terjadi perang hebat sekali dan akhirnya suara ke dua yang menang.

Cong San balas merangkul isterinya, mendekap kepala isterinya di dadanya. Yan Cu merasa demikian bahagia dan terharu sehingga ia menangis, menangis karena lega. Baru saat ini agaknya suaminya tersadar dari cengkeraman duka dan gelisah.

Mendengar isterinya terisak menangis dan air mata yang hangat membasahi dadanya, Cong San lalu membelai rambut yang halus hitam panjang mengharum itu.

"Maafkan aku, Moi-moi. Aku seperti gila karena... duka dan khawatir. Kalau urusan suhu sampai tersiar ke luar..., aihhh, kasihan sekali suhu. Dan para suheng itu... mereka adalah orang-orang beragama yang amat fanatik, tentu akan terjadi apa-apa dengan kedudukan suhu sebagai ketua Siauw-lim-pai."

Yan Cu merenggangkan mukanya kemudian menengadah, memandang wajah suaminya dengan air mata masih membasahi pipinya, akan tetapi sinar matanya mesra penuh kasih dan mulutnya tersenyum penuh hiburan.

"Jangan khawatir, suamiku. Suhu-mu adalah seorang sakti yang bijaksana sekali, tentu akan dapat mengatasi segala macam hal yang datang menimpa. Harap kau jangan terlalu banyak berduka dan bergelisah, karena kalau sampai engkau jatuh sakit... ahhh, akulah yang akan bersedih dan bergelisah."

"Yan Cu...! Isteriku, aku... aku cinta padamu!"

Yan Cu tersenyum dan sepasang pipinya menjadi merah sekali. Matanya yang indah itu mengerling penuh kemanjaan dan kemesraan, bibirnya berbisik, "Kalau tidak mencinta, masa mau menjadi suamiku? Aku pun cinta padamu, Koko..."

Cong San menunduk dan mencium isterinya. Sejenak mereka berdekapan dan lenyaplah semua duka dan kegelisahan, bahkan dalam saat itu Cong San seolah-olah mendengar sumpah-serapah setan yang suaranya selalu membujuk-bujuknya tadi, suara... Cui Im. Hampir dia tertawa sendiri, mentertawakan Cui Im, mentertawakan diri sendiri.

Akan tetapi dia teringat akan suhu-nya, melepaskan pelukan dan menggandeng tangan Yan Cu. "Betapa pun juga, kita tidak boleh terlambat. Aku harus hadir kalau para suheng hendak menuntut suhu karena peristiwa pada waktu mudanya itu, dan aku akan membela suhu."

Mereka melanjutkan perjalanan, berlari cepat sambil bergandengan tangan.

Cemburu bagaikan api yang menyala dan membakar perlahan-lahan. Kalau tidak cepat dipadamkan, akan dapat mengakibatkan kebakaran besar di dalam hati. Semenjak muda, Cong San sudah mendapat gemblengan batin dari gurunya sehingga meski pun ucapan-ucapan Cui Im merupakan racun hebat yang menyerangnya, merupakan api yang mulai membakar hatinya, namun dengan kebijaksanaan, tanpa adanya bukti, akhirnya dia dapat menguasainya dan dapat memadamkan api cemburu yang berbahaya itu.

Dia cukup bijaksana untuk menahan perasaannya sehingga pada waktu dia dilanda nafsu cemburu tadi, dia tidak pernah menyatakan sesuatu kepada Yan Cu, isterinya yang amat dicintanya itu, karena kalau sampai hal itu dilakukannya, tentu akan menimbulkan akibat yang lebih parah lagi.

********************

Kedatangan Cong San dan Yan Cu di kuil Siauw-lim-si tepat pada waktu persidangan besar antara pimpinan Siauw-lim-pai diadakan. Cong San, sebagai murid termuda akan tetapi sekaligus juga murid terpandai dari ketua Siauw-lim-pai, langsung memasuki ruang persidangan itu tanpa ada yang berani mencegah.

Begitu masuk, melihat wajah Tiong Pek Hosiang yang tenang namun pucat, menghadapi seluruh pimpinan Siauw-lim-pai yang terdiri dari hwesio-hwesio berkedudukan tinggi, para sute sang ketua sendiri serta para tokoh tua lainnya dalam suasana yang sunyi dan tegang, Cong San mengajak Yan Cu serta merta menjatuhkan diri berlutut di depan kaki Tiong Pek Hosiang.

Semua mata para dewan pimpinan memandang ke arah Cong San penuh keraguan dan ke arah Yan Cu penuh penyesalan. Mereka tadi sudah mendengar penuturan Thian Lee Hwesio dan empat orang sute-nya akan peristiwa yang terjadi di lereng Cin-ling-san dan mengenai pembongkaran rahasia pribadi ketua Siauw-lim-pai oleh Go-bi Thai-houw dan pengakuan terang-terangan dari Tung Sun Nio, isteri mendiang Sin-jiu Kiam-ong.

Tentu saja mereka menganggap dara yang cantik itu keturunan atau murid dari golongan-golongan sesat yang terkutuk sehingga mereka sependapat dengan Thian Lee Hwesio, yaitu bahwa gadis itu tidak patut menjadi isteri seorang murid Siauw-lim-pai yang paling mereka banggakan.

Tiong Pek Hosiang memandang muridnya dengan senyum di bibir, sikapnya tenang sekali dan dia mengangguk-angguk. "Baik sekali engkau mengambil keputusan untuk datang, Cong San. Engkau berhak untuk mengikuti persidangan ini, dan isterimu karena dia telah menjadi isterimu dan dia pun murid Tung Sun Nio, dia pun pinceng perbolehkan untuk mengikuti persidangan ini. Duduklah kalian di sana." Hwesio tua itu menuding ke kiri.

Tanpa banyak cakap karena dia mengerti bahwa suhu-nya tentu sudah mendengar akan pembongkaran rahasia pribadinya, Cong San mengajak Yan Cu duduk di atas bangku sebelah kiri, kemudian menanti dilanjutkan persidangan itu dengan hati tenang.

Hadirnya Thian Kek Hwesio yang duduk di kursi sama tinggi dengan ketua membuat hati Cong San makin tegang. Dia tahu apa artinya persidangan ini karena dia mengenal Thian Kek Hwesio sebagai tokoh Siauw-lim-pai yang selalu diangkat menjadi ketua penengah atau semacam hakim untuk mengadili jalannya persidangan!

Hwesio ini bertubuh tinggi besar, berkulit hitam, bermata lebar, sikapnya kasar akan tetapi dia jujur sekali dan karena kejujurannya inilah, karena semua orang tahu bahwa Thian Kek Hwesio ini menjunjung tinggi kejujuran dan keadilan melebihi segala apa di dunia, maka dia selalu diangkat untuk mengadili perkara-perkara yang timbul di kalangan para anggota Siauw-lim-pai sendiri. Dan memang dalam kedudukan atau tingkat, Thian Kek Hwesio menjadi orang ke dua setelah ketuanya.

Biar pun Thian Kek Hwesio juga menerima pelajaran ilmu dari Tiong Pek Hosiang dan berarti masih muridnya, murid ke dua karena murid pertama, Thian Ti Hwesio telah tewas di tangan Cui Im, namun hwesio tinggi besar berkulit hitam ini telah sejak kecil menjadi hwesio dan sebelumnya telah menerima ilmu silat dan pelajaran agama dari ketua yang lama. Ilmu silatnya, walau pun tidak setinggi tingkat Cong San yang mewarisi kepandaian suhu-nya, namun sudah membuat hwesio ini menjadi seorang tokoh Siauw-lim-pai yang terkenal.

"Thian Lee, boleh teruskan kata-katamu yang terputus oleh datangnya Cong San tadi," terdengar ketua Siauw-lim-pai berkata dengan suara halus dan sikap tenang.

Thian Lee Hwesio mengusap keringat dari dahi dengan ujung bajunya. Tugasnya amat berat dan menekan hatinya. Betapa dia tidak akan merasa berat kalau harus menjadi penuntut gurunya sendiri, bahkan ketuanya sendiri? Namun, dengan keyakinan bahwa yang dilakukannya adalah demi kebenaran, dia segera mengangkat muka dan berkata dengan suara nyaring.

"Teecu telah menceritakan semua yang terjadi di lereng Cin-ling-san dan semua kata-kata busuk yang diucapkan Go-bi Thai-houw. Seandainya kata-kata nenek itu ternyata hanya merupakan fitnah saja, teecu bersumpah akan membela kebersihan nama Suhu dengan pertaruhan nyawa teecu. Akan tetapi karena yang bersangkutan telah mengaku, terpaksa teecu mengajukannya ke sidang ini, sekali-kali bukan untuk mencelakakan Suhu, namun semata-mata demi menjaga kebersihan serta kehormatan nama Siauw-lim-pai. Sesudah nenek iblis itu membocorkan rahasia, tentu dia juga akan menyebar luaskannya ke dunia kang-ouw dan kalau hal ini terjadi, dan pasti akan terjadi karena ketika dia bicara di lereng Cin-ling-san, banyak pula orang kang-ouw yang mendengarnya, maka menurut pendapat pinceng beserta semua anggota Siauw-lim-pai, kedudukan Suhu sebagai ketua sudah tak mungkin bisa dipertahankan lagi. Selain itu, juga pernikahan sute Yap Cong San sebagai seorang tokoh muda Siauw-lim-pai yang diharapkan bersetia dan menjunjung tinggi nama Siauw-lim-pai, jika tidak dibatalkan dan dia tetap melanjutkan hubungan jodoh itu dengan anggota keluarga yang sudah begitu tercemar namanya, juga akan merendahkan nama besar Siauw-lim-pai. Kini teecu mewakili seluruh anggota Siauw-lim-pai mohon keputusan yang seadilnya demi kehormatan Siauw-lim-pai!"

Hening sekali setelah hwesio ini menghentikan kata-katanya. Suasana menjadi sunyi dan tegang sekali, hampir semua orang yang hadir di situ tidak ada yang berani memandang langsung ke arah ketua mereka. Di dalam hati, mereka semua membenarkan ucapan Thian Lee Hwesio yang tidak mungkin dapat disangkal kebenarannya, akan tetapi, urusan ini bukanlah menyangkut diri seorang anggota biasa dari Siauw-lim-pai, bukan seorang murid biasa melainkan ketua mereka sendiri! Mereka yang biasanya suka mengemukakan pendapatnya dalam persidangan seperti itu apa bila ada seorang anggota Siauw-lim-pai yang diadili, kini bungkam dan tidak membuka mulut!

Terdengar suara batuk-batuk yang memecahkan kesunyian, yaitu suara Thian Kek Hwesio yang juga selama hidupnya baru sekali ini menghadapi perkara yang menegangkan dan yang membuat hatinya amat tidak enak. Betapa pun juga, diam-diam dia harus mengakui bahwa selama menjadi ketua, Tiong Pek Hosiang telah banyak jasanya untuk Siauw-lim-pai dan belum pernah melakukan penyelewengan, namun dia pun harus membenarkan pendapat dan tuntutan Thian Lee Hwesio yang dia merasa yakin tidak menuntut karena hati benci atau dendam kepada ketua Siauw-lim-pai yang juga menjadi gurunya.

Setelah terbatuk-batuk, terdengarlah suara Thian Kek Hwesio, suara yang besar parau dan terdengar jelas satu-satu oleh mereka yang berada di situ, "Kami sudah mendengar bunyi tuntutan dan menimbang bahwa isi tuntutan memang seluruhnya demi kepentingan nama Siauw-lim-pai, maka tuntutan bisa diterima untuk diteruskan kepada pihak tertuntut. Kami persilakan ketua Siauw-lim-pai untuk mengajukan pembelaannya."

Kembali hening sejenak dan semua orang tanpa memandang muka ketua Siauw-lim-pai, menahan napas untuk mendengar apa yang hendak diucapkan sang ketua menghadapi tuntutan berat itu. Akhirnya, Tiong Pek Hosiang menarik napas panjang dan berkata,

"Omitohud... betapa melegakan hati dapat menghadapi hukuman yang timbul akibat dari perbuatan sendiri, dan betapa menggembirakan menyaksikan para anggota Siauw-lim-pai sedemikian setia terhadap Siauww-lim-pai dan berjiwa gagah, berdasarkan keadilan dan kebenaran sehingga kalau perlu berani menentang pihak atasan demi nama baik dan kehormatan Siauw-lim-pai! Pembelaan apa yang harus pinceng katakan? Ucapan Go-bi Thai-houw bukanlah fitnah belaka dan pinceng mengakui bahwa memang perbuatan maksiat itu pernah pinceng lakukan pada waktu muda!"

Sekarang semua orang mengangkat muka memandang sang ketua dengan wajah pucat. Tadinya mereka masih mengharapkan bahwa ketua itu akan menyangkal karena mungkin saja orang-orang seperti Go-bi Thai-houw dan Tung Sun Nio itu sengaja mengeluarkan fitnah untuk menjatuhkan nama baik ketua Siauw-lim-pai. Akan tetapi ternyata kini ketua mereka telah mengaku!

Meski pun wajahnya agak pucat, sikap ketua Siauw-lim-pai itu tenang sekali pada saat ia memandang semua orang dan melanjutkan kata-katanya dengan mengucapkan syair pelajaran Agama Buddha,

"Tidak di langit tidak di tengah lautan tidak pula di dalam goa-goa atau di puncak gunung-gunung, tiada sebuah tempat pun untuk menyembunyikan diri, untuk membebaskan diri dari akibat perbuatan jahatnya!"

Cong San menjadi sangat terharu. Dialah satu-satunya orang di antara semua anggota Siauw-lim-pai yang telah tahu akan perbuatan gurunya yang di waktu mudanya berjinah dengan isteri Sin-jiu Kiam-ong. Sudah semenjak pertama mendengarnya dia memaafkan suhu-nya, maka dia tidak dapat menahan dirinya lagi, cepat dia berkata,

"Maaf, Suheng...," katanya sambil memandang pada Thian Kek Hwesio, "bolehkah saya membela Suhu?"

Thian Kek Hwesio mengangguk. "Sidang pengadilan di Siauw-lim-pai selalu berdasarkan perundingan di antara saudara sendiri untuk mengambil keputusan yang paling adil dan tepat. Silakan kalau Sute mempunyai sesuatu yang akan dikemukakan mengenai urusan ini."

"Tiada gading yang tak retak, tiada manusia tanpa cacad di seluruh jagad ini. Suhu pun hanya seorang manusia, dengan sendirinya, seperti seluruh manusia lain, juga memiliki cacad berupa perbuatan yang dilakukan sebelum mendapat penerangan, sebelum sadar. Sungguh pun sebagai seorang anggota Siauw-lim-pai saya tidak menjadi hwesio, namun pelajaran Sang Buddha sudah bertahun-tahun diajarkan oleh Suhu kepada saya. Teringat saya akan pelajaran yang berbunyi,

Tiada api sepanas nafsu
tiada jerat sebahaya kebencian
tiada perangkap selicin kedangkalan pikiran
tiada arus sederas keinginan hati.
Kesalahan orang lain sudah dilihat
kesalahan diri sendiri sukar dirasai
meniup-niupkan kesalahan orang lain seperti menampi dedak
seperti seorang penipu menyembunyikan dadu lemparannya yang sial dari pemain lain
."

Semua orang yang mendengar mengerti bahwa pemuda itu tadi mengeluarkan ayat-ayat pelajaran untuk membela suhu-nya.

Cong San melanjutkan kata-katanya penuh semangat, "Agama kita mengajarkan orang memupuk rasa kasih sayang antara yang hidup, mempertebal pemberian maaf kepada orang bersalah, memperbesar sikap mengalah kepada orang lain. Marilah dengan modal pelajaran ini kita menghadapi Tiong Pek Hosiang, suhu kita, ketua kita dengan kesadaran dan pengertian bahwa biar pun Suhu telah mengakui perbuatannya yang menyeleweng dengan mendiang nenek Tung Sun Cio, akan tetapi perbuatan itu dilakukannya di waktu Suhu masih muda. Sekianlah pembelaan saya yang bukan hanya didasari semata-mata karena memberatkan Suhu dari pada Siauw-lim-pai, melainkan dengan dasar kebenaran dan keadilan."

Suasana menjadi semakin tegang, bahkan beberapa orang di antara para hadirin mulai merasa betapa suasana agak panas. Namun, Thian Kek Hwesio yang bersikap tenang dan keras, bagaikan sebuah batu karang kokoh kuat yang tak akan mudah digoyangkan hantaman ombak, tidak mudah digerakkan oleh tiupan angin taufan, kembali berkata,

"Pembelaan dari Yap Cong San sudah kami dengarkan dan kami terima. Sekarang kami persilakan pihak penuntut untuk mengeluarkan pendapat serta sanggahannya terhadap pembelaan itu."

Thian Lee Hwesio berbisik-bisik dengan para sute-nya, kemudian dia menghadap sidang dan berkata, "Apa yang dikemukakan oleh sute Yap Cong San sebagai pembela tak dapat kami sangkal kebenarannya. Semenjak semula memang telah pinceng kemukakan bahwa para anggota Siauw-lim-pai bukan sekali-kali menjatuhkan tuntutan atas dasar membenci, akan tetapi semata-mata untuk melindungi kehormatan serta nama Siauw-lim-pai. Tidak dapat disangkal bahwa perbuatan itu dilakukan Suhu di waktu muda dan secara pribadi kami semua dapat memaklumi dan tidak akan merentang panjang urusan itu. Akan tetapi, sekali diketahui oleh dunia kang-ouw, akan bagaimanakah jadinya dengan nama dan kehormatan Siauw-lim-pai yang tentu akan dikabarkan bahwa Siauw-lim-pai diketahui oleh seorang yang... harap Suhu maafkan teecu, telah melakukan perbuatan seperti itu?"

Kali ini semua orang benar-benar menjadi tegang. Thian Lee Hwesio dalam mengajukan dan membela tuntutannya, terlalu berani dan terlalu... benar! Cong San dapat menerima dan harus mengakui kebenaran ucapan itu, maka dia membungkam dan kini Tiong Pek Hosiang yang berkata,

"Omitohud... semoga dosa yang hamba lakukan tidak sampai mendatangkan akibat buruk yang menimpa orang-orang lain, kecuali hamba sendiri!" Dia memejamkan mata sejenak, kemudian membukanya lagi dan memandang kepada semua yang hadir, lalu berkata,

"Pinceng sudah merasa bersalah dan pinceng siap menerima akibat dari pada perbuatan pinceng sendiri, siap menerima hukuman yang akan diputuskan oleh sidang ini. Pinceng tidak akan membela diri, akan tetapi mengenai pernikahan antara Yap Cong San dan Gui Yan Cu, pinceng harus membela Cong San, bukan sekali-kali karena pinceng bersikap berat sebelah dan pilih kasih, namun demi keadilan pula. Kalian semua maklum bahwa perjodohan antara mereka ini adalah tanggung jawab pinceng sendiri karena pincenglah yang mengikatkan perjodohan itu. Cong San tidak bersalah apa-apa dalam hal ini, hanya memenuhi perintah pinceng. Kalau keputusan itu dilaksanakan dan dianggap bersalah, biarlah pinceng yang menerima hukumannya pula. Kemudian terserah keputusan sidang."

Kini semua orang memandang Thian Kek Hwesio. Mereka memandang penuh harapan, karena hanya pada hwesio tua tinggi besar berkulit hitam inilah mereka menggantungkan harapan mereka untuk dapat mencari jalan keluar yang paling baik. Hwesio tinggi besar berusia tujuh puluh tahun lebih ini pun maklum bahwa tugasnya sangat berat dan amat penting, maka setelah berdoa sejenak sambil memejamkan mata, mohon kekuatan batin, dia membuka mata dan berkata,

"Setelah mendengarkan semua pendapat yang dikemukakan oleh pihak penuntut, pihak tertuntut dan pihak pembela, atas nama Tuhan Yang Maha Kuasa, atas nama Buddha yang maha kasih, atas nama kebenaran dan keadilan yang kita junjung bersama, kami telah mengambil kesimpulan dan telah mempertimbangkan untuk menjatuhkan keputusan yang hendaknya akan ditaati oleh semua pihak yang bersangkutan! Tiong Pek Hosiang memang sudah melakukan perbuatan yang menyeleweng, akan tetapi karena perbuatan itu dilakukannya di waktu muda, di waktu belum menjadi anggota, apa lagi ketua Siauw-lim-pai, maka Siauw-lim-pai tidak berhak memberi hukuman atas perbuatannya itu yang dilakukannya sebagai orang luar di waktu itu. Akan tetapi, mengingat bahwa perbuatan itu merupakan lembaran riwayat yang hitam bagi pribadinya, sedangkan sekarang dia telah menjadi ketua Siauw-lim-pai, maka demi menjaga nama dan kehormatan Siauw-lim-pai, Tiong Pek Hosiang dipecat dari kedudukannya sebagai ketua Siauw-lim-pai. Dan untuk pemilihan ketua baru akan kita adakan kemudian. Mengenai pernikahan antara Yap Cong San dan Gui Yan Cu, mengingat akan pertimbangan yang sama pula, yaitu bahwa biar pun perbuatan itu dilakukan di luar kesalahannya akan tetapi karena akibatnya dapat mencemarkan nama baik Siauw-lim-pai, maka kami memutuskan untuk tidak mencampuri urusan pernikahan karena kami menganggap Yap Cong San bukan anak murid Siauw-lim-pai lagi. Untuk selanjutnya harap Yap Cong San tidak membawa nama Siauw-lim-pai sebagai perguruannya."

Sunyi senyap setelah Thian Kek Hwesio mengucapkan keputusannya itu. Semua anggota Siauw-lim-pai menundukkan muka, tidak ada yang berani memandang kepada Tiong Pek Hosiang yang selama ini menjadi ketua mereka yang mereka hormati, juga menjadi guru besar mereka.

"Suhu...!" Kesunyian ini dipecahkan oleh keluhan Cong San yang menubruk kaki gurunya kemudian berlutut sambil terisak penuh kedukaan, penyesalan dan keharuan.

Tiong Pek Hosiang tersenyum, mengelus rambut kepala muridnya itu sambil membaca doa pelajaran Buddha,

Dunia ini bagaikan sebuah gelembung sabun!
dunia ini bagaikan sebuah khayalan!
dia yang memandang dunia sedemikian
takkan bertemu lagi dengan raja kematian!
Pandanglah dunia ini sebagai sebuah kereta
kendaraan raja yang bercat indah
si dungu terpikat oleh keindahannya
tapi orang bijaksana takkan terpikat olehnya.
Dia yang tadinya lengah dan tak sadar
kemudian menjadi sadar dan rendah hati
akan menerangi dunia
seperti bulan yang terbebas dari gumpalan awan
."

"Suhu, betapa hati teecu tak akan berduka dan menyesal? Suhu telah melakukan banyak perbuatan mulia dan telah berjasa besar terhadap Siauw-lim-pai, akan tetapi sekarang..."

"Hushhh, Cong San, bangkitlah, hapus air matamu, usir semua kedukaan dan penyesalan hatimu. Pengadilan yang telah disidangkan oleh saudara-saudaramu sudah tepat, benar dan adil! Perbuatan sesat mendapat hukuman, ini sudah tepat dan patut. Kenapa harus disusahkan dan disesalkan? Siapa yang mengharuskan kita menyesal dan berduka bila menghadapi sesuatu yang menimpa diri kita? Tidak ada yang mengharuskan dan hanya kesadaran kita sendirilah yang menentukan. Apa yang menimbulkan susah dan senang? Bukan dari luar, muridku, melainkan dari dalam, dari hati kita sendiri yang dicengkeram nafsu mementingkan diri sendiri, nafsu iba diri. Jika dirugikan, kita susah, akan tetapi jika diuntungkan, kita senang."

"Bukankah itu picik sekali? Susah dan senang hanya permainan perasaan sendiri seperti air laut yang pasang surut. Suatu penipuan dari nafsu yang hanya dapat kita atasi dengan kesadaran sebab kesadaran akan mengangkat kita lebih tinggi dari pada permainan susah senang itu, mendatangkan ketenangan dan tidak akan mudah dipengaruhi oleh perasaan. Andai kata engkau belum dapat mencapai tingkat itu, masih harus memilih antara susah dan senang, kenapa engkau tidak memilih? Susah menimbulkan tangis, ada pun senang menimbulkan tawa. Baik diterima dengan susah atau pun senang, persoalannya tak akan berubah. Mengapa harus menangis? Tangis hanya akan menimbulkan hal-hal yang tidak baik, karena dapat menimbulkan kelemahan batin sendiri, dapat mendatangkan keharuan pada orang lain. Tangis susah akan mudah mengukirkan dendam dalam hati, melahirkan dosa-dosa lain. Dalam menghadapi sesuatu, sama-sama menggerakkan bibir, mengapa tidak memilih tawa dari pada tangis? Hasilnya lebih baik bagi diri sendiri dan bagi orang lain. Cong San, ingatlah engkau bahwa yang terpenting dari pada segala dalam menjalani penderitaan hidup ini hanya PENERIMAAN! Penerimaan akan segala hal yang menimpa diri kita disertai kesadaran bahwa segala yang terjadi adalah akibat dari pada perbuatan kita sendiri, sesuai dengan kehendak Tuhan. Kesadaran ini akan menuntun kita supaya menerima segala peristiwa dengan penuh penyerahan kepada kekuasaan Tuhan, oleh karenanya akan tetap tenang karena sudah waspada bahwa segala peristiwa yang terjadi tak akan dapat dihindarkan oleh kekuasaan manusia yang sesungguhnya hanya makhluk lemah yang selalu menjadi permainan dari nafsu-nafsunya sendiri."

Kakek itu berhenti sebentar dan bukan hanya Cong San yang mendengarkan dengan hati tunduk, melainkan semua anggota Siauw-lim-pai, bahkan Yan Cu pun diam-diam merasa kagum akan kebijaksanaan kakek itu. Dalam hatinya gadis ini melihat seolah-olah kakek itu telah duduk di tempat yang begitu tinggi sehingga tidak akan terseret oleh gelombang penghidupan yang mempermainkan manusia.

"Pinceng merasa bersyukur kepada sidang pengadilan dan pinceng menerima keputusan tadi. Mulai saat ini, pinceng bukan lagi ketua Siauw-lim-pai, dan sesuai dengan peraturan perkumpulan kita, pinceng persilakan kepada para tokohnya agar mengadakan pemilihan ketua baru. Sebagai seorang anggota yang masih berhak, pinceng pribadi mengusulkan agar Thian Kek Hwesio untuk menduduki jabatan ketua. Ada pun pinceng sendiri, pinceng minta agar diperbolehkan menghabiskan usia yang tidak berapa ini untuk bersemedhi di dalam Ruang Kesadaran yang berada di ujung belakang."

"Apa yang Suhu katakan merupakan perintah bagi teecu sekalian," berkata Thian Kek Hwesio. "Karena, biar pun Suhu bukan ketua Siauw-lim-pai lagi, akan tetapi tetap menjadi guru teecu semua dan teecu mengharapkan petunjuk-petunjuk dari Suhu demi kebaikan Siauw-lim-pai."

Tiong Pek Hosiang tersenyum dan mengangguk-angguk. Dia yakin bahwa kalau Siauw-lim-pai dipimpin oleh muridnya tertua ini sebagai ketua, tentu akan mengalami kemajuan. Kemudian dia menoleh kepada Cong San dan Yan Cu.

"Cong San dan Yan Cu, sekarang pinceng mengusir kalian pergi dari Siauw-lim-si, karena tidak boleh orang luar tinggal di sini. Engkau pasti mengerti bahwa pengusiran terhadap dirimu ini hanya merupakan hal yang sudah ditentukan oleh sidang pengadilan dan oleh peraturan yang berlaku di Siauw-lim-pai. Nah, pergilah, Cong San. Engkau bukan murid Siauw-lim-pai lagi, akan tetapi percayalah bahwa Siauw-lim-pai tetap akan menganggap engkau sebagai seorang sahabat baik!"

Biar pun Cong San sudah menerima wejangan suhu-nya, namun dia seorang muda yang masih diombang-ambingkan nafsu dan perasaan yang sedang bergelora, maka tentu saja dia tidak dapat menahan air matanya yang bercucuran. Melihat keadaan suaminya, Yan Cu juga turut menangis sesenggukan. Mereka berdua maju berlutut ke depan Tiong Pek Hosiang.

"Suhu, teecu mohon diri...," Cong San berkata terisak.

Tiong Pek Hosiang tersenyum dan menggerakkan tangan. "Pergilah, muridku yang baik dan berhati-hatilah karena di luar sana menanti banyak cengkeraman-cengkeraman maut yang mengancam seluruh manusia. Yan Cu, semoga Tuhan memberkahi engkau dan suamimu."

Walau pun mulutnya tersenyum, namun sepasang alis yang putih kakek itu agak berkerut karena pandang matanya yang waspada itu sudah melihat ada awan gelap mengancam penghidupan kedua orang muda itu. Diam-diam dia hanya berdoa mohon kepada Tuhan agar melindungi mereka.

"Para suheng, sute dan saudara sekalian, saya mohon diri dan sudilah memaafkan segala kesalahan saya." Cong San memberi hormat kepada semua hwesio yang dibalas oleh mereka dengan tenang.

"Selamat jalan, Yap-sicu, sahabat kami!" Thian Kek Hwesio berkata, suaranya lantang dan jelas, seolah-olah dia hendak mengingatkan bahwa hubungan antara Cong San dan Siauw-lim-pai sebagai murid dan perguruan sudah hilang, dan kini terganti oleh hubungan persahabatan!

Cong San kemudian keluar dari Siauw-lim-si diikuti oleh Yan Cu dengan muka pucat dan muram. Setelah mereka agak jauh dari kuil itu dan tidak tampak lagi genteng kuil, Yan Cu memegang tangan suaminya dan berhenti. Wajahnya cerah dan ia tersenyum karena ia melihat kemuraman wajah suaminya dan mengambil keputusan untuk menghiburnya.

"Koko, harap kau jangan besedih lagi. Apa bila kau berduka, aku ikut pula bersedih. Kita harus ingat akan wejangan suhu-mu yang bijaksana. Peristiwa itu telah berlalu, mengapa disedihkan dan ditangisi? Lebih baik kita tertawa dan tersenyum! Senyumlah, Koko! Kita pengantin baru, bukan? Sepatutnya kita bergembira. Hayo, senyumlah!"

Cong San menatap wajah isterinya. Wajah yang cantik jelita seperti bidadari, yang tengah tersenyum-senyum sehingga bibirnya merekah dan tampak ujung deretan gigi yang putih seperti mutiara, mata yang berkaca-kaca meski pun mulutnya tersenyum. Nampak jelas kasih sayang membayang di mata itu, nampak jelas betapa isterinya berusaha menghibur dirinya, berusaha mengusir semua kesedihan hatinya. Hatinya terharu bukan main dan seolah-olah bendungan yang jebol, dia lalu merangkul isterinya dan merintih,

"Yan Cu, isteriku...!" Ia memeluk isterinya, mendekapnya dan terdengarlah isak tangisnya, membuat Yan Cu ikut pula sesenggukan.

"Koko... hu-hu-huuuukkk... jangan menangis, Koko... suamiku..."

"Yan Cu... ahhh, Moi-moi..."

Mereka berpelukan dan bertangisan. Kini legalah hati Cong San setelah segala perasaan duka itu membobol keluar menjadi tangis, dan dia memegang pundak isterinya, didorong perlahan sehingga mereka saling pandang. Kemudian, dengan air mata masih mengalir di sepanjang pipi, keduanya berpandangan dan tertawa lebar!

"Kita berbahagia... tangis kita tangis bahagia...!" bisik Cong San.

Seketika tersapu bersihlah awan kedukaan karena di hadapan mereka terbentang jalan lebar menuju kebahagiaan.

"Suamiku, sekarang kita hendak ke manakah?" Yan Cu sambil merebahkan mukanya di dada suami itu, sikapnya penuh manja dan mesra.

Cong San mengelus rambut yang halus dan harum itu. "Isteriku, kau maafkanlah aku. Oleh karena urusan yang datang bertubi-tubi, aku yang terlalu mementingkan diri sendiri sampai seolah-olah mengabaikan engkau, isteriku yang tercinta, satu-satunya orang di dunia ini yang paling kukasihi. Semua ini gara-gara si iblis betina Bhe Cui Im. Hemmm... sekali waktu aku harus membasminya!"

Yan Cu merangkul leher suaminya, menarik muka suaminya kemudian dengan manja dia menempelkan pipinya di atas pipi suaminya. "Suamiku, kini bukan saatnya bicara tentang dia. Yang penting, kemanakah kita sekarang?"

Dengan jantung berdebar penuh kebahagiaan Cong San mencium bibir isterinya. "Biarlah untuk beberapa hari ini kita berdiam di hutan pohon pek yang berada di depan sana. Di situlah aku dahulu sering kali melewatkan malam sunyi ketika aku masih belajar di Siauw-lim-si. Tempat itu indah sekali, kita hidup bebas di sana, jauh dari keramaian dunia, jauh dari manusia lain, hanya kita berdua! Di sana terdapat sumber air yang membentuk telaga kecil yang airnya jernih sekali. Dulu sering kali aku tidur di pinggir telaga, bertilam rumput tebal, berlindung daun-daun pohon pek yang besar, tidur dan bermimpi sedang bersenda gurau dengan bidadari. Kini mimpi itu menjadi kenyataan dan engkau adalah bidadarinya, isteriku."

"Ihhhh...!" Yan Cu cemberut. "Hidup seperti binatang liar di hutan? Bagaimana kalau ada orang melihat kita?"

"Tempat itu masih termasuk wilayah kekuasaan Siauw-lim-si, tak ada orang yang berani datang ke sana. Para suheng tentu akan menjauhkan diri dan membiarkan kita bersenang di sorga dunia itu. Kita hanya beberapa hari tinggal di sana, kemudian kita pergi ke kota Leng-kok di mana tinggal seorang pamanku. Dari pada kita melewatkan bulan madu di kamar-kamar penginapan yang sempit dan kotor, bukankah lebih senang berada di hutan yang indah bersih, luas dan tidak akan bertemu dengan manusia lain?"

Yan Cu tersenyum. "Aku hanya isterimu, Koko. Aku menurut, ke mana pun kau pergi aku ikut, dan aku akan senang sekali, biar akan kau bawa ke... neraka sekali pun!"

"Husshhhh! Kalau aku pergi ke sorga, engkau kudorong masuk lebih dulu, isteriku, akan tetapi kalau aku ke neraka, engkau akan kutinggalkan, biar aku sendiri yang menderita."

Sambil bergandengan tangan, kedua orang yang sedang dimabuk cinta kasih, sepasang pengantin baru ini berlari-larian memasuki hutan kecil yang berada di sebelah utara kuil Siauw-lim-si. Yan Cu menjadi gembira sekali ketika mendapat kenyataan bahwa hutan itu benar-benar amat indah, sunyi dan bersih.


Tag: Cerita Silat Online, Cersil, Kho Ping Hoo, Pedang Kayu Harum

Thanks for reading Pedang Kayu Harum Jilid 43.

Back To Top