Cersil Online Karya Kho Ping Hoo

Petualang Asmara Jilid 02

PADA TAHUN 1405 mulailah The Hoo dengan pelayarannya yang terkenal, dengan armada yang kuat dan didampingi pembantu-pembantu yang sakti, Ma Huan, tokoh Islam yang sangat pandai dan sakti, Tio Hok Gwan, pengawal pribadinya yang lihai bukan main, dan masih banyak lagi jago-jago silat yang ahli. Armada ini menjelajah sampai ke Indocina, Sumatera, Jawa, India, Sailan dan sampai ke pantai Arab!

Tentu saja tidak semua usaha Kaisar ini berhasil, bahkan usahanya memperkembangkan kebudayaan serta kesusastraan menimbulkan banyak kesempatan untuk berbuat korupsi. Akan tetapi harus diakui bahwa banyak pula hasilnya, di antaranya Tembok Besar dan juga Terusan Besar yang selesai dalam waktu sepuluh tahun, serta bangunan-bangunan lain di samping hubungan dengan negara-negara asing baru di sebelah selatan.

Keamanan perjalanan Kun Liong melalui hutan-hutan pun merupakan hasil dari usaha pemerintah menekan kejahatan. Tetapi, apakah lenyapnya para perampok dan maling itu betul-betul dapat dianggap sebagai hasil baik? Sulit untuk dikatakan secara pasti, karena lenyapnya kejahatan-kejahatan kasar itu terganti korupsi yang merajalela di kota. Apakah bedanya itu? Hanya cara yang kasar diganti oleh cara yang halus! Semua perbuatan itu, baik yang kasar mau pun yang halus, terdorong oleh rasa takut. Takut kehilangan sesuatu yang menyenangkan, dan takut akan mendapatkan sesuatu yang tidak menyenangkan.

Pada hari ke tiga Kun Liong keluar dari hutan terakhir, menuruni lembah gunung dan tiba di luar sebuah dusun. Perutnya terasa lapar sekali dan timbul harapannya di dalam dusun itu. Akan tetapi saat melihat dua orang anak laki-laki pengemis berkelahi memperebutkan sepotong roti kering yang kotor, Kun Liong berhenti dan cepat melerai.

"Eh, ehh, kenapa berkelahi hanya untuk sepotong roti kering yang kotor?" Dia mencela.

Dua orang anak laki-laki berpakaian kotor dan lapuk itu berhenti berkelahi ketika tiba-tiba roti itu sudah terampas oteh Kun Liong. Mereka itu sebaya dengan Kun Liong, pakaian dan sepatu mereka sudah koyak-koyak. Yang seorang berkepala gundul sedangkan yang ke dua amat kurus dan pucat. Kini keduanya menghadapi Kun Liong dengan mata melotot marah.

"Kembalikan rotiku!" Si Gundul berteriak.

"Tidak, itu rotiku, hasilku mengemis di dusun, dia mau merampasnya!" teriak Si Kurus.

"Dia mendapatkan dua potong, sudah makan sepotong, sepantasnya yang sepotong itu diberikan kepadaku!" Si Gundul membantah.

"Perutku masih lapar!"

Kun Liong memandang roti di tangannya. Hanya roti kering yang sudah tengik sebesar kepalan tangannya dan sudah kotor pula. Roti begini saja diperebutkan. Tadinya ia ingin membuang roti itu, akan tetapi mendengar keluhan mereka bahwa mereka lapar sekali dan sejak kemarin belum makan dia merasa kasihan sekali.

"Heiii, agaknya dia sendiri mau merampas rotinya!" Si Kurus berseru.

"Kurang ajar. Hayo pukul anak ini!" teriak Si Gundul dan mereka berdua yang tadinya berkelahi memperebutkan roti kering, kini maju mengerojok Kun Liong dengan nekat!

Kun Liong adalah anak suami isteri pendekar, sejak kecil sudah menerima gemblengan ilmu silat, maka dengan mudah dia mengelak dan dua kali kakinya bergerak, membabat kaki mereka, maka robohlah dua orang anak itu. Mereka mengaduh, akan tetapi bangkit lagi dan makin marah.

"Sabarlah, siapa yang ingin merampas roti tengik ini? Aku hanya melerai, dan agar kalian berdua tidak berkelahi. Roti sekecil ini tidak akan dapat mengenyangkan perut, perlu apa diributkan dan dijadikan sebab perkelahian antara teman sendiri? Nah, sekarang kubagi dua. Makanlah dan tak perlu berkelahi!"

Kun Liong membagi roti menjadi dua potong dan memberikan kepada mereka, seorang sepotong. Mereka memandang dengan mata terbuka lebar, akan tetapi segera menerima potongan roti itu dan memakannya dengan lahap. Tentu saja sekali telan sepotong kecil roti itu lenyap ke dalam perutnya yang kosong.

"Kau siapa?" tanya Si Gundul dengan mulut bergerak-gerak, agaknya masih merasakan sedapnya roti tadi dan masih ingin lagi.

"Kau tentu bukan anak sini, dan bukan jembel," kata Si Kurus sambil memandang Kun Liong dengan sepasang matanya yang lebar. Anak ini begitu kurusnya sehingga matanya kelihatan besar sekali.

"Aku seorang pelancong," kata Kun Liong yang enggan memperkenalkan diri karena jika dia memperkenalkan namanya, tentu akan mudah bagi ayahnya untuk mencarinya. "Akan tetapi aku pun lapar sekali, mungkin lebih lapar dari pada kalian."

Dua orang anak yang tadi berkelahi itu saling pandang. "Kalau begitu, kenapa kau tidak makan roti tadi? Engkau sudah dapat merampasnya dari kami."

"Uhhhh, siapa sudi makan roti rampasan? Lebih baik mati kelaparan!" Kun Liong berkata cepat. Tapi dua orang anak itu tentu saja tidak pernah mendengar tentang kebijaksanaan seperti itu.

"Bodoh sekali! Kenapa lebih baik mati kelaparan?" Si Kurus bertanya.

"Perut lapar sungguh amat menyiksa, seperti sekarang ini," Si Gundul kemudian berkata pula sebagai tanggapan yang menentang pendapat Kun Liong tadi.

"Jika yang dirampas itu kelebihan makanan, masih tak mengapa. Akan tetapi merampas roti dari orang yang kelaparan juga, benar-benar amat rendah dan hina! Di antara teman senasib seharusnya tolong-menolong, kalau mendapat rejeki seharusnya saling memberi dan membagi."

Kembali dua orang anak itu saling pandang, agaknya mereka berdua bisa membenarkan pendapat ini dan keduanya mengangguk-angguk.

"Lapar benarkah engkau?" Si Kurus bertanya, memandang Kun Liong dengan iba karena dia sudah terlalu sering merasakan betapa perih dan nyerinya perut kalau lapar.

"Tentu saja aku lapar, semenjak kemarin hanya mendapatkan daun-daun muda di dalam hutan itu, sedikit pun tidak ada buahnya, dan aku juga tidak melihat seekor pun binatang di dalam hutan itu. Sialan benar!"

"Kalau begitu, mari kita mengemis makanan di dusun. Agaknya engkau masih tidak biasa kelaparan, bisa jatuh sakit.

“Kalau perut kami sudah kebal..." kata si Gundul.

Kun Liong mengangkat hidungnya sambil meruncingkan mulutnya. "Uhhh, tidak sudi aku mengemis! Mengemis tanda malas!"

"Malas...?" Hampir berbareng dua orang anak itu bertanya.

"Ya, malas. Dan kalian ini malas sekali. Untuk mengisi perut, harus dicari, bukan cukup dengan minta-minta saja."

"Bagaimana mencarinya?" Mereka bertanya lagi.

"Bodohnya! Mencari, bekerja membantu orang lain dengan upah pembeli nasi."

"Kalau tidak ada yang suka mempekerjakan kami?"

"Mencari sendiri, mengumpulkan kayu kering untuk dijual, menangkap binatang hutan. Eh, benar-benar kalian bodoh."

"Bagaimana caranya menangkap binatang hutan? Mengejar seekor kelinci pun amat sulit dan tidak mungkin bisa ditangkap," kata Si Kurus.

Wajah Kun Liong bersinar mendengar kata-kata ‘kelinci’.

"Di mana ada kelinci? Tahukah kalian daerah yang banyak binatangnya? Hayo, akan aku perlihatkan kalian bagaimana menangkapnya dan kita makan daging kelinci panggang! Atau kijang, atau apa saja yang ada."

"Binatang di hutan-hutan sudah habis diburu orang-orang dewasa. Yang kulihat hanya tinggal ular-ular saja di hutan sebelah timur itu," kata Si Gundul.

"Ular? Daging ular pun enak sekali!" kata Kun Liong gembira.

"Hah?" Kedua orang anak itu terbelalak.

Akan tetapi Kun Liong sudah menyambar tangan mereka, diajak berlari sambil berkata, "Hayo tunjukkan aku di mana ada ular!"

Tiga orang anak laki-laki itu berlarian memasuki sebuah hutan yang pohonnya jarang. Tak lama kemudian mereka melihat seekor ular yang kulitnya berwarna hijau, membelit dahan pohon yang rendah. Melihat ular ini, Kun Liong menjadi girang sekali.

"Wah ular itu beracun tetapi dagingnya sedap sekali, hangat di perut dan rasanya gurih manis kalau dipanggang!"

Dua orang temannya terbelalak dan tidak berani maju mendekat ketika mendengar bahwa ular itu beracun. Kun Liong mengambil sebatang ranting, memegangnya dengan tangan kiri, menghampiri ular itu dan menggunakan rantingnya untuk mengusirnya.

Ular itu mendesis marah, apa lagi ketika perutnya disogok-sogok oleh ranting dan tiba-tiba kepalanya bergerak meluncur dan menggigit ranting yang dipegang tangan kiri Kun Liong. Anak ini cepat menggerakkan tangan kanan, menyambar ke arah kepala ular kemudian menangkap lehernya, mencengkeram dengan cara seorang ahli sehingga ular itu tidak mampu melepaskan diri.

Tubuh ular itu berkelojotan menggeliat dan mulai membelit lengan Kun Liong. Akan tetapi jari-jari tangan kiri Kun Liong sudah mengetuk tengkuk ular itu beberapa kali dan tiba-tiba ular itu menjadi lemas tak berdaya sama sekali.

"Nah, sudah jinak. Ada yang membawa pisau?"

"Aku mempunyai pisau kecil," Si Gundul berkata, mengeluarkan sebatang pisau kecil dari saku bajunya yang rombeng.

"Lekas kuliti dia. Aku mau mencari beberapa ekor lagi."

"Ihhh, aku... aku tidak berani!" Si Gundul berkata.

"Aku takut digigit," Si Kurus menyambung.

"Bodoh. Dia sudah tidak dapat menggigit lagi. Penggal lehernya di belakang warna hitam itu. Racunnya berkumpul di sana dan dari tempat itu ke bawah tidak ada racunnya. Buka kulitnya bagian perut ke belakang, kemudian tarik ekornya, tentu kulitnya terlepas."

"Kau saja yang mengulitinya," kata Si Gundul ragu-ragu.

"Dan kau yang mencari ular lain?"

"Aihh, siapa berani? Seekor ini pun cukuplah, untuk kau sendiri."

"Dalam keadaan kelaparan seperti ini, tiga ekor ular pun akan habis olehku sendiri, belum untuk kalian berdua!" kata Kun Liong. "Lekas kerjakan, aku akan pergi mencari lagi." Dia lalu pergi memasuki semak-semak belukar, meninggalkan dua orang anak jembel yang masih saling pandang itu.

Ketika Kun Liong kembali ke tempat itu dan membawa empat ekor ular lagi, ada yang hijau seperti ular pertama, ada yang hitam, ada yang belang dan kemerahan, semuanya masih hidup, akan tetapi sudah lemas seperti ular pertama, dua orang anak itu terbelalak keheranan dan juga penuh kagum. Mereka sendiri dengan penuh rasa takut memaksakan diri dan akhirnya setelah dengan susah payah berhasil juga menguliti ular pertama.

Melihat betapa daging ular banyak yang terpotong, Kun Liong menjadi tidak sabar, minta pisau itu dan menguliti ular-ular itu dengan cepat dan mudah. Mula-mula dipenggalnya leher ular, kemudian kulit pada bagian leher dibuka sedikit, dengan pisau dia menusuk daging sesudah menyingkap kulitnya bagian leher, terus menancapkan ujung pisau pada batang pohon sehingga tubuh ular tergantung. Setelah itu, dia ‘melepaskan’ kulit ular itu dari tubuh ular, seperti orang melepas kaos kaki dari kakinya saja!

Sibuklah dua orang anak jembel itu membuat api dengan batu api. Biar pun mereka tadi merasa jijik melihat ular-ular itu, sesudah dikuliti dan tampak dagingnya yang putih bersih, melihat pula cara Kun Liong menguliti ular demikian mudah dan biasa, timbul keinginan tahu mereka untuk mencicipi daging ular panggang.

Setelah daging ular masak dan dua orang anak itu mencoba mencicipinya, mereka lantas tercengang dan menjadi girang sekali, menyerbu daging ular dengan lahapnya, terutama sekali Si Gundul.

"Wah, benar gurih dan manis!" serunya girang.

"Lezat sekali, belum pernah aku makan daging seenak ini!" kata Si Kurus.

Diam-diam hati Kun Liong merasa terharu menyaksikan dua orang anak itu. Semuda dan sekecil itu sudah harus mengalami hidup kelaparan dan menderita sengsara!

"Mengapa kalian menjadi pengemis? Orang tua kalian di mana?"

"Orang tua kami sudah mati semua, menjadi korban ketika terjadi perang, pada waktu pemerintah melakukan pembersihan dan membasmi penjahat-penjahat," jawab Si Kurus.

"Ehh, apakah orang tua kalian penjahat?"

Si Gundul menggeleng kepalanya. "Sama sekali bukan. Aku dan dia tetangga di sebuah dusun di seberang, di balik gunung itu. Ketika terjadi perang antara gerombolan perampok melawan pemerintah, kami menjadi korban. Apa bila tidak mau membantu perampok dan menyembunyikan mereka, maka kami dibunuh perampok. Tapi bila membantu perampok kami dibunuh tentara pemerintah. Orang tua kami dicurigai karena ada perampok yang bersembunyi di rumah kami, maka mereka dibunuh semua. Kami yang masih kecil tidak dibunuhnya, dibiarkan hidup."

Hemm, dibiarkan hidup agar supaya menjadi pengemis yang terlantar, pikir Kun Liong dan hatinya yang pada dasarnya memang tidak suka dengan kekerasan itu kini semakin membenci perang dan pertempuran!

"Mari, kalian kuajari cara menangkap ular agar supaya kalian dapat mencari penghasilan. Ular-ular berbisa itu kalau kalian bawa ke kota dalam keadaan hidup lantas menjualnya kepada rumah makan, tentu akan menghasilkan uang lumayan. Juga rumah-rumah obat membutuhkan racunnya untuk obat."

Dua orang anak itu girang sekali. Sehari itu Kun Liong menghabiskan waktunya di dalam hutan yang banyak ularnya untuk mengajari dua orang teman barunya cara menangkap ular. Oleh karena kedua orang anak itu belum cekatan dan masih kurang berani, maka pertama-tama sebelum mereka tangkas mempergunakan tangan, dia mengajarinya untuk menangkap ular dengan kayu yang ujungnya bercabang, menjepit leher ular dengan kayu bercabang itu. Dia memberi tahu akan obat daun-daun dan akar-akar yang harus diminum airnya dan digosok-gosokkan kepada kedua lengan agar dapat kebal terhadap gigitan ular berbisa yang biasa.

Akhirnya, dengan bantuan kayu yang ujungnya bercabang, kedua orang anak itu berhasil juga menangkap masing-masing seekor ular hijau, dan atas petunjuk Kun Liong mereka berhasil pula ‘melumpuhkan’ ular dengan menekan dan mengetuk tengkuk ular itu. Bukan main senangnya hati mereka. Mereka tidak takut kelaparan lagi, biar pun kalau terpaksa setiap hari makan daging ular.

"Kalau makan daging ular terus-menerus kalian bisa celaka, bisa sakit," kata Kun Liong. "Daging ular mengandung obat dan hawa panas, boleh dimakan sekali waktu, tapi bukan menjadi makanan utama seperti ayam hutan saja!"

"Mengapa ayam hutan?"

"Ayam hutan paling suka makan ular dan kelabang!" jawab Kun Liong.

"Malam ini kau tidur di mana?" Si Gundul bertanya sambil mempermainkan ularnya yang sudah lumpuh.

"Entah, apakah bisa bermalam di rumahmu?"

"Wah, dia mana punya rumah!" kata Si Kurus. "Orang-orang seperti kami ini, boleh tidur di emper orang saja sudah untung, kadang-kadang diusir dan ditendang bersama makian."

"Eh, kita nonton saja, ayo! Di dusun ada keramaian, ada pesta. Siapa tahu kita kebagian rezeki sisa masakan-masakan yang enak!" kata Si Gundul.

"Ihh! Dasar kau ini tulang jembel!" Kun Liong mencela. "Sudah diajari bekerja menangkap ular masih mengharapkan sisa makanan orang!"

Ditegur demikian, Si Gundul segera menunduk, tidak berani melawan karena dia sudah menganggap Kun Liong sebagai ‘gurunya’, guru menangkap ular. Tapi Si Kurus membela temannya. "Dia tak bisa disalahkan, karena selama ini, dari manakah kami dapat makan kalau bukan dari sisa orang? Lagi pula, bila ada pesta, banyak sekali masakan yang tidak habis dimakan, biasanya pelayan-pelayan yang baik hati suka membagi sedikit sisa-sisa makanan kepada kami."

"Hemm, kalau ada pesta mengapa kita tidak masuk saja dan ikut berpesta?" tiba-tiba Kun Liong berkata karena hatinya sudah merasa penasaran sekali kenapa ada orang berpesta pora sedangkan di sini ada anak-anak yang kelaparan!

"Wah, mana boleh masuk? Kita akan dipukul!" kata Si Kurus.

Mendengar ucapan Si Kurus, kening Kun Liong berkerut, bola matanya berputaran, dan akhirnya bibirnya tersenyum. “Kalian ikut aku, dan jangan lupa bawa ular kalian!” Selesai berkata demikian, anak ini langsung berlari ke arah dusun.

Dua orang anak itu kini percaya sepenuhnya kepada Kun Liong yang dianggapnya anak dari ‘kota' dan amat pandai. Otomatis mereka menganggap Kun Liong sebagai pemimpin mereka, maka dengan gembira mereka pun lari di belakang Kun Liong sambil memegang ular masing-masing.

Si Kurus dan Si Gundul masing-masing telah menangkap seekor ular, ada pun Kun Liong sendiri membawa dua ekor ular yang cukup besar dan menyeramkan, seekor berkulit hitam bermata merah, yang seekor lagi adalah ular belang yang terkenal jahat racunnya.

Benar saja, di sebelah dusun tak jauh dari situ, tampak kesibukan yang menggembirakan di rumah kepala dusun. Hari sudah mulai gelap ketika tiga orang anak itu sampai di depan rumah kepala dusun dan mereka menonton dari luar.

Rumah itu penuh tamu yang memakai pakaian serba baru dan suasana amat gembira dengan senda-gurau mereka. Tampak tuan rumah sedang menyambut para tamu sambil mengelus jenggotnya yang panjang. Pesta ini adalah pesta ulang tahunnya yang ke lima puluh dan meski pun kelihatannya pesta itu meriah, banyak tamu, dan dengan sendirinya banyak pula hidangan yang dikeluarkan, namun sebenarnya kepala dusun ini sama sekali tidak menderita rugi karenanya.

Besarnya sumbangan yang masuk dari mereka yang menyumbang karena ingin menjilat, atau dari sebagian besar yang kurang mampu tetapi terpaksa menyumbang karena takut dianggap kurang menghormat, jumlahnya ada lima kali lipat lebih besar dari pada jumlah pengeluaran untuk pesta itu. Tentu saja dia merasa gembira sekali.

Pertama, wibawa dan kehormatannya sekaligus terangkat naik dengan adanya pesta itu. Ke dua, dia sekeluarga merasa gembira sekali dan bangga karena mampu mengadakan pesta secara besar-besaran. Dan ketiga, keuntungan yang masuk kali ini jauh melampaui penghasilannya selama beberapa bulan!

"Wah, berbahaya ini..." Si Gundul berbisik, "Yang berpesta adalah kepala dusun, mari kita menyingkir sebelum ditendang oleh para pengawal."

Kun Liong melihat bahwa di bagian depan berdiri berjajar belasan orang tinggi besar yang sikapnya laksana anjing-anjing penjaga yang siap menggonggong dan menggigit, karena itu rasa penasaran di hatinya pun meningkat.

"Mereka belum mulai makan, hidangan belum dikeluarkan, baru minuman saja. Mari kita menyelinap dan ke belakang saja," kata Kun Liong.

"Ehh, ke belakang mau apa?" Si Kurus berbisik.

"Ke dapur. Cepat sebelum masakan dihidangkan!"

Tiga orang anak itu menyelinap di kegelapan malam, terlindung oleh bayangan-bayangan pohon dan menuju ke belakang, ke dapur rumah besar itu di mana terdapat kesibukan-kesibukan yang tidak segembira di bagian depan. Para koki dan pelayan sedang sibuk mempersiapkan hidangan yang beraneka macam, siap untuk segera menghidangkan ke luar apa bila ada perintah dan tanda dari depan.

Yang paling sibuk adalah koki gendut yang menjadi koki kepala. Karena gemuknya dan keadaan hawa di dapur itu panas oleh api, ditambah lagi dia harus mondar-mandir ke sana-sini untuk memeriksa pekerjaan para pembantunya, maka mukanya yang gemuk itu basah oleh peluh, bahkan pakaiannya juga basah. Dengan wajah bersungut-sungut akibat tegang dan repot, dia menghapus peluh berkali-kali dari muka dan leher, menggunakan sehelai kain putih yang tergantung di depan dada dan perutnya.

"Hah! Mau apa kalian berkeliaran di sini?" Tiba-tiba koki gendut itu membentak ketika dia berdiri di pintu dapur untuk mencari angin dan hawa sejuk, agar panas yang menyiksa itu berkurang, dan melihat Kun Liong beserta dua orang temannya.

Si Kurus dan Si Gendut sudah ketakutan dan menggigil, tak berani bergerak. Akan tetapi Kun Liong yang menyembunyikan kedua ekor ular di tangannya itu ke belakang tubuh, membungkuk dan berkata,

"Lopek (Paman Tua) yang baik, kami adalah tiga orang anak yang menderita kelaparan. Melihat banyaknya masakan yang tentu akan berlebihan, berlakulah baik kepada kami dan berikan sedikit masakan-masakan itu."

Sepasang mata yang kecil sipit, hampir tak tampak karena mukanya yang gemuk, makin menyipit dalam usahanya memperlebar, dan sejenak mulut yang juga terlalu kecil bagi muka selebar itu, ternganga tak dapat menjawab. Selamanya belum pernah koki gendut ini melihat kekurang ajaran seperti ini, juga belum pernah mendengar ucapan pengemis serapi itu.

Kalau ada anak jembel minta sisa makanan yang sudah tidak terpakai lagi, hal itu adalah lumrah dan sudah biasa dia memberikan sisa makanan yang sudah hampir bau kepada anjing-anjing atau jembel-jembel kelaparan. Akan tetapi anak ini, dengan gaya bahasanya yang sopan seperti seorang bangsawan saja layaknya, minta ‘sedikit makanan’ yang masih segar, masih mengepul panas dan belum dihidangkan kepada para tamu. Mana ada aturan macam ini?

"Keparat cilik! Jembel busuk. Pergi kalian! Kalau tidak, akan kusiram kalian dengan air mendidih!" teriaknya. Peistiwa ini menambah panas tubuhnya yang telah berpeluh karena dia merasa terganggu dan jengkel, bahkan merasa dipermainkan oleh anak kecil.

"Babi gendut yang pelit!" Tiba-tiba Si Gundul memaki dari tempat yang gelap.

"Apa?! Bocah gembel ingin mampus...!" Koki itu marah dan mengulurkan tangan hendak menangkap, akan tetapi Kun Liong dan dua orang temannya sudah berlari menyelinap ke dalam gelap dan lenyap.

Makin penasaran dan mendongkol hati Kun Liong, apa lagi ketika ditegur oleh Si Kurus, "Apa kata kami tadi? Percuma saja, untung kita belum sampai disiram air panas atau dipukuli mereka."

"Sudah, lebih baik kita menanti sampai pesta bubar dan minta sisanya, tentu berlimpah-limpah dan banyak yang dibuang," berkata Si Gundul. "Tentu masih ada beberapa butir bakso, beberapa potong tulang berdaging dan beberapa helai bakmi."

Ingin Kun Liong menampar muka Si Gundul itu kalau tidak ingat bahwa memang kedua orang anak ini adalah pengemis-pengemis yang sejak kecil secara terpaksa harus puas dengan makanan sisa, maka dia menahan kedongkolan hatinya. Akan tetapi dia semakin penasaran terhadap penghuni rumah dan para tamu-tamunya yang berpesta pora, sama sekali tidak mempedulikan orang-orang yang kelaparan di luar rumah itu.

"Dengar baik-baik, kita kacaukan dapur itu. Dari jendela di sana itu, dari kanan kiri, kita lemparkan ular-ular ini ke dalam. Tentu mereka akan lari dan pada saat itu, kalian masuk dan mengambil sepanci masakan yang paling enak, segera bawa lari ke luar. Aku akan melempar ular dari jendela kiri, Si Gundul dari jendela kanan, dan engkau yang bertugas menyambar masakan dalam panci."

Si Gundul dan Si Kurus mengangguk-angguk, sepasang mata mereka bersinar-sinar. Setiap orang anak kecil akan merasa ‘penting’ dan gembira sekali kalau diajak melakukan sesuatu yang menegangkan, apa lagi yang selama ini belum pernah mereka lakukan.

Kalau hanya mencuri dan mencopet makanan karena terpaksa oleh desakan perut lapar dan untuk itu harus menerima gebukan-gebukan, sudah biasalah mereka. Akan tetapi mengacau sebuah pesta, apa lagi pesta di rumah kepala dusun, dengan melemparkan ular-ular beracun yang mereka tangkap sendiri ke dalam dapur, benar-benar merupakan hal yang baru yang amat menegangkan hati!

Atas isyarat Kun Liong, mereka berpencar. Kun Liong lari ke jendela kiri membawa dua ekor ular, Si Gundul menyelinap ke jendela kanan membawa dua ekor ular pula karena ular Si Kurus diberikan kepadanya, sedangkan Si Kurus dengan jantung berdebar-debar menyelinap dekat pintu, siap untuk memasuki dapur kemudian mengambil masakan kalau kesempatan terbuka. Dia sudah memilih-milih dengan pandang matanya, masakan dalam panci yang mana akan disambarnya nanti!

Dari jendela kanan Si Gundul mengintai ke arah jendela kiri. Pada saat melihat Kun Liong menggerakkan tangan seperti yang telah mereka janjikan, dia lalu melemparkan dua ekor ular dengan kuat dan karena takut ketahuan, ia melempar secara ngawur lalu menyelinap ke bawah jandela, merangkak dan pergi.

Kun Liong lebih tenang. Dia melemparkan dua ekor ularnya ke bawah, ke tengah-tengah ruangan itu, dan dia melihat betapa lemparan Si Gundul tadi secara ngawur ternyata telah mengakibatkan kekacauan luar biasa, sebab salah seekor dari ular hijau itu tepat hinggap di tubuh koki kepala yang gendut, mengalungi leher koki itu!

Dapat dibayangkan betapa kagetnya koki itu ketika merasa ada sesuatu membelit yang lehernya dan ketika kepala ular itu tepat berada di depan hidungnya, sepasang matanya menjuling dan dia pun berteriak, "Ular...! Ular...!"

Pada saat itu juga, para koki beserta beberapa orang pelayan melihat ular-ular berbisa merayap perlahan di dekat kaki mereka. Ular hijau, ular hitam dan ular belang! Mereka segera lari ketakutan dan berteriak-teriak, "Ular...! Ular beracun! Berbahaya sekali...!"

Kasihan sekali koki gendut itu. Dia tidak berani membuang ular yang membelit lehernya. Pada waktu mendengar teriakan ular beracun yang berbahaya, dia hampir pingsan dan menjerit-jerit, "Tolong...! Ular...! Tolong ini...!" Dia lari menabrak sana-sini, menabrak meja dan dengan susah payah akhirnya berhasil lari ke luar, tidak tahu bahwa lampu minyak di atas meja yang ditabraknya tadi sudah terguling!

Pengemis kecil kurus sudah cepat menyelinap masuk dan menyambar sepanci masakan lalu berlari ke luar lagi. Ia terengah-engah, akan tetapi tertawa-tawa ketika di tempat gelap yang sudah dijanjikan, dia berkumpul dengan Si Gundul dan Kun Liong.

"Masakan apa yang kau ambil?" Si Gundul langsung membuka panci. "Waduh, masakan capjai...! Ada baksonya, besar-besar... wah, udangnya pun besar-besar!"

Tanpa diperintah lagi kedua orang anak jembel itu menyerbu masakan dalam panci. Akan tetapi Kun Liong tak ikut makan karena dia lebih tertarik oleh teriakan-teriakan yang amat gaduh.

"Api...! Kebakaran...! Tolong...!"

"Ada kebakaran. Mari kita bantu...!" Kun Liong cepat melompat dan berlari ke dusun yang mereka tinggalkan tadi. Akan tetapi dua orang anak jembel itu tidak mempedulikan karena mereka sedang asyik menikmati capjai, mulut mereka mengeluarkan bunyi berkecap dan mata mereka berkejap-kejap penuh nikmat.

Karena sudah banyak orang, termasuk anak laki-laki seperti dia yang membantu untuk memadamkan kebakaran, maka kehadiran Kun Liong tidak menarik perhatian. Kun Liong merasa menyesal sekali ketika mendapat kenyataan bahwa yang terbakar adalah rumah kepala dusun dan menurut suara orang-orang di situ, kebakaran dimulai dari dalam dapur. Tadi dia sempat melihat betapa lampu di atas meja terguling ditabrak koki gendut, maka mengertilah dia bahwa kebakaran itu terjadi karena dia dan kedua orang temannya!

Di antara kesibukan orang-orang yang berusaha memadamkann api yang mengamuk dan hampir memusnahkan semua bangunan rumah kepala dusun itu, tampak seorang laki-laki gemuk diseret-seret. Kun Liong melihat betapa laki-laki gemuk itu didorong hingga jatuh berlutut di depan Si Kepala Dusun yang kini berdiri dengan muka pucat dan sinar mata penuh kemarahan, bertolak pinggang sambil memandang Si Gemuk dengan sikap penuh kebencian.

"Hemmm, keparat jahanam! Engkau berani membakar rumahku, ya?"

"Ti... tidak... ampunkan hamba, Loya (Tuan Besar)... di dapur mendadak muncul ular-ular beracun... seekor malah membelit leher hamba dan akan menggigit hamba... semua koki dan pelayan melihatnya... hamba... hamba tidak melakukan pembakaran..." Koki gundul itu menangis.

"Hemmm…, aku sudah tahu akan hal itu. Akan tetapi semua orang juga melihat bahwa engkaulah yang menabrak meja sehingga lampu minyak terguling lantas mengakibatkan kebakaran. Kau hendak menyangkal?"

Tubuh yang gendut itu menggigil, suaranya juga menggigil seperti diserang demam ketika dia menjawab, "...hamba... ohh... hamba... karena takut... hamba lari... dan andai kata memang benar hamba menabrak meja... dan lampu terguling... hal itu sama sekali tidak hamba sengaja, Loya... hamba mohon ampun, Loya..."

"Sengaja atau pun tidak, yang jelas engkaulah yang sudah menjadi penyebab kebakaran! Mengampunkanmu? Hemm, enak saja. Lihat, rumahku habis karena engkau! Dan engkau minta aku memberi ampun!"

Kepala dusun itu menendang dengan kerasnya, akan tetapi karena tubuh Si Koki sangat gendut dan berat, kakinya terpental sendiri dan hampir saja dia terguling. Kakinya yang menendang itu terasa nyeri sekali, akan tetapi dengan meringis menahan nyeri, kepala dusun yang makin marah itu menuding.

"Pukul dia! Pukul sampai mampus!"

Para pengawal atau tukang pukul yang sudah siap segera menghampiri Si Koki gendut. Segera terdengar suara bak-bik-buk dan koki itu meraung-raung menangis.

"Tahan! Jangan pukul dia!"

Semua tukang pukul itu, juga Si Kepala Dusun, terheran dan memandang anak laki-laki kecil yang tiba-tiba muncul di depan kepala dusun itu, berdiri tegak dan wajahnya penuh keberanian, matanya bersinar-sinar tertimpa cahaya api yang belum padam sama sekali.

"Ceritanya tadi benar, dan dia tidak bersalah. Bukan dia yang menyebabkan kebakaran itu, jadi tidak semestinya kalau dia yang dihukum! Menghukum orang yang tidak bersalah merupakan perbuatan yang biadab dan keji!"

Semua orang merasa terkejut sekali dan banyak orang kini memandang pada Kun Liong, apa lagi karena api yang mengamuk sudah hampir dapat dipadamkan meninggalkan sisa rumah yang tinggal separuh.

"Hemmm, anak kecil yang aneh dan lancang mulut, kalau bukan dia yang bersalah, habis siapa?"

"Yang salah adalah ular-ular itu, dan karena akulah yang melempar ular-ular itu ke dalam dapur, maka akulah orangnya yang tanpa sengaja menyebabkan kebakaran itu," kata Kun Liong dengan tenang.

Tentu saja ia bukan seorang anak bodoh yang sengaja mau mencari malapetaka dengan pegakuan itu. Akan tetapi. melihat betapa koki gendut yang tidak bersalah digebugi dan terancam kematian, dia tidak dapat menahan diri dan tidak dapat berdiam saja.

Muka kepala dusun itu menjadi merah sekali saking marahnya. Akan tetapi rasa herannya lebih besar lagi, oleh karena itu dia kembali bertanya, "Bocah setan! Apa perlunya engkau melemparkan ular-ular beracun ke dalam dapur?"

"Tadinya aku hanya menghendaki mereka itu pergi ketakutan untuk mengambil sepanci masakan, tak kusangka akan demikian akibatnya. Aku amat menyesal, akan tetapi harap lepaskan koki gendut itu yang tidak berdosa."

Koki itu memang telah dilepaskan dan masih berlutut, sekarang memandang kepada Kun Liong dengan muka pucat dan sepasang matanya yang sipit memandang tanpa berkedip, penuh perasaan heran, kagum dan terharu karena dia mengenal anak yang diusirnya tadi.

"Tangkap dia!" Si Kepala Dusun berteriak penuh kemarahan.

"Pukul saja bocah setan ini!"

"Bunuh bocah pengacau!"

Orang-orang dusun berteriak-teriak, bukan marah karena kepentingan pribadi, melainkan berlomba marah untuk menyenangkan hati kepala dusun! Kun Liong ditangkap, diseret sana-sini, dipukuli. Anak yang memiliki ilmu kepandaian silat lumayan ini tentu saja tidak mau mandah, lalu menggunakan kaki tangannya untuk mengelak atau menangkis, walau pun dia sama sekali tidak mau memukul orang karena memang merasa bersalah dan pantas dihukum!

"Bukan hanya dia yang melepas ular, kami juga...!"

"Ya, kami juga...!"

Dua orang anak jembel itu, Si Gendut dan Si Kurus, mendadak muncul di situ. Kun Liong kaget sekali. Dia tidak ingin membawa-bawa dua orang anak jembel itu karena sebetulnya mereka berdua itu tidak akan berani melakukan pengacauan kalau tidak karena dia! Akan tetapi diam-diam dia merasa kagum juga menyaksikan kesetia kawanan mereka. Kiranya dalam diri bocah-bocah jembel itu terdapat pula kesetia kawanan yang indah dan gagah!

Akan tetapi dua orang anak jembel itu tidak didengarkan mereka, sebab tenggelam dalam teriakan-teriakan kemarahan mereka yang mengeroyok Kun Liong. Bahkan mereka lantas didorong dan ditendang sehingga terguling-guling karena dianggap menghalangi mereka yang berlomba memukuli Kun Liong dengan tangan atau kayu penggebuk, apa saja yang dapat dipergunakan untuk memukul!

Biar pun Kun Liong menggunakan kepandaiannya untuk menangkis dan mengelak, akan tetapi dalam pengeroyokan begitu banyaknya orang dewasa, akhirnya pakaiannya robek dan tubuhnya benjol-benjol babak belur. Dia tetap tidak mau membalas, apa lagi ketika mendapat kenyataan bahwa yang mengeroyoknya, di samping tukang-tukang pukul, juga ada penduduk dusun. Bahkan ada pula yang sambil menggendong anaknya di punggung ikut-ikut mengeroyoknya untuk melampiaskan kemarahan hatinya!

Meski pun Kun Liong sudah menggunakan seluruh kepandaian yang pernah dipelajarinya, akan tetapi tanpa membalas dan dikeroyok demikian banyaknya orang, akhirnya dia pun tertangkap. Seorang tukang pukul memegang tangan kirinya, seorang penduduk dusun yang sudah tua dan marah-marah karena koki yang menjadi korban tadi adalah anaknya, memegang lengan kanan Kun Liong. Seorang tukang pukul lainnya, mencekik lehernya dari depan!

Kun Liong yang merasa seluruh tubuhnya sakit-sakit, pakaiannya koyak-koyak, sekarang dengan sia-sia berusaha meronta. Cekikan pada lehernya semakin kuat, dia tidak dapat bernapas lagi dan kedua telinganya mulai terngiang-ngiang, kedua matanya juga sudah berkunang-kunang, kepalanya berdenyut-denyut. Di antara suara yang berdengung dalam telinganya, dia masih mendengar teriakan-teriakan mereka,

"Bunuh saja bocah setan!"

"Cekik sampai mampus!"

"Tidak, aku tidak mau mati. Belum mau! Memang aku sudah melakukan kesalahan, akan tetapi aku tak sengaja membakar rumah orang!" Pikiran ini menyelinap di dalam hati Kun Liong, mendatangkan rasa penasaran kenapa untuk perbuatannya yang tanpa disengaja sudah mengakibatkan rumah terbakar itu dia harus menebus dengan nyawa!

Dia teringat akan pelajaran Sin-kut-hoat (Ilmu Melepaskan Tulang Melemaskan Diri) dari ayahnya dan dalam latihan dia sudah dapat melepaskan diri dari ikatan. Dia hampir tidak kuat lagi. Kepalanya berdenyut-denyut semakin hebat, bagaikan mau pecah. Dalam detik terakhir itu, dia mempergunakan tenaga kedua orang yang memegangi lengannya kanan kiri, menggantungkan tubuhnya dan menggunakan sepasang kakinya untuk menendang ke depan, mendorong perut dan dada tukang pukul yang sedang berusaha mencekiknya sampai mati!

"Bresss... augghhh...!"

Tubuh tukang pukul itu terjengkang dan roboh ke atas tanah. Dia memaki-maki sambil berusaha bangun kembali.

Kesempatan ini dipergunakan oleh Kun Liong. Dengan Ilmu Sin-kut-hoat, tiba-tiba saja kedua lengannya menjadi lemas dan licin, lalu sekali renggut dia sudah berhasil menarik kedua lengannya terlepas dari pegangan kedua orang yang langsung berteriak kaget dan heran karena tiba-tiba saja seperti belut, lengan anak itu merosot licin dan terlepas!

"Tangkap...!"

Kembali Kun Liong dikepung. Dia tahu bahwa orang-orang ini sudah mabok dendam, dan kini seperti segerombolan serigala haus darah yang tentu tidak akan mau sudah sebelum melihat dia menggeletak di bawah kaki mereka sebagai mayat dengan tubuh rusak penuh darah! Ini sudah keterlaluan namanya!

Tadi dia membiarkan dirinya digebuki, dimaki dan dihukum. Tetapi, setelah kesalahannya dia tebus dengan mandah menerima hukuman yang dianggapnya sudah lebih dari cukup, jika mereka masih haus darah dan hendak membunuhnya, terpaksa dia harus melindungi dirinya. Seorang yang tidak berani melindungi nyawa dan dirinya sendiri adalah seorang pengecut.

"Kalian sudah cukup menghukum aku!" teriaknya.

Sekarang dia menerjang ke kiri dan menangkap sebatang bambu yang digunakan untuk menghantam kepalanya, lantas membetot bambu itu secara tiba-tiba ke kanan sehingga pemegangnya yang tak menduga-duga tertarik hampir jatuh, disambut dengan tendangan Kun Liong yang mengenai sambungan lututnya.

"Plakk! Aduhhh...!"

Biar pun yang menggajul lutut itu hanya seorang anak berusia sepuluh tahun, akan tetapi karena ujung sepatu Kun Liong tepat mengenal sambungan lutut, tentu saja rasanya nyeri bukan main, membuat orang itu terpelanting dan tongkatnya terampas oleh Kun Liong!

Kini cuaca sudah menjadi gelap kembali setelah kebakaran itu dapat dipadamkan. Hal ini menguntungkan Kun Liong. Dengan tongkat rampasan di tangannya dia mengamuk, kini tidak hanya menangkis atau mengelak saja, melainkan juga membalas dengan sodokan tongkatnya.

Dia berhasil merobohkan empat orang sambil melompat ke sana sini mencari lowongan di antara para pengepungnya. Yang roboh mengaduh-aduh memegangi perut yang tersodok sampai terasa mulas, atau kaki yang dihantam sampai bengkak.

Orang yang terancam bahaya maut kadang-kadang dapat melakukan hal-hal yang luar biasa, yang tidak dapat dilakukannya dalam keadaan biasa, seolah-olah ancaman bahaya maut itu menimbulkan tenaga tersembunyi yang selama itu tak pernah muncul dan hanya akan muncul apa bila dirinya terancam bahaya maut dan tenaga mukjijat itu akan bekerja di luar kesadarannya. Demikian pula dengan Kun Liong.

Memang harus diakui bahwa anak ini semenjak kecil digembleng oleh ayah bundanya, dua orang ahli yang pandai. Akan tetapi karena usianya baru sepuluh tahun, sepandai-pandainya, tentu dia tidak mungkin mampu melawan tukang-tukang pukul dan penduduk dusun yang sedang marah dan berjumlah banyak itu.

Namun ketika anak itu sadar akan bahaya maut yang mengancamnya dan dia melakukan perlawanan, secara tiba-tiba tubuhnya yang penuh luka dan hampir kehabisan tenaga itu mendadak menjadi amat tangkas dan dia dapat bergerak cepat sekali, melompat ke sana sini, merobohkan siapa saja yang mencoba menghalanginya sehingga akhirnya dia dapat melarikan diri ke dalam kegelapan malam, dikejar oleh banyak orang yang berteriak-teriak marah.

Malam yang sangat gelap menolongnya, dan teriakan-teriakan itu menambah kesukaran bagi mereka yang mencari dan mengejarnya karena suara riuh rendah itu menelan lenyap suara kaki Kun Liong yang berlari cepat menyelinap di antara rumah-rumah orang dan pohon-pohon, kemudian keluar dari dusun dan terus lari, tidak mempedulikan arah karena tujuannya hanya satu, lari menjauhi orang-orang yang mengejarnya secepat dan sejauh mungkin.

********************

Dibantu oleh isterinya, Yap Cong San mempergunakan semua ilmu kepandaiannya untuk mengobati dan menolong ketiga orang perwira pengawal Ma-taijin. Tetapi, tanpa bantuan obat khusus, mana mungkin mereka menyembuhkan luka akibat pukulan jari tangan sakti Pek-tok-ci? Obat yang mereka dapatkan dari Siauw-lim-pai, yaitu satu-satunya obat yang mungkin menyembuhkan luka beracun itu, sudah tumpah dan hanya tinggal sedikit! Untuk mencari obat semacam itu lagi ke Siauw-lim-si, waktunya sudah tidak cukup lagi.

Sesudah membawa sisa obat yang tumpah seadanya, ditambah obat-obat buatan sendiri, dengan dibantu oleh Gui Yan Cu, isterinya yang lebih pandai dalam hal ilmu pengobatan, kemudian menggunakan sinkang mereka berdua untuk mengobati tiga orang perwira itu secara bergantian, akhirnya Yap Cong San dan isterinya pulang untuk dapat beristirahat. Pengobatan dengan obat khusus yang amat kurang itu membuat mereka sangat lelah dan khawatir akan hasil pengobatan itu.

"Aihh, ke manakah perginya anak bengal itu?" Cong San menggerutu setelah sampai di rumah tetapi tidak melihat adanya Kun Liong.

“Tentu saja dia pergi meninggalkan rumah, takut pulang sebab di rumah menanti ayahnya yang siap untuk memaki dan memukulnya," Yan Cu menjawab.

Suami itu memandang isterinya, kemudian menarik napas panjang. "Jika terlalu dimanja, begitulah jadinya!"

"Kalau terlalu ditekan dengan kekerasan, begitulah jadinya!"

Keduanya saling memandang, kemudian Cong San yang mengalah dan menarik napas panjang lagi. "Isteriku, aku tidak menekan dan tidak bersikap keras terhadap anak kita. Akan tetapi, tidakkah engkau melihat bahwa keadaan ketiga orang perwira itu berbahaya sekali dan karena perbuatan Kun Liong, maka obat menjadi tumpah dan sekarang sukar mengobati mereka sampai sembuh?"

"Yang menumpahkan obat bukan Liong-ji (Anak Liong), tetapi Pek-pek, anjing peliharaan kita. Tapi siapa pun yang menumpahkan obat, yang tumpah sudah tumpah, mau diapakan lagi? Hal itu merupakan kecelakaan. Siapa pun yang menumpahkan tentu tidak dilakukan dengan sengaja. Kalau sampai hal itu membuat tiga orang perwira itu tidak sembuh, berarti memang sudah semestinya demikian. Kita harus dapat dan berani menghadapi segala kenyataan yang menimpa kita, suamiku."

Kembali Cong San menarik napas panjang. Apa pun yang terjadi, dia tidak menghendaki bentrokan pendapat dan kesalahan paham dengan isterinya. Apa bila hal itu terjadi, dunia akan menjadi gelap baginya, dan hidup akan menjadi penderitaan.

Dipandangnya wajah isterinya yang baginya luar biasa cantik jelitanya itu, ditangkapnya tangan isterinya dan ditarik sehingga tubuh Yan Cu berada di dalam pelukannya. Dalam keadaan begini, dengan tubuh isterinya berada demikian dekat, didekap dalam pelukan di atas dadanya, segala kekhawatiran segera lenyap dari hati Cong San. Dan inilah yang dia inginkan.

Ia kembali menghela napas, kini helaan napas penuh kelegaan dan kebahagiaan. "Semua ucapanmu memang benar, isteriku. Biarlah kita hadapi apa yang akan terjadi bila sampai pengobatan kita gagal."

Yan Cu menengadah, memandang wajah suaminya, mengangkat dua lengan merangkul leher sehingga muka suaminya menunduk, menempel di dahinya, kemudian dengan sikap penuh kasih sayang dan agak manja, kemanjaan seorang isteri yang membutuhkan kasih suaminya selama dia hidup, Yan Cu berkata lirih,

"Gagal atau berhasil pengobatan kita, tergantung dari nasib mereka sendiri, perlu apa kita khawatir? Yang lebih penting adalah memikirkan anak kita yang sudah pergi. Sebaiknya aku pergi mencarinya."

Cong Sang memperketat pelukannya. "Jangan! Biarkan dia menyesali kenakalannya. Jika dicari, tentu dia akan merasa amat dimanjakan. Dia sudah besar, sudah pandai menjaga diri, biarlah dia pergi semalam lagi, tak akan berbahaya. Besok pagi-pagi barulah engkau pergi mencarinya apa bila dia belum kembali. Malam ini aku lebih membutuhkan engkau isteriku." Cong San menunduk dan mencium dengan pandang mata serta gerakan yang sudah amat dikenal oleh Yan Cu.

"Ihhh, seperti pengantin baru saja! Dua persoalan yang menghimpit kita, pertama adalah kemungkinan gagal pengobatan para perwira, ke dua adalah perginya Kun Liong tanpa pamit, dan engkau bersikap seperti pengantin baru saja!" Yan Cu mengomel manja dan mengelak dari ciuman suaminya.

Cong San tersenyum, dan walau pun mereka sudah menjadi suami isteri sebelas tahun lamanya, tetap saja senyum pria itu masih memiliki daya tarik yang selalu mendatangkan debar penuh gairah kasih di hati Yan Cu.

"Kita akan selalu seperti pengantin baru sampai selama kita hidup!"

"Aihhh! Tidak ingat anak kita? Engkau sudah menjadi ayah, aku sudah menjadi ibu, bukan muda remaja lagi!" Yan Cu mencela manja.

Cong San menciumnya akan tetapi sekali ini Yan Cu sama sekali tidak mengelak, bahkan menerima dan menyambut pencurahan kasih sayang suaminya itu dengan hangat.

"Biar kelak aku menjadi kakek dan engkau menjadi nenek yang sudah mempunyai selosin buyut (anak cucu), kita akan tetap seperti pengantin baru!"

Yan Cu tidak dapat membantah lagi dan malam itu, sepasang suami isteri ini benar-benar seperti sepasang pengantin baru yang sedang berbulan madu, lupa akan segala masalah yang mengganggu, lupa akan ancaman Ma-taijin dan lupa pula akan anak mereka yang pergi tanpa pamit.

Pada keesokan harinya, setelah bangun dari tidur dan menghadapi sarapan pagi, barulah mereka teringat kembali akan persoalan yang mereka hadapi. Begitulah hidup! Alangkah bedanya keadaan hati dan pikiran mereka berdua malam tadi dan pagi ini! Seperti siang dan malam. Kebalikannya!

Dan memang sesungguhnyalah bahwa suka dan duka, puas dan kecewa, menang dan kalah, hanyalah sebuah benda dengan dua muka, keduanya tak dapat saling dipisahkan dan siapa mengejar yang satu sudah pasti akan bertemu dengan yang lain. Pengalaman akan suka, puas, dan menang akan dihidupkan oleh ingatan dan mendorong orang untuk terus mengejarnya, untuk mengalaminya kembali sehingga untuk selamanya orang hidup dalam mengejar ingatan mengejar bayangan.

Dan sebaliknya, pengalaman akan duka, kecewa, dan kalah yang dihidupkan oleh ingatan mendorong orang untuk selalu menjauhinya, tidak tahu bahwa pengejaran akan bayangan suka menimbulkan duka, akan bayangan puas menimbulkan kecewa dan akan bayangan menang menimbulkan kalah karena keduanya itu tidak dapat dipisahkan.

Oleh karena itu terjadilah perlombaan antar sesama manusia dalam mengejar kesukaan dan menjauhkan kedukaan. Mereka tidak hanya saling berlomba, juga saling mendorong, saling menjegal, saling memukul, bahkan juga saling membunuh untuk memperebutkan bayangan ingatan!


"Aku akan menengok para perwira, mudah-mudahan mereka dapat sembuh," kata Cong San sehabis sarapan, suaranya terdengar berat.

"Aku akan mencari Kun Liong, mudah-mudahan dia dapat kutemukan," kata Yan Cu, juga suaranya tidak segembira malam tadi karena dia maklum bahwa mereka berdua sedang menghadapi persoalan yang tidak menyenangkan.

Dengan ucapan-ucapan itu, suami isteri ini saling berpisah. Cong San pergi ke gedung tempat tinggal Ma-taijin, sedangkan Yan Cu segera pergi melakukan penyelidikan dan bertanya-tanya kepada para tetangga akan diri puteranya yang sudah pergi sehari dua malam meninggalkan rumah tanpa pamit.

Gui Yan Cu adalah seorang wanita yang cerdik. Dia maklum bahwa puteranya tentu tidak melarikan diri ke utara, timur atau barat karena dusun-dusun di bagian ini merupakan tempat tinggal orang-orang yang sudah mengenal keluarganya. Kalau puteranya itu pergi melarikan diri, tentu anak yang dia tahu sangat cerdik itu melarikan diri ke arah selatan, daerah yang asing bagi mereka dan dusun-dusunnya terletak jauh dari Leng-kok. Sebagai pelarian yang takut ditemukan ayah bundanya tentulah anak itu mengambil jurusan yang satu ini. Karena itu, maka Yan Cu lalu melakukan penyelidikan ke arah selatan, sesudah para tetangganya tidak ada yang melihat Kun Liong dan tidak ada seorang pun di antara mereka yang tahu ke mana perginya anak itu.

Dan dugaan nyonya itu memang tepat sekali! Ketika melarikan diri, memang Kun Liong sengaja mengambil jalan ke jurusan selatan, karena tepat seperti diduga ibunya, dia tidak ingin ada orang mengenalnya karena kalau hal ini terjadi, sudah pasti sekali dalam waktu singkat ayahnya atau ibunya akan dapat mengejar dan memaksanya pulang!

Dengan ilmu kepandaiannya yang tinggi, Gui Yan Cu mulai melakukan pengejaran. Jarak yang ditempuh oleh puteranya dalam waktu sehari semalam, hanya membutuhkan waktu setengah hari saja baginya. Tibalah dia di dusun di mana Kun Liong menjadi penyebab kebakaran dan dapat dibayangkan betapa kagetnya pada saat ia melakukan penyelidikan, ia mendengar tentang seorang anak laki-laki yang telah menyebabkan kebakaran dengan melepaskan ular-ular beracun di dalam rumah yang sedang pesta, kemudian betapa anak itu ditangkap dan dipukuli orang-orang, akan tetapi secara aneh anak itu dapat melarikan diri dan tak seorang pun tahu ke mana perginya.

"Semalam suntuk kepala dusun serta tukang-tukang pukulnya pergi mencari, akan tetapi sia-sia saja. Anak setan itu seperti menghilang. Kalau dapat dicari, tentu dia akan dipukul sampai mampus!" Tukang warung nasi menutup keterangannya.

Gui Yan Cu menahan kemarahan hatinya. Apa bila dia mendengar penuturan ini sepuluh tahun yang lampau, tentu dia akan mengamuk dan menghajar orang sekampung itu, atau setidaknya dia akan menghajar kepala kampung, atau paling sedikit dia akan menampar pipi tukang warung nasi yang menceritakan perihal anaknya. Akan tetapi sekarang dia bukanlah seorang dara remaja yang ganas lagi, melainkan seorang nyonya dan ibu yang bingung memikirkan puteranya, dan yang maklum betapa sakit hati para penduduk karena ada yang mengacaukan pesta, dan betapa jahat pandangan mereka terhadap kenakalan anaknya.

Karena dia tidak berhasil mencari di sekitar dusun itu, lagi pula karena dia khawatir akan keadaan suaminya yang harus menghadapi ancaman kepala daerah kalau tidak berhasil menyembuhkan ketiga orang perwira yang terluka, Yan Cu mengambil keputusan untuk pulang dulu, kemudian setelah urusan Leng-kok beres, baru dia akan mengajak suaminya untuk mencari Kun Liong.

Dapat dibayangkan betapa kaget dan marah hati nyonya perkasa ini ketika dia sampai di rumah pada waktu senja hari itu, dia disambut oleh seorang kakek dengan wajah keruh dan penuh kegelisahan. Kakek itu adalah Liok Sui Hok, paman tua suaminya. Kakek inilah yang dahulu membantu suaminya membuka toko obat di Leng-kok, dan karena Liok Sui Hok ini tidak memiliki keturunan, lagi pula sudah duda dan hidup seorang diri di rumahnya yang besar di Leng-kok, kakek ini menganggap keponakannya itu seperti anak sendiri.

"Sungguh celaka... suamimu gagal mengobati para perwira itu, dan dia kini ditahan oleh Ma-taijin..." Demikianlah sambutan kakek itu begitu melihat Yan Cu datang.

Yan Cu menggigit bibirnya, sejenak nyonya muda itu tak dapat berkata-kata. Memang hal ini sudah dikhawatirkannya, akan tetapi sungguh tak disangka bahwa kepala daerah she Ma itu benar-benar berani menahan suaminya!

"Hemmm... agaknya si keparat Ma itu perlu dihajar!" katanya dan dia sudah membalikkan tubuh hendak pergi lagi ke rumah pembesar itu.

"Wah-wah-wah…, nanti dulu! Harap kau bersabar, perlu apa mempergunakan kekerasan menghadapi pembesar? Jangan-jangan engkau malah akan dianggap pemberontak yang melawan pemerintah!"

"Paman! Pemerintah mempunyai hukum, kalau suamiku bersalah dan berarti dia sudah melanggar hukum, tentu saja saya tak akan berani menggunakan kekerasan. Akan tetapi dalam hal ini, suamiku sama sekali tak bersalah. Kalau sampai dia ditahan, hal itu berarti bahwa Ma-taijin ingin menggunakan hukumnya sendiri, dan aku pun dapat menggunakan hukumku sendiri terhadap dia!"

"Sabarlah! Dia adalah kepala daerah di sini, di Leng-kok ini kekuasaannya paling besar dan harus ditaati oleh seluruh rakyat."

"Apakah dia raja?"

"Bukan, akan tetapi biasanya, setiap kepala daerah merasa menjadi raja kecil di dalam daerahnya masing-masing. Karena itu, besok aku akan pergi ke kota Khan-bun. Kepala daerah di sana lebih tinggi pangkatnya dan dengan bantuan teman-teman yang tinggal di Khan-bun, agaknya aku akan dapat menarik pengaruh dan bantuannya untuk menolong suamimu."

Yan Cu mengerutkan alisnya. Dia sudah banyak mendengar tentang tindakan sewenang-wenang para pembesar setempat. Keadilan yang berlaku pada saat itu hanyalah keadilan uang! Siapa yang mampu menyogok, dialah yang akan dilindungi dan dimenangkan oleh mereka yang berkuasa!

"Paman, saya dan suami saya tidak mau dilindungi dengan cara menyogok! Kalau kami memang bersalah, kami rela dihukum! Akan tetapi kalau kami tidak bersalah, kami siap melawan siapa saja yang hendak melakukan tindakan sewenang-wenang! Sekarang juga saya mau menghadap Ma-taijin menuntut keadilan!"

Tanpa menanti jawaban, Yan Cu berlari meninggalkan Liok Sui Hok yang berdiri bengong kemudian menggelengkan kepala, menarik napas panjang berkali-kali. Ia maklum bahwa keponakannya, Yap Cong San, adalah seorang murid Siauw-lim-pai yang berkepandaian tinggi sekali, ada pun isterinya yang cantik jelita itu bukan hanya ahli dalam pengobatan, akan tetapi juga memiliki ilmu silat yang sangat lihai.

Celaka, pikirnya, tentulah akan terjadi keributan. Dan lebih celaka lagi adalah nasib yang dihadapi Ma-taijin! Kakek itu maklum bahwa kalau keponakan dan mantu keponakannya itu mengamuk, maka tiada seorang pun di antara jagoan-jagoan pengawal kepala daerah yang akan mampu menandingi mereka.

"Hemm... orang-orang muda... kurang perhitungan, asal berani dan kuat saja... hemm, ke mana perginya Kun Liong cucuku itu?" Sambil menggeleng-geleng kepalanya yang penuh uban, kakek itu melangkah perlahan-lahan, pulang ke rumahnya sendiri.

********************


Tag: Cerita Silat Online, Cersil, Kho Ping Hoo, Pedang Kayu Harum

Thanks for reading Petualang Asmara Jilid 02.

Back To Top