Cersil Online Karya Kho Ping Hoo

Petualang Asmara Jilid 06

PERMAINAN dadu itu dilakukan dengan cara sederhana saja. Biji dadu yang hanya sebuah, yang mempunyai enam permukaan, diisi tulisan yang berarti jumlah satu sampai enam. Mereka mengocok biji dadu itu ke dalam mangkok, menutupi mangkok dengan telapak tangan, lalu meletakkannya di atas lantai perahu dan membuka tangan yang menutupi. Siapa yang mendapatkan angka terbanyak ketika mangkok dibuka, dialah yang menang.

"Wah, sudah cukup, Ouw-siucai. Uangku sudah habis sama sekali. Engkau benar-benar sedang mujur!" Akhirnya guru silat itu berkata sambil menarik napas panjang.

Ouw Ciang Houw tersenyum lebar dan melirik ke arah isteri guru silat itu yang sekarang tampak menunduk sambil mengerutkan alis. Biar pun mulutnya tak mengatakan sesuatu, tentu saja isteri ini marah sekali melihat betapa bekal uang mereka dihabiskan ludas oleh suaminya untuk berjudi!

"Ahh, Gui-kauwsu. Bermain dadu tidak hanya menggunakan uang saja sebagai taruhan. Masih banyak yang kau miliki."

"Hemm, aku sudah kehabisan uang, tidak mempunyai apa-apa lagi."

"Mari kita bertaruh satu kali lagi." Siucai itu berkata sambil mengeluarkan semua uang kemenangannya yang dia taruh ke dalam kantung uang itu ke atas lantai perahu. "Kalau menang, biarlah semua uangku ini untukmu."

"Ihhh! Mana mungkin aku dapat bertaruh sebanyak itu, Ouw-siucai? Harap engkau jangan main-main!"

"Aku tidak main-main dan aku berjanji, apa bila aku kalah satu kali ini, maka semua uang ini untukmu."

"Bagaimana kalau aku yang kalah?" Guru silat itu bertanya.

"Aku akan mengambil satu di antara milikmu."

"Wah, engkau aneh sekali. Milikku hanya pakaian dan... dan pedang ini, biar pun pedang baik namun harganya tidak sebanyak itu."

"Pendeknya, engkau berani atau tidak Gui-kauwsu? Engkau sudah kalah banyak dan aku hanya memberi kesempatan kepadamu untuk mendapatkan kembali uangmu."

Merah wajah guru silat itu. Biarlah, biar dia kehabisan semua barangnya, sudah kepalang tanggung. Benar kata-kata siucai ini, dia sudah kalah terlalu banyak dan andai kata dia dalam pertaruhan terakhir ini sampai habis pakaian beserta pedangnya, selisihnya tidak banyak dengan kekalahannya sekarang dan sampai di rumah tentu isterinya akan marah-marah. Akan tetapi sebaliknya kalau dia menang, dia akan mendapatkan kembali semua uang kekalahannya! Biarlah kalau kalah tidak kepalang, dan siapa tahu kalau menang!

"Baiklah! Akan tetapi bukan aku yang mendesakmu, Ouw-siucai!" kata Gui-kauwsu sambil menyambar mangkuk dadu, memasukkan dadunya dan mengocok dengan keras.

"Plakk!"

Mangkuk itu dia letakkan di atas papan dengan tangan masih menutupi mulut mangkok. "Diteruskankah pertaruhan terakhir ini, Ouw-siucai?" tanyanya lagi sebelum dia membuka tangannya.

Ouw Ciang Houw tersenyum dan mengangguk. "Tentu saja diteruskan."

"Dan ini merupakan permainan terakhir, kalau aku menang uang di kantung itu menjadi milikku dan..."

"Dan kalau aku yang menang, aku boleh mengambil satu di antara milikmu."

"Baik! Nah, kubuka, Ouw-siucai!" Tangan guru silat itu diangkat dan dadu dalam mangkuk itu memperlihatkan angka lima!

"Ha-ha-ha, engkau yang memaksaku, Ouw-siucai dan sekali ini agaknya engkau terpaksa harus mengembalikan semua uangku!"

Angka lima merupakan angka kedua terbesar, dan di dalam permainan dadu, angka ini merupakan angka yang amat baik dan harapan besar untuk menang. Satu-satunya lawan hanya angka terakhir, angka enam, ada pun angka lima lawan hanya akan berarti sama kuat dan diulang. Angka satu sampai angka empat dari lawan berati dia menang, dengan demikian, harapannya untuk menang dengan kemungkinan kalah adalah empat melawan satu!

Ouw-siucai masih tersenyum tenang dan pada waktu melirik ke arah wanita itu, Si Wanita kelihatan berseri wajahnya, tanda gembira hatinya melihat suaminya mendapatkan angka lima. Melihat ini, senyum Ouw-siucai melebar dan dengan tenang dia lantas mengambil mangkuk, mengocok mangkuk itu sambil berkata,

"Memang angkamu itu baik sekali, Gui-kauwsu," dia meletakkan mangkuk di atas papan sambil menutup mulut mangkuk dengan tangan. "Akan tetapi, yang menentukan adalah peruntungan, dan siapa tahu, bintangku masih terang. Lihat, kubuka, Gui-kauwsu!" Siucai itu mengangkat tangannya dan Si Guru Silat langsung mengeluh ketika melihat dadu itu memperlihatkan angka enam! Dia kalah lagi!

Dengan lemas guru silat itu menjatuhkan diri duduk di atas papan, melirik pada isterinya yang menunduk dengan muka merah. Dia menghela napas panjang lalu berkata,

"Ouw-siucai, ternyata engkau mujur sekali. Nah, ambillah barangku, kau boleh pilih."

"Ha-ha-ha-ha, benar-benar hari mujur bagiku, Gui-kauwsu, aku memilih milikmu yang satu ini, bukan kuambil, tetapi hanya kupinjam untuk semalam saja!" Sambil berkata demikian, tangan Ouw-siucai memegang pundak isteri guru silat itu!

Mata guru silat itu terbelalak, mukanya menjadi pucat sekali, sedangkan wanita itu pun terkejut dan mukanya berubah merah padam. Tak dapat disangkalnya bahwa diam-diam dan menjadi rahasia pribadinya, dia tertarik kepada siucai yang tampan ini, dan agaknya dia akan mengenang wajah tampan itu di dalam alam mimpi, menyambut senyum serta pandang mata itu sebagai cumbuan di alam mimpi. Sama sekali tidak disangkanya bahwa siucai itu akan secara terang-terangan dan kurang ajar sekali minta dia sebagai taruhan untuk dipinjam semalam!

"Apa...?! Srattt!" Guru silat itu telah mencabut pedangnya. Tangannya bergemetar ketika dia memalangkan pedang di depan dadanya. "Hemmm... kau... kau...! Jahanam keparat! Manusia rendah! Kalau tidak ingat engkau seorang kutu buku yang lemah, tentu sudah kupenggal kepalamu! Hayo cepat engkau berlutut minta ampun kepada isteriku, kemudian meloncat keluar dari perahu!"

Kun Liong merasa tegang sekali. Tidak disangkanya urusan menjadi begini dan dia pun merasa marah kepada siucai yang kurang ajar itu. Akan tetapi di samping kemarahannya, dia pun heran sekali dan mulai curiga melihat betapa siucai itu sama sekali tidak gentar menghadapi ancaman itu. Bahkan dia tersenyum, lalu benar-benar dia sudah berlutut di hadapan wanita yang masih duduk itu, akan tetapi bukan untuk minta ampun, melainkan tangannya memeluk dan dia terus menciumi! Wanita itu terpekik dan meronta, berusaha melepaskan diri.

"Hemm, manis... jangan berpura-pura...," bisik siucai itu.

"Jahanam!" Gui Tiong menggerakkan pedangnya menusuk ke arah punggung siucai itu. Gerakannya cukup cepat dan mengandung tenaga dan agaknya menurut penglihatan Kun Liong, tentu punggung siucai itu akan tertembus pedang.

Akan tetapi, dapat dibayangkan betapa kagetnya ketika tanpa menoleh, masih merangkul leher serta dengan paksa menciumi pipi dan bibir wanita itu, Si Siucai menggerakkan sebelah tangannya ke belakang, memukul pedang itu dengan telapak tangan dimiringkan dan... pedang itu terlempar, terlepas dari pegangan Gui-kauwsu dan lenyap ke dalam air sungai!

Guru silat itu terkejut bukan main, akan tetapi hal ini menambah kemarahannya. Kini dia menggunakan kepalan tangan menghantam ke arah kepala Ouw-siucai. Tiba-tiba siucai itu melompat bangun, membalikkan tubuh dan dia mendahului dengan sodokan jari-jari tangannya ke arah pusar Gui-kauwsu.

"Hukkk...!" Tubuh kauwsu itu terjengkang dan dia pun terengah-engah, sulit bernapas dan dalam keadaan setengah pingsan!

"Kau berani menyerangku, ya? Dasar sudah bosan hidup!" Siucai itu menyambar tali layar perahu dan menggunakan ujung tali untuk mengikat leher guru silat itu dan menggantung tubuhnya ke atas!

Guru silat itu siuman dan meronta, akan tetapi dua kali siucai menotok pundak membuat kedua lengan guru silat itu kaku dan tak dapat bergerak dan tentu saja tali yang mengikat lehernya menjadi makin mencekik erat karena berat tubuhnya. Sebentar saja, mata orang yang digantung ini mendelik dan lidahnya keluar!

"Aughhh... jangan bunuh... jangan bunuh dia... lepaskan suamiku...!"

"Ha-ha-ha, bagus sekali dia, bukan? Seperti penakut burung di tengah sawah!" Si Siucai tertawa dan suara ketawanya seperti suara ketawa orang yang miring otaknya.

"Aihhh... ampunkan suamiku... jangan bunuh dia...!" Wanita itu meloncat dan hendak lari menghampiri bambu tiang layar untuk menolong suaminya. Akan tetapi siucai itu segera mendorongnya sehingga dia jatuh telentang di atas papan.

"Jangan bunuh dia...! Tolonggggg...! Ahhh... engkau menginginkan aku, bukan? Nah, kau ambillah..." Seperti orang gila wanita itu menanggalkan pakaiannya dengan cepat namun dengan jari-jari tangan gemetar. "Kau boleh memiliki tubuhku, akan tetapi... bebaskan dia. Jangan… bunuh suamiku... uhu-hu-hu-huuk...!" Wanita itu menjadi lemas dan menangis, tubuhnya setengah telanjang, rebah di atas papan.

"Ha-ha-ha, bagus! Engkau bertanggung jawab kalau begitu! Ha-ha-ha-ha! Orang laknat! Engkau telah berani menyerangku, untuk itu sebetulnya kau harus mampus. Akan tetapi, isterimu cantik manis, dan biarlah engkau menyaksikan betapa isterimu ini melayaniku, ha-ha-ha!" Siucai gila itu lalu meloncat dan sekali renggut putuslah tali yang menggantung Gui-kauwsu.

Tubuh guru silat itu jatuh ke atas lantai perahu. Ketika ikatan lehernya dilepas, lehernya tampak ada guratan merah membiru, akan tetapi dia dapat bernapas lagi, terengah-engah dan kedua lengannya masih kaku tak dapat bergerak, dalam keadaan tertotok.

Dengan mata terbelalak dan dalam keadaan setengah sadar, Gui-kauwsu melihat betapa siucai itu menubruk isterinya di atas papan perahu. Dia melihat isteriya menggeliat-geliat dan mengeluh, menangis perlahan seperti merintih.

"Manusia jahat yang gila! Lepaskan dia...!" Kun Liong tak dapat lagi menahan diri melihat perbuatan siucai itu, dia sudah menubruk ke depan sambil menghantamkan tangannya ke arah kepala siucai itu.

"Desss...! Aduhhh...!"

Siucai yang tadinya menangkis pukulan Kun Liong tanpa menoleh itu, terkejut bukan main karena tangkisannya itu mengenai lengan yang mengandung kekuatan dahsyat dan yang mendatangkan rasa nyeri bukan main pada lengannya, sampai terasa ke dalam dadanya. Hampir dia tak percaya akan keanehan ini dan dia sudah melompat bangun, menghadapi Kun Liong.

"Ehh, engkau bocah gundul, berani engkau menyerangku?"

"Manusia hina! Aku mempertaruhkan nyawa untuk membasmi manusia macam engkau yang jahat dan gila ini!" Kun Liong berteriak lalu menyerang dengan kenekatan bulat.

Melihat gerakan Kun Liong, tahulah siucai itu bahwa anak gundul ini memang pandai ilmu silat, akan tetapi karena masih kanak-kanak, tentu saja dia memandang rendah gerakan Kun Liong. Hanya dia tahu bahwa secara luar biasa sekali, bocah ini telah memiliki tenaga sinkang yang mukjijat, maka dia tidak berani menangkis, melainkan miringkan tubuhnya dan secepat kilat dia memukul dari samping.

"Desss…!" Lambung Kun Liong terpukul dan tubuhnya terlempar keluar dari perahu.

"Byuuurrr…!"

Air muncrat tinggi dan tubuhnya tenggelam, lenyap dari permukaan air. Siucai itu tertawa bergelak, sejenak memandang ke permukaan air. Setelah yakin bocah gundul itu tak akan muncul lagi, Ouw Ciang Houw Si Siucai gila yang lihai itu sambil terkekeh-kekeh kembali kepada isteri guru silat yang masih menangis lirih.

Kebiadaban yang terjadi di perahu itu dilihat serta didengar oleh Gui Tiong, dan karena tubuhnya masih kaku tertotok, dia hanya dapat memejamkan mata, hanya pendengaran telinganya saja yang sangat menyiksa hatinya karena dia diharuskan mendengar rintihan isterinya. Senja mendatang dan cuaca menjadi gelap seakan-akan hendak menyelubungi peristiwa terkutuk itu agar tidak tampak oleh orang lain.

Kun Liong yang terlempar ke dalam air, cepat dapat menguasai dirinya. Dia berenang ke arah perahu, lalu berpegangan pada dasar perahu di mana dia menyembunyikan bokor emas. Sebelum perahunya memasuki Huang-ho, dia sudah menyembunyikan bokor itu pada bawah perahu sehingga tidak tampak dari luar. Karena dia maklum bahwa bokor itu akan mendatangkan banyak mala petaka kalau terlihat orang, maka dia melakukan hal itu dan sekarang dia dapat berpegang pada tali pengikat bokor itu.

Tubuhnya tenggelam akan tetapi kepalanya timbul di atas permukaan air, di bawah tubuh perahu. Napasnya agak sesak dan dadanya terasa nyeri sekali oleh pukulan tadi. Kalau tidak ada tali untuk berpegangan, tentu dia akan tewas dan tenggelam karena dia tidak mempunyai tenaga lagi untuk naik ke perahu, apa lagi berenang ke pinggir sungai yang masih jauh dari situ.

Dari bawah perahu, dia tidak tahu apa yang terjadi di atas perahu dan untung bahwa dia terluka sehingga tidak dapat naik ke perahu. Kalau hal ini terjadi dan dia menyaksikan apa yang terjadi di dalam perahu, tentu dia akan mempertaruhkan nyawanya dan tentu dia akan tewas di tangan Ouw-siucai yang gila namun amat lihai itu.

Setelah malam tiba, perahu bergerak ke pinggir, di bawah perahu berombak tanda tidak ada yang mengemudikan perahu. Setelah dekat dengan tepi, perahu itu bergoyang dan terdengar suara dari tepi sungai,

"Engkau hebat dan manis sekali, sayang! Selamat tinggal. Eh, terima kasih, Gui-kauwsu ha-ha-ha!"

Tahulah Kun Liong bahwa siucai gila itu tadi meloncat ke darat dan telah pergi, jadi di atas perahu tinggal guru silat Gui dan isterinya. Kun Liong mengerahkan tenaganya, dengan susah payah berusaha naik ke perahu. Jari-jari tangannya berhasil menjangkau pinggiran perahu dan perlahan-lahan, payah sekali, dia menarik tubuhnya ke atas hingga akhirnya dengan napas hampir putus dia berhasil naik ke atas perahu, tiba di ujung perahu dekat kemudi. Bulan purnama bersinar terang sehingga dia dapat melihat permukaan perahu itu dengan jelas.

Dengan pakaian awut-awutan hanya dipakai untuk menutupi tubuh belaka, isteri guru silat itu terlihat berlutut dan menangis dekat tubuh suaminya, memeluk tubuh itu dan menangis tanpa dapat mengeluarkan kata-kata yang bisa dimengerti. Agaknya sudah tiba saatnya Gui-kauwsu terbebas dari totokan. Jalan darahnya dapat mengalir kemball pulih seperti biasa dan sambil mengeluh dia bangkit duduk.

Dipandangnya sejenak isterinya yang berlutut dan menangis itu. Ketika tampak olehnya tubuh isterinya setengah telanjang, teringatlah dia dan tiba-tiba saja dia mendorong tubuh isterinya sehingga terjengkang dan pakaian isterinya terbuka lagi.

"Tidak perlu lagi kau pura-pura menangis! Apa pula yang ditangisi?" bentak Gui-kauwsu.

Wanita itu merangkak bangun, terbelalak dan terisak. "Mengapa... mengapa... kau bahkan marah-marah kepadaku? Kenapa... kau marah kepadaku? Apakah salahku...??" Dia pun menangis tersedu-sedu.

"Huh! Palsu! Air mata palsu! Perempuan rendah tak tahu malu! Kau menikmatinya, ya? Kalau engkau lebih suka tidur dengan bajingan itu, kenapa kau tadi tidak ikut saja dengan dia?"

Wanita itu menjerit, "Apa...?! Kau... kau... kau tega berkata begitu? Suamiku, aku... aku tadi terpaksa melakukannya untuk menolong nyawamu!" Wanita itu kini menghentikan tangisnya dan memandang suaminya penuh rasa penasaran.

"Hemm, alasan kosong! Memang kau sudah tergila-gila kepadanya! Kau kira aku tuli? Kau kira aku tidak tahu betapa engkau menikmatinya? Betapa engkau merasa puas dengan dia? Perempuan rendah pelacur dan hina...!"

"Suamiku...!" Wanita itu menubruk dan hendak merangkul suaminya, akan tetapi kembali suaminya mendorong, bahkan menampar pipi isterinya dengan keras.

"Plakkk!”

“Jangan dekati aku! Jangan sentuh aku dengan tubuhmu yang ternoda, yang kotor dan hina! Kau pergi sana ikut dengan siucai gila yang menjadi kekasihmu itu!"

Wanita itu bangkit perlahan, tampak perubahan dalam sikapnya dan pandang matanya. Dia bangkit berdiri, tidak mempedulikan pakaiannya yang lebih banyak terbuka dari pada tertutup itu, kemudian terdengar suaranya, masih bercampur isak tetapi bernada dingin,

"Cihhh! Laki-laki yang tak tahu diri! Baik, dengarkan sekarang, buka telingamu lebar-lebar seperti tadi, juga bukalah matamu lebar-lebar seperti ketika engkau menonton tadi! Aku menikmatinya, memang! Nah, habislah! Aku lebih puas dengan dia dari pada denganmu! Sudah cukupkah? Masih kurang puas? Aku memang lebih suka ikut dengan dia jika saja dia mau, dari pada ikut dengan engkau manusia tak tahu diri, tak kenal budi. Cihhh! Aku muak melihatmu, dan aku tidak sudi lagi berdekatan denganmu!" Tiba-tiba saja wanita itu meloncat keluar dari perahu.

"Byuuurrr...!" Air muncrat tinggi.

Dengan mata terbelalak Kun Liong melihat betapa tubuh itu disambar air yang mengalir agak kuat di tempat itu, lalu tenggelam. Tubuhnya terlalu lelah, dadanya terasa sesak dan sakit-sakit sehingga dia merasa tidak kuasa menolong wanita itu. Dia mengharapkan Si Suami akan menolong isterinya maka dia menoleh kepada laki-laki yang berdiri bengong di pinggir perahu.

"Isteriku...! Di mana engkau...? Apa yang telah kau lakukan ini? Isteriku, maafkanlah aku... aku berdosa padamu, aku... aku cinta padamu...! Jangan tinggalkan aku...!" Kemudian Gui-kauwsu itu pun moloncat keluar dari perahu.

"Byuuur...!" Untuk kedua kalinya air sungai muncrat ke atas.

Dan dengan mata terbelalak lebar Kun Liong melihat betapa guru silat itu gelagapan dan tenggelam. Ternyata guru silat itu, seperti juga isterinya, sama sekali tidak pandai renang!

Lupa akan keadaan dirinya sendiri, Kun Liong meloncat keluar dari perahu. Akan tetapi dia pun gelagapan karena arus air amat deras, dan tenaganya amat lemah. Pula, ketika dia mencari-cari dengan matanya, dia sudah tak dapat melihat lagi tubuh kedua orang itu. Terpaksa dia berenang kembali ke perahunya dan dengan amat susah payah, akhirnya berhasil juga dia naik ke perahunya. Dia masih menggunakan sisa-sisa tenaganya untuk mendayung perahu, mencari-cari tubuh suami isteri itu, akan tetapi sama sekali tidak tampak.

Dalam keadaan setengah pingsan karena peristiwa hebat itu dan akibat kehabisan tenaga ditambah luka oleh pukulan di lambungnya tadi, Kun Liong rebah di perahu, membiarkan perahu itu hanyut perlahan-lahan. Akhirnya dia tidak bergerak-gerak lagi, setengah tidur setengah pingsan!

Anak ini mengalami ketegangan hati hebat ketika menyaksikan peristiwa di perahu tadi. Dia benar-benar tidak mengerti akan sikap orang-orang dewasa itu. Mengapa siucai itu melakukan perbuatan yang begitu hina? Dan mengapa isteri guru silat itu membiarkan dirinya diperkosa, malah menawarkan dirinya! Betulkah untuk menyelamatkan suaminya?

Yang paling aneh baginya dan yang membuat dia merasa bingung sekali, adalah sikap Gui-kauwsu sendiri. Tadinya Gui-kauwsu secara mati-matian membela isterinya terhadap penghinaan Ouw-siucai, namun melihat isterinya diperkosa siucai itu timbul kebenciannya sehingga dia menampar dan mengusir, memaki dan menghina isterinya.

Sesudah isterinya nekat membunuh diri dengan terjun ke sungai, dia yang tidak pandai berenang kemudian nekat pula terjun dan mengaku cinta! Kenapa orang-orang dewasa itu bersikap seperti itu? Dan benarkah isteri kauwsu itu lebih suka kepada Si Siucai? Ataukah itu hanya untuk membalas perlakuan suaminya? Apakah isteri itu pun mencinta suaminya? Dia benar-benar tidak mengerti dan dalam tidur setengah pingsan itu, wajah suami isteri dan siucai itu ganti berganti menganggunya, menjadi muka yang amat besar, tanpa tubuh, menakutkan sekali.

Cinta terlalu halus untuk dapat dimengerti pikiran manusia yang kasar, terlalu tinggi untuk dicapai pikiran yang rendah dan terlalu dalam untuk dijajaki pikiran yang dangkal. Pikiran yang berputar sekitar sayang diri, demi aku, untuk aku, tak mungkin dapat mengerti cinta yang bersih dari pada kepentingan diri tanpa pamrih itu.

Gui-kauwsu ingin menguasai isterinya lahir batin, memonopoli isterinya lahir batin dan menganggap hal ini sebagai perasaan cintanya terhadap isterinya. Keinginan menguasai dan memiliki lahir batin ini tentu saja menimbulkan iri hati jika melihat isterinya menoleh kepada orang lain dan menimbulkan cemburu, bahkan menimbulkan benci! Adakah iri itu cinta? Adakah cemburu itu cinta? Adakah benci itu cinta? Apakah cinta itu dapat mendatangkan derita?

Hanya pengejaran dan pemuasan nafsulah yang akan mendatangkan derita. Keinginan menguasai dan memiliki lahir batin terhadap sesuatu, benda mau pun manusia, berarti mengundang datangnya derita sengsara, pertentangan dan penyesalan.

Memang, berhasil menguasai dan memiliki sesuatu atau seseorang, dapat mendatangkan rasa puas. Akan tetapi kepuasan nafsu keinginan ini hanya seperti angin lalu saja karena keinginan itu selalu didorong oleh pengejaran akan sesuatu yang lebih indah. Bila mana sudah didapat, tentu akan lepas dari pengejaran dan perhatian, karena keinginan sudah mencari lagi ke depan untuk mendapatkan yang lebih indah lagi!


Pada keesokan harinya, setelah sinar matahari sudah naik tinggi, Kun Liong bangun dari tidurnya. Dadanya masih terasa sakit sedikit, akan tetapi tenaganya sudah agak pulih. Melihat betapa perahunya berhenti, dia cepat melihat ke depan dan ternyata dia telah tiba di daerah yang berbatu-batu.

Sungai menjadi lebar sekali, akan tetapi batu-batu itu menonjol ke permukaan air. Perahu itu tertahan oleh sebaris batu dan untung saja terdampar di situ, tidak terbentur keras dan pecah.

Pada saat dia berdiri di pinggir perahu, tiba-tiba dia membelalakkan mata melihat sesuatu yang tersangkut pada batu tak jauh dari situ. Tadinya dia mengira seekor ikan besar yang mati, akan tetapi sesudah matanya terbiasa, dia hampir berteriak saking kagetnya.

Yang dilihatnya itu adalah mayat isteri Gui-kauwsu! Hanya sebagian muka, rambutnya, dan perutnya yang tampak, perut yang menggembung besar sehingga kelihatan seperti perut ikan, putih bersih. Mayat yang telanjang bulat!

Kun Liong mengejap-ngejapkan kedua matanya, hendak mengusir penglihatan itu. Ketika dia memandang ke kanan kiri, hampir dia terpekik lagi melihat sesosok mayat lain, juga terdampar dan tersangkut batu. Mayat Gui-kauwsu sendiri, mukanya tidak tampak akan tetapi dia dapat mengenal celana hitam baju putih dan sarung pedang di punggung mayat yang tertelungkup itu!

Kun Liong menghela napas panjang penuh kengerian. Sudah dia duga bahwa tentu suami isteri itu akan tewas, melihat betapa mereka tidak pandai berenang dan arus sungai yang dalam itu amat derasnya.

Perahunya tersangkut dan agaknya bocor. Hanya seorang diri saja tak mungkin dia bisa mengambil dua jenazah itu untuk dikuburkan ke darat. Dia tidak dapat berbuat apa-apa, bahkan harus meninggalkan perahu yang tersangkut dan terjepit ini.

Dia teringat akan bokor di bawah perahu. Sayang kalau dibiarkan begitu saja. Bokor itu amat penting dan menjadi rebutan orang-orang di dunia kang-ouw. Kalau kelak dia bawa pulang dan dia serahkan ayahnya, siapa tahu bokor itu akan agak meredakan kemarahan ayahnya.

Dengan hati-hati dia lalu turun ke air, mengumpulkan napas, menyelam dan meraba-raba. Bokor itu masih ada, terikat di bawah perahu. Dilepaskannya ikatan itu dan dibawanya bokor meninggalkan perahu, berenang dari batu ke batu, sampai akhirnya dia tiba di darat yang berbatu-batu.

Pandang matanya tertarik kepada sebuah batu besar di pinggir sungai dan tak terasa dia meraba kepalanya. Batu itu besar dan halus, bentuknya seperti kepalanya! Dihampirinya batu itu dan diraba-rabanya. Benar-benar batu yang amat halus dan besar, dikelilingi oleh batu-batu yang tidak sebesar batu kepala itu.

Ketika dia meraba-raba ini, dia menemukan sebuah lubang terhimpit di antara batu-batu dan segera dia memasuki bokor ke dalam lubang ini. Lubang itu dalam sekali dan begitu bokor dimasukkan, benda itu meluncur dan hilang! Sama sekali tidak tampak dari luar dan betapa pun Kun Liong merogoh ke dalam lubang, jari tangannya tak dapat mencapainya.

Hatinya menjadi girang. Benda itu tersimpan dengan aman dan hanya jika batu berbentuk kepalanya itu didorong roboh, bokor itu dapat ditemukan. Akan tetapi siapakah orangnya yang akan mendorong batu besar itu? Pula, siapakah yang akan kuat mendorong batu sebesar itu? Agaknya akan membutuhkan tenaga sedikitnya belasan orang kuat!

Hatinya menjadi ringan. Benda itulah yang selama ini membuat hatinya berat dan setelah benda itu disimpan di tempat aman, dia dapat melanjutkan perjalanannya tanpa khawatir terlibat dalam perebutan bokor emas. Sejenak dia memandang ke sekeliling sampai dia yakin benar kelak akan dapat mengenali tempat ini.

Mudah mengenalinya. Bentuk pegunungan di utara itu, pemandangan di seberang yang penuh pohon-pohon raksasa, sungai yang penuh batu-batu menonjol dan belokan sungai di depan itu. Apa lagi dengan adanya batu yang berbentuk kepala gundulnya ini, dia tidak akan melupakan tempat ini, dan kelak dia pasti akan mengingat tempat persembunyian bokor emas!

Mulailah Kun Liong melanjutkan perjalanannya ke arah timur, menyusuri sepanjang pantai sungai. Di dalam kantungnya masih terdapat sisa-sisa uang upah perahu. Sayang bahwa tiga orang penumpangnya itu tidak membayarnya sepeser pun, bahkan yang dua orang sudah mati dan yang seorang lagi?

Teringat akan siucai gila itu, meremang bulu tengkuknya. Sungguh banyak berkeliaran orang berilmu tinggi dunia ini, tapi kenapa setiap orang berilmu tinggi yang dijumpainya demikian jahat dan kejam?

Pertama-tama Loan Khi Tosu, tosu Pek-lian-kauw yang membunuh orang tanpa berkedip mata. Kemudlan Ban-tok Coa-ong Ouwyang Kok dengan puteranya, Ouwyang Bouw yang mengerikan dan yang ilmunya jauh lebih tinggi dari pada tosu Pek-lian-kauw itu. Setelah itu Si Siucai gila yang menyeramkan itu! Dia harus berhati-hati. Ternyata perantauannya membawanya kepada bahaya yang beberapa kali nyaris merenggut nyawanya.

Kun Liong tersenyum seorang diri. Betapa mata ibunya akan terbelalak dan ayahnya akan menggeleng-geleng kepala bila melihat dia seperti sekarang ini. Dia bisa membayangkan keheranan hati ayah bundanya itu.

Kun Liong tertawa dan meraba kepalanya. Dapatkah ibunya menyembuhkan kepalanya sehingga dapat tumbuh rambut kembali? Aha! Tentu ayah dan ibunya akan mengira dia sudah menjadi hwesio! Kenangan akan ayah bundanya dan akan lucunya kalau mereka melihat dia membuat Kun Liong merasa gembira dan dia berloncatan di atas batu-batu besar yang berserakan di tepi sungai.

Tiba-tiba dia menyelinap dan bertiarap, bersembunyi di balik batu-batu besar ketika dia melihat tiga orang laki-laki muncul dari balik pohon-pohon di tepi sungai. Yang seorang bertubuh tinggi besar seperti raksasa, mukanya licin tidak berambut dan sebatang pedang tergantung di punggungnya. Orang ke dua brewok dan kelihatan galak sekali, pakaiannya kasar seperti orang pertama, bahkan tidak berlengan, dan pada pinggangnya tergantung ruyung berduri yang amat menyeramkan. Orang ke tiga masih muda, juga bajunya tidak berlengan dan di punggungnya tergantung sebuah golok.

"Benarkah dia lewat di sini?" tanya Si Brewok kepada yang termuda.

"Benar, aku sudah mengikutinya semenjak kemarin. Dia bertukar keledai dan membawa buntalan yang berat," kata yang muda.

"Seorang tosu mempunyai apa sih?" tanya Si Tinggi Besar.

"Aihhh, kita lupakan dulu urusan merampok!" Si Brewok menegur. "Kita sedang menanti datangnya utusan yang akan membawa uang tebusan."

"Masa seorang tosu?"

"Mungkin saja! Jika bukan utusan, masa seorang tosu menunggang keledai siang malam, bertukar keledai, menginap di hotel, dan membawa bungkusan besar?" kata yang muda. "Nah, itu dia...!" sambungnya sambil menuding ketika dia menoleh ke belakang.

Dengan gerakan berlompatan cepat sekali tiga orang itu sudah menyelinap dan sembunyi di belakang pohon-pohon.

Kun Liong juga mengintai dari balik batu-batu. Ia melihat seorang kakek tua menunggang seekor keledai perlahan-lahan menuju ke tempat itu. Di depan kakek itu, pada punggung keledai, tampak sebuah buntalan besar dan berat, sedangkan di punggung kakek itu pun tergendong sebuah buntalan kain.

Jantung Kun Liong berdebar penuh ketegangan. Dia merasa kasihan kepada kakek itu, yang pakaiannya longgar bagai pakaian seorang tosu. Ingin dia berteriak memperingatkan, akan tetapi tiga orang tadi berada di antara dia dan tosu itu. Untuk lari menyambut juga tidak mungkin, tentu didahului mereka. Akan tetapi kakek yang dikhawatirkan itu mulai bemyanyi dengan suara lantang!

Mengerti akan orang lain adalah bijaksana
mengerti akan diri sendiri adalah waspada
mengalahkan orang lain adalah kuat
mengalahkan diri sendiri lebih gagah perkasa!
Kata-kata yang benar tidaklah manis
kata-kata yang manis belum tentu benar
yang baik tidak akan berbantah
yang berbantah belum tentu baik!


Kun Liong mengenal sajak yang dinyanyikan itu. Yang pertama adalah ayat ke tiga puluh tiga dan yang ke dua ayat ke delapan puluh satu dari kitab To-tik-keng, diambil bagian depannya saja. Pada saat itu, tosu tua ini sudah tiba dekat dan tiba-tiba muncullah tiga orang tadi! Mereka langsung mengurung dan Si Brewok sudah mendekat dan memegang tali di hidung keledai.

"Siancai..., Sam-wi-sicu (Tiga Orang Gagah) siapakah dan mengapa menghentikan pinto (saya)?" Tosu itu bertanya sesudah mengangkat sepasang alisnya tanda keheranan dan kekagetan.

"Tak perlu banyak cakap lagi, turunlah dan ikut dengan kami!" Si Brewok membentak.

"Siancai...! Pinto adalah seorang tua yang tidak mempunyai urusan apa-apa, yang hidup dengan tenang dan damai, tak pernah berbuat kesalahan kepada siapa pun juga, apa lagi kepada Sam-wi yang tidak pinto kenal..."

"Ha-ha-ha-ha, kakek ini selain pandai menyanyi juga pandai berceloteh!" Si Tinggi Besar berkata sambil tertawa-tawa.

"Aihhhh..." Tosu itu menggelengkan kepala. "Yang dicari belum ketemu, sekarang timbul kesulitan baru lagi!"

Mendengar ini, Si Brewok girang dan cepat berkata, "Totiang tentu akan dapat bertemu dengan yang dicari asal membawa tebusan cukup. Dan marilah ikut dengan kami."

"Apa? Pinto tidak mengerti..."

Si Brewok agaknya kehilangan kesabarannya. Dipegangnya lengan kanan kakek itu dan ditariknya, hendak dipaksa turun.

"Eh-eh-eh, mengapa ditarik-tarik? Engkau sungguh tidak menghormati orang yang sudah tua!"

Kemarahan dan rasa penasaran di dalam hati Kun Liong tak dapat ditahan lagi dan dia sudah meloncat keluar dari balik batu, lari menghampiri dan berkata marah kepada tiga orang yang memandang kepadanya dengan terheran-heran itu.

"Sam-wi bertiga kelihatannya adalah orang-orang gagah yang berkepandaian tinggi! Akan tetapi siapa kira, ternyata sekarang Sam-wi mengganggu seorang kakek yang lemah dan tidak bersalah apa-apa. Apakah Sam-wi (Tuan Bertiga) tidak merasa malu?"

"Bocah gundul, kau muncul seperti setan. Siapa engkau?!" bentak Si Brewok heran.

"Dia tentu mata-mata yang sejak tadi bersembunyi!" kata temannya yang muda.

"Ahhh, siapa lagi kalau bukan kaki tangan kakek ini?" kata yang tinggi besar.

"Tangkap saja mereka berdua!" Si Brewok membentak. "Hayo kalian ikut bersama kami! Ataukah kami harus rnenggunakan senjata?"

Dia sudah melepas ruyungnya dan mengancam kepada kakek itu. Juga Si Tinggi Besar telah meloloskan pedangnya lalu ditodongkan ke dada Kun Liong, sedangkan orang yang termuda memegang kendali keledai dan menuntunnya.

Kakek itu hanya menggeleng-gelengkan kepala, kemudian memandang Kun Liong sambil tersenyum. "Anak yang baik, mari kita ikut saja agar dapat melihat bagaimana kesudahan urusan aneh ini. Naiklah ke sini, anak baik, di belakangku."

Kun Liong menggeleng kepala. "Keledai itu sudah terlalu tersiksa oleh muatan yang berat, aku berjalan kaki saja, Totiang."

"Hayo cepat jalan, jangan banyak mengobrol" Si Tinggi Besar mendorong pundak Kun Liong dan pedangnya tetap ditodongkan di lambung anak itu. Hal ini membuat Kun Liong mendongkol sekali dan dia mendorong pedang itu ke samping sambil berkata,

"Aku tidak bersalah apa-apa. Aku mau ikut sudah baik. Perlu apa ditodong-todong?"

Pedang itu terdorong miring dan Si Tinggi Besar kelihatan terkejut dan marah. Dia sudah membuat gerakan hendak menyerang, akan tetapi Si Brewok membentak dan melarang Si Tinggi Besar. Bergeraklah rombongan aneh ini menuju ke sebuah bukit yang nampak dari situ.

Kakek itu tertawa dan melorot turun dari atas punggung keledai, berjalan dekat Kun Liong. "Anak baik, engkau membuat pinto malu. Memang keledai itu sudah cukup menderita. Biarlah pinto jalan kaki saja."

Kun Liong hanya tersenyum, kemudian melangkah perlahan dengan kepala menunduk. Sungguh sial, pikirnya. Di mana-mana bertemu dengan orang-orang yang menggunakan kekerasan dan kekuasaan untuk menekan orang lain! Di mana-mana dia bertemu dengan halangan, dan karena membela kakek tua yang lemah ini, dia ikut pula menjadi tawanan. Entah golongan apa tiga orang yang menangkap dia dan kakek itu, dan entah urusan apa yang membuat kakek itu ditangkap.

Dia selalu terlibat dengan urusan lain yang sama sekali tak ada sangkut pautnya dengan dia sendiri. Apakah selama ini dia terlalu lancang dan usil? Apakah untuk selanjutnya dia harus diam saja melihat segala sesuatu yang terjadi pada orang lain dan yang tidak ada hubungannya dengan dirinya?

Ah, tak mungkin. Mana bisa dia diam saja menyaksikan kejadian yang menimbulkan rasa penasaran? Melihat seorang kakek tua renta yang lemah ini diganggu tiga orang yang kelihatan gagah itu, bagaimana dia harus diam saja di tempat persembunyiannya?

"Tidak mungkin!" Kun Liong lupa diri dan kata-kata ini terlompat keluar dari mulutnya.

"Apa yang tidak mungkin?" Si Tinggi Besar membentak. Orang termuda itu berjalan di depan menuntun kendali keledai, Kun Liong di sebelah kakek itu berjalan di tengah dan Si Brewok bersama Si Tinggi Besar paling belakang.

Ternyata perjalanan itu cukup jauh, mereka keluar masuk hutan dan mendaki bukit yang bentuknya seperti sebuah mangkuk menelungkup. Ada tiga jam mereka berjalan hingga akhirnya, setelah mendaki sampai di lereng dan membelok melalui sebuah tebing, maka tampaklah tembok-tembok bangunan di dekat puncak.

Bangunan-bangunan itu dikelilingi oleh pagar tembok yang cukup tinggi dan di luar pagar tembok itu sudah tampak para penjaga dengan pakaian seragam kuning, bukan seragam tentara melainkan seragam perkumpulan silat. Sesudah rombongan ini tiba di dekat pintu gerbang pagar tembok, tampaklah oleh Kun Liong bahwa penjaga-penjaga itu merupakan pasukan-pasukan panah, tombak, dan golok.

Mereka berlari berjajar dengan rapi dan hanya mata mereka yang bergerak memandang penuh perhatian ke arah kakek dan Kun Liong. Tubuh mereka sama sekali tidak bergerak, tetap berdiri dalam keadaan siaga!

Pada waktu kedua orang tawanan ini dibawa masuk melalui pintu gerbang pagar tembok, tampaklah oleh Kun Liong pasukan-pasukan lainnya berderet-deret. Ada pasukan ruyung, pasukan pedang, yang kesemuanya berbaris rapi. Kini dia dapat menduga bahwa ketiga orang yang menangkapnya itu tentulah merupakan tokoh-tokoh, Si Brewok dari pasukan ruyung, Si Tinggi Besar tentu dari pasukan pedang, dan yang termuda itu dari pasukan golok.

Kakek itu melangkah sambil menoleh ke kanan kiri, agaknya terheran-heran, dan akhirnya dia berkata perlahan, "Siancai... tempat apakah ini? Seperti benteng dan dijaga pasukan-pasukan. Apakah pinto telah menjadi tangkapan pasukan asing?"

"Jangan bicara ngawur, Totiang!" Si Brewok membentak. "Engkau sekarang menjadi tamu dari Ui-hong-pang!"

"Heh? Ui-hong-pang (Perkumpulan Burung Hong Kuning)? Apa itu?" Kakek itu membuka matanya lebar-lebar, juga Kun Liong tidak mengenal nama perkumpulan ini. Akan tetapi dia makin curiga dan khawatir. Kalau dia dan kakek lemah itu terancam bahaya di tempat yang terjaga kuat ini, harapan untuk lolos sungguh tidak ada sama sekali!

"Kita ini mau diapakan, Totiang?" Kun Liong berbisik, akan tetapi suaranya sama sekali tidak mengandung ketakutan, hanya keheranan. Kakek itu menunduk dan memandang, kemudian bertanya,

"Engkau takut, Nak?"

Kun Liong menggelengkan kepala kuat-kuat dan menjawab, "Aku tidak bersalah apa-apa terhadap siapa juga, mengapa takut?"

Diam sejenak dan mereka melangkah terus memasuki sebuah bangunan yang terbesar.

"Kau... dari kuil mana?" Tiba-tiba tosu tua itu bertanya.

Kun Liong mengerutkan alisnya kemudian memandang kakek itu dengan hati penasaran. Dengan suara yang agak dingin dia menjawab, "Aku bukan seorang hwesio!"

"Sssstt, tidak boleh bicara lagi. Kita menghadap Pangcu!" bentak Si Brewok ketika mereka memasuki sebuah ruangan yang luas di tengah bangunan itu.

Juga di dalam bangunan itu terjaga oleh pasukan pengawal seragam. Setiap lorong dan pintu terjaga kuat dan setelah mereka menghampiri seorang laki-laki gagah yang duduk di atas sebuah kursi kuning, barulah di situ terdapat beberapa orang yang pakaiannya tidak seragam, dan agaknya mereka ini adalah pembantu-pembantu dan pengawal-pengawal pribadi Si Ketua Perkumpulan itu.

Dengan penuh perhatian Kun Liong memandang ke arah ketua itu. Dia seorang laki-laki yang bertubuh tinggi besar, berwajah gagah, usianya sekitar tiga puluh tahun lebih dan pakaiannya serba kuning akan tetapi warna kuningnya lebih tua dari pada warna kuning seragam anak buah pasukannya. Berbeda dengan sikap tiga orang anak buahnya yang menangkap kakek dan Kun Liong, ketua ini tersenyum ramah ketika menerima mereka.

"Duduklah, Totiang, dan engkau juga, saudara kecil!" katanya dengan suara yang lantang sambil menuding ke arah beberapa buah kursi kosong di depannya.

"Terima kasih," kakek itu menjura dan duduk, sedangkan Kun Liong tanpa berkata apa pun juga mengambil tempat duduk di dekat kakek itu.

"Siapakah nama Totiang?" Ketua itu kembali bertanya dengan suara ramah.

"Ehhh, nama pinto...? Pinto tidak bernama, hanya disebut orang Bu Beng Tosu," jawab kakek itu.

"Sungguh tidak kami sangka mereka akan mengirim seorang tosu untuk menjadi utusan menyambut anak itu. Apakah Totiang sudah membawa tebusannya?"

"Menyambut anak? Utusan? Tebusan? Apakah artinya ini? Sungguh pinto tidak mengerti."

"Agaknya Cuwi telah salah menangkap orang!" Kun Liong berkata, suaranya nyaring dan dia memandang ketua itu dengan sinar mata penuh ketabahan.

Ketua itu mengerutkan alisnya dan menoleh kepada Si Brewok, membentak, "Apa artinya ini?! Siapa kakek dan bocah ini?"

Si Brewok menjadi pucat. "Maaf, Pangcu. Sikapnya mencurigakan, dia mempunyai uang dan melakukan perjalanan seorang diri lewat di tempat yang telah ditentukan, membawa buntalan-buntalan besar. Kami mengira dialah utusan itu."

"Bodoh! Lekas periksa buntalannya!"

"Sudah diperiksa, Pangcu!" Mendadak Si Tinggi Besar yang baru saja masuk menjawab dan berdiri tegak seperti sikap seorang perajurit menghadap komandannya.

"Apa isi bungkusannya? Emas dan perak?"

"Bu... bukan... Pangcu..."

"Habis, apa isinya?"

"Batu-batu karang dan akar-akaran!"

"Plakkk!" Ketua itu menepuk ujung kursinya dengan hati marah. "Sialan! Apa yang kalian lakukan?"

"Harap Pangcu maafkan. Kami telah salah menangkap orang, dan kami akan melakukan penjagaan lagi di sana. Akan tetapi... mereka... mereka itu...?"

"Pergi menjaga! Sekali lagi kalian keliru menangkap orang akan kuhajar! Biarkan mereka di sini. Pergi kalian bertiga!!" Si Brewok dan kedua orang temannya segera pergi seperti anjing-anjing dibentak.

Ketua ini kini menoleh ke arah kakek itu dan bertanya, "Mengapa kebetulan sekali Totiang lewat di tempat ini dan untuk apa semua batu dan akar itu?"

"Aihhh, pinto adalah seorang yang hidup dari menjual bahan-bahan obat. Batu-batu itu dapat dipergunakan sebagai bubuk obat, dan itu adalah bahan campuran obat pembersih darah. Pinto tadi sedang mencari telur kura-kura hitam yang kabarnya banyak terdapat di pantai Sungai Huang-ho, telur belum dapat malah pinto sudah ditangkap."

"Hemmm... dan kau, bocah gundul? Apakah engkau murid tukang obat ini?"

Kun Liong sudah mengerutkan alisnya, terlihat marah bukan main disebut gundul! Setelah kepalanya gundul pelontos, ternyata sebutan gundul ini merupakan sebutan yang sangat menyakitkan hatinya, sebab mengingatkan dia akan keadaannya yang tak menyenangkan itu.

Akan tetapi sebelum dia melontarkan jawaban yang keras, tosu itu sudah mendahuluinya menjawab, "Benar, Pangcu. Dia adalah murid pinto yang keras hati dan bandel."

Kun Liong menoleh dan memandang kakek itu, dan tiba-tiba saja dia sadar akan keadaan dirinya. Memang dia keras hati. Apa bila dia menuruti kemarahannya lalu mengeluarkan kata-kata keras dan tidak enak terhadap ketua ini, bukan hanya dia seorang yang akan menderita hukuman, tetapi kakek yang tidak berdosa itu juga akan terbawa-bawa. Maka dia menahan kemarahannya dan menggigit bibir, tidak mengeluarkan suara.

"Kalian memang tidak bersalah dan anak buah kami kesalahan menangkap orang. Akan tetapi karena kalian sudah terlanjur masuk ke sini, sebelum urusan ini beres kalian akan kami tahan."

"Akan tetapi...," tosu itu membantah.

"Tidak ada tapi! Haii, pengawal! Antarkan mereka ini masuk ke kamar tahanan dan biar mereka berdua menemani anak perempuan itu!"

Empat orang pengawal sudah maju dan menggunakan tombak mereka untuk menggiring tosu dan Kun Liong pergi dari situ, ke sebuah bangunan lain yang kokoh dan kuat dan akhirnya mereka didorong masuk ke dalam sebuah kamar empat meter persegi, kosong dan hanya ada beberapa helai tikar dan di dalamnya terdapat seorang anak perempuan yang usianya kurang lebih delapan tahun, bersikap tenang dan cantik, berpakaian indah seperti puteri bangsawan, akan tetapi yang amat mencolok adalah sikapnya yang penuh ketenangan itu.

Dengan sepasang matanya yang lebar ia memandang Kun Liong dan tosu yang didorong masuk ke dalam kamar tahanannya, kemudian pintu kamar tahanan yang terbuat dari baja dan di atasnya terdapat ruji baja itu ditutup kembali dan dikunci dari luar. Dari lubang-lubang ruji tampak kepala para penjaga yang tertutup kain kuning dan ujung-ujung tombak mereka.

Anak perempuan itu tetap di atas lantai, matanya memandang Kun Liong dan kakek itu bergantian, penuh perhatian.

"Engkau siapakah?" Kun Liong bertanya. Diam-diam ia mendapat kenyataan bahwa anak perempuan ini pandai duduk seperti cara orang bersemedhi, bersila dengan punggungnya lurus tegak.

Anak perempuan itu menggerakkan kepala menoleh padanya, gerakan kepalanya begitu tiba-tiba sehingga rambutnya yang panjang dan dikuncir dua buah itu bagaikan dua ekor ular hitam bergerak.

"Engkau siapa? Dan kakek ini siapa? Mengapa kalian juga ikut dijebloskan di sini?" Anak perempuan itu balas bertanya, suaranya mengandung keangkuhan dan kekerasan.

Dua alis tebal Kun Liong seketika berkerut. "Sombong engkau, ya?" katanya tak senang. Akan tetapi gadis cilik itu sama sekali tidak mempedulikannya dan kini membuang muka, memandang kepada Si Kakek Tua yang telah duduk di depannya dengan sikap tenang.

"Anak baik, kulihat tulang pahamu yang kanan patah, akan tetapi sudah disambung lagi, apakah sudah baik?"

Anak perempuan itu cepat melirik ke arah kaki kanannya yang sama sekali tidak kelihatan karena tertutup pakaiannya, juga tidak ada tanda-tanda bahwa dia menderita sakit.

"Totiang, engkau awas sekali!" serunya kagum.

"Memang pinto adalah seorang yang biasa mengobati tulang patah, tentu saja tahu. Coba kuperiksa sebentar!"

Anak perempuan itu mengangguk dan kakek itu kemudian meraba paha kanan anak itu, lalu mengangguk-angguk. "Sambungannya sudah benar, hanya obat penguatnya kurang manjur. Tulang kakimu sudah tersambung, akan tetapi engkau tak boleh banyak bergerak dulu. Sedikitnya dua pekan engkau tidak boleh menggunakan kakimu secara kuat."

Kemarahan Kun Liong atas kekasaran dan kesombongan anak perempuan itu lalu lenyap sama sekali, terganti oleh rasa iba ketika mendapat kenyataan bahwa anak itu menderita tulang paha patah. Sudah ditawan, menderita luka pula!

"Aihhh, siapakah yang begitu kejam mematahkan tulang kakimu?" tanyanya dan sekarang anak perempuan itu menjawab.

"Aku berusaha melawan. Aku sanggup menghajar tikus-tikus penculik itu seorang demi seorang kalau saja mereka tidak mengeroyok secara curang dan Si Brewok itu memukul patah pahaku dengan ruyungnya."

Kun Liong mengepal tinju. "Sudah kusangka, Si Brewok, Si Tinggi Besar dan kawannya itu bukan manusia baik-baik!"

"Siapakah engkau, Nona? Dan mengapa engkau diculik?" tosu itu bertanya dengan suara sungguh-sungguh. Mereka bertiga duduk di atas tikar yang tergelar di lantai.

"Aku Souw Li Hwa dan ayahku bernama Souw Bun Hok, tinggal di Lok-ek-tung. Pada saat aku sedang bermain-main seorang diri dengan perahu di Sungai Huang-Ho, mendadak mereka menyergap dan menculik aku. Menurut keterangan mereka, aku ditahan sampai orang tuaku datang menebusku dengan seribu tail perak. Sudah dua pekan aku ditahan di sini."

Kakek itu mengangguk-angguk. "Sungguh mengherankan sekali. Sepanjang pengetahuan pinto, Ui-hong-pang bukanlah kaum penculik anak-anak!" Ucapan ini dikeluarkan dengan lirih.

Akan tetapi Kun Liong yang mendengarnya menjadi amat heran karena dari kata-kata itu membuktikan bahwa tosu tua ini telah mengenal Ui-hong-pang! Mengapa ketika ditangkap pura-pura tidak mengenal perkumpulan itu?

"Apakah ayahmu sanggup menebusmu dengan uang sebanyak itu?" Kun Liong bertanya dengan hati penasaran. Kembali dia menghadapi perbuatan manusia yang jahat!

Gadis cilik yang bernama Souw Li Hwa itu menggelengkan kepalanya. "Mana mungkin ayahku mampu menebus dengan uang sebanyak itu? Ayah hanya bekas juru mudi saja yang sekarang telah mengundurkan diri karena usia tua, dan selama bekerja, Ayah tidak pernah mengumpulkan uang haram!"

Kun Liong kaget sekali dan sekarang mengertilah dia kenapa anak itu demikian angkuh, kiranya keturunan orang yang hebat. "Wah, ayahmu hebat!" Dia memuji.

"Memang, akan tetapi ayahku tidak akan dapat menolongku. Walau pun begitu, aku tidak khawatir. Aku percaya bahwa Suhu tentu akan membebaskan aku, dan bila mana Suhu sampai turun tangan sendiri, tikus-tikus itu tentu akan dibasmi habis sampai ke akarnya!"

"Siapa sih gurumu?" tanya Kun Liong.

"Nama guruku tidak boleh disebut-sebut. Pada waktu melihat aku melakukan perlawanan, tikus-tikus itu juga menanyakan nama Suhu, akan tetapi sampai mati pun aku tidak akan menyebut namanya. Ketua tikus-tikus Ui-hong-pang itu mengatakan dia sudah tahu siapa guruku, akan tetapi aku tidak percaya!"

Tosu tua yang sejak tadi mendengarkan saja, lalu memegang tangan anak perempuan itu dan bertanya halus. "Nona kecil, apakah suhu-mu she The?"

Anak itu berteriak heran. "Bagaimana Totiang bisa menduga?"

"Benarkah?"

Anak itu mengangguk.

Tosu itu menarik napas panjang. "Aihhh, pantas saja kalau begitu, engkau diculik bukan karena ayahmu melainkan karena suhu-mu."

"Bagaimana Totiang tahu? Apakah Totiang mengenal suhu-ku?"

Kun Liong juga memandang kakek itu dengan penuh keheranan. Kakek itu menarik napas panjang lagi dan mengangguk perlahan. "Sungguh kebetulan sekali peristiwa ini... siapa sangka aku akan bertemu dengan engkau. Tentu saja aku mengenal suhu-mu, Nona. Dan karena engkau adalah murid The-taiciangkun (Panglima Besar The), maka Ui-hong-pang menculikmu. Kalau pinto tak salah mendengar, pangcu dari perkumpulan ini adalah murid Kwi-eng Niocu (Nona Bayangan Hantu) Ang Hwi Nio, Majikan Telaga Siluman. Tentu saja pangcu itu membela gurunya yang menaruh dendam terhadap gurumu."

"Mengapa Totiang?"

"Ketika dahulu sebagai panglima besar suhu-mu mengadakan pembersihan, membasmi golongan sesat dan jahat, ayah Si Bayangan Hantu roboh dan tewas di tangan gurumu yang sakti. Tentu saja wanita iblis itu kini menaruh dendam, dan untuk membalas secara langsung kepada The-taiciangkun adalah tidak mungkin, karena itu melalui muridnya dia membalas dendam dengan cara menculikmu. Mungkin hal ini dilakukan untuk memancing agar gurumu datang ke sini."

"Tikus-tikus yang tak tahu diri!" Li Hwa berseru, "Kalau Suhu datang, mereka tentu akan mampus semua!"

Tosu itu menarik napas panjaang dan menggeleng kepala. "Mungkin begitu, akan tetapi belum tentu juga gurumu mau mengotorkan tangan menghadapi mereka ini. Setelah pinto secara kebetulan lewat di sini, biarlah pinto yang mewakilinya. Marilah, Nona, dan kau juga muridku, mari kita keluar dari sini."

"Ehhh...?" Kun Liong berseru heran.

Tosu itu mengira bahwa Kun Liong tidak suka menjadi muridnya, maka dia pun bertanya, "Apakah kau tidak mau menjadi muridku? Aku sudah terlanjur mengakuimu."

"Teecu suka, akan tetapi... bagaimana kita dapat keluar dari sini, Suhu?"

Tosu itu tertawa, kemudian mengelus kepala yang gundul itu. "Muridku yang baik sekali, siapa namamu?"

"Teecu bernama Yap Kun Liong..."

"Aihh, namanya seram, orangnya hanya bocah gundul!" Li Hwa mencela.

"Sombong kau, ya?" Kun Liong membentak.

"Husshhh, bukan saat ribut-ribut urusan tak berarti. Anak-anak, mari kita keluar dari sini." Sesudah berkata demikian, kakek itu melangkah ke pintu baja, tangan kanannya yang tertutup lengan baju yang lebar itu mendorong ke depan.

"Braaakkkk...!" Pintu baja itu terdorong roboh ke luar dan terbukalah lubang besar pada dinding bekas pintu itu.

Seorang penjaga berseru kaget, menerjang masuk dengan goloknya. Akan tetapi, dengan gerakan seperti seekor burung walet, Li Hwa mencelat ke depan, tangan kirinya menahan lengan yang bergolok, tangan kanan meninju perut. Penjaga itu berteriak dan langsung roboh terguling.

Melihat ini, Kun Liong kagum bukan main. Anak perempuan itu benar-benar tak membual ketika bercerita tadi, ternyata biar pun kaki kanannya masih sakit, dalam segebrakan saja mampu merobohkan seorang penjaga!

"Eh, jangan banyak bergerak, nanti kakimu patah lagi, Nona!" Tosu tua itu berkata dan tahu-tahu Li Hwa sudah melayang naik ketika tangan gadis itu dipegang dan ditarik oleh Si Tosu dan Li Hwa kini sudah duduk di atas punggung kakek itu!

Kun Liong tidak mau kalah. Melihat ada penjaga ke dua datang menyerbu, dia meloncat ke atas, kedua kakinya meluncur ke depan.

"Haaaiiittt! Dessss...!"

Sepasang kaki yang kecil itu dengan tepat mengenai muka serta dada penjaga tadi yang terjengkang ke belakang dan roboh bergulingan tak dapat bangkit kembali karena kedua matanya tak dapat dibuka, kena hantam sepatu Kun Liong dan napasnya juga sesak!

Kun Liong sendiri yang melakukan gerakan meloncat dan menendang, lalu terpental dan menumbuk dinding, akan tetapi dia dapat berjungkir balik lantas berdiri dengan terhuyung. Dilihatnya ada seorang penjaga datang lagi dengan pedang diangkat tinggi-tinggi hendak menyerang tosu yang menggendong Li Hwa yang bersikap tenang sambil memandang kepada Kun Liong dengan tersenyum geli. Kun Liong cepat berlari ke depan menyambut penjaga itu dengan serudukan kepalanya.

"Hyaaahhhh! Ngekkkk!"

Penjaga itu terjengkang, terbatuk-batuk, dadanya sesak perutnya mulas, dan Kun Liong melompat ke belakang, terhuyung karena kepalanya berdenyut dan pandangan matanya berkunang-kunang!

"Kun Liong, mari ikut pinto keluar dan jangan sembarangan bergerak. Biarlah pinto yang membuka jalan."

Kun Liong menurut sebab gerakan-gerakan tadi membuat badannya kembali terasa sakit. Kiranya luka akibat pukulan Ouw-Siucai di perahu itu masih belum sembuh benar. Dia sudah memperlihatkan kepada Li Hwa bahwa dia pun bukan bocah gundul sembarangan yang tidak patut bernama Yap Kung Liong, karena dia juga telah merobohkan dua orang lawan! Dengan dada dibusungkan, sepasang tangan dikepal siap bertanding, Kun Liong mengikuti tosu itu yang melangkah perlahan keluar dari tempat itu, menggendong Li Hwa.

Dari kanan dan kiri muncul belasan orang penjaga yang berpakaian seragam, tujuh orang bergolok dari arah kiri dan sembilan orang berpedang dari kanan. Dengan diiringi teriakan, mereka menyerbu dari kanan kiri.

Kun Liong yang mentaati perintah gurunya, hanya berdiri tenang, namun siap-siap untuk membela diri. Sekarang tosu itu menggerakkan kedua lengan bajunya ke kanan dan kiri, membiarkan Li Hwa merangkul pundaknya dan mengempit pinggangnya dengan kaki. Dari lengan baju itu menyambar angin pukulan yang dahsyat ke kanan kiri dan... belasan orang itu roboh malang melintang seperti rumput-rumput kering dilanda angin taufan!

Kini dari depan datang belasan orang pasukan panah dan terdengarlah suara bersuitan ketika anak-anak panah datang meluncur ke arah Kun Liong dan kakek itu. Kembali kakek itu menggunakan pukulan lengan bajunya dan semua anak panah segera dipukul runtuh, berserakan ke lantai sebelah depan mereka. Sebelum ada anak panah menyerang lagi, kakek itu sudah mendorongkan kedua lengannya bergantian ke depan dan seperti juga tadi, pasukan panah itu roboh terguling-guling!

Tentu saja hal ini menimbulkan kegemparan. Mereka yang roboh dan bangun kembali, tidak berani sembarangan menyerang, hanya berdiri dan siap menunggu perintah atasan. Kun Liong gembira dan kagum bukan main. Ingin dia bertepuk tangan saking kagumnya, akan tetapi melihat Li Hwa bersikap tenang, maka dia pun tenang-tenang saja dan kini melangkah tegap di samping gurunya, dengan sepasang tinju bergerak-gerak memasang kuda-kuda!

Pasukan-pasukan penjaga mengurung dari belakang, depan, kiri dan kanan. Akan tetapi mereka tidak menyerang dan hanya bergerak mengikuti kakek yang melangkah perlahan menuju ke ruangan dalam rumah tahanan itu.

"Pinto tidak ingin berkelahi. Pinto ingin bicara dengan pangcu kalian!" kakek itu berkata dengan suara tenang dan penuh kesabaran.

Tiba-tiba pintu depan terbuka lebar dan lima orang yang memegang tombak, yaitu para pengawal pribadi Kian Ti, demikian nama pangcu itu, bermunculan dan meloncat masuk dengan sikap galak. Serta-merta mereka memekik dan menerjang maju, lima orang maju sekaligus dan lima batang tombak bergerak-gerak. Ujung tombak mereka tergetar menjadi banyak, tanda bahwa Si Pemegang memiliki tenaga lweekang yang amat kuat. Kemudian dibarengi teriakan nyaring, mereka menyerang tosu itu.

"Pergilah...!" Tosu itu berseru.

Hanya tampak kedua kakinya bergerak-gerak diikuti ujung kedua tali ikat pinggang yang tergantung panjang ke bawah, dan... lima orang itu jungkir-balik lantas terbanting roboh di atas lantai! Mereka dapat meloncat kembali dengan sigap dan memandang dengan mata terbelalak penuh keheranan kepada kakek luar biasa itu.

"Suruh pangcu kalian maju, pinto ingin berbicara dengannya." Kembali kakek itu berkata tenang.

Lima orang itu melompat ke samping dan berdiri berjajar, tombak di tangan didirikan di sebelah kiri mereka.

"Pangcu tiba...!" terdengar seruan dari pintu depan.

"Kau mau bertemu Pangcu? Silakan!" kata salah seorang di antara pengawal-pengawal bertombak itu sambil mengembangkan lengan kirinya.

Tosu itu lalu melangkah ke depan, memandang ke arah pintu depan. Li Hwa di belakang punggungnya menoleh ke kanan kiri dalam keadaan siap kalau-kalau mereka diserang dari belakang. Di belakang mereka pasukan-pasukan bergerak mengikuti, tombak, golok, anak panah dan pedang siap di tangan. Kun Liong melangkah perlahan di sebelah kanan gurunya, kedua tinju disiapkan, seluruh urat syaraf di tubuhnya menegang!

Tampak bayangan kuning berkelebat dan Si Ketua sudah berdiri di sana! Dia tersenyum mengejek, akan tetapi sepasang matanya menyinarkan hawa marah kepada tosu itu.

"Hemm... kiranya engkau seorang berkepandaian yang berpura-pura bodoh, ya? Agaknya engkau memang utusan mereka untuk merampas tawanan kami?"

"Tidak sama sekali!" Jawab tosu itu. "Pinto hanya kebetulan saja lewat dan tanpa sebab ditawan oleh orang-orangmu. Pangcu, engkau keliru sekali apa bila menculik anak ini dan berarti engkau memancing datangnya bahaya yang akan menghancurkan Ui-hong-pang. Apakah gurumu, Kwi-eng Niocu masih belum mau bertobat dan malah berani menentang The-taiciangkun? Kuharap saja engkau bisa sadar dan membiarkan pinto membawa pergi nona kecil ini sehingga urusan akan habis sampai di sini saja."

"Tua bangka keparat! Siapa takut kepadamu? Hayo katakan, siapa engkau sebelum mati di depan kakiku!"

"Sudah pinto katakan, orang menyebut pinto Bu Beng Tosu (Tosu Tanpa Nama)."

"Keparat! Dengan menggunakan nama Laksamana The Hoo, apa kau kira aku Kian Ti akan takut kepadamu? Engkau tak mau mengaku nama, baiklah, engkau akan mati tanpa nama!" Setelah berkata demikian, Kian Ti menggerakkan kedua lengan tangannya.

Jari jemari tangannya dibentuk laksana cakar harimau, kedua tangan itu digerak-gerakkan perlahan saling menyilang dan berputar-putaran, lantas terdengarlah suara berkerotokan seolah-olah semua tulang lengan kedua tangannya remuk, dan perlahan-lahan, sepasang lengan yang telanjang karena lengan bajunya tersingkap itu berubah menjadi kemerahan, makin lama makin merah sampai akhirnya menghitam!

Melihat perubahan pada lengan ini diam-diam Kun Liong terkejut bukan main. Biar pun dia belum pernah mempelajari ilmu yang aneh-aneh itu, akan tetapi dia adalah putera suami isteri yang sakti sehingga pernah pula dia mendengar penuturan ayah bundanya tentang ilmu-ilmu pukulan yang mukjijat, yang dilatih oleh para tokoh persilatan dengan cara yang aneh-aneh pula.

"Suhu, dia mempunyai tangan beracun!" kata Kun Liong ketika melihat kedua tangan yang kehitaman.

"Totiang, apakah itu Hek-tok-ciang (Tangan Racun Hitam)?" Li Hwa juga bertanya.

Kakek itu tidak menjawab, bahkan dia berkata kepada Kiang Ti, "Kiang-kongcu, sebelum terlambat kuperingatkan lagi kepadamu supaya sadar dan tidak menggunakan kekerasan terhadap pinto seorang tua."

Akan tetapi, sikap dan ucapan kakek itu yang seperti seorang guru menasehati muridnya malah dianggap sebuah tantangan yang menghina oleh Kiang Ti. Tiba-tiba dia menerjang ke depan, berlari sambil memekik nyaring, "Yaaatttt…!"

Kedua tangannya yang berubah menjadi hitam itu menghantam ke dada dan perut kakek yang berdiri dengan tenang, sama sekali tidak bergerak, baik untuk menangkis mau pun mengelak.

"Plakk! Bukkk!"

Tubuh kakek yang menggendong Li Hwa itu sama sekali tidak terguncang seperti sebuah pilar batu diterjang lalat, akan tetapi Kiang Ti terbelalak, tubuhnya seperti lumpuh dan dia roboh berlutut di depan kedua kaki orang tua itu dengan mulutnya memuntahkan darah!

"Siancai...!" Kakek itu berkata, menunduk dan melihat tanda dua telapak tangan di dada dan perutnya karena bajunya di bagian yang terpukul itu telah berlubang dengan tepinya seperti dibakar, akan tetapi kulit tubuhnya sama sekali tidak ada tanda apa-apa. "Kenapa engkau keras kepala, Pangcu? Untung di dalam buntalan pinto yang kalian rampas itu terdapat akar obat yang bentuknya seperti ular belang. Masaklah dengan air dan minum airnya, tentu lukamu akan sembuh."

Dengan tenang kakek itu lantas melangkah menuju ke pintu, diikuti oleh Kun Liong yang merasa makin takjub dan bangga kepada kakek yang menjadi gurunya itu.

"Tunggu dulu... Locianpwe... nama apakah... yang akan kusebutkan... kepada... guruku kelak...?" Kiang Ti berkata tanpa bangkit dari lantai di mana dia jatuh berlutut.

"Hemm, katakan bahwa akar cendana sudah lama dikubur, dan kepala naga sudah lama lenyap dari sungai telaga..." Bersama anak perempuan yang digendongnya dan bocah gundul yang digandengnya tiba-tiba tubuh kakek itu lenyap dari pandang mata Kiang Ti dan anak buahnya.

Mata Kiang Ti terbelalak, bibirnya berkata dengan keluhan panjang "Ahhh... tongkat akar cendana berkepala naga... mengapa kakek sakti itu masih hidup dan muncul di sini...? Sungguh sialan..." Dia terguling dan roboh pingsan!

********************

Kun Liong dan Li Hwa memejamkan mata dan merasa ngeri. Apa lagi Kun Liong yang merasa betapa tubuhnya tergantung dengan tangan kanan dan meluncur seperti terbang cepatnya itu! Setelah lama dan napas mereka sudah terengah karena kencangnya angin menderu di depan hidung, secara mendadak angin berhenti dan ketika mereka membuka mata, kakek itu telah berhenti menggunakan ilmu lari cepat yang tidak lumrah hebatnya itu!

Li Hwa melorot turun dari gendongan lalu serta-merta dia menjatuhkan diri dan berlutut di hadapan kaki kakek aneh itu. "Mohon Locianpwe sudi memaafkan teecu yang tidak tahu bahwa teecu telah tertolong oleh Locianpwe Bun Hwat Tosu yang sakti!"

Kun Liong terkejut sekali. Tentu saja dia sudah mendengar nama ini, nama yang sering dipuji-puji oleh ayah bundanya sebagai nama seorang di antara manusia-manusia sakti seperti dewa di dunia ini! Bahkan nama ini disejajarkan dengan nama Tiong Pek Hosiang, guru ayahnya yang menjadi orang paling sakti di Siauw-lim-pai! Nama yang dimiliki oleh tokoh pertama dari Hoa-san-pai! Sebab itu dia pun cepat menjatuhkan diri berlutut.

"Teecu juga hendak mohon maaf bahwa teecu tidak tahu telah diambil murid oleh Ketua Hoa-san-pai yang mulia!"

Kakek itu tertawa sambil mengelus jenggotnya. "Siancai...! Anak-anak di jaman sekarang benar-benar bermata tajam sekali. Ehh, Nona Li Hwa, bagaimana engkau bisa menduga bahwa pinto adalah Bun Hwat Tosu?"

"Suhu pernah menyatakan bahwa salah seorang di antara sahabat-sahabat beliau yang mempunyai kesaktian tinggi adalah seorang tua yang bersenjata sebatang tongkat terbuat dari akar kayu cendana dan berukirkan kepala naga. Pada saat Locianpwe tadi menyebut kayu cendana dan kepala naga, maka tahulah teecu."

"Ha-ha-ha-ha, engkau memang cerdik, patut menjadi murid yang mulia The-taiciangkun! Gurumu terlalu memuji pinto. Beliau sendiri adalah seorang ahli silat yang ilmunya tinggi sekali, seorang ahli sastra yang jarang tandingannya, seorang ahli perang yang jempolan dan seorang pemimpin besar armada yang luas pengetahuannya. Mana mungkin pinto yang bodoh dan sederhana dapat dibandingkan dengan dia? Nah, Nona kecil yang baik, apakah sekarang engkau dapat pulang sendiri ke Liok-ek-tung?"

Li Hwa mengangguk. "Liok-ek-tung tidak jauh lagi dari sini, Locianpwe. Harap Locianpwe sudi singgah di rumahku, supaya kedua orang tuaku dapat menghaturkan terima kasih kepada Locianpwe yang sudah menolongku, dan apa bila mungkin dapat bertemu dengan Suhu..."

Kakek itu menggelengkan kepalanya. "Tidak perlu, tidak perlu... dan tentang pertemuan dengan gurumu, kelak tentu akan tiba saatnya pinto menghadap beliau yang mulia. Nah, pulanglah agar orang tuamu berlega hati."

Sekali lagi Li Hwa mengangguk-anggukkan kepalanya di hadapan kaki kakek itu. "Teecu menghaturkan terima kasih dan bermohon diri."

Li Hwa bangkit berdiri, mengerling kepada Kun Liong.

"Selamat jalan, Adik Li Hwa! Jangan lupa kepadaku, ya!"

Li Hwa tersenyum, memandang kepala Kun Liong yang licin mengkilap. "Mana bisa aku melupakan itu?" dia menuding.

Kun Liong juga tertawa dan meraba-raba kepalanya. "Mengapa ragu-ragu? Katakan saja kepalaku, kepala gundul buruk!"

"Tidak buruk, bahkan kelihatan bersih sekali. Yang banyak rambutnya mungkin malah penuh kutu, hi-hi-hik!" Li Hwa tertawa, Kun Liong tertawa dan keduanya saling pandang seperti dua orang sahabat lama. Sesudah menjura sekali lagi kepada Bun Hwat Tosu, Li Hwa lalu meloncat dan berlarian menuju ke kota Liok-ek-tung di timur.

Setelah bayangan anak perempuan itu lenyap di balik pohon-pohon, Bun Hwat Tosu baru memandang Kun Liong dan bertanya,

"Kun Liong, dari mana engkau tahu bahwa Bun Hwat Tosu adalah Ketua Hoa-san-pai?"

"Nama Suhu dihormati dan dipuji-puji oleh Ayah Bunda teecu."

Kakek itu mengerutkan sepasang alisnya. Mendengar namanya dihormati dan dipuji-puji hatinya segera merasa tidak enak. Pujian sama bahayanya dengan musuh yang datang dari belakang, berbeda dengan kata-kata keras yang seperti musuh datang dari depan.

"Siapa nama ayahmu?"

"Ayah bernama Yap Cong San."

Akan tetapi Bun Hwat tidak mengenal nama ini.

"Ayah menjajarkan Suhu setingkat dengan Sukong Tiong Pek Hosiang."

Kini kakek itu mengangkat kedua alisnya. "Ahhh! Tiong Pek Hosiang bekas ketua Siauw-lim-pai? Heran sekali! Dan dia itu sukong-mu (kakek gurumu)?"

"Ayah adalah murid beliau."

Kakek itu mengangguk-angguk. "Hemm, pantas kalau begitu... gerakanmu memiliki dasar Siauw-lim-pai sungguh pun sudah bercampur dengan ilmu silat lain yang aneh..."

"Dari ibu teecu." Kun Liong memotong.

"Hemmm, ibumu juga lihai sekali?"

"Hanya kalah sedikit oleh Ayah, akan tetapi Ibu menang dalam hal ilmu pengobatan. Ibu adalah sumoi (adik seperguruan) dari Supek Cia Keng Hong..."

"Ahhhh! Benar-benar suatu kebetulan yang luar biasa! Kalau begitu, pinto telah kesalahan besar mengambil engkau sebagai murid!"

Serta-merta Kun Liong menjatuhkan dirinya berlutut di depan kaki orang tua itu karena merasa khawatir kalau-kalau gurunya lantas membatalkan pengangkatan murid. "Harap Suhu tidak membatalkan teecu menjadi murid."

"Kenapa? Engkau adalah keturunan orang-orang pandai dan melihat dasarmu, sepatutnya engkau menjadi murid Siauw-lim-pai. Seorang murid Siauw-lim-pai tidak boleh belajar dari orang lain, dan kalau pinto menerimamu sebagai murid, tentu pinto kesalahan terhadap Siauw-lim-pai."

"Teecu bukan murid Siauw-lim-pai!"

"Akan tetapi ayahmu?"

"Ayah pun bukan murid Siauw-lim-pai, hanya bekas murid. Kini sudah tidak diakui lagi. Menurut penuturan Ayah, dulu Ayah pernah membuat kesalahan besar terhadap Siauw-lim-pai, biar pun diampuni akan tetapi tidak lagi diakui murid, hanya sebagai sahabat baik para pimpinan Siauw-lim-pai saja. Harap Suhu percaya keterangan teecu karena teecu tidak membohong."

Kakek itu kembali mengelus jenggotnya. Dia sudah mendengar tentang riwayat Tiong Pek Hosiang yang mengundurkan diri dari Siauw-lim-pai, akan tetapi selama ini dia tak pernah mendengar tentang murid-murid kakek sakti itu. Dia mengira bahwa tentu ayah bocah ini tidak diakui lagi sebagai murid Siauw-lim-pai karena tersangkut persoalan gurunya.

Padahal, duduknya pekara tidaklah demikian. Yap Cong San kehilangan haknya sebagai anak murid Siauw-lim-pai karena dia menikah dengan Gui Yan Cu, dara yang dianggap terlibat dalam urusan gurunya, Tung Sun Nio dengan Tiong Pek Hosiang sehingga dapat mencemarkan nama baik Siauw-lim-pai.

"Akan tetapi, kalau ayah bundamu sendiri adalah orang-orang pandai, perlu apa engkau belajar dari pinto?"

Kun Liong mengerutkan alisnya, memutar otak untuk memberi jawaban yang paling tepat. Kemudian dengan suara sungguh-sungguh dia pun menjawab, "Belajar dari ayah dan ibu sendiri tidak akan maju, Suhu."

"Hemm, kenapa tidak akan maju? Ayahmu adalah murid Tiong Pek Hosiang yang berilmu tinggi, sedangkan ibumu adalah sumoi dari Cia-taihiap (Pendekar Besar Cia) yang sangat sakti, tentu ayah bundamu mempunyai kepandaian tinggi pula. Bagaimana engkau dapat mengatakan bahwa belajar dari orang tuamu sendiri tidak akan maju?"

"Karena Ayah terlampau keras kepada teecu sehingga teecu selalu takut-takut, karena itu belajar dari Ayah tidak akan dapat maju. Ada pun ibu terlalu memanjakan teecu, belajar lelah sedikit sudah disuruh mengaso, juga tidak akan maju."

Kini kakek itu mengerutkan alisnya yang berwarna putih, memandang tajam kepada Kun Liong, kemudian berkata, "Sungguh alasan yang tidak dapat diterima. Engkau agaknya seorang anak yang nakal dan bandel, Kun Liong, apakah karena kenakalanmu itu maka engkau pergi meninggalkan rumah?"

"Wah, tidak... tidak, Suhu. Dan bukan hanya itu alasan teecu. Masih ada lagi alasan kuat mengapa teecu tidak ingin agar Suhu membatalkan teecu sebagai murid Suhu."

"Hemm, alasan tidak masuk akal apa lagi?"

"Pelajaran dari Ayah Bunda teecu dapat kapan saja, akan tetapi pertemuan dengan Suhu merupakan hal yang kebetulan sekali dan kiranya tidak akan ada kesempatan ke dua bagi teecu, maka tentu saja teecu ingin sekali menjadi murid Suhu yang namanya dipuji-puji oleh Ayah."

Kakek itu menggeleng-geleng kepalanya. "Hemmm... alasan ini pun tidak kuat dan hanya menonjolkan kemurkaanmu akan ilmu silat saja."

Kun Liong menjadi gugup, "Ah, sama sekali tidak, Suhu! Teecu benci... benci... akan ilmu silat!"

"Heee?"

"Maksud teecu... teecu benci akan penggunaannya yang hanya ditujukan untuk memukul lain orang, melukai bahkan membunuh lain orang."

"Kalau begitu, mengapa engkau bersikeras hendak belajar ilmu silat dari pinto (aku)?"

"Justru karena itu, teecu ingin sekali memiliki ilmu kepandaian tinggi supaya teecu dapat mempergunakannya untuk mencegah agar jangan sampai orang-orang yang pandai silat menganiaya dan memukul orang lain."

Kakek itu mengangguk-angguk. "Bisa diterima alasanmu, akan tetapi untuk memperoleh ilmu silat tinggi, ayah bundamu cukup untuk mengajarimu, tidak perlu engkau belajar lagi dari pinto."

Kun Liong menjadi gelisah. Dia masih berlutut dan sekarang dia mengangkat mukanya memandang kakek itu sambil berkata, "Harap Suhu suka menerima teecu. Sesungguhnya hal ini bukan semata-mata untuk kepentingan teecu, akan tetapi demi kebersihan nama dan kehormatan Suhu sendiri."

Bun Hwat Tosu terkejut bukan main. Ia menyentuh pundak Kun Liong dan bertanya, "Apa maksudmu?"

Kun Liong menundukkan mukanya, hatinya menjadi berdebar karena takut melihat betapa ucapannya tadi membuat kakek itu bersikap demikian sungguh-sungguh. Namun sudah kepalang baginya, menggunakan siasat yang paling lihai.

Dia tahu bahwa orang-orang aneh seperti Bun Hwat Tosu ini tidak membutuhkan apa-apa lagi dan satu-satunya hal yang masih dipentingkan hanyalah satu, yaitu nama baik yang menyangkut kehormatan. Oleh karena itu dia sekarang menyinggung tentang nama dan kehormatan. Dan ternyata kakek itu benar-benar tergugah dan menaruh perhatian besar sekali!

"Teecu tidak bermaksud buruk. Suhu sendiri yang telah mengambil teecu sebagai murid dan Suhu sendiri yang telah mengucapkan kata-kata itu. Pernah teecu mendengar bahwa kata-kata seorang budiman, yang telah keluar dari mulut, mewakili suara hati dan menjadi janji yang lebih berharga dari pada nyawa. Maka dari itu, kalau sekarang Suhu menarik kembali janji Suhu itu, bukankah hal ini akan menodai nama dan kehormatan Suhu?"

Bun Hwat Tosu mengelus-elus jenggotnya kemudian memandang kepada anak gundul itu dengan sinar mata tajam, lalu dia menghela napas dan berkata, "Yap Kun Liong, sekecil ini engkau sudah bisa menggunakan kata-kata untuk mendesak dan menghimpit seorang tua seperti pinto, membuat pinto tidak berdaya. Benar-benar engkau berbakat cerdik, dan entah apa yang akan terjadi bila mana engkau sudah dewasa kelak. Kecerdikan dapat mengangkat orang ke tingkat tinggi, akan tetapi juga dapat menyeret orang ke tempat yang paling rendah. Baiklah, pinto tidak mungkin dapat menarik kata-kata sendiri. Pinto akan menurunkan ilmu kepadamu selama lima tahun, akan tetapi tidak boleh menyebut guru kepada pinto karena kalau hal ini pinto lakukan, yaitu mengambilmu sebagai murid, berarti pinto kurang hormat kepada Siauw-lim-pai dan Cin-ling-pai. Bagaimana, maukah engkau?"

Kun Liong mengangguk-angguk memberi hormat. "Teecu menghaturkan terima kasih atas kemurahan hati Locianpwe."

Bun Hwat Tosu menarik napas panjang. "Hemm, kemurahan hati apa? Pinto terpaksa dan apa bila engkau melakukan penyelewengan, entah akibat apa yang akan pinto tanggung kelak!"

Serta-merta Kun Liong berkata lantang, "Teecu bersumpah bahwa apa pun yang akan terjadi dengan diri teecu, teecu tidak akan menyebutkan nama Locianpwe, juga tak akan menyangkutkan nama Locianpwe!"

"Sudahlah, agaknya memang engkau sudah berjodoh dengan pinto. Ingatlah, sekali-kali bukan pinto takut engkau menyebut nama pinto, akan tetapi jangan dihubungkan dengan Hoa-san-pai. Pinto telah lama mengundurkan diri dari Hoa-san-pai, dan andai kata nama pinto rusak akibat sepak terjangmu, masih belum terlalu hebat. Akan tetapi kalau sampai Hoa-san-pai tersangkut, kelak pinto pasti akan mencarimu buat mencabut kembali semua ilmu yang kau pelajari dari pinto, biar pun dengan bahaya tercabutnya pula nyawamu atau nyawa pinto."

Kun Liong hanya mengangguk-angguk dan wajahnya agak pucat. Hebat sekali ancaman yang keluar dari mulut kakek itu dan dia dapat merasakan kesungguhan hati kakek itu yang membuatnya mengkirik.

"Teecu akan selalu ingat kata-kata Locianpwe."

"Nah, mari kita pergi!"

Sebelum Kun Liong bangkit berdiri, tahu-tahu tubuhnya sudah disambar dan kembali dia mengalami peristiwa yang mengerikan ketika tubuhnya meluncur dengan amat cepatnya menuju ke sebuah pegunungan yang kelihatan melintang panjang laksana seekor naga tidur di sebelah depan.

********************


Sungainya laksana pita sutera biru
gunungnya laksana tusuk sanggul permata!


Sajak dua baris itu adalah pujian pujangga besar Han Yi (768 - 824) pada waktu Dinasti Tang (618 - 907) ketika pujangga itu mengagumi keindahan pemandangan alam di sekitar Sungai Li daerah Kuilin, Propinsi Kuangsi.

Memang luar biasa sekali keindahan tamasya alam di daerah ini, terutama sekali apa bila orang memandang dari salah satu puncak di antara gunung-gunung, melihat air Sungai Li yang terlihat seperti lambaian pita rambut sutera biru dari rambut seorang perawan jelita. Selain indah menakjubkan, keadaan pemandangan di sepanjang sungai itu juga selalu berubah-ubah, terutama sekali di bagian antara daerah Kuilin dan Yangsuo.

Gunung Haiyang berdiri tegak sebagai sebuah di antara gunung-gunung di Pegunungan Taliang-san, di perbatasan Propinsi Kuangsi dan Propinsi Hunan. Dari Gunung Haiyang ini mengalir turun dua batang sungai. Yang mengalir ke utara memasuki Propinsi Hunan adalah Sungai Siang, sedangkan yang mengalir ke selatan memasuki Propinsi Kuangsi adalah Sungai Li yang juga disebut Sungai Kui atau Sungai Haiyang dan ada pula yang menyebutnya Sungai Kemala!

Lambang keindahan di daerah Yangsuo di sepanjang Sungai Li, adalah sebuah puncak gunung yang bernama Gunung Teratai Biru. Gunung ini bentuknya mirip sekuntum bunga teratai yang sedang menguncup, segar dan kebiruan. Pada lereng Gunung Teratai Biru ini terdapat sebuah kuil kuno, yaitu Kuil Cien yang ternama, kuil peninggalan dari Dinasti Tang.

Kun Liong kagum bukan main ketika dia dibawa oleh Bun Hwat Tosu ke kuil kuno ini. Dia berdiri di situ, kemudian mendaki puncak Gunung Teratai Biru menikmati keindahan alam yang indahnya bagaikan sorga. Dari puncak ini nampak kota Yangsuo di sekitar gunung yang berlapis-lapis dan berwarna hijau, seakan-akan kota itu dipeluk oleh sekumpulan daun-daun bunga.

Tidak jauh dari sana tampak Gunung Pelayan Pelajar. Bentuknya seperti seorang kacung pelajar yang duduk tegak lurus, membuka mulut mendeklamasikan sajak! Dan di sebelah kiri tampak pula dua buah puncak yang berdiri sejajar seperti kembar. Itulah Gunung Besi dengan dua puncaknya Sepasang Singa yang tersohor, yang berdiri berhadapan dengan Gunung Pelayan Pelajar. Memang bentuk dua buah puncak itu mirip dengan singa betina dan singa jantan, sepasang singa yang duduk dengan tenang, gagah perkasa, akan tetapi jinak dan tidak ganas.

Tebing-tebing gunung yang seolah-olah menjadi dinding di kanan kiri sungai yang melalui pegunungan, menimbulkan pemandangan yang aneh. Ada yang tebingnya berderet-deret berwarna putih sehingga penduduk di sekitar Sungai Li memberinya nama Pegunungan Tebing Putih. Tak jauh dari situ, tebingnya berderet-deret dengan warna merah, dan diberi nama Pegunungan Tebing Merah. Dapat kita bayangkan betapa luar biasa pemandangan di situ. Di antara warna kehijauan pegunungan tampak tebing berwarna merah dan putih itu!

Semua keindahan ini makin menawan hati kalau kita terus ke selatan, memasuki daerah Simping. Di sini terdapat Pegunungan Panca Puncak dan Gunung Lukisan. Masih banyak lagi pegunungan dengan puncak-puncaknya yang berbentuk aneh-aneh sehingga diberi nama yang aneh-aneh pula.

Karena itu patutlah kalau para pujangga, para penyair terkemuka dari berbagai dinasti di sepanjang sejarah Tiongkok berdatangan ke daerah ini untuk menikmati tamasya alam yang luar biasa, lalu menulis sajak-sajak abadi untuk memujinya. Para pujangga terkenal dari Dinasti Tang, misalnya Han Yi, Liu Cung Yuan, Huang Ting Cian, Mi Fu, Fan Ceng Ta, pernah berdarmawisata ke daerah ini. Tentu saja lebih banyak lagi para pujangga dari dinasti lebih muda yang mengagumi tempat itu.

Semenjak kecilnya, Kun Liong tinggal di kota. Tentu saja dia merasa gembira dan betah sekali tinggal di tempat yang amat indah itu. Tubuhnya menjadi segar, kulit mukanya putih kemerahan, sepasang matanya bercahaya dan bibir mulutnya merah seperti bibir seorang dara remaja. Akan tetapi kepalanya tetap saja gundul pelontos tidak ada rambutnya!

Sampai lima tahun lamanya Kun Liong belajar dengan amat tekunnya, digembleng oleh Bun Hwat Tosu yang tak sembarangan menurunkan ilmu-ilmunya. Memang amat untung bagi Kun Liong.

Karena kakek itu maklum bahwa Kun Liong adalah cucu murid Tiong Pek Hosiang dan juga murid keponakan Cia Keng Hong, maka Bun Hwat Tosu tidak berani sembarangan menurunkan ilmu yang remeh kepada anak itu! Tentu saja dia merasa sungkan bila tidak mewariskan ilmu-ilmu pilihan yang akan dihargai oleh kedua orang tokoh besar di dunia persilatan itu.

Maka, dalam waktu lima tahun itu dia melatih Kun Liong yang sudah memiliki dasar yang baik berkat gemblengan ayah bundanya dengan dua ilmu baru yang dia ciptakan sendiri setelah dia mengundurkan diri dari Hoa-san-pai.

Yang pertama adalah ilmu tangan kosong yang bemama Pat-hong Sin-kun (Ilmu Silat Delapan Penjuru Angin) dan yang ke dua adalah ilmu tongkat karena kakek ini memang terkenal sekali dengan kepandaiannya bermain tongkat pada waktu dia masih memegang tongkat kayu cendana berukir kepala naga. Ilmu tongkat yang diajarkan kepada Kun Liong disebut Siang-liong-pang (Tongkat Sepasang Naga), dan disebut demikian sebab gerakan kedua ujung tongkat kalau dimainkan seolah-olah merupakan dua ekor naga mengeroyok lawan!

Sungguh pun selama lima tahun hanya disuruh berlatih dengan dua macam ilmu silat ini, akan tetapi Kun Liong tidak pernah mengomel, melainkan berlatih dengan amat tekunnya sehingga hati Bun Hwat Tosu merasa kagum dan juga lega sekali. Apa pun yang akan terjadi dengan keputusannya menurunkan ilmunya kepada Kun Liong, yang jelas, pemuda ini tidak akan mengecewakan sebagai muridnya, biar pun murid yang tidak sah atau tidak diakuinya!

Rasa girang dan puas ini membuat Bun Hwat Tosu lupa diri dan timbul keinginan hatinya untuk menurunkan ilmu kepada Kun Liong, ilmu simpanannya yang khusus diciptakannya untuk menandingi Ilmu Thi-khi I-beng dari Cia Keng Hong yang kabarnya tiada yang dapat menandinginya!

Pendekar besar Cia Keng Hong memang memiliki ilmu yang amat aneh, juga amat hebat, yaitu yang dinamakan Thi-khi I-beng (Mencuri Hawa Memindahkan Nyawa). Ilmu ini adalah semacam daya tenaga sakti atau sinkang yang jika digunakan, begitu tangan menempel ke tubuh lawan, maka otomatis tenaga sinkang lawan akan tersedot sampai habis masuk ke dalam tubuh sendiri.

Karena memiliki Ilmu Thi-khi I-beng inilah maka Cia Keng Hong dianggap sebagai tokoh yang paling hebat kepandaiannya. Dan karena ilmu aneh yang dahulu dipakai perebutan di antara orang-orang sakti di seluruh dunia kang-ouw, diam-diam Bun Hwat Tosu merasa amat penasaran lantas mencurahkan seluruh kepandaiannya untuk menciptakan sebuah ilmu yang khusus untuk menghadapi Thi-khi I-beng!

Kini ilmu itu dia ajarkan kepada Kun Liong agar ilmu ini dapat menandingi Thi-khi I-beng. Kalau ilmu ini kelak ternyata berhasil menandingi ilmu andalan Cia Keng Hong itu, maka ilmu nomor satu di dunia persilatan itu telah ditaklukkan olehnya!

"Kun Liong, apakah engkau pernah mendengar akan ilmu yang disebut Thi-khi I-beng?" Setelah pemuda itu belajar selama empat tahun, suatu pagi Bun Hwat Tosu bertanya.

Kun Liong menggelengkan kepala. "Teecu belum pernah dengar, Locianpwe. Ilmu apakah itu?"

"Thi-khi I-beng dulu pernah menggegerkan dunia persilatan dan kiranya di dunia ini hanya seorang saja yang memilikinya, yaitu Cia Keng Hong."

"Ahhh, Supek (Uwa Guru)? Memang, menurut penuturan Ibu, Cia-supek adalah seorang sakti yang jarang ada tandingannya."

"Ibumu benar. Dan kesaktiannya itu terutama sekali karena dia mempunyai Thi-khi I-beng. Akan tetapi, pinto juga telah menciptakan sebuah daya sinkang yang akan pinto ajarkan kepadamu. Ilmu ini merupakan kebalikan dari Thi-khi I-beng. Jika Thi-khi I-beng memiliki daya menyedot sinkang lawan, maka ilmu ini mempunyai daya membetot sehingga kalau engkau telah berlatih dengan sempurna, maka dengan ilmu ini kau dapat menghindarkan pukulan-pukulan beracun lawan, juga mungkin, di dalam hal ini pinto sendiri belum yakin benar, tetapi mungkin saja ilmu ini akan dapat menahan daya sedot Thi-khi I-beng."

Kun Liong menganggukkan kepalanya yang gundul.

"Maukah engkau berjanji kepadaku?"

"Tentu saja, Locianpwe."

"Kelak, bila mana ada kesempatan, engkau cobakanlah sinkang ini untuk menahan Thi-khi I-beng dari Cia Keng Hong. Maukah engkau?"

Kun Liong terkejut dan maklum betapa akan sulitnya mencoba ilmu sakti dari supek-nya itu. Akan tetapi melihat betapa sikap kakek itu penuh gairah, secara diam-diam otaknya yang cerdik itu dapat menangkap bahwa agaknya bekas Ketua Hoa-san-pai ini sengaja menciptakan ilmu sinkang ini guna menghadapi Thi-khi I-beng, bukan menghadapi sebagai musuh, melainkan hanya memuaskan hati sudah dapat memecahkan Thi-khi I-beng yang tersohor di seluruh dunia persilatan. Karena itu dia tidak tega untuk menolak, benar-benar tidak tega, bukan karena inginnya mempelajari ilmu sinkang itu.

"Teecu berjanji, Locianpwe."

"Bagus! Nah mulai sekarang, kalau siang kau pergunakan untuk melatih kedua ilmu silat yang sudah mendekati kesempurnaan itu, kalau malam engkau pergunakan untuk melatih sinkang ini."

Mulai hari itu, Bun Hwat Tosu melatih sinkang-nya yang mempunyai daya membetot itu kepada Kun Liong, yang menerimanya dan berlatih dengan amat tekun, kadang-kadang sampai tidak tidur semalam suntuk!

Demikianlah, lima tahun lewat dengan cepatnya. Kini Kun Liong telah berusia lima belas tahun. Dia menjadi seorang pemuda remaja yang bertubuh sedang dengan pinggang kecil dan dada lebar. Wajahnya tampan sekali, kadang-kadang bila mana dia tersenyum sambil menggerakkan alis malah kelihatan cantik karena mulut, mata dan gerakan dagunya mirip dengan ibunya, Gui Yan Cu, seorang wanita yang amat cantik jelita.

Dagunya yang sangat meruncing itu kadang-kadang tampak lembut seperti wanita, akan tetapi kadang-kadang mengeras dengan sedikit lekuk membayangkan kekuatan kemauan yang tak tertundukkan. Sinar matanya kadang kala lembut seakan-akan wataknya lemah dan cengeng, akan tetapi ada kalanya sinar matanya membayangkan cahaya kilat yang menyeramkan, keras dan tajam menembus jantung.

Matanya lebar, kepalanya yang masih tetap gundul itu bundar dan dahinya lebar. Alisnya berbentuk golok, hidungnya mancung dan mulutnya agak kecil. Mungkin karena selama lima tahun hidup di samping seorang kakek tua renta, seorang tosu yang mengutamakan kesederhanaan dan kewajaran, maka pakaian Kun Liong juga sederhana sekali, demikian pula dalam gerak-geriknya tampak kesederhanaan dan kewajaran, sungguh pun kadang-kadang bersinar dan mulutnya tersenyum penuh kenakalan.

"Kun Liong, sudah saatnya pinto mengakhiri hubungan di antara kita. Waktu lima tahun seperti yang pinto janjikan sudah berlalu, dan pinto telah berusaha sebaik mungkin untuk menurunkan ilmu-ilmu tertinggi yang pinto miliki kepadamu. Mulai saat ini kita berpisah, dan engkau boleh mengambil jalan hidupmu sendiri. Pinto tidak menganjurkan atau pun memaksamu, akan tetapi sebaiknya kalau engkau kembali kepada orang tuamu supaya mereka tidak gelisah memikirkan kepergianmu. Nah, selamat berpisah!"

Tanpa menanti jawaban Kun Liong yang sudah menjatuhkan diri berlutut, kakek itu lantas melangkah pergi meninggalkan lereng Gunung Teratai Biru. Sampai beberapa lama Kun Liong tetap berlutut, menekan keharuan hatinya...


Tag: Cerita Silat Online, Cersil, Kho Ping Hoo, Pedang Kayu Harum

Thanks for reading Petualang Asmara Jilid 06.

Back To Top