Cersil Online Karya Kho Ping Hoo

Pendekar Lembah Naga Jilid 16

Sin Liong rebah terlentang tanpa mampu bergerak dan ketika wanita itu menotoknya dan membebaskan dirinya, dia pun bangkit duduk dan memandang kepada wanita itu dengan mulut tersenyum dan mata berseri, lalu dia mengelus-elus bagian tubuhnya yang terasa nyeri karena luka-luka bekas pukulan lawan dalam perkelahian tadi.

Melihat anak itu tersenyum kepadanya, Kim Hong Liu-nio mengerutkan alisnya. Senyum anak itu demikian terbuka dan sekiranya dia tidak begitu benci terhadap anak ini sebagai putera musuh besarnya, tentu dia tidak ingin mencelakai seorang anak laki-laki seperti ini. Dan sepasang matanya demikian tajam.

"Uhh...!" Kim Hong Liu-nio mengusap peluh di dahinya dan diam-diam dia memaki dirinya sendiri mengapa tiba-tiba saja dia merasa begitu lemah.

Dia tidak tahu bahwa setelah dia menjadi korban asmara, setelah dia jatuh cinta terjadi perubahan dalam dirinya dan dia sebenarnya mendambakan kehidupan yang damai dan tenteram, jauh dari kekerasan, penuh dengan cinta kasih dan kebahagiaan. Ada sesuatu yang mendorong hatinya untuk hidup akur dan damai dengan siapa pun juga, mengajak senyum dan bergembira kepada siapa pun juga.

"Kenapa kau pringas-pringis seperti itu?" bentaknya marah.

Senyum di bibir Sin Liong melebar. "Bibi yang baik, engkau telah menyelamatkan nyawa Tiong Pek dan terutama Bi Cu, karena itu aku merasa girang sekali dan berterima kasih kepadamu. Ternyata engkau bukanlah iblis betina seperti yang selama ini kukira, akan tetapi orang yang gagah perkasa dan baik, yang kadang-kadang berpura-pura jahat dan kejam."

"Hemm, apa maksudmu? Siapa itu Tiong Pek dan Bi Cu?" bentak Kim Hong Liu-nio.

"Tiong Pek dan Bi Cu adalah dua orang anak yang telah kau selamatkan nyawanya tadi, bibi yang baik..."

"Aku bukan bibimu!" bentak wanita itu marah.

"Tentu saja bukan, akan tetapi... ahh, agaknya engkau tidak suka kusebut bibi? Baiklah, kusebut kau enci juga boleh!"

"Huh, kau anak ceriwis!" bentaknya lagi dan Sin Liong ini diam saja.

Sampai lama mereka berdua tidak berkata-kata, dan wanita itu duduk di atas batu besar, matanya memandang jauh seperti orang melamun. Sin Liong juga memandang ke sana sini. Keadaan amat sunyi dan tiba-tiba Sin Liong melihat betapa tempat itu penuh dengan burung-burung gagak. Ada yang beterbangan di atas dan ada pula yang hinggap di atas pohon, di atas batu-batu. Bulu mereka yang hitam itu mengkilap tertimpa sinar matahari pagi. Hari itu masih belum siang benar, akan tetapi panas matahari telah menyengat. Dia ternyata telah dilarikan selama semalam suntuk oleh wanita itu, wanita yang luar biasa.

"Luar biasa...!" tanpa disadarinya, kata-kata ini keluar dari mulutnya.

Ucapan itu agaknya menyadarkan Kim Hong Liu-nio dari lamunannya. Dia sendiri tidak tahu mengapa akhir-akhir ini dia banyak melamun. Dia terkejut dan menoleh.

"Apa katamu?!" bentaknya.

Sin Liong juga terkejut karena dia sendiri tidak sadar bahwa jalan pikirannya keluar dari mulutnya. "Ehh, apa...? Oh, aku hanya ingin tahu apa yang akan kau lakukan terhadapku, enci? Mengapa kau mengajak aku ke tempat yang sunyi ini?"

Mendadak terdengar bunyi burung gagak. Seekor berbunyi, yang lain lalu menjawab dan mereka berkaok-kaok saling bersahutan. Sin Liong merasa seram. Memang bunyi burung gagak selalu menimbulkan rasa seram dalam hatinya, mengingatkan dia akan kematian.

Kematian? Ibunya sudah mati! Ibu kandungnya sudah mati dibunuh oleh wanita ini! Dan tiba-tiba saja Sin Liong meloncat dengan penuh kemarahan, langsung saja dia menyerang Kim Hong Liu-nio dengan jurus ilmu silat yang selama ini dipelajarinya dari Na Ceng Han!

Pada waktu Sin Liong menyerang, wanita itu masih duduk di atas batu dan dia hanya memandang saja ketika Sin Liong menyerangnya. Sesudah anak itu tiba dekat, kaki Kim Hong Liu-nio baru bergerak.

"Bukkkk!" Tubuh Sin Liong terlempar dan terbanting dengan keras sekali.

Sin Liong memang sudah menderita luka-luka, dan tubuhnya masih lelah dan sakit-sakit, maka bantingan itu membuat dia seketika merasa pening. Akan tetapi dia sudah bangkit lagi, kemudian dengan hati terbakar kemarahan karena mengingat betapa wanita ini telah membunuh ibu kandungnya yang tercinta, dia menerjang lagi dengan nekat.

"Iblis betina, kau telah membunuh ibuku!" bentaknya.

Sekali ini, Kim Hong Liu-nio menggerakkan tangannya menotok.

"Brukkk!" untuk kedua kalinya tubuh Sin Liong roboh, bahkan sekali ini dia tidak mampu bergerak lagi.

"Aku memang telah membunuh ibumu, dan aku akan segera membunuh ayahmu juga!" Kim Hong Liu-nio menghardik, kini kebenciannya timbul karena dia pun seperti Sin Liong sudah teringat bahwa anak ini adalah putera dari musuh besarnya.

Walau pun tubuhnya sudah lumpuh tak mampu bergerak, namun Sin Liong masih dapat bicara. Dengan suara mengejek dia berkata, "Huh, manusia macam engkau ini beraninya hanya menghina yang lemah. Jika kau bertemu dengan ayah kandungku, dalam sepuluh jurus saja engkau tentu akan mampus!"

Sin Liong memang sengaja mengeluarkan kata-kata ini untuk mengejek dan menghina, satu-satunya hal yang mampu dilakukannya untuk melampiaskan kemarahan dan sakit hatinya. Akan tetapi ucapan itu diterima girang oleh Kim Hong Liu-nio.

"Ah, jadi ayahmu berada di sini? Lekas katakan, di mana dia? Kalau kau memberi tahu di mana adanya Cia Bun How, aku akan mengampuni nyawamu!"

Sin Liong adalah seorang anak yang luar biasa sekali. Wataknya amat keras dan dia tak pernah mengenal takut. Kalau orang bersikap baik dan halus kepadanya, maka dia akan menjadi lunak dan tunduk. Akan tetapi kalau ada orang bersikap keras kepadanya, meski dia diancam maut, biar dia disiksa, dia tidak akan sudi tunduk. Maka, mendengar ucapan itu, matanya yang bersinar tajam itu memandang dengan mendelik, sementara mulutnya tersenyum mengejek.

"Aku tidak sudi mengatakannya!" Padahal, tentu saja dia sendiri pun tidak tahu di mana adanya ayah kandungnya itu. Akan tetapi dia memang sengaja ingin membikin panas hati wanita pembunuh ibunya ini.

Dan memang Kim Hong Liu-nio menjadi marah sekali. Kini dia yakin bahwa anak itu tentu tahu di mana adanya Cia Bun Houw, dan dia telah mengambil keputusan untuk memaksa anak ini memberi tahu di mana adanya musuh besarnya itu.

"Katakan di mana adanya Cia Bun Houw!" kembali dia membentak sambil mencengkeram tengkuk Sin Liong.

"Tidak sudi!" anak itu balas membentak.

"Hemm, kau agaknya ingin kusiksa sampai setengah mati!"

"Huh, apa artinya siksaanmu? Dahulu pun kau meracuni tubuhku, dan aku tidak takut!"

Ucapan ini mengingatkan Kim Hong Liu-nio, maka cepat dia memeriksa tubuh anak itu, meraba pergelangan tangannya dan dadanya. Mata wanita itu terbelalak heran. Anak itu sudah bebas sama sekali dari Hui-tok-san!

"Siapa yang mengobatimu? Ayahmu itu?"

Sin Liong yang diangkat ke atas sehingga mukanya berdekatan dengan muka wanita itu, tersenyum mengejek. "Kau tidak akan dapat mengetahui!"

"Bressss...!" Kim Hong Liu-nio langsung membanting sehingga untuk ketiga kalinya tubuh Sin Liong terbanting ke atas tanah.

"Hayo katakan, di mana ayahmu itu! Di mana Cia Bun Houw!" kembali dia berteriak-teriak penuh kemarahan.

Sin Liong merasa kepalanya pening dan tubuhnya sakit-sakit tanpa dia mampu bergerak. Akan tetapi nyalinya tidak pernah berkurang besarnya. Dia memandang wanita itu lantas berkata, "Hemmm, kau ternyata lebih curang dari pada seekor ular, lebih ganas dari pada seekor srigala dan lebih jahat dari pada ketua Jeng-hwa-pang atau iblis sekali pun!"

"Hayo katakan di mana ayahmu!"

"Tidak sudi! Kau mau apa?"

"Keparat, hendak kulihat apakah engkau masih tetap akan membandel!" Dengan marah Kim Hong Liu-nio, menyambar tubuh Sin Liong, yang dibawanya kepada sebatang pohon dan dia menggunakan akar pohon untuk mengikatnya pada batang pohon itu, diikat dari kaki sampai ke leher. Sesudah itu, dia lalu membebaskan totokan di tubuh anak itu agar Sin Liong merasakan sepenuhnya siksaan itu.

"Kau mau bunuh sekali pun jangan harap aku akan sudi mengaku kepada orang jahat macam engkau!" Sin Liong memanaskan hati wanita itu.

"Aku tidak akan membunuhmu. Kau lihat burung-burung itu? Nah, merekalah yang akan membunuhmu perlahan-lahan, mencabik-cabik dagingmu sekerat demi sekerat. Aku tidak akan pergi jauh, dan kalau kau berteriak memanggilku apa bila engkau sudah mengubah sikap kepala batumu itu, tentu aku akan mendengarmu!"

Setelah berkata demikian, Kim Hong Liu-nio tersenyum, senyum yang manis sekali, akan tetapi senyum yang membuat Sin Liong bergidik karena anak ini sudah mulai mengenal musuhnya yang dapat melakukan hal yang teramat keji. Dengan sekali berkelebat saja, wanita itu sudah lenyap dari situ, meninggalkan Sin Liong terikat di batang pohon dengan muka menghadap ke matahari yang sudah mulai naik agak tinggi dan sinarnya yang terik itu sepenuhnya menimpa muka dan tubuh Sin Liong.

"Gaooookkk...!"

Seekor burung gagak hitam melayang turun dan hinggap di atas batu di mana tadi Kim Hong Liu-nio duduk. Burung itu memandang ke arah Sin Liong, kepalanya dimiringkan ke kanan kiri seperti hendak memandang lebih teliti atau mendengarkan sesuatu. Tidak lama kemudian nampak bayangan hitam menyambar turun dari atas dan seekor burung gagak lain telah hinggap di atas tanah, di depan Sin Liong.

Anak itu memandang tajam, heran melihat burung-burung itu berani mendekatinya dan dia belum mengerti apa maksudnya Kim Hong Liu-nio meninggalkannya terikat di situ. Dia tidak tahu bahwa burung-burung ini adalah burung-burung pemakan bangkai yang sudah kelaparan karena sudah lama tidak makan, dan betapa mereka itu sudah tidak sabar menanti adanya bangkai yang boleh mereka makan.

Agaknya burung-burung lain tertarik oleh dua ekor burung yang berkaok-kaok di dekat Sin Liong itu karena kini banyak burung melayang turun dan mengurung tempat di mana Sin Liong diikat pada batang pohon itu. Sin Liong masih belum tahu akan datangnya bahaya mengerikan mengancamnya, bahkan dia memandang tanpa bergerak-gerak.

Inilah salahnya! Kalau saja dia bergerak atau mengeluarkan suara, tentu burung-burung itu akan menjadi takut.

Tiba-tiba seekor burung gagak terbang dan hinggap di atas pundak kiri Sin Liong. Anak ini barulah merasa terkejut, apa lagi karena kuku-kuku jari kaki burung yang mencengkeram pundaknya itu menembus baju melukai kulitnya.

"Hehhhhh....!" Dia membentak dan burung itu terbang dengan kaget, akan tetapi segera hinggap di atas tanah karena melihat anak itu tidak dapat bergerak.

Keringat dingin mulai membasahi dahi dan leher Sin Liong. Kini dia memandang dengan kedua mata terbelalak kepada burung-burung yang bergerak-gerak di depannya dan bagi pandang matanya, burung-burung itu seperti sudah berubah menjadi iblis-iblis hitam yang menakutkan.

Kembali ada dua ekor burung terbang atau meloncat dan mereka ini menerkam. Sin Liong membentak lagi dan dua ekor burung itu terbang turun, hanya untuk mengulang kembali perbuatan mereka. Sin Liong membentak-bentak lagi, akan tetapi dua ekor burung yang hinggap di pundak dan lengannya tidak mau pergi, bahkan sekarang dua ekor burung itu mulai mematuk-matuk ke arah mata Sin Liong!

Anak itu terkejut dan merasa ngeri, cepat dia memejamkan mata, akan tetapi tak mampu mengelak karena lehernya tercekik kalau dia menggerakkan kepalanya. Dia mendengus-dengus dan agaknya suaranya inilah yang membuat kedua ekor burung itu meragu dan tidak mematuknya, hanya sayap mereka yang bergerak-gerak dan mengibas-ngibas, ada pun paruh mereka itu mengeluarkan bunyi berkaok yang terdengar nyaring sekali di dekat telinga Sin Liong!

Sin Liong sama sekali tidak berani membuka mata dan hanya mendengus-dengus sambil menggerak-gerakkan kepalanya ke kanan kiri untuk mengusir burung-burung itu. Namun dua ekor burung gagak itu tidak mau pergi, sungguh pun mereka juga belum menyerang sebab mereka masih meragu dan agaknya hendak menanti hingga calon mangsa mereka itu sama sekali tidak mampu bergerak.

Sin Liong merasa ngeri bukan main. Baru sekarang dia merasakan kengerian yang seolah mencekiknya, lebih mengerikan dari pada ketika dia dilempar ke dalam sumur ular oleh ketua Jeng-hwa-pang. Hampir saja dia berteriak minta tolong, akan tetapi bila dia teringat pada wanita yang membunuh ibunya itu, dia tidak jadi berteriak bahkan dia mengatupkan mulutnya dan mengambil keputusan untuk tidak sudi berteriak sampai mati. Lebih baik mati dicabik-cabik burung-burung ini dari pada dia berteriak, mengaku kalah dan tunduk kepada iblis betina itu, demikian tekad hatinya.

Matahari naik makin tinggi. Sinarnya makin panas dan hampir Sin Liong tidak kuat untuk menahannya lagi. Anak ini merasa bahwa kalau sampai dia pingsan dan tidak bergerak, tentu burung-burung ini akan menyerangnya. Karena itu, biar pun panasnya membuat dia hampir tidak kuat bertahan, kepalanya pening dan matanya yang dipejamkan itu melihat warna merah, lehernya laksana dicekik oleh kehausan, namun dia mempertahankan diri sekuatnya. Dia merasa tubuhnya kering sama sekali, diperas habis airnya yang menguap menjadi peluh.

Dari jauh Kim Hong Liu-nio mengintai. Wanita ini merasa kagum bukan kepalang. Kembali timbul rasa sayangnya kepada anak itu di balik kebenciannya. Anak itu benar-benar hebat sekali! Selama ini, hanya kepada sute-nya sajalah dia kagum dan menganggap sute-nya seorang anak laki-laki yang paling hebat.

Akan tetapi, melihat sikap Sin Liong, dia benar-benar merasa heran dan kagum dan harus mengakui bahwa anak itu benar-benar luar biasa, lebih hebat dari pada sute-nya. Akan tetapi, rasa sayang ini diusirnya dengan ingatan bahwa anak itu adalah putera Cia Bun Houw, musuhnya yang terbesar.

"Gaoookkkkk...!" Kembali burung yang hinggap di pundak kanan anak itu mengeluarkan bunyi tak sabar lagi.

Kim Hong Liu-nio melihat betapa burung itu menggerakkan paruhnya, mematuk ke arah mata kanan yang terpejam itu. Akan tetapi, pada saat itu pula ada debu mengebul dari sebelah kanan anak itu dan ketika dia memandang, ternyata tiga ekor burung yang tadi hinggap pada kedua pundak dan lengan, kini telah jatuh dan mati di dekat kaki Sin Liong yang masih memejamkan matanya!

Kim Hong Liu-nio terkejut bukan main, dan cepat-cepat dia meloncat keluar dari tempat sembunyinya dan langsung dia meloncat dan berlari ke tempat itu. Juga Sin Liong yang merasa betapa di pundaknya tidak ada lagi burung yang mencengkeramnya, membuka mata dan terheranlah dia melihat bangkai tiga ekor burung di lekat kakinya.

Akan tetapi pandang matanya langsung berkunang karena ketika dia membuka mata, dia melihat wanita itu datang berlari-lari. Habislah harapannya dan dia memejamkan matanya kembali. Akan tetapi, Sin Liong terkejut dan merasa heran ketika mendengar suara Kim Hong Liu-nio membentak marah.

"Iblis dari mana yang berani bermain gila dengan Kim Hong Liu-nio?"

Mendengar ini Sin Liong cepat membuka matanya. Dengan menggoyangkan kepala dia mengusir kepeningannya serta bintang-bintang yang menari-nari di depan matanya itu. Akhirnya dia melihat seorang kakek tua berjalan perlahan menuju ke tempat itu.

Seperti juga Kim Hong Liu-nio, Sin Liong membuka matanya lebar-lebar dan memandang kakek yang mendatangi itu dengan sinar mata tajam penuh selidik. Sin Liong masih tidak tahu bagaimana burung-burung itu mati secara aneh. Tadinya dia menyangka bahwa Kim Hong Liu-nio yang membunuh binatang-binatang rakus itu, akan tetapi melihat munculnya kakek ini, dia meragu dan hatinya tertarik sekali.

Sebaliknya, Kim Hong Liu-nio juga memandang penuh selidik dan hatinya menduga-duga. Benarkah kakek ini yang membunuhi tiga ekor burung gagak secara aneh itu? Dia masih belum tahu bagaimana burung-burung itu mati.

Melihat adanya debu mengebul, tentu orang telah menggunakan pukulan jarak jauh. Akan tetapi, burung-burung itu hinggap di tubuh Sin Liong dan memukul mati burung-burung itu dengan hawa pukulan jarak jauh tanpa mengenai anak itu sendiri, sungguh merupakan ilmu yang luar biasa. Dia masih meragu dan memandang tajam penuh selidik.

Kakek itu sudah tua sekali, paling sedikitnya tentu sudah tujuh puluh lima tahun usianya. Rambutnya yang halus dan terpelihara rapi dan bersih, sudah putih semua dan digelung ke atas dengan rapi, diikat dengan kain kuning yang bersih. Pakaiannya sederhana sekali, seperti pakaian petani, akan tetapi pakaiannya juga bersih.

Wajah itu dihias kumis dan jenggot yang halus dan sudah putih pula. Namun, wajah kakek ini masih kelihatan sehat dan segar kemerahan, keriput di pipinya hampir tidak kelihatan. Wajah manis budi dan sabar, akan tetapi cahaya matanya membayangkan wibawa dan kekerasan hati seorang pendekar! Kakek ini berpakaian polos, agaknya tidak membawa senjata apa pun.

Setelah tiba di tempat itu, kakek yang mendatangi dengan langkah ringan dan perlahan, sejenak memandang kepada Sin Liong, kemudian dia menoleh dan memandang kepada wanita cantik itu. Kim Hong Liu-nio merasa betapa jantungnya berdebar tegang ketika melihat sepasang mata tua itu menyambar ke arahnya dengan ketajaman pandang yang menyeramkan. Lalu terdengar suara kakek itu, halus dan lembut akan tetapi mengandung teguran dan wibawa.

"Mengganggu orang yang tidak mampu melawan merupakan perbuatan yang pengecut, apa lagi bila menyiksa seorang bocah yang tak dapat melawan, itu merupakan perbuatan keji. Bagaimanakah seorang wanita muda dan cantik seperti engkau ini dapat melakukan perbuatan keji dan pengecut?"

Kim Hong Liu-nio adalah seorang wanita yang memiliki tingkat kepandaian tinggi dan dia tidak pernah mengenal takut. Biar pun dia dapat menduga bahwa kakek ini tentu seorang yang pandai, akan tetapi tentu saja dia sama sekali tidak merasa jeri dan kini mendengar kakek itu mencelanya, tentu saja dia menjadi marah sekali.

"Kakek yang lancang tangan dan lancang mulut! Apakah orang setua engkau ini masih belum tahu bahwa mencampuri urusan orang lain adalah perbuatan hina yang tidak akan dilakukan oleh seorang kang-ouw?"

"Menyelamatkan siapa pun dari perbuatan keji bukanlah berarti mencampuri urusan orang lain, melainkan sudah menjadi tugas setiap manusia yang waras. Bahkan andai kata anak yang akan kau siksa ini adalah anak kandungmu sekali pun, pasti aku akan turun tangan menyelamatkannya dan mencegah perbuatanmu yang keji itu."

Tentu saja Kim Hong Liu-nio menjadi semakin marah. Pertama karena kakek itu barusan mengatakan anak itu anak kandungnya! Padahal dia adalah seorang perawan. Dan ke dua, dengan terang-terangan kakek itu menyatakan akan menentangnya!

"Tua bangka yang bosan hidup!" bentaknya marah, mulutnya tersenyum, tanda bahwa kemarahannya telah mencapai puncaknya dan dia sudah siap untuk membunuh. Dengan tenang dia lalu mengenakan sarung tangannya.

"Apakah engkau belum mendengar siapa aku? Tentu engkau tidak mengenal Kim Hong Liu-nio maka engkau berani bersikap seperti ini."

"Hemmm, tentu saja aku tahu siapa engkau. Engkau adalah seorang wanita yang sudah berhasil mempelajari ilmu-ilmu yang tinggi akan tetapi gurumu adalah seorang yang jahat sehingga tidak mendidik batinmu. Ilmu tinggi yang jatuh ke tangan seorang yang kejam, hanya akan mendatangkan bencana di dunia ini."

"Keparat, terimalah ini!" Kim Hong Liu-nio yang sudah marah itu tak dapat bertahan lagi dan sudah mencelat ke depan dengan kecepatan kilat dan melakukan serangan pukulan dengan kedua tangannya.

Pukulan maut yang datangnya sangat cepat sambil mengeluarkan suara angin bercuitan mengerikan. Karena menduga bahwa lawannya lihai, begitu menyerang Kim Hong Liu-nio telah mengerahkan sinkang-nya sehingga pukulan itu merupakan pukulan maut yang sulit dilawan!

Akan tetapi kakek itu malah membalikkan tubuhnya, kemudian dengan kedua tangannya dia membuka ikatan tangan yang membelenggu Sin Liong! Melihat ini, Kim Hong Liu-nio menahan pukulannya dan alisnya berkerut. Demikian hebatkah kakek ini sehingga tidak memandang sebelah mata terhadap serangannya?

Ketika dia melihat bahwa kakek ini sudah membebaskan ikatan Sin Liong yang segera jatuh terduduk dengan lemas dan anak itu menggosok-gosok kedua pergelangan tangan dan terengah-engah, Kim Hong Liu-nio membentak keras dan sekarang dia benar-benar menyerang ke arah kakek itu dengan pukulan maut yang mengarah pelipis dan ulu hati kakek itu.

Diam-diam kakek itu tersenyum. Ternyata dugaannya tadi sudah keliru. Wanita ini tidak memiliki watak curang, buktinya serangan pertama tadi ditundanya pada saat dia sedang membuka ikatan anak itu. Akan tetapi dugaannya bahwa wanita ini memiliki ilmu tinggi adalah benar karena melihat serangan itu saja tahulah dia bahwa wanita ini benar-benar lihai sekali. Untuk mencoba kekuatan wanita itu, maka dia sengaja menggerakkan kedua tangannya menangkis. Dua kali dua pasang tangan bertemu.

"Dukkk! Plakkk!"

Kim Hong Liu-nio terkejut bukan main. Tubuhnya lantas terdorong mundur oleh tangkisan-tangkisan itu! Pada lain fihak, kakek itu semakin kagum karena ternyata bahwa serangan wanita ini mampu membuat kedua lengannya tergetar!

Maklum bahwa dia kalah kuat dalam hal sinkang oleh kakek aneh yang tak dikenalnya ini, Kim Hong Liu-nio menjadi penasaran dan marah. Dia mengeluarkan suara melengking panjang dan tiba-tiba tubuhnya sudah menerjang dengan gerakan cepat bukan main yang membuat dia seperti lenyap berubah menjadi bayang-bayang yang luar biasa cepatnya. Kaki tangannya menyerang bertubi-tubi ke arah bagian tubuh berbahaya dari kakek itu, setiap serangan merupakan serangan maut!

Sementara itu, kakek yang ternyata amat luar biasa kepandaiannya itu, dengan alis putih berkerut memperhatikan gerakan lawan dan diam-diam dia pun merasa terheran-heran karena dia tidak mengenal ilmu silat yang dimainkan oleh wanita itu. Padahal, dia hampir mengenal semua dasar ilmu silat tinggi dari seluruh partai-partai besar! Akan tetapi, dia pun selalu mengimbangi kecepatan wanita itu dan selalu dapat menghindarkan diri atau menangkis.

Kembali Kim Hong Liu-nio terkejut bukan kepalang. Kakek petani ini ternyata amat hebat! Bukan saja sanggup menandingi sinkang-nya, bahkan tidak terdesak oleh ginkang-nya! Diam-diam dia lalu mencabut tiga batang hio dan dengan kuku jari tangannya menyentik batu api, maka muncratlah batu api membakar ujung tiga batang hio itu.

Hio-hio ini sebetulnya dia sediakan untuk membunuh musuh-musuh gurunya, seperti yang telah dilakukannya kepada beberapa orang yang sudah berhasil dibunuhnya. Akan tetapi menghadapi seorang lawan tangguh seperti kakek ini, dia akan mempergunakannya juga karena senjata hio itu merupakan senjata istimewa pula.

Kakek itu hanya memandang sambil mengelak ke sana-sini pada waktu wanita itu sambil menyerang mengeluarkan dan menyalakan tiga batang hio. Dia tidak tahu apa artinya dan tertarik sekali, menduga bahwa agaknya wanita ini adalah seorang ahli ilmu hitam yang hendak mempergunakan ilmu sihirnya. Dia tidak takut, melainkan tertarik sekali dan ingin melihat bagaimana wanita itu hendak menggunakan sihir atas dirinya!

Akan tetapi, tiba-tiba saja wanita itu mengeluarkan bentakan nyaring sekali dan kakek itu melihat sinar-sinar keemasan kecil menyambar ke arah tiga jalan darah pada tubuhnya! Tahulah dia bahwa hio-hio menyala itu sama sekali bukan dipergunakan untuk main sulap atau sihir, melainkan untuk dipergunakan sebagai senjata rahasia yang menyerangnya!

Kakek itu mengeluarkan seruan panjang, tiba-tiba tubuhnya bergerak cepat ke atas dan ketika dia melayang turun kembali, tiga batang hio menyala itu sudah disambarnya dan berada di tangannya. Sekali dia melempar, tiga batang hio itu menancap di atas tanah dan asapnya bergulung-gulung kecil ke atas!

Kim Hong Liu-nio terkejut, juga semakin penasaran dan marah. Tiba-tiba dia bergerak, tubuhnya didahului oleh sinar merah dan ternyata wanita ini telah menyerang lagi dengan menggunakan sabuk merahnya. Dengan gerakan seperti seekor ular hidup, ujung sabuk merah itu secara bertubi sudah menotok ke arah tujuh jalan darah kematian di sebelah depan tubuh kakek itu!

"Hemm, sungguh keji...!" kakek itu mencela dan cepat dia menggunakan telapak kanan untuk menangkap ujung sabuk merah.

Akan tetapi, begitu melihat lawan hendak menangkap ujung sabuknya, Kim Hong Liu-nio menggerakkan tangan dan kini ujung sabuk itu meluncur dan menotok ke arah telapak tangan itu secara langsung, untuk menotok jalan darah antara ibu jari dan telunjuk tangan kanan yang terbuka itu.

Akan tetapi, kakek itu agaknya tidak tahu akan serangan ini dan tetap saja membuka tangan hendak menangkap ujung sabuk itu. Kim Hong Liu-nio menjadi girang sekali dan menambah tenaganya ketika ujung sabuk bertemu dengan telapak tangan lawan.

"Plakkk...!" Ujung sabuk itu tepat mengenai telapak tangan dan melekat di situ.

Tiba-tiba wajah cantik itu berubah pucat, matanya terbelalak lebar memandang kepada kakek itu ketika Kim Hong Liu-nio merasa betapa tenaga sinkang-nya memberobot keluar dari tangannya yang ujungnya menempel pada telapak tangan kakek itu.

"Thi-khi I-beng...!" Dia berteriak kaget lantas membuat gerakan tiba-tiba menarik sabuk merahnya.

"Pratttt...!" Sabuk merah itu terputus di tengah-tengah!

"Ahhh...!" Kakek itu berseru kagum sekali.

Kim Hong Liu-nio masih memandang terbelalak. Dia mengenal Thi-khi I-beng seperti yang pernah diceritakan oleh subo-nya. Thi-khi I-beng adalah ilmu yang aneh, sesuai dengan namanya yang memiliki arti Curi Hawa Pindahkan Nyawa, ilmu itu dapat menyedot hawa sinkang lawan sampai habis! Untung dia sudah mempelajari ilmu untuk melepaskan diri dari sedotan Thi-khi I-beng yang ampuh itu!

"Siapakah engkau...?" Kim Hong Liu-nio bertanya, suaranya membayangkan kejerian hati menghadapi kakek yang hebat itu.

Kakek itu melemparkan sabuk merah yang putus itu ke atas tanah. Ia pun menarik napas panjang, lalu berkata dengan suara lirih dan seperti orang membaca sajak, "Namaku tidak lebih terkenal dibandingkan sebatang pedang, akan tetapi pedangku adalah pedang kayu yang tidak keras, juga tidak berbau darah kering melainkan harum semerbak. Ah, sampai terpaksa aku mempergunakan Thi-khi I-beng, menandakan bahwa kepandaianmu hebat sekali, nona."

Kim Hong Liu-nio makin terkejut dan hatinya makin gentar. Dalam kata-kata perkenalan dari kakek itu terkandung kata-kata pedang kayu dan harum. Pedang Kayu Harum, Siang-bhok-kiam! Dia cepat membuat gerakan membungkuk.

"Sudah kuduga...," bisiknya, "kiranya... maafkan saya..." Dan tanpa bicara apa-apa lagi, Kim Hong Liu-nio membalikkan tubuhnya dan melarikan diri dengan cepat seperti terbang.

"Nona, tunggu dulu...!" Kakek itu berseru, akan tetapi Kim Hong Liu-nio menjawab tanpa menoleh.

"Lain kali kita akan saling bertemu berjumpa kembali!"

Cia Keng Hong, atau ketua dari Cin-ling-pai, pendekar sakti yang amat terkenal dengan pedang kayu harumnya itu, memandang dan tidak mengejar. Dia merasa kagum sekali karena setelah puluhan tahun tidak bertemu lawan, baru sekarang dia bertemu tanding seorang wanita yang masih muda akan tetapi juga memiliki kepandaian yang tinggi sekali, bahkan dia tidak mengenal dasar ilmu silat yang dimainkan oleh wanita itu!

Para pembaca dari cerita Siang-bhok-kiam, lalu cerita Petualangan Asmara, dan Dewi Maut, tentu tidak asing lagi dengan pendekar sakti Cia Keng Hong ini. Dia adalah seorang pendekar sakti yang namanya sangat terkenal di kalangan kang-ouw, sebagai ketua dari Cin-ling-pai di Pegunungan Cin-ling-san, di mana dia hidup dengan isterinya yang tercinta seorang bekas pendekar wanita yang lihai pula.

Di dalam cerita Dewi Maut telah diceritakan betapa Cia Keng Hong telah meninggalkan keramaian dunia kang-ouw dan dia yang sudah tua hidup tentram di puncak Pegunungan Cin-ling-san sampai cerita ini terjadi. Pada waktu sekarang, Cia Keng Hong, dalam usia yang sudah tujuh puluh tahun lebih, pendekar sakti ini merasa betapa hidupnya penuh dengan duka.

Isterinya, satu-satunya manusia di dunia ini yang paling dicintanya, telah meninggal dunia dua tahun yang lalu, meninggal dunia dalam usia yang sudah cukup tinggi, kurang lebih tujuh puluh tahun, akan tetapi sayangnya meninggal dalam keadaan duka pula karena kematiannya tidak ditunggui oleh puteranya yang terkasih, yaitu Cia Bun Houw.

Diam-diam di dalam hati pendekar sakti ini timbul penyesalan besar. Dia tidak dapat menyalahkan Bun Houw yang sampai sepuluh tahun lebih lamanya belum pernah pulang itu. Dia sendirilah yang menyebabkannya. Dia yang seolah-olah mengusir puteranya itu karena puteranya itu nekat hendak hidup sebagai suami isteri bersama Yap In Hong, adik dari pendekar Yap Kun Liong. Dia melarang dan tidak setuju, akan tetapi Bun Houw nekat sehingga puteranya itu lalu pergi bersama In Hong dan sampai sekarang tidak ada kabar ceritanya.

Setelah isterinya meninggal dunia, maka satu-satunya hiburan bagi Cia Keng Hong adalah cucunya yang semenjak kecil sudah digemblengnya di Pegunungan Cin-ling-san itu. Cucu perempuan ini bukan lain Lie Ciaw Si, puteri dari Cia Giok Keng dan mendiang Lie Kong Tek.

Dengan tekun pendekar sakti itu menurunkan kepandaiannya kepada cucunya ini, dan walau pun Ciauw Si tidak memiliki bakat yang terlalu menonjol, akan tetapi dara ini telah mewarisi banyak ilmu tinggi kakeknya sehingga dia sekarang menjadi seorang dara yang hebat juga dan jarang ada yang akan mampu menandinginya.

Betapa pun juga, setelah neneknya meninggal, dara yang kini berusia dua puluh tahun itu sering kali melihat kakeknya termenung di dalam duka, bahkan sering kali kakeknya itu seperti seorang pikun turun gunung dan merantau di kaki Pegunungan Cin-ling-san, lupa makan lupa tidur dan baru pulang kalau sudah disusul dan dibujuknya.

Kemudian Ciauw Si mendengar dari penuturan ibunya yang masih tinggal di Sin-yang, di rumah mendiang suaminya, mengenai pamannya, adik ibunya, yaitu Cia Bun Houw dan bahwa kedukaan kakeknya itu disebabkan oleh kepergian Bun Houw yang hingga kini tak pernah ada beritanya itu. Mendengar ini, Ciauw Si yang mencinta kakeknya itu merasa sangat kasihan. Maka, pada suatu pagi pergilah dia meninggalkan Cin-ling-san sesudah meninggalkan surat untuk kakeknya, yang memberi tahu bahwa dia pergi untuk mencari pamannya, Cia Bun Houw!

Akan tetapi, kejadian ini sama sekali tidak menggirangkan hati kakek pendekar itu. Malah sebaliknya. Dia merasa prihatin dan khawatir. Meski pun cucunya itu sudah mempunyai kepandaian tinggi, namun cucunya adalah seorang wanita muda dan kurang pengalaman, padahal dia tahu betul betapa bahayanya merantau di dunia kang-ouw seorang diri bagi seorang wanita muda. Kekhawatiran ini membuat hatinya tidak tenang, maka kakek ini pun lalu turun gunun untuk mencari cucunya!

Demikianlah keadaan singkat dari kakek pendekar Cia Keng Hong yang usianya sudah tujuh puluh lima tahun itu. Dalam perantauannya mencari cucunya itulah secara kebetulan dia melihat Sin Liong yang sedang tersiksa oleh Kim Hong Liu-nio dan dia segera turun tangan menolongnya.

Biasanya, kakek yang tengah merantau ini menyembunyikan diri dan kepandaiannya, dan kalau sekarang dia memperlihatkan kepandaiannya, adalah karena dia terpaksa sekali oleh kelihaian Kim Hong Liu-nio. Kakek itu merasa amat kagum menyaksikan sikap anak yang disiksa itu, maka diam-diam dia memperhatikan, bahkan ketika dia membebaskan belenggu itu jari-jari tangannya mengusap dan dia memperoleh kenyataan bahwa anak itu benar-benar memiliki tulang yang baik sekali.

Sekarang kakek itu menghampiri Sin Liong yang sudah bangkit berdiri dengan bibir yang pecah-pecah. Biar pun anak itu lebih patut dikatakan setengah hidup dan dalam keadaan payah sekali, namun anak itu sudah bangkit berdiri dan memandang kepada kakek itu dengan mata merah, mata yang tadi disiksa oleh panasnya matahari.

Setelah kakek itu datang mendekat, tiba-tiba Sin Liong tak dapat bertahan lagi. Dia pun terhuyung dan tentu terguling kalau tidak cepat disambar oleh tangan kakek itu. Sin Liong roboh pingsan, hal yang ditahan-tahannya sejak tadi.

Sin Liong mengecap-ngecap bibirnya yang basah. Dia membuka mata dan melihat bahwa dia sedang rebah di bawah pohon yang teduh sedangkan kakek itu membasahi mukanya dan memberi minum air jernih yang dingin dan nikmat sekali terasa olehnya. Cepat dia bangkit duduk dan menjatuhkan diri berlutut di depan kakek itu.

Sin Liong maklum bahwa tanpa adanya kakek ini, dia tentu sudah mati dalam keadaan mengerikan, dagingnya dirobek-robek oleh burung-burung gagak pemakan bangkai! Biar pun tadi kepalanya pening dan pandangan matanya berkunang, namun dia masih dapat menyaksikan betapa kakek yang sederhana ini ternyata mampu menandingi Kim Hong Liu-nio, bahkan wanita iblis itu melarikan diri! Maka Sin Liong yang cerdik mengerti bahwa kakek tua renta ini adalah seorang manusia sakti yang memiliki ilmu kepandaian tinggi sekali.

"Saya menghaturkan terima kasih atas budi pertolongan locianpwe."

Cia Keng Hong mengurut jenggotnya yang putih sambil memandang pada bocah itu penuh perhatian. Ketika dia merawat Sin Liong dari pingsannya tadi, kembali dia meraba-raba dan makin yakin dia akan bakat yang terpedam dalam diri anak ini.

"Anak yang baik, siapakah namamu?"

"Nama saya Sin Liong..."

Tercengang juga hati kakek itu mendengar nama yang gagah itu. Nama anak ini berarti Naga Sakti!

"Engkau she apakah, Sin Liong?"

Sin Liong tahu bahwa dia adalah she Cia. Akan tetapi dia tak mau membawa-bawa nama ayahnya yang belum pernah dijumpainya itu, maka tanpa ragu-ragu lagi dia menjawab, "Locianpwe, semenjak kecil saya tidak tahu apakah she saya. Saya hanya bernama Sin Liong, tanpa she."

Cia Keng Hong tercengang, alisnya berkerut. "Kalau begitu, siapakah ayah bundamu?"

Sin Liong menggeleng kepalanya. "Saya hidup sebatang kara, tidak mempunyai ayah dan bunda. Saya bekerja sebagai pelayan dari Na-piauwsu yang tinggal di Kun-ting. Akan tetapi beberapa hari yang lalu Na-piauwsu serumah dibunuh orang-orang yang menjadi musuhnya. Lalu muncul wanita iblis itu yang berbalik membunuhi semua orang yang telah membasmi keluarga Na-piauwsu, akan tetapi wanita itu lalu membawa saya ke sini."

Kakek itu mengelus jenggotnya yang putih dan alis matanya tetap berkerut. Benar-benar aneh cerita anak ini. "Dan mengapa kau dibawanya ke sini dan akan disiksanya sampai mati? Apakah dia memaksamu untuk menceritakan sesuatu?"

Sin Liong menggelengkan kepala. "Saya sendiri tidak tahu, locianpwe."

Cia Keng Hong adalah seorang kakek bijaksana. Dia sudah mengenal seorang anak yang luar biasa dan dia menduga bahwa tentu ada rahasia di balik diri anak ini dan bahwa anak ini sengaja tidak mau menceritakan tentang dirinya. Maka dia pun tidak mau mendesak. Hatinya merasa kasihan sekali dan entah mengapa, dia merasa amat tertarik kepada Sin Liong, merasa seolah-olah wajah anak ini tidak asing baginya.

"Sin Liong, setelah keluarga Na itu dibasmi orang, lalu sekarang engkau akan tinggal di mana?" tanyanya.

Sin Liong tidak mampu menjawab, akan tetapi akhirnya dia berkata, "Locianpwe, dunia begini luas, saya tidak merasa khawatir untuk tidak kebagian tempat tinggal. Bukankah di mana pun bisa ditinggali, misalnya di hutan ini sekali pun?"

Cia Keng Hong terharu. Anak ini masih wajar, masih polos dan murni, belum dikotori oleh kebudayaan dunia di mana setiap orang manusia bergulat untuk memperoleh kemuliaan dan kesenangan, kalau perlu dengan jalan mendorong dan menginjak orang lain. Anak ini agaknya belum membutuhkan apa-apa!

"Sin Liong, apakah engkau suka belajar ilmu silat?"

Sejenak wajah anak itu berseri gembira. "Tentu saja, locianpwe."

"Bagus! Kalau begitu marilah kau turut bersamaku dan aku akan mengajarkan ilmu silat kepadamu."

Sin Liong memang telah merasa kagum dan suka sekali kepada kakek ini. Pelindungnya, Na-piauwsu telah tewas, maka tidak ada tempat lain baginya dan kakek ini ternyata jauh lebih lihai dari pada Na-piauwsu, bahkan agaknya lebih lihai atau setidaknya pun tidak kalah oleh Kim Hong Liu-nio! Maka dia segera berlutut lagi.

"Terima kasih atas kebaikan locianpwe."

Cia Keng Hong membangunkan anak itu dengan wajah berseri-seri. Semenjak dia pergi menyusul dan mencari cucunya, baru sekarang dia merasa girang. "Bangunlah dan mari kita berangkat sekarang juga, Sin Liong. Aku tidak ingin terjadi banyak keributan, namun kalau wanita itu kembali lagi, tentu akan terjadi keributan."

Berangkatlah mereka meninggalkan tempat itu dan Cia Keng Hong mengambil keputusan untuk kembali ke Cin-ling-san dengan jalan memutar karena dia masih ingin mendengar-dengar dan mencari jejak cucunya yang pergi meninggalkan Cin-ling-san tanpa pamit itu.

Hati Cia Keng Hong makin merasa suka kepada Sin Liong. Di sepanjang perjalanan, anak ini memperlihatkan sikap yang pendiam, tidak cerewet, tidak pernah mengeluh, kuat dan tahan uji, juga amat cerdik.

Pernah dia mencobanya dengan mengajaknya berjalan semalam suntuk. Akan tetapi Sin Liong tidak pernah mengeluh, sungguh pun ketika berjalan semalam suntuk itu beberapa kali dia terhuyung dan kedua kakinya membengkak. Dan pada waktu diajak berpuasa itu pendengaran telinga kakek pendekar yang amat tajam itu dapat menangkap bunyi perut anak itu berkeruyuk berkali-kali, namun dia tetap tidak mengeluh.

Pada suatu hari, tibalah kakek dan anak tanggung ini di sebuah batu karang. Pada waktu mereka sampai di kaki bukit, dari jauh saja keduanya sudah melihat serombongan orang berjalan terhuyung-huyung dan mereka semua itu terluka seperti serombongan pasukan kecil yang baru saja pulang dari medan pertempuran dengan menderita kekalahan.

Cia Keng Hong yang tidak ingin mencampuri urusan orang lain, lalu menggandeng tangan Sin Liong hendak diajak mengambil jalan lain karena sekelebatan pandang saja dia tahu bahwa orang-orang itu adalah orang-orang kang-ouw atau orang-orang yang mempunyai kepandaian silat dan yang sudah luka-luka karena pertempuran. Orang-orang seperti itu tentulah orang-orang yang selalu mengandalkan kepandaian sendiri dan senang mencari permusuhan atau suka mencari kekerasan, maka dia hendak menjauhkan Sin Liong dari mereka.

"Locianpwe...!"

"Ahhh, agaknya Thian yang menuntun ciangbunjin (ketua) dari Cin-ling-pai ke sini untuk menolong kami...!"

Tiba-tiba belasan orang itu semua menjatuhkan diri berlutut di hadapan Cia Keng Hong! Tentu saja kakek ini menjadi kaget dan tahulah dia bahwa mereka itu telah mengenalnya sehingga tak mungkin dia menyingkir lagi. Karena itu dia pun memandang kepada mereka penuh perhatian.

Akhirnya dia pun teringat bahwa dia mengenal beberapa orang di antara mereka sebagai pendekar-pendekar yang gagah dan bukanlah kaum kasar, melainkan pendekar-pendekar yang suka menolong orang. Maka dengan sikap halus dia pun mendekati dan bertanya kepada mereka,

"Cu-wi sicu (sekalian orang gagah) mengapa menderita luka-luka? Apakah yang sudah terjadi?"

Seorang laki-laki berusia lima puluh tahun yang pundaknya terluka, bajunya robek hingga kulit pundak itu terlihat biru dan lumpuh sebelah lengannya, segera menjawab, "Di puncak bukit ini terdapat seorang gila yang merampas kambing, kuda, sapi, anjing dan binatang apa saja milik penduduk dusun-dusun di sekitar bukit ini untuk dibunuh lantas diganyang mentah-mentah! Orang-orang dusun yang datang kepadanya semua dilukai. Kami yang mendengar ini lalu pergi untuk mengusirnya, namun ternyata orang gila itu lihai dan jahat sekali sehingga kami semua pun kalah dan terluka. Oleh karena itu, demi kepentingan para penghuni dusun-dusun di sekitar tempat ini, kami mohon kebijaksanaan dan keadilan locianpwe untuk mengusir orang gila itu dari daerah ini."

Setelah bercerita, dengan amat tergesa-gesa kakek itu bersama teman-temannya segera bangkit berdiri dan menjura, kemudian pergi meninggalkan tempat itu dengan terhuyung dan terpincang-pincang, seolah-olah mereka masih merasa jeri dan khawatir kalau-kalau orang gila itu mengejar mereka!

Cia Keng Hong mengerutkan kedua alisnya. Dia tidak tertarik untuk mengurusi orang gila! Berapa banyak sih binatang yang sanggup dimakan habis oleh seorang manusia, betapa gila pun dia? Dan biasanya, seorang gila tidak akan mengganggu orang lain kalau tidak lebih dulu diganggu!

Mungkin anak-anak penggembala ternak itu yang lebih dulu mengganggu si gila sehingga menjadi marah-marah. Kalau para pendekar itu tidak mendatangi si gila di atas bukit, jelas bahwa si gila itu tidak akan melukai mereka pula. Dia tidak boleh hanya mendengarkan laporan sefihak lalu membela mereka.

"Sin Liong, mari kita pergi..." Dia menoleh dan pandang mata kakek itu mencari-cari.

Sin Liong tidak ada lagi di tempat itu. Tadi anak itu masih berada di belakangnya dan ikut mendengarkan, akan tetapi ternyata secara diam-diam anak itu telah pergi!

"Sin Liong...!" Dia berseru memanggil, walau pun seruannya itu tidak keras, akan tetapi karena digerakkan oleh khikang maka gemanya terdengar hingga ke tempat jauh, bahkan terdengar sampai ke puncak bukit batu karang itu!

Sunyi saja tidak ada jawaban dari Sin Liong, akan tetapi tiba-tiba terdengar suara tertawa. "Ha-ha-ha-ha!"

Cia Keng Hong terkejut bukan main. Itu bukanlah suara ketawa biasa, melainkan suara ketawa yang juga mengandung khikang sangat kuatnya dan suara itu datang dari atas puncak bukit itu. Dia menjadi khawatir sehingga pendekar sakti yang sudah tua ini cepat mendaki bukit menuju ke puncak. Setelah tiba di puncak, dia melihat hal yang membuat mukanya berubah pucat dan matanya terbelalak.

Di atas puncak itu, di atas batu-batu besar yang permukaannya halus dan dikelilingi oleh puncak-puncak batu karang lainnya yang menjulang tinggi, dia melihat Sin Liong duduk bersila, berhadapan dengan seorang kakek tua renta tinggi besar yang kepalanya gundul, kakek yang membuat pendekar sakti ini memandang bengong karena dia mengenal baik kakek itu yang bukan lain adalah Kok Beng Lama!

Para pembaca cerita Petualang Asmara dan cerita Dewi Maut tentu mengenal baik siapa adanya kakek gundul ini. Kok Beng Lama adalah seorang pendeta Lama dari Tibet yang memiliki kesaktian hebat, dan dia pernah menjadi kepala dari para pendeta Lama Jubah Merah di Tibet. Akan tetapi, sejak puterinya yang bernama Pek Hong Ing, yang menjadi isteri dari pendekar Yap Kun Liong, tewas dibunuh orang, Kok Beng Lama merasa begitu marah dan dukanya sampai dia menjadi tidak waras, otaknya menjadi agak miring!

Kemudian dia dapat sembuh, bahkan dia lalu mewariskan ilmu-ilmunya kepada Lie Seng, cucu dari ketua Cin-ling-pai itu, dan Yap Mei Lan, puteri dari Yap Kun Liong, yang masih terhitung cucu tirinya sendiri karena Yap Mei Lan bukanlah anak Pek Hong Ing, melainkan anak yang lahir dari hubungan gelap antara Yap Kun Liong dan Lim Hwi Sian.

Akan tetapi, ketika Lie Seng dan Yap Mei Lan, kedua orang muridnya yang terakhir itu sudah tamat belajar dan meninggalkan dia, Kok Beng Lama merasa kesepian dan kumat lagi gilanya, maka dia kemudian merantau seperti orang gila dan akhirnya pada hari itu dia berada di atas bukit batu karang, menimbulkan geger dan sampai dia bertemu dengan Cia Keng Hong dan Sin Liong!

Cia Keng Hong memandang bengong pada waktu melihat kakek gundul itu duduk bersila berhadapan dengan Sin Liong sambil tertawa-tawa dan kedua orang itu ternyata sedang bercakap-cakap dengan asyiknya!

"Kakek yang baik, kenapa kau lukai orang-orang itu?" terdengar Sin Liong bertanya.

Kok Beng Lama meraba-raba kepala dan pundak Sin Liong sambil tertawa. "Ha-ha-ha-ha, mereka itu jahat! Mereka itu hendak menghina seorang tua seperti aku. Mereka datang dengan senjata di tangan. Ha-ha-ha-ha, untung mereka bertemu dengan aku yang masih mau mengampuni mereka. Manusia memang jahat dan palsu, tidak seperti binatang yang wajar dan lebih baik."

"Memang binatang lebih baik, kakek," jawab Sin Liong yang teringat akan monyet-monyet besar yang menjadi teman-temannya.

"Ha-ha-ha, bagus, bagus! Engkau binatang cilik yang baik sekali."

"Dan engkau seperti monyet tua yang pernah merawatku."

"Hu-huh-huh, memang aku monyet. Monyet gundul. Dan kau... ehhh, siapa namamu?"

"Sin Liong."

"Bagus! Engkau seekor naga. Bukan ular, naga lain lagi. Kalau ular sih seperti manusia, kadang-kadang licik dan curang. Kalau naga tidak, kau naga cilik yang menyenangkan. Semua orang takut padaku, tapi kau tidak, naga cilik."

"Aku kasihan kepadamu, kek."

"Kenapa kasihan? Heiii, hayo katakan, kenapa kau kasihan, naga cilik?"

"Karena semua orang menghinamu, mengatakan kau gila."

"Memang aku gila! Apakah kau tidak gila?"

"Aku... aku..." Sin Liong menjadi bingung, tetapi dia benar-benar merasa kasihan kepada kakek yang seperti dia ini, yang hidup sebatang kara, maka dia hendak menyenangkan hatinya. "Aku juga gila."

"Ha-ha-ha, bagus, bagus! Kita berdua orang-orang gila! Persetan dengan mereka yang menganggap diri sendiri tidak gila!"

Kakek itu bangkit berdiri, kedua tangannya yang berlengan panjang menyambar tubuh Sin Liong kemudian melontar-lontarkan tubuh anak itu ke atas sampai tinggi sekali! Sin Liong maklum akan kesaktian kakek itu, karena itu dia pun tidak mau mengeluh, juga tidak mau memperlihatkan rasa takut.

Cia Keng Hong khawatir kalau-kalau kakek gila itu akan mencelakai Sin Liong, maka sekali tubuhnya berkelebat, dia sudah meloncat tinggi dan menyambar tubuh Sin Liong ketika untuk ke sekian kalinya dilontarkan ke atas Kok Beng Lama! Setelah menurunkan Sin Liong yang berdiri di belakangnya, Cia Keng Hong kini berdiri berhadapan dengan Kok Beng Lama dan ketua Cin-ling-pai itu menjura dengan hormat.

"Sahabat baik Kok Beng Lama, apakah selama ini engkau baik-baik saja?" Cia Keng Hong berkata.

Kakek gundul itu memandang dengan matanya yang lebar terbelalak, kelihatan dia amat terkejut dan tercengang, lalu menjura dengan kaku dan berkata, "Aih... kiranya... Cia Keng Hong ketua Cin-ling-pai! Silakan duduk."

Kakek gundul ini pun lalu duduk bersila di atas batu, dan melihat ini, tentu saja Cia Keng Hong juga duduk bersila, berhadapan dengan kakek Lama dari Tibet itu.

Sin Liong berdiri dan kini dia memandang bengong kepada kakek sakti yang selama ini membawanya melakukan perjalanan itu. Cia Keng Hong, ketua Cin-ling-pai? Dia teringat akan pesan ibu kandungnya, Cia Keng Hong, ketua Cin-ling-pai ini adalah kakeknya, ayah dari Cia Bun Houw, ayahnya, ayah kandungnya! Jadi kakek yang telah menolongnya dari tangan iblis betina Kim Hong Liu-nio ini, yang kemudian membawanya, adalah kakeknya sendiri!

Tiba-tiba Sin Liong yang berdiri bengong itu terkejut ketika melihat perubahan pada wajah si kakek gundul. Matanya menjadi merah dan mulutnya yang bersembunyi di balik kumis dan jenggot putih itu menyeringai. Agaknya kakek gundul itu kumat lagi gilanya! Cia Keng Hong juga melihat ini, maka dia cepat-cepat bertanya, suaranya tetap halus,

"Kok Beng Lama, di manakah cucuku Lie Seng dan Yap Mei Lan? Mengapa aku tidak melihat mereka?"

Sungguh tak disangka sama sekali oleh Cia Keng Hong bahwa pertanyaannya itu malah merupakan minyak bakar disiramkan kepada api kegilaan yang mulai bernyala di dalam otak Kok Beng Lama itu. Kegilaan kakek gundul ini menjadi kumat sesudah dua orang muridnya itu pergi karena dia merasa kesepian dan rindu, dan sekarang kata-kata ketua Cin-ling-pai itu justru mengingatkan dia pada dua orang yang dicintanya itu! Maka makin merahlah mata itu, makin melotot dan sekarang ditujukan kepada Cia Keng Hong dengan penuh kebencian. Tiba-tiba kakek gundul itu tertawa bergelak.

"Ha-ha-ha, Cia Keng Hong, ketua Cin-ling-pai! Anakku tercinta mati karena puterimu, dan aku masih saja mendidik puteramu mendidik cucumu! Wah, sekarang cucumu juga pergi meninggalkan aku! Aku menderita sengsara dan berduka karena kau, maka kau harus bertanggung jawab sekarang! Ha-ha-ha, aku paling suka mengadu ilmu dan di dunia ini siapa yang dapat menandingi aku kecuali ketua Cin-ling-pai? Hayo, Cia Keng Hong, hari ini kita membuat perhitungan terakhir, ha-ha-ha!"

Cia Keng Hong terkejut sekali dan mengerutkan alisnya. Celaka, pikirnya, kakek gundul ini sudah gila. Tentu saja dia langsung menolak dan mengangkat kedua tangan ke atas, menggoyang-goyangnya. "Jangan, Kok Beng Lama, jangan! Di antara kita tidak terdapat permusuhan, bahkan terikat persahabatan dan persaudaraan yang kekal, bukan?"

"Ha-ha-ha, justru aku ingin mati dalam tangan seorang yang ternama seperti kau, bukan di tangan segala macam anjing busuk seperti belasan orang tadi. Hayo, lekas sambutlah seranganku ini, Cia Keng Hong, ketua Cin-ling-pai!"

Sesudah berkata demikian, tiba-tiba kakek gundul itu sambil tertawa lalu menggerakkan kedua tangannya ke depan dan angin pukulan yang amat hebatnya menyambar dahsyat ke depan, menyerang ke arah Cia Keng Hong! Kakek ketua Cin-ling-pai ini memang telah mengangkat kedua tangan ketika menggoyang-goyang tangan untuk menolak tantangan tadi. Melihat serangan yang dapat mencabut nyawanya itu, dia terkejut sekali dan cepat dia pun mendorongkan kedua lengannya ke depan untuk menyambut.

Hebat sekali pertemuan dua tenaga sakti itu. Jarak antara tangan kedua orang kakek ini masih ada setengah meter, namun tenaga yang bertemu antara kedua pasang tangan itu sedemikian dahsyatnya sehingga segala sesuatu di sekitar tempat itu bagaikan tergetar hebat.

Bahkan Sin Liong sendiri sampai terpental lantas bergulingan ke belakang. Akan tetapi, anak ini sudah cepat bangkit kembali dan berdiri menonton dengan mata terbelalak. Kalau tadinya dia merasa suka kepada Kok Beng Lama dan diam-diam mengasihani kakek itu, kini dia berfihak kepada kakeknya itu.

Dia merasa khawatir sekali. Dia tidak tahu apa yang telah dan sedang terjadi, akan tetapi dia dapat menduga bahwa antara kedua orang kakek yang duduk bersila dan meluruskan kedua lengan itu pasti sedang terjadi pertandingan yang amat aneh dan hebat.

Dia melihat betapa wajah Kok Beng Lama kelihatan gembira dan mulutnya menyeringai seperti hendak mentertawakan ketua Cin-ling-pai itu, sebaliknya Cia Keng Hong kelihatan prihatin sekali. Dia tahu bahwa kakek gundul itulah yang tadi memaksa kakeknya untuk bertanding.

"Jangan berkelahi...!" Sin Liong berseru.

Akan tetapi dua orang kakek itu sama sekali tak mempedulikannya. Kok Beng Lama yang sedang dilanda kegembiraan besar karena dia dapat mengadakan pertandingan melawan seorang yang amat lihai itu tentu saja sudah melupakan Sin Liong, sebaliknya, meski pun Cia Keng Hong mendengar seruan Sin Liong, akan tetapi dia tak dapat berbuat apa-apa.

Tidak mungkin dia menghentikan perlawanannya, karena hal itu berarti bahwa dia akan tewas. Juga amat membahayakan dirinya bila membagi perhatian kepada Sin Liong. Dia merasa betapa tenaga sakti kakek gundul itu makin lama makin kuat menghimpitnya dan sudah beberapa kali mencoba untuk mendesak tenaga perlawanannya. Oleh karena itu, Cia Keng Hong lalu cepat mengerahkan tenaga mukjijat Thi-khi I-beng!

"Ha-ha-ha, Thi-khi I-beng, ya? Bagus, aku memang ingin merasakan kehebatannya!" Kok Beng Lama berseru sambil tertawa.

Tentu saja hal ini sangat mengejutkan hati Cia Keng Hong karena pendekar ini maklum betapa berbahayanya bagi Kok Beng Lama yang berani bicara dalam keadaan mengadu tenaga seperti itu. Ternyata kakek gundul itu sudah tidak lagi memperhitungkan bahaya.

"Kok Beng lama, perlu apa kita bertanding? Hentikanlah!" serunya.

Akan tetapi jawaban kakek gundul itu hanya suara tertawanya dan desakan tenaga yang lebih kuat lagi. Terpaksa Cia Keng Hong juga mengerahkan tenaganya dan tidak berani bicara lagi karena yang dibadapinya adalah bahaya maut, bukan main-main.

"Hentikan! Jangan berkelahi!" Sin Liong kini melangkah menghampiri kedua orang kakek yang sedang mengadu tenaga sakti itu.

Melihat ini, Cia Keng Hong merasa khawatir sekali, akan tetapi karena tenaga lawan amat kuat mendesak maka dia pun tak berani membagi perhatian dan diam saja, mencurahkan perhatian dan tenaganya untuk mempertahankan dan melindungi dirinya sendiri.

Karena berkali-kali dia berteriak tanpa dipedulikan orang, juga melihat betapa sekarang dari kepala dua orang kakek itu mengepul uap putih, Sin Liong menjadi makin khawatir dan dengan nekat dia lalu meloncat ke tengah-tengah antara kedua orang kakek itu untuk memisahkan mereka!

Hampir saja Cia Keng Hong berteriak saking kagetnya karena apa yang dilakukan oleh anak itu benar-benar amat berbahaya. Akan tetapi dia sendiri tidak mampu menolongnya, karena sedikit saja dia mengurangi tenaganya, maka dia akan celaka, apa lagi menarik tenaganya yang mempertahankan diri itu. Keadaannya seperti orang yang menggunakan kedua tangan menahan gencetan benda yang amat berat, apa bila tenaganya berkurang sedikit saja tentu benda itu akan menggencetnya sampai hancur.

Sin Liong sendiri kaget setengah mati karena begitu dia meloncat masuk, tiba-tiba saja tubuhnya bagaikan disedot oleh tenaga yang luar biasa kuatnya sehingga dia tertarik dan tiba-tiba saja dia sudah jatuh terduduk di tengah antara kedua orang kakek itu, duduknya menghadapi Cia Keng Hong dan membelakangi Kok Beng Lama. Tubuh anak itu tergetar hebat seperti terkena aliran tenaga yang luar biasa.

Ketika melihat betapa kedua telapak tangan yang lebar dari Kok Beng Lama menyentuh punggung anak itu, Cia Keng Hong yang tadinya agak menarik sepasang tangannya saat Sin Liong meloncat masuk, kini cepat-cepat dia mengulurkan tangannya menempel pada pundak anak itu. Dia segera merasa betapa tenaga amat dahsyat dari Kok Beng Lama menyerangnya melalui anak itu, maka dia pun seperti mempertahankan dan mengimbangi kekuatan itu sehingga tenaga keduanya kini saling bertanding melalui tubuh Sin Liong.

Sin Liong merasa tersiksa bukan main. Dia sukar untuk bernapas, dan hawa panas dingin bergantian menyerang tubuhnya yang kadang terdorong ke belakang atau ke depan oleh dua tenaga dahsyat yang saling dorong di depan dan belakangnya itu.

Dia tidak ingin membantu siapa pun, karena dia kasihan kepada kakek gundul yang gila, akan tetapi dia juga tentu saja bersimpati kepada kakeknya itu. Selain itu, andai kata dia ingin membantu sekali pun, bagaimana mungkin dia bisa membantu? Dia hanya melerai, akan tetapi siapa kira, dia malah terseret dan terhimpit tak dapat terlepas lagi.

Sama sekali dia tidak sadar bahwa tanpa diketahuinya, dia sudah membantu Kok Beng Lama karena dia duduk berhadapan dengan kakeknya itu! Biar pun Sin Liong tidak mau membantu, akan tetapi di dalam tubuhnya terdapat hawa mukjijat yang timbul karena dia pernah keracunan Hui-tok-san yang kemudian dibikin punah oleh racun-racun ular hingga timbul semacam tenaga mukjijat di dalam tubuhnya.

Tenaga inilah yang serentak bangkit dan melakukan perlawanan ketika tubuhnya dialiri dua tenaga dahsyat itu, dan karena dia duduk menghadap Cia Keng Hong, maka tentu saja perhatiannya ditujukan ke depan dan otomatis tenaga mukjijat di dalam tubuhnya itu juga meluncur ke depan! Tanpa disadarinya sendiri, tenaga ini membantu Kok Beng Lama dan menyerang Cia Keng Hong!

Ketika ketua Cin-ling-pai merasa betapa ada tenaga yang amat kuat, seolah-olah tenaga kakek gundul itu menjadi bertambah besar, menyerangnya dan mendorongnya sehingga dia mendoyong ke belakang, dia menjadi terkejut sekali dan cepat dia lalu mengerahkan tenaga Thi-khi I-beng untuk menyedot.

Kini giliran Kok Beng Lama yang merasa terkejut ketika tiba-tiba tenaganya yang sangat kuat itu membanjir keluar tanpa mampu diremnya lagi. Cepat dia mengubah tenaganya, mempertahankan dan kini berubahlah sifat pertandingan itu. Kalau tadi kedua orang sakti itu mengerahkan sinkang untuk saling mendorong dan mengadu kekuatan untuk saling merobohkan, sekarang Cia Keng Hong menggunakan Thi-khi I-beng menyedot sedangkan pendeta Lama itu mempertahankan!

Kembali Sin Liong yang menjadi sasaran utama dan yang paling hebat menderita! Anak ini merasa betapa tubuhnya kadang-kadang seperti kosong dan kering tersedot, lalu terisi kembali oleh tenaga dari Kok Beng Lama, seakan-akan dia sebentar mati sebentar hidup kembali, wajahnya sebentar pucat sebentar merah. Dia mengeluh panjang pendek, akan tetapi untuk melepaskan diri dia tidak sanggup, biar pun dia telah beberapa kali berusaha untuk bergerak dan keluar dari dalam himpitan itu.

Melihat hal ini, maklumlah Cia Keng Hong bahwa anak ini terancam bahaya maut. Akan tetapi, kakek sakti ini pun memperoleh kenyataan yang amat luar biasa, yaitu bahwa anak itu sama sekali tidaklah asing dengan tenaga sakti! Tahulah dia bahwa tadi tenaga Kok Beng Lama menjadi berlipat ganda karena memperoleh tambahan tenaga dari anak ini!

Tahulah kakek ini bahwa Sin Liong betul-betul merupakan anak luar biasa, yang mungkin karena sesuatu hal yang tidak disadarinya sendiri oleh anak itu, telah mempunyai sinkang yang aneh. Kalau saja dia dapat mempergunakan sinkang anak itu untuk membantunya, tentu Kok Beng Lama akan kalah dan anak ini akan selamat.

Keselamatan anak inilah yang penting baginya, anak ini masih kecil, masih berhak untuk hidup lebih lama lagi. Sedangkan dia dan Kok Beng Lama adalah dua orang kakek tua renta yang hanya tinggal menghitung hari saja, yang tinggal menanti kematian yang tentu tidak akan lama lagi karena mereka sudah tua. Pikiran untuk menyelamatkan anak inilah yang membuat Cia Keng Hong kemudian berbisik-bisik, membuka rahasia pelajaran untuk mengerahkan tenaga sakti di dalam tubuh, membangkitkan tenaga dahsyat dengan Ilmu Thi-khi I-beng!

Sin Liong sudah hampir pingsan, berada dalam keadaan antara sadar dan tidak. Akan tetapi dia adalah seorang anak yang luar biasa, memiliki daya tahan yang besar berkat penderitaan yang terlalu sering dialaminya semenjak dia masih bayi, dan karena pernah hidup bersama monyet-monyet yang perasaannya tajam sekali dan peka terhadap segala sesuatu yang terjadi, memiliki naluri halus dan dekat dengan alam, maka walau pun dia dalam keadaan tersiksa, dia dapat mencurahkan perhatian terhadap bisikan-bisikan kakek sakti yang sesungguhnya adalah kakeknya sendiri itu.

Mula-mula pening juga kepala Sin Liong mendengarkan kakek itu menyebut-nyebut hiat-to (jalan darah) yang bermacam-macam itu. Dia tidak tahu di mana adanya koan-goan-hiat, ci-kiong-hiat, thian-ti-hiat dan lain-lain. Akan tetapi ketika dengan teliti dan sabar Cia Keng Hong memberi penjelasan, maka perlahan-lahan anak itu mulai mengerti dan mulailah dia mengatur pernapasan menurutkan petunjuk kakek itu, menahan napas dan menggerakkan hawa dari pusarnya.

Memang Sin Liong memiliki bakat yang amat hebat, dan juga Cia Keng Hong memang hendak menolongnya dan sudah mengambil keputusan untuk mewariskan Thi-khi I-beng kepada anak ini, maka perlahan-lahan muncullah tenaga sedot dari dalam tubuh anak itu yang makin lama makin kuat!

"Oohhhh...!" Kok Beng Lama terkejut sekali ketika pertahanannya mulai jebol dan tenaga sinkang-nya perlahan-lahan mulai mengalir keluar melalui kedua telapak tangannya yang masih menempel di punggung Sin Liong!

Akan tetapi, karena bocah itu belum dapat menguasai Thi-khi I-beng secara sempurna, meski pun tubuhnya sudah dapat mengeluarkan daya sedot, akan tetapi dia belum dapat mengalirkan sinkang-nya yang memasuki tubuhnya itu keluar melalui kedua tangan Cia Keng Hong, melainkan berkumpul dengan hawa pusarnya dan berputar-putar di seluruh tubuhnya, makin lama makin cepat putaran itu sehingga menimbulkan daya sedot yang makin kuat!

Terjadilah hal yang sangat aneh. Cia Keng Hong juga mengeluh karena kini dia merasa betapa tenaga sinkang-nya sendiri pun tersedot masuk ke dalam tubuh Sin Liong melalui kedua tangannya!

Ternyata dia sudah mempergunakan seluruh tenaga untuk saling tarik dengan tenaga Kok Beng Lama, maka ketika muncul tenaga baru ke tiga dari Sin Liong yang juga memiliki daya sedot, dia sendiri tak berani membagi tenaga untuk bertahan sebab membagi tenaga berarti mengurangi tenaga melawan Kok Beng Lama dan hal itu amatlah berbahaya.

Oleh karena itu, kakek ketua Cin-ling-pai ini terpaksa membiarkan tenaganya pelan-pelan keluar dan mengalir masuk ke dalam tubuh anak yang baru saja diajari ilmu Thi-khi I-beng itu! Sama halnya dengan senjata makan tuan!

Akan tetapi, yang keadaannya paling hebat adalah Kok Beng Lama. Sekarang tenaga sinkang-nya keluar seperti membanjir memasuki tubuh Sin Liong, tidak dapat dibendung atau ditahannya lagi.

Cia Keng Hong tidak sadar akan hal ini. Kalau dia tahu tentu dia tidak perlu membiarkan tenaganya sendiri juga turut tersedot. Maka dia hanya memejamkan mata, membiarkan tenaganya sedikit demi sedikit tersedot, sedangkan dia tetap melanjutkan perlawanannya terhadap Kok Beng Lama.

Kalau dua orang kakek itu terkejut oleh kenyataan betapa sinkang mereka terus tersedot, adalah Sin Liong yang paling repot dan paling menderita. Dia merasa betapa tubuhnya seperti sebuah balon karet yang ditiup terus melampaui takaran, dia merasa seolah-olah tubuhnya menggembung besar dan penuh, matanya berkunang dan melihat warna merah kuning, napasnya sesak dan setiap kali membuka mata, dia melihat dunia seperti kiamat, seperti kebakaran!

Maka dia cepat memejamkan matanya kembali dan diam-diam dia menyesal mengapa dia tadi mempelajari ilmu setan yang diajarkan oleh kakek itu. Untuk menghilangkan ilmu itu sudah tidak mungkin lagi karena tanpa disadarinya sendiri hawa di tubuhnya sudah terus berputar-putar dan terus dibanjiri tenaga dari belakang dan dari depan!

"Auhh... sudah... sudah...!" Berkali-kali Sin Liong mengeluh.

Akan tetapi kedua orang kakek itu tidak mampu berbuat apa pun. Kok Beng Lama yang merasa amat terkejut itu melihat bahwa dia sudah terlambat untuk melepaskan diri, kedua tangannya sudah melekat dan tenaganya sudah terus membanjir keluar! Dia menyangka bahwa itulah kehebatan dari tenaga dalam Cia Keng Hong.

"Cia Keng Hong... kau... kejam...!" Dia mengeluh dan terpaksa hanya melihat saja betapa tenaganya semakin lama semakin habis, seolah-olah tubuhnya yang tua itu mulai dihisap kering, laksana seekor laba-laba menghisap kering semua cairan dari tubuh seekor lalat yang telah tertawan dalam sarangnya.

Akan tetapi, Cia Keng Hong sendiri pun tidak tahu akan hal ini. Disangkanya bahwa Kok Beng Lama sudah mengetahui rahasia Thi-khi I-beng dan kini dia bahkan mulai merasa betapa dia terancam maut di tangan kakek gundul itu.

Maka dia terus saja mempertahankan! Jika saja tidak terjadi kesalah fahaman ini, kiranya kedua orang kakek itu masing-masing akan dapat menghentikan sinkang mereka yang diarahkan keluar, dan dapat terbebas dari sedotan hawa aneh yang berputaran di dalam tubuh anak itu.

"Ouhhh... Cia Keng Hong... selamatkan anak ini...!" itulah keluhan terakhir dari Kok Beng Lama yang pada saat-saat terakhir telah waras kembali ingatannya dan dia masih dapat meninggalkan pesan agar menyelamatkan bocah yang tadi memperlihatkan sikap ramah kepadanya. Setelah berkata demikian, pendeta Lama ini menarik napas panjang sekali lalu tubuhnya menjadi lunglai kehabisan tenaga.

Setelah pendeta Lama itu kehabisan tenaga, barulah Cia Keng Hong terkejut bukan main. Barulah dia tahu bahwa sejak tadi, tenaganya sendiri pun tersedot ke dalam tubuh anak itu, sama sekali bukan untuk menahan serangan Kok Beng Lama! Dan pendeta Lama itu agaknya juga kehabisan tenaga bukan untuk bertanding dengannya, namun habis akibat tersedot oleh anak itu.

"Aihhhh...!" Ketua Cin-ling-pai itu mengerahkan tenaganya yang tinggal setengahnya itu, membuat gerakan menarik sehingga kedua tangannya dapat terlepas dari kedua pundak Sin Liong.

Tag: Cerita Silat Online, Cersil, Kho Ping Hoo, Pedang Kayu Harum

Thanks for reading Pendekar Lembah Naga Jilid 16.

Back To Top