Cersil Online Karya Kho Ping Hoo

Pendekar Lembah Naga Jilid 18

Sin Liong memang tidak ingin menceritakan banyak-banyak tentang dirinya, akan tetapi karena semua orang memandang padanya dan sinar mata mereka menunjukkan bahwa mereka itu ingin sekali mendengar tentang Kim Hong Liu-nio, dia kemudian teringat akan tantangannya terhadap Kim Hong Liu-nio dan dengan lantang dia lalu berkata,

"Saya tidak mengenalnya. Pada waktu keluarga Na-piauwsu diserbu musuh dan dibunuh, dia muncul dan dia membunuh semua musuh keluarga Na itu lalu menangkap saya dan membawa saya pergi ke hutan di mana Cia locianpwe menolong saya. Akan tetapi, saya mendengar dia berkata-kata seorang diri bahwa dia akan membunuh semua orang yang she Cia, Yap dan Tio."

"Ehhh?"

"Ahhh?"

"Heiii...?!"

Seruan-seruan itu keluar dari mulut Yap Kun Liong, Cia Giok Keng, Cia Bun Houw dan Yap In Hong. Mereka pun saling pandang, lalu memandang kembali kepada anak itu. Sin Liong merasa senang melihat mereka terkejut. Kalau benar mereka ini adalah pendekar-pendekar besar, ingin dia melihat wanita iblis yang lihai itu berhadapan dengan mereka.

"Sungguh aneh sekali! Mengapa justru she-she dari kita yang dimusuhinya?" tanya Cia Bun Houw sambil memandang Yap In Hong.

"Dan she Tio itu bukanlah ada hubungannya dengan Tio Sun twako?" tanya pula Yap In Hong.

"Ahhh, sekarang aku ingat...!" Tiba-tiba kakek ketua Cin-ling-pai itu berkata. "Ya, benar. Tadinya aku merasa heran mengapa aku sampai tidak mengenal dasar ilmu silatnya. Kini, setelah mendengar bahwa dia memusuhi kita dan juga Tio Sun, teringatlah aku. Sudah tentu wanita itu ada hubungannya dengan Pek-hiat Mo-ko dan Hek-hiat Mo-li! Benar, ilmu silatnya memang mempunyai dasar ilmu silat dua orang iblis tua itu!"

"Akan tetapi mereka itu sudah mati!" Yap In Hong berkata. "Pek-hiat Mo-ko telah tewas olehmu dan Hek-hiat Mo-li terluka parah olehku." Dia bicara kepada Bun Houw.

Bun Houw mengangguk-angguk. "Jika memang ada hubungannya dengan mereka, tentu ada hubungannya dengan Hek-hiat Mo-li. Pek-hiat Mo-ko jelas sudah mati, akan tetapi Hek-hiat Mo-li belum tewas biar pun terluka parah, akan tetapi dia diselamatkan dengan datangnya Raja Sabutai. Mungkin dia adalah murid dari Hek-hiat Mo-li yang masih selalu menaruh dendam terhadap kita." Bun Houw mengerutkan alisnya, dan teringatlah akan peristiwa belasan tahun yang lalu ketika dia dan In Hong mengalahkan Pek-hiat Mo-ko dan Hek-hiat Mo-li dalam pertandingan mati-matian.

Cia Keng Hong juga mengangguk-angguk sambil mengelus jenggotnya. "Kiranya begitu... ilmunya lihai bukan main dan sesudah mempergunakan Thi-khi I-beng baru aku berhasil menundukkannya. Akan tetapi dia segera mengenal ilmu itu dan mengenalku, lalu pergi. Agaknya tentu Hek-hiat Mo-li yang berdiri di belakangnya. Hemmm, musuh sudah mulai keluar dari sarang dan mencari gara-gara, harap kalian suka berhati-hati," katanya sambil memandang kepada dua pasang pendekar itu.

Empat orang pendekar itu tinggal di Cin-ling-san sampai kakek itu sama sekali sembuh dari luka-lukanya. Dalam kesempatan itu, Cia Keng Hong secara bergiliran bicara berdua saja dengan dua orang anaknya. Pada waktu dia bertanya mengapa puteranya itu belum mempunyai keturunan, dia mendengar pengakuan dari Bun Houw yang berbicara dengan nada suara duka, dan pengakuan puteranya itu sangat mengejutkannya dan membuatnya terharu sekali.

"Ayah, sebelum ayah memberi restu kepada kami berdua untuk menikah, mana mungkin kami berdua dapat menjadi suami isteri dan mempunyai anak?"

Cia Keng Hong memandang kepada puteranya dengan mata terbelalak. "Apa katamu?! Engkau dan In Hong... kalian... belum menjadi suami isteri?"

Bun Houw mengangkat mukanya memandang kepada ayahnya, sepasang matanya jernih akan tetapi wajahnya agak pucat.

"Ayah, kami berdua saling mencinta, saling menghormat, maka bagaimana mungkin kami saling merendahkan dengan jalan melakukan hubungan jinah? Biar pun kami telah hidup bersama selama belasan tahun ini, akan tetapi selama ayah masih ada, tanpa perkenan dari ayah atas perjodohan kami, mana mungkin kami berani melakukan hubungan yang akan menjadi perjinahan?"

Sepasang mata yang terbelalak memandang itu kini menjadi sayu, bibir tua itu gemetar dan hati pendekar itu rasanya seperti ditusuk pedang. Sekarang terbukalah matanya dan tahulah dia betapa dahulu dia terlalu menuruti hati, terlalu mempertahankan kehendaknya sendiri sehingga dia mengorbankan puteranya yang menderita karena keangkuhannya. Dia memeluk puteranya, merangkul dan berbisik.

"Houw-ji... kau maafkan aku... ahh, mendiang ibumu benar, aku terlalu keras kepala... aku telah membuatmu hidup menderita, kau maafkanlah aku, anakku..."

Dua titik air mata membasahi mata pendekar sakti itu, sungguh hal yang luar biasa sekali, dan menandakan bahwa hati pendekar itu luar biasa sakitnya, tertindih oleh rasa sesal dan haru.

"Tidak, ayah, sebaliknya akulah yang selama ini merasa berdosa dan membikin susah hati ayah," jawab Bun Houw lirih.

"Aku yang bodoh, anakku, lupa akan keadaanku sendiri ketika masih muda. Ahhh, aku seperti buta dan lupa bahwa tak mungkin mengatur hati orang lain, dan aku bangga sekali mendengar betapa murni cinta antara kalian. Bun Houw, lekas kau panggil In Hong ke sini!"

Bun Houw cepat pergi ke belakang dan tak lama kemudian dia sudah kembali dengan In Hong. Melihat gadis itu, Cia Keng Hong makin terharu. Dia memegang tangan In Hong, memandang tajam dan berkata, "In Hong, kau maafkanlah aku, orang tua tidak tahu diri yang kukuh sehingga aku sudah membuat kalian berdua menderita. Kalau... kalau kalian masih mau menganggap dan mau menerima, biarlah detik ini aku menyatakan bahwa aku girang sekali kalian saling berjodoh! Kuharap kalian suka menjadi suami isteri dalam arti yang sesungguhnya. Sebelum aku mati, aku... aku... ingin sekali dapat melihat cucuku, putera dari kalian..."

"Gak-hu...!" In Hong yang biasa menyebut locianpwe itu kini menyebut Ayah mertua dan menjatuhkan diri berlutut sambil meneteskan beberapa titik air mata.

Keadaan tiga orang ini sungguh mengharukan, akan tetapi di dalam keharuan ini muncul sinar yang amat membahagiakan mereka bertiga, terutama di dalam hati Bun Houw dan In Hong sehingga dalam pertemuan pandang mata mereka, selain kasih sayang seperti biasanya, terdapat pula sinar yang membayangkan kegembiraan sekaligus juga perasaan malu-malu.

Bun Houw segera berlutut di samping isterinya dan berkata, "Kami menghaturkan terima kasih kepada ayah atas kebijaksanaan ayah."

Ucapan itu malah makin menusuk perasaan Cia Keng Hong, meski pun Bun Houw tidak bermaksud begitu. Dengan mata basah pendekar sakti yang sudah tua ini menggunakan kedua tangan meraba kepala putera dan mantunya, seperti hendak memberi berkah.

"Ayahmu bersalah, ayahmu terlampau mementingkan perasaan dan keinginan hati sendiri sehingga kalian menderita dan menjadi korban selama belasan tahun. Ahh, anak-anakku, hendaknya peristiwa ini menjadi pelajaran bagi kalian berdua sehingga kelak kalian tidak melakukan kebodohan seperti yang sudah kulakukan ini, dan tidak membikin anak-anak kalian menderita..."

Di samping mendatangkan kebahagiaan dalam hati dua orang yang saling mencinta itu, menjodohkan mereka sehingga mereka berdua bisa menjadi suami isteri secara sah oleh persetujuan orang tua, dapat menjadi suami isteri dalam arti kata yang sebenarnya, juga pendekar sakti Cia Keng Hong kemudian mengadakan pertemuan bertiga saja dengan puterinya, Cia Giok Keng dan Yap Kun Liong.

Juga kepada dua orang yang sesungguhnya saling mencinta ini, Cia Keng Hong memberi 'lampu hijau'. Antara lain dia berkata dengan nada suara sungguh-sungguh dan yang didengarkan oleh kedua orang itu dengan muka menunduk.

"Aku tahu bahwa kalian berdua saling mencinta, Kun Liong dan Giok Keng. Dan kalian adalah orang-orang bebas, seorang duda dan seorang janda. Oleh karena itu, yakinlah hati kalian bahwa aku akan merasa ikut berbahagia, apa bila kalian berdua dapat mengisi kekosongan hidup masing-masing dan menjadi suami isteri. Kalian berdua masih cukup muda untuk menikmati hidup, maka sudah selayaknyalah kalau saling mengisi dan saling menghibur. Nah, legalah kini hatiku, karena aku sudah menyatakan isi hatiku. Tentu saja pelaksanaannya terserah kepada kalian berdua."

Di depan kakek tua renta itu, tentu saja Yap Kun Liong dan Cia Giok Keng merasa malu untuk menjawab, akan tetapi terdapat sinar lain dalam pandang mata mereka pada waktu mereka saling bertemu pandang. Dan sinar-sinar mata ini pun dapat ditangkap oleh kakek Cia Keng Hong yang membuatnya tersenyum penuh kelegaan hati, seperti kelegaan hati seorang ayah yang melihat anak-anaknya hidup bahagia.

Dua pasang pendekar itu tinggal di puncak Cin-ling-san, merawat Cia Keng Hong sampai kakek pendekar ini sembuh dari sakitnya. Selama beberapa hari itu, ada beberapa orang anggota Cin-ling-pai yang datang pula untuk menjenguk sehingga terjadilah pertemuan-pertemuan yang menggembirakan. Dalam kesempatan itu Cia Giok Keng mengusulkan kepada ayahnya apakah tak sebaiknya jika Cin-ling-pai dibangun kembali dan memanggil para anggota yang kini tinggal terpisah-pisah.

Kakek itu menggelengkan kepala dan menarik napas panjang. "Tidak, Keng-ji. Tidak ada gunanya sama sekali. Kini nampak benar olehku betapa pendirian sebuah perkumpulan hanya berarti memisahkan diri dari orang-orang lain saja. Akan jauh lebih baik kalau kita menganggap dunia ini perkumpulan dan manusia adalah anggotanya! Dengan demikian, setiap orang manusia sebagai anggota perkumpulan besar itu akan selalu menjaga dunia, dan saling setia, saling mencinta antara manusia sebagai rekan hidup. Sebaliknya, kalau mendirikan perkumpulan-perkumpulan secara terpisah-pisah hanya akan mendatangkan lebih banyak permusuhan dan persaingan belaka. Tidak, biarlah Cin-ling-pai bubar saja, lebih baik begini...!"

Diam-diam Cia Giok Keng dan Cia Bun Houw melihat betapa ayah mereka telah berubah sama sekali. Dahulu, ayah mereka amat mementingkan nama dan kehormatan sehingga ayah mereka menentang perjodohan Bun Houw dengan In Hong karena hendak menjaga nama dan kehormatan pula. Sekarang, ayah mereka telah menjadi lunak dan mempunyai pandangan yang amat luas dan sama sekali tidak kukuh lagi.

Dua pasang pendekar yang memiliki kepandaian tinggi itu hampir setiap hari menjenguk makam ibu mereka, nyonya Cia Keng Hong. Pada suatu pagi, Yap Kun Liong dan Cia Giok Keng berdua saja bersembahyang di depan kuburan itu.

Setelah selesai bersembahyang, mereka berdua lalu berjalan dan tanpa disadari mereka saling bergandengan tangan menuju ke pinggir jurang yang ditumbuhi rumput hijau yang gemuk. Mereka tak mengucapkan sepatah kata, akan tetapi jari-jari tangan mereka yang saling berpegang itu sudah bicara banyak. Mereka lalu duduk, saling berhadapan di atas rumput hijau di tepi jurang, saling memandang, kemudian Cia Giok Keng menundukkan mukanya ketika dia mulai berbicara, seolah-olah dia tidak dapat menatap wajah pria yang dicintanya itu.

"Kun Liong, apa yang kau pikirkan?"

Kun Liong memandang wajah yang menunduk itu. Baginya, wanita yang usianya sudah empat puluh tujuh tahun itu masih tampak seperti dulu, seperti ketika masih gadis remaja, masih tetap cantik menarik.

"Giok Keng, agaknya apa yang berada dalam pikiranku tidak jauh bedanya dengan apa yang sedang kau pikirkan. Aku teringat akan pesanan ayahmu."

Wajah yang memang masih jelas memperlihatkan raut yang cantik itu menjadi sedikit kemerahan, akan tetapi dengan berani Giok Keng mengangkat mukanya memandang. Kembali dua pasang mata bertemu dan melekat. Memang, di saat seperti itu, kata-kata dari mulut tidak lagi banyak artinya, bahkan terasa janggal dan kaku karena sinar mata lebih lancar menyatakan perasaan hati.

"Lalu, bagaimana pendapatmu sendiri?" tanya Giok Keng, pertanyaan yang hanya untuk memecahkan kesunyian yang mendatangkan rasa kikuk baginya itu karena sebenarnya, tanpa bertanya pun dia sudah tahu apa yang menjadi isi hati Kun Liong.

Mereka berdua memang saling mencinta, dan tidak ada kesenangan yang lebih besar dari pada perkenan ayahnya tadi yang bahkan menganjurkan supaya mereka berdua menjadi suami isteri. Membayangkan bahwa mereka berdua akan tinggal dalam satu rumah, akan selalu hidup berdampingan, akan membagi segala sesuatu yang mereka hadapi, dan juga bersama-sama menikmati kesenangan dan bersama-sama pula menanggung penderitaan, sungguh merupakan suatu hal yang amat menghibur dan membahagiakan hati.

"Kau tahu alangkah akan bahagia rasa hatiku kalau kita selalu dapat saling berdekatan. Giok Keng, maukah engkau pergi bersamaku ke Leng-kok?"

Giok Keng mengerutkan alisnya, berpikir sejenak kemudian berkata, "Sebetulnya, apakah bedanya bagi kita tinggal di Leng-kok atau di rumahku di Sin-yang? Di mana pun, asal kita berdua, apa bedanya?"

Yap Kun Liong memegang tangan wanita itu dan menggenggamnya. "Engkau benar, aku meributkan soal-soal yang kecil saja. Jika memang engkau lebih suka tinggal di Sin-yang, aku pun tidak akan menolak tinggal di sana."

Melihat betapa pria itu sudah memperlihatkan sikap mengalah. Giok Keng merasa tidak enak hati juga. Seolah-olah dia masih Cia Giok Keng yang dulu, yang keras hati sehingga kekerasan hatinya itulah yang dulu menggagalkan perjodohannya dengan Kun Liong, dan kekerasan hatinya pula yang mendatangkan atau mengakibatkan segala macam peristiwa hebat.

Teringat akan ini, dia cepat berkata lagi. "Tentang di mana kita tinggal, kita lihat saja nanti. Bagiku, ke mana pun kau pergi dan tinggal, di situ aku merasa betah dan senang, Kun Liong. Akan tetapi, hatiku merasa tidak enak mendengar akan kepergian Ciauw Si yang mencari Bun Houw dan sampai kini belum pulang. Aku mempunyai keinginan untuk lebih dahulu pergi merantau mencari anakku itu sampai dapat. Engkau tentu tahu, Seng-ji dan Ciauw Si sekarang telah menjadi anak-anak yang telah dewasa. Dalam urusan antara kita ini, adalah bijaksana kalau aku lebih dulu memberitahukan kepada mereka. Mengertikah engkau?"

Kun Liong menggenggam tangan itu. Ia mengangguk. "Tepat sekali. Memang semestinya demikian, Giok Keng. Aku pun akan merasa tidak enak apa bila mereka tidak diberi tahu terlebih dulu. Kalau begitu, aku akan membantumu mencari puterimu itu. Dan bagaimana dengan puteramu?"

"Dia akan pulang kalau sudah tamat belajar dari Kok Beng Lama. Dan kurasa sekarang memang sudah tiba saatnya dia akan pulang. Kalau begitu, mari kita pergi mencari Ciauw Si besok. Ayah juga sudah sembuh."

Demikianlah, pada keesokan harinya, Cia Giok Keng dan Yap Kun Liong berpamit kepada kakek Cia Keng Hong untuk pergi mencari Ciauw Si. Kakek tua itu langsung menyatakan persetujuannya. Dalam kesempatan ini, Cia Bun Houw dan Yap In Hong juga berpamit untuk kembali ke selatan.

Karena merasa bahwa dia sudah sembuh, hanya tinggal memulihkan tenaganya saja, Cia Keng Hong sama sekali tidak menahan, bahkan diam-diam dia merasa gembira karena kepergian kedua pasang anak-anaknya itu disertai dengan pancaran kebahagiaan pada wajah mereka! Dia merasa bahagia sekali dan ketika kedua pasang pendekar itu berpamit kemudian pergi, dia mengikuti bayangan mereka berempat dengan pancaran sinar mata penuh kebahagiaan.

Sin Liong yang duduk bersila di dekatnya juga memandang dengan sinar mata sayu. Tak seorang pun di antara mereka tahu betapa anak ini menderita tekanan batin yang cukup hebat, melihat ayah kandungnya pergi tanpa menoleh sedikit pun padanya, bahkan tanpa mengetahui bahwa dia adalah anak kandungnya!

Ingin dia berteriak, ingin dia mengaku akan keadaan dirinya sebelum ayahnya pergi, tapi anak ini tetap duduk bersila dan menggigit bibir untuk menahan dorongan hati yang ingin berteriak itu sampai akhirnya bayangan empat orang itu lenyap di sebuah tikungan.

"Ehh, kenapa kau menangis?"

Pertanyaan ini mengejutkan hati Sin Liong. Tanpa disadarinya, ketika melawan dorongan hatinya tadi, dia sudah menggigit bibirnya dan ada dua titik air mata meloncat keluar ke atas pipinya.

"Menangis? Apakah saya menangis, locianpwe?" tanyanya sambil menggerakkan tangan mengusap dua titik air mata itu.

Kakek itu lalu tersenyum maklum. Tentu anak ini diam-diam merasa suka kepada kedua putera dan puterinya, dan kini merasa berduka melihat mereka pergi. Kasihan sekali anak ini. Hidup sebatang kara di dunia yang luas dan penuh dengan kekerasan dan kekejaman ini.

"Sin Liong, jangan khawatir. Sesudah engkau memiliki sinkang yang diwariskan oleh Kok Beng Lama kepadamu, sesudah engkau memiliki Thi-khi I-beng, dan dalam waktu dekat aku akan mengajarkan ilmu-ilmu silat tinggi kepadamu, kelak engkau mampu menjaga diri sendiri dan dapat mengembara ke mana pun sebagai seorang pendekar, seperti kedua anakku itu."

Sin Liong tidak menjawab, melainkan segera berlutut di depan kakeknya itu. Dia kagum kepada kakeknya ini, sangat menghormatnya, dan sangat sayang kepada kakeknya yang dianggap merupakan seorang manusia budiman yang amat baik kepadanya.

"Terima kasih, locianpwe, terima kasih..."

Diam-diam Cia Keng Hong merasa heran mengapa anak ini tidak pernah menyebut suhu kepadanya, akan tetapi karena dia sekarang tidak lagi mau mempedulikan tentang segala macam upacara dan sebutan, dan karena dia pun tahu bahwa Sin Liong adalah seorang anak yang aneh sekali, maka dia pun tidak pernah menegurnya. Baginya tak ada bedanya apakah dia akan disebut locianpwe ataukah suhu, sebab mata pendekar sakti yang tua ini mulai terbuka bahwa segala macam upacara dan sopan santun, segala macam sebutan itu hanyalah kosong belaka, seperti kosongnya semua kata-kata yang keluar dari mulut, yang hanya merupakan permainan dari hawa dan angin kosong belaka! Baginya, yang penting adalah tindakan, kenyataan, bukan segala macam sebutan dan omongan.

Pendekar sakti Cia Keng Hong memenuhi kata-katanya kepada Sin Liong. Mulai hari itu, semenjak kedua orang putera dan puterinya pergi, dia menurunkan ilmu-ilmunya kepada Sin Liong. Ketika dia melatih cucunya, Lie Ciauw Si, dia juga melatih dengan tekun, akan tetapi sekarang, melihat keadaan diri Sin Liong, pendekar ini menjadi kagum dan gembira bukan main.

Cucunya perempuan itu hanya memiliki bakat biasa saja, karena itu Ciauw Si tidak begitu mudah menguasai ilmu-ilmu silat tinggi yang sangat sukar dipelajari itu. Akan tetapi tidak demikian halnya dengan Sin Liong. Anak ini benar-benar sangat luar biasa sekali.

Segala macam pelajaran dasar ditelannya dengan mudah, bahkan ketika kakek itu mulai mengajarkan ilmu-ilmu silat tinggi yang rumit mudah saja bagi Sin Liong untuk menguasai semuanya. Seolah-olah sekali diberi pelajaran setiap teori ilmu silat baru, semua itu telah melekat di dalam benaknya dan tidak lupa lagi. Dan pada saat dia mulai melatih diri, juga di dalam gerakan-gerakannya terkandung bakat yang amat besar, gerakannya tidak kaku dan seakan-akan gaya ilmu silat itu memang sudah mendarah daging di dalam tubuhnya. Maka semua pelajaran dapat diterimanya dengan lancar.

Cia Keng Hong merasa betapa amat sukar baginya untuk dapat memulihkan tenaganya. Tubuhnya sudah sehat kembali, akan tetapi tenaganya tidak dapat pulih seperti sebelum dia bertanding melawan Kok Beng Lama. Dia menganggap bahwa hal ini karena usianya sudah sangat tua dan ini pula yang membuat dia tergesa-gesa menurunkan semua ilmu silat tinggi kepada Sin Liong.

"Pelajari dulu kauwkoat (teori silat) sampai kau hafal betul. Melatihnya boleh belakangan, Sin Liong." Demikianlah kakek itu berkata.

Dia lalu mengajarkan teori-teori dari ilmu-ilmu silat yang dahulu pernah menggemparkan dunia persilatan, seperti San-in Kun-hoat, Thai-kek Sin-kun, Siang-bhok Kiam-sut dan ada banyak lagi ilmu-ilmu silat yang sukar dicari bandingnya di dunia persilatan. Dan semua teori ilmu silat yang aneh-aneh itu sudah dicatat oleh ingatan dalam otak Sin Liong yang luar biasa cerdasnya.

Dalam waktu kurang lebih setahun lamanya, Sin Liong sudah berhasil menghafal semua teori ilmu silat yang banyak macamnya itu, dan selain hafal, juga dia telah diberi petunjuk oleh kakek itu bagaimana untuk melatih ilmu-ilmu itu seorang diri kelak.

Seperti sudah diceritakan di bagian depan, Cin-ling-pai sekarang sama sekali tidak sama dengan Cin-ling-pai belasan tahun yang lalu, ketika Cin-ling-pai masih merupakan sebuah perkumpulan besar dengan para tokohnya yang terkenal sebagai Cap-it Ho-han (Sebelas Pendekar) dari Cin-ling-pai. Tapi semenjak Cap-it Ho-han tewas di tangan musuh-musuh besar Cin-ling-pai, yaitu Ngo-sian Eng-cu (Lima Bayangan Dewa), maka Cin-ling-pai bagai kehilangan pamornya.

Apa lagi setelah Cia Keng Hong kehilangan puteranya dan kematian isterinya, kakek ini lalu membubarkan Cin-ling-pai sehingga semua murid atau anggota Cin-ling-pai menjadi tersebar ke mana-mana. Bagaimana pun juga, masih ada saja anak murid yang kadang-kadang naik ke Cin-ling-san untuk mengunjungi guru besar mereka itu.

Para anggota atau lebih tepat lagi bekas anggota Cin-ling-pai yang datang berkunjung, mengerti bahwa kini guru besar mereka mempunyai murid lagi, seorang pemuda aneh yang pendiam dan serius, yang jarang sekali bicara bahkan tidak menjawab sepenuhnya apa bila ditanya. Juga Cia Keng Hong yang mengerti akan keanehan anak itu, tidak mau banyak bicara mengenai Sin Liong, hanya samar-samar kakek ini mengatakan bahwa Sin Liong merupakan pewarisnya yang terakhir dan yang paling berbakat!

Pada suatu senja yang cerah dan indah, seperti biasa sejak dia pulang ke Cin-ling-san bersama Sin Liong, kakek Cia Keng Hong duduk bersemedhi seorang diri di dalam kebun di belakang pondoknya. Bersemedhi setiap matahari timbul dan matahari tenggelam telah merupakan pekerjaan sehari-hari kakek itu, dan dalam keadaan seperti itu, dia tidak mau diganggu. Oleh karena itu, Sin Liong dan para anggota Cin-ling-pai tidak ada yang berani mendekati kakek itu kalau kakek Cia Keng Hong sedang berada di kebun.

Dan pada senja hari itu terdapat belasan orang bekas anggota Cin-ling-pai yang datang berkunjung. Mereka ini berkumpul di ruangan besar bercakap-cakap, karena Cin-ling-san sekarang merupakan suatu tempat bertemu dan berkumpul di antara mereka dan dalam pertemuan ini tentu saja banyak yang mereka bicarakan. Di antara mereka ada beberapa orang bekas anggota golongan tua yang memiliki kepandaian tinggi karena mereka dulu adalah tokoh-tokoh tingkat dua, yaitu murid-murid langsung dari mendiang Cap-it Ho-han, yaitu sebelas orang pendekar dari Cin-ling-pai itu.

Sin Liong sendiri yang juga maklum akan kebiasan kakeknya, tidak berani mengganggu dan dia berada di dalam kamarnya untuk melatih pernapasan seperti yang diajarkan oleh kakeknya. Kini, anak berusia empat belas tahun ini sudah dapat menguasai hawa sinkang yang amat kuat di tubuhnya itu, bahkan tahu cara memeliharanya dengan pengumpulan hawa murni dan mengatur pernapasan. Dia dapat pula menggerakkan hawa sinkang itu di seluruh tubuhnya sehingga biar pun semua ilmu silat tinggi itu belum dikuasainya, namun dengan tenaganya yang dahsyat dia sudah merupakan seorang pemuda tanggung yang amat tangguh.

Kakek Cia Keng Hong duduk bersila di atas batu bulat di kebunnya, di bawah sebatang pohon yang-liu yang daunnya bergerak-gerak lembut tertiup angin senja. Dia bersemedhi dengan tenang, kedua tangannya bersilang di depan dada. Kakek ini tenggelam di dalam semedhinya, dan biar pun kini kesehatannya sudah pulih kembali, namun tenaganya jauh berkurang dibandingkan dengan dahulu.

Dia pun sudah tak berminat lagi untuk lebih memperkuat tubuhnya, hanya memperdalam ketenangan batinnya, menghentikan segala macam gangguan pikiran. Kini tidak ada lagi kedukaan mengganggu batinnya. Dia sudah bertemu kembali dengan puteranya, bahkan telah memberi persetujuan kepada puteranya untuk berjodoh dan menikah dengan wanita yang dipilihnya sendiri. Ia pun telah memberi dorongan kepada puterinya untuk menikmati kehidupan bersama pria yang dicintanya.

Dan dia pun merasa lega bahwa dia bertemu dengan seorang anak luar biasa seperti Sin Liong sehingga dia dapat menurunkan semua kepandaiannya. Dalam diri Sin Liong dia melihat bakat yang ada pada dirinya sendiri, dan dibandingkan dengan puteranya, Bun Houw, bakat Sin Liong bahkan masih menang setingkat.

Maka hatinya sudah puas dan kakek ini merasa sudah siap untuk meninggalkan dunia ini dengan hati tenang dan tenteram. Kini tidak ada lagi duka dan persoalan yang mengikat batinnya, maka semedhinya demikian mendalam, membuat dia lupa segala.

Kakek yang telah bebas dari kekhawatiran itu tidak tahu bahwa pada saat dia tenggelam dalam semedhinya itu tiba-tiba saja muncul dua orang yang mendaki puncak dan dengan gerakan yang cepat sekali langsung memasuki taman di belakang pondoknya. Mereka adalah seorang wanita yang cantik sekali bersama seorang nenek bermuka hitam yang memegang sebatang tongkat. Mereka itu adalah Kim Hong Liu-nio dan gurunya, Hek-hiat Mo-li!

Seperti telah kita ketahui, wanita cantik jelita ini sudah berhasil menewaskan seorang di antara tiga tokoh utama yang menjadi musuh besar gurunya, yaitu Tio Sun. Maka sudah berkuranglah sumpahnya dan kini dia tidak perlu lagi mengejar-ngejar dan membunuhi orang-orang she Tio karena orang she Tio yang utama telah berhasil dibunuhnya.

Ketika dia sedang menyiksa Sin Liong yang diketahuinya sebagai putera Cia Bun Houw menurut pengakuan anak itu sendiri, dia bertemu dengan pendekar tua Cia Keng Hong dan dia terkejut bukan main menyaksikan kelihaian kakek tua itu. Memang sudah lama dia mendengar tentang ketua Cin-ling-pai itu dari gurunya, akan tetapi Kim Hong Liu-nio yang tadinya terlampau mengandalkan kehebatan ilmu kepandaiannya sendiri, mula-mula memandang rendah.

Setelah dia bentrok dengan Cia Keng Hong, baru dia terkejut setengah mati dan merasa jeri, meninggalkan kakek itu dan cepat-cepat dia mencari gurunya yang memang sudah hendak turun tangan sendiri, meninggalkan utara, dan kini Hek-hiat Mo-li sudah berada tidak jauh dari tempat itu. Maka Kim Hong Liu-nio segera menceritakan kepada gurunya mengenai pertemuannya dengan pendekar tua Cia Keng Hong sambil menceritakan pula betapa lihainya pendekar tua itu.

Mendengar ini, Hek-hiat Mo-li lalu mengajak muridnya untuk melatih diri dan memperkuat diri sebelum mereka berdua turun tangan. Sampai beberapa bulan lamanya guru beserta muridnya ini melatih diri dan setelah merasa diri mereka benar-benar kuat, keduanya lalu pergi mendaki Bukit Cin-ling-san sehingga pada senja hari itu mereka memasuki kebun di mana pendekar tua Cia Keng Hong sedang duduk bersemedhi seorang diri.

Ketika Kim Hong Liu-nio yang berjalan di depan dengan langkah ringan sekali itu melihat betapa dari kepala kakek yang sedang duduk bersemedhi itu mengepul uap putih yang tebal, dia terkejut dan tertegun, merasa semakin jeri. Akan tetapi tidak demikian dengan Hek-hiat Mo-li.

Nenek ini merasa girang sekali melihat uap putih itu dan dia tahu bahwa saat itu musuh besarnya sedang dalam keadaan 'kosong', maka dengan mukanya yang hitam berubah beringas, nenek ini lalu meloncat dan menggerakkan tongkatnya ke arah punggung kakek itu sambil mengerahkan tenaga sinkang sepenuhnya. Melihat ini, Kim Hong Liu-nio menjadi berani dan dia pun meloncat dan dengan tangan kanannya dia memukul pula ke arah tengkuk kakek itu.

"Blukk! Plakkk!"

Hampir berbareng hantaman tongkat dan tamparan tangan itu tepat mengenai punggung dan tengkuk Cia Keng Hong, akan tetapi dua orang penyerang gelap itu menjadi terkejut setengah mati. Tongkat di tangan Hek-hiat Mo-li sudah patah menjadi dua potong, ada pun Kim Hong Liu-nio merasa betapa telapak tangan kanannya panas dan nyeri bukan main. Mereka terkejut dan meloncat mundur.

Pada saat menerima pukulan-pukulan tadi, Cia Keng Hong dalam keadaan semedhi yang amat mendalam, akan tetapi sebagai seorang ahli silat yang telah amat tinggi tingkatnya, apa lagi karena dia sudah menguasai Thi-khi I-beng dengan sempurna, maka tubuhnya dapat secara otomatis menjaga diri. Begitu pukulan-pukulan itu tiba, tenaga sinkang-nya sudah bergerak dan menolak sehingga mengejutkan kedua orang lawannya, akan tetapi sesungguhnya dia telah menderita luka-luka yang hebat di dalam tubuhnya!

Pukulan tongkat dan hantaman tangan guru dan murid tadi hebat bukan main dan takkan dapat ditahan oleh seorang ahli yang bagaimana kuat pun. Jangankan pukulan itu diterima oleh Cia Keng Hong dalam keadaan tidak sadar, bahkan andai kata diterimanya dalam keadaan sadar sekali pun, tentu dia akan terluka hebat.

Akan tetapi hal ini sama sekali tidak diketahui oleh Kim Hong Liu-nio dan gurunya, maka mereka berdua terkejut bukan main. Kim Hong Liu-nio menjadi semakin jeri, akan tetapi Hek-hiat Mo-li yang sudah amat marah bertemu dengan seorang di antara musuh-musuh utamanya itu, kini sudah menerjang maju lagi dengan tongkatnya.

Tubuh Cia Keng Hong yang masih bersila tadi, kini melayang turun dari atas batu lantas dengan dorongan-dorongan kedua tangannya, dia membuat guru dan murid itu terhuyung ke belakang. Pendekar tua itu memaksa dirinya untuk menggunakan sinkang yang hebat, dan hal ini membuat luka-lukanya di dalam tubuh menjadi makin parah.

Dia maklum akan hal ini, akan tetapi dia tahu pula bahwa tanpa memamerkan kekuatan sinkang-nya dia tidak akan dapat membikin jeri dua orang lawan tangguh ini, dan untuk mengadu silat, dia merasa bahwa dia tidak akan dapat bertahan lama dengan luka-luka hebat itu. Untuk menambah kekuatannya, Cia Keng Hong kemudian mengeluarkan suara melengking yang dahsyat dan kembali kedua tangannya mendorong ke arah dua orang lawannya sehingga guru dan murid itu kembali terhuyung ke belakang, meski pun mereka sudah mencoba untuk mempertahankan diri.

Suara melengking itu telah mengejutkan belasan orang anggota Cin-ling-pai yang sedang berkunjung dan berkumpul di dalam ruangan besar, juga terdengar pula oleh Sin Liong. Mereka semua menjadi terkejut sekali dan cepat-cepat mereka berlarian menuju ke kebun di belakang.

Begitu melihat betapa ketua Cin-ling-pai itu sedang bertanding dan dikeroyok oleh seorang wanita cantik dan seorang nenek tua bermuka hitam, mereka terkejut sekali dan tidak berani sembarangan turun tangan tanpa ada perintah dari guru besar itu. Akan tetapi, selagi belasan orang tokoh Cin-ling-pai itu tertegun dan meragu, tiba-tiba saja terdengar gerengan laksana suara seekor monyet besar atau seekor harimau marah dan sesosok bayangan berkelebat lantas bayangan itu langsung menerjang Kim Hong Liu-nio dengan terkaman dahsyat dan dengan pukulan kedua tangannya.

Sejak kecil Sin Liong sudah sering kali melihat orang-orang yang disayangnya dibunuh orang tanpa dia mampu membantu atau mencegah kejadian itu. Pertama-tama dia melihat ibu kandungnya dibunuh orang, juga biang monyet yang memellharanya dibunuh orang, kemudian melihat Na-piawsu dibunuh orang.

Sekarang, melihat kakek yang amat disayangnya itu diserang oleh dua orang ini, apa lagi mengenal bahwa seorang di antara mereka yang menyerang kakeknya adalah Kim Hong Liu-nio, wanita yang bukan hanya telah membunuh ibu kandungnya akan tetapi juga telah sering menyiksanya, dia menjadi marah sekali dan timbullah sifat liarnya. Dia menyerang laksana seekor binatang buas dan kemarahan yang hebat ini mendorong keluar semua tenaga sinkang yang mengeram di dalam tubuhnya.

Begitu melihat Sin Liong, wanita itu langsung mengenalnya dan tentu saja memandang rendah, bahkan menyambut terjangan Sin Liong itu dengan hantaman tangan kirinya.

"Desss...!"

"Ihhhh...!" Tubuh Kim Hong Liu-nio terlempar dan bergulingan, lalu dia meloncat bangun, mukanya agak pucat dan matanya terbelalak. Tak disangkanya betapa pertemuan tenaga dengan anak berusia empat belas tahun itu membuat dia terlempar, dan hampir saja dia celaka!

Melihat betapa anak itu berani turun tangan membantu guru besar mereka, para anggota Cin-ling-pai juga lalu menerjang maju. Sementara itu, nenek Hek-hiat Mo-li yang merasa sangat penasaran karena hantaman tongkatnya tadi tidak menewaskan Cia Keng Hong, kini membentak keras dan tubuhnya melayang ke depan, menyerang Cia Keng Hong.

Pendekar ini menanti sampai nenek itu datang dekat, kemudian dengan gerakan istimewa dia menangkis hantaman nenek itu, sambil membarengi dengan tamparan tangan kirinya. Itulah sebuah gerakan dari jurus Ilmu Silat Thai-kek Sin-kun yang tidak disangka-sangka oleh Hek-hiat Mo-li, maka tanpa dapat dicegah lagi pundaknya kena ditampar sehingga dia pun terlempar dan jatuh bergulingan seperti halnya Kim Hong Liu-nio tadi.

Namun baik nenek muka hitam ini mau pun Kim Hong Liu-nio, telah memiliki kekebalan yang luar biasa, kekebalan yang bukan hanya dapat menghadapi pukulan kosong bahkan mampu pula bertahan terhadap pukulan sakti dan pukulan senjata tajam! Kekebalan inilah yang dahulu membuat mendiang kakek Pek-hiat Mo-ko dan Hek-hiat Mo-li sangat sukar dilawan. Pendekar Cia Bun Houw baru berhasil membunuh Pek-hiat Mo-ko dan Yap In Hong baru berhasil melukai Hek-hiat Mo-li setelah mereka berdua ini mengetahui rahasia kelemahan kakek dan nenek itu.

Cia Keng Hong sudah mendengar dari puteranya bahwa nenek ini memiliki kelemahan di telapak kakinya, akan tetapi karena dia sendiri sudah terluka hebat, maka tidaklah mudah baginya untuk menyerang tempat berbahaya lawannya ini. Apa lagi hantaman-hantaman yang dilakukannya tadi menggunakan sinkang pula sehingga keadaannya menjadi makin parah dan hampir saja dia tidak kuat berdiri lagi. Hanya dengan paksaan dan pengerahan tenaga terakhir dia masih mampu menghadapi lawan.

Kini para anggota Cin-ling-pai sudah mengeroyok nenek serta wanita cantik itu, dan Sin Liong yang terutama sekali menerjang dan mendesak Kim Hong Liu-nio yang dibencinya. Melihat betapa kakek Cia Keng Hong benar-benar lihai bukan main, bahkan kini ditambah pula oleh orang-orang Cin-ling-pai, nenek dan muridnya itu mulai merasa gentar. Mereka mengamuk dan ada empat orang anggota Cin-ling-pai yang roboh dan tewas, sedangkan Sin Liong yang baru menguasai teori-teori belaka dari ilmu-ilmu silat tinggi, tentu saja di dalam hal ilmu silat masih kalah jauh dibandingkan dengan Kim Hong Liu-nio sehingga berkali-kali dia kena dihantam sampai bergulingan.

Akan tetapi diam-diam Kim Hong Liu-nio bergidik karena bukan saja anak itu tidak sampai tewas atau terluka oleh hantamannya, bahkan sering kali tangannya segera melekat dan tenaganya tersedot oleh ilmu Thi-khi I-beng yang amat ditakutinya itu. Kalau saja dia tidak memperoleh latihan khusus dari gurunya untuk melepaskan diri terhadap ilmu mukjijat itu, tentu dia sudah kena ditempel dan disedot sampai tenaganya habis oleh anak ini!

Sesudah berhasil merobohkan empat orang, Hek-hiat Mo-li maklum bahwa dia bersama muridnya tak akan berhasil, bahkan kalau tokoh-tokoh lain seperti putera Cin-ling-pai itu, dan wanita perkasa Yap In Hong muncul, juga kakak wanita itu yang bernama Yap Kun Liong, tentu dia dan muridnya akan celaka.

"Mari kita pergi!" bentaknya dan sekali meloncat, tubuhnya sudah melayang jauh, pergi dari situ. Melihat ini, Kim Hong Liu-nio juga meloncat pergi menyusul gurunya.

Sin Liong yang marah bukan main sudah bergerak hendak mengejar, juga para anggota Cin-ling-pai, akan tetapi terdengar suara lemah kakek itu mencegah,

"Jangan kejar...!"

Sampai lama Sin Liong beserta para anak buah Cin-ling-pai berdiri memandang ke arah lenyapnya dua orang musuh itu, baru kemudian para bekas anggota Cin-ling-pai itu sibuk merawat mereka yang luka dan tewas dalam pertempuran itu.

"Kongkong...!" Teriakan itu mengejutkan semua orang.

Mereka menengok dan melihat Sin Liong menangis di hadapan kakek yang telah duduk bersila kembali di atas batu itu. Semua bekas anggota Cin-ling-pai berlari menghampiri dan terkejut bukan main melihat bahwa guru besar mereka itu ternyata telah tak bernapas lagi! Kiranya setelah mencegah semua orang mengejar musuh-musuh yang amat lihai itu, Cia Keng Hong kembali duduk bersila dan kakek ini melepaskan napas terakhir sambil duduk bersila.

Pukulan-pukulan dua orang lawan yang amat lihai itu tadi telah mengguncangkan jantung dan melukai isi dada serta perutnya. Hanya karena semangatnya yang luar biasa saja kakek tua renta ini tadi masih mampu melawan, bahkan membikin jeri hati kedua orang musuhnya. Akan tetapi justru perlawanannya itu membutuhkan pengerahan tenaga dan dalam keadaan terluka hebat dia mengerahkan tenaga, maka hal ini tentu saja membuat luka-lukanya menjadi makin parah lalu mencabut nyawanya setelah dia duduk bersila.

Sin Liong yang pertama kali melihat keadaan kakek itu, menjerit dan dalam kedukaannya dia sampai lupa diri dan menyebut kakek itu 'kongkong' karena dia memang merasa amat sayang kepada kongkong-nya (kakeknya) itu. Melihat kakeknya mati, dia berteriak lalu menangis mengguguk seperti anak kecil. Belum pernah selamanya dia menangis seperti itu.

Akan tetapi hanya sebentar dia menangis. Sesudah berhenti menangis, dia hanya diam saja seperti patung ketika melihat para bekas anak buah Cin-ling-pai sambil menangis lalu mengangkat jenazah kongkong-nya bersama keempat orang anggota Cin-ling-pai lainnya yang juga tewas dalam pertempuran tadi, membawanya masuk ke dalam pondok.

Sampai semua jenazah dimasukkan peti dan dijajarkan di ruangan depan bersama peti jenazah bekas ketua Cin-ling-pai itu di depan dan empat buah peti jenazah para anggota itu di belakang, Sin Liong tidak pernah menangis lagi, juga tidak pernah mengeluarkan sepatah pun kata. Dia hanya duduk bersila di dekat peti jenazah kongkong-nya itu, tak pernah makan tak pernah tidur, hanya duduk bersila seperti sebuah arca.

Setiap kali terdengar orang menangis dan berkabung, yaitu para keluarga empat orang anggota Cin-ling-pai itu. Bekas anak buah Cin-ling-pai berbondong-bondong datang dan menangis. Berita secepatnya dikirim melalui dunia kang-ouw dan beberapa hari kemudian berturut-turut datanglah Cia Bun Houw dengan Yap In Hong, lalu Yap Mei Lan, Lie Seng, Souw Kwi Eng dan Souw Kwi Beng yang datang bersama. Riuh rendah tangis mereka di depan peti mati.

Seperti telah diceritakan di bagian depan, empat orang muda itu, Yap Mei Lan, Lie Seng, Souw Kwi Eng dan Souw Kwi Beng, datang ke Cin-ling-pai untuk mengabarkan tentang kematian Tio Sun di tangan ketua Hwa-i Kaipang yang ternyata kenal baik dengan ketua Cin-ling-pai, kongkong dari Lie Seng. Namun, ketika mereka akhirnya tiba di Cin-ling-san, mereka hanya mendapatkan bahwa ketua Cin-ling-pai telah tewas.

Sesudah bertangis-tangisan dan berkabung, Bun Houw dengan isterinya bercakap-cakap dengan empat orang itu. Sesungguhnya, kalau saja tidak terjadi hal yang menyedihkan sehubungan dengan kematian kakek Cia Keng Hong, tentu pertemuan itu akan sangat menggembirakan. Yap Mei Lan adalah keponakan dari In Hong, ada pun Lie Seng adalah keponakan dari Bun Houw. Bahkan, Souw Kwi Eng pernah ditunangkan dengan Cia Bun Houw!

Akan tetapi, kini mereka semua sedang berkabung dalam kedukaan, maka tentu saja tak ada suasana gembira dalam pertemuan mereka. Hanya nampak In Hong yang merangkul keponakannya yang dia duga tentu sudah memiliki kepandaian hebat setelah digembleng oleh Kok Beng Lama itu.

Tiba-tiba Souw Kwi Eng menangis lagi, tetapi kini tangisnya tidak seperti ketika menangis di hadapan peti mati kakek Cia, bahkan dia menangis dengan penuh kedukaan sehingga mengejutkan Bun Houw dan In Hong. Yap In Hong yang tidak lagi cemburu kepada bekas tunangan suaminya ini karena dia sudah tahu bahwa wanita peranakan barat ini sudah menikah dengan Tio Sun, segera mendekatinya dan memegang pundaknya.

"Adik Kwi Eng, sudahlah, jangan engkau terlalu berduka...!" dia menghibur.

Kwi Eng mengangkat muka memandang, dan tiba-tiba dia merangkul leher In Hong dan tangisnya semakin mengguguk. Di antara tangisnya In Hong mendengar kata-kata yang membuatnya terbelalak dan terkejut sekali,

"...bagaimana... takkan berduka... kalau... kalau suamiku dibunuh orang...?"

Tentu saja bukan hanya In Hong yang amat terkejut mendengar ini, juga suaminya, Cia Bun Houw kaget bukan main. Mereka tadi melihat betapa nyonya muda yang cantik jelita ini memakai pakaian berkabung, akan tetapi mereka hanya mengira bahwa nyonya muda ini karena sudah mendengar akan kematian kakek Cia yang amat dikaguminya, memang sengaja mengenakan pakaian berkabung. Siapa kira, nyonya muda ini berkabung karena kematian suaminya yang dibunuh orang!

"Siapa yang membunuh Tio-twako? Siapa?" Bun Houw berseru dengan penasaran sekali. Ayahnya baru saja dibunuh orang, dan kini dia mendengar bahwa Tio Sun dibunuh orang pula.

Dengan panjang lebar Souw Kwi Beng mewakili saudara kembarnya, menuturkan tentang kematian Tio Sun di tangan ketua Hwa-i Kaipang dalam sebuah pertempuran gara-gara seorang wanita bernama Kim Hong Liu-nio.

"Iparku itu hanya hendak mendamaikan antara Panglima Lee Siang dengan ketua Hwa-i Kaipang," demikian dia menutup ceritanya, "akan tetapi siapa kira, ketua Hwa-i Kaipang mengira bahwa iparku itu membela wanita yang bernama Kim Hong Liu-nio itu sehingga terjadi pertempuran dan iparku tewas..."

"Kim Hong Liu-nio...?" Bun Houw bangkit berdiri dan mengepal tinjunya. "Kiranya wanita itu pula yang menjadi gara-gara?" Kini giliran empat orang itu, Yap Mei Lan, Lie Seng, Souw Kwi Eng, dan Souw Kwi Beng yang mendengar betapa kakek Cia juga tewas oleh Kim Hong Liu-nio dan gurunya, Hek-hiat Mo-li!

"Dan semuanya ini adalah gara-gara bocah itu!" tiba-tiba saja Bun Houw berkata sambil menudingkan telunjuknya ke arah Sin Liong yang masih duduk seperti arca di dekat peti jenazah dengan muka pucat.

Mendengar kata-kata ayah kandungnya sambil menudingkan telunjuk kepadanya itu, Sin Liong memandang dengan mata terbelalak dan mukanya menjadi pucat. Semua mata kini ditujukan kepadanya.

"Mendiang ayah bentrok dengan Kim Hong Liu-nio akibat menolong bocah itu!" Bun Houw berkata penuh penyesalan. "Dan bocah itu pula yang bercerita kepada kami bahwa Kim Hong Liu-nio memusuhi orang-orang she Tio, Yap dan Cia. Sebelum muncul bocah itu kita semua hidup tenteram dan tidak pernah terjadi permusuhan dengan siapa pun. Bocah ini benar-benar mendatangkan sial!"

Yap In Hong menyentuh lengan suaminya yang sedang dicekam kedukaan dan amarah itu, lalu dia menghampiri Sin Liong dan bertanya, "Sin Liong, menurut keterangan para anggota Cin-ling-pang nenek itu berwajah hitam. Engkau yang telah mengenal Kim Hong Liu-nio, tentunya engkau tahu pula siapa nenek yang datang bersama wanita itu. Apakah benar dia itu Hek-hiat Mo-li?"

Yap In Hong ini pernah bertanding dengan Hek-hiat Mo-li, bahkan berhasil melukai nenek yang kebal itu karena dia tahu di mana letak kelemahan nenek itu. Akan tetapi sebelum dia sempat membunuh nenek iblis itu, keburu datang Raja Sabutai yang menyelamatkan nenek yang juga menjadi guru raja itu. Kini dia bertanya kepada Sin Liong, selain untuk memperoleh keyakinan, juga untuk menghentikan suaminya memarahi anak itu.

Sin Liong tidak menjawab, bahkan tidak mendengar pertanyaan yang diajukan oleh Yap In Hong itu. Sejak tadi dia mengalami tekanan batin, merasa berduka sekali, penasaran dan juga amat marah mendengar bahwa ayah kandungnya sendiri memaki dan menyalahkan dirinya. Dia hanya bersila sambil menundukkan mukanya, dua alisnya berkerut, bibirnya dikatupkan keras-keras.

"Kalau dia tidak bisa berbicara lagi, biar saja tidak usah ditanya!" Bun Houw yang masih merasa marah karena terdorong kedukaan dan penyesalan, kembali berkata. "Tidak perlu mendapatkan keterangan anak sial itu pun sudah jelas bahwa nenek muka hitam itu pasti Hek-hiat Mo-li orangnya. Dan perempuan itu tentu muridnya. Setelah selesai pemakaman jenazah ayah, aku akan mencarinya dan membunuh mereka!"

"Tidak perlu!" Tiba-tiba Sin Liong yang sejak tadi diam saja, kini membentak dengan suara yang amat lantang sehingga mengejutkan semua orang. Bagaikan sebuah gunung berapi yang sudah ditahan-tahan sekian lamanya dan kini meletus, Sin Liong bangkit berdiri, dua matanya mencorong seperti mata naga sakti, kedua tangannya dikepal dan dia berkata,

"Akulah yang akan membalaskan kematian kongkong! Akulah yang akan mencari kedua orang musuh besar itu kemudian membunuh mereka. Aku tidak mengharapkan bantuan para pendekar. Para pendekar yang hebat-hebat hanya namanya saja pendekar, duduk di tempat tinggi, mabok kemuliaan dan nama besar seolah-olah mereka adalah dewa-dewa di sorga, bukan manusia! Padahal, namanya saja pendekar-pendekar mulia, akan tetapi perbuatannya banyak yang rendah dan hina, di balik nama-nama besar itu tersembunyi perbuatan kotor!"

"Bocah lancang mulut...!" Bun Houw membentak akan tetapi isterinya menyentuh lengan kanannya.

"Ssttt...!" kata In Hong berbisik sambil memandang kepada Sin Liong dengan mata penuh kagum dan tertarik.

Bocah itu bukan sembarang bocah dan dia melihat sesuatu yang aneh pada mata bocah itu, dan dia merasa seolah-olah dia sudah mengenal anak ini, entah di mana dan kapan.

"Para pendekar merasa bahwa mereka itu orang-orang paling mulia, paling suci, paling terhormat dan paling tinggi, paling hebat! Tetapi semua itu hanya untuk menyembunyikan perbuatan-perbuatan mereka yang kotor dan tak bertanggung jawab! Biarlah aku seorang yang akan membalas dendam, aku yang akan mencari mereka berdua itu dengan taruhan nyawaku, jangan ada yang turut campur!"

Setelah mengeluarkan kata-kata sebagai peluapan rasa marah dan penasarannya itu, Sin Liong terisak sekali lalu duduk bersila lagi di dekat peti jenazah, menunduk dan apa pun yang akan dilakukan orang kepadanya, jangan harap dia akan mau membuka mulut lagi. Dia sudah menyampaikan isi hatinya yang penuh penasaran.

Ketika dia bicara, dia teringat akan ibu kandungnya yang ditinggalkan ayah kandungnya, maka dia bicara tentang perbuatan kotor para pendekar yang dikatakan tidak bertanggung jawab! Tentu saja dia tujukan ucapan itu kepada ayah kandungnya.

Dia memang menaruh dendam kepada Kim Hong Liu-nio, lebih dari pada mereka semua, karena wanita itu telah membunuh ibu kandungnya di depan matanya, dan membunuh pula kongkong-nya.

Semua orang bengong menyaksikan sikap dan mendengar ucapan Sin Liong itu. Yap In Hong masih memegang lengan suaminya, mencegah suaminya marah-marah, karena amat tidak baik marah-marah di depan peti jenazah ayah mertuanya itu. Pada saat semua orang masih bengong memandang kepada Sin Liong, tiba-tiba terdengar jerit tertahan,

"Ayahhhh...!"

Dan berkelebatlah sesosok bayangan orang. Bayangan ini adalah Cia Giok Keng yang begitu tiba di situ langsung menjatuhkan diri berlutut di depan peti mati jenazah ayahnya, memeluki peti dan menangis tersedu-sedu, kemudian dia tentu akan terguling roboh kalau tidak cepat-cepat Yap Kun Liong menyambar tubuh yang pingsan itu.

Kembali terjadi hujan tangis di tempat itu sebab semua orang yang menyaksikan ini mulai menangis lagi. Sin Liong telah dilupakan orang yang kini tenggelam dalam kedukaan dan keharuan itu.

Ternyata Cia Giok Keng dan Yap Kun Liong yang belum berhasil menemukan Lie Ciauw Si, mendengar berita tentang kematian kakek Cia dari suara di dunia kang-ouw. Mereka cepat-cepat kembali ke Cin-ling-san dan di sepanjang jalan Cia Giok Keng telah menangis sedih, dihibur oleh Yap Kun Liong. Maka begitu tiba di depan peti jenazah, wanita ini lalu menjerit dan menangis, kemudian roboh pingsan.

Suasana di situ diliputi keharuan dan kedukaan. Cia Giok Keng menangis tersedu-sedu ketika dia telah siuman kembali dan dia berangkulan dengan Cia Bun Houw. Dua orang inilah yang merasa paling terpukul dengan kematian ayah mereka, dan kini pendekar sakti Cia Bun Houw tak dapat lagi menahan tangisnya sesudah melihat enci-nya, apa lagi dia teringat betapa dia telah pernah marah dan meninggalkan ayahnya sampai belasan tahun sehingga kematian ibunya pun tidak diketahuinya.

Sekarang, baru saja dia pulang dan berbaik kembali dengan ayahnya, merasakan betapa ayahnya sebenarnya sangat mencintanya, baru saja berjumpa satu kali dengan ayahnya, kini ayahnya sudah mati dibunuh orang, atau setidaknya, meninggal akibat pertempuran melawan orang lain.

Dia mengerti bahwa sesungguhnya ayahnya tidaklah langsung dibunuh orang, melainkan bertempur melawan guru dan murid itu, bahkan menurut cerita para anggota Cin-ling-pai, ayahnya tidak kalah, malah membikin jeri musuh-musuh yang melarikan diri. Akan tetapi dia tahu bahwa ayahnya memang sudah sangat tua dan lemah, tenaganya telah banyak berkurang sehingga ketika menghadapi dua orang yang tangguh itu, ayahnya terluka dan tewas.

Pada saat itu, di antara para tamu yang mulai berdatangan untuk memberi penghormatan terakhir kepada jenazah dalam peti, muncul orang laki-laki tua yang aneh sekali bentuk tubuhnya. Melihat wajahnya, jelaslah bahwa laki-laki ini sudah tua sekali, seorang kakek yang memang sukar ditaksir berapa usianya, akan tetapi tentu sudah tua sekali.

Mukanya yang kurus itu penuh dengan keriput, matanya agak juling dan kepalanya gundul pelontos serta halus kulitnya, hanya ada sedikit rambut kering yang tumbuh di padang tandus, tumbuh di atas kepala, di tengah-tengah menutupi ubun-ubun. Kepalanya besar dan bulat, tetapi kurus, dengan dua buah daun telinga yang tebal dan lebar. Alisnya tebal, sudah bercampur uban, bengkak-bengkok di atas sepasang matanya yang juling.

Hidungnya pesek dan mulutnya lebar sekali, agaknya memang tidak dapat ditutup secara baik sehingga balik bibirnya selalu nampak. Gigi bawahnya sudah habis dan gigi atasnya tinggal beberapa buah saja, berderet jarang. Kepala dan wajah itu biar pun sangat buruk dan menyeramkan, namun belumlah aneh kalau dibandingkan dengan bentuk tubuhnya dari leher ke bawah. Kakek yang kelihatan sudah tua sekali ini ternyata memiliki bentuk tubuh seperti kanak-kanak yang usianya baru sepuluh tahun! Tubuh itu kecil pendek, dengan dua tangan yang kecil dan dua kaki bersepatu yang kecil pula.

Siapakah adanya kakek yang aneh itu? Semua orang yang hadir di situ tidak ada yang mengenalnya. Padahal, kakek ini sesungguhnya adalah seorang yang memiliki kesaktian hebat, yang datang dari barat dan sudah lama merantau di dunia utara, di balik tembok besar. Kakek ini bernama Ouwyang Bu Sek!

Di dalam cerita Petualang Asmara, terdapat seorang tokoh yang merupakan datuk kaum sesat yang ditakuti orang dan yang berjuluk Ban-tok Coa-ong (Raja Ular Selaksa Racun) dan datuk ini bernama Ouwyang Kok, seorang datuk dari utara. Datuk ini tewas di tangan Cia Keng Hong.

Kakek cebol aneh ini adalah seorang keponakan dari Ban-tok Coa-ong Ouwyang Kok itu. Dia masih muda pada waktu mendengar bahwa pamannya telah terbunuh oleh seorang pendekar bernama Cia Keng Hong. Akan tetapi karena putera tunggal pamannya itu yang bernama Ouwyang Bouw juga terbunuh oleh suci dari Pek Hong Ing (mendiang nyonya Yap Kun Liong), maka pamannya itu tidak mempunyai orang lain lagi kecuali dia untuk membalaskan kematiannya. Dia adalah keponakan pamannya itu dan akan kecewalah dia sebagai seorang keturunan keluarga Ouwyang, keluarga yang terkenal sebagai keluarga pandai, kalau dia tidak menuntut balas.

Akan tetapi, dia juga tahu betapa lihainya pendekar Cia Keng Hong, bahkan pendekar ini memiliki keluarga yang terdiri dari orang-orang lihai. Inilah yang menyebabkan Ouwyang Bu Sek harus menahan diri hingga bertahun-tahun lamanya, bahkan hingga puluhan tahun lamanya karena dia harus memperdalam kepandaiannya lebih dulu.

Sampai puluhan tahun lamanya dia merantau ke barat dan mempelajari ilmu-ilmu yang tinggi dari para pertapa aneh di Pegunungan Himalaya dan di Tibet. Baru sesudah dia merasa bahwa kepandaiannya sudah mencapai tingkat yang jauh lebih tinggi dari pada tingkat mendiang Ban-tok Coa-ong Ouwyang Kok, dia berani meninggalkan barat sebagai seorang kakek aneh dan pergi ke Cin-ling-san mencari musuh besar keluarga Ouwyang itu.

Akan tetapi, betapa menyesal, kecewa dan juga mendongkol rasa hatinya ketika dia tiba di puncak Cin-ling-san, dia menemukan musuh besarnya itu sudah berada di dalam peti mati!

Pada waktu itu, semua anggota keluarga dari bekas ketua Cin-ling-pai sedang berduka dan dibangkitkan kembali kedukaan serta keharuan mereka akibat kedatangan Cia Giok Keng. Mereka sedang bertangisan sehingga tidak ada yang memperhatikan kedatangan kakek cebol itu.

Akan tetapi Sin Liong yang sejak tadi memandang ke arah para keluarga yang sedang bertangisan itu, melihat kakek ini di antara para tamu dan dia merasa terkejut dan tertarik sekali. Keanehan bentuk tubuh kakek ini sungguh sangat menonjol di antara para tamu sehingga secara diam-diam dia memperhatikan ketika kakek itu seperti para tamu yang lain menghampiri peti dengan langkah-langkah yang pendek dan lucu.

Akan tetapi, tidak seperti para tamu lainnya yang memberi penghormatan kepada jenazah dengan hio menyala di tangan, tamu aneh ini hanya berdiri tegak di depan peti jenazah dan tiba-tiba dia mengeluarkan kata-kata yang cukup lantang.

"Cia Keng Hong, engkau sungguh seorang pengecut besar! Setelah susah payah puluhan tahun aku mempelajari ilmu dan sekarang datang berkunjung, engkau malah melarikan diri melalui kematian. Huh, kalau tidak merusak tubuhmu dalam peti, hatiku selamanya akan merasa penasaran!"

Mendengar ini, semua orang terkejut dan terutama sekali Cia Bun Houw dan Cia Giok Keng sudah meloncat berdiri lantas menengok ke arah tamu aneh itu dengan sinar mata berapi karena marahnya. Akan tetapi, sebelum mereka berdua sempat bergerak, tiba-tiba saja terdengar suara gerengan aneh laksana seekor binatang buas yang marah, disusul teriakan,

"Jangan ganggu jenazah kakekku!"

Serangan yang dilakukan oleh Sin Liong menyusul teriakannya itu mengejutkan Ouwyang Bu Sek. Tidak disangkanya bahwa anak yang tadi bersila di dekat peti mati, tiba-tiba saja meloncat dan menerkamnya seperti seekor binatang buas.

Ouwyang Bu Sek melihat betapa anak itu memiliki tenaga sinkang yang amat luar biasa, pukulan dalam terkamannya itu mendatangkan angin berdesir menuju arahnya. Dia kaget, kagum dan juga girang menghadapi anak yang mengaku cucu dari musuh besarnya itu. Kalau tidak dapat membalas kepada Cia Keng Hong, kini dapat menangkap cucunya juga sudah baik, pikirnya.

Maka dia mendiamkan saja anak itu menyerangnya. Kemudian setelah terkaman datang dekat, tiba-tiba dia menggerakkan tangan kirinya menangkap pundak Sin Liong.

"Desss! Desss!"

Pukulan kedua tangan Sin Liong itu dengan tepat mengenai tubuh kakek cebol itu, akan tetapi alangkah kagetnya hati Sin Liong saat merasa betapa kedua pukulannya itu seperti dua buah batu dilemparkan ke dalam air. Tenaganya amblas dan pukulannya mengenai tubuh yang lunak dan yang membuat tenaga pukulannya buyar dan tahu-tahu pundaknya telah kena dipegang dan dicengkeram. Ketika Sin Liong hendak mengerahkan tenaga dari pusar, tiba-tiba saja tubuhnya menjadi lemas dan dia tidak mampu bergerak lagi karena kaki tangannya seperti lumpuh, semua jalan darahnya seperti tiba-tiba menjadi kacau dan dia tidak mengerahkan tenaga lagi!

"Jahanam, berani engkau mengacau di sini?!" Bun Houw sudah membentak dan sambil meloncat dia telah mengirim pukulan jarak jauh ke arah kakek cebol itu.

Melihat ada pukulan jarak jauh yang mengeluarkan suara mencicit seperti itu, Ouwyang Bu Sek terkejut dan kagum sekali. Hebat, pikirnya dan dia menggunakan tangan kirinya mengebit. Dua tenaga sakti bertemu di udara dan sungguh pun kakek cebol itu berhasil menangkis pukulan Bun Houw, namun dia terkejut karena tangan kirinya tergetar.

Pada saat itu terdengar bunyi lengking nyaring dan Yap In Hong sudah menyerang dari depan. Kembali kakek itu melihat tenaga dahsyat sekali seperti angin puyuh menerjang tubuhnya! Dia pun cepat menggerakkan tangan kirinya mengebut dan kembali pukulan In Hong yang dilakukan sambil menerjang ke depan itu dapat ditangkisnya, dan juga sekali ini Ouwyang Bu Sek terkejut karena wanita cantik itu memiliki tenaga yang tidak kalah dahsyatnya dibandingkan dengan penyerang pertama.

"Orang tua, siapakah engkau dan mengapa engkau berani mengacau di sini?" Tiba-tiba terdengar bentakan halus.

Ouwyang Bu Sek semakin kaget karena tahu-tahu suara itu sudah berada di belakangnya dan sesudah dia membalik, dia melihat seorang laki-laki gagah berusia kurang dari lima puluh tahun yang gerakannya mendatangkan angin dahayat ketika orang itu mengulurkan tangan menepuk ke arah pundaknya.

Ternyata orang ini pun lihai bukan kepalang, dapat bergerak tanpa diketahuinya, bahkan gerakan tangannya itu sama sekali tidak mendatangkan angin atau suara ketika menuju ke pundak, tahu-tahu sudah dekat dan mengandung kekuatan dahsyat!

Cepat dia mengelak dan meloncat mundur. Ketika dia melihat mereka itu menghampirinya dari depan dengan langkah-langkah sangat ringan dan pandang mata penuh kemarahan, dia menjadi jeri juga. Bukan main, pikirnya. Keluarga Cia ini memang hebat!

Apa bila hanya melawan mereka satu demi satu, tentu saja dia tidak akan gentar. Akan tetapi kalau harus menghadapi pengeroyokan orang-orang yang mempunyai kepandaian seperti mereka, biar pun dia sudah memiliki kesaktian hebat, dia tahu bahwa akhirnya dia yang akan celaka.

"Ha-ha-ha! Berhenti kalian semua! Kalau tidak, serangan kalian akan mengenai tubuh anak ini!" Dia mengangkat tubuh Sin Liong dan mempergunakan tubuh itu sebagai perisai.

Melihat ini, Yap Kun Liong yang tadi merupakan penyerang terakhir, cepat berhenti dan demikian pula para pendekar itu berhenti melangkah. Mereka semua adalah orang-orang yang berjiwa pendekar. Sungguh pun mereka tidak senang kepada Sin Liong, akan tetapi mereka melihat betapa Sin Liong adalah orang yang pertama kali membela jenazah itu dan mungkin saja kakek cebol itu tadi telah berhasil merusak jenazah jika tidak dihalangi dan diserang oleh Sin Liong, maka kini mereka tidak berani turun tangan terhadap kakek itu yang sudah menawan Sin Liong.

Kakek cebol itu jelas mempunyai kepandaian tinggi, maka jika mereka nekat menyerang dan kakek itu mempergunakan tubuh Sin Liong sebagai senjata atau perisai, tentu anak itu yang akan kena pukulan.

"Ha-ha-ha-ha, dengarlah baik-baik, kalian keluarga dari Cia Keng Hong! Aku Ouwyang Bu Sek, mewakili keluarga Ouwyang dan kedatanganku tadinya ingin menagih hutang nyawa kepada Cia Keng Hong. Akan tetapi dia sudah mati dan dia menebus dosanya dengan menyerahkan cucunya ini kepadaku. Ha-ha, biarlah aku menerimanya dan hitung-hitung sudah lunas hutangnya kepada keluarga Ouwyang!" Setelah berkata demikian, kakek itu meloncat dan semua orang terkejut karena kakek itu ternyata dapat bergerak cepat bukan main, loncatannya membawa tubuhnya melayang jauh dan dia lalu melarikan diri sambil membawa Sin Liong.

Yap Kun Liong mengerutkan alisnya. "Ouwyang...? Ahh, kiranya keluarga dari dia si jahat itu...!"

Semua orang mendekati pendekar ini.

"Siapakah yang kau maksudkan, Yap twako?" tanya Bun Houw.

"Dahulu ada musuh besar ayahmu yang bernama Ban-tok Coa-ong Ouwyang Kok, salah seorang di antara datuk-datuk kaum sesat dari utara. Ouwyang Bu Sek tadi tentu masih keluarganya yang datang untuk membalas dendam," jawab Yap Kun Liong.

"Dan dia telah membawa pergi Sin Liong!" In Hong berkata dengan suara menyesal.

"Kita tidak mampu mencegahnya," kata pula Cia Giok Keng penasaran.

"Biarlah aku yang akan mengejarnya dan merampas kembali anak itu, ibu," kata Lie Seng dengan penuh semangat.

"Benar kata sute, biarlah aku membantunya. Kami tentu akan dapat merampas kembali anak itu, ayah!" kata Yap Mei Lan kepada ayahnya.

Yap Kun Liong menggeleng kepalanya dan mengerutkan alisnya. "Kukira tidak bijaksana itu. Merampas kembali anak itu dengan kekerasan bahkan mungkin akan membahayakan nyawa anak itu. Kurasa kakek cebol itu tidak akan membunuh anak itu, karena kalau dia berniat demikian, tentu tadi sudah dibunuhnya. Dia hanya ingin menggunakan Sin Liong tadi sebagai sandera supaya dia dapat lari dari sini dan mungkin dia hendak membalas dengan cara menculik anak itu supaya kita menjadi berduka. Dia tidak tahu bahwa anak itu bukan keluarga Cia, bukan cucu dari musuh besarnya."

Sekarang semua orang teringat betapa tadi Sin Liong berteriak supaya kakek itu jangan mengganggu jenazah kongkong-nya, jadi anak itu seolah-olah mengaku sebagai cucu Cia Keng Hong. Kakek cebol itu telah salah mengerti, mengira bahwa Sin Liong adalah cucu ketua Cin-ling-pai!

"Kalau begitu, biarkan sajalah," kata Bun Houw yang merasa tidak suka kepada anak itu. "Anak itu hanya mendatangkan sial belaka, bahkan urusan sampai berlarut-larut, keluarga kita terperosok ke dalam permusuhan pula, sampai-sampai ayah harus turun tangan dan menghadapi lawan, semua adalah gara-gara bocah itu. Biarlah, memang dia lebih pantas berdekatan dengan orang-orang macam kakek iblis tadi."

Semua orang tidak ada yang mau membantah, karena mereka pun tidak mengenal siapa sebenarnya Sin Liong, anak yang begitu disayang oleh mendiang Cia Keng Hong hingga ditarik sebagai muridnya. Mereka semua sama sekali tidak pernah menduga bahwa anak yang bernama Sin Liong itu oleh kakek Cia Keng Hong sudah dipilih untuk menjadi ahli warisnya dan telah diberi pelajaran dari seluruh ilmu yang dimilikinya, walau pun sebagian besar hanya baru dipelajari teorinya saja. Dan tentu saja mereka itu, terutama Bun Houw, tidak pernah mimpi bahwa anak itu adalah benar-benar cucu dari ayahnya, karena anak itu adalah anak kandungnya!

********************

Tag: Cerita Silat Online, Cersil, Kho Ping Hoo, Pedang Kayu Harum

Thanks for reading Pendekar Lembah Naga Jilid 18.

Back To Top