Cersil Online Karya Kho Ping Hoo

Pendekar Lembah Naga Jilid 33

Kun Liong yang sudah maklum akan kelihaian nenek bermuka hitam ini, begitu melihat si nenek menangkis pukulannya dengan tangan kirinya, sengaja dia mengadukan lengannya kemudian seketika itu pula dia mengerahkan tenaga Thi-khi I-beng! Memang ilmu ini tidak boleh sembarangan dipergunakan, tetapi menghadapi seorang tokoh besar selihai nenek ini, dia tidak ragu-ragu lagi untuk mempergunakannya.

"Dukkk!"

Dua lengan bertemu dan menempel ketat karena Kun Liong sudah menggunakan tenaga menyedot.

"Iihhh-heh-heh-heh…!" Hek-hiat Mo-li terkekeh.

Tiba-tiba Kun Liong merasa betapa kini tenaga yang seketika tadi membanjir dari nenek itu telah berhenti sama sekali dan sebaliknya jari-jari tangan berkuku panjang yang hitam dan mengeluarkan bau busuk telah menyerang dengan gerakan menggores ke arah nadi pergelangan tangannya! Inilah serangan berbahaya sekali maka terpaksa dia menyimpan tenaga Thi-khi I-beng dan menarik kembali lengannya!

Ternyata Ilmu Thi-khi I-beng telah dapat dipunahkan secara demikian mudah dan liciknya oleh nenek itu, yaitu dengan menyimpan sinkang dan menyerang tempat berbahaya yang berdekatan dengan bagian tubuh yang menempel! Memang selama ini nenek itu sudah mempelajari semua ilmu-ilmu para musuhnya yang lihai untuk mencari jalan menghadapi ilmu-ilmu itu, termasuk Ilmu Thi-khi I-beng yang ditakuti!

Sesudah tahu bahwa Thi-khi I-beng tidak akan dapat memenangkannya melawan nenek ini, Yap Kun Liong lalu bersilat dengan gaya yang aneh sekali dan inilah ilmu silat aneh yang didapatkannya dengan mengambil inti sari kitab Keng-lun Tai-pun ciptaan Bun Ong!

“Ahhh…! Ohhh…!”

Terdengar nenek itu berkali-kali berseru karena heran dan bingungnya menghadapi ilmu silat aneh ini yang memang tidak pernah dikenal di dunia kang-ouw, merupakan ilmu silat tunggal dari Kun Liong. Akan tetapi, nenek itu pun hebat bukan main. Meski pun semua serangannya gagal menghadapi perlawanan Kun Liong, namun dia pun selalu berhasil menghindarkan diri dari pukulan-pukulan ampuh pendekar itu.

Keanehan ilmu sitat Kun Liong memang kadang-kadang menghasilkan satu atau dua kali pukulan, akan tetapi semua pukulan yang mengandung hawa sinkang amat kuat itu tidak melukai tubuhnya yang dilindungi kekebalan yang luar biasa.

Sementara itu, pertandingan antara Cia Bun Houw melawan Kim Hong Liu-nio juga amat seru dan mati-matian. Akan tetapi, jelaslah bahwa tingkat Cia Bun Houw masih jauh lebih tinggi, terutama dalam kekuatan sinkang. Pendekar ini maklum bahwa lawannya sangat lihai dan mahir bermacam-macam ilmu silat, sehingga jika dia hanya mengandalkan ilmu silat, agaknya akan sulit baginya untuk memperoleh kemenangan. Maka, Bun Houw lebih mengandalkan tenaga Thian-te Sin-ciang yang sangat kuat dan memang benarlah, begitu dia mengerahkan seluruh tenaganya, Kim Hong Liu-nio tidak kuat menghadapinya dan hanya main mundur terus, sama sekali tidak berani mengadu lengan.

Kalau dilanjutkan pertempuran dua lawan dua itu, agaknya sudah dapat dipastikan bahwa Kim Hong Liu-nio akan roboh lebih dulu, dan kalau sudah demikian, tentu Hek-hiat Mo-li yang agaknya tidak akan mungkin dapat mengalahkan Yap Kun Liong itu pun akan celaka bila mana dikeroyok dua! Kim Hong Liu-nio bisa melihat kenyataan ini, maka dia segera berteriak memerintahkan pasukan untuk turut mengeroyok! Majulah seratus lebih prajurit itu mengepung dan mengeroyok Kun Liong dan Bun Houw.

"Bun Houw, marilah kita pergi!" Yap Kun Liong berseru nyaring karena mereka maklum bahwa dikeroyok demikian banyak orang amat berbahaya, apa lagi karena mereka tidak ingin membunuh para prajurit itu.

Keduanya lalu mengirim serangan yang dahsyat ke arah dua orang wanita itu, memaksa mereka itu mundur lantas menggunakan kesempatan itu untuk meloncat tinggi ke atas, melampaui kepala para pengeroyoknya dan mereka terus berloncatan pergi dari tempat itu memasuki hutan.

Pasukan itu mengejar sambil berteriak-teriak. Akan tetapi sekali ini dua orang pendekar itu memang sengaja hendak melarikan diri, maka tentu saja dengan ilmu berlari cepat, pasukan itu tidak mungkin sanggup menyusul mereka, sedangkan guru dan murid yang kalau mau dapat menyusul itu pun merasa jeri untuk menghadapi mereka berdua saja.

Dengan jalan memutari hutan itu, akhirnya dua orang pendekar ini pun dapat melakukan perjalanan secepatnya, bergegas menyusul isteri-isteri mereka menuju ke kota pelabuhan Yen-tai, tempat tinggal Souw Kwi Beng dan isterinya, Yap Mei Lan, puteri dari pendekar Yap Kun Liong.

********************

"Suheng, aku sute-mu Sin Liong datang menghadap!"

Sudah tiga kali Sin Liong berteriak sambil berdiri di depan goa-goa besar itu bersama Han Houw, namun belum juga ada jawaban. Seperti telah dijanjikannya, Sin Liong mengajak Han Houw mendaki ke puncak Bukit Tai-yun-san di sebelah selatan Propinsi Kwang-tung dan tiba di depan goa-goa puncak itu yang menjadi tempat tinggal suheng-nya atau lebih tepat gurunya, yaitu Ouwyang Bu Sek. Namun, sampai tiga kali dia berteriak, suheng-nya itu tidak pernah menjawab atau muncul.

"Jangan-jangan suheng-mu itu tidak berada di sini, sedang pergi," kata Han Houw dengan suara bernada kecewa.

"Dia pasti ada, Houw-ko, tadi aku sempat melihat bayangannya berkelebat ketika kita tiba di puncak."

"Kalau begitu, mengapa dia tidak keluar?" Han Houw bertanya heran, tidak enak dan juga sangat kagum bagaimana Sin Liong dapat melihat berkelebatnya bayangan itu sedangkan dia tidak.

Sin Liong kembali menghadap ke goa, mengerahkan khikang dan berseru dengan sangat nyaring, sampai gemanya terdengar dari empat penjuru, "Suheng Ouwyang Bu Sek! Aku Sin Liong datang untuk bicara dengan suheng, urusan penting sekali!"

Setelah gema suara itu lenyap, tiba-tiba terdengar suara dari... atas! Pangeran Ceng Han Houw terkejut dan memandang ke atas, akan tetapi tidak ada apa-apa di atas, meski pun dia berani bersumpah, bahwa suara itu memang terdengar dari atas, seakan-akan turun dari langit! Itulah ilmu mengirim suara dari jauh yang telah mencapai tingkat amat tinggi, sehingga dengan kekuatan khikang pemilik ilmu itu dapat mengirim suaranya dari mana pun.

"Sute, mau apa engkau bawa-bawa orang asing ke sini?"

Walau pun suara itu datangnya dari atas, namun Sin Liong tahu bahwa suheng-nya itu memang bersembunyi di dalam goa di depannya. Maka dia menjura ke arah goa itu dan berkata, "Suheng yang baik, dia ini bukanlah seorang asing, melainkan kakak angkatku bernama Ceng Han Houw! Keluarlah, suheng, dan mari kita bicara dengan baik."

"Kalau aku tidak mau keluar, kau mau apa?"

Sin Liong tidak merasa heran lagi dengan keanehan watak suheng-nya itu. Dia telah tahu bagaimana harus menanggulangi watak aneh itu, maka dengan suara dingin dia berkata, "Aku tidak mau apa-apa, hanya aku tahu bahwa suheng Ouwyang Bu Sek bukanlah orang yang berwatak bong-im-pwe-gi (orang tidak ingat budi)!"

Tiba-tiba nampak bayangan hitam berkelebat dan tahu-tahu di depan dua orang muda itu telah berdiri seorang kakek yang membuat Han Houw terkejut bukan kepalang. Kakek itu cebol dengan tubuh seperti kanak-kanak, akan tetapi kepalanya besar sekali dan botak, dan wajahnya yang sama sekali bukan kanak-kanak lagi, melainkan wajah seorang kakek tua renta yang amat lucu. Pakaiannya sederhana dan kedua kakinya telanjang.

Sekarang dengan sepasang matanya yang agak menjuling itu dia menghadapi Sin Liong sambil bertolak pinggang dan berkata penuh teguran, "Kalau engkau hendak mengatakan bahwa aku bong-im-pwe-gi, sungguh engkau terlalu sekali, sute! Hehh, satu kali engkau menyelamatkan aku dari tangan Sam-lo, apakah selamanya aku harus mengingat budi itu terus?"

"Maaf, suheng, bukan maksudku demikian. Akan tetapi aku sungguh ingin bertemu dan berbicara denganmu," kata Sin Liong sungguh-sungguh. Memang ucapannya tadi hanya dipergunakan untuk memancing keluar kakek cebol yang berwatak aneh ini, dan dia telah berhasil.

"Ho-ho, sejak dulu engkau pintar bicara. Mau apa kau ingin bertemu dengan aku? Ha-ha, bocah nakal, jangan kau bilang bahwa engkau merasa rindu kepada kakek buruk macam aku ini!" Ouwyang Bu Sek tertawa bergelak dan mulut yang terbuka lebar itu sudah tidak ada giginya sama sekali.

"Tidak, suheng, aku tidak rindu kepadamu." Sin Liong menjawab sejujurnya karena akan percuma saja membohongi suheng-nya ini. "Namun aku datang karena aku perlu sekali memperkenalkan kakak angkatku Ceng Han Houw ini kepada suheng."

Kini kakek itu menghadapi Han Houw, bertolak pinggang dan matanya yang menjuling itu memandang penuh perhatian. Dia melihat seorang pemuda remaja yang sangat tampan dan gagah, yang berdiri sambil menjura padanya, yang mempunyai sepasang mata amat tajam dan dari gerak-geriknya dia bisa menduga bahwa pemuda remaja ini tentu memiliki kepandaian yang lumayan.

"Hemmm, aku tidak suka kepadanya, dia terlalu tampan... hemm, dan dia she Ceng lagi, seperti she bangsawan istana raja! Mau apa kau bawa dia berjumpa denganku?"

"Suheng, karena dia ini adalah kakak angkatku, maka dengan sendirinya dia pun terhitung sute-mu sendiri. Houw-ko ingin sekali belajar ilmu yang tinggi di bawah pimpinan suheng."

"Wah, aku tidak mau menerima murid, apa lagi setampan ini!"

"Bukan murid suheng, melainkan sute-mu! Dia ingin belajar ilmu dari suhu kita."

"Ahh, mana bisa itu?, Sute, kenapa kau ceritakan tentang suhu...?"

"Ingat, suheng, dia ini kakak angkatku, bukan orang lain. Dan percayalah, dia ini seorang yang bercita-cita besar, malah lebih besar dari pada cita-citaku. Dia ingin menjadi orang terpandai di kolong langit, ingin menjadi jagoan nomor satu!"

"Uwah, mana bisa? Orang yang halus seperti ini mana tahan uji? Mana tahan derita? Aku tidak mau...!"

Sejak tadi Han Houw diam saja bukan karena dia tidak bisa bicara, melainkan karena dia mengikuti setiap gerak-gerik kakek itu dan mendengarkan setiap omongan, dan pangeran yang sangat cerdik ini sudah dapat menduga akan kelemahan dari kakek aneh ini, maka kini dialah yang berkata, "Locianpwe, menilai orang lain jangan melihat keadaan luarnya saja. Melihat keadaan luar locianpwe ini, siapa orangnya yang akan dapat menilai bahwa locianpwe memiliki ilmu kepandaian yang hebat? Demikian pula dengan aku, biar pun aku kelihatan begini, jangan dikira bahwa aku tidak tahan uji! Dan adikku Sin Liong ini sudah berjanji akan membawaku kepada locianpwe untuk diterima sebagai murid atau pun sute, terserah. Apa bila hal itu sampai tidak terlaksana, apakah bukan berarti bahwa locianpwe menjadi suheng dari orang yang tidak dapat memegang janji?"

Sejenak kakek itu tertegun, kemudian membanting kakinya yang kecil. "Wah-wah, kakak angkatmu ini malah lebih pintar lagi bicaranya dibandingkan engkau, sute! Dan lagaknya seperti dia ini seorang bangsawan tinggi saja! Apa artinya bagiku menjadi guru atau pun suheng dari seorang bangsawan kecil?"

Han Houw sudah dapat menduga isi hati kakek ini yang ternyata diam-diam merupakan seorang yang agaknya amat mengagungkan kedudukan tinggi, maka tanpa meragu lagi dia berkata, "Locianwe, harap jangan memandang rendah padaku! Aku memang seorang bangsawan tinggi karena aku adalah seorang pangeran, adik kaisar yang sekarang ini!"

Benar saja. Kakek itu undur dua langkah dan memandang dengan kedua mata terbelalak kepada pemuda tampan itu, lantas menoleh kepada Sin Liong dengan mata mengandung penuh pertanyaan.

Sin Liong mengangguk dan berkata, "Memang betul apa yang dikatakannya itu, suheng."

Sejenak kakek itu melongo, kemudian dia mengerutkan alisnya dan bertanya kepada Han Houw, suaranya kasar seolah-olah dia tidak tahu bahwa pemuda ini seorang pangeran!

"Hei, apa kamu bisa berdiri jungkir balik dengan kepala di bawah, kaki di atas dan kedua lengan bersedakap?"

Han Houw tersenyum mengejek. Matanya yang cerdik dapat menangkap kepura-puraan kakek itu yang agaknya tidak menghargai kedudukannya akan tetapi dia dapat menduga bahwa kakek itu sangat terkesan, dan kini hendak mengujinya.

"Apa sih sukarnya begitu saja?" katanya.

Dia memilih sebuah batu halus di depan goa, kemudian sekali menggerakkan kakinya, dia sudah berjungkir balik, dengan kepala yang bertopi itu di atas batu, dan kakinya di atas, kedua lengannya bersedakap.

"Hemm, jangan turunkan kaki sebelum kuperintahkan!" kata Ouwyang Bu Sek, kemudian dia menggandeng tangan Sin Liong. "Hayo sute, aku mau bicara denganmu!"

Keduanya lalu memasuki goa dan tidak nampak lagi, juga tidak terdengar suara mereka. Namun Han Houw yang berkemauan keras untuk memperoleh ilmu-ilmu tinggi sehingga akan terpenuhi cita-citanya menjadi jagoan nomor satu di dunia, tetap dalam keadaan jungkir balik, bahkan memejamkan matanya untuk memusatkan perhatian dan mematikan semua panca inderanya!

Ouwyang Bu Sek mengajak Sin Liong ke dalam goa dan di sini dengan suara berbisik agar jangan sampai terdengar oleh Han Houw, kakek cebol ini berkata kepada Sin Liong, "Hayo ceritakan siapa dia sebetulnya dan mengapa engkau bersusah payah membujukku untuk menerimanya sebagai murid, sute!"

Walau pun kadang-kadang dia merasa tidak cocok dengan watak Han Houw yang curang dan kejam, namun sesungguhnya Sin Liong merasa suka sekali kepada pangeran itu, apa lagi mengingat bahwa mereka sudah bersumpah mengangkat saudara. Maka sedikit pun juga dia tidak ingin menjerumuskan Han Houw ke dalam mala petaka dan sekarang pun dia masih ingin melindunginya, biar pun dia masih teingat apa yang pernah dilakukan oleh Han Houw terhadap Bi Cu untuk memaksanya. Oleh karena itulah pada saat ditanya oleh suheng-nya ini, dia masih hendak menutupi pemaksaan yang dilakukan oleh Han Houw dengan cara mengancam Bi Cu tempo hari.

"Kami memang sudah saling bersumpah mengangkat saudara, suheng, dan seperti telah diceritakannya tadi, dia adalah adik tiri seayah dengan sri baginda kaisar yang sekarang. Dia amat disayang oleh kaisar dan mempunyai kedudukan tinggi sekali di istana. Dia juga bercita-cita tinggi, ingin memiliki ilmu silat yang paling lihai, ingin menjadi jagoan nomor satu di dunia."

Wajah kakek itu berseri. "Engkau tidak membohongi aku, bukan sute? Kini aku sudah tua sekali, aku sudah tidak kuat lagi mengajarkan ilmu-ilmuku kepada seorang murld, engkau pun tahu akan hal ini, mengapa engkau memaksa dia berguru kepadaku di sini?"

"Aku bersumpah bahwa apa yang kuceritakan kepadamu tidak bohong, suheng. Dan aku pun tidak mengharapkan engkau berpayah-payah mengajarnya sendiri. Bagaimana kalau suheng mengajarkan ilmu-ilmu dari suhu kepadanya? Dia sudah kuceritakan tentang suhu Bu Beng Hud-couw, dan dia ingin sekali menjadi murid beliau."

Kakek itu nampak terkejut. "Hemm, ahhh, kau lancang, sute. Tidak mudah menjadi murid suhu, harus kulihat dulu orang itu..."

"Terserah kepada suheng, aku hanya telah berjanji membawanya ke sini untuk kemudian mempertemukannya dengan suheng dan agar suheng menerimanya."

"Nanti dulu..., bagaimana wataknya? Apakah dia seorang yang mengenal budi?"

Sin Liong berpikir sejenak lalu tanpa ragu-ragu lagi dia mengangguk. Dia mengenal watak pangeran itu. Memang Han Houw mengenal budi, sungguh pun agaknya juga tidak akan mudah melupakan kesalahan orang kepadanya. Pendeknya, pendendam dan pembayar budi yang kuat!

"Jangan khawatir, suheng. Dia seorang pangeran yang mengerti akan kedudukannya, dan dia tidak akan melupakan orang yang telah menolongnya."

Memang benar dugaan Sin Liong ini. Akan tetapi dia tidak tahu bahwa biar pun Han Houw suka membalas budi yang dilimpahkan kepadanya, akan tetapi dia lebih pendendam dan tidak akan pernah melupakan kesalahan orang kepadanya.

Watak seperti ini merupakan watak umum dari manusia! Agaknya kita akan cepat-cepat menolak dan membantah bila kita dikatakan berwatak seperti Pangeran Ceng Han Houw itu! Akan tetapi maukah kita membuka mata memandang diri sendiri dengan sejujurnya? Bukankah kita ini merupakan orang-orang yang ingin membalas budi orang lain namun di samping itu ingin pula membalas perbuatan orang lain terhadap kita yang kita anggap jahat dan merugikan?

Kita condong untuk membalas kebaikan orang dengan kebaikan yang lebih besar lagi, menghadapi keramahan orang dengan keramahan yang lebih besar lagi, namun kita pun ingin membalas kejahatan orang lain dengan kejahatan yang lebih merugikan lagi! Kalau kita diberi sejengkal kita ingin membalas sedepa, apa bila kita dicubit kita ingin balas memukul.

Tidakkah semua ini digerakkan oleh si aku yang ingin di atas selalu? Karena aku lebih dibaiki orang, aku ingin memperlihatkan bahwa aku lebih baik lagi dari dia, dari siapa pun juga. Pendeknya, agar dilihat bahwa akulah yang terbaik! Tetapi sebaliknya, kalau si aku diganggu, aku pula yang ingin membalas dengan gangguan yang lebih kejam lagi supaya hati yang mendendam, dan hati ialah si aku itu pula, menjadi puas. Si aku ingin selalu menang, ingin selalu serba lebih, tidak mau kalah baik, tidak pula mau kalah berani, biasanya si aku tidak mau menyebut lebih kejam, melainkan lebih berani!

Inilah sebabnya kenapa di antara saudara, di antara sahabat baik, di antara suami isteri, sering kali terjadi pertentangan dan percekcokan. Seribu satu kali kebaikan dari saudara, sahabat, suami atau isteri akan lenyap tanpa bekas oleh adanya sekali saja kesalahan! Pikiran ini, si aku ini, selalu mengejar kesenangan, maka apa yang menyenangkan aku, itulah baik, sebaliknya apa yang tidak menyenangkan aku, itu adalah buruk!

Apa bila setiap perbuatan didasari atas penilaian baik dan buruk yang pada hakekatnya adalah menyenangkan atau tidak menyenangkan aku, maka perbuatan yang berpusat pada diri sendiri itu sudah pasti akan menimbulkan pertentangan! Ini sudah jelas! Setelah kita membuka mata dan memandang dengan waspada dan kita dapat melihat semua ini, melihat berarti mengerti, mengerti berarti bertindak, apakah kita tidak dapat bebas dari penilaian baik buruk yang menimbulkan tindakan yang mengandung pertentangan ini?

Sesudah dia merasa yakin akan keadaan Ceng Han Houw, Ouwyang Bu Sek kemudian mengajak Sin Liong keluar.

"Sekarang kau boleh pergi, sute, apa bila engkau mau meninggalkan bocah itu di sini, terserah. Akan tetapi kalau ternyata dia tidak ada gunanya, maka dia akan kulemparkan ke dalam jurang!" kata kakek itu dengan lantang karena memang disengaja agar dapat didengar oleh Han Houw yang ternyata masih berdiri dengan jungkir balik di atas batu yang rata dan licin itu.

"Didik dia baik-baik, suheng, ingat, dia adalah kakak angkatku. Katakan kepada Houw-ko bahwa kelak kami akan dapat saling jumpa lagi. Selamat tinggal, suheng."

"Selamat jalan, sute."

Ceng Han Houw mendengar ini semua akan tetapi dia diam saja, tidak membuka kedua matanya. Dia maklum bahwa kakek cebol itu sedang mengujinya, maka dia pun hendak memperlihatkan bahwa dia merupakan seorang calon murid yang baik!

Bagi orang yang belum pernah berlatih ilmu silat tinggi, berdiri berjungkir balik seperti itu tentu saja merupakan siksaan, bahkan tidak mungkin dapat bertahan sampai lama. Akan tetapi, Han Houw adalah murid Hek-hiat Mo-li, sudah mempunyai kepandaian yang cukup tinggi, sehingga berdiri jungkir balik seperti itu hanya merupakan permainan kanak-kanak saja baginya.

Dia mendengar semua percakapan antara adik angkatnya dan kakek itu sesudah mereka keluar dari dalam goa, juga mendengar langkah kaki Sin Liong pergi dari situ. Kemudian dia dapat mendengar kakek itu pergi pula meninggalkan tempat itu sehingga keadaan di sekeliling tempat itu sunyi sekali.

Han Houw masih tetap berdiri jungkir balik. Sejam, dua jam, tiga, empat, lima jam! Celaka, pikirnya. Apa bila hanya berjungkir balik seperti itu sampai beberapa jam saja dia masih kuat, akan tetapi kalau terus dilanjutkan tanpa ada ketentuan kapan kembalinya kakek itu, benar-benar merupakan siksaan hebat. Celaka! Dia merasa serba salah!

Jika terus berjungkir balik seperti itu, setelah lewat lima jam kepalanya mulai pening dan terutama sekali lehernya mulai terasa pegal-pegal dan lelah. Akan tetapi kalau menyudahi jungkir balik itu dan menurunkan kaki, tentunya akan disalahkan oleh kakek cebol tadi. Ini merupakan ujian!

Bukankah kakek cebol tadi sudah mengatakan bahwa dia tidak boleh menurunkan kedua kakinya sebelum diperintah oleh si kakek itu? Dan sekarang kakek itu tak pernah muncul! Agaknya hendak menyiksanya atau mempermainkan, atau bisa juga menjebaknya. Kalau dia menurunkan kakinya, tentu si kakek itu akan muncul dan menyatakan bahwa dia tidak memenuhi syarat sebagai murid! Celaka, kakek cebol itu sungguh sadis!

Han Houw mempertahankan diri, memejamkan mata dan menutup panca inderanya untuk melakukan ujian itu sekuatnya. Kembali waktu merayap lewat dengan sangat melelahkan. Hari sudah menjadi gelap! Sungguh pun dia tidak membuka mata, akan tetapi dia dapat merasakan perbedaan antara terang dan gelap dari balik pelupuk matanya. Kini hari telah menjadi gelap dan kakek itu masih juga belum datang membebaskannya!

Bukan main hebatnya penderitaan yang dirasakan oleh Han Houw pada saat-saat itu. Dan malam terus merayap tanpa ada perubahan pada dirinya. Dia merasa betapa kepalanya sudah menjadi besar, sebesar gantang, sebesar kepala kakek cebol itu! Bermacam warna menari-nari di depan matanya. Kedua pundak dan lehernya seperti sudah berubah menjadi batu, kaku dan tidak dapat merasakan apa-apa lagi!

Celaka, akan matikah dia? Tetapi, Han Houw adalah seorang pemuda yang sangat keras hati dan penuh semangat, terlebih lagi di dalam mengejar ilmu yang dicita-citakannya ini. Dia berkeras tidak akan menyerah sebelum tubuhnya yang menyerah dan roboh dengan sendirinya! Maka dikeraskanlah hatinya dan dia terus berjungkir balik seperti itu sampai semalam suntuk lewat!

Menjelang pagi, dengan hati penuh dendam Han Houw sudah membayangkan kakek itu sebagai iblis jahat yang sengaja menyiksanya. Berbagai umpat caci dan kutuk memenuhi benaknya, dilontarkan kepada penyiksanya. Namun mulutnya tetap terkatup dan kedua matanya terus terpejam. Setelah matanya yang terpejam kembali melihat cahaya di luar pelupuk matanya, akhirnya telinganya mendengar langkah kaki dan tahulah dia bahwa kaki telanjang kakek botak cebol itulah yang mendekatinya lalu terdengar suara kakek itu mengomel.

"Masih bertahan juga? Hemmm, menjemukan benar anak ini! Namun aku masih belum memerintahkanmu untuk menurunkan kaki, dan coba sekarang kau taati perintahku. Nah, kau tahan pernapasanmu sesudah menyedot sebanyak mungkin hawa, kemudian dorong hawa itu ke pusar, lalu tarik naik ke kepala, ya... ya... teruskan lagi...!"

"Brukkkk!"

Tubuh Han Houw terguling bagaikan sebatang balok, kepalanya terasa nyeri bukan main, terputar-putar rasanya hingga matanya berkunang-kunang, seluruh bagian atas tubuhnya nyeri semua!

"Ha-ha-ha, heh-heh-heh, engkau kena kuakali! Ha-ha, bagaimana rasanya? Sakit? Hayo katakan, apakah engkau masih ingin belajar dari aku? Akan kuajarkan lain ilmu yang lebih menyakitkan lagi! Hayo katakan, masih terus ingin belajar?"

Han Houw memejamkan kedua matanya, berusaha mengusir kepeningan yang membuat kepalanya seperti dipukuli palu besar, dan dadanya sesak. Namun dia mempertahankan, bahkan menekan semua ini, lalu dia bangkit duduk dan menjawab,

"Aku masih ingin belajar dari locianpwe, biar sampai mati pun aku tidak gentar!"

Diam-diam Ouwyang Bu Sek merasa heran dan juga girang. Tadinya dia tidak percaya bahwa seorang pangeran akan sanggup bertahan menghadapi siksaan seperti itu. Akan tetapi ternyata anak ini keras hati, tidak kalah dibandingkan dengan Sin Liong!

"Engkau benar-benar ingin belajar?" tanyanya, mulai merasa kalah.

"Benar, locianpwe."

"Dan engkau mau membayarku dengan selaksa tail perak?"

"Hal itu mudah dilaksanakan."

"Bagaimana kalau membayarku dengan kedudukan yang tinggi di kota raja?"

"Kedudukan yang tinggi sudah sepantasnya bagi locianpwe yang berilmu tinggi. Apa bila memang dikehendaki, tentu dapat kulaksanakan pula."

Tiba-tiba kakek itu tertawa dan merasa sudah cukup menguji. Memang dia telah menguji pangeran ini dan andai kata pangeran itu tidak memuaskan hatinya, bukan hal yang tak mungkin kalau dia melaksanakan kata-katanya di depan Sin Liong kemarin, yaitu hendak melemparkan pemuda ini ke dalam jurang! Akan tetapi, sikap Han Houw yang demikian keras hati, tahan uji, dan juga janji-janji yang diberikan oleh pangeran ini kepadanya telah membuat hatinya puas sekali.

Dia membandingkan pemuda ini dengan Sin Liong dan menganggap bahwa pangeran ini malah lebih baik, lebih berguna baginya dari pada sute-nya itu! Kakek ini sama sekali tidak pernah menduga bahwa terdapat perbedaan besar sekali antara Sin Liong dan Han Houw.

Sin Liong memiliki kesederhanaan wajar dan juga memiliki kejujuran, namun sebaliknya, pangeran ini angkuh dan tidak pernah mau kalah oleh siapa pun juga, di samping itu, juga di sudut hatinya terkandung kekejaman dan kebuasan, akan tetapi semua itu ditutup oleh sikapnya yang ramah dan ini membuktikan betapa cerdik dan berbahaya dia.

Di lubuk hatinya, Han Houw merasa sakit hati dan benci sekali terhadap kakek ini yang bukan hanya sudah mempermainkannya, bahkan sudah menyakitinya dan menyiksanya. Namun kebenciannya itu sedikit pun tidak nampak pada wajahnya yang tampan!

"Heh-heh-heh, baik, baiklah! Engkau akan menjadi muridku, pangeran. Ha-ha-ha!" Sambil berkata demikian tangannya bergerak.

Han Houw merasa betapa leher dan punggungnya tertotok kemudian kesehatannya pulih kembali, peningnya lenyap, bahkan dia merasakan sesuatu kenyamanan yang aneh pada tubuhnya.

"Tubuhku terasa nyaman sekali, locianpwe!"

"Tentu saja, heh-heh-heh. Apa kau kira jungkir balik hampir sehari semalam itu tidak ada gunanya?"

Han Houw merasa tidak puas pada waktu kakek itu menyatakan bahwa dia akan menjadi muridnya. Bukan itu yang dikehendakinya. Dia harus dapat menjadi murid guru mereka, yaitu Bu Beng Hud-couw! Akan tetapi Han Houw amat cerdik, maka dia tidak menyatakan hal ini secara berterang, takut kalau-kalau kakek itu menjadi tidak senang hatinya.

"Locianpwe, aku adalah seorang pangeran dan juga kakak dari Liong-te, akan tetapi ilmu silatku kalah jauh apa bila dibandingkan dengan dia. Mana mungkin aku dapat memenuhi cita-citaku sebagai jagoan silat nomor satu di dunia ini kalau oleh adik angkatku sendiri saja aku masih kalah lihai!"

"Ha-ha-ha! Heh-heh! Tentu saja engkau tak akan menang melawan sute, sedangkan aku sendiri pun tidak akan mampu mengalahkannya!"

Han Houw mengerutkan alisnya, lalu menggeleng-geleng kepalanya dan seperti berbicara kepada diri sendiri, "Aihhh, pantas... pantas... Liong-te kadang-kadang besar kepala dan menyombongkan kepandaiannya! Ternyata dia demikian lihai sehingga locianpwe sendiri yang menjadi suheng-nya masih kalah lihai olehnya! Sungguh penasaran dan sukar untuk dipercaya bagaimana seorang suheng yang menurut Liong-te bahkan sudah membimbing dirinya dapat dikalahkan oleh sute sendiri yang dibimbingnya ini!"

"Aha, mana kau tahu, pangeran? Memang benar aku yang telah membimbingnya, akan tetapi kalau aku menjadi murid suhu hanya berhasil menafsirkan isi kitab-kitab suhu saja, sebaliknya sute telah melatih ilmu-ilmu yang amat sukar itu."

"Maksud locianpwe, gurunya dan guru locianpwe yang bernama Bu Beng Hud-couw?"

"Ha, engkau sudah tahu?"

"Liong-te pernah menceritakan kepadaku, bahkan Liong-te yang merasa paling pandai itu menyombongkan diri mengatakan bahwa sesudah dia mempelajari semua kitab dari Bu Beng Hud-couw, jangankan hanya locianpwe yang menjadi suheng-nya, meski Bu Beng Hud-couw sendiri tidak akan mampu menandinginya!"

"Omong kosong! Sombong dia!" kakek itu membentak marah dan diam-diam Han Houw merasa girang bahwa dia mulai berhasil membakar hati kakek aneh ini.

"Dan buktinya locianpwe mengaku sendiri tidak mampu menandinginya!"

"Memang benar karena aku tidak mempelajari ilmu-ilmu itu, akan tetapi akulah yang telah membimbingnya, dan mana mungkin dia dapat menandingi suhu? Berani benar dia bicara seperti itu!"

"Jalan satu-satunya bagi locianpwe adalah mempelajari sendiri kitab-kitab itu, kemudian menunjukkan bahwa tidak benar locianpwe sebagai suheng-nya kalah oleh sute-nya!"

Kakek itu menarik napas panjang, lalu duduk di atas tanah, kelihatan makin pendek dan sepasang matanya makin menjuling, wajahnya kelihatan berduka.

"Tidak mungkin... aku telah terlalu tua untuk mempelajari..."

"Jika begitu, tentu Liong-te akan tetap menyombongkan diri ke mana-mana, mengabarkan kepada seluruh dunia kang-ouw bahwa suheng-nya yang sakti, yang sangat terkenal dan bernama Ouwyang Bu Sek itu, juga suhu-nya yang maha sakti Bu Beng Hud-couw tidak akan mampu menandinginya."

"Tidak boleh... ini sama sekali tidak boleh dan harus dicegah!" Kakek yang sudah panas hatinya itu sekarang meloncat dan berjingkrak bagai cacing terkena abu panas, mukanya kemerahan dan dia sudah menjadi marah sekali.

"Sebaiknya dilaporkan saja kepada locianpwe Bu Beng Hud-couw." Han Houw memancing karena dia ingin sekali dapat berjumpa dengan manusia dewa yang ilmu-ilmunya sudah dipelajari oleh adik angkatnya itu.

"Tidak bisa... tidak mungkin... beliau tidak mungkin mau mengurus keramaian dunia... ah, tidak mungkin itu."

"Kalau begitu, masih ada satu jalan lain untuk menundukkan kesombongan Liong-te dan mencuci bersih nama baik locianpwe dan nama baik Bu Beng Hud-couw."

"Ehh? Kau ada jalan, pangeran? Bagaimana?"

"Biarlah aku yang mempelajari ilmu-ilmu dari locianpwe Bu Beng Hud-couw, dan akulah yang akan mewakili locianpwe dan Bu Beng Hud-couw untuk mengalahkan dia!"

Wajah kakek itu berseri, akan tetapi hanya sebentar. "Hemm, tetapi kitab-kitab itu sudah kubakar..., sungguh pun masih ada kitab-kitab yang belum pernah dipelajari orang, akan tetapi... ahhh, kurasa tidaklah mudah mempelajari kitab-kitab itu... dan memang sute Sin Liong lihai sekali..."

"Ilmu apakah yang telah dipelajarinya dari kitab Bu Beng Hud-couw?"

"Hanya tiga belas jurus Hok-mo Cap-sha-ciang, akan tetapi ilmu ini hebat bukan main dan sukar dikalahkan."

"Bukankah dahulu locianpwe yang membimbingnya? Tentu locianpwe dapat mengajarkan kepadaku, dan aku akan berlatih sebaik mungkin agar dapat mengatasi Liong-te."

Kembali kakek itu menggeleng kepalanya. "Tidak mungkin... kitab-kitab itu sudah kubakar dan aku tidak hafal semua isinya, hanya sebagian saja dan tentu tidak cukup untuk dilatih sempurna dan tidak akan dapat mengalahkan dia."

Akan tetapi Han Houw tidak putus asa. Dia tahu bahwa kakek di depannya ini lihai bukan main, mungkin lebih lihai dari pada suci-nya atau subo-nya, akan tetapi kalau dia hanya menerima bimbingan dari kakek ini tentu tidak akan dapat mengalahkan Sin Liong! Dia harus mempelajari ilmu-ilmu dari Bu Beng Hud-couw!

"Locianpwe, bagaimana kalau aku mempelajari kitab-kitab yang lain itu?"

"Wah, sulit sekali... sulit sekali... baru menafsirkan isinya saja aku sendiri sudah pening. Tulisan-tulisan kuno itu sukar sekali dan aku..."

"Harap locianpwe tidak memandang rendah kepadaku. Semenjak kecil aku hidup di istana yang penuh dengan simpanan tulisan-tulisan kuno dan aku pun telah banyak mempelajari isinya. Barang kali aku dapat membantu locianpwe, kemudian aku melatih ilmu-ilmu itu di bawah bimbingan locianpwe."

Kakek itu berseru girang. "Benarkah itu? Wah, kalau begitu engkau lebih hebat dari Sin Liong, pangeran! Hayo, kita melakukan upacara pengangkatan guru dan engkau menjadi sute-ku pula, jangan banyak membuang waktu!"

Bukan main girangnya hati Han Houw. Dia sudah berhasil! Maka dengan taat dia segera mengikuti kakek itu memasuki sebuah goa besar yang gelap. Goa ini berbeda dengan goa di mana dulu kakek itu membawa Sin Liong masuk. Memang, dia selalu memindah-mindahkan kitab-kitab pusaka yang disembunyikannya.

"Berlututlah, sute, dan ikuti kata-kataku."

Han Houw berlutut di samping kakek itu, menghadap ke dalam goa. Dia mencoba untuk menembus kegelapan itu dengan matanya, akan tetapi dia tidak melihat apa-apa, hanya melihat dinding batu yang gelap. Namun, tiba-tiba dia merasa bulu tengkuknya meremang dan dia merasa seram sekali, seolah-olah ada hawa aneh berada di dalam goa itu, maka cepat-cepat dia pun mengikuti kakak seperguruan yang aneh ini memberi hormat dengan berlutut delapan kali dan menirukan kata-kata sumpah yang diucapkan oleh Ouwyang Bu Sek.

"Teecu (murid) bersumpah untuk mempelaiari ilmu-ilmu dari kitab-kitab pusaka suhu Bu Beng Hud-couw dengan tekun dan mempergunakan ilmu-ilmu itu untuk menjunjung tinggi nama suhu, dan tidak akan menurunkan kepada siapa pun tanpa ijin dari suhu."

Demikianlah, Han Houw mengucapkan sumpah tanpa dia mengerti isinya. Apakah artinya ‘menjunjung tinggi nama suhu’ itu? Dan kalau dia tidak akan pernah bertemu dengan Bu Beng Hud-couw, bagaimana mungkin dia bisa memperoleh ijin suhu itu apa bila hendak menurunkan ilmu-ilmu itu kepada orang lain? Akan tetapi dia tidak peduli akan ini semua karena hatinya berdebar girang akibat usahanya sudah hampir berhasil.

Kakek itu lalu mengeluarkan sebuah peti hitam setelah dia melumuri tangan, muka dan leher juga kakinya, pendeknya semua bagian tubuh yang nampak, juga tubuh Han Houw yang tidak tertutup pakaian, dengan bubuk putih.

"Racun yang dioleskan pada peti ini dapat membunuh seketika apa bila tersentuh tangan yang tidak memakai obat penawar ini, pangeran," kata kakek itu dan Han Houw bergidik ngeri.

Diam-diam dia memperhatikan bahwa biar pun dia telah bersumpah menjadi murid Bu Beng Hud-couw, berarti dia sudah menjadi sute dari kakek ini, Ouwyang Bu Sek masih tetap menyebutnya ‘pangeran’, hal ini berarti bahwa kakek ini tetap menghargainya dan tentu mempunyai pamrih dalam cara sebutan yang menjilat itu!

Ouwyang Bu Sek membuka tutup peti, maka muncullah seekor ular merah. Han Houw mengenal jenis ular yang sangat berbisa. Ular macam ini jarang ada, dan di daerah utara memang kadang-kadang muncul ular seperti ini, akan tetapi kemunculannya tentu selalu menggemparkan karena mengakibatkan banyak manusia atau binatang lain yang jauh lebih besar, mati berserakan di mana ular itu muncul!

"Kim-coa-ko, tenanglah, aku hendak mengambil tiga kitab terakhir itu," kata Ouwyang Bu Sek dan sesudah ‘berdiri’ dan menggerak-gerakkan kepalanya, ular itu lalu melingkar lagi seperti tidur.

Ouwyang Bu Sek mengambil tiga buah kitab kuno yang lapuk dari dalam peti, kemudian dia menutupkan kembali petinya. Di bagian belakang peti itu telah diberinya lubang kecil sehingga ular itu sewaktu-waktu dapat keluar kalau lapar, untuk mencari makanan. Akan tetapi, biar pun peti itu sudah kosong, dia tidak mau membuangnya, membiarkan peti itu di sana agar kelak kalau ada orang yang hendak mencuri kitab, hanya akan menemukan peti kosong yang mengandung racun, ditambah lagi penjaganya yang amat berbahaya itu! Mereka lalu keluar membawa tiga buah kitab itu.

"Pangeran, tiga buah kitab inilah yang masih belum selesai kuterjemahkan. Kalau engkau mampu membantuku, kemudian kau latih isinya, hemm, engkau tentu akan mendapatkan ilmu-ilmu aneh yang tidak kalah oleh Hok-mo Cap-sha-ciang yang dikuasai oleh sute Sin Liong."

Han Houw menyembunyikan kegembiraan hatinya. "Akan kucoba, suheng. Akan tetapi, apakah hanyalah ini sisa kitab dari suhu? Bukankah peti itu besar sekali dan baru sebuah kitab saja yang diambil untuk Liong-te?"

"Bukan hanya sebuah, melainkan sute Sin Liong juga mempelajari hingga tiga buah kitab. Sedangkan kitab-kitab lain... ahh, yang tiga ini saja sudah cukup, pangeran. Kalau terlalu banyak, kita tak akan mempunyai waktu, selain melatihnya, juga harus mentafsirkannya. Ini saja kalau sudah kau kuasai dengan baik, agaknya akan sukar engkau mencari orang yang akan mampu menandingimu."

"Akan tetapi, tentu masih ada kitab-kitab lainnya itu, bukan suheng? Kita adalah saudara seperguruan, tentu suheng percaya kepadaku, bukan?"

"Tentu saja! Ada kitab-kitab itu, dan kusimpan baik-baik agar jangan sampai diambil oleh orang yang tidak berhak. Jangan khawatir, kalau memang kelak engkau masih ada waktu, engkau dapat saja menambah ilmumu dari kitab-kitab yang lain itu, pangeran."

Han Houw tidak berani mendesak lagi, takut kalau-kalau kakek itu curiga lantas menjadi tidak suka kepadanya. Dia membuka-buka lembaran kitab-kitab itu dan mulai hari itu juga, bersama Ouwyang Bu Sek, Han Houw mulai membantu suheng-nya itu menyelesaikan penterjemahan.

Dan memang Han Houw tidak membobong atau membual ketika dia mengatakan bahwa dia sanggup membantu tadi. Bahasa yang dipergunakan dalam kitab itu adalah bahasa kuno, dan bahasa suku pedalaman di utara masih dekat dengan bahasa ini sehingga Han Houw yang sejak kecil banyak mempelajari bahasa-bahasa itu di utara, benar saja dapat membantu banyak sehingga menggirangkan hati Ouwyang Bu Sek.

Mulailah Pangeran Ceng Han Houw mempelajari ilmu-ilmu silat aneh-aneh dari tiga buah kitab itu di bawah bimbingan Ouwyang Bu Sek. Pangeran ini sangat tekun. Memang dia keras hati dan besar keinginannya untuk menjadi jagoan nomor satu di dunia, di samping memang dia berbakat baik sehingga makin sukalah Ouwyang Bu Sek kepada pangeran ini.

Hampir tidak ada waktu yang terluang begitu saja oleh Han Houw, selalu diisinya dengan berlatih silat menurut kitab itu atau berlatih sinkang menurut petunjuk kitab pula. Secara kebetulan sekali, di dalam kitab itu terdapat pula pelajaran semacam yoga dari India yang mengharuskan dia berjungkir balik seperti yang dilakukannya pada hari pertama ketika diuji oleh Ouwyang Bu Sek, maka kini sering kali pemuda bangsawan ini berdiri dengan kaki di atas kepala di bawah, kadang-kadang dia sanggup berlatih seperti ini sampai tiga hari tiga malam! Kemajuan yang diperolehnya pesat sekali.

********************

cerita silat online karya kho ping hoo serial pedang kayu harum

Harap-harap cemas memenuhi hati Lie Seng pada saat pemuda itu memasuki hutan itu. Hari itu sudah diperhitungkannya benar-benar, bahkan semenjak setahun yang lalu, boleh dibilang setiap saat dia menghitung hari. Dia tidak akan salah hitung.

Hari itu adalah genap satu tahun dari janjinya dengan Sun Eng untuk saling berjumpa di hutan itu! Hitungannya tidak akan keliru, akan tetapi bagaimana kalau wanita itu yang lupa akan hari itu, keliru hitung, atau lebih celaka lagi kalau... telah lupa kepadanya?

Ahh, tidak mungkin! Dia yakin akan cinta kasih dalam hati Sun Eng terhadap dirinya. Dan dia lebih yakin lagi akan cinta kasih di dalam hatinya terhadap gadis itu. Dia sadar bahwa Sun Eng bukanlah seorang gadis lagi, bukan seorang perawan melainkan seorang wanita yang sudah banyak melakukan penyelewengan dalam hidupnya sehingga sudah banyak mengalami penderitaan batin.

Kenyataan ini bukan membuat muak atau membenci, sebaliknya malah, semakin diingat akan semua penderitaan yang dialami gadis itu, makin besar pula rasa belas kasih dalam hatinya terhadap Sun Eng, dan belas kasih ini agaknya memperdalam cintanya. Dia harus melindungi Sun Eng, harus menuntunnya dan menunjukkan bahwa hidup tidaklah seburuk yang pernah dialaminya, bahwa tidak semua laki-laki yang mendekatinya hanya mengaku cinta semata-mata untuk menikmati tubuhnya belaka!

Pagi hari itu amat cerah, bahkan sinar matahari pagi yang berkilauan berhasil menerobos masuk ke dalam hutan, melewati celah-celah daun pohon. Pagi yang cerah, secerah hati yang penuh harapan itu, penuh keyakinan dan penuh cinta!

Dengan langkah ringan Lie Seng menuju ke tempat di mana pada setahun yang lalu dia bertemu dan mencurahkan kasih sayang dengan Sun Eng, kemudian membuat janji untuk saling bertemu pula di situ setahun kemudian. Ini adalah kehendak Sun Eng, gadis yang merasa rendah diri itu, yang masih juga belum percaya benar bahwa orang seperti Lie Seng dapat mencinta gadis yang pernah menyeleweng seperti Sun Eng!

Ahh, kerendahan hati ini amat mengharukan hati Lie Seng. Itu saja sudah menjadi tanda betapa Sun Eng sudah menyesali semua perbuatannya dan orang yang telah menyesali semua perbuatannya jauh lebih baik dari pada orang yang selalu membanggakan semua perbuatannya sebagai orang yang bersih! Sun Eng minta waktu setahun untuk menguji perasaan kasih sayang di antara mereka, pertama karena merasa rendah diri, ke dua mungkin untuk menguji Lie Seng setelah berulang kali dia dikecewakan oleh kaum pria.

Akan tetapi kecerahan pada pagi itu tetap saja tak dapat mengusir bayang-bayang hitam gelap yang diciptakan oleh pohon-pohon yang rindang daunnya. Bayang-bayang panjang yang rebah ke barat. Bayangan-bayangan gelap berupa kecemasan juga mengganggu kegembiraan hati Lie Seng. Dia cemas dan gelisah membayangkan bagaimana kalau Sun Eng sampai tidak datang! Ke mana dia harus mencari gadis itu? Dia merasa cemas sekali membayangkan ini sehingga kini kakinya yang melangkah terasa amat berat.

Akhirnya tibalah dia di depan pohon. Dia tak pernah melupakan pohon itu dan huruf-huruf yang setahun lalu diukirnya pada batang pohon itu masih ada! Akan tetapi, Sun Eng tidak ada! Dia memandang ke sekeliling, lalu duduk di atas akar pohon itu. Mungkin dia datang terlalu pagi! Dan hatinya mulai cemas.

Mengapa dia begitu bodoh ketika dahulu mereka saling berjanji? Mengapa yang dijanjikan hanya harinya saja, ada pun jamnya tidak dijanjikan? Bagaimana bila Sun Eng baru akan datang pada sore hari nanti? Tidak apa! Dia akan menanti, biar pun sampai sore, bahkan sampai malam sekali pun! Dia sudah bertahan menanti selama setahun, dan apa artinya ditambah sehari atau dua hari?

Lie Seng lalu duduk termenung di bawah pohon itu. Dia merenungi perjalanan hidupnya, terutama sekali mengenai cintanya dengan Sun Eng. Usianya kini sudah dua puluh tujuh tahun, sudah cukup dewasa. Akan tetapi, selama ini belum pernah dia jatuh cinta kepada seorang wanita.

Hatinya selalu merasa dingin terhadap wanita, dan dia seakan-akan merasa ngeri kalau memikirkan pernikahan. Mungkin karena dia melihat begitu banyak kepahitan yang terjadi dalam kehidupan rumah tangga, banyak peristiwa menyedihkan yang terjadi akibat cinta dan pernikahan.

Dia melihat atau mendengar tentang kehidupan paman Yap Kun Liong, tentang kehidupan ibunya sendiri yang kini menjadi isteri paman Yap Kun Liong, melihat akibat cinta kasih dari pamannya yang lain, adik kandung ibunya, yaitu Cia Bun Houw.

Banyak sudah dia mendengar mengenai kegagalan cinta dan rumah tangga dan mungkin hal-hal inilah yang mendatangkan kesan mendalam hingga dia merasa ngeri untuk jatuh cinta dan menikah. Akan tetapi sungguh luar biasa, begitu dia bertemu dengan Sun Eng seketika dia jatuh cinta! Bahkan sesudah mendengar penuturan gadis itu tentang riwayat Sun Eng yang tidak harum, cintanya bahkan makin mendalam!

Bagi orang yang sedang menantikan sesuatu, waktu berjalan melebihi lambatnya seekor siput merayap. Terlampau lama waktu merayap, seolah-olah tidak pernah maju! Memang demikianlah anehnya waktu. Kalau dilupakan, dia meluncur seperti pesatnya anak panah dilepas dari busur, sebaiknya kalau diperhatikan, dia merayap sangat lambat!

Tentu saja bukan sang waktu yang bertingkah seperti ini, melainkan sang pikiran! Pikiran selalu menginginkan hal-hal yang lain dari pada apa yang ada, sehingga apa yang ada itu selalu nampak tidak menyenangkan, selalu berlawanan dengan apa yang dikehendaki agar waktu segera berlalu dan dia dapat bertemu dengan yang dinantikannya itu secepat mungkin, dan tentu saja, kenyataan yang ada sangat berlawanan dengan keinginannya sehingga terasa amat menyiksa. Konflik batin memang selalu menyiksa diri!

Lie Seng merasa sangat tersiksa. Sampai siang dia menanti, waktu merayap terus dan yang dinanti-nantinya belum juga muncul! Dia sampai lupa akan waktu, tidak sadar bahwa hari telah siang, hanya dia merasakan betapa lamanya sudah dia menanti. Serasa sudah bertahun-tahun! Waktu dari pagi sampai siang itu bahkan dirasakannya lebih menyiksa, lebih lama dari pada waktu setahun yang telah lalu!

Namun dia masih terus menanti di bawah pohon itu. Bayang-bayang pohon yang tadinya panjang rebah ke barat itu kini menjadi semakin pendek, sampai kemudian hanya berada di bawah pohon, tanda bahwa matahari telah berada di atas benar. Kini perlahan-lahan, bayangan pohon itu menggeser ke timur dan matahari pun mulai turun ke barat. Sebentar lagi, senja pun tibalah!

Lie Seng sudah tidak sabar lagi. Jangan-jangan Sun Eng lupa, atau salah hitung! Mungkin besok dia baru datang! Jangan-jangan... tiba-tiba saja Lie Seng menjadi pucat dan cepat dia menggoyang kepalanya membantahnya sendiri. Tidak, tidak ada apa-apa yang buruk terjadi atas diri wanita yang dikasihinya itu. Atau mungkin sengaja tidak mau datang?

Bermacam bayangan pikiran inilah yang menyiksa batin Lie Seng, membuatnya semakin gelisah hingga akhirnya dia tidak kuat bertahan lagi. Dia bangkit berdiri, dan mulailah dia berjalan-jalan, mula-mula hanya di bawah pohon, mengelilingi batang pohon, kemudian semakin menjauh seakan-akan dia hendak mencari Sun Eng di antara semak-semak dan pohon-pohon.

Mendadak dia mendengar suara isak tangis di sebelah kiri. Cepat Lie Seng meloncat ke arah suara itu dan bukan main kagetnya ketika dia melihat seorang wanita duduk di atas rumput di balik semak-semak sambil menangis, menutupi muka dengan dua tangannya, terisak-isak.

"Eng-moi...!" Dia meloncat, menubruk dan merangkul.

Akan tetapi Sun Eng terus menangis, bahkan kini mengguguk dalam rangkulan pemuda itu.

"Eng-moi, ada apakah? Apa yang terjadi? Kenapa engkau di sini dan bersembunyi, dan menangis?"

Akan tetapi Sun Eng tidak mampu menjawab, tangisnya makin mengguguk membuatnya tidak mungkin bicara, hanya kedua lengannya balas merangkul leher pemuda itu dan dia menyusupkan muka di dada yang bidang itu. Lie Seng mengelus rambut itu, membiarkan Sun Eng menangis karena dia pun maklum bahwa dalam keadaan seperti itu tak mungkin bagi gadis itu untuk bicara. Akhirnya Sun Eng mulai dapat menguasai hatinya, tangisnya mereda.

Lie Seng mengangkat muka yang basah itu, lalu menggunakan sapu tangan mengusap air mata yang membasahi pipi, kemudian dia mencium dahi yang halus putih itu dengan sepenuh hatinya. Hati yang lega seperti bunga kering tertimpa tetesan embun setelah dia bertemu dengan orang yang dinanti-nantinya sejak pagi tadi dengan gelisah.

"Nah, sekarang hentikanlah tangismu dan ceritakan mengapa engkau bersembunyi di sini dan mengapa engkau menangis?"

"Aku... aku tidak berani keluar...," jawabnya di sela isak.

"Ehh, kenapa? Sejak kapan engkau berada di sini, Eng-moi?"

"Sejak kemarin pagi!"

"Hah?" Lie Seng terkejut bukan main. "Akan tetapi... salahkah hitunganku? Setahun sejak dahulu itu adalah hari ini! Salahkah aku...?"

"Tidak, memang hari ini, koko. Akan tetapi aku... aku tidak dapat menahan lagi, aku ingin cepat-cepat ke sini..."

"Lalu kenapa engkau bersembunyi di sini? Apakah engkau tidak melihat aku datang pagi tadi di bawah pohon kita itu?"

Gadis itu mengangguk dan sesenggukan. "Aku... aku melihatmu... aku takut untuk keluar, ahhh, kau ampunkan aku, koko..."

Lie Seng memandang dengan mata terbelalak dan mulut tersenyum. "Betapa anehnya engkau ini, Sun Eng! Engkau datang lebih pagi sehari karena engkau ingin cepat-cepat ke sini, bertemu dengan aku, kemudian setelah aku datang engkau malah bersembunyi! Apa artinya ini?"

"Entah, koko, aku... selama setahun ini... setiap hari aku rindu kepadamu, ingin sekali aku cepat-cepat bertemu denganmu..."

"Eng-moi kekasihku..., percayalah bahwa aku pun demikian..." Lie Seng mendekap kepala gadis itu penuh kasih sayang.

Sejenak mereka berdekapan tanpa mengeluarkan sepatah kata pun, begitu ketat mereka saling dekap sampai keduanya dapat saling merasakan denyut jantung masing-masing.

"Akan tetapi... begitu melihatmu... ahhh, aku takut, koko. Engkau demikian mencintaku, engkau memenuhi janji, engkau datang dan ketika melihat betapa engkau menanti di situ dengan wajah berseri, wajah yang kurindukan selama ini... aku makin merasa betapa aku terlalu rendah untukmu, koko, bahwa engkau tidak patut menjadi..."

Sun Eng tidak mampu melanjutkan kata-katanya karena mulutnya sudah ditutup oleh bibir Lie Seng yang menciumnya. Mata pemuda ini menjadi basah. Sun Eng meronta lembut, akan tetapi kemudian dia merangkulkan kedua lengan ke leher pemuda itu dan membalas ciuman itu dengan penuh pasrah dan kasih sayang, juga dengan air mata bercucuran!

Akhirnya mereka memisahkan muka mereka, saling pandang melalui air mata, dan Lie Seng mendekap lagi, berbisik di dekat telinga gadis itu. "Eng-moi, jangan kau ulangi lagi ucapan seperti itu. Aku cinta padamu, engkau adalah seorang wanita yang paling mulia di dunia ini untukku! Jangan kau selalu merendahkan diri, kita lupakan saja segala hal yang telah lalu, maukah engkau?"

Sun Eng mengangguk, mengangguk berkali-kali di atas pundak pemuda yang masih terus mendekapnya itu, air matanya bercucuran membasahi pundak Lie Seng. Hampir dia tidak percaya bahwa hidupnya menjadi begini bahagia, bahwa ada pria yang dapat mencinta dirinya seperti ini! Hampir dia tidak percaya bahwa semua ini bukan mimpi belaka!

"Koko..."

"Ya...?"

"Aku bersumpah..."

"Tak perlu bersumpah..."

"Aku bersumpah bahwa selama hidupku aku akan setia kepadamu, bahwa baru sekali ini aku jatuh cinta dalam arti yang sedalam-dalamnya pada seorang pria, yaitu engkau, dan hidupku selanjutnya hanyalah untukmu, koko, untuk membahagiakanmu, mengawanimu, membantumu..."

"Cukuplah, moi-moi, aku percaya kepadamu, kita saling mencinta, kenapa engkau harus bersumpah seperti itu?"

"Karena aku berhutang budi kepadamu, koko."

"Ahh, menyelamatkanmu ketika engkau terluka merupakan kewajiban, tidak layak disebut budi..."

"Bukan soal itu, koko. Pertolongan seperti itu memang sudah wajar di antara orang-orang kang-ouw, apa lagi seorang pendekar sepertimu. Akan tetapi maksudku budi yang lebih mulia lagi, yaitu bahwa... engkau telah sudi mencintaku, koko..."

"Hushhh...! Aku cinta padamu dan engkau cinta padaku, mana ada hutang budi segala? Kalau engkau hutang budi, aku pun berhutang budi kepadamu. Nah, kita saling hutang, sudah lunas, bukan?"

"Tidak, belum lunas, sampai mati pun belum lunas, kita harus saling membayar selama kita hidup."

"Kau benar..."

Mereka kembali saling pandang dan sekali ini, atas kehendak berdua karena dorongan hati yang penuh gelora asmara, muka mereka saling mendekat hingga bibir mereka saling bertemu dalam kecup cium yang mesra dan dengan sepenuh perasaan kasih mereka.

Dunia seakan-akan berhenti berputar dan mereka berdua seperti tenggelam dalam lautan madu asmara, mabuk dan lupa segala, seolah-olah di dunia ini hanya ada mereka berdua dan cinta kasih mereka. Akhirnya, ketika senja mulai gelap, Lie Seng menarik kekasihnya bangkit berdiri, menggandeng tangannya dan berkata,

"Mari, Eng-moi, mari kita sahkan ikatan jodoh kita."

"Mau... mau kaubawa ke mana aku ini...?" Sun Eng bertanya khawatir, namun hatinya ikhlas mau diajak ke mana pun oleh kekasihnya.

"Kepada keluargaku! Akan kuperkenalkan engkau kepada mereka sebagai calon isteriku agar kita memperoleh doa restu mereka."

Tiba-tiba wajah gadis itu menjadi pucat sekali. "Tapi... suhu dan subo..."

Lie Seng mencium kening di antara kedua mata yang menakutkan itu. "Eng-moi, setelah engkau menjadi calon jodohku, setelah aku mencintamu dengan sepenuh jiwaku, apa lagi yang engkau khawatirkan? Katakanlah bahwa engkau pernah bersalah dalam pandangan paman Cia Bun Houw dan bibi Yap In Hong, akan tetapi semua itu adalah hal yang telah lalu, dan sekarang setelah kita saling mencinta dan sudah mengambil keputusan untuk menjadi suami isteri, tak ada seorang pun di dunia ini yang boleh mencelamu! Siapa yang mencelamu akan berhadapan dengan aku, Eng-moi, karena engkau dan aku tidak akan terpisahkan lagi selama masih hidup!"

"Ahhh, koko..." Sun Eng merangkul dan sesenggukan, merasa terharu sekali akan tetapi juga bahagia.

Mereka lalu melanjutkan perjalanan mereka keluar dari hutan yang mulai gelap itu. Dalam perjalanan, Sun Eng menyatakan kekhawatiran hatinya sebab ibu dari kekasihnya itu juga termasuk seorang di antara mereka dianggap pemberontak buronan oleh pemerintah.

"Ke mana kita harus mencari ibumu?"

"Ibu dan ayah tiriku, juga paman Cia Bun Houw dan isterinya, telah menyembunyikan diri di Bwee-hoa-san. Aku pernah pergi ke sana, akan tetapi aku belum bicara tentang dirimu, karena kupikir belum tiba waktunya sebelum ada ketentuan antara kita seperti yang kita janjikan akan diadakan dalam pertemuan kita hari ini. Akan tetapi, kurasa amat berbahaya kalau kita ke sana. Tempat itu harus dirahasiakan, dan mengunjungi mereka di sana amat berbahaya, apa lagi kita berdua telah dikenal pula oleh fihak musuh."

"Siapakah fihak musuh itu, koko? Dan kenapa dulu suhu dan subo ditangkap dan dituduh pemberontak?"

"Hemmm, semua ini adalah fitnah, merupakan siasat dari musuh keluarga kami, keluarga Cin-ling-pai. Telah kuselidiki dan ternyata yang melakukan siasat ini adalah musuh-musuh lama dari keluarga Cin-ling-pai."

"Siapakah mereka?"

"Hek-hiat Mo-li dari utara. Dia pernah sakit hati terhadap keluarga Cin-ling-pai, terutama kepada paman Cia Bun Houw dan bibi Yap In Hong, juga kepada mendiang Tio Sun yang telah dapat terbunuh. Pula, Hek-hiat Mo-li dibantu oleh muridnya yang lihai, bernama Kim Hong Liu-nio. Bahkan kematian kongkong Cia Keng Hong juga setelah dia diserang oleh guru dan murid itu sehingga mengalami luka."

"Ah, jahat benar mereka. Bagaimana kalau kita langsung mencari mereka dan membasmi guru serta murid itu? Aku akan membantumu dengan taruhan nyawaku, koko!" kata Sun Eng dengan sikap gagah.

Lie Seng tersenyum pahit, "Aihh, Eng-moi, gampang saja engkau bicara. Ilmu kepandaian Hek-hiat Mo-li dan Kim Hong Liu-nio itu demikian tinggi, dan agaknya yang akan sanggup menanggulangi mereka itu hanyalah orang-orang yang tingkat kepandaiannya telah tinggi sekali seperti paman Yap Kun Liong. Kalau hanya kita berdua, walau pun aku tidak takut, akan tetapi melawan mereka sama halnya dengan membunuh diri tanpa guna. Tidak, kita harus lebih dahulu menyelesaikan urusan kita di depan keluargaku, dan mengingat bahwa pernah ada sesuatu yang kurang enak di antara engkau dan paman Bun Houw serta bibi In Hong, maka sebaiknya kalau kita pergi menemui suci-ku dan minta dia yang menjadi penengah sehingga lebih mudah bagiku untuk menghadapi mereka tanpa timbul kesalah pahaman antara keluarga."

"Suci-mu? Siapakah dia itu, koko?"

"Dia adalah suci Yap Mei Lan, puteri dari paman Yap Kun Liong. Setahun yang lalu dia sudah menikah dengan Souw Kwi Beng dan kini tinggal di Yen-tai. Dia itu suci-ku, akan tetapi juga dapat disebut saudara tiri, karena ayah kandungnya, Yap Kun Liong, kini telah menjadi suami dari ibu kandungku. Nah, dengan perantaraan suci-ku, maka agaknya akan lebih mudah untuk menyelesaikan urusan kita di depan ibu. Yang penting bagiku adalah ibu kandungku. Jika beliau sudah setuju dengan perjodohan antara kita, orang lain peduli apa? Kalau setuju syukur, kalau tidak pun tidak apa-apa!"

Bukan main besar dan lapang rasa hati Sun Eng mendengar ucapan kekasihnya ini, maka dia menaruh kepercayaan penuh, menyerahkan jiwa raganya ke tangan pria yang sangat dicintanya dan dikaguminya ini. Mereka bermalam dalam sebuah rumah penginapan kecil dalam dusun di depan, dan diam-diam Lie Seng makin kagum ketika melihat kekasihnya itu berkeras minta agar mereka menggunakan dua buah kamar.

Sungguh pun dengan latar belakang riwayat seperti itu, ternyata kini Sun Eng benar-benar sudah insyaf dan tidak mau menjadi budak nafsu birahi, pandai menjaga diri dan pandai pula memasang batas-batas di antara mereka, biar pun dia sudah pasrah dan rela kepada Lie Seng yang dicintanya.

"Percayalah, koko, aku berkeras melakukan ini demi engkau. Aku tidak ingin melihat kau menjadi seorang pria yang merusak kepercayaan kita masing-masing. Pelanggaran yang terjadi karena tidak kuat menahan nafsu birahinya menunjukkan tipisnya cinta." Demikian katanya dan Lie Seng merasa terharu sekali, berjanji di dalam hati bahwa dia tidak akan menjamah kekasihnya, sebelum mereka menikah dengan resmi!

Pada suatu hari mereka memasuki kota besar Cin-an yang terletak di Propinsi Shan-tung. Mereka bermalam di kota ini, berbelanja dan pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali mereka berangkat menuju ke timur, ke kota Yen-tai yang berada di tepi Lautan Po-hai.

Akan tetapi, baru saja mereka keluar dari pintu gerbang kota Cin-an, tiba-tiba terdengar derap kaki kuda dan ketika mereka menoleh, nampak pasukan besar menunggang kuda keluar dari pintu gerbang itu, dipimpin oleh seorang panglima tua yang gagah didampingi oleh seorang kakek tinggi besar dan seorang kakek pendek kecil yang masing-masing juga menunggang seekor kuda yang besar.

Lie Seng dan Sun Eng cepat minggir dan memalingkan muka. Mereka sudah dikenal, biar pun hanya sepintas lalu, oleh pasukan yang dahulu menangkap dua pasang suami isteri pendekar, maka sekarang Lie Seng tak ingin dikenal dan memalingkan muka. Akan tetapi, tiba-tiba pasukan itu berhenti di dekat mereka, bahkan panglima dan dua orang kakek itu sudah meloncat turun dari atas kuda dan menghampiri mereka!

Berdebar jantung Lie Seng. Dia memberi isyarat dengan kerling mata kepada Sun Eng agar kekasihnya itu bersiap-siap namun agar jangan membuka mulut dan membiarkan dia yang bicara bila mana datang pertanyaan. Dan ketika dia akhirnya terpaksa membalikkan tubuhnya karena komandan pasukan beserta dua orang kakek itu telah berdiri dekat, Lie Seng terkejut sekali, kekejutan yang ditekannya dan tidak diperlihatkan pada wajahnya.

Ia mengenal komandan itu, seorang komandan tua, seorang panglima pasukan pengawal kaisar, pasukan Kim-i-wi, yaitu pasukan pengawal baju bersulam emas, dan komandan itu bernama Lee Cin, seorang komandan yang gagah perkasa dan lihai, juga dahulu sering bekerja sama dengan keluarga Cin-ling-pai! Komandan itu kini sudah tua, sedikitnya tentu enam puluh lima tahun usianya, namun masih nampak gagah dan gerak-geriknya halus dan sabar.

Lie Seng pura-pura tidak mengenalnya dan dia hanya berdiri dengan hormat, seolah-olah tidak tahu atau tidak mengerti bahwa mereka itu berhenti untuk menemuinya! Akhirnya, sesudah menatap dengan tajam beberapa saat lamanya, terdengar komandan itu berkata dengan suara halus,

"Harap ji-wi (anda berdua) suka menyerah saja untuk kami tangkap!"

Barulah Lie Seng tahu bahwa memang dia dan Sun Eng yang sedang diincar, maka dia pun mengangkat muka, tidak pura-pura lagi meski pun dia tak mau memperkenalkan diri. "Apakah kesalahan kami berdua maka hendak ditangkap? Kami tidak merasa melakukan kejahatan apa pun!"

Komadan Lee Cin tersenyum getir, "Lie Seng taihiap, jangan menyangka bahwa kami pun senang menerima tugas ini. Taihiap merupakan cucu dari ketua Cin-ling-pai yang gagah perkasa, ada pun ibu kandung taihiap, Cia Giok Keng, merupakan seorang di antara para buronan. Semenjak taihiap berdua muncul di Cin-an, gerak-gerik ji-wi telah diawasi."

"Tapi... tapi kami berdua tidak melakukan pelanggaran apa-apa!" bantah Lie Seng.

"Biarlah kelak pengadilan yang akan memutuskan soal itu. Kami hanya mentaati perintah dan amat tidak baik kalau taihiap menambah dosa keluarga dengan membangkang pula. Menyerahlah ji-wi!" bujuk Lee Cin yang benar-benar merasa canggung sekali bahwa dia kini harus mengejar-ngejar keluarga Cin-ling-pai, padahal semenjak dahulu keluarga itu amat berjasa kepada kerajaan dan sering kali dia bekerja sama menghadapi pemberontak dengan para pendekar Cin-ling-pai itu.

"Baik, aku menyerah, akan tetapi nona ini tidak ada sangkut-pautnya, maka kuminta agar dia dibebaskan!"

"Koko, tidak...! Aku tidak mau kita saling berpisah!" teriak Sun Eng dengan kedua mata terbelalak.

"Perintah yang diberikan kepada kami adalah untuk menangkap kalian berdua, tak dapat ditawar-tawar lagi!" Kata pula Lee Cin yang mulai hilang kesabaran karena sebetulnya dia amat tidak menyukai tugas ini, akan tetapi dia tadi sudah bersikap terlalu manis terhadap orang-orang yang dianggap pemberontak ini, sehingga dia merasa tidak enak dan malu kepada dua orang kakek itu.

Dua orang kakek ini adalah dua orang tokoh dari daerah selatan yang sengaja dikirim oleh Pangeran Ceng Han Houw untuk membantu kerajaan menangkap para pemberontak buronan. Mereka berdua adalah orang-orang yang berilmu tinggi, dua orang ‘bengcu’ atau pemimpin kaum kang-ouw di selatan, yang tinggi besar bernama Hai-liong Phang Tek dan yang pendek kecil bernama Kim-liong-ong Phang Sun.

Karena membawa surat pribadi dari Pangeran Ceng Han Houw, tentu saja kedua orang kakek ini diterima dengan hormat oleh komandan di kota raja, dan kini dibantukan kepada Panglima Lee Cin yang diserahi tugas menangkap para pemberontak buronan membantu Kim Hong Liu-nio. Panglima ini selain merupakan kakak kandung dari mendiang Panglima Lee Siang yang tewas oleh para pemberontak, juga dianggap mengenal baik wajah-wajah para keluarga pemberontak, maka dianggap tepat untuk memimpin pasukan membantu Kim Hong Liu-nio, kini ditemani oleh dua orang kakek lihai itu.

Dan memang Lee Cin mengenal mereka semua, bahkan juga mengenal Lie Seng yang jarang dijumpainya karena pemuda ini lama pergi menjadi murid Kok Beng Lama, apa lagi setelah dia mendengar bahwa adik kandungnya itu tewas di tangan seorang pemuda lihai yang diduganya tentu Lie Seng adanya.

Lie Seng merasa bimbang. Dia tidak takut ditangkap, akan tetapi dia mengkhawatirkan keselamatan Sun Eng! Tiba-tiba kakek pendek kecil yang tubuh bagian atasnya tertutup jubah prajurit lebar akan tetapi di balik baju yang tidak dikancingkan ini ternyata telanjang sama sekali, kakinya juga telanjang, terkekeh aneh dan kedua tangannya menyambar ke arah beberapa orang prajurit, tahu-tahu dia telah merampas empat batang tombak yang dilemparkannya ke depan.

"Cep-cep-cep-cep!"

Empat batang tombak itu meluncur seperti anak panah ke arah Lie Seng dan Sun Eng, akan tetapi ternyata tidak menyerang tubuh mereka, melainkan menancap sampai lenyap setengahnya di empat penjuru, mengurung dua orang muda itu! Benar-benar demonstrasi yang mengejutkan, membayangkan kekuatan sinkang yang hebat sekaligus kepandaian yang tinggi karena empat batang tombak itu dilontarkan berbareng akan tetapi mengenai sasaran empat macam sekaligus!

Panglima Lee Cin berkata, suaranya berwibawa, "Sebaiknya ji-wi menyerah saja. Kami tahu bahwa taihiap seorang yang lihai sekali, akan tetapi kami sudah siap-siap dan dua orang locianpwe ini pun memiliki kepandaian tinggi. Dari pada kami harus..."

"Eng-moi, larilah, biar kutahan mereka!" tiba-tiba saja Lie Seng berteriak dan dia segera menerjang ke depan, menangkap dua orang prajurit lantas melemparkan mereka ke arah dua orang kakek tinggi besar dan pendek kecil itu. Dua orang kakek ini tidak mengelak, melainkan menggerakkan kaki menendang sehingga tubuh dua orang prajurit malang itu terlempar dan terbanting tanpa bangkit kembali!

"Mati hidup di sampingmu, koko!" teriak Sun Eng pula, lantas dengan sigapnya dia pun menerjang ke depan merobohkan dua orang prajurit lain dengan pukulan dan tendangan kakinya. Gegerlah para prajurit mengeroyok, akan tetapi Lee Cin cepat berseru menyuruh mereka untuk mundur.

"Biarkan ji-wi locianpwe menangkap mereka!" teriaknya dan ini merupakan permintaan pula kepada dua orang kakek itu untuk membantu.

Dengan lagak angkuh, Hai-liong-ong Phang Tek maju menghadapi Lie Seng, sedangkan Kim-liong-ong Phang Sun sambil cengar-cengir menghadapi Sun Eng. "Nona manis, mari kita main-main sejenak!"

Sun Eng marah sekali. Dia tidak mengenal si kecil pendek ini, dan melihat bahwa tubuh kakek ini seperti tubuh kanak-kanak saja, dia agak memandang rendah. Tubuhnya segera menerjang ke depan hingga tubuh itu menjadi bayangan merah karena pakaiannya yang berwarna merah, didahului oleh sinar pedangnya yang membabat ke leher, seakan-akan dengan satu sabetan saja dia hendak membuntungi leher kecil dari Kim-liong-ong Phang Sun!

"Cringgg…!"

Sun Eng terkejut dan meloncat mundur, pedangnya telah terlepas ketika bertemu dengan gelang di lengan kiri kakek itu!

"Awas, Eng-moi!" Lie Seng yang belum bergebrak dengan lawan, kini meloncat ke kiri dan dia masih sempat menangkis pukulan tangan kanan kakek pendek yang menampar ke arah kepala Sun Eng.

"Dukkk!" Akibat benturan kedua lengan ini, Lie Seng terhuyung akan tetapi Kim-liong-ong juga terpental ke belakang!

"Ehh, kau boleh juga...!" Kakek kecil pendek ini berseru.

"Serahkan dia padaku, Sun-te, kau tangkap saja nona itu!"

Setelah berkata demikian, Hai-liong-ong Phang Tek sudah melompat ke depan kemudian menyerang Lie Seng dengan tongkatnya yang diputar secara hebat. Memang kakek ini mempunyai tenaga besar sekali maka tongkat yang diputar itu mengeluarkan suara angin mengerikan dan nampak gulungan sinar tongkat seperti seekor naga bermain-main.

Melihat itu, Lie Seng terkejut bukan main. Maklumlah dia bahwa dia menghadapi lawan tangguh, akan tetapi yang dikhawatirkannya Sun Eng yang terpaksa harus menghadapi kakek kecil pendek yang lihai itu dengan tangan kosong. Tanpa menggeser kaki dia cepat menggerakkan kedua tangan untuk menangkis serangan-serangan tongkat lawan dengan menggunakan tenaga Thian-te Sin-ciang, akan tetapi dia terus melirik ke arah kekasihnya yang benar saja, telah dipermainkan oleh Kim-liong-ong Phang Sun.

Kakek kecil pendek ini sengaja tidak mau cepat-cepat merobohkan gadis itu, akan tetapi menghujankan serangan-serangan berbahaya yang mengerikan, termasuk menusuk mata, mencengkeram buah dada, menotok jalan darah maut dan lain-lain serangan mengerikan yang selalu ditahannya dan tidak dilanjutkan setelah mendekati sasaran!

Repotlah Sun Eng harus mempertahankan diri, hingga akhirnya dengan langkah-langkah Thai-kek Sin-kun yang lihai barulah dia dapat selalu mengelak dan mempertahankan diri biar pun sama sekali tak sempat lagi membalas karena memang tingkat kepandaiannya jauh di bawah kalau dibandingkan dengan orang ke dua dari Lam-hai Sam-lo ini.

Selagi dua orang muda ini terdesak dan terhimpit, tiba-tiba saja terdengar teriakan tinggi melengking kemudian nampak berkelebat bayangan orang didahului segulung sinar putih diputar cepat!

"Tahan! Atas nama Pangeran Ceng Han Houw, mundurlah kalian!"

Hai-liong-ong Phang Tek dan Kim-liong-ong Phang Sun menoleh dan terkejutlah mereka ketika mengenal nona muda yang dahulu pernah membantu dua orang ketua Sin-ciang Tiat-thouw-pang!

"Ehh, kau mau apa? Mengantar nyawa?"

"Hemm, nyawa kalian yang berada di tanganku!" bentak Lie Ciauw Si, dara itu.

"Si-moi...!" Lie Seng berseru kaget dan girang melihat adiknya, akan tetapi Ciauw Si cepat menghampiri Panglima Lee Cin.

"Ciangkun, apakah engkau komandan pasukan ini?"

"Benar, nona. Siapakah nona, dan... eh, bukankah nona ini nona Lie Ciauw Si cucu ketua Cin-ling-pai...?" Kini dia mengenalnya dan merasa heran.

"Betul, dan atas nama Pangeran Ceng Han Houw, kuperintahkan agar engkau membawa pasukanmu beserta dua orang tua bangka ini mundur, dan jangan mengganggu kepada kakakku! Lihat, siapakah berani menentang aku yang sudah memperoleh kekuasaan dari Pangeran Ceng Han Houw?" Sambil berkata demikian, Ciauw Si memindahkan pedang Pek-kong-kiam ke tangan kirinya, lalu dia mengangkat tangan kanan dan memperlihatkan cincin yang melingkari jari tengah tangan kanannya.

Tag: Cerita Silat Online, Cersil, Kho Ping Hoo, Pedang Kayu Harum

Thanks for reading Pendekar Lembah Naga Jilid 33.

Back To Top