Cersil Online Karya Kho Ping Hoo

Pendekar Lembah Naga Jilid 57

Memang demikianlah adanya. Betapa banyaknya orang tua yang tanpa mereka sadari sendiri telah melakukan tindakan-tindakan yang sama sekali menyimpang dari pada cinta kasih dan kebenaran. Kita selalu ingin menyatakan cinta kasih kita pada anak-anak kita dengan jalan mengatur sedemikian rupa untuk anak-anak kita, bukan hanya mengatur pendidikannya, pemeliharaannya, akan tetapi juga kita ingin mengatur masa depannya, mengatur kesukaannya, bahkan mengatur jodoh mereka!

Kita beranggapan bahwa bila anak-anak kita itu menurut kepada kita, mereka pasti akan hidup berbahagia, seolah-olah kehidupan merupakan garis tertentu yang telah mati, yang dapat diatur sedemikian rupa menuju kepada kebahagiaan! Seakan-akan apa yang kita anggap baik dan menyenangkan itu tentunya akan baik serta menyenangkan pula bagi anak-anak kita!

Kita lupa bahwa kehidupan itu selalu berubah, bahwa alam-pikiran dan selera manusia itu pun berkembang dan mengalami perubahan-perubahan. Apa yang kita sendiri senangi di saat kita masih kanak-kanak akan menjadi membosankan di kala kita sudah dewasa, dan apa yang menyenangkan kita saat kita dewasa mungkin akan menjadi memuakkan di waktu kita telah tua.

Oleh karena itu, benarkah itu bila mana kita memakai ukuran mata kita untuk mengatur kehidupan anak-anak kita yang lebih muda dan mempunyai selera lain sama sekali dari kita? Benarkah kita mencinta anak-anak kita kalau kita hanya ingin mereka itu menurut kepada kita, yang pada hakekatnya menunjukkan bahwa sebenarnya kita ingin senang sendiri, ingin melihat anak-anak kita menuruti kemauan hati kita?

Cinta adalah demi si anak, demi perasaan hati si anak, sekarang, bukan kelak! Bukan masa depan, melainkan saat demi saat! Maukah kita sebagai orang tua yang bijaksana memberikan kebebasan seluasnya kepada anak-anak kita, dengan memberi petunjuk-petunjuk, bukan mendikte, akan tetapi memberi petunjuk dan menjaga, membuka mata batin mereka kalau mereka itu tanpa mereka sadari menyeleweng, dengan penuh kasih sayang dan demi kebahagiaan mereka saat demi saat? Hal ini hanya mungkin dilakukan kalau sudah tidak ada keinginan dalam hati kita untuk menikmati kesenangan diri sendiri melalui anak kita!


Setelah tiba di kota raja, keluarga Cin-ling-pai mengajak Sin Liong dan Bi Cu untuk ikut ke Cin-ling-pai.

"Engkau adalah puteraku, dan Bi Cu adalah calon menantuku," demikian Cia Bun Houw berkata dengan terus terang kepada mereka, "maka sebaiknya kalau kalian berdua turut bersama kami ke Cin-ling-pai. Engkau adalah keluarga Cin-ling-pai dan berhak tinggal di sana, dan karena semenjak kecil kita saling berpisah, maka sebaiknya jika sekarang kita berkumpul."

"Benar, Sin Liong. Ayahmu dan aku hendak membangun kembali Cin-ling-pai. Marilah ikut bersama kami di sana, ke Cin-ling-san!" Cia Giok Keng juga membujuk.

"Akan tetapi... sri baginda kaisar sudah menganugerahkan Lembah Naga kepada kami...," Sin Liong menjawab agak ragu-ragu.

"Maksudku untuk sementara kalian tinggal di Cin-ling-san sampai kalian menikah. Kalau kalian sudah menikah, maka terserah kalau kalian ingin tinggal di Istana Lembah Naga," kata Bun Houw.

"Apakah tidak terlalu sunyi tinggal di tempat itu?" Cia Giok Keng bertanya.

"Ah, kalau tinggal berdua, mana bisa merasa sunyi?" Yap Kun Liong menyambung sambil tertawa dan semua orang tertawa, juga Bi Cu tersenyum malu-malu.

"Banyak terima kasih atas kebaikan ayah, ibu, paman serta bibi berempat. Kami berdua pasti akan pergi ke Cin-ling-san, akan tetapi sekarang ini kami ingin pergi ke selatan untuk menengok adik-adik saya Kui Lan dan Kui Lin. Sesudah menengok mereka, kami tentu akan menyusul ke Cin-ling-pai dan selanjutnya tentang pernikahan kami, terserah kepada semua orang tua di Cin-ling-pai."

Akhirnya mereka semua setuju dan berangkatlah Sin Liong dan Bi Cu ke kota Su-couw di Ho-nan. Sesungguhnya mereka pergi ke Su-couw bukanlah semata untuk menengok Lan Lan dan Lin Lin saja, namun untuk melihat keadaan Kui Hok Boan.

Di tengah perjalanan menuju ke kota raja, Sin Liong sudah menceritakan secara terus terang kepada Bi Cu bahwa dia menduga keras bahwa pembunuh ayah kandung Bi Cu yang bernama Bhe Coan itu adalah Kui Hok Boan, ayah tirinya sendiri.

"Aku mendengar ketika dia mengigau," demikian antara lain Sin Liong menuturkan. "Dan agaknya dialah yang membunuh ayahmu."

"Keparat, sungguh jahat jahanam itu! Aku harus membalas kematian ayah!" Bi Cu berkata dengan marah.

"Nanti dulu, Bi Cu, dengarlah dahulu baik-baik. Ketahuilah, bahwa ketika dia mengigau itu, dia berada dalam keadaan tidak sadar dan dia telah berubah ingatannya."

"Ahh? Maksudmu, dia..." Bi Cu membuat tanda dengan melintangkan jari telunjuk di atas dahinya.

"Benar, dia sudah mengalami tekanan batin sehingga menjadi gila."

Kemudian Sin Liong menceritakan tentang semua riwayat Kui Hok Boan, juga tentang dua orang pemuda yang sebenarnya adalah anak-anaknya sendiri akan tetapi yang diakuinya sebagai keponakannya dan betapa dua orang anaknya itu saling bermusuhan dan saling bunuh sendiri. Semua itu membuat Kui Hok Boan merasa menyesal lantas membikin dia menjadi gila.

"Karena itu, dalam keadaannya seperti sekarang ini, dalam keadaan hidup menderita dan merana sampai menjadi gila, apakah engkau masih mempunyai gairah untuk membalas dendam? Membalas kepada orang yang sudah terhukum sehebat itu karena perbuatan-perbuatannya sendiri?"

Bi Cu termangu-mangu, kemudian berkata, "Memang tidak enak memusuhi orang sakit, apalagi sakit gila. Akan tetapi aku masih penasaran sebelum melihat keadaannya dengan mata sendiri, Sin Liong. Mari kita mengunjunginya dan setelah melihat keadaannya, baru aku akan memutuskan apakah aku akan membalas kematian ayah ataukah tidak."

Demikianlah, sesudah mendapatkan persetujuan para tokoh Cin-ling-pai, Sin Liong dan Bi Cu lalu berangkat ke selatan. Mereka menunggang dua ekor kuda yang amat baik karena mereka mendapatkan hadiah dari Pangeran Hung Chih. Pakaian mereka pun serba indah dan bersih. Bukankah mereka adalah pahlawan-pahlawan yang berjasa menentang dan menggagalkan pemberontakan?

Mereka sudah menerima banyak hadiah berupa pakaian dan uang emas dari pangeran itu, bahkan kaisar sendiri berkenan menyerahkan Istana Lembah Naga kepada Sin Liong sesudah mendengar bahwa pendekar itu terlahir di dalam istana itu. Raja Sabutai telah dihubungi melalui utusan dan raja itu pun tidak membantah pada saat kaisar menentukan bahwa istana itu diserahkan dan menjadi hak milik yang dilindungi dari Cia Sin Liong!

Tentu saja perjalanan yang dilakukan oleh Sin Liong dan Bi Cu kali ini sangat berbeda dengan perjalanan-perjalanan yang lalu sebagai orang yang dikejar-kejar oleh kaki tangan Pangeran Ceng Han Houw. Kini mereka berdua melakukan perjalanan dengan santai dan dengan hati penuh keriangan, karena dalam hati mereka penuh dengan cinta kasih yang terpancar dari sinar mata mereka yang saling memandang penuh kelembutan, kata-kata yang penuh kemesraan dan sentuhan-sentuhan yang menggetar.

Mereka adalah sepasang kekasih yang saling mencinta, melakukan perjalanan bersama. Kadang-kadang mereka berlomba dengan kuda mereka dan ada kalanya mereka berjalan kaki sambil bergandengan tangan, menuntun dua ekor kuda itu di belakang mereka, dan kalau mereka beristirahat, Bi Cu menyandarkan dadanya di pundak atau dada Sin Liong.

Akan tetapi, betapa pun mesra hubungan di antara mereka, dan betapa pun besar cinta kasih mereka, keduanya selalu menjaga diri sehingga mereka tidak sampai melakukan pelanggaran di dalam hubungan mereka itu. Sebaliknya, seorang wanita yang sejak kecil hidup sendiri dan tak malu-malu seperti kebanyakan wanita muda, pernah dalam keadaan istirahat itu Bi Cu menyatakan terus terang kepada Sin Liong.

"Sin Liong, kita sudah bertunangan secara resmi, juga direstui oleh ayahmu dan keluarga Cin-ling-pai."

"Ya, kita beruntung sekali, Bi Cu," jawab Sin Liong sambil mengelus rambut yang hitam halus dan panjang itu.

"Dan kulihat engkau tidak pernah mencoba untuk membujukku, untuk mengajakku... ehh, menyerahkan diri kepadamu... sungguh pun... hemm, mungkin sekali... ah, tiada bedanya bagiku, aku merasa bahwa aku telah menjadi milikmu lahir batin. Mengapa, Sin Liong?"

"Ahh, kita belum menikah dengan resmi, Bi Cu."

"Hemmm, aku tahu, akan tetapi... andai kata engkau minta kepadaku dan aku menuruti permintaanmu, kita melakukan hubungan sebelum menikah, lalu mengapa?"

"Tidak, hal itu tidak mungkin Bi Cu."

"Mengapa, Sin Liong? Apakah karena engkau tidak menginginkannya?"

Sin Liong mendekap kepala itu penuh kasih sayang. "Tentu saja aku ingin sekali!"

"Kalau begitu, sama dengan aku. Lalu apa halangannya?"

Bukan main, kekasihnya ini sungguh seorang gadis yang jujur dan terbuka sekali, tidak pura-pura!

"Tidak, Bi Cu, karena aku cinta padamu!"

"Jika engkau cinta padaku kenapa engkau malah tidak menuntut penyerahan diri dariku?"

"Ahh, kekasihku, dewiku, betapa polos dan jujurnya engkau. Engkau percaya sepenuhnya kepadaku, dan justru karena kepercayaanmu itulah, justru karena cinta kita itulah, maka aku tidak akan melakukan hal itu, betapa pun besar dorongan gairah nafsuku! Aku cinta padamu, Bi Cu, dan karena aku cinta padamu, tentulah aku menghormatimu, tentu aku menjaga namamu, aku tentu akan menjaga dengan nyawaku agar tidak merendahkanmu, meremehkanmu. Bagaimana pun juga, kita hidup di dalam belenggu-belenggu peraturan, kesusilaan, dan budaya. Belenggu-belenggu itu telah menentukan bahwa tak semestinya hubungan itu dilakukan sebelum menikah, dan siapa melanggarnya, apa lagi wanita, tentu akan dikutuk dan dipandang rendah! Nah, karena cintaku kepadamu, betapa pun besar keinginan hatiku, maka harus kujaga agar engkau jangan sampai dikutuk dan dipandang rendah. Aku sayang kepadamu, aku ingin engkau senang dan hidup bahagia. Kalau aku membujukmu untuk melakukan hubungan suami isteri, hal itu berarti bahwa aku hanya ingin mencari senang dan enak sendiri, namun membiarkan engkau yang terancam aib. Mengertikah engkau, Bi Cu?"

Bi Cu bergerak perlahan dan membalik, mengangkat muka ke atas dan merangkul leher kekasihnya. Sin Liong kemudian menunduk dan mereka berciuman sampai napas mereka terengah-engah dan terpaksa mereka melepaskan ciuman karena sukar untuk bernapas!

"Sudahlah, mari kita lanjutkan perjalanan. Kalau begini terus, bisa-bisa aku tidak kuat dan mata gelap!" Sin Liong mendorong dara itu dengan halus dan mereka pun bangkit berdiri. Bi Cu tersenyum dan memandang kekasihnya dengan sinar mata menggoda.

"Kalau begitu kenapa? Kalau aku rela, siapa peduli?"

"Ihh, engkau nekat!" Sin Liong tertawa. "Ingat, kebahagiaan itu adalah kita punya, maka perlu apa kita rusak sendiri? Mengapa kita tidak menahan bersama, agar kelak sesudah tiba saatnya kita berdua akan lebih dapat menikmatinya?"

Demikianlah, dengan dasar cinta kasih yang mendalam, kedua orang muda itu mampu mempertahankan kemurnian mereka dan mereka tidak sampai menjadi buta oleh nafsu birahi. Sesungguhnya kasih sayang itu membuat kita menjadi kuat menghadapi apa pun juga, bahkan kuat pula menghadapi godaan setan berupa nafsu birahi yang biasanya tak terkalahkan oleh manusia itu!

Pada suatu hari, setelah mereka sampai di perbatasan Propinsi Ho-nan. Mereka melewati sebuah hutan yang amat luas. Dari pagi sampai matahari hampir naik menjelang tengah hari, mereka masih tetap berada di dalam hutan. Tiba-tiba saja mereka mendengar suara orang-orang bertempur di depan dan mereka lalu membedalkan kuda mereka menuju ke arah suara hiruk-pikuk itu.

"Bi Cu, engkau jangan sembarang bergerak, ya?" Sin Liong memesan dan Bi Cu hanya mengangguk.

Dan sampailah mereka di tempat pertempuran itu. Kiranya ada banyak orang bertempur. Sedikitnya terdapat sebelas orang yang berpakaian sebagai piauwsu, yaitu para pengawal kiriman barang, melawan hampir dua puluh orang-orang yang berpakaian kasar dan tidak sulit diduga bahwa mereka itu tentu perampok-perampok yang buas.

Perhatian Bi Cu segera tertarik pada seorang pemuda yang memainkan sebatang pedang dengan gagah, melawan kepala perampok yang berambut panjang dan bermuka brewok. Biar pun pemuda yang kelihatannya seperti melakukan perlawanan mati-matian itu sudah berusaha mati-matian dan gagah perkasa, namun jelas bahwa dia mulai terdesak hebat oleh sepasang golok kepala perampok yang amat lihai itu.

Melihat wajah pemuda itu, Bi Cu amat tertarik dan cepat dia mengerling ke arah gerobak piauwkiok, dan begitu dia melihat bendera piauwkiok yang berdasar merah dengan lukisan garuda berwarna kuning, maka terkejutlah dia lantas dia yang sudah meloncat turun dari atas kudanya itu memegang lengan Sin Liong.

"Dia itu twako Na Tiong Pek...!"

Kini Sin Liong juga mengenal ilmu pedang yang dimainkan oleh pemuda tampan gagah itu. "Benar, dialah itu!"

"Lihat, itu bendera Ui-eng Piauwkiok! Aku harus membantunya, dia sudah terdesak!" kata Bi Cu dan dia lalu mengambil sebatang ranting kayu pohon, kemudian dengan cepat dia sudah meloncat ke depan dan menyerbu ke medan laga sambil berseru keras.

"Na-twako, jangan khawatir, minggirlah, biarkan aku menghajar babi hutan ini!"

Tongkat di tangannya berkelebat dan membentuk segulung sinar hijau yang mengejutkan kepala perampok itu sehingga dia meloncat ke belakang karena gulungan sinar hijau itu dapat menembus sinar goloknya dan hampir saja ujung ranting itu menusuk hidungnya!

Sementara itu, Na Tiong Pek yang sudah terdesak itu melompat mundur dengan napas terengah-engah dan dia terkejut serta heran melihat munculnya seorang dara cantik yang bergerak cepat bukan main seperti burung terbang saja dan tahu-tahu sudah mendesak kepala perampok itu dengan sebatang ranting di tangan! Ketika dia melihat wajah dara itu, hampir dia tidak percaya.

"Bi... Bi Cu...!" Dia tergagap, karena biar pun dara itu wajahnya persis Bi Cu, akan tetapi mana mungkin Bi Cu dapat memiliki ilmu kepandaian sehebat itu sehingga hanya dengan sebatang ranting saja mampu menahan sepasang golok di tangan kepala perampok yang lihai dan yang tadi membuat dia kewalahan?

"Betul, twako, lekas kau hajar anak-anak babi itu dan biarkan aku merobohkan babi hutan yang satu ini!" teriak Bi Cu dengan nada suara gembira sekali dapat berjumpa dengan pemuda ini.

Na Tiong Pek kembali memandang dengan penuh kagum dan dia menoleh, memandang kepada Sin Liong yang masih berdiri memegangi dua ekor kuda. Agaknya, pemuda itu datang bersama Bi Cu, akan tetapi dia tidak tahu siapa pemuda itu.

Maka, melihat betapa anak buahnya masih dengan gigihnya melawan para perampok, dia segera berteriak nyaring kemudian mengamuk, menyerang para anak buah perampok itu, mengeluarkan kegesitan serta seluruh kepandaiannya karena dia ingin memamerkan ilmu kepandaiannya kepada Bi Cu, lupa bahwa dia tadi hampir kalah oleh kepala perampok yang kini ditandingi oleh Bi Cu itu.

Ternyata bahwa dibandingkan dengan teman-temannya, yaitu para piauwsu, kepandaian pemuda she Na ini memang lebih menonjol. Begitu dia terjun ke dalam pertempuran itu, maka beberapa orang perampok roboh hingga mereka menjadi kacau-balau dan terdesak oleh pemuda yang mengamuk seperti seekor harimau marah itu.

Sin Liong hanya menonton, akan tetapi tentu saja setiap waktu dia siap untuk melindungi kekasihnya. Dia melihat bahwa gerakan kepala perampok itu hanya dahsyat dipandang saja, akan tetapi hanya merupakan orang kasar yang mengandalkan tenaga otot, tidak mempunyai dasar kepandaian berarti sehingga tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Begitu bergebrak, dia tahu bahwa kekasihnya itu tidak akan kalah.

Dan memang benar, baru belasan jurus saja Bi Cu yang mempergunakan ilmu Ngo-lian Pang-hoat yang dipelajarinya dari mendiang Hwa-i Sin-kai, sudah berhasil melecut muka kepala perampok itu berkali-kali, bahkan paling akhir dia berhasil menusuk samping mata kiri kepala perampok itu sehingga terobek dan berdarah.

Kepala perampok itu merasa bahwa dia tidak akan menang, maka dia lalu mengeluarkan seruan keras kemudian meloncat jauh ke belakang terus melarikan diri, diikuti oleh para anak buahnya yang sudah mendengar aba-aba lari tadi, sambil menyeret dan membawa teman-teman mereka yang terluka, memasuki hutan lebat, diikuti oleh suara tertawa dan sorakan para piauwsu yang merasa gembira memperoleh kemenangan.

Na Tiong Pek cepat menghampiri Bi Cu dan sejenak mereka berdiri saling berhadapan dan saling pandang. Melihat betapa sinar mata pemuda tampan itu ditujukan kepadanya dengan penuh kagum, kekaguman seperti yang dulu sering dia lihat dari tatapan pandang mata Tiong Pek, tiba-tiba Bi Cu merasa jantungnya berdebar dan kedua pipinya merah. Apa lagi ketika Tiong Pek berkata,

"Bi Cu... betapa cantiknya engkau sekarang! Dan betapa hebat kepandaianmu, sungguh aku merasa kagum bukan main!"

Untuk mengalihkan rasa jengah dan malu, Bi Cu tersenyum. "Ahhh, engkau masih sama saja seperti dulu, Na-twako. Mari kau temui dia..."

"Siapa?" Tiong Pek menoleh dan memandang kepada pemuda yang menuntun dua ekor kuda itu.

"Hei, lupakah engkau kepadanya? Lihat baik-baik, siapa dia?" Bi Cu berkata lagi sambil menghampiri Sin Liong, diikuti oleh Tiong Pek.

Kini mereka berhadapan. Sin Liong tersenyum. "Saudara Na Tiong Pek, lupakah engkau kepada Sin Liong?"

"Sin Liong...? Ah, engkaukah ini?" Tiong Pek berseru kaget dan girang. Tak disangkanya bahwa pemuda itu adalah Sin Liong, anak yang dahulu ditolong oleh mendiang ayahnya! "Ahh, bagaimana kalian dapat datang bersama? Di manakah saja engkau tinggal selama ini, Bi Cu? Dan bagaimana bisa bersama-sama Sin Liong berjumpa denganku di sini?" Bertubi-tubi pertanyaan itu diajukan kepada Bi Cu.

"Kami... hanya kebetulan saja bertemu dan kami berdua sedang mengadakan perjalanan bersama menuju ke Ho-nan, ke kota Su-couw."

"Aih, tidak pernah aku bermimpi kalau akan dapat bertemu denganmu di sini, Bi Cu. Dan kepandaianmu demikian hebat! Dari mana engkau mempelajari ilmu tongkat yang begitu lihai? Sungguh lucu sekali, begitu bertemu, malah engkau yang menyelamatkan aku! Haii, teman-teman, lihatlah baik-baik, nona penolong kita ini tidak lain adalah sumoi-ku sendiri! Kalau tidak ada dia yang lihai, mungkin barang-barang kita terampas dan kita belum tentu selamat!" Semua piauwsu memandang dengan kagum.

"Ahh, sudahlah jangan banyak sungkan, twako."

"Kita bukan suheng dan sumoi lagi!"

"Terserah, akan tetapi karena aku sudah menjadi murid orang lain, maka biarlah kusebut engkau Na-twako saja. Bagaimana keadaanmu selama ini, twako? Apakah engkau sudah berumah tangga?"

Tiong Pek menggelengkan kepalanya dan dia pun tertawa, ketawanya polos dan Sin Liong dapat melihat bahwa biar pun pemuda ini masih mempunyai sifat sombong, akan tetapi kini sudah berubah dan lebih jujur.

"Sesudah ditolak olehmu, aku jera untuk mencari jodoh, takut ditolak lagi. Pula, di mana mencari orang yang melebihimu?"

"Aihh, jangan bergurau, twako!" Bi Cu berkata dan mukanya berubah merah lagi.

"Siapa bergurau? Coba tanya Sin Liong ini! Betul tidak ucapanku tadi, Sin Liong? Mana ada gadis melebihi dia ini? Ehhh, dan kau sendiri bagaimana, Sin Liong? Apakah engkau sudah memperoleh jodoh?"

Sin Liong memandang wajah Bi Cu dan melihat dara itu kelihatan malu sekali, Sin Liong menjawab lirih, "Belum."

"Ha-ha-ha, kita masih sama seperti dulu! Kalau kuingat betapa kita bertiga melawan para penyerbu itu. Ah... sungguh malang ayah dan ibuku... ehh, kau dibawa pergi wanita sakti itu, lalu apa yang terjadi, Sin Liong?"

"Aku hanya merantau ke segala tempat sampai... kebetulan bertemu dengan Bi Cu dan kami lewat di sini, kebetulan bertemu denganmu."

"Kita harus merayakan pertemuan kita! Akan tetapi di hutan begini bagaimana kita bisa merayakannya? Hayo kalian mampir dahulu di rumahku, aku masih tinggal di Kun-ting, di rumah yang dulu. Sumoi... ehh, Bi Cu, tidak maukah engkau singgah di rumahku lagi?"

"Tentu saja twako, akan tetapi, aku ada urusan penting sekali, harus pergi ke Su-couw, nanti kalau aku kembali dari selatan, tentu aku mau mampir..."

"Ke Su-couw? Kau sendiri, atau bersama Sin Liong?"

"Kami berdua ke Su-couw..."

"Kalau begitu, aku akan mengantarmu. Ada urusan apa, Bi Cu? Biar kubantu engkau!" Tiong Pek menawarkan jasanya.

Akan tetapi sebelum mereka melanjutkan percakapan itu, tiba-tiba terdengar derap kaki kuda kemudian muncullah seorang tosu yang menunggang kuda. Pakaiannya bagai tosu, rambutnya pun seperti tosu, akan tetapi sikapnya seperti perampok ganas!

Pria itu berusia kurang lebih lima puluh tahun, biar pun jenggot dan kumisnya terpelihara rapi, akan tetapi sepasang matanya melotot liar dan sikapnya kasar. Di belakang tosu ini nampak kepala perampok yang sebelah matanya masih terluka dan kini dibalut sehingga nampak lucu sekali.

Sekali lihat saja, mengertilah Bi Cu bahwa agaknya tosu ini merupakan teman si kepala perampok, maka dia sudah bangkit dan memandang kepada kepala perampok tadi sambil mengejek.

"Eh, babi hutan mata satu berani datang lagi? Apakah masih kurang merasakan gebukan dan minta lagi?"

Kini tosu itu sudah meloncat turun dari atas kudanya dan melihat caranya meloncat, Sin Liong maklum bahwa tosu ini mempunyai kepandaian yang lumayan. Tosu itu memegang sebatang tongkat panjang dan dengan berdiri tegak dia membentak,

"Siapa berani melukai muridku?!"

Na Tiong Pek mengkhawatirkan keselamatan Bi Cu, maka dengan pedang di tangan dia sudah meloncat ke depan sambil memaki, "Tosu busuk, kau membela perampok?!" Dan pedangnya sudah menyerang dengan gencar ke arah tubuh tosu itu.

Terdengar suara nyaring berkali-kali pada saat tongkat itu menangkis pedang, kemudian tiba-tiba tosu itu membentak nyaring dan tongkatnya kini balas menyerang dan Na Tiong Pek menjadi sibuk sekali, harus berloncatan ke sana-sini sambil menangkis, dan akhirnya kaki kanannya kena diserampang.

"Tukkk!"

Dia terguling roboh karena tulang keringnya kena dipukul dan pada saat itu pula tongkat panjang sudah menyambar lagi ke arah kepala Tiong Pek.

"Takkk!"

Tongkat panjang itu tertangkis oleh ranting di tangan Bi Cu. Kakek itu lantas memandang dengan penuh perhatian.

"Minggirlah, twako," kata Bi Cu, kemudian Tiong Pek menyeret pedang sambil terpincang-pincang mendekati Sin Liong.

"Tosu kerbau itu lihai juga...," dia mengomel.

Namun Sin Liong tak mempedulikannya karena dia sedang mengkhawatirkan kekasihnya yang harus menghadapi tosu yang dia tahu memiliki kepandaian lumayan itu. Akan tetapi dia pun maklum akan kekerasan hati Bi Cu, dan karena itu dia tidak mau membantu atau menggantikannya karena hal itu akan menyinggung hati Bi Cu. Dia hanya siap-siap untuk melindungi kekasihnya itu kalau perlu dan diam-diam mempergunakan jari-jari tangannya meraba dan memainkan beberapa buah batu kerikil.

Sesudah memandang wanita muda yang memegang ranting pohon itu, si tosu menjadi terkejut dan terheran-heran. "Inikah dia dara yang mengalahkan kamu?" tanyanya kepada kepala perampok brewok itu.

"Betul, suhu, akan tetapi dia curang, dia menusuk mata!"

"Heh-heh-heh, memang cantiknya bisa menusuk mata. Eh, nona, engkau telah kesalahan tangan melukai mata muridku, maka kalau engkau mau ikut dengan pinto, menjadi murid pinto selama satu bulan, pinto mau mengampunimu. Marilah pergi bersama pinto, sayang kalau sampai kulitmu yang halus itu luka oleh tongkatku."

"Heh, tosu busuk, tosu cabul, mulutmu kotor! Belum tentu engkau sanggup mengalahkan dia!" Na Tiong Pek sudah memaki-maki dengan marah mendengar ucapan tosu itu.

Akan tetapi Bi Cu tidak mau melayani tosu itu, langsung saja dia sudah menerjang dan menggunakan ranting pada tangannya untuk menyerang dengan totokan-totokan ke arah jalan darah yang berbahaya.

"Ehh, kau hebat juga!" Tosu itu berseru kaget dan cepat mengelak sambil menggerakkan tongkatnya menangkis.

Akan tetapi Bi Cu tidak memberi kesempatan kepadanya dan terus saja dara ini mainkan ilmu tongkatnya yang sangat lincah. Semenjak dia menerima petunjuk-petunjuk dari Sin Liong memang dia memperoleh kemajuan pesat, terutama sekali kekuatan sinkang dan kecepatan gerakan tubuhnya.

Akan tetapi, tepat seperti dugaan Sin Liong, tosu itu memang sangat tangguh. Sesudah bertanding selama tiga puluh jurus lebih, mendadak tosu itu menangkis dengan keras dan membuat Bi Cu terdorong ke belakang, lalu tosu itu membentak.

"Hei, bukankah engkau mainkan Ngo-lian Pang-hoat? Masih apamukah mendiang Hwa-i Sin-kai?"

"Beliau adalah guruku! Kau mau apa?"

"Ha-ha-ha-ha!" Tosu itu tertawa bergelak. "Kalau begitu, semestinya kalau aku bersikap lunak kepadamu. Bahkan andai kata dia masih hidup, tentu pinto akan mengalah. Akan tetapi dia sudah mati, dan engkau begini cantik, kau jadilah muridku selama sebulan..."

"Tosu busuk!" Bi Cu sudah menerjang lagi.

Akan tetapi sekali ini tosu itu memutar tongkatnya yang panjang, membentuk gulungan sinar yang lebar dan begitu Bi Cu bertemu dengan gulungan sinar ini, dia terhuyung ke belakang dan nyaris dia roboh kalau saja tidak cepat meloncat dan berjungkir balik. Akan tetapi pada saat itu, tangan yang berlengan panjang dari tosu itu menyambar lengannya dalam cengkeraman yang amat kuat.

Selagi Bi Cu terkejut, tiba-tiba tosu itu berteriak kesakitan dan melepaskan lengan Bi Cu. Tiba-tiba saja, ketika dia tadi memegang lengan dara itu, sikunya dihantam oleh benda kecil, entah apa dan tiba-tiba saja, lengannya menjadi kesemutan dan lumpuh!

Melihat bahwa tidak ada apa-apa, dia mengira bahwa hal itu kebetulan saja, maka dia sudah memutar lagi tongkat panjangnya dan hendak menyerang Bi Cu. Akan tetapi pada saat itu terdengar bentakan yang amat nyaring,

"Tahan senjata! Di mana ada seorang pendeta suci menyerang seorang gadis remaja?"

Maka muncullah seorang pemuda yang bertubuh tinggi besar dan sedemikian gagahnya sehingga mengagumkan Na Tiong Pek yang memandangnya. Bi Cu mengenal pemuda itu, sungguh pun hanya sekelebatan saja ketika pemuda ini ikut pula mengamuk di Istana Lembah Naga. Juga Sin Liong mengenalnya, karena pemuda itu bukan lain adalah Ciu Khai Sun, pemuda tinggi tegap, gagah dan tampan dari Siauw-lim-pai itu! Akan tetapi Ciu Khai Sun tidak memperhatikan dara itu, dan juga tidak melihat Sin Liong karena semua perhatiannya ditujukan ke arah tosu itu.

Tosu itu menyangka bahwa tentu pemuda ini yang tadi berlaku usil sehingga membuat pegangannya terlepas, maka dia lalu membentak marah, "Manusia lancang! Berani kau mencampuri urusan pinto?" Kemudian tanpa banyak cakap lagi dia sudah menggerakkan tongkat panjangnya menyerang pemuda itu!

Akan tetapi sekali ini tosu itu kecelik karena dia bertemu dengan batu karang! Melihat gerakan tongkat panjang itu, jagoan Siauw-lim-pai ini menghadapinya dengan dua tangan kosong saja!

Perlu diketahui bahwa sebagian besar ahli-ahli silat dari Siauw-lim-pai pandai memainkan toya, maka melihat gerakan tongkat itu Ciu Khai Sun maklum bahwa meski pun tosu ini memiliki kepandaian lumayan, namun ilmu tongkat itu belum cukup hebat untuk membuat dia terpaksa mencabut senjata! Dan memang pemuda tinggi tegap ini memiliki tenaga sinkang yang kuat, maka dengan mengerahkan tenaga sinkang, dia berani menggunakan dua lengannya untuk menangkis tongkat lawan dan setiap tangkisannya bahkan membuat lawan itu merasa telapak tangannya panas dan nyeri!

Terkejutlah tosu itu. Tidak disangkanya bahwa di tempat ini dia bertemu dengan seorang tokoh Siauw-lim-pai yang begini tangguh! Bertempur belasan jurus saja sudah membuka matanya bahwa yang dilawannya ini adalah seorang tokoh Siauw-lim-pai, maka gentarlah tosu itu. Dia menyerang secara membabi-buta, akan tetapi setelah lewat tiga puluh jurus, tiba-tiba Ciu Khai Sun mengeluarkan bentakan nyaring, tangan kirinya menangkis tongkat itu dengan keras dan tangan kanannya menghantam ke depan.

"Krakkk! Bukk...!"

Tubuh tosu itu terlempar sampai dua meter dan roboh terbanting ke atas tanah dengan napas megap-megap karena dadanya terasa sesak. Melihat itu, kepala perampok brewok itu cepat menyambar tubuh gurunya lantas melarikan diri dengan membalapkan kudanya. Cui Khai Sun tidak mengejar dan Na Tiong Pek sudah berlari menghampiri dan menjura dengan penuh hormat.

"Bukan main hebat kepandaian enghiong yang perkasa!" Dia memuji. "Saya akan merasa terhormat sekali berkenalan dengan enghiong. Saya Na Tiong Pek, kepala piauwsu dari Ui-eng Piauwkiok di Kun-ting."

Ciu Khai Sun membalas penghormatan itu dengan sederhana. "Aku Cui Khai Sun. Ehh, Na-piauwsu, apa yang terjadi di sini? Siapakah tosu tadi dan siapa pula orang brewok tadi?"

"Mereka itu perampok-perampok jahat! Mula-mula si brewok itu memimpin anak buahnya merampok kami, dan kemudian sesudah semua perampok itu dipukul mundur, muncullah guru si brewok, yaitu tosu tadi. Untung engkau muncul, Ciu-enghiong dan ternyata engkau adalah seorang pendekar yang jempol!"

Pada saat itu, Sin Liong dan Bi Cu datang mendekat. Ciu Khai Sun menoleh dan begitu melihat dua orang muda itu, dia terkejut sekali dan cepat-cepat dia menghadapi Sin Liong dan Bi Cu sambil menjura penuh hormat.

"Aihh, kiranya Cia-taihiap berada di sini? Dan yang bertanding dengan tosu tadi adalah Bhe-lihiap? Ahh, kalau begitu aku telah lancang sekali..."

"Engkau telah menyelamatkan aku, Ciu-enghiong..."

"Ehhh, jangan membuat aku merasa malu, nona. Jangan menyebut enghiong, sungguh membikin aku merasa malu di depan Cia-taihiap."

"Baiklah, di antara orang sendiri, biarlah kusebut engkau Ciu-twako saja!" kata Bi Cu yang merasa suka melihat sikap yang begitu jujur serta sederhana dari jagoan Siauw-lim-pai yang lihai ini.

Mereka semua tertawa dan Na Tiong Pek merasa amat heran sampai bengong. Apa lagi mendengar betapa pendekar yang gagah itu menyebut Sin Liong dengan Cia-taihiap...! Tentu saja dia menjadi bingung dan tidak mengerti sama sekali.

"Ciu-twako hendak pergi ke manakah?" Sin Liong bertanya ramah.

"Aku sedang menuju ke rumah pamanku di Su-couw."

"Su-couw? Ahh, sungguh kebetulan, kami berdua pun hendak pergi ke Su-couw," kata Sin Liong girang.

"Begitulah? Aku sudah merasa heran berjumpa dengan ji-wi di sini, tidakkah semestinya ji-wi pergi ke utara, ke Lembah Naga? Bukankah aku mendengar bahwa kaisar..."

"Tidak, kami masih memiliki banyak urusan dan kini hendak pergi ke Su-couw," kata Sin Liong memotong ucapan itu. Melihat sikap pendekar ini agaknya tak suka membicarakan urusan Lembah Naga, maka jagoan Siauw-lim-pai itu pun tidak mau menyebutnya lagi.

"Kalau begitu, kebetulan sekali, kita bisa melakukan perjalanan bersama-sama!" katanya dengan girang, "Kita dapat pergi bertiga..."

"Berempat, Ciu-enghiong. Aku pun akan pergi ke sana! Sekarang juga aku akan mengatur semua piauwsu untuk mengantar barang-barang ini sampai ke tempat tujuan yang sudah tidak jauh lagi dan aku akan ikut bersama kalian ke Su-couw. Ketahuilah, Ciu-enghiong, aku baru saja berjumpa kembali dengan dua orang... ehh, sute dan sumoi-ku ini setelah kami berpisah selama bertahun-tahun."

"Ahhhh...!" Ciu Khi Sun tentu saja sangat terkejut mendengar bahwa pemuda tampan ini adalah suheng dari Cia Sin Liong yang sakti dan nona Bhe Bi Cu. "Tentu saja...," katanya dengan pandang mata terheran-heran.

Sin Liong dan Bi Cu tidak berkata apa-apa dan sesudah Tiong Pek membagi-bagi tugas kepada para piauwsu yang menjadi anak-anak buahnya untuk melanjutkan perjalanan ke tempat tujuan, dia kemudian memberikan seekor kuda kepada Ciu Khai Sun dan mereka berempat lalu melanjutkan perjalanan menuju ke selatan.

Sesudah keluar dari hutan, mereka berjalan seenaknya saja sambil menikmati keindahan pemandangan di sekitar pegunungan itu. Pemandangan alam di daerah perbatasan utara Propinsi Honan memang amatlah indahnya.

Pada tengah hari itu mereka berhenti di tepi sebuah danau kecil di lereng gunung untuk makan siang dari perbekalan masing-masing sambil mengobrol ke barat dan ke timur. Sesudah memberi waktu kepada kuda mereka untuk beristirahat sejenak, barulah mereka melanjutkan perjalanan.

Akan tetapi, menjelang senja, tiba-tiba mereka mendengar derap kaki kuda dan nampak ada tiga penunggang kuda mengejar mereka. Tadinya mereka tidak menaruh perhatian, akan tetapi sesudah mereka mendengar teriakan-teriakan dari belakang, Na Tiong Pek mengenal bahwa seorang di antara mereka adalah si perampok brewok bersama dua orang yang membalapkan kuda mereka. Jelaslah bahwa tiga orang itu mengejar mereka berempat!

"Wah, si babi hutan mata satu itu lagi!" kata Na Tiong Pek gembira, menirukan julukan yang diberikan oleh Bi Cu kepada kepala perampok yang terluka sebelah matanya.

Hatinya sedikit pun tidak merasa khawatir karena di sana terdapat Ciu Khai Sun yang gagah perkasa dan berkepandaian tinggi, juga tokoh Siauw-lim-pai pula seperti yang tadi didengarnya dari percakapan mereka. Selain ada Ciu Khai Sun, juga di situ ada Bi Cu yang sekarang ternyata sudah lebih lihai dari pada dia sendiri. Mengenai diri Sin Liong, dia meragukan apakah pemuda ini pun memperoleh kemajuan seperti Bi Cu!

Empat orang muda itu menahan kuda, lalu membalikkan kuda mereka menghadapi tiga orang yang datang dengan cepat itu. Ternyata mereka itu adalah si kepala perampok yang mata kirinya tertutup balutan kain bersama dua orang kakek, akan tetapi bukan tosu yang menjadi gurunya dan yang telah dikalahkan oleh Khai Sun tadi.

Mereka ini juga dua kakek tua, dan seorang di antara mereka berpakaian seperti tosu, mukanya putih dan matanya memandang bengis, pada punggungnya terdapat sebatang pedang panjang. Orang ke dua berpakaian mirip seperti seorang pengemis, membawa sebatang tongkat dan tubuhnya tinggi kurus, mukanya penuh senyum.

"Hemm, mereka itu adalah Kim Lok Cinjin dan Lam-thian Kai-ong," Sin Liong berkata lirih akan tetapi cukup dapat didengar oleh tiga orang temannya.

"Ahh! Mereka yang terkenal sebagai datuk-datuk kaum sesat di selatan itu?" Ciu Khai Sun berkata dengan nada suara kaget.

Walau pun dia sendiri belum pernah berjumpa dengan dua orang itu, namun nama besar mereka sudah pernah didengarnya. Kim Lok Cinjin, tosu muka putih itu adalah sute dari mendiang Kim Hwa Cinjin ketua Pek-lian-kauw yang dulu tewas di tangan Cia Bun Houw ketika terjadi pertempuran di Lembah Naga. Ada pun Lam-thian Kai-ong (Raja Pengemis Dunia Selatan) adalah seorang pengemis yang memiliki ilmu tinggi dan yang menguasai seluruh kaipang (perkumpulan pengemis) di seluruh daerah selatan.

"Bi Cu, harap engkau diam saja dan jangan ikut maju," tiba-tiba Sin Liong berkata kepada kekasihnya.

"Tapi, Sin Liong...," Bi Cu hendak membantah.

"Mereka itu lihai bukan main, dan juga kejam," kata pula Sin Liong memotong kata-kata kekasihnya.

"Cia-taihiap, biarlah jembel tua itu kuhadapi dan Kim Lok Cinjin yang kabarnya luar biasa lihainya itu taihiap yang menandinginya."

"Ciu-twako, kuharap twako sekali ini menonton saja, biar aku yang menghadapi mereka berdua," jawab Sin Liong yang maklum akan bahayanya dua orang lawan itu dan biar pun dia tahu akan kelihaian pemuda Siauw-lim-pai ini namun dia khawatir kalau-kalau pemuda itu akan celaka.

Na Tiong Pek mendengarkan percakapan itu dengan heran hingga dia melongo. Sin Liong hendak menghadapi lawan yang dikabarkan sangat lihai itu seorang diri saja, menghadapi mereka berdua? Apa artinya ini? Dia merasa tak enak melihat semua orang mengajukan diri untuk menghadapi musuh, maka dia pun berkata, "Sute, aku akan membantumu!"

Sin Liong tersenyum. "Na-twako jangan main-main. Mereka adalah datuk-datuk golongan sesat yang lihai, biarlah kau nonton saja dan siap membantuku jika aku sampai terancam bahaya." Kalimat terakhir itu dimaksudkan untuk mengangkat orang ini.

Akan tetapi Tiong Pek yang belum tahu benar bahwa Sin Liong kini telah menjadi seorang yang memiliki kepandaian luar biasa tingginya, bahkan yang kini terkenal dengan sebutan Pendekar Lembah Naga, segera menjawab dengan sungguh-sungguh. "Baik!"

Kini tiga orang itu sudah tiba di situ dan mereka sudah berloncatan turun dengan sikap mengancam. Melihat ini, Sin Liong menyerahkan kendali kudanya kepada Tiong Pek yang berada di sebelah kirinya sambil berkata, "Twako, tolong kau pegangkan kendali kudaku sebentar." Setelah berkata demikian, dia pun lalu turun dari kudanya dan melangkah ke depan menyambut dua orang kakek itu dengan sikap tenang.

"Kim Lok Cinjin dan Lam-thian Kai-ong, apakah ji-wi baik-baik saja? Dan ada keperluan apakah ji-wi mengejar kami?" tanya Sin Liong dengan suara tenang.

Dua orang kakek itu yang tadinya memandang ke arah Ciu Khai Sun yang ditunjuk oleh si kepala rampok sebagai orang yang telah mengalahkan gurunya dan kepada Bi Cu sebagai gadis yang telah melukainya, kini terkejut hingga memandang kepada Sin Liong dengan heran. Tidak disangkanya begitu berjumpa, pemuda sederhana ini telah mengenal nama mereka.

Sekarang mereka mengamati pemuda itu dengan penuh perhatian. Kemudian mereka pun mengenal pemuda ini sehingga Kim Lok Cinjin berseru kaget, "Kau... kau adalah... adalah bocah bernama Sin Liong itu...?"

Tentu saja Kim Lok Cinjin terkejut karena dia pernah bertemu, bahkan pernah bergebrak dengan pemuda ini pada waktu diadakan pemilihan bengcu di selatan, bahkan Lam-thian Kai-ong juga hadir dan sudah menyaksikan kelihaian anak itu ketika menghadapi Lam-hai Sam-lo!

"Ahh, kalau begitu dia inilah yang menggagalkan gerakan di Istana Lembah Naga!" teriak pula Lam-thian Kai-ong.

Kiranya dua orang ini pun telah dihubungi oleh Kim Hwa Cinjin untuk membantu gerakan Pangeran Ceng Han Houw, akan tetapi mereka terlambat dan mereka mendengar bahwa gerakan itu sudah gagal sama sekali, banyak orang kang-ouw golongan hitam tewas dan pasukan Pangeran Ceng Han Houw ditumpas oleh pasukan pemerintah. Kaum kang-ouw golongan hitam atau sesat yang sudah dibebaskan itu mengabarkan bahwa kegagalan itu adalah gara-gara Cia Sin Liong!

"Kim Lok Cinjin, suheng-mu telah tewas, demikian pula Lam-hai Sam-lo dan banyak lagi kaum sesat yang membantu pemberontakan. Pemberontakan telah ditumpas, oleh karena itu, sebaiknya kalau engkau pergi dan membujuk para anggota Pek-lian-kauw agar jangan mencoba-coba untuk memberontak terhadap pemerintah. Dan engkau, Lam-thian Kai-ong, apakah engkau pun hendak membawa kaum pengemis untuk memberontak pula?"

"Mengapa tidak? Kaum pengemis di kota raja kini dikejar-kejar, dan Hwa-i Sin-kai juga dibunuh. Bukankah pemerintah menindas kaum pengemis yang sudah sukar hidupnya?" kata Lam-thian Kai-ong. "Bohong!" tiba-tiba Bi Cu berteriak, "Hwa-i Sin-kai adalah guruku dan aku tahu bahwa dia tewas akibat difitnah, karena semua itu diatur oleh Kim Hong Liu-nio yang sekarang telah tewas pula! Pemerintah tidak pernah memusuhi rakyatnya, apa lagi rakyat miskin."

"Sudahlah, sebaiknya kalian mundur saja sebelum terlambat. Masih banyak kesempatan bagi kalian untuk kembali ke jalan benar!"

"Cia Sin Liong! Pinto mendengar bahwa engkau adalah keturunan Cin-ling-pai dan bahwa ilmu kepandaianmu hebat bukan main. Dahulu di dalam pemilihan bengcu kita tak sempat mengadu ilmu secara memuaskan, sekarang pinto ingin mencoba-coba ilmumu sebelum mendengarkan bujukanmu itu!" kata Kim Lok Cinjin.

"Aku pun ingin mencoba kepandaian orang yang dijuluki Pendekar Lembah Naga!" kata pula si Raja Pengemis.

Sin Liong tersenyum. "Kalian ini orang-orang tua masih saja memiliki nafsu besar untuk berkelahi. Biarlah aku mengaku kalah tanpa berkelahi, asalkan kalian suka mundur dan kembali ke jalan benar," kata Sin Liong sambil menjura.

Melihat ini, Na Tiong Pek mengerutkan alisnya. Tadi dia merasa semakin heran sampai memandang dengan mata terbelalak mendengar percakapan itu. Tak disangkanya bahwa Sin Liong sudah mendapatkan kemajuan sedemikian hebatnya sehingga dikenal sebagai seorang pendekar yang sakti. Pantas saja Ciu Khai Sun menyebutnya Cia-taihiap!

Akan tetapi ketika mendengar dan melihat sikap Sin Liong yang mengalah itu, sungguh dia merasa penasaran sekali. Kalau memang benar Sin Liong memiliki kepandaian tinggi, kenapa dia tidak menyambut tantangan dua orang kakek sesat itu?

Kim Lok Cinjin masih merasa sakit hatinya mendengar akan kematian suheng-nya, yaitu Kim Hwa Cinjin, yang menurut berita tewas di tangan Cia Bun Houw, tokoh Cin-ling-pai atau ayah dari pemuda yang sekarang berdiri di depannya itu. Sebagai seorang tua yang banyak pengalaman, dia tentu tidak akan mau menimpakan dendamnya kepada pemuda ini, akan tetapi karena kegagalan gerakan pangeran itu dikabarkan karena pemuda ini, maka dia ingin melampiaskan rasa kecewanya dengan menghinanya.

"Cia Sin Liong, apa bila engkau mau berlutut sambil minta ampun sebanyak delapan kali padaku, baru pinto akan menghabiskan segala urusan dan akan pergi meninggalkanmu."

Sin Liong masih tetap tenang, akan tetapi kedua matanya mencorong tanda bahwa dia mulai marah. "Kim Lok Cinjin, bagi seorang gagah, kalau memang bersalah, tanpa diminta lagi tentu aku akan suka untuk berlutut minta ampun kepada seorang anak kecil sekali pun, akan tetapi kalau tidak bersalah, biar menghadapi siapa pun, biar setan atau iblis, aku tidak akan sudi berlutut dan mengalah!"

"Bagus! Itu artinya menantang kami!" kata Si Raja Pengemis yang sudah menggerakkan tongkatnya melakukan penyerangan yang sangat cepat dan ganas. Kim Lok Cinjin yang pernah menyaksikan kelihaian Sin Liong, tidak malu-malu lagi untuk membantu temannya itu dan dia juga mencabut pedang dan menubruk, melakukan serangan kilat ke arah Sin Liong.

Sin Liong cepat mengelak sambil berloncatan ke sana-sini. "Hem, kalian memang sudah tidak dapat diperbaiki lagi," katanya dan dia pun lalu balas menyerang dengan tamparan-tamparan tangannya.

Tongkat butut di tangan Raja Pengemis itu menyambar ganas, akan tetapi hanya dengan miringkan kepalanya, tongkat itu lewat dan luput.

"Darrr!" Batu besar di belakang Sin Liong yang terkena pukulan tongkat itu pecah!

"Singgg...!"

Sinar kilat pedang di tangan Kim Lok Cinjin menyambar, tetapi kembali serangan dahsyat ini dapat dielakkan oleh Sin Liong dengan mudah. Dua orang kakek itu menjadi semakin marah dan penasaran, mereka segera memutar senjata mereka dengan cepat sehingga lenyap bentuk pedang dan tongkat itu, berubah menjadi dua gulungan cahaya hitam dan cahaya keemasan yang amat cepat menyambar-nyambar. Tubuh kedua orang kakek itu sampai lenyap tertutup gulungan sinar senjata mereka, hanya nampak kaki mereka saja kadang-kadang menginjak tanah dan berloncatan ke sana-sini.

Akan tetapi dengan tenangnya Sin Liong menghadapi pengeroyokan itu. Dengan langkah-langkah Thai-kek Sin-kun dia dapat menghindarkan setiap serangan, dan kedua lengan yang dipenuhi tenaga sinkang dari Thian-te Sin-ciang itu, seperti juga kedua lengan Kok Beng Lama dahulu, dapat digunakannya untuk menangkis tongkat dan bahkan menangkis pedang tanpa terluka!

Melihat betapa pemuda itu yang bergerak tenang dikeroyok oleh kedua orang kakek yang demikian lihainya, Na Tiong Pek menjadi gelisah sekali. "Ciu-enghiong, mengapa engkau tidak membantunya? Sumoi... lebih baik engkau cepat membantu Sin Liong... dua orang lawannya demikian ganas...!"

"Na-twako, jangan khawatir, Sin Liong tidak akan kalah."

"Saudara Na, apakah engkau tak dapat melihat betapa Cia-taihiap sudah mulai mendesak mereka?"

Mendengar kata-kata kedua orang itu, Tiong Pek membelalakkan mata dan memandang dengan penuh perhatian ke arah pertempuran, akan tetapi gerakan dua orang kakek itu terlalu cepat sehingga dia tidak mampu mengikuti dan sama sekali tidak dapat melihat bagaimana keadaan Sin Liong yang kini juga mulai bergerak dengan cepat bukan main. Maka, tentu saja ucapan dua orang tadi tidak dapat melenyapkan kekhawatirannya. Dia lalu mencabut pedangnya. Melihat ini, Bi Cu terkejut.

"Ehh, twako, kau mau apa?"

"Mau... ini... mau meminjamkan pedangku kepada Sin Liong. Dua orang lawannya juga menggunakan senjata, maka dia harus menggunakan pedang ini... agar tidak kalah..."

Akan tetapi pada saat itu pula terdengar teriakan keras dan nampak olehnya betapa tubuh Lam-thian Kai-ong terlempar dan terbanting ke atas tanah, tongkatnya patah menjadi dua, dan selagi Na Tiong Pek memandang dengan mata terbelalak, terdengar teriakan lain dan tubuh Kim Lok Cinjin juga terlempar dan terbanting roboh! Dua orang kakek itu mengeluh, lalu merangkak bangun dan dengan saling bantu mereka berdua lalu bangkit berdiri dan memandang kepada Sin Liong.

"Cia-taihiap, pinto mengaku kalah...," kata tosu itu.

"Taihiap sungguh hebat, pantas menjadi Pendekar Lembah Naga... uhh... saya mengaku kalah...," Si Raja Pengemis juga mengeluh. Keduanya lalu dibantu oleh kepala perampok brewok menaiki kuda masing-masing dan mereka bertiga kemudian pergi dari situ tanpa menoleh lagi.

Tiong Pek menyimpan kembali pedangnya, kemudian dia berlari menghampiri Sin Liong, memegang tangan pendekar itu dan berkata, "Ah, sungguh tak pernah kusangka! Engkau telah menjadi seorang pendekar yang demikian lihai... ahh, sute... hemm, tak pantas lagi aku menyebutmu sute... kau... Cia-taihiap..."

Sin Liong tertawa dan memegang pundak Tiong Pek. "Twako, kenapa engkau mendadak begini sungkan? Aku masih tetap Sin Liong yang biasa. Kepandaian apa pun tidak boleh merubah seorang manusia."

Na Tiong Pek makin gembira dan diam-diam dia merasa malu terhadap diri sendiri yang biasanya suka mengagulkan diri sendiri. "Ahh, Sin Liong... benar-benar aku tidak pernah membayangkan engkau menjadi sehebat ini!"

Ciu Khai Sun juga menghampiri dan menyerahkan kendali kuda Sin Liong dan Tiong Pek yang tadi dipegangnya ketika Tiong Pek menghampiri Sin Liong dengan girang sehingga melepaskan tali kendali dua ekor kuda itu.

"Mari kita lanjutkan perjalanan, sebentar lagi malam akan tiba dan sebaiknya kalau kita sudah tiba di dusun depan untuk bermalam," kata Ciu Khai Sun.

Mereka melanjutkan perjalanan dan membalapkan kuda masing-masing. Pada malam itu mereka bermalam di sebuah dusun di mana mereka mengobrol sambil makan malam di rumah seorang penghuni dusun yang mereka tumpangi dan mereka sewa kamarnya. Di dalam percakapan ini, tanpa disengaja Ciu Khai Sun bertanya kepada Sin Liong,

"Maaf, taihiap dan nona Bhe, kalau boleh aku mengetahui, setelah kita menjadi sahabat baik, ehhh... kapan kiranya aku menerima surat undangan untuk pernikahan ji-wi?"

Wajah Bi Cu menjadi merah dan dia menundukkan mukanya. Sin Liong tersenyum dan menjawab singkat. "Kalau sudah tiba saatnya kami tak akan melupakanmu, Ciu-twako."

Mendengar ini, Na Tiong Pek meloncat bangun dan wajahnya berseri-seri gembira. "Wah, kalian akan menikah? Ahaiii.... alangkah bodohnya aku! Seperti buta saja! Kiranya kalian sudah saling berjodoh dan bertunangan?"

Melihat sikap ini, sejenak Sin Liong dan Bi Cu saling pandang. Mula-mula mereka merasa khawatir, akan tetapi melihat betapa Tiong Pek benar-benar bergembira, keduanya lantas tersenyum lega.

"Na-twako, kami... kami berdua saling mencinta..." pengakuan Bi Cu ini untuk menyatakan bahwa pertunangannya dengan Sin Liong adalah berdasarkan cinta dan minta agar bekas suheng-nya itu suka memakluminya.

"Tentu saja! Aku memang setuju sekali bahwa setiap perjodohan harus berdasarkan cinta kedua fihak, barulah dapat diharapkan pernikahan itu akan berbahagia. Kionghi (selamat), Sin Liong dan Bi Cu. Kionghi dan jangan lupa kelak untuk mengirim undangan untuk aku ikut minum arak pengantin!"

Melihat betapa kegembiraan pemuda itu tulus, Sin Liong lalu memegang tangan bekas suheng itu. "Aku senang sekali melihat sikapmu, twako. Tidak percuma engkau menjadi putera tunggal mendiang paman Na Ceng Han yang budiman."

Tiong Pek teringat sikapnya ketika mereka bertiga masih bersama-sama dahulu dan dia menarik napas panjang. "Aku bukan anak-anak lagi dan sekarang telah menjadi dewasa, Liong-te dan sumoi! Aku benar-benar girang bahwa kalian dapat berjodoh, dan memang kalian sudah cocok sekali untuk menjadi suami isteri."

Demikianlah, perjalanan pada keesokan harinya dilakukan dengan lebih menyenangkan dan lebih leluasa bagi Sin Liong dan Bi Cu yang kini sudah tahu akan isi hati Tiong Pek. Sebelum percakapan malam tadi, baik Sin Liong mau pun Bi Cu merasa agak tidak enak terhadap Tiong Pek dengan adanya kenyataan bahwa pemuda itu pernah jatuh cinta pada Bi Cu dan mengingat pula akan segala peristiwa yang pernah terjadi di waktu dahulu.

Oleh karena itu pula maka di hadapan Tiong Pek, keduanya tidak pernah memperlihatkan kemesraan, bahkah mereka tidak pernah menyinggung soal pertunangan mereka. Akan tetapi sekarang mereka merasa lega dan karena itu mereka dapat melanjutkan perjalanan dengan lebih gembira.

********************

cerita silat online karya kho ping hoo serial pedang kayu harum

Sesudah mereka tiba di Su-couw, sebelum pergi mengunjungi pamannya, Ciu Khai Sun pergi dan ikut bersama Sin Liong dan Bi Cu mengunjungi rumah Kui Hok Boan yang oleh Sin Liong diakui sebagai rumah pamannya. Dia tidak perlu memberitahukan orang lain bahwa Kui Hok Boan yang hendak dikunjungi itu adalah ayah tirinya, karena hal ini akan menimbulkan kenang-kenangan yang amat tidak enak.

Kedatangan mereka disambut oleh Beng Sin, Lan Lan dan Lin Lin dengan gembira bukan main.

"Liong-koko...!" Dua orang dara kembar yang cantik jelita itu berteriak sambil berlari-larian menyambut, kemudian mereka berdua memegangi kedua tangan Sin Liong dengan wajah gembira. Sin Liong juga merangkul pundak kedua orang adik tirinya yang disayangnya ini.

"Kalian baik-baik saja, bukan?" tegurnya.

Setelah pertemuan tiga orang yang amat gembira dan mengharukan ini, barulah Sin Liong menyalami Tee Beng Sin atau yang lebih tepat lagi kini bernama Kui Beng Sin, kemudian memperkenalkan adik-adik tirinya itu kepada Bi Cu yang sudah mereka ketahui, kemudian kepada Ciu Khai Sun dan Na Tiong Pek.

Dalam perkenalan ini, terjadi hal yang sangat menarik, yaitu pertukaran pandangan mata antara dua orang dara kembar itu dengan Ciu Khai Sun dan Na Tiong Pek! Seketika, dua orang pemuda itu tertarik sekali kepada dua dara kembar itu dan jantung mereka lantas berdebar tak karuan karena di dalam hati, mereka berdua harus mengakui bahwa selama ini belum pernah mereka bertemu dan berkenalan dengan dua orang dara yang demikian cantik manis dan lincah!

Mereka lalu dipersilakan masuk oleh Beng Sin beserta dua orang adik kembarnya. Sambil menggandeng tangan Lan Lan dan Lin Lin, Sin Liong, Bi Cu dan dua orang pemuda itu memasuki ruangan dan diajak duduk di kamar tamu. Ketujuh orang muda-mudi ini riang gembira sekali dan macam-macam yang mereka bicarakan.

Tiba-tiba saja Sin Liong berkata kepada Beng Sin, Lan Lan dan Lin Lin, "Di manakah ayah kalian? Aku... aku dan Bi Cu ingin sekali jumpa. Bolehkah kami masuk untuk menemui dia?"

Lin Lin dan Lan Lan saling pandang dengan alis berkerut, sedangkan Beng Sin segera bangkit berdiri sambil berkata, "Dia beristirahat di dalam. Marilah kuantarkan kalau kalian hendak bertemu. Lan-moi dan Lin-moi, kau temani dulu dua orang tamu kita ini."

Sin Liong dan Bi Cu bangkit berdiri dan mengikuti Beng Sin masuk. Setelah tiba di dalam Beng Sin lalu berkata, sambil memandang kepada dua orang muda itu dengan sinar mata tajam penuh selidik, "Sin Liong, dan nona... aku tahu bahwa... ayahku sudah melakukan banyak sekali kesalahan di masa lalu terhadap kalian, terutama terhadapmu, Sin Liong. Akan tetapi, melihat keadaannya sekarang, yang menderita dan tidak sadar, dan melihat muka kami, yaitu aku, Lan-moi dan Lin-moi, tidak maukah kalian memaafkannya?"

Ketika tadi bertemu dengan tiga orang muda yang menjadi putera dan puteri musuh besar pembunuh ayah kandungnya, rasa kebencian di dalam hati Bi Cu sudah banyak menurun, bahkan ada rasa tidak enak apa bila dia sampai harus turun tangan membunuh Kui Hok Boan, tidak enak terhadap tiga orang muda yang baik-baik dan yang kelihatannya amat menyayang Sin Liong itu. Betapa pun juga, dua orang dara kembar yang cantik manis itu adalah saudara seibu dari Sin Liong, maka kalau sampai dia menyusahkan hati mereka dengan membunuh ayahnya, sungguh merupakan hal yang amat tidak enak baginya.

Mulailah timbul keraguan apakah dia akan sampai hati membunuh ayah dua orang dara kembar itu yang tidak tahu apa-apa dan sama sekali tidak berdosa, bahkan yang dahulu berani menentang ayah sendiri demi menolong dia dan Sin Liong! Sekarang, mendengar ucapan Beng Sin, dia merasa semakin canggung dan tidak enak, maka dia tidak berkata apa-apa dan membiarkan Sin Liong yang menjawab.

"Beng Sin, antarkan sajalah kami melihatnya. Kami ingin melihat bagaimana keadaannya sekarang."

Beng Sin mengangguk kemudian menarik napas panjang. "Menyedihkan sekali... dan jika keadaannya seperti itu terus, mana mungkin aku dapat melangsungkan pernikahanku?"

Mereka sampai di depan sebuah kamar. Sunyi sekali di sana dan Beng Sin menuding ke kamar itu. "Dia selalu berdiam di kamarnya."

Kemudian dia membuka daun pintu lebar-lebar agar ada cahaya memasuki kamar yang gelap itu. Kui Hok Boan duduk di atas kursi, diam seperti patung.

"Ayah, Sin Liong dan nona Bhe datang untuk menengokmu, ayah," kata Beng Sin kepada pria tinggi kurus pucat yang duduk di atas kursi itu.

Sin Liong dan Bi Cu terkejut sekali melihat pria itu yang dulunya merupakan seorang pria setengah tua yang tampan dan gagah, kini telah menjadi tengkorak terbungkus kulit dan mukanya pucat, matanya cekung itu. Dan mendadak pria itu bangkit berdiri, memandang pada Sin Liong dan Bi Cu dengan sinar mata yang membuat Bi Cu merasa ngeri karena sinar mata itu liar dan penuh kedukaan. Dan tiba-tiba kakek itu menjatuhkan diri berlutut dan berkata dengan suara penuh penyesalan,

"Ampunkan aku... ampunkan aku..."

Sin Liong dan Bi Cu terkejut sekali dan melangkah mundur. Akan tetapi pada saat itu, Kui Hok Boan sudah meloncat berdiri dan ternyata gerakannya masih gesit, dan dia berkata, suaranya masih penuh kedukaan, "Atau, kalau kalian tidak mau mengampuniku, mari kita bertanding sampai aku menggeletak mati!" Dan dia sudah memasang kuda-kuda.

"Ayah, Sin Liong dan nona Bhe datang hanya untuk menjenguk," Beng Sin berkata dan kakek itu sudah duduk kembali di atas kursinya seperti tadi, seperti patung hidup!

"Mari... mari kita pergi...," kata Bi Cu sambil menggandeng tangan Sin Liong.

Pemuda ini merasa lega bukan main. Kata-kata itu saja sudah menunjukkan bahwa Bi Cu sama sekali tidak berniat untuk membunuh musuhnya ini. Akan tetapi dia masih belum puas. Dia menarik tangan Bi Cu mendekati Kui Hok Boan dan dia lalu berkata dengan suara halus.

"Paman Kui Hok Boan, lihat baik-baik. Inilah Bhe Bi Cu, puteri mendiang Bhe Coan yang telah kau bunuh itu!"

Bibir Kui Hok Boan bergerak-gerak dan berbisik-bisik, "Bhe Coan... Bhe Coan... ahhh..." Kemudian dia kembali menjatuhkan diri dan berlutut. "Ampunkan aku... ampunkan aku...!" Sejenak kemudian dia sudah meloncat bangun dan seperti tadi dia memasang kuda-kuda dan berkata, "Atau, kalau tidak mau mengampuniku, marilah kita bertanding sampai aku menggeletak mati!"

"Mari kita pergi!" Bi Cu berkata lagi dan kini dia menarik tangan kekasihnya diajak ke luar dari kamar itu. Beng Sin menutupkan lagi daun pintu dan dia sudah menyusul mereka berdua. Dia menjura ke arah Bi Cu.

"Kiranya ayahku sudah berdosa pula terhadap nona, maka biarlah aku yang memintakan ampun sekaligus menghaturkan terima kasih kepada nona yang telah berbesar hati untuk memaafkannya," Berkata demikian, Beng Sin sudah menjatuhkan diri berlutut!

Cepat-cepat Sin Liong dan Bi Cu memegang pundaknya kemudian membangunkannya. Sin Liong merangkulnya.

"Beng Sin, engkau benar-benar seorang putera yang amat berbakti dan baik. Bi Cu tidak mendendam, bahkan kami merasa kasihan sekali melihat penderitaan ayahmu. Dia jauh lebih menderita dari pada kalau sampai terbunuh oleh orang yang membalas dendam."

Beng Sin menghela napas. "Yaah, memang dia sengsara sekali. Setiap kali dia hanya minta ampun dan menantang seperti itu. Agaknya ada dua hal yang menggores hatinya, yaitu penyesalan dan juga sifat angkuhnya yang tidak mau tunduk."

"Apakah setiap saat dia hanya duduk di dalam kamarnya itu?"

"Kadang-kadang dia juga keluar, akan tetapi hanya untuk berjalan-jalan di dalam taman di belakang rumah, tidak pernah pergi ke lain tempat kecuali dua tempat itu, kamarnya dan taman bunga."

"Sudahlah," kata Bi Cu. "Marilah kita kembali ke ruangan tamu dan kita bicara dengan gembira. Yang sudah biarlah berlalu, itu adalah urusan orang-orang tua."

Mereka lalu kembali ke ruangan tamu di mana dua orang dara kembar itu nampak bicara dengan asyik bersama Tiong Pek dan Khai Sun. Biar pun baru saja berkenalan, agaknya nampak ada semacam keakraban antara Khai Sun dan Kui Lan, juga antara Tiong Pek dengan Kui Lin!

Lan Lan dan Lin Lin menjadi girang sekali pada saat mereka melihat Sin Liong dan Bi Cu kembali tanpa terjadi apa-apa, bahkan Beng Sin pun nampak gembira sekali. Mereka lalu memanggil pelayan dan dua orang dara kembar itu pun sibuk untuk menjamu para tamu mereka. Tujuh orang muda-mudi itu kemudian makan minum sambil bercakap-cakap dan bersenda-gurau seperti lajimnya orang-orang muda yang merasa cocok satu sama lain bertemu dan bercengkerama.

Akan tetapi, selagi mereka bergembira, tiba-tiba terdengar teriakan nyaring dari belakang rumah. Sin Liong yang tercepat di antara mereka sudah meloncat dan lari masuk, terus menuju ke belakang, diikuti oleh yang lain-lain.

Dan di tengah-tengah taman bunga di belakang rumah itu nampaklah pemandangan yang mengerikan. Kui Hok Boan menggeletak mandi darah, dan di dekatnya menggeletak pula seorang kakek yang tinggi besar dan brewok yang agaknya juga menderita luka hebat akibat pukulan yang mengenai tenggorokannya dan membuatnya muntah darah. Ketika Sin Liong dan orang-orang muda itu tiba di situ, keadaan dua orang itu tidak tertolong lagi.

Pedang kakek brewok itu menembus dada Kui Hok Boan dan agaknya pukulan maut Kui Hok Boan membuat kakek itu tidak mampu bangkit kembali.

Lan Lan dan Lin Lin berseru kaget ketika mereka mengenal kakek brewok itu. "Dia inilah yang dulu menculik kami!" teriak Kui Lin.

Sin Liong juga teringat akan pengalamannya sepuluh tahun yang lalu. Ketika itu terdapat seorang kakek brewok yang melarikan Lan Lan dan Lin Lin dan kebetulan dia melihat hal itu, maka dia pun lalu menyerang kakek itu, menolong Kui Lan dan Kui Lin, dibantu oleh monyet-monyet besar yang menjadi teman-temannya. Malah monyet betina yang menjadi induknya, yang merawatnya ketika dia masih bayi, tewas oleh kakek brewok ini. Maka dia segera mendekati, menotok beberapa jalan darah untuk mengurangi penderitaannya, lalu bertanya,

"Mengapa kau membunuh paman Kui Hok Boan?" tanyanya.

Orang itu terengah-engah, napasnya tinggal satu-satu. "Aku... Ciam Lok... puas sudah dapat membalaskan kematian puteriku Ciam Sui Noi... yang dinodai dan ditinggalkannya...," dan kepalanya terkulai. Matilah orang she Ciam ini, nyawanya menyusul nyawa Kui Hok Boan yang telah mati lebih dulu.

Beng Sin, Lan Lan dan Lin Lin hanya dapat menangisi kematian ayah mereka dan mereka lalu mengurus jenazah Kui Hok Boan, dibantu oleh Sin Liong, Tiong Pek dan Khai Sun.

Sin Liong dan Bi Cu tinggal di Su-couw dan turut membantu keluarga Kui yang mengurus pemakaman jenazah Kui Hok Boan. Bahkan Na Tiong Pek dan Ciu Khai Sun yang kini sudah menjadi sahabat-sahabat baik keluarga itu, juga ikut membantu sampai selesainya pemakaman. Lalu Sin Liong dan Bi Cu berpamit, meninggalkan Su-couw untuk pergi ke Cin-ling-san.

Di tempat ini, mereka pun disambut keluarga Cin-ling-pai dengan gembira sekali. Sampai beberapa hari lamanya mereka bercakap-cakap untuk saling menceritakan pengalaman masing-masing, terutama sekali Sin Liong yang dihujani pertanyaan-pertanyaan dan anak ini harus menceritakan lagi semua riwayatnya dari kecil sampai dewasa.

Beberapa bulan kemudian, atas persetujuan seluruh keluarga Cin-ling-pai, dilangsungkan pernikahan antara Cia Sin Liong dan Bhe Bi Cu. Pernikahan itu dirayakan dengan amat meriah karena dihadiri oleh hampir seluruh tokoh kang-ouw dari empat penjuru, dan juga dihadiri oleh banyak tokoh-tokoh besar dari pemerintah di kota raja! Pangeran Hung Chih sendiri bahkan berkenan hadir!

Semua tamu memandang dengan gembira dan mereka harus mengakui bahwa pasangan pengantin itu memang tepat dan cocok sekali, apa lagi melihat betapa dari dua pasang mata pengantin itu memancarkan cahaya penuh cinta kasih bila mereka saling pandang.

Tidak semua cerita berakhir dengan kebahagiaan. Namun, Sin Liong dan Bi Cu, akhirnya menemui kebahagiaan dalam rumah tangga yang mereka bina bersama.

Setiap pasangan sudah pasti akan mengecap kebahagiaan hidup apa bila rumah tangga mereka didasari dengan cinta kasih. Segala apa pun di dunia ini, baik yang oleh umum dipandang sebagai hal yang paling buruk, akan dapat dihadapi dengan tabah dan mudah diatasi apa bila suami isteri hidup dalam sinar cinta kasih.

Yang oleh umum dianggap sebagai kesenangan akan terasa lebih nikmat, dan yang oleh umum dianggap sebagai kesengsaraan akan terasa ringan kalau dihadapi oleh sepasang suami isteri yang saling mencinta.


Beberapa bulan kemudian, pengantin muda yang masih baru ini menghadiri pernikahan yang diadakan di Su-couw, yaitu pernikahan antara tiga pasang pengantin yang dirayakan sekaligus, antara Kui Beng Sin dengan Ciok Siu Lan, Cui Khai Sun dengan Kui Lan, dan Na Tiong Pek dengan Kui Lin!

Suami isteri Cia Sin Liong dengan isterinya, Bhe Bi Cu, kemudian menjadi penghuni dari Istana Lembah Naga, hidup berbahagia di tempat sunyi itu.


T A M A T

Bagian Ke lima Serial Pedang Kayu Harum PENDEKAR SADIS

Tag: Cerita Silat Online, Cersil, Kho Ping Hoo, Pedang Kayu Harum

Thanks for reading Pendekar Lembah Naga Jilid 57.

Back To Top