Cersil Online Karya Kho Ping Hoo

Pendekar Sadis Jilid 10

SETELAH berputar-putar di tempat-tempat ramai, akhirnya mereka merasa lapar dan mereka pun memasuki sebuah rumah makan dari mana keluar bau masakan yang amat gurih dan sedap. Setelah mereka memasuki rumah makan itu, kiranya restoran itu memiliki ruangan yang cukup luas, bahkan ada ruangan lain di loteng dari mana para tamu sambil makan dapat melihat lalu-lintas di depan restoran. Thian Sin mengajak kakaknya naik ke loteng.

Ternyata di ruangan atas itu sudah ada beberapa tamunya, ada yang sedang makan, ada pula yang agaknya masih menanti pesanan mereka, ada yang minum arak sambil makan gorengan-gorengan. Beberapa orang muda duduk di tepi loteng sambil minum-minum dan memandang ke arah jalan raya, tentu saja pandang mata mereka selalu diarahkan pada wanita-wanita muda yang kebetulan lewat di jalan itu.

Dua orang muda itu lalu menyapu ruangan itu dengan pandang mata mereka. Hanya ada seorang tamu yang menarik perhatian mereka, yaitu seorang pria berusia kurang lebih dua puluh tahun yang duduk seorang diri di sudut ruangan, menghadapi seguci arak berikut sebuah cawan serta beberapa piring gorengan dan kacang.

Pemuda itu memakai topi bulu tebal, pakaiannya mewah dan melihat keadaannya, maka dia seperti seorang pemuda hartawan yang royal. Wajahnya tampan dan kedua matanya amat tajam.

Akan tetapi yang menarik perhatian kedua orang pemuda itu, terutama sekali perhatian Thian Sin, adalah sebuah alat musik yang-kim yang kecil dan terletak di atas meja. Thian Sin adalah seorang pemuda yang suka sekali akan seni suara, pandai bertiup suling dan pandai bernyanyi.

Pada waktu dia berada di Kuil Thian-to-tiang, dari seorang hwesio dia pernah pula belajar memainkan yang-kim. Maka, sekarang melihat ada seorang pemuda tampan membawa yang-kim, dia pun merasa tertarik sekali.

Ada sesuatu yang menarik pada yang-kim itu. Selain catnya yang merah darah, juga alat musik itu bentuknya berbeda dengan yang-kim biasa, karena kedua ujungnya berbentuk gagang seperti gagang pedang sedangkan ujung sebelahnya runcing sekali!

Pemuda tampan yang mengenakan pakaian mewah itu juga melirik ke arah kedua orang pemuda remaja itu dan pandang matanya sampai lama menatap wajah Thian Sin yang tampan sekali itu, bibirnya tersenyum dan pandang matanya tidak menyembunyikan rasa kagumnya. Sejenak pandang matanya bertemu dengan pandang mata Thian Sin hingga keduanya merasa tertarik. Memang Thian Sin tertarik, bukan oleh ketampanan orang itu, bukan oleh pakaiannya yang mewah, melainkan oleh adanya alat musik yang-kim di atas meja itulah.

Seorang pelayan berjalan menghampiri meja mereka. Akan tetapi begitu laki-laki tampan itu menggerakkan ibu jari dan jari tengah tangan kanannya, terdengar suara menyentrik dan pelayan itu menoleh, lalu tersenyum-senyum dan dengan sikap hormat dia menunda kepergiannya ke meja mereka berdua, sebaliknya dengan cepat malah menghampiri meja pemuda tampan berpakaian mewah itu, membungkuk-bungkuk.

“Siangkoan-kongcu (tuan muda Siang-koan) hendak memesan apa lagi?” tanya pelayan itu sambil tersenyum ramah dan penuh hormat.

Pemuda tampan itu telah mencoret-coret sesuatu di atas kertas, lalu menyerahkan kertas bertulis itu kepada pelayan sambil berkata dengan nada suara halus seperti cara bicara seorang terpelajar.

“Sampaikan ini kepada pengurus restoran!”

Pelayan itu melirik ke atas kertas, sepasang alisnya terangkat, lalu mengangguk-angguk sambil tersenyum dan memasukkan kertas itu ke dalam saku bajunya. Kemudian dia pun membalikkan tubuhnya dan hendak pergi meninggalkan ruangan loteng itu, tanpa menoleh kepada meja Thian Sin dan Han Tiong seolah-olah sudah lupa lagi akan datangnya dua orang tamu baru ini.

“Hei, pelayan!” Thian Sin memanggil, suaranya halus akan tetapi cukup nyaring sehingga pemuda mewah itu melirik dan tersenyum. Pelayan itu cepat-cepat menghampiri sambil membungkuk-bungkuk, sikapnya penuh hormat.

“Kongcu memanggil saya?” tanyanya.

“Tentu saja, kami sudah lapar dan kami hendak memesan makanan dan minuman,” kata Thian Sin dan Han Tiong lalu memesan beberapa macam masakan dan nasi serta air teh. Pelayan itu mengangguk-angguk, membungkuk dan tersenyum sopan, kemudian setelah menerima pesanan itu dia pergi turun dari loteng.

Karena maklum bahwa pemuda mewah yang memiliki yang-kim itu biar pun tidak secara langsung memandang pada mereka akan tetapi memperhatikan, maka Thian Sin dan Han Tiong tidak banyak cakap dan hanya duduk memandang ke arah luar, menanti datangnya pesanan makanan.

Pada saat itu pula, semua tamu yang berada di loteng itu, yang jumlahnya tak kurang dari sepuluh orang dan kesemuanya pria, serentak menoleh dan memandang ke arah tangga yang menghubungkan loteng itu dengan tingkat bawah. Karena tertarik, maka Han Tiong dan Thian Sin juga mengerling ke arah tangga dan mereka melihat seorang wanita muda yang cantik serta berpakaian mewah pula memasuki loteng itu dengan mulut terseyum-senyum simpul amat manisnya.

Wanita itu masih muda, takkan lebih dari sembilan belas tahun usianya, di samping cantik manis, juga bentuk tubuhnya padat dan menggairahkan menonjol di balik pakaian yang terbuat dari sutera halus yang mewah. Rambutnya digelung ke atas model rambut puteri bangsawan, dihiasi dengan pengikat rambut emas permata berkilauan. Ketika tersenyum, sekilas nampak giginya yang putih berkilau, menyaingi hiasan rambutnya.

Semua pria yang berada di loteng itu memandang kagum dan melihat senyum mereka, agaknya mereka semua telah mengenal wanita ini. Akan tetapi wanita itu hanya menoleh ke arah pemuda yang mempunyai yang-kim, lantas berlari kecil menghampiri dan menjura dengan lemah lembut serta manis gayanya.

“Ah, maafkan jika saya terlambat, kongcu,” katanya. Dua orang wanita cantik berpakaian pelayan juga sudah naik ke loteng, mengiringkan wanita cantik itu. “Kalian tunggu saja di bawah,” kata wanita cantik itu kepada dua orang pelayannya.

“Siang Hwa, kau baru datang? Duduklah. Engkau hanya terlambat sedikit, sungguh wajar bagi seorang wanita cantik, tentu membutuhkan banyak waktu untuk berhias.”

“Bukan begitu, Siangkoan-kongcu, akan tetapi ada seorang tamu yang hendak memaksa saya, padahal sudah diberi tahu bahwa saya sedang tak sempat menerima tamu dan ada keperluan penting. Ehh, mungkin dia mengikuti aku ke sini, wah berabe orang itu…!”

Pemuda itu hanya tersenyum. “Duduklah, tenanglah. Nah, minumlah secawan arak untuk menenangkan hatimu.”

Wanita muda itu menerima cawan arak dan meminumnya, kemudian dia tersenyum dan memandang kepada pemuda itu dengan manis. “Kongcu aneh, mengapa tidak datang ke sana, melainkan menyuruh aku datang ke tempat umum begini?”

“Aku ingin engkau bernyanyi dengan iringan yang-kimku di tempat ini…”

Mereka kemudian berbicara lirih-lirih sambil kadang-kadang tersenyum. Semua orang kini tidak berani lagi memandang ke arah wanita itu setelah melihat betapa wanita itu menjadi ‘tamu’ atau sahabat dari pemuda yang mewah itu.

Thian Sin dan Han Tiong mencium bau harum ketika wanita itu lewat di dekat mereka pada saat menghampiri meja pemuda tampan. Thian Sin memandang kagum. Dia belum pernah melihat seorang wanita yang secantik ini! Dan dia kagum pula menyaksikan sikap pemuda tampan itu, demikian tenang, demikian penuh wibawa, akan tetapi juga halus dan manis terhadap wanita itu. Sikap seorang laki-laki tulen!

Han Tiong sudah tak melihat lagi, akan tetapi Thian Sin masih terus memandang ke arah meja mereka dan ketika pemuda mewah itu menoleh dan melihat Thian Sin memandang, pemuda itu tersenyum lebar sambil mengangguk sedikit. Melihat keramahan ini, maka mau tidak mau Thian Sin juga menggerakkan sedikit kepalanya sebagai balasan, lalu dia pun memutar leher dan menghadapi kakaknya.

Pada saat itu, kembali semua orang menoleh ke arah tangga karena dari sana muncul serombongan pelayan memanggul baki-baki berisi masakan-masakan. Ada empat orang pelayan membawa makanan sambil diiringkan oleh pengurus restoran itu sendiri, seorang lelaki gemuk pendek yang mulutnya terus-menerus tersenyum lebar seolah-olah mukanya pecah menjadi dua.

Tadinya Thian Sin dan Han Tiong mengira bahwa tentu makanan yang banyak itu dipesan oleh pemuda mewah itu untuk menjamu tamunya yang cantik. Akan tetapi betapa heran rasa hati mereka pada saat para pelayan itu, dipimpin oleh pengurus restoran, langsung menghampiri meja mereka kemudian mengatur semua hidangan itu, lebih dari dua belas mangkok besar banyaknya, ke atas meja di depan mereka.

“Hei, apa artinya ini?” Thian Sin berseru.

“Maaf, kalian tentu sudah salah menghidangkan pesanan ini. Semua ini bukan pesanan kami, tentu pesanan orang lain,” kata Han Tiong sambil bangkit berdiri.

Pengurus restoran itu menjura sehingga mulutnya menjadi semakin lebar bagaikan robek. “Memang benar makanan ini dipesan oleh Siangkoan-kongcu di sana, akan tetapi semua ini untuk ji-wi kongcu (tuan muda berdua). Silakan!”

“Tapi… tapi… kami tidak mengenal dia,” kata Han Tiong.

Pengurus restoran masih tetap tersenyum. “Itu tandanya Siangkoan-kongcu menghargai ji-wi dan mengajak ji-wi untuk berkenalan. Beliau adalah seorang pemuda hartawan yang baik hati, mengenal semua pembesar di istana dan terkenal sangat royal, membagi uang seperti pasir saja.” Sesudah mengangguk dan membungkuk, maka pengurus restoran itu pun meninggalkan meja itu, diiringkan empat orang pelayan.

Han Tiong dan Thian Sin saling pandang, lantas keduanya bangkit dan menghampiri meja pemuda mewah yang masih kelihatan mengobrol dengan wanita cantik tadi, seakan-akan tidak melihat sedikit keributan tadi. Akan tetapi ketika dua orang muda itu menghampiri mejanya, dia pun cepat menoleh, lalu bangkit dan bersikap hormat, tersenyum ramah.

“Kami tidak mengerti apa maksud Anda dengan pemberian hidangan itu!” kata Han Tiong, sikapnya halus dan sopan, akan tetapi sinar matanya tajam penuh selidik menatap wajah orang. Melihat pandang mata ini, pemuda mewah itu kelihatan agak gugup, akan tetapi dia menutupi kegugupannya dengan senyum lebar.

“Ah, saya tidak mempunyai niat buruk. Saya amat tertarik kepada ji-wi, dan melihat bahwa ji-wi bukan penduduk sekitar sini, maka saya memberanikan diri berlaku lancang menjadi tuan rumah untuk menjamu ji-wi dengan hidangan sekedarnya.”

“Tapi… tapi kami tidak mengenal Anda…”

“Perkenalkanlah, saya bernama Siangkoan Wi Hong, seorang pendatang di kota raja yang seorang diri dan kesepian. Akan tetapi saya mengenal banyak orang di sini, maka akan menyenangkan sekali kalau menambah kenalan saya dengan ji-wi.”

Melihat sikap yang demikian sopan, bicaranya lancar dan halus, Han Tiong tidak dapat menolak lagi. Thian Sin yang semenjak tadi mendengarkan saja kini berkata. “Akan tetapi, hidangan itu terlalu banyak untuk kami berdua. Maka silakan Saudara Siangkoan untuk makan bersama dengan kami, juga kami tawarkan kepada nona…”

Orang yang bernama Siangkoan Wi Hong itu tersenyum lalu mengangguk-angguk, memuji sikap Thian Sin yang ramah dan juga tidak pemalu seperti Han Tiong.

“Terima kasih kalau memang ji-wi menghendaki, tentu kami akan suka sekali. Bukankah demikian, Nona Siang Hwa?” Dia menoleh kepada wanita itu yang juga sudah bangkit berdiri.

Nona itu menjura dengan tubuhnya yang padat menggairahkan, gerakannya amat lemah gemulai pada waktu membungkuk. “Ahh, saya merasa amat terhormat sekali…,” katanya, suaranya merdu, mulutnya tersenyum dan matanya mengerling tajam.

Di dalam hatinya, Han Tiong kurang setuju dengan tawaran adiknya, akan tetapi karena sudah terlanjur, tentu saja dia tidak dapat mengelak lagi. Entah bagaimana dia merasa kurang enak dan canggung menyaksikan sikap wanita cantik itu yang demikian memikat sikapnya, sikap genit walau pun kegenitan itu halus sekali dan nampaknya, melihat gerak-geriknya dan susunan kata-katanya, wanita itu juga seorang yang sopan terpelajar.

Siangkoan Wi Hong bertepuk tangan, maka muncullah dua orang pelayan yang segera disuruhnya memindahkan bangku-bangkunya ke meja dua orang pemuda itu. Kini mereka berempat duduk menghadapi meja yang penuh hidangan dan dengan cekatan Wi Hong menuangkan arak ke dalam cawan wanita itu dan dua orang pemuda yang menerimanya dengan sungkan.

Baik Han Tiong mau pun Thian Sin bukan peminum arak dan walau pun mereka biasa minum arak akan tetapi tidak begitu suka. Akan tetapi, karena sebagai fihak tuan rumah orang itu sudah menuangkan arak, maka terpaksa mereka mengangkat cawan kemudian meminumnya ketika Wi Hong berkata, “Silakan minum demi persahabatan kita!”

“Saya sudah memperkenalkan nama saya, yaitu Siangkoan Wi Hong, dan dia ini adalah Siang Hwa, kembang di antara kembangnya daerah hiburan di kota raja. Karena itu saya harap ji-wi sudi memperkenalkan nama agar lebih leluasa kita bercakap-cakap.”

Biar pun mereka belum berpengalaman, akan tetapi istilah ‘kembang daerah hiburan’ itu mengejutkan Han Tiong dan Thian Sin. Jadi wanita cantik ini adalah seorang pelacur? Ah, mereka berkenalan dengan seorang pelacur dan tentulah pemuda itu merupakan seorang pemuda hidung belang, dan kini mereka duduk semeja dengan seorang pelacur!

“Nama saya Thian Sin,” kata Thian Sin dengan cepat.

“Aihh, she Thian? Jarang saya bertemu dengan orang she Thian!” kata Wi Hong memuji, kemudian memandang kepada Han Tiong. “Dan Anda?”

“Saya bernama Cia Han Tiong,” jawabnya sederhana.

“She Cia? Ahh, kalau Cia cukup banyak, bahkan amat terkenal karena bukankah keluarga Cin-ling-pai juga she Cia? Wah, jangan-jangan Saudara Cia Han Tiong ini masih keluarga Cin-ling-pai? Tetapi tentu saja bukan, karena kalau keluarga Cin-ling-pai tentu langsung saja ke istana, bukan?”

“Kami berdua adalah kakak dan adik angkat,” Han Tiong cepat berkata, hanya asal dapat mengatakan sesuatu saja sehingga dia tidak perlu menjawab benar atau tidaknya ucapan Wi Hong tadi.

Wi Hong kembali hendak mengisi cawan arak, akan tetapi Han Tiong menolaknya sambil berkata, “Terima kasih… tapi kami berdua jarang minum arak, bagi kami cukup teh saja.”

“Aihhh, pemuda-pemuda yang terpelajar dan hidup bersih menjauhi arak, ya? Bagus, mari silakan makan.”

Wi Hong ternyata pandai sekali bicara dan sikapnya amat ramah sehingga mereka mulai makan minum sambil bercakap-cakap, atau lebih tepat lagi Wi Hong yang terus menerus bercakap sedangkan dua orang muda itu hanya lebih banyak mendengarkan saja.

“Saya sendiri bukan orang kota raja asli,” antara lain Wi Hong bercerita memperkenalkan dirinya, “saya tinggal di Tai-goan, akan tetapi saya sering berpesiar di kota raja, di mana ayah mempunyai sebuah rumah dan memiliki sebuah cabang toko di kota raja ini. Apakah ji-wi datang dari utara? Logat bicara ji-wi seperti orang utara…”

“Kami datang dari dusun, di utara kota raja…”

“Ah, agaknya pelajar-pelajar yang hendak menempuh ujian tahun ini, ya? Jangan khawatir kalau memang demikian, saya memiliki kenalan baik yang duduk sebagai anggota panitia ujian…”

“Ahhh, sama sekali bukan!” kata Han Tiong dan mukanya menjadi agak merah. Dia dan Thian Sin disangka pelajar-pelajar yang akan menempuh ujian siucai (sasterawan)! “Kami hanya melancong saja, hendak pergi ke rumah bibi kami di Lok-yang dan hanya singgah untuk melihat-lihat di kota raja ini.”

“Ji-wi kongcu, harap jangan sungkan, makanlah daging berikut sayurnya. Marilah, jangan malu-malu!” Dengan gaya sangat memikat wanita itu kemudian menggunakan sumpitnya untuk mengambilkan daging dan sayur, lalu diletakkan ke dalam mangkok Thian Sin dan Han Tiong.

Dua orang pemuda itu tersipu-sipu, akan tetapi tidak mampu menolak dan mengucapkan terima kasih. Melihat sikap dua orang muda itu demikian malu-malu, Siangkoan Wi Hong tertawa.

“Ha-ha-ha, Thian-lote dan Cia-lote, harap jangan malu-malu. Dia ini adalah kembangnya daerah hiburan di kota raja. Bahkan pembesar-pembesar tinggi dan para pangeran pun merindukannya sehingga sering kali dia dipanggil ke istana untuk memberi hiburan. Suara nyanyiannya seperti burung hong dan kalau dia menari, wah, seperti bidadari baru turun dari sorga!”

“Ih, Siangkoan-kongcu terlalu memuji orang. Jangan terlalu tinggi mengangkatku, kongcu, kalau terlepas dan jatuh, maka aku bisa remuk!” kata wanita itu sambil tersenyum lebar, menunjukkan deretan gigi yang putih indah dan sekilas nampak ujung lidah yang merah.

Thian Sin ikut tertawa. Senang hatinya karena di samping ramah, ternyata wanita itu juga pandai bicara. Akan tetapi Han Tiong beberapa kali menengok ke kanan kiri, memandang ke arah para tamu lainnya dengan hati kurang enak. Dia merasa yakin bahwa tentu ada udang di balik batu, ada apa-apanya di balik undangan makan pemuda kaya dan royal ini. Dan hatinya semakin merasa tidak enak melihat betapa pandang mata para tamu lain, hanya melalui kerlingan, mengandung iri hati!

Tiba-tiba saja semua orang tertarik oleh bunyi gaduh kaki orang melangkah dengan kasar menaiki tangga yang menuju ke loteng.

“Tak peduli dia bersama siapa, aku harus bertemu dengan dia!” terdengar suara seorang laki-laki, suara yang kasar dan mengandung kemarahan.

Mendengar suara ini, Siang Hwa kelihatan ketakutan dan wajahnya yang cantik manis itu berubah pucat. “Celaka, Siangkoan-kongcu, dia benar-benar datang menyusul!” katanya kepada Siangkoan Wi Hong.

“Tenanglah, biar saja, hendak kulihat dia akan berbuat apa,” kata Siangkoan Wi Hong dan melihat sikap pemuda hartawan ini yang demikian tenang, diam-diam dua orang pemuda dari Istana Lembah Naga itu merasa kagum juga.

Mereka menduga bahwa tentu pemuda yang mempunyai alat musik yang-kim ini agaknya pandai pula ilmu silat, maka menghadapi ancaman orang dia kelihatan tenang saja. Apa lagi kalau diingat bahwa alat musik itu bentuknya seperti senjata, maka dua orang muda itu makin yakin akan dugaan mereka dan diam-diam mereka ingin sekali melihat apa yang akan terjadi.

Mereka tidak merasa khawatir karena yang akan menghadapi urusan keributan ini adalah pemuda she Siangkoan itu, bukan mereka. Mereka sama sekali tidak mencari perkara, bahkan untuk menjaga supaya jangan sampai membikin orang lain merasa tidak senang, mereka sudah menerima undangan makan dan suguhan orang she Siangkoan itu, walau pun mereka merasa tak enak sekali harus duduk makan semeja dengan seorang pelacur. Mereka tadi membayangkan dengan hati kecut, betapa akan sikap ayah dan ibu mereka kalau saja melihat mereka duduk mengobrol dan makan semeja dengan seorang pelacur, malah pelacur yang menjadi kembang pelacur di kota raja!

Lantas muncullah orang yang membuat gaduh itu. Dia seorang pria yang usianya sudah mendekati tiga puluh tahun, bermuka bopeng dan hitam, pakaiannya menunjukkan bahwa dia seorang yang kaya. Rambutnya mengkilap licin akibat terlalu banyak minyak, digelung dan diikat dengan sutera biru. Tubuhnya tinggi tegap dan matanya yang besar itu sedang terbelalak penuh kemarahan, agak merah karena dia agaknya terlalu banyak minum arak.

Di belakangnya nampak dua orang laki-laki yang usianya sekitar empat puluh tahun dan berpakaian seperti guru silat, dengan pedang di punggung dan sikap mereka yang serius dengan pandang mata yang membayangkan kesungguhan dan ketingglan hati.

Semua tamu menjadi panik dan ketakutan karena mereka maklum bahwa tentunya akan terjadi keributan. Apa lagi ketika mereka mengenal siapa adanya laki-laki bermuka hitam bopeng ini.

Begitu laki-laki muka bopeng itu melihat Siang Hwa yang duduk bersama tiga orang muda, dia terbelalak semakin marah kemudian dengan langkah lebar dia lalu menghampiri meja itu. Banyak di antara para tamu diam-diam turun dari loteng itu, akan tetapi yang bernyali lebih besar tidak mau turun melainkan bersembunyi di balik meja-meja sambil menonton.

“Hei, pelacur busuk, perempuan hina-dina! Berani engkau menolak Ji-siauwya (tuan muda Ji) dan melarikan diri untuk pesta dengan orang-orang di sini? Engkau telah menghinaku, keparat!” Si Muka Bopeng itu berteriak-teriak sambil telunjuknya yang besar menuding ke arah muka Siang Hwa yang sudah menggigil ketakutan.

“Sudah… sudah saya beri tahu bahwa saya tidak sempat…” Wanita itu mencoba untuk memberi alasan.

“Tidak sempat melayaniku akan tetapi ada waktu untuk pesta di sini, ya? Engkau pelacur hina, perempuan rendah! Apakah engkau belum tahu siapa aku? Berapa hargamu? Biar kepalamu pun sanggup aku membelinya! Coba kau katakan, berapa engkau disewa oleh mereka ini? Aku berani membayarmu tiga kali lipat!”

“Siauwya, harap maafkan aku…” Siang Hwa membujuk dan memperlihatkan muka manis. “Biarlah besok saya menerima kunjungan siauwya…”

“Apa kau kira hanya uang saja yang dapat kuberikan? Kau kira aku tak dapat melakukan kekerasan? Siapa berani menghalangi aku? Sekarang juga engkau harus berlutut minta ampun dan turut bersamaku. Sekarang juga, mengerti?! Kalau tidak…” Dia menghampiri sebuah meja yang telah ditinggalkan tamunya kemudian tangan kanannya yang besar itu diangkat dan ditamparkan dengan kuat-kuat ke atas meja itu.

“Brakkk…!”

Meja itu pecah dan sebuah mangkok yang masih ada kuahnya terpental, isinya muncrat hingga mengenai muka Si Bopeng itu sendiri! Si Bopeng gelagapan dan menjadi semakin marah ketika terdengar suara orang tertawa. Yang tertawa itu adalah Siangkoan Wi Hong.

Orang she Ji itu mengusap mukanya yang berlepotan kuah, matanya dikejap-kejapkannya karena agak pedas terkena kuah yang mengandung merica itu. Setelah dapat membuka mata, dia segera melotot memandang kepada Siangkoan Wi Hong.

“Bocah keparat! Kau berani mentertawakan aku? Hayo kau merangkak keluar kalau tidak ingin kuhancurkan kepalamu!” bentak pemuda bermuka bopeng itu kepada kongcu yang tampan dan yang sejak tadi tersenyum lebar itu.

“Hemm, aku masuk restoran ini dengan membayar, dan aku mengundang Siang Hwa pun tidak dengan paksa, mana bisa aku disuruh keluar dengan paksa? Siapa sih engkau ini yang bersikap begini sombong?”

“Tringgggg…!” Orang she Siangkoan itu menyentil sebuah kawat yang-kimnya dan bunyi itulah sebagai penutup kata-katanya tadi.

Si Muka Bopeng menjadi semakin marah. “Bocah setan apa engkau sudah buta sehingga tidak mengenal tuan besarmu…?”

“Tringggg…!” Yang-kim itu disentil kembali.

“Dengar baik-baik, aku adalah Ji Lou Mu kongcu…”

“Tranggg…”

“Semua orang menghormatiku, hanya engkau ini tikus kecil tak tahu diri!”

“Cringgg…!”

Karena setiap Si Muka Bopeng yang bernama Ji Lou Mu itu berhenti berbicara diselingi dengan bunyi trang-tring-trong, maka terdengar lucu seperti anak wayang sedang beraksi di panggung. Hampir saja Thian Sin tak dapat menahan ketawanya, akan tetapi dia hanya tersenyum dan dia semakin merasa suka dan kagum kepada pemuda she Siangkoan itu.

“Bocah kepar… aughhhh…!” Ketika mulut itu terbuka dan sedang memaki, tiba-tiba saja pemuda she Siangkoan itu menggunakan sumpitnya menjepit sepotong bakso ikan yang besar dan sekali dia menggerakkan tangan, maka bakso yang dijepit sumpit itu meluncur dengan kecepatan luar biasa dan tahu-tahu telah memasuki mulut Ji Lou Mu yang sedang terbuka.

Tentu saja Ji Lou Mu gelagapan dan matanya mendelik karena bakso yang tanpa permisi menyelonong ke dalam mulutnya itu tahu-tahu telah menyangkut ke tenggorokannya.

“Aahhh… aukkk… kekkk…!” Dia kebingungan, mulutnya terbuka dan matanya mendelik. Seorang di antara dua jagoan yang mengawalnya, cepat menepuk punggungnya dengan kuat.

“Blukk!” Dan bakso yang nakal itu meloncat keluar lalu menggelinding di atas lantai.

“Hajar dia! Hantam dia…!” Ji Lou Mu memaki-maki dan menuding-nuding, menyuruh dua orang jagoannya maju seperti seorang memerintahkan dua ekor anjing untuk menyerbu lawan.

Akan tetapi baru saja dua orang jagoan silat itu hendak maju, Siangkoan Wi Hong sudah menggerakkan sumpitnya dengan cepat sehingga dua potong daging basah menyambar ke arah muka dua orang jago silat itu.

“Plokk! Plokk!”

Demikian cepatnya daging ini menyambar sehingga kedua orang jagoan itu tidak sempat mengelak lagi, dan daging itu tepat mengenai mulut mereka, akan tetapi karena mulut mereka tidak sedang terbuka maka potongan daging itu tidak masuk, hanya menghantam bibir dan jatuh ke atas lantai. Muka dua orang jagoan itu berlepotan kuah kecap!

“Ha-ha-ha-ha, anjing-anjing peliharaan mengapa tidak suka daging?” Siangkoan Wi Hong kembali berkata sambil tertawa.

Dia segera melepaskan sumpitnya, tangan kanannya memainkan kawat-kawat yang-kim sedangkan yang kiri mengambil segenggam kacang goreng. Tangan kirinya lalu melontar-lontarkan kacang goreng itu ke depan, ke arah muka Ji Lou Mu.

“Plak-plak-plak…!”

“Aduhhh… auuw… aduhh…!”

Ji Lou Mu adalah seorang pemuda yang sebetulnya bertubuh dan bertenaga kuat, juga dia sudah mempelajari ilmu silat, akan tetapi pada saat itu dia tidak berdaya sama sekali karena hujan kacang goreng yang tepat mengenai mukanya itu dirasakan seperti hujan batu atau peluru yang amat keras dan kuat menghantami mukanya. Dia pun berjingkrak-jingkrak sambil menutupi kedua mata dengan tangan, dan semua gerakannya ini diiringi suara yang-kim trang-tring-trang-tring sehingga nampak semakin lucu.

Dua orang jagoan tukang pukul itu amat marah ketika mereka diserang dengan sepotong daging karena mereka merasa terhina dan malu sekali.

“Singgg…! Singgg…!” Mereka mencabut pedang mereka.

Melihat ini, si kasar Ji Lou Mu juga mencabut sebatang pedangnya, pedang yang indah dan mahal, penuh dengan ukiran-ukiran dan hiasan emas permata pada gagangnya.

Melihat betapa tiga orang itu mencabut pedang, Han Tiong dan Thian Sin masih bersikap enak-enakan saja, melanjutkan makan sambil kadang-kadang menghirup air teh mereka. Dua orang kakak beradik ini tadi sudah melihat gerakan Siangkoan Wi Hong dan tahulah mereka bahwa walau pun tiga orang kasar ini menggunakan pedang, mereka tidak perlu khawatir akan keselamatan pemuda tampan itu yang mereka tahu memiliki kepandaian yang tinggi.

Akan tetapi Siang Hwa yang ketakutan setengah mati menjerit dan hampir saja pingsan. Melihat itu, Thian Sin bangkit dan menahan tubuhnya yang hampir terguling, akan tetapi begitu ditahan oleh tangan pemuda ini, Siang Hwa langsung merangkul dengan ketatnya, membuat Thian Sin gelagapan sehingga pemuda ini cepat mendudukkan Siang Hwa di atas bangku dan dengan halus dia melepaskan diri. Seluruh bulu di tubuhnya meremang dan dia merasa panas dingin ketika dirangkul seperti itu!

“Ha-ha-ha!” Siangkoan Wi Hong masih sempat tertawa menyaksikan adegan itu.

Akan tetapi, pada saat itu pula Ji Lou Mu telah menerjangnya bersama dua orang tukang pukulnya. Pedang mereka berkilauan dan berkelebatan ketika menyerang, membuat para tamu restoran itu menjadi pucat dan ngeri karena mereka sudah membayangkan darah dan mayat!

Dua orang pemuda Lembah Naga itu memandang dengan penuh kagum melihat betapa Siangkoan Wi Hong tetap duduk di atas bangkunya dengan memegang masing-masing sebatang sumpit bambu di kedua tangannya! Dengan sepasang sumpit itulah dia hendak menyambut serangan tiga orang lawannya yang berpedang! Ini terlalu ceroboh, pikir Han Tiong dan diam-diam dia pun sudah siap untuk menyelamatkan pemuda itu kalau perlu.

Tetapi tiba-tiba kedua batang sumpit itu dipukulkan ke atas yang-kim hingga terdengarlah bunyi trang-tring-trang-tring yang sangat merdu, berlagu merdu akan tetapi kedua orang pemuda Lembah Naga itu terkejut sekali karena mereka merasakan getaran hebat pada jantung mereka oleh bunyi kawat-kawat yang-kim itu!

Tiba-tiba saja ketiga orang kasar itu juga menghentikan gerakan mereka, wajah mereka berubah pucat karena mereka diserang oleh suara itu dan pada saat itu, Siangkoan Wi Hong sudah menggerakkan dua batang sumpitnya, semua menotok ke arah tangan yang memegang pedang.

Terdengar suara berkerontangan pada waktu tiga batang pedang itu terlepas dari tangan pemegangnya masing-masing kemudian jatuh ke atas lantai! Sambil masih duduk di atas bangkunya, Siangkoan Wi Hong menggerakkan kakinya, menginjak ke arah ketiga batang pedang itu satu demi satu.

“Krek-krek-krek!” terdengar suara dan tiga batang pedang itu telah patah-patah!

Melihat ini, Ji Lou Mu beserta dua orang pembantunya memandang terbelalak dan muka mereka seketika menjadi pucat! Tahulah mereka bahwa pemuda ini sama sekali bukan tandingan mereka!

Akan tetapi Ji Lou Mu yang melihat bahwa di tempat itu terdapat banyak orang, tidak mau mengalah begitu saja. “Kau tunggulah saja di sini, pembalasanku akan segera datang!”

“Tring…! Trang…!” Siangkoan Wi Hong menjawab dengan suara yang-kimnya dan sekali ini terdengar suara ketawa di sana-sini. Agaknya para tamu restoran itu merasa lega dan timbul keberanian mereka melihat pemuda bopeng galak itu dapat dikalahkan.

Mendengar ini, sambil mendengus Ji Lou Mu berkata kepada kedua orang pembantunya. “Mari pergi!”

Akan tetapi baru saja dia dengan dua orang tukang pukulnya tiba di atas tangga, tiba-tiba saja berkelebat bayangan orang dan tahu-tahu Siangkoan Wi Hong telah menghadang di depan mereka sambil tersenyum. “Mengapa kalian tergesa-gesa sekali? Kalau memang tergesa-gesa, biarlah aku mempercepat kepergian kalian.”

Tangannya bergerak cepat sekali dan dia sudah menepuk punggung Ji Lou Mu dengan perlahan, akan tetapi akibatnya, pemuda bopeng itu terpelanting dan terguling-guling ke bawah loteng melalui anak tangga itu. Dan dua orang pembantunya juga mengalami hal yang sama. Tiga orang itu bergulingan ke bawah panggung, diikuti suara tawa para tamu yang berada di atas loteng. Sambil merangkak, ketiga orang itu segera pergi dari restoran itu dengan muka pucat dan tubuh babak-belur.

Pemilik restoran tergopoh-gopoh naik ke atas loteng, lantas menangis dan menjatuhkan diri di depan Siangkoan Wi Hong yang duduk kembali di atas bangkunya. “Ah, Siangkoan-kongcu, bagaimana ini… ahh, selamatkan kami dan restoran kami…”

“Aihhh, engkau ini kenapa sih?” Siangkoan Wi Hong menegurnya sambil minum arak dari cawannya.

“Kongcu belum tahu, Ji-siauwya tadi adalah putera dari Ji-ciangkun, kapten dari pasukan pengawal istana! Wah, celaka, tentu restoran ini akan diobrak-abrik, akan dibakar.”

“Hemmm, aku tidak takut.”

“Benar, kongcu memang tidak takut, akan tetapi bagaimana dengan kami? Kami tentu akan dihukum, dibunuh… ahhh…, tolonglah, kongcu!”

“Hemmm, dia itu putera kapten pasukan pengawal apakah? Pasukan Kim-i-wi (Pasukan Pengawal Baju Emas) atau pasukan Gi-lim-kun (pasukan pengawal pribadi kaisar)?”

“Bukan, akan tetapi pasukan istana bagian luar.”

“Hemm, yang dipimpin oleh Panglima Giam?”

“Benar, kongcu.”

“Jangan khawatir. Panglima Giam itu sahabatku, dan aku akan menunggu di sini sampai ayah si kerbau dungu itu datang. Bangkitlah, dan suguhkan arak berikut daging kepada semua tamu yang kini berada di loteng ini, atas namaku yang akan membayarnya. Hayo saudara-saudara, kita berpesta sebagai rasa terima kasihku atas bantuan moral saudara-saudara!” katanya dengan ramah kepada semua tamu dan belasan orang itu yang segera menyambutnya dengan sorak gembira.

“Siang Hwa, mari bernyanyilah!” Siangkoan Wi Hong mengajak pelacur cantik itu.

Akan tetapi ternyata wanita itu masih pucat sekali dan tubuhnya masih gemetar, mana mungkin dia dapat bernyanyi? Tentu suaranya akan menggigil pula! Tetapi sementara itu Siangkoan Wi Hong sudah memainkan yang-kimnya dengan jari-jari tangan yang gapah sekali hingga terdengarlah nyanyian yang-kim yang merdu. Diam-diam Thian Sin merasa kagum sekali dan dia merasa menyesal kenapa dia tidak membawa sulingnya. Tentu dia akan meniup sulingnya untuk mengimbangi bunyi yang-kim itu.

“Hayo, Siang Hwa, apakah kau masih takut?” pemuda itu membujuk, akan tetapi wanita itu masih belum sadar kembali dan masih ketakutan.

“Ha-ha-ha, penakut. Lihat, dua orang saudara muda ini tenang-tenang saja. Sungguh luar biasa mereka ini, patut dipuji dengan nyanyian,” sambil terus memainkan yang-kimnya, tiba-tiba saja pemuda itu sudah menyanyikan lagu yang dibuatnya pada saat itu juga!

Dua anak burung baru keluar dari sarang mereka masih belum berpengalaman dan muda belia namun demikian tenang dan gagah perkasa pasti bukan anak burung biasa belaka setidaknya tentu anak burung garuda!

Han Tiong dan Thian Sin terkejut dan juga kagum. Pemuda yang bernama Siangkoan Wi Hong ini tampan dan kaya, royal dan pandai bergaul, memiliki ilmu kepandaian silat yang tinggi mengagumkan, dan kini ternyata sangat pandai menggubah nyanyian seketika dan langsung menyanyikannya, dan nyanyian itu berisi pujian bagi mereka berdua, akan tetapi sekaligus seperti sudah mengenal rahasia mereka! Benar-benar seorang yang amat lihai dan karenanya amat berbahaya.

Akan tetapi Thian Sin yang sejak tadi memang sudah kagum sekali, timbul kegembiraan hatinya pada saat mendengar nyanyian ini. Dia sendiri adalah seorang pemuda yang suka sekali akan seni suara, bahkan dia pun merupakan seorang yang amat berbakat dan ahli membuat sajak, karena itu dia merasa digerakkan dan didorong oleh sikap Siangkoan Wi Hong yang menggembirakan itu.

Bagaikan tidak sadar dia lalu menjawab nyanyian itu dengan nyanyiannya, nyanyian yang sederhana saja sehingga amat mudah diikuti oleh suara yang-kim, akan tetapi suaranya terdengar nyaring dan merdu, juga gagah, tidak kalah bagusnya dari suara Siangkoan Wi Hong tadi!

Lemah lembut, ramah dan baik budi sebagai sahabat yang menarik hati dengan sumpit menyuguhkan hidangan berarti dengan sumpit pandai membela diri dengan yang-kim pandai menghibur hati membuat sajak dan bernyanyi memuji sungguh seorang pendekar yang pantas dihargai!

Sepasang mata Siangkoan Wi Hong terbelalak dan dia pun bertepuk tangan memuji, lalu menuangkan arak dari guci ke dalam cawannya, “Sungguh hebat, Thian-lote! Sungguh hebat! Aku terima kalah!” Dan dia pun minum arak secawan itu.

Sementara itu, melihat sikap mereka, Siang Hwa sudah pulih kembali keberaniannya dan tak lama kemudian bernyanyilah wanita ini, diiringi suara yang-kim dan memang benarlah keterangan Siangkoan Wi Hong tadi. Wanita ini selain cantik manis, juga memiliki suara nyanyian yang merdu sekali.

Suasana di loteng restoran itu menjadi riang gembira karena para tamu yang tadi diberi hadiah suguhan arak dan daging gratis itu, dan kini disuguhi nyanyian merdu lagi, sudah pada bertepuk tangan, mengiringi irama nyanyian karena mereka pun telah mulai mabuk.

Hanya Han Tiong yang masih nampak tenang dan serius, meski pun kegembiraan itu juga membuat wajahnya yang tampan membayangkan kejujuran dan kebaikan hati itu berseri. Akan tetapi, pandang matanya terhadap Siangkoan Wi Hong kadang-kadang amat tajam penuh selidik dan dia pun merasa gembira melihat Thian Sin mengetuk-ngetukkan sumpit pada meja untuk mengikuti irama lagu yang dinyanyikan oleh Siang Hwa dengan sangat indahnya.

Dia tahu bahwa agaknya adik angkatnya itu menemukan ‘dunianya’ karena belum pernah dia melihat adiknya segembira itu, sungguh pun adiknya itu pun, seperti juga dia, hanya minum sebanyak dua cawan arak saja dan sama sekali tidak mabuk seperti para tamu di loteng itu, juga seperti Siangkoan Wi Hong yang agaknya juga sudah mabuk.

Sampai kurang lebih dua jam mereka bersenang-senang dan para pelayan restoran sibuk menambahkan daging dan arak yang terus diminta. Tiba-tiba para pelayan berlarian dan para tamu yang duduk di pinggir loteng dan menjenguk ke bawah menjadi pucat. Biar pun sebagian besar dari mereka itu sudah mabuk, akan tetapi melihat orang-orang berpakaian seragam dan naik kuda mengurung restoran itu, mereka tahu apa yang akan terjadi.

“Celaka, restoran itu dikurung pasukan! Wah, kita semua akan ditangkap!”

“Mungkin dibunuh!”

“Dituduh pemberontak!”

Siangkoan Wi Hong mengangkat kedua tangannya ke atas dan berkata, suaranya nyaring dan tenang, “Saudara-saudara semua, duduklah di tempatnya masing-masing dan jangan bergerak, jangan panik. Serahkan semua kepada aku orang she Siangkoan, sebab akulah yang bertanggung jawab. Jangan khawatir, tak akan terjadi apa-apa. Kalau ada di antara saudara yang sampai tewas dalam peristiwa ini, aku akan menebusnya dengan seribu tail perak yang akan kuserahkan kepada keluarganya! Siang Hwa, bernyanyilah lagi…”

“Aku… aku tidak sanggup… kongcu…” Siang Hwa menggelengkan kepala dan mukanya sudah pucat lagi, telinganya dipasang baik-baik untuk mendengarkan derap kaki kuda dan ringkik mereka di bawah loteng.

“Siangkoan-toako, biarlah aku yang bernyanyi,” tiba-tiba Thian Sin berkata.

“Bagus!” Siangkoan Wi Hong memuji dan Thian Sin segera bernyanyi, nyanyian gembira.

Kaisar dan para pembesar berpesta-pora dalam kemewahan gedung istana siapa berani mengganggunya? Kita rakyat biasa dengan hidangan seadanya bergembira ria apa salahnya? Eh, tahu-tahunya dikepung pasukan tentara yang katanya pelindung rakyat jelata Hayaaaaa...!

Baru selesai dia bernyanyi, tiba-tiba terdengar suara gaduh banyak kaki naik ke tangga dan muncullah seorang komandan pasukan yang berusia lima puluh tahun lebih, bersikap galak, bertubuh tinggi kurus dengan pakaian indah mengkilap, diikuti oleh belasan orang pasukan pengawal yang kesemuanya mengenakan pakaian seragam dan masing-masing memegang sebatang pedang mengkilap di tangan kanan dan perisai di tangan kiri.

“Jangan bergerak semua yang berada di loteng!” komandan itu membentak dengan suara terlatih sehingga terdengar mengandung wibawa. “Siapakah di antara kalian yang sudah berani memukul Ji-siauwya?” Sepasang mata komandan itu dengan tajamnya menyapu ruangan, jelas kemarahan hebat membayang di wajahnya yang kurus.

Sunyi senyap di tempat itu sesudah pertanyaan ini. Sunyi yang menegangkan dan Siang Hwa mulai tak dapat menahan isaknya yang ditahan-tahan. Dengan tenang Siangkoan Wi Hong bangkit dari tempat duduknya, kemudian melangkah ke depan menghadapi kapten pasukan itu sambil menjawab,

“Akulah orangnya!”

Komandan itu memandang kepada pemuda itu seolah-olah pandang mata seekor singa yang hendak menerkam mangsanya. Tangan kanannya telah meraba gagang pedangnya dan kini anak buahnya telah maju, siap membantu komandan mereka bila diperintahkan.

“Hemmm, engkaukah Ji-cianbu (kapten Ji) yang memimpin pasukan ini? Lihat baik-baik, Cianbu, lupakah engkau padaku? Bukankah seminggu yang lalu engkau juga hadir ketika Giam-ciangkun menjamuku sebagai tamunya? Aku datang dari Tai-goan, sudah lupakah engkau?”

Sementara mata yang tadinya marah itu semakin terbelalak dan wajah itu berubah agak pucat sesudah dia teringat lagi dan tangan yang sudah meraba pedang itu menjadi lemas dan tergantung di sisi. Kemudian dia menjura.

“Ahh, kiranya Siangkoan-kongcu! Ahh, maaf… akan tetapi mengapa kongcu…”

“Hemm, puteramu yang tidak tahu diri, Cianbu. Semua orang di sini dapat menjadi saksi. Puteramu yang datang membikin kacau dan menggangguku, menyerangku. Terpaksa aku menghajarnya.” Suara pemuda itu kini penuh wibawa dan kereng.

Mendadak wajah yang tadinya marah itu kini berubah menjadi penuh kekhawatiran dan kedukaan, dan suara yang tadi kereng memerintah itu kini berubah penuh permohonan. “Siangkoan-kongcu, harap suka mengasihani kami… kongcu tolonglah putera kami itu…”

“Hemm, jika aku tidak mengampuni mereka, apakah kau kira mereka itu sekarang masih hidup?” kata Siangkoan Wi Hong dengan sikap yang membayangkan ketinggian hati dan memandang rendah kepada kapten itu.

“Kongcu, sudah kuperiksakan pada tabib istana… katanya tak ada harapan… keracunan hebat, tolonglah, kongcu, kami hanya mempunyai seorang putera saja…”

Siangkoan Wi Hong menggerakkan hidungnya dengan sikap menghina. “Jika sudah tahu puteranya hanya seorang, kenapa tidak dididik sebaiknya menjadi orang yang berguna?” Dia membentak.

Perwira itu menjura dan mengangguk-angguk, mengucapkan kata-kata yang maksudnya mohon pertolongan. Siangkoan Wi Hong mengangguk. “Baiklah!” Dia lalu merogoh saku jubahnya, melemparkan kantong berisi uang yang nyaring bunyinya ke atas meja.

“Siang Hwa, kau bayar semua hidangan, dan sisanya untukmu.”

Wanita itu mengambil kantung uang, kemudian menjura. “Terima kasih, kongcu,” katanya dengan suara merdu.

“Ji-wi lote, kuharap akan dapat bertemu lagi dengan kalian. Sungguh aku merasa gembira sekali dapat berkenalan dengan kalian. Thian-lote, engkau sungguh hebat. Di dalam hal bernyanyi dan bersajak, aku mengaku kalah. Sampai jumpa pula.”

Dia lalu melangkah turun dari loteng dengan sikap dan lagak yang sembarangan, sambil mengangguk dan tersenyum ke kanan kiri kepada orang-orang yang memandang dirinya dengan penuh kagum. Yang-kim itu dipanggulnya bagaikan seorang prajurit memanggul tombak, sambil jemari tangan kirinya yang memanggul itu mempermainkan kawat-kawat yang-kim sehingga terdengar bunyi trang-tring nyaring.

Tidak lama kemudian terdengar bunyi derap kaki kuda dari tempat itu ketika perwira dan pasukannya itu mengiringkan Siangkoan Wi Hong yang juga diberi seekor kuda pilihan. Barulah sekarang para tamu berisik membicarakan pribadi pemuda yang sangat hebat itu dan dari pembicaraan-pembicaraan ini tahulah Han Tiong dan Thian Sin bahwa Siangkoan Wi Hong memang seorang pemuda yang kaya raya dan mempunyai hubungan yang erat sekali dengan para pembesar tingkat tinggi di kota raja.

Oleh karena itu, tentu saja seorang perwira berpangkat cianbu sama sekali tidak berani menentangnya, karena komandan tertinggi pasukan itu, yaitu atasan dari Ji-cianbu sendiri adalah sahabat baik pemuda itu, bahkan pada minggu yang lalu Ji-cianbu melihat sendiri betapa atasannya menjamu pemuda itu dengan penuh kehormatan.

Siang Hwa membayar semua harga hidangan dan sisa uang itu dibawanya pulang, diantar oleh dua orang pelayannya dengan naik kereta. Han Tiong mengajak adiknya untuk pergi meninggalkan restoran dan di sepanjang perjalanan, Thian Sin memuji-muji pemuda itu.

“Bukan main! Sungguh membuat aku kagum sekali. Orang she Siangkoan itu benar-benar hebat, seorang pendekar tulen yang patut dikagumi!”

“Memang dia hebat, Sin-te, kaya raya, pengaruhnya besar, ilmu silatnya lihai dan dia juga pandai main yang-kim, pandai bersajak dan bernyanyi. Akan tetapi sayang, hatinya kejam bukan main.”

“Ehh…?” Thian Sin menoleh kepada kakaknya dengan pandang mata heran. “Dia kejam? Justru sebaliknya. Dia baik sekali, ramah dan suka menolong…”

“Itulah, adikku. Suka akan sesuatu atau tidak suka akan sesuatu secara berlebihan akan membuat orang kehilangan kewaspadaan. Bila mana engkau menyukai seseorang secara berlebihan, yang nampak dari orang itu hanyalah baiknya saja, sebaliknya kalau engkau membenci orang secara berlebihan, yang nampak darinya hanya buruknya saja. Namun sebaliknya, apa bila kita bebas dari ikatan suka dan tidak suka, maka barulah kita dapat memandang dengan penuh kewaspadaan. Tidak tahulah engkau betapa dia tadi memberi pukulan-pukulan maut kepada tiga orang itu? Tepukan-tepukan yang membuat tiga orang itu jatuh ke bawah tangga adalah pukulan yang akan membunuh tiga orang itu. Tidakkah perbuatan itu ganas dan kejam sekali?”

Thian Sin mencoba membantahnya, “Tapi… mereka bertiga itu adalah orang-orang jahat yang menggunakan kekuasaan untuk bertindak sewenang-wenang. Si Bopeng itu sangat sombong, ada pun dua orang yang lain adalah kaki tangannya, mereka jahat, sudah layak dipukul!”

“Hemm, dan layak dibunuh pula?”

Thian Sin tak menjawab. Dia memang benci sekali kepada mereka bertiga yang sombong dan sewenang-wenang itu, akan tetapi tidak terdapat dalam pikirannya untuk membunuh mereka. Betapa pun juga, dia tetap membela,

“Tiong-ko, hendaknya engkau bersikap adil. Coba andai kata Saudara Siangkoan itu tidak memiliki ilmu silat yang tinggi, apakah bukan dia yang sudah menggeletak tanpa nyawa, menjadi korban keganasan orang she Ji itu?”

“Kalau memang terjadi demikian, tentu kita turun tangan melindunginya. Dan andai kata terjadi dia dibunuh oleh mereka, tentu bukan dia yang kukatakan kejam, melainkan orang she Ji dan dua temannya.”

“Tapi dia hanya membela diri, Tiong-ko!”

“Hemm, kau melihat jelas bahwa pukulan maut itu dilakukan bukan untuk membela diri. Dia dengan mudah dapat mengalahkan mereka bertiga tanpa harus menurunkan tangan maut! Adikku, bagaimana pun juga, kita harus berusaha menyelamatkan nyawa orang itu. Mereka terkena pukulan sinkang yang kuat sekali, tetapi agaknya kita masih akan dapat menolong mereka. Kita coba saja!”

“Ahh, kita menolong orang jahat itu?”

“Bukan, adikku. Kita bukan menolong orang-orang jahat, bukan membantu orang-orang jahat, melainkan mencoba untuk menolong orang-orang yang diancam maut. Marilah!”

Terpaksa Thian Sin mengikuti kakaknya dan sesudah bertanya-tanya, dengan mudahnya mereka dapat menemukan rumah gedung dari Ji-cianbu, yakni perwira pengawal istana itu. Teringat bahwa tadi orang she Siangkoan juga diajak pergi oleh Ji-cianbu ke tempat ini, dan kini nampak banyak pengawal dengan kuda mereka menanti di depan gedung.

Han Tiong lalu mengajak adiknya mengambil jalan memutar, kemudian mempergunakan ilmu kepandaian mereka untuk melompati pagar tembok, memasuki taman dan dengan loncatan-loncatan tanpa menimbulkan suara mereka telah naik ke atas wuwungan rumah dan mengintai ke dalam dari atas genteng.

Mereka melihat Siangkoan Wi Hong tengah duduk berhadapan dengan Ji-cianbu di dalam ruangan yang luas dan di sana terdapat tiga buah pembaringan di mana rebah terlentang tiga orang yang tadi membikin ribut di restoran. Wajah mereka pucat agak kehijauan dan ketiganya mengeluh lirih dan bergerak lemah.

“Hemm, mengapa begini lama?” terdengar Siangkoan Wi Hong bertanya, nada suaranya mengandung ketidak sabaran.

Dengan gugup perwira itu bangkit dan menjura, “Harap kongcu bersabar… tentu kongcu maklum betapa sukar bagi kami untuk mengumpulkan uang lima puluh tail emas dengan pangkat dan gaji kecil seperti saya… sabarlah, karena tentu isteri saya sedang mencari pinjaman ke sana-sini…”

“Ha-ha-ha-ha, Ji-cianbu, tak perlu lagi engkau bersandiwara di depanku. Siapa yang tidak mengetahui keadaan para pembesar di kota raja? Gajimu boleh jadi memang kecil dan tidak seberapa, seperti gaji para pembesar lainnya, bahkan pembesar tinggi sekali pun berapa sih gajinya? Akan tetapi lihat gedung-gedung kalian, lihat isi rumah kalian, lihat isi gudang kekayaan kalian! Jika hanya mengandalkan gaji kalian, biar kalian bekerja sampai tujuh turunan sekali pun tidak mungkin dapat mengumpulkan kekayaan sebesar itu. Lalu dari mana? Ha-ha-ha, semua orang pun sudah tahu, hanya kalian saja orang-orang tolol yang mengira bahwa tidak ada orang yang tahu. Sudahlah, cepat sediakan jumlah yang kuminta, itu masih terlalu murah untuk mengganti tiga nyawa. Kalau tidak, aku akan pergi, karena aku masih mempunyai banyak urusan!”

“Baikiah, baiklah…” Ji-cianbu lalu bertepuk tangan dan ketika seorang pengawal masuk, dia berbisik, “Cepat, minta kepada hujin untuk cepat datang membawa uang itu.”

Siangkoan Wi Hong sudah mengentrang-ngentrang yang-kimnya, sikapnya acuh tak acuh dan kepada pemuda ini, Ji-cianbu menjura dan bertanya, “Yakin benarkah kongcu bahwa kongcu akan dapat menyembuhkan anakku?”

“Cringgg!” Bunyi kawat paling kecil dari yang-kim itu begitu nyaringnya sehingga Ji-cianbu terkejut dan melangkah mundur.

“Aku yang memukul, tentu saja aku dapat menyembuhkan!”

Tak lama kemudian muncullah seorang nyonya setengah tua tergopoh-gopoh membawa bungkusan kain kuning yang berisi uang. Ji-cianbu mengambil bungkusan ini dari tangan isterinya dan menyerahkannya kepada Siangkoan Wi Hong.

Pemuda itu menerimanya, sambil tersenyum dia membuka kantung itu dan melihat isinya yang ternyata uang-uang emas, berupa potongan-potongan besar yang berkilauan. Dia menimang-nimang dengan tangan seperti hendak memeriksa beratnya, lalu memasukkan kantung itu ke dalam saku jubahnya yang lebar. Setelah itu dia berkata,

“Buka baju mereka!”

Ji-cianbu memanggil pengawal dan dia bersama dua orang pengawal lalu membuka baju Ji Lou Mu dan dua orang tukang pukulnya. Ketika tubuh mereka dibalikkan, di punggung mereka nampak cap tangan menghitam, jelas sekali bagaikan dilukis dengan tinta. Itulah bekas tangan Siangkoan Wi Hong ketika menepuk punggung mereka satu demi satu itu!

Siangkoan Wi Hong menghadapi mereka, lalu dengan cepat jari-jari tangannya menotok beberapa jalan darah pada sekitar punggung, kemudian dia menempelkan telapak tangan kirinya ke punggung yang terluka. Tak lama kemudian, nampak asap atau uap mengepul dari punggung yang ditempeli telapak tangan itu, seolah-olah dibakar!

Ji Lou Mu mengeluh dan mengerang kesakitan, tetapi dihardik oleh Siangkoan Wi Hong. “Pengecut, diamlah! Masa menderita nyeri sedikit saja sudah merengek cengeng?”

Dibentak seperti itu, Si Muka Bopeng terdiam dan menahan nyeri sampai mukanya penuh keringat. Tidak lama kemudian Siangkoan Wi Hong melepaskan tangannya dan ternyata tanda hitam itu telah lenyap.

“Kau telan ini sehari sekali, tiga hari berturut-turut,” katanya sambil menyerahkan tiga butir pil hitam kepada Ji Lou Mu yang menerimanya dan kini pemuda muka bopeng itu sudah mampu duduk dan menghaturkan terima kasih.

Dengan sikap tak acuh Siangkoan Wi Hong mengobati pula dua orang tukang pukul itu. Mereka tidak berani mengeluh sungguh pun jelas bahwa mereka menderita nyeri hebat. Akhirnya mereka pun disembuhkan dan masing-masing diberi tiga butir pil hitam.

“Nah, aku pergi sekarang. Biarlah ini menjadi pelajaran bagi puteramu agar lain kali jangan bersikap sembarangan dan sewenang-wenang!”

Setelah berkata demikian, dengan diantar oleh Ji-cianbu yang membungkuk-bungkuk dan berkali-kali menyatakan terima kasih, pemuda itu memanggul yang-kimnya lantas keluar dari gedung itu. Dia menolak ketika diberi kuda dan melangkah ke jalan raya lalu berjalan seenaknya pergi dari situ.

Sejak tadi, Han Tiong dan Thian Sin melihat semua peristiwa itu dan diam-diam Thian Sin merasa kaget sekali. Melihat betapa Siangkoan Wi Hong yang dikaguminya itu memeras meminta uang emas sebelum mau mengobati Ji-kongcu dan dua orang tukang pukulnya! Segera sesudah Siangkoan Wi Hong pergi, mereka pun diam-diam meloncat turun dari atas genteng melalui bagian belakang gedung dan pergi dari tempat itu.

“Hemm, lima puluh tail emas…!” Han Tiong bersungut-sungut.

Thian Sin maklum bahwa kakaknya mencela perbuatan Siangkoan Wi Hong. Akan tetapi semenjak tadi memang ada dua hal yang bertentangan berada di dalam benaknya.

Yang pertama dia sendiri juga mencela perbuatan pemuda tampan itu yang melakukan pemerasan, akan tetapi di lain fihak dia pun merasa geli dan kagum karena perbuatan itu dapat pula diartikan sebagai hukuman terhadap pembesar itu yang seperti hampir semua pembesar di jaman itu, merupakan koruptor-koruptor besar yang memeras keringat rakyat dan harta milik negara.

“Akan tetapi, uang itu adalah uang hasil korupsi pembesar itu, Tiong-ko. Sudah layak bila orang macam Ji-cianbu itu dihukum seperti itu.”

Han Tiong menoleh dan memandang pada adiknya dengan alis berkerut. “Sin-te, apakah dengan kata-kata itu engkau hendak maksudkan bahwa engkau membenarkan perbuatan orang she Siangkoan itu.”

“Tidak, koko. Dia melakukan pemerasan dan itu sama saja dengan perampokan. Akan tetapi aku setuju kalau orang-orang seperti keluarga Ji itu diberi hajaran agar mereka itu dapat sadar dari perbuatan-perbuatan mereka yang tidak baik.”

Lega rasa hati Han Tiong saat mendengar jawaban adiknya itu. “Di kota raja ini banyak terdapat orang pandai, tepat seperti yang diceritakan ayah. Baru orang she Siangkoan itu saja sudah memiliki kepandaian begitu hebat, belum lagi tokoh-tokoh tuanya. Maka kita harus berhati-hati, Sin-te, sedapat mungkin jangan sampai terlibat dengan mereka seperti yang telah terjadi tadi.”

Mereka melanjutkan perjalanan ke losmen di mana mereka menyewa kamar. “Betapa pun juga, orang she Siangkoan itu amat menarik hati. Aku ingin sekali mendapat kesempatan untuk mencoba kepandaian silatnya.”

“Hemm, kurasa dia merupakan lawan yang cukup tangguh. Lihat saja suara yang-kimnya. Kalau saja dia mau, dia dapat menyerang lawan dengan suara yang-kimnya, itu saja telah membuktikan bahwa dia memiliki khikang yang amat kuat. Dan ketika dia meloncat untuk menghadang tiga orang itu jelas nampak kelihatan ginkang-nya, kemudian pada waktu dia mengobati mereka bertiga itu, dia mampu menggunakan sinkang untuk membakar racun pukulannya sendiri. Hemm, dia seorang lawan yang tangguh sekali!”

“Justru karena itulah aku ingin sekali mencobanya, Tiong-ko, akan tetapi sebagai sahabat, bukan sebagai musuh.”

Pada saat mereka sampai di depan losmen, bukan pengurus atau pelayan losmen yang menyambut mereka di depan pintu, akan tetapi Siangkoan Wi Hong! Sambil tersenyum ramah pemuda tampan itu berdiri menyambut mereka sambil menjura.

“Selamat malam, sahabat-sahabatku yang baik,” kata pemuda itu.

Dan terpaksa dua orang kakak beradik ini membalas penghormatan orang tapi diam-diam merasa heran bagaimana orang itu dapat mengetahui tempat mereka bermalam! Setelah sekarang mereka berdiri berhadap-hadapan dengan Siangkoan Wi Hong, maka tampaklah betapa pemuda itu bertubuh agak jangkung, lebih tinggi dari pada mereka berdua.

“Siangkoan-toako, bagaimana engkau dapat mengetahui bahwa kami bermalam di losmen ini?” tanya Thian Sin, tak dapat menyembunyikan rasa gembiranya bertemu dengan orang ini.

“Ha-ha-ha!” Deretan gigi yang teratur bagus itu berkilat ketika dia tertawa dan sinar lampu depan losmen menimpanya. “Sudah kukatakan bahwa di kota raja ini aku memiliki banyak sekali kenalan, maka apa sukarnya mencari tahu di mana kalian bermalam!”

“Saudara Siangkoan Wi Hong, sesungguhnya ada keperluan apakah yang membuat anda bersusah payah datang ke sini dan menanti kami berdua?” Han Tiong bertanya, sikapnya terbuka dan ramah, akan tetapi dari pandang matanya terpancar cahaya yang membuat Siangkoan Wi Hong merasa gugup.

Siangkoan Wi Hong cepat menutupi kegugupannya dengan senyumnya yang manis, “Ah, setelah mendengar bahwa kalian tinggal di sini, aku lalu cepat-cepat datang ke sini untuk menawarkan kamar di dalam rumahku kepada kalian. Sebagai sahabat-sahabatku yang sangat baik, tidak semestinya kalau Anda berdua tinggal di tempat ini. Marilah, ji-wi lote, mari ikut bersamaku, aku mengundang ji-wi untuk tinggal di rumahku selama ji-wi berada di kota raja.” Dengan mengembangkan lengannya orang she Siangkoan itu berkata sambil tersenyum, sikapnya ramah dan menyenangkan sekali sehingga Thian Sin telah menoleh ke arah kakaknya kemudian memandang kakaknya dengan sinar mata penuh persetujuan menerima undangan itu.

Akan tetapi sambil tersenyum Han Tiong berkata dan menjura. “Banyak terima kasih atas segala kebaikan loheng (kakak). Akan tetapi kami tidak berani banyak mengganggu. Kami akan merasa lebih leluasa bermalam di kamar losmen ini dari pada di rumah Siangkoan-loheng, oleh sebab itu harap loheng tak kecewa dan juga tidak menganggap kami kurang terima. Sesungguhnya kami merasa tidak enak sekali untuk menerima banyak kebaikan darimu. Tidak, Siangkoan-loheng, kami akan bermalam di sini saja dan sekali lagi terima kasih.”

Di bawah sinar lampu losmen itu, Siangkoan Wi Hong menatap wajah Thian Sin dengan mata bersinar-sinar. Dia melihat betapa Thian Sin melirik ke arah kakaknya tetapi segera menunduk, maka tahulah dia bahwa sang adik angkat itu amat tunduk kepada sang kakak angkat. Dia pun tersenyum.

Dari sinar matanya, dia maklum bahwa orang seperti Han Tiong yang memilki sinar mata bagaikan naga itu adalah seorang yang berhati teguh dan sekali mengeluarkan kata-kata sudah pasti tidak akan mudah dibelokkan lagi. Maka dia pun tidak mau menyia-nyiakan waktu dengan membujuk seorang pemuda seperti Han Tiong dan dia pun menjura.

“Baiklah, jika ji-wi tidak mau tinggal di rumahku, harap ji-wi suka berjanji untuk sekali-kali singgah di rumahku sebelum pergi meninggalkan kota raja. Toko dan rumah ayah berada di sebelah kanan pasar, di seberang Jembatan Ayam Putih. Asal ji-wi menanyakan rumah she Siangkoan setiap orang pun di sana akan dapat menunjukkan di mana adanya rumah kami.”

Han Tiong merasa bahwa dia keterlaluan kalau menolak undangan singgah ini, maka dia pun menjura kemudian berkata, “Baiklah, Siangkoan-loheng, kami berjanji akan singgah ke rumah loheng sebelum kami melanjutkan perjalanan ke selatan. Mudah-mudahan kami tidak terlalu mengganggu.”

“Ha-ha-ha, Cia-lote terlalu sungkan. Nah, sampai jumpa!” Orang itu lalu pergi memanggul yang-kimnya, berjalan melenggang seenaknya, diikuti pandang mata dua orang pemuda Lembah Naga itu.

Mereka lalu memasuki kamar dan masih berkesan tentang pertemuan dengan Siangkoan Wi Hong yang tidak disangka-sangkanya itu, “Orang itu sungguh aneh dan mencurigakan sekali,” kata Han Tiong.

“Aku gembira dapat berjumpa dengan dia dan kita sudah berjanji hendak singgah. Koko, kalau kita singgah di rumahnya, kesempatan itu akan kupergunakan untuk mengajaknya mencoba ilmu silat.”

“Tidak, Sin-te. Jangan kau lakukan hal itu. Ketahuilah bahwa orang seperti dia itu tentu amat terkenal di tempat ini, apa lagi kita pun tahu bahwa dia mempunyai kenalan banyak pembesar-pembesar istana. Kalau engkau sampai mengadu ilmu dengan dia, sudah tentu engkau akan berusaha untuk menang dan sekali engkau menang darinya, apa kau kira kita masih dapat menyimpan rahasia kita? Tentu semua di kota raja akan tahu dan akan sukarlah menyimpan rahasia bahwa kita datang dari Lembah Naga, apa lagi kalau sampai diketahui bahwa engkau she Ceng…”

“Hemmm, aku tidak takut!” kata Thian Sin penasaran. She-nya sama dengan she kaisar! Tetapi dia tidak takut ditangkap atau dibunuh seperti yang terjadi pada ayahnya. Dia akan melakukan perlawanan!

“Siapa bilang engkau takut adikku? Akan tetapi kita harus dapat bersikap cerdik dan tidak sembarangan menuruti nafsu. Apa sih perlunya mencoba orang seperti dia itu? Ingat, kita pergi merantau ini untuk meluaskan pengetahuan, dan bukan untuk memancing terjadinya keributan. Kukira engkau tidak akan suka untuk membikin pusing dan susah kepadaku, bukan?”

Ditanya demikian, Thian Sin memegang lengan kakaknya “Ah, tentu saja tidak, Tiong-ko. Apa kau sangka aku sudah gila ingin menyusahkanmu? Maafkan aku, biarlah kucabut lagi keinginanku untuk mencoba kepandaian Siangkoan Wi Hong kalau memang engkau tidak menyetujuinya. Aku hanya akan melakukan sesuatu dengan persetujuanmu, Tiong-ko dan kau tentu tahu akan hal ini.”

Demikianlah, dengan hati lega melihat adiknya yang telah ‘tenang’ kembali itu, Han Tiong lalu mengajak adiknya tidur. Namun baru saja mereka akan pulas, mendadak pintu kamar mereka diketuk orang! Sebagai ahli silat tingkat tinggi, sedikit suara itu sudah cukup untuk membuat mereka sadar benar dan berloncatan turun dari tempat tidur.

Dengan amat hati-hati Han Tiong membuka pintu kamar dan dua orang pria dengan tubuh sempoyongan memasuki kamar sambil tertawa-tawa. Ketika melihat Han Tiong dan Thian Sin, dua orang itu lalu saling pandang.

“Eh, kenapa begini? Mana dua orang nona manis itu? Heh-heh, sobat-sobat, lekas keluar, kalian telah menempati kamar kami, dan ke mana perempuan-perempuan manis itu kalian sembunyikan?”

“Hayo keluar!” kata orang ke dua kemudian mereka mengambil sikap mengancam hendak mengusir Han Tiong dan Thian Sin dengan kekerasan.

“Keparat pemabukan!” Thian Sin membentak dan sudah hendak turun tangan, akan tetapi lengannya dipegang oleh Han Tiong.

“Mereka ini sedang mabuk, perlu apa dilayani?” katanya kepada adiknya. Kemudian dia melangkah maju menghadapi kedua orang itu. “Saudara-saudara salah masuk, ini adalah kamar kami, harap kalian suka keluar lagi.” Sambil berkata demikian, dengan halus Han Tiong mendorong mereka keluar.

“Apa?! Kau hendak memukul?” seorang di antara mereka membentak dan orang itu telah mengayun tangan memukul ke arah Han Tiong.

Akan tetapi pemuda ini hanya mengelak sedikit dan dia terus mendorong mereka keluar dari kamar tanpa membalas. Setelah keduanya tak dapat bertahan dan terdorong keluar, dia lalu menutupkan lagi pintu kamarnya. Dua orang itu menggedor-gedor dari luar, akan tetapi Han Tiong mendiamkan saja dan dia melarang Thian Sin yang marah-marah ingin menghajar mereka itu. Akhirnya dua orang mabuk itu pergi juga.

“Tiong-ko, engkau terlalu sabar!” Thian Sin mencela. “Orang-orang mabuk kurang ajar itu sepatutnya diberi hajaran biar kapok!”

“Adikku yang baik, bukankah engkau tahu bahwa mereka itu mabuk dan tidak sadar? Kita yang tidak mabuk dan yang sadar sepatutnya kalau mengalah.”

“Tapi tadi mereka memukulmu!”

“Memang, dan itulah kalau orang mabuk. Apa bila aku yang tidak mabuk balas memukul, habis lalu apa bedanya antara dia yang mabuk dan aku yang tidak mabuk? Adikku, bukan berarti bahwa aku sabar, melainkan karena mana mungkin aku marah terhadap orang mabuk?”

Mereka tidur kembali dan malam itu tidak terjadi hal-hal menarik. Pada keesokan harinya, mereka berdua melanjutkan pesiar mereka untuk melihat-lihat kota raja yang amat ramai itu. Mereka pergi ke pasar dan Han Tiong bersama adiknya membeli beberapa macam buah-buahan yang belum pernah mereka makan atau bahkan lihat sebelumnya. Dengan dua tangan membawa keranjang-keranjang berisi macam-macam buah, mereka berjalan kembali ke losmen.

Pada waktu mereka tiba di sebuah mulut gang yang sempit di dekat pasar, tiba-tiba saja seorang pemuda tinggi besar menabrak Han Tiong. Karena tak menyangka-nyangka, biar pun dia dapat mengatur kakinya sehingga tidak sampai jatuh, namun dua buah keranjang terisi buah-buahan itu lantas terbuka keranjangnya sehingga buah-buahan itu berceceran dan menggelinding di atas tanah!

“Heii, di mana matamu?!” bentak pemuda tinggi besar itu.

Dari belakangnya datang lima orang pemuda lain, juga bertubuh tinggi besar dan bersikap kasar, berlagak bagaikan jagoan-jagoan muda yang banyak terdapat di kota-kota besar. Dengan angkuh mereka lalu menginjak-injak buah-buahan yang berserakan di jalan itu.

“Heiii, itu buah-buah kami…!” Thian Sin membentak marah, tapi Han Tiong mengedipkan matanya kepada adiknya, lantas dia menjura kepada Si Tinggi Besar yang menabraknya tadi.

“Harap kau maafkan saya, sobat. Karena tempat ini sempit dan aku lengah, maka sudah menabrakmu. Sudahlah, kesalahanku sudah ditebus dengan hilangnya semua buah-buah yang kubeli.”

Sejenak Si Tinggi Besar itu menatapnya, kemudian tertawa-tawa, diikuti oleh kelima orang temannya. Mereka mentertawakan Han Tiong, namun anehnya mereka tidak menghalang ketika Han Tiong mengajak adiknya pergi cepat-cepat dari tempat itu, diikuti suara ketawa mereka.

“Ahh, Tiong-ko, sungguh penasaran sekali!” Demikian Thian Sin mengeluh ketika mereka tiba kembali di kamar losmen mereka. Pemuda ini masih merasa marah, mukanya merah dan kadang-kadang dia mengepal tinju tangannya.

“Apa maksudmu Sin-te?”

“Aku merasa malu bukan main harus lari terbirit-birit dari lima orang berandal tadi. Betapa ingin aku menghajar mereka sampai jatuh bangun. Kenapa kita harus bersikap demikian pengecut dan membiarkan mereka menghina kita, Tiong-ko? Apakah perbuatan kita tadi tidak menimbulkan buah tertawaan karena sama sekali bukan selayaknya dilakukan oleh seorang pendekar melainkan lebih patut menjadi sikap pengecut dan penakut?”

Han Tiong tersenyum tenang, memandang wajah adiknya dengan tajam lalu dia berkata, suaranya tenang dan tegas, “Adikku yang baik, engkau pun tahu bahwa justru seorang pendekar adalah orang yang tak mudah marah menurutkan perasaannya saja. Kalau kita menghadapi orang gila, apakah kita juga harus menjadi gila pula?”

“Tapi mereka itu bukan gila, mereka itu orang-orang jahat!” Thian Sin membantah.

“Mereka itu gila, adikku. Kalau mereka itu menggunakan kekerasan, lalu kita menghadapi mereka dengan kekerasan pula, lalu apa bedanya antara mereka dengan kita? Mereka gila dan kita pun akan menjadi gila pula. Mereka adalah orang-orang gila karena mereka mencari dan memancing keributan tanpa urusan dan sebab, mereka itu orang-orang sakit yaitu batin mereka yang sakit. Sebaliknya, kita yang waras ini, yang mampu menjauhkan diri dan menghindari keributan, mengapa kita harus melayani mereka? Bukankah itu akan menjadi sama gilanya, sama sakitnya, dan sama jahatnya?”

“Tetapi, koko, sungguh penasaran sekali kalau kita, putera-putera dari Pendekar Lembah Naga, harus lari terbirit-birit menghadapi tikus-tikus pasar itu!”

Han Tiong tersenyum lebar dan merangkul pundak adiknya. “Aihh, Sin-te, apakah masih kurang gemblengan yang diberikan oleh Paman Lie Seng dan oleh ayah sendiri kepada kita? Apa bila semua pendekar di dunia sudi melayani pengacau-pengacau kecil seperti mereka tadi, tentu setiap hari akan terjadi keributan dan para pendekar tidak ada waktu lagi untuk menghadapi urusan-urusan besar. Mereka itu hanya orang-orang yang sengaja hendak memancing keributan karena itulah kesenangan mereka. Jika kita mau melayani, berarti kita ini malah membantu pengacauan mereka. Sudahlah, kita anggap saja tadi itu sebagai latihan mental bagimu, adikku.”

Akhirnya Thian Sin mau juga menerima semua alasan kakaknya karena dia pun melihat kebenarannya. Memang sesungguhnyalah, dia sudah digembleng sedemikian rupa oleh ayah angkat atau juga pamannya, sudah memiliki ilmu kepandaian yang tinggi, sungguh tidak sepatutnya kalau kepandaian itu dipergunakan hanya untuk urusan yang sedemikian remehnya. Justru kalau dia terkena pancingan pemuda-pemuda berandalan tadi, hal itu hanya menunjukkan bahwa dia bukanlah sebagai pendekar yang sudah ‘masak’. Maka hatinya pun menjadi dingin dan tenang kembali.

“Adikku, kota raja ini ternyata bukan merupakan tempat yang menyenangkan, dan kiranya penuh dengan orang-orang jahat seperti pernah diceritakan oleh ayah. Betapa jauhnya perbedaan kehidupan di desa dan di kota. Di dusun begitu aman tenteram dan kejahatan manusia tidak begitu menyolok, sebaliknya di kota raja ini suasananya demikian panas, dan hampir tidak pernah aku melihat wajah-wajah yang membayangkan kedamaian hati. Lebih baik kita melanjutkan perjalanan kita saja Sin-te. Tidak enak kalau kita terlalu lama berdiam di lempat seperti ini.”

“Terserah kepadamu, Tiong-ko, akan tetapi jangan lupa bahwa kita sudah berjanji untuk singgah di tempat kediaman Siangkoan Wi Hong.”

Han Tiong mengangguk dan mengerutkan alisnya. Di dalam hatinya, dia tidak begitu suka kepada pemuda pesolek yang berhati kejam itu, akan tetapi karena dia memang sudah menerima undangan, dan pula dia pun tahu bahwa adiknya ini diam-diam sangat kagum dan suka kepada orang she Siangkoan itu, maka dia pun berkata,

“Baik, Sin-te. Kita singgah sebentar di rumahnya, kemudian melanjutkan perjalanan kita menuju ke Cin-ling-san.”

Pada keesokan harinya, pagi-pagi kedua orang pemuda itu sudah meninggalkan losmen dan mereka lalu pergi mencari rumah tinggal Siangkoan Wi Hong. Ternyata tidak sukar untuk mencari rumah gedung besar di samping toko itu, karena memang nama Siangkoan Wi Hong telah terkenal di kota raja.


Tag: Cerita Silat Online, Cersil, Kho Ping Hoo, Pedang Kayu Harum

Thanks for reading Pendekar Sadis Jilid 10.

Back To Top