Cersil Online Karya Kho Ping Hoo

Pendekar Sadis Jilid 17

TIGA hari kemudian, barulah Han Tiong berangkat, dibekali cukup uang berikut nasehat-nasehat dari ayah bundanya yang mengantar kepergiannya dengan tatapan mata prihatin. Dan karena Han Tiong sendiri tidak tahu di mana adanya Lian Hong atau pun ke mana perginya, maka satu-satunya jalan baginya hanyalah mengunjungi Lok-yang kembali, atau setidaknya dia akan mencari di sekitar daerah Propinsi Ho-nan.

Memang tepat dugaan Han Tiong. Malam itu juga Thian Sin nekat minggat meninggalkan Lembah Naga karena patah hati! Dia merasa tak perlu lagi tinggal di Lembah Naga. Untuk apa? Lian Hong telah menjadi calon isteri kakaknya, dan malah dia tidak boleh membantu kakaknya mencari dara itu! Kalau dia tinggal di Lembah Naga, setiap hari dia hanya akan menyesali dirinya sendiri saja. Tidak, dia harus pergi!

Dia harus mempelajari ilmu-ilmu peninggalan dari ayahnya. Dia memang putera kandung Pangeran Ceng Han Houw yang dicap pemberontak. Dia memang anak orang jahat, dan sekarang dia telah menjadi pemberontak pula sesudah membunuh pasukan pemerintah. Biarlah dia hidup sendiri dengan segala kejelekannya. Dan dia akan membalas dendam kematian keluarga Ciu, juga dendamnya sendiri.

Telah terlampau sering hatinya dibikin sakit oleh para penjahat dan betapa dia selama ini selalu menahan-nahan dendamnya. Telah beberapa kali dia harus merasa kecewa dalam hidupnya. Ayahnya dan ibunya dibunuh orang, dan karena teringat bahwa ayah bundanya dibunuh oleh pasukan pemerintah itulah maka malam itu dia mengamuk dan membunuhi para prajurit itu dengan penuh kebencian, jadi bukan semata-mata karena ingin membela keluarga Ciu.

Berapa kali dia patah hati karena putus cinta. Pertama dengan Cu Ing yang dipisahkan darinya dengan paksa. Ke dua, dia kembali kehilangan Loa Hwi Leng yang terbunuh oleh orang-orang Jeng-hwa-pang. Ia merasa sakit hati dan mendendam kepada banyak orang! Kepada pasukan kerajaan yang membunuh orang tuanya serta membunuh keluarga Ciu, lalu kepada Raja Agahai, pamannya di utara yang ikut pula mencelakakan orang tuanya, kepada Jeng-hwa-pang, kepada See-thian-ong, kepada Lam-sin, Pak-san-kui dan masih banyak lagi, dan pendeknya, kepada semua penjahat di dunia ini!

“Aku akan basmi mereka!” berkali-kali dia berkata ketika dia lari di malam hari itu, menuju ke selatan dan dengan cerdik dia mengambil jalan liar, bukan jalan umum karena dia tahu bahwa mungkin sekali kakaknya akan menyusul dan mencarinya.

Dia harus pandai menyembunyikan diri dan tak boleh sampai berjumpa dengan kakaknya, karena dia tahu bahwa kalau sampai dia berhadapan muka dengan Han Tiong, maka dia tidak mungkin dapat membantah lagi kalau kakaknya itu mengajaknya pulang.

Kali ini kepergiannya memang sudah direncanakan semenjak dia pulang dan menghadap ayah angkatnya bersama Han Tiong. Oleh karena itu dia tidak lupa membawa kitab-kitab peninggalan ayahnya. Selama ini dia belum sempat mempelajarinya sama sekali, karena ayah angkatnya melarangnya.

“Ilmu milik mendiang ayah kandungmu itu memang hebat, Thian Sin, akan tetapi sayang, ilmu itu mengandung pengaruh yang sangat tidak baik. Sifat ayahmu banyak dipengaruhi oleh ilmu-ilmunya itulah.” Demikian ayah angkatnya berkata.

Selama ini dia mentaati dan tidak pernah menyentuh kitab-kitab itu. Akan tetapi, kini dia membawa kitab-kitab itu dan dia harus mempelajarinya. Dia sudah pernah membalik-balik lembarannya dan dapat mengerti dengan mudah. Juga kunci-kunci rahasia kitab itu masih diingatnya dengan baik. Semua kitab tulisan ayah kandungnya itu memang mengandung rahasia-rahasia yang hanya dapat dipecahkan olehnya dengan menggunakan kunci-kunci rahasia yang pernah diajarkan ayahnya kepadanya.

Pertama-tama dia akan mencari Pak-san-kui. Datuk kaum sesat ini ialah ayah Siangkoan Wi Hong dan kini, tanpa adanya Han Tiong di sisinya, dia akan menghajar Siangkoan Wi Hong kemudian akan membunuhnya! Juga dia akan menantang Pak-san-kui yang sudah mengirim anak buahnya ikut mengeroyok dan membunuh keluarga Ciu Khai Sun.

Dia telah banyak mendengar tentang Pak-san-kui, bahkan ayah angkatnya sudah banyak bercerita mengenai datuk kaum sesat dari daerah utara ini. Dia tahu bahwa Pak-san-kui tinggal di kota Tai-goan, di Propinsi Shan-si dan ke sanalah dia kini menuju.

Pada saat itu, Ceng Thian Shin sudah berusia sembilan belas tahun. Wajahnya memang tampan sekali dan gerak-geriknya halus. Kalau dilihat sepintas lalu saja, dia lebih pantas menjadi seorang pemuda pelajar yang lemah. Siapa yang menyangka bahwa pemuda ini menyembunyikan ilmu silat yang amat hebat, banyak macam ilmu silat tinggi dikuasainya dan dia merupakan seorang pendekar sakti yang amat lihai.

Pedang Gin-hwa-kiam pemberian neneknya disembunyikannya di balik jubahnya, dan dia lalu melakukan perjalanan cepat menyusup-nyusup hutan, naik bukit dan menuruni jurang, mengambil jalan liar agar tidak sampai dapat disusul oleh kakaknya.

********************

cerita silat online karya kho ping hoo

Pak-san-kui adalah seorang kakek yang usianya sudah enam puluh tahun lebih, hampir tujuh puluh tahun malah, dan dia memang diakui sebagai datuk oleh golongan hitam atau kaum sesat di deerah utara. Namanya adalah Siangkoan Tiang dan di kota Tai-goan di mana dia hidup sebagai seorang hartawan besar, dia lebih dikenal sebagai Siangkoan-wangwe (hartawan Siangkoan).

Rumah gedungnya besar bagai istana, dikelilingi pagar tembok yang tebal seperti benteng dan di depan pintu gerbangnya selalu terdapat penjaga-penjaga yang berpakaian seragam kuning, pakaian ahli-ahli silat yang gagah. Pak-san-kui Siangkoan Tiang ini tidak seperti para datuk lainnya, tidak mempunyai perkumpulan yang dipimpinnya.

Akan tetapi jangan dikira bahwa dia tidak mempunyai anak buah! Dia mempunyai tidak kurang dari lima puluh orang anak buah yang menjadi pesuruh-pesuruh atau para tukang pukulnya yang rata-rata mempunyai ilmu silat lumayan karena tentu saja sebagai seorang datuk, Pak-san-kui tidak sudi mempunyai anak buah yang lemah!

Dan meski pun dia tidak mempunyai perkumpulan dan tidak membuka perguruan, namun dia mempunyai kurang lebih sepuluh orang anak buah yang dipilihnya dari semua anak buahnya, yang merupakan orang-orang berbakat, kemudian mengambil mereka sebagai muridnya. Sebagian besar dari anak-anak buah itu adalah bekas-bekas penjahat di daerah utara yang takluk kepada datuk ini.

Murid-murid kepala yang paling diandalkan oleh Pak-san-kui adalah Pak-thian Sam-liong, tiga orang kakek berusia lima puluh tahun yang terkenal dengan ilmu gabungan mereka, yaitu Sha-kak-tin (Barisan Segi Tiga). Pakaian tiga orang murid kepala ini pun ringkas dan gagah, berwarna putih-putih dengan sabuk biru dan kemana pun mereka pergi, tiga orang ini selalu membawa pedang di punggung mereka.

Di bawah murid kepala ini masih terdapat beberapa orang murid lagi yang cukup tangguh. Mereka semua inilah pelaksana-pelaksana yang mewakili Pak-san-kui apa bila berurusan dengan segala golongan di daerah utara.

Pak-san-kui bukan hanya terkenal kaya raya, akan tetapi dia juga mempunyai hubungan yang sangat erat dengan para pembesar di kota-kota, sampai di kota raja! Pengaruhnya luas sekali dan dialah, atau setidaknya murid-muridnya yang dipercayalah, yang menjadi semacam jembatan bagi setiap orang yang memerlukan bantuan para pembesar itu.

Melalui Pak-san-kui maka pembesar itu suka memberikan jasa-jasa baik terhadap para pedagang dan para hartawan yang membutuhkan bantuan pembesar-pembesar itu dengan imbalan yang cukup besar. Dan semua hubungan itu melalui Pak-san-kui! Tentu saja sebagai jembatan, Pak-san-kui memperoleh tanda terima kasih dari kedua fihak.

Selain itu, juga Pak-san-kui telah menundukkan semua gerombolan penjahat sehingga dari mereka ini pun dia memperoleh banyak sumbangan sebagai tanda takluk. Bahkan semua rumah judi, rumah pelacuran, dan rumah pemadatan yang besar-besar, berada di bawah kekuasaan Pak-san-kui. Maka tidaklah mengherankan kalau pengaruhnya besar dan kekayaannya makin lama semakin besar juga.

Seperti telah kita kenal, hartawan ini mempunyai seorang putera saja, yaitu Siangkoan Wi Hong yang tampan, halus dan pandai bermain musik, bersajak, akan tetapi juga lihai ilmu silatnya itu. Jarang ada orang yang sempat menyaksikan ilmu silat kakek hartawan ini, namun didesas-desuskan bahwa kepandaiannya bagaikan malaikat, dan huncwe panjang bergagang emas yang selalu dibawanya ke mana-mana itu merupakan senjata yang amat ampuh.

Hartawan ini memang lebih patut menjadi hartawan dari pada ahli silat tinggi. Tubuhnya yang jangkung, wajahnya yang terpelihara baik-baik serta tampan, sikapnya yang ramah, pakaiannya yang mewah, semua itu sama sekali tidak menunjukkan bahwa dia adalah seorang datuk yang sakti.

Amat mudah bagi Thian Sin untuk dapat menemukan rumah gedung Pak-san-kui di kota Tai-goan itu. Setiap orang, siapa pun juga yang ditanyainya, tentu tahu di mana letaknya rumah gedung itu biar pun orang lebih mengenal Pak-san-kui sebagai Siangkoan-wangwe.

Tadinya Thian Sin sendiri bingung melihat yang ditanya mengenai Pak-san-kui tidak tahu, tetapi ketika pemilik restoran di mana dia makan mendengar disebutnya Pak-san-kui, dia cepat berkata bahwa yang dicari pemuda itu tentulah Siangkoan-wangwe. Dan Thian Sin segera membenarkan karena dia lantas teringat bahwa nama putera Pak-san-kui adalah Siangkoan Wi Hong.

“Ya, benar, Siangkoan-wangwe, di mana rumahnya?”

Semua orang dengan cepat lalu memberi keterangan di mana adanya rumah gedung milik hartawan itu, dan di luar tahunya Thian Sin, pemilik restoran diam-diam sudah mengutus seorang pegawainya untuk memperingatkan kepada hartawan itu atau para anak buahnya bahwa ada seorang pemuda tampan asing yang mencarinya.

Mudah diketahui bahwa pemuda yang mencari itu tentulah seorang asing yang datang dari jauh. Pertama karena logat bicaranya berbeda, ke dua, kalau pemuda itu orang daerah Tai-goan, tak mungkin tidak tahu di mana adanya rumah Siangkoan-wangwe!

Karena adanya laporan inilah maka ketika Thian Sin berhadapan dengan para penjaga pintu gerbang rumah gedung yang berpakaian serba kuning itu dan mendengar bahwa dia minta bertemu dengan Siangkoan-wangwe, dia lalu dipersilakan memasuki pintu gerbang. Akan tetapi begitu dia masuk, daun pintu gerbang dari besi itu ditutup rapat dan dia telah dikurung oleh beberapa orang penjaga yang membawa tombak dan golok!

Thian Sin bersikap tenang sekali. Setelah kini merantau seorang diri dan seorang diri pula menghadapi bahaya, dia bersikap tenang. Dia tahu bahwa dia telah berani memasuki goa macan, oleh karena itu dia tidak mau menuruti perasaan hatinya. Dia sudah memperoleh pelajaran pahit dan sekarang dia harus bersikap cerdik.

Dia bukan seorang tolol yang nekat mencari mati dengen menantang Pak-san-kui begitu saja. Dia harus pandai bersiasat. Maka, dikepung oleh beberapa orang yang berpakaian kuning itu, dia tersenyum saja.

“Hemm, beginikah caranya Pak-san-kui yang terkenal itu menyambut seorang tamu yang hendak bertemu dengannya? Menyambut dengan pengeroyokan bagaikan sikap seorang tukang pukul murahan saja?” katanya mengejek dan sengaja menaikkan nada suaranya, agar terdengar oleh orang-orang yang berada di dalam gedung besar itu!

Dan pancingannya itu memang berhasil. Dari dalam gedung muncullah seorang pemuda tampan yang membawa yang-kim, dan bukan lain dia adalah Siangkoan Wi Hong.

“Aha, ternyata si pemberontak berani muncul di sini!” kata Siangkoan Wi Hong dengan suara mengejek, akan tetapi dia tersenyum sambil memandang kepada Thian Sin dengan sinar mata menunjukkan kekagumannya.

Memang putera Pak-san-kui ini merasa amat kagum kepada Thian Sin yang dianggapnya seorang pemuda yang pandai bersajak, penuh keberanian, dan memiliki ilmu kepandaian hebat. Dia sendiri harus mengakui bahwa dia tidak mampu menandingi putera mendiang Pangeran Ceng Han Houw ini!

Melihat munculnya putera Pak-san-kui itu, Thian Sin tersenyum pula dan membungkuk. “Nah, kalau puteranya yang keluar menyambut masih mendingan! Siangkoan-kongcu, kau jangan sembarangan berbicara tentang pemberontak, nanti engkau bisa mendapat marah dari ayahmu. Di dunia ini ada banyak macam pemberontak, tetapi yang paling berbahaya adalah pemberontak yang bersembunyi dan tidak melakukan pemberontakannya secara berterang!”

Thian Sin teringat akan pengakuan Phoa-taijin, karena itulah dia berani menyindir dengan kata-kata itu. Dia merasa yakin bahwa datuk utara, ayah dari pemuda di hadapannya ini tentu bersekutu dengan orang-orang Mancu yang merencanakan pemberontakan.

“Bocah sombong! Engkau telah berani memberontak dan mengacau di kota Lok-yang dan Su-couw, dan sekarang berani pula muncul di sini menjual lagak? Tangkap dia!” bentak Siangkoan-kongcu yang sudah meloncat maju.

Beberapa orang penjaga segera mengurung pula, siap untuk menyerang Thian Sin yang sudah terkurung di tengah-tengah. Akan tetapi Thian Sin bersikap tenang dan masih tetap tersenyum, sama sekali tidak kelihatan gentar.

“Aku tidak percaya bahwa Siangkoan Wi Hong, putera tunggal Pak-san-kui yang terkenal lihai itu kini hendak mengandalkan pengeroyokan anak buahnya yang tidak berarti untuk menyambut seorang tamu yang hendak bicara!”

Ucapan ini membuat Siangkoan Wi Hong meragu. Kalau dia melanjutkan pengeroyokan, sungguh sama saja dengan menjatuhkan namanya sendiri di hadapan mata para anak buahnya! Akan tetapi, pada saat itu pula terdengar suara tertawa dari dalam gedung dan tiba-tiba muncullah seorang kakek bertubuh jangkung yang memegang sebatang huncwe panjang.

Biar pun selama hidupnya belum pernah berjumpa dengan Pak-san-kui, akan tetapi Thian Sin sudah memperoleh gambaran tentang datuk ini dari kakaknya yang pernah bertemu ketika masih kecil, maka begitu kakek itu muncul, dia sudah dapat menduganya dan cepat dia menjura dengan sikap hormat, menyembunyikan kebencian hatinya di balik senyuman ramah.

“Siangkoan-locianpwe suka keluar sendiri, hal ini berarti suatu kehormatan besar bagiku!” katanya sambil memberi hormat.

Kakek itu tertawa sambil matanya terbelalak kagum. “Inikah putera Pangeran Ceng Han Houw yang telah membikin geger dan telah membuntungi orang she Phoa itu? Ha-ha-ha, sungguh pantas menjadi putera pangeran yang pernah merebut gelar Jagoan Nomor Satu di dunia! Hei, Ceng Thian Sin, engkau sungguh menyenangkan sekali, tepat seperti yang telah diceritakan oleh puteraku. Mari, mari, kita ke lian-bu-thia sebab sebelum bicara lebih lanjut aku ingin sekali menguji kepandaianmu.”

Thian Sin menyembunyikan kekhawatirannya. Dia tahu bahwa dia berada di tempat yang berbahaya, dan sekali masuk, entah dia akan dapat keluar lagi atau tidak. Maka sambil tersenyum dia pun berkata, “Saya sama sekali tidak dapat percaya bahwa seorang datuk seperti Siangkoan-locianpwe akan sudi untuk menjebak dan mencelakai seorang pemuda tanpa nama seperti saya ini!”

Kakek itu menghembuskan asap dari pipa tembakaunya dan tertawa bergelak. “Ha-ha-ha, berani dan lihai serta cerdik pula! Orang muda, apa kau kira kau akan mampu lolos dari jangkauan huncweku bila mana aku menghendaki nyawamu? Perlu apa aku mesti pakai menjebak seperti perbuatan seorang pengecut? Masuklah dan aku sendiri yang menjamin bahwa tak akan ada yang mengganggumu apa lagi menjebakmu. Kita adalah orang-orang segolongan, atau setidaknya, andai kata mendiang Pangeran Ceng Han Houw sekarang masih hidup, tentu dia merupakan seorang sahabatku yang paling baik.”

Lega rasa hati Thian Sin. Ternyata siasatnya ketika dia bicara mengenai pemberontakan sambil menyinggung keadaan Pak-san-kui tadi berhasil. Kakek itu tidak akan memusuhi dirinya, bahkan melihat sikapnya agaknya,akan menariknya sebagai sekutu atau sahabat. Baik, dia akan melihat keadaan dan tidak akan terburu nafsu membalas dendam kematian keluarga Ciu. Sekarang dia tidak memiliki siapa pun juga, maka dia harus pandai menjaga diri sendiri dan berlaku cerdik.

“Baiklah, locianpwe, aku percaya penuh kepada ucapan seorang besar seperti locianpwe.” Dan dengan sikap tenang dia pun melangkah masuk mengikuti kakek itu. Di belakangnya berjalan Siangkoan Wi Hong yang juga amat kagum kepada pemuda remaja ini.

Lian-bu-thia itu luas sekali, dindingnya putih bersih dan dihias tulisan-tulisan yang bergaya gagah. Pada sudut ruangan itu terdapat sebuah rak senjata yang penuh dengan senjata-senjata selengkapnya. Juga terdapat alat-alat untuk latihan silat, bahkan ada patok-patok bunga bwee untuk latihan kuda-kuda dan langkah-langkah silat, ada karung-karung terisi bubuk pasir dan bubuk besi untuk latihan mengeraskan tangan dan sebagainya.

Hawa dalam ruangan lian-bu-thia (ruangan bermain silat) itu cukup segar sebab dikelilingi jendela beruji besi. Lantainya juga sangat bersih dan tidak licin. Pendek kata, lian-bu-thia yang terawat dan baik sekali.

Ketika mereka memasuki lian-bu-thia itu terdapat tiga orang kakek setengah tua yang sedang latihan silat dan mereka ini ternyata adalah Pak-thian Sam-liong! Melihat guru dan juga majikan mereka masuk bersama Siangkoan-kongcu serta seorang pemuda, mereka segera memberi hormat dan mengenakan pakaian mereka yang tadi mereka buka dan mereka hanya memakai celana. Akan tetapi ketika mereka melihat dan mengenal Thian Sin, mereka terkejut sekali dan memandang dengan alis berkerut.

Akan tetapi dengan sikap gembira sekali, Pak-san-kui cepat melepaskan mantelnya yang terbuat dari bulu tebal dan dia menyerahkan huncwenya kepada salah seorang di antara Pak-thian Sam-liong yang segera mengisinya lagi dengan tembakau dari sebuah kantong tembakau yang diberikan oleh kakek itu kepadanya. Baju sutera hartawan itu kelihatan mewah sekali dan dia tersenyum memandang kepada Thian Sin.

“Ceng-sicu, aku sudah mendengar bahwa sebagai putera mendiang Pangeran Ceng Han Houw, engkau memiliki ilmu silat yang hebat sekali!”

“Ah, berita itu terlalu dilebih-lebihkan, locianpwe,” Thian Sin berkata merendah, sikap yang memperlihatkan kecerdikannya. Sebelum dia tahu sampai di mana kehebatan kepandaian musuh ini, dia harus bersikap hati-hati, pikirnya, apa lagi dia berada di dalam rumah datuk ini.

“Hemm, sama sekali tidak dilebih-lebihkan kalau engkau sudah mampu mengalahkan tiga orang muridku dan juga puteraku. Bahkan kabarnya engkau telah mewarisi ilmu-ilmu dari Cin-ling-pai, sungguh luar biasa sekali. Semuda ini kabarnya telah memiliki Thi-khi I-beng, benarkah itu?”

“Locianpwe terlalu memuji,” kata Thian Sin.

“Ha-ha-ha, oleh karena itu, untuk membuktikan apakah benar semua berita yang kuterima itu, apakah benar engkau sedemikian lihainya ataukah hanya murid-muridku dan puteraku saja yang tolol, maka sungguh kebetulan sekali engkau datang. Sebelum kita bicara lebih lanjut, marilah kita main-main barang beberapa jurus dan harap engkau tidak perlu untuk mengeluarkan seluruh ilmu kepandaianmu.” Setelah berkata begitu, kakek itu melangkah ke tengah ruangan lian-bu-thia, menggapaikan tangan ke arah muridnya yang tadi mengisi huncwe.

Sang murid cepat mengantarkan huncwe gurunya, kemudian dengan penuh hormat lalu menyalakan geretan api dan membakar tembakau pada ujung huncwe sehingga tak lama kemudian nampak asap putih mengepul dan tercium bau tembakau yang harum.

Pak-san-kui mengepulkan asap dari hidungnya, kemudian mengangguk kepada Thian Sin. “Ceng Thian Sin, kau majulah dan mari kita main-main!”

Thian Sin segera melangkah maju dan tetap bersikap waspada. Memang dia ingin sekali mencoba sampai di mana kelihaian orang tua ini, seorang di antara para datuk. Kalau dia sanggup menandinginya, maka dia tentu akan membunuh datuk ini untuk membalaskan kematian keluarga Ciu. Akan tetapi kalau datuk ini terlalu pandai dan terlalu lihai baginya, dia akan menggunakan akal. Sambil tersenyum dia lalu menjura dan berkata,

“Aku yang muda hanya melayani kehendak locianpwe, silakan, locianpwe!”

“Baik-baik, kau siaplah, orang muda!”

Mendadak kakek ini melangkah maju, tangan kirinya menyambar sembarangan saja ke arah kepala Thian Sin. Biar pun tangan itu nampaknya hanya menyambar perlahan saja, akan tetapi ada angin sambaran yang amat kuat mendahului tangannya.

Thian Sin menggeser kaki ke belakang untuk mengelak, akan tetapi sebelum dia sempat membalas serangan sembarangan itu, tahu-tahu tangan yang sudah dielakkannya hingga lewat itu masih terus menyambar ke arah kepalanya, bahkan kini dua jari dari tangan itu menusuk ke arah matanya dengan kecepatan kilat!

Tentu saja dia terkejut bukan kepalang, karena lawannya itu tidak melangkah maju, akan tetapi bagaimana tangannya masih terus dapat mengejarnya? Pada saat dia menendang sambil meloncat cepat ke kiri untuk mengelak, kiranya lengan kiri kakek itu dapat diulur panjang sampai hampir dua kali panjang lengan biasa! Itulah ilmu yang sangat luar biasa dan amat berbahaya, pikirnya.

Karena itu, sambil mengelak tadi dia pun sudah membalas dengan tamparannya, dengan mempergunakan Ilmu Thian-te Sin-ciang! Dari tangannya sampai terdengar suara bersuit keras saking hebatnya pukulan itu. Memang Thian Sin yang maklum bahwa dia sedang menghadapi lawan yang amat tangguh, sudah mempergunakan semua tenaganya dalam mengirim serangan balasan ini.

Agaknya kakek ini sudah menduga akan tamparan ini. Maka dia pun sengaja menangkis dengan lengan kirinya yang sudah ditarik kembali, tentu saja sambil mengerahkan tenaga karena dia maklum bahwa pemuda ini hebat bukan main.

“Dukkk…!”

Keduanya tergetar dan terpaksa mundur selangkah. Kakek itu memandang kagum sekali.

“Itukah Thian-te Sin-ciang? Bukan main hebatnya!” katanya memuji sambil tersenyum.

Sudah lama dia mendengar akan ilmu ini dan hari ini dia benar-benar menghadapi ilmu itu yang dilakukan oleh seorang pemuda gemblengan. Akan tetapi Thian Sin mengira bahwa kakek itu memandang rendah kepadanya, maka dia pun lantas mainkan Ilmu Silat San-in Kun-hoat yang hebat, yaitu ilmu pusaka dari Cin-ling-pai.

Menghadapi desakan serangan ilmu silat tinggi ini, apa lagi kalau pada setiap pukulannya mengandung tenaga Thian-te Sin-ciang, kakek itu mengeluarkan seruan kagum dan kini dia pun bergerak aneh, tubuhnya kadang-kadang berputar untuk mengelak dan lagi-lagi tangan kirinya yang dapat terulur panjang itu secara lemas membalas dengan serangan yang tak terduga-duga.

“Ha-ha-ha... Inikah San-in Kun-hoat? Bagus sekali!”

Thian Sin merasa penasaran. Ilmu silatnya telah dapat dikenal orang, maka dia pun lalu menggantinya dengan gerakan dari ilmu silat yang baru saja dipalajarinya dari Kakek Yap Kun Liong, yaitu Ilmu Silat Pat-hong Sin-kun. Pukulan-pukulannya seperti angin cepatnya dan tubuhnya berputaran, menyerang lawan dari delapan penjuru. Pat-hong Sin-kun (Ilmu Silat Sakti Delapan Penjuru Angin) ini memang cepatnya bukan kepalang.

“Ehh, ehh, apa ini? Seperti gerakan Pat-kwa…” Kakek itu menebak-nebak heran.

Akan tetapi harus diakui bahwa dia lihai sekali karena semua serangan Thian Sin mampu dielakkannya dengan tangkisan atau dengan putaran-putaran tubuh secara aneh, bahkan setiap pukulan selalu dibalasnya dengan kontan. Akan tetapi, Thian Sin juga selalu dapat menangkis semua pukulan itu dan dia tetap waspada karena sebegitu jauhnya, kakek itu belum pernah menggunakan huncwenya untuk menyerang. Padahal, seperti yang pernah dia dengar, huncwe itulah yang merupakan senjata maut kakek itu, maka kini perhatian Thian Sin selalu ditujukan ke arah huncwe itu.

Dan dugaannya memang tepat sekali. Ketika kakek itu agak repot menghadapi Pat-hong Sin-kun, tiba-tiba saja setelah mengelak, huncwenya menyambar. Thian Sin cepat-cepat mengelak, akan tetapi pada saat huncwe itu lewat di atas kepalanya, tiba-tiba saja ada api menyambar ke arah mukanya. Api itu keluar dari tempat tembakau dan merupakan bunga api yang menyambar cepat sekali ke arah matanya!

Tentu saja Thian Sin menjadi terkejut bukan main dan ketika dengan kecepatan kilat dia melempar tubuh ke belakang, tangan kiri kakek itu yang mulur panjang sudah menampar punggungnya! Tamparan yang dilakukan ketika dia mengelak dari sambaran api sehingga tubuh yang sedang dilempar ke belakang itu tidak mungkin mengelak lagi, bahkan untuk menangkis pun tidak sempat lagi, maka pemuda itu hanya dapat mengerahkan tenaga Thian-te Sin-ciang melindungi punggungnya.

“Plakkk!”

Thian Sin melompat untuk mengurangi tenaga tamparan itu, dan kakek itu pun berseru heran ketika tamparannya itu merasa betapa kulit punggung itu lemas dan lunak seperti karet. Tahulah dia bahwa punggung itu terlindung oleh tenaga sinkang yang amat kuatnya dan sama sekali tidak terluka oleh pukulannya tadi. Dia menjadi semakin kagum, tahulah dia bahwa Ilmu Thian-te Sin-ciang yang disohorkan oleh dunia kang-ouw itu ternyata tidak kosong belaka.

Thian Sin merasa penasaran sekali. Memang benar dia belum kalah, akan tetapi karena dia sudah terkena satu kali tamparan, maka berarti dia yang terdesak. Kini dia maju dan kembali menyerang dengan Ilmu Silat Thai-kek Sin-kun! Begitu dia mulai memainkan ilmu silat yang amat indah dan juga amat kuat ini, kakek itu pun sudah berseru kagum.

“Wah, inilah Thai-kek Sin-kun! Bukan main!” Dan dia pun mencoba untuk membobolkan benteng pertahanan ilmu silat itu dengan serangan-serangan huncwenya, sambil mencoba untuk mengacaukan garis pertahanan lawan dengan lengan kirinya yang dapat mulur itu.

Akan tetapi, pertahanan Thian Sin amat kuatnya sehingga ke mana pun juga huncwe dan tangan kiri itu menyerang, dia selalu sudah dapat menyambutnya dengan tangkisan kuat atau pun dengan elakan yang indah. Sepasang lengannya berani menangkis huncwe itu karena dilindungi tenaga Thian-te Sin-ciang.

Beberapa kali kakek itu memuji. Biar pun dia sudah mengerahkan tenaganya, akan tetapi belum juga dia mampu merobohkan lawan. Memang, dia tidak sepenuhnya memainkan huncwenya, melainkan huncwenya itu lebih banyak hanya digunakan untuk menggertak saja dan dia menyerang dengan tangan kirinya. Hal ini adalah karena dia merasa malu kalau harus merobohkan lawan dengan huncwenya, padahal pemuda itu juga bertangan kosong.

Memang hal ini juga yang dimaklumi oleh Thian Sin. Setiap kali kakek ini menggunakan huncwenya, dia memandang silau akibat hamburan api yang muncrat ke sana-sini, dan gerakan huncwe itu memang aneh bukan main, bahkan apa bila kakek itu mau, agaknya pertahanan Thai-kek Sin-kun juga tak mampu mempertahankan dirinya. Akan tetapi kakek itu selalu menahan huncwenya dan melanjutkan dengan serangan tangan kiri yang cukup aneh dan ampuh itu.

Sesudah lewat lima puluh jurus, kakek itu kini menggerakkan huncwenya dengan aneh. Huncwe itu diputar-putar, menjadi gulungan sinar api yang menyilaukan mata. Terpaksa Thian Sin mencurahkan perhatiannya untuk menghadapi huncwe ini, namun kembali dia kecurian!

Lengan kiri kakek itu memanjang dan menghantamnya dari belakang, kini bukan ditujukan ke punggung, melainkan ke tengkuknya! Tentu saja hal ini sangat berbahaya, maka pada saat terakhir, Thian Sin sudah mengerahkan Thi-khi I-beng.

“Plakkk!”

“Aughhhh…!” Kakek itu mengeluarkan teriakan kaget, kemudian disambungnya, “Wah, ini Thi-khi I-beng, ya?” Dan huncwenya menyambar, lalu ada rasa panas pada tengkuk Thian Sin sehingga sesaat tenaga Thi-khi I-beng membuyar dan kakek itu pun sudah berhasil menarik kembali tangan kirinya! Ternyata kakek itu mampu memunahkan Thi-khi I-beng dengan bantuan api huncwenya!

“Ha-ha, hebat sekali kau, Ceng Thian Sin! Semuda ini sudah banyak ilmunya yang hebat-hebat! Tapi jangan harap kau akan dapat menangkan aku, orang muda. Lekas keluarkan pedangmu di balik jubah itu, dan mari hadapi huncweku dengan senjata!”

Kembali Thian Sin terkejut. Bukan saja kakek ini dapat memunahkan Thi-khi I-beng, akan tetapi juga tahu akan pedangnya dan menantangnya menggunakan pedang. Apa artinya dia menggunakan pedang kalau Thian-te Sin-ciang, Thi-khi I-beng dan Thai-kek Sin-kun saja tidak sanggup mengalahkan kakek ini? Dan kakek itu agaknya belum mengeluarkan ilmu huncwenya yang sungguh-sungguh!

Mengertilah Thian Sin bahwa dia memang masih kalah oleh kakek ini, maka dia menekan rasa penasaran di dalam hatinya lantas dia berkata dengan suara ramah dan merendah, “Saya datang bukan dengan maksud hendak memusuhi locianpwe, mengapa saya harus mempergunakan pedang?”

Kakek itu tertawa bergelak, “Ha-ha-ha, kata-katamu memang enak didengar. Akan tetapi aku sudah mendengar betapa ganasnya engkau menggunakan pedangmu ketika engkau mengamuk di kota Lok-yang dan Su-couw. Nah, orang muda, engkau berpedang dan aku memegang huncwe, kita lihat siapa lebih unggul!”

“Ayah, agaknya dia takut kalau-kalau pedangnya akan melukai dirinya sendiri, ha-ha-ha!” Siangkoan Wi Hong tertawa, sengaja membakar hati Thian Sin.

Thian Sin sudah siap dengan siasatnya dan menekan semua kemarahan serta kebencian, akan tetapi ternyata dia masih belum kuat. Maka mendengar ejekan ini, tangan kanannya bergerak dan nampaklah sinar perak ketika Gin-hwa-kiam tercabut. Melihat pedang yang tipis dan pendek ini, Pak-san-kui tertawa.

“Ha-ha-ha-ha, ternyata pedang seorang wanita! Ehh, Ceng Thian Sin, apakah pedang itu pedang tanda mata dari seorang kekasihmu?”

“Harap locianpwe jangan menghina!” Thian Sin berteriak, menahan diri agar tidak memaki kakek itu. “Ini adalah pedang pemberian nenekku! Nah, sambutlah!”

Dia pun segera menggerakkan pedang itu dan karena dia tidak mempelajari ilmu pedang khusus, maka dia pun lalu memainkan Ilmu Silat Thai-kek Sin-kun yang kalau dimainkan dengan pedang bisa menjadi Thai-kek Sin-kiam. Gerakannya cukup hebat sehingga begitu pedang diputar nampak gulungan sinar perak.

“Hemm!” Kakek itu mendengus dan nampak kecewa, lalu menggerakkan huncwenya dan begitu huncwe bergerak, maka terkejutlah Thian Sin.

Sudah diduganya tadi bahwa memang senjata huncwe ini adalah keistimewaan kakek itu, akan tetapi tidak pernah disangkanya huncwe itu demikian hebat. Baru belasan gebrakan saja dia sudah tidak mampu balas menyerang. Gerakan huncwe itu merupakan gulungan api! Dan selain cepat, juga amat aneh sehingga sukar diikuti.

Ia mempertahankan diri dengan terus memutar pedang melindungi tubuhnya, akan tetapi tiba-tiba saja, setelah lewat dua puluh jurus, terdengar suara keras sekali dan pedangnya terpental, hampir terlepas dari pegangan tangannya, kemudian huncwe itu tahu-tahu telah datang dekat sekali dengan mukanya, seperti hendak membakarnya, maka dia melempar tubuh ke belakang, berjungkir balik dan baru dapat menghindarkan diri. Kakek itu tertawa.

“Orang muda she Ceng, jangan kau terlampau pelit! Yang sejak tadi kau keluarkan adalah ilmu-ilmu dari Cin-ling-pai. Kenapa engkau tak mengeluarkan ilmu peninggalan dari ayah kandungmu? Jangan dikira aku tidak tahu. Aku sudah mendengar bahwa Ceng Han Houw pernah merajai dunia persilatan karena dia memiliki ilmu silat jungkir balik yang amat lihai. Hayo, kau keluarkanlah ilmu itu dan kita bertanding sungguh-sungguh!”

Thian Sin kaget bukan kepalang. Tak disangkanya bahwa kakek ini tahu pula akan hal itu. “Sayang, aku baru saja pergi meninggalkan Lembah Naga dan belum sempat mempelajari ilmu-ilmu itu. Tunggulah setahun lagi, bila mana aku sudah melatih ilmu-ilmu itu, aku akan mencarimu dan kita bertanding lagi, locianpwe.”

“Ha-ha-ha, siapa mau kau bohongi? Kalau engkau kudesak, tentu engkau terpaksa akan mengeluarkan ilmu simpanan itu untuk kulihat!” Sesudah berkata begitu, kembali huncwe maut itu bergerak dengan kecepatan kilat.

Thian Sin lalu memutar pedang melindungi dirinya dan berusaha melawan sekuat tenaga. Akan tetapi dia hanya mampu bertahan sampai tiga puluh jurus saja dan tiba-tiba kembali terdengar suara keras. Sekarang huncwe atau gulungan sinar api itu berputar-putar hingga pedangnya seperti ‘terlibat’ dan ikut berputar, kemudian, tiba-tiba saja pedangnya terlepas dan huncwe itu menyambar.

Dia mengelak untuk disambut tangan kiri dan dia cepat mengerahkan Thi-khi I-beng, akan tetapi punggungnya terasa panas dan Thi-khi I-beng itu membuyar, lalu dia menggunakan tenaga Thian-te Sin-ciang untuk melindungi punggungnya yang dicengkeram oleh tangan kiri lawan.

Akan tetapi, jari-jari tangan itu meremas dan memutar sedemikian rupa sehingga semua ototnya terkena remasan, kemudian tiba-tiba saja Thian Sin roboh dengan lemas. Kakek itu tertawa dan dengan marah Thian Sin berusaha untuk bangun, akan tetapi setiap kali dia menggerakkan tubuhnya, dia menahan rasa nyeri yang amat sangat di punggungnya dan roboh lagi.

Punggungnya itu seakan-akan patah tulangnya. Dengan punggung seperti itu, maka tentu saja dia tak mampu lagi menggerakkan tangan kakinya karena setiap gerakan kaki tangan sudah tentu mengandalkan kekuatan dari punggung.

“Ayah, kenapa orang ini tidak dibunuh saja?” Tiba-tiba Siangkoan Wi Hong berkata sambil meloncat maju dengan yang-kim yang berbahaya itu di tangannya.

Thian Sin maklum bahwa dengan sekali pukul saja, dia sudah tidak berdaya menghindar dan nyawanya akan melayang. Akan tetapi dia kini rebah terlentang dengan sinar mata terbelalak penuh keberanian, seolah-olah dengan sinar matanya itu dia menantang maut!

“Ha-ha-ha-ha, jangan dibunuh. Aku telah berjanji bahwa dia masuk ke sini dalam keadaan hidup, maka keluarnya dari sini pun dalam keadaan hidup. Akan tetapi hidup yang bagai mana? Ha-ha-ha, ingin aku melihat bagaimana wajah Pangeran Ceng Han Houw, jagoan nomor satu itu bila dapat melihat puteranya yang tampan gagah berubah menjadi seorang manusia tapa daksa yang tidak berguna sama sekali.”

Thian Sin merasa ngeri juga membayangkan ancaman ini. Tentu kakek itu akan membuat dirinya sebagai seorang manusia dengan cacad yang membuat dia selama hidupnya tidak berguna. Itu lebih hebat dari pada kalau dia dibunuh! Maka dia pun cepat menggunakan akal.

“Pak-san-kui, kalau ayahku masih hidup, atau kalau aku sudah mempelajari ilmu-ilmu dari ayahku, aku yakin engkau tidak akan berani bersikap seperti ini!”

Pak-san-kui memandang padanya kemudian mengangguk-angguk. “Mungkin sekali, akan tetapi sayang, ayahmu telah tidak ada lagi dan engkau ternyata hanya merupakan murid Cin-ling-pai yang amat baik, sama sekali tidak mewarisi kepandaian ayahmu. Dan engkau sudah membuat Phoa-taijin menjadi manusia yang hidup tidak mati pun tidak, maka aku pun hendak membikin engkau seperti dia.”

“Orang macam Phoa-taijin itu tidak dibunuh pun masih untung! Apa gunanya orang seperti dia yang demikian ceroboh? Menggunakan perampok-perampok tolol untuk menjalankan siasat, kemudian membasmi keluarga Ciu. Tahukah locianpwe siapa Ciu Khai Sun? Dia tokoh besar Siauw-lim-pai dan apa artinya itu? Artinya bahwa gerakan sekutu locianpwe itu akan mendapat tentangan yang besar dan kuat. Jika Phoa-taijin cerdik, tentu dia akan mempergunakan orang-orang yang lebih lihai agar usaha merampok itu berhasil baik, dan juga tidak nanti membunuh orang Siauw-lim-pai! Locianpwe, aku adalah putera Pangeran Ceng Han Houw, karena itu aku telahmembunuh sebanyak mungkin pasukan pemerintah. Apa kenyataan ini masih belum cukup membuka mata bahwa aku adalah seorang sekutu locianpwe yang cukup baik, bahkan jauh lebih baik dari pada orang she Phoa yang tolol itu?”

Kakek itu mendengarkan dengan alis berkerut, akan tetapi wajahnya mulai berubah dan sinar matanya berseri. “Dan andai kata benar omonganmu, dan aku menjadikan engkau sekutu, lalu apa gunanya engkau bagiku?”

“Locianpwe, mendiang ayahku itu adalah seorang jagoan nomor satu di dunia. Locianpwe tentu sudah mendengar pula akan ilmu-ilmu yang dimilikinya, ilmu-ilmu hebat dan mukjijat Hok-liong Sin-ciang (Tangan Sakti Penakluk Naga), dan ilmu dengan berjungkir balik yang disebut Hok-te Sin-kun (Silat Sakti Balikkan Bumi).”

Wajah kakek itu makin berseri dan dia pun mengangguk. “Hanya dongeng saja! Buktinya, putera tunggalnya pun tidak mampu memainkan kedua ilmu itu!”

“Sudah kukatakan bahwa karena selama ini aku tinggal di Lembah Naga dan mempelajari ilmu-ilmu Cin-ling-pai, maka aku tak sempat mempelajarinya. Akan tetapi kalau locianpwe berminat, bebaskanlah dulu aku kemudian kita dapat bicara.”

“Ayah, hati-hati terhadap anak ini, dia pandai bicara pula,” kata Siangkoan Wi Hong.

Akan tetapi kakek yang haus akan kepandaian silat yang hebat itu tak peduli, dan dia pun sudah menggerakkan tangan, menotok ke beberapa bagian punggung Thian Sin. Pemuda ini dapat bergerak kembali lalu bangkit berdiri dan menjura.

“Locianpwe telah mengambil keputusan yang amat tepat dan akan menguntungkan kedua fihak.”

“Ceng Thian Sin, hal ini jelas keuntungan bagi fihakmu, akan tetapi aku tidak melihat apa keuntungannya bagi ayah!” kata Siangkoan Wi Hong.

“Siangkoan-toako, engkau tahu bahwa aku bukan seorang laki-laki yang suka berbohong. Aku tidak takut mati, tadi aku hanya menawarkan kerja sama yang baik dan akan dapat menguntungkan bagi kedua fihak. Aku mempunyai kitab-kitab ayahku itu dan kutawarkan kepada Siangkoan locianpwe.”

“Di mana kitab-kitab itu?” tanya Pak-san-kui dengan girang.

“Nanti dulu, locianpwe. Locianpwe tentu akan dapat mempelajari ilmu-ilmu ayahku itu, hal ini kutanggung dengan taruhan nyawa. Akan tetapi apakah imbalannya? Seorang gagah bukan memberi ilmu dengan cuma-cuma, namun tidak menerima ilmu secara cuma-cuma pula.”

“Hemm, apa yang kau kehendaki? Aku sudah membebaskanmu!”

“Ah, itu bukan imbalan namanya. Di antara kita tidak ada permusuhan, bahkan mengingat akan keadaanku yang tentu dianggap pemberontak oleh pemerintah, kita ini mempunyai persamaan, bukan? Biar pun locianpwe bekerja di dalam selimut dan aku di luar selimut.”

“Ha-ha-ha-ha, engkau memang cerdik. Nah, apa yang kau minta sebagai penukar semua ilmu-ilmu peninggalan Pangeran Ceng Han Houw?”

“Locianpwe, di antara ilmu-ilmu locianpwe, yang amat menarik dan mengagumkan hatiku adalah ilmu huncwe dari locianpwe tadi. Maka, aku mau menukar kedua ilmu peninggalan ayahku dengan ilmu huncwe dari locianpwe.”

“Ha-ha-ha, engkau memang cerdik bukan main! Selama hidupku belum pernah ada orang yang mampu menandingi ilmu huncweku ini, dan sekarang engkau ingin mempelajarinya. Ha-ha-ha, baiklah, kita tukar dua ilmu itu!”

“Ayah…!” Siangkoan Wi Hong berseru kaget.

Sebagai putera datuk itu, dia sendiri belum diberi pelajaran ilmu itu yang menurut ayahnya tidaklah mudah dan di samping harus memiliki bakat yang amat baik, juga membutuhkan waktu yang amat lama sekali dan selain itu harus menjadi ahli menghisap asap tembakau pula! Padahal Siangkoan Wi Hong tidak suka menghisap pipa tembakau, oleh karena itu selama ini dia belum pernah mempelajari ilmu simpanan ayahnya itu.

“Aku sudah berjanji!” Ayahnya memotong. “Dan kita masing-masing mempelajari ilmu-ilmu itu selama enam bulan. Setujukah engkau, Ceng Thian Sin?”

“Baik, locianpwe. Enam bulan sudah cukup bagiku!” Pemuda itu kemudian menanggalkan jubahnya, tidak melihat betapa Siangkoan Wi Hong tersenyum-senyum karena pemuda ini sudah dapat menangkap siasat ayahnya.

Menurut ayahnya, untuk dapat mempelajari ilmu huncwe itu secara sempurna, orang yang berbakat baik sekali pun membutuhkan waktu paling sedikit tiga tahun! Dan kini ayahnya berjanji akan mengajarkan ilmu itu selama setengah tahun saja. Mana mungkin Thian Sin akan dapat menguasainya dalam waktu setengah tahun?

Sebaliknya, ayahnya adalah seorang yang bakatnya luar biasa sekali dalam hal ilmu silat. Ilmu silat apa pun, sesudah dilatihnya dua tiga kali saja tentu sudah dapat ditangkap inti sarinya dan dapat dikuasainya! Sekali ini Thian Sin kena batunya dan berjumpa dengan seorang datuk yang selain lihai juga amat cerdik.

Akan tetapi, ayah dan anak ini sama sekali tidak menduga bahwa Thian Sin mempunyai kecerdikan yang akan mengejutkan mereka. Walau pun selama ini, sejak kecilnya, Thian Sin dididik oleh orang-orang yang mengutamakan kebajikan dan menjauhi kepalsuan dan kejahatan, akan tetapi pada dasarnya dia memiliki kecerdikan yang luar biasa dan jika dia menghendaki, maka dia mampu menciptakan siasat dan muslihat yang amat cerdik.

Dia menerima janji enam bulan itu dengan hati gembira, karena dia merasa yakin bahwa kitab-kitab peninggalan ayahnya itu tidak akan dapat dipelajari oleh siapa pun kecuali oleh dia yang tahu akan kuncinya. Bahkan, makin lama dipelajari orang begitu saja, orang itu akan tersesat semakin jauh.

Sedangkan bagi dia, sama sekali dia tak ingin belajar mainkan huncwe itu, melainkan dia ingin mengenal inti gerakannya, mengenal kekuatannya dan juga bagian-bagiannya yang lemah sehingga dia akan lebih mampu menghadapinya kelak!

Thian Sin kini merobek pinggiran jubahnya, dan ternyata dua buah kitab tipis digulungnya lantas disembunyikannya di dalam atau di balik jahitan jubah itu, di antara dua kain jubah yang dirangkapkan.

“Nah, inilah kitab-kitab peninggalan ayahku, locianpwe. Mulai hari ini juga locianpwe boleh mempelajarinya bersama aku, sebab aku sendiri juga belum sempat mempelajarinya, dan di samping itu harap locianpwe mulai memberi petunjuk kepadaku mengenai ilmu huncwe itu.”

Sambil membuka-buka dua buah kitab penuh tulisan tangan disertai lukisan tangan dari mendiang Pangeran Ceng Han Houw yang cukup jelas itu, wajah Pak-san-kui berseri-seri kemudian mengangguk-angguk. “Tentu saja, anak yang baik, aku akan mengajarkan ilmu huncwe kepadamu.”

Dia merasa gembira sekali karena sedikit keraguannya bahwa kitab itu palsu lenyap oleh pernyataan Thian Sin yang hendak mempelajarinya juga bersamanya. Agaknya pemuda yang gagah perkasa ini teramat jujur, suatu sifat yang amat buruk dan lemah dari kaum pendekar, jauh berbeda dengan mereka dari golongan hitam yang selalu mengutamakan kecerdikan!

Demikianlah, mulai hari itu, Thian Sin diterima di dalam gedung besar indah itu sebagai seorang tamu. Bahkan Siangkoan Wi Hong yang tadinya menaruh curiga, setelah melihat betapa penukaran ilmu itu sungguh sama sekali tak merugikan ayahnya bahkan memberi keuntungan, sekarang kembali tertarik lagi kepada Thian Sin dan menganggap pemuda itu sebagai seorang sahabat baik.

Malah dia sering mengajak Thian Sin berlatih untuk memperdalam ilmu silatnya, karena dia tahu bahwa pemuda itu memang pandai bukan main. Ayahnya sendiri dengan terus terang mengatakan bahwa andai kata ayahnya tidak memiliki ilmu huncwe yang lihai itu, kiranya akan sukar untuk mengalahkan pemuda ini!

Setiap hari Pak-san-kui dan Thian Sin mempelajari ilmu-ilmu dari kitab peninggalan Ceng Han Houw. Mula-mula Ilmu Hok-liong Sin-ciang, ilmu ini adalah ilmu silat yang gerakannya aneh sekali, dan dengan lahapnya, Pak-san-kui menghafalkan jurus-jurus ilmu silat ini yang hanya terdiri dari delapan belas jurus saja, akan tetapi di dalam delapan belas jurus ini terkandung bermacam gerakan yang amat lihai kalau dipakai menyerang.

Dalam ilmu Hok-liong Sin-ciang ini, yang dirahasiakan oleh Pangeran Ceng Han Houw dan hanya diketahui kuncinya oleh Thian Sin adalah bagian yang melindungi tubuh pada waktu menyerang. Memang serangan itu sama kuat dan lihainya, hanya bedanya, ilmu yang asli memiliki bagian yang melindungi tubuh sendiri di waktu menyerang, dan karena bagian bertahan ini dirahasiakan, maka yang dipelajari oleh Pak-san-kui hanyalah bagian untuk menyerang saja dan tanpa disadarinya, tentu saja selagi melakukan serangan ini maka akan ada bagian tubuh yang terbuka dan tidak terlindung.

Saking girangnya melihat betapa hebatnya jurus serangan itu, Pak-san-kui tak menyadari bahwa dalam serangan itu mengandung kelemahan yang hebat pula! Hanya dalam waktu satu bulan saja dia sudah mampu menghafal delapan belas jurus itu dan merasa sudah sempurna, tinggal melatihnya saja.

Juga Thian Sin memiliki bakat yang sama besarnya dengan Pak-san-kui, bahkan dia tidak kalah cerdiknya. Secara diam-diam dia menggunakan kunci latihan itu sehingga dia dapat melakukan gerakan yang lebih sempurna, karena mencakup segi perlindungan diri pula.

Perbedaannya terletak pada letak kaki atau tangan di waktu menyerang. Sebagai contoh, pada jurus ke empat kaki kanan menerjang dari samping dengan menyilang. Pada waktu menendang ini, menurut kitab itu lengan kiri harus diangkat sebagai keseimbangan tubuh, padahal menurut kuncinya, yang diangkat adalah lengan kanan sehingga lengan kiri dapat diturunkan dan menjaga selangkangan yang terbuka dan pada detik tendangan dilakukan tentu saja terbuka dan tidak terlindung.

Akan tetapi pada waktu dia melakukan latihan di depan Pak-san-kui, tentu saja Thian Sin tidak memperlihatkan hal ini. Dan kalau Pak-san-kui kelihatan sangat girang karena sudah menguasai semua jurus, Thian Sin sengaja memperlihatkan bahwa dia belum menguasai sepenuhnya dan di sinilah letak kecerdikan pemuda itu!

Pada bulan ke dua, karena dia sendiri merasa sudah bisa menguasai Hok-liong Sin-ciang, Pak-san-kui lalu mengajak Thian Sin untuk mulai dengan pelajaran dari kitab ke dua, yaitu ilmu Hok-te Sin-kun! Ilmu ini jauh lebih rumit karena mengandung ilmu bersemedhi yang aneh, yaitu dengan kepala di bawah dan kedua kaki di atas! Thian Sin menurut saja, biar pun dia sendiri belum dapat melatih ilmu Hok-liong Sin-ciang dengan baik.

Maka, pada bulan ke dua, mulailah mereka berdua melatih diri dengan siulian menurut kitab pelajaran Hok-te Sin-kun, yaitu jungkir balik. Dan sementara itu, hampir setiap hari Pak-san-kui mengajarkan ilmu silat huncwe itu, karena memang maksudnya bukan ingin mempelajari bagaimana untuk dapat memainkan ilmu silat itu, melainkan hendak mencari kelemahan-kelemahannya.

Kakek itu adalah seorang datuk, tentu saja dia pun tidak mau menyembunyikan ilmunya, bahkan dia bermain silat huncwe secepatnya sehingga akan sulitlah bagi Thian Sin untuk mempelajarinya. Dan pemuda ini memang dapat melihat alangkah hebat dan tangguhnya ilmu silat ini, di samping gerakan-gerakannya yang aneh. Akan tetapi dia pun mulai dapat melihat bahwa pada dasarnya, ilmu silat itu adalah ilmu silat pedang yang hebat.

Huncwe yang panjangnya sampai tiga kaki itu digerakkan seperti pedang saja, jadi pada hakekatnya tidak berbeda dengan ilmu silat yang-kim yang dimainkan oleh Siangkoan Wi Hong. Ilmu silat yang-kim itu pada dasarnya juga ilmu pedang yang disesuaikan dengan yang-kim.

Ilmu huncwe ini pun merupakan ilmu pedang yang disesuaikan dengan huncwe sehingga tusukan pedang menjadi totokan huncwe. Hanya hebatnya, masih ditambah lagi dengan penggunaan panasnya huncwe serta api yang keluar dari mulut huncwe, juga asap yang dapat dipergunakan untuk menyerang lawan.

Kunci-kunci yang terdapat dalam ilmu Hok-te Sin-kun ini lebih hebat lagi. Memang kalau dilihat begitu saja, cara Thian Sin bersemedhi tidak ada bedanya dengan yang dilakukan oleh Pak-san-kui dalam melakukan latihan menurut kitab itu. Akan tetapi sesungguhnya terdapat perbedaan yang amat besar.

Berjungkir-balik dengan kepala di bawah dan kedua kaki di atas, dengan punggung tegak lurus, merupakan kedudukan tubuh yang baik sekali untuk membantu gerakan perjalanan darah ke dalam otak dan juga untuk ‘menurunkan’ hawa murni dari bawah pusar ke otak melalui punggung. Akan tetapi, perjalanan darah ini harus berjalan dengan wajar, dibantu dengan pernapasan yang panjang dan tanpa paksaan sama sekali, dengan pikiran yang kosong dan membiarkan hawa yang panas dari pusar itu perlahan-lahan menjalar turun sampai ke ubun-ubun kepala.

Akan tetapi, apa bila demikian adanya pelajaran yang sesungguhnya, yang kuncinya telah dipegang oleh Thian Sin, kalau menurut kitab yang menyesatkan itu, si pelatih diharuskan menekan tenaga dari tiantan itu turun dan menembus jalan darah secara paksa.

Mula-mula Pak-san-kui memang merasa girang sekali karena setelah berlatih seperti itu, dia merasa betapa hawa sakti itu dapat digerakkannya jauh lebih mudah dari pada kalau dia bersemedhi sambil duduk bersila. Akan tetapi, setelah dia berlatih selama seminggu, dia merasa kepalanya agak pening dan sesudah berlatih, maka pandang matanya selalu berkunang-kunang. Sedangkan pada Thian Sin, tidak nampak tanda apa-apa. Akan tetapi dia menghibur diri dan menganggap bahwa ini adalah tanda bahwa latihannya berhasil!

Lalu dia pun mulai berlatih dengan ilmu silat aneh Hok-te Sin-kun itu, yaitu bersilat dengan kepala di bawah, menggunakan kedua kaki sebagai penyerang utama dan kedua tangan sebagai penyerang pembantu. Dan karena memang kakek ini sudah memiliki dasar ilmu silat yang tinggi, maka gerakan-gerakan itu tidaklah sukar baginya.

Sebaliknya, dengan diam-diam Thian Sin juga mempelajari ilmu silat ini menurut catatan yang sebetulnya, yaitu menurut petunjuk dalam kitab yang telah diubahnya menurut kunci yang sudah dipelajarinya sejak kecil sehingga dia mulai merasakan hasilnya. Tubuhnya menjadi semakin ringan, tenaga sinkang di tubuhnya terasa mengalir dengan cepat dan sangat kuat di seluruh tubuhnya, akan tetapi hal ini tidak dia nyatakan sehingga kakek itu sendiri pun tidak mengetahuinya.

Sesudah lewat empat bulan, hampir lima bulan. Thian Sin sudah merasa yakin bahwa dia telah mempelajari dengan teliti dan melihat kelemahan-kelemahan pada ilmu silat huncwe dari Pak-san-kui. Sekarang dia menganggap bahwa sudah tiba waktunya bagi dia untuk memperlihatkan diri dengan sesungguhnya dan mengalahkan kakek itu! Dia sudah tinggal cukup lama di situ dan sudah mendapat tambahan ilmu dengan mempelajari ilmu huncwe yang walau pun tak dapat dikuasainya sepenuhnya akan tetapi telah dipelajarinya gerak-geraknya dan kelemahan-kelemahannya itu.

Di samping itu, dia pun telah mempelajari dua ilmu peninggalan ayahnya, biar pun belum sempurna benar, akan tetapi jelas jauh lebih baik dibandingkan Pak-san-kui sendiri yang memperoleh ilmu-ilmu itu dengan cara yang terbalik bahkan tersesat!

Dan dia akan memperlihatkan kemenangan atau keunggulannya itu kepada Siangkoan Wi Hong dan Pak-thian Sam-liong! Maka dia memilih saat ketika putera beserta murid-murid kepala Pak-san-kui itu pada suatu sore menonton latihan-latihan mereka dan memang dia sudah mempersiapkan segala-galanya.

Pada saat itu Pak-san-kui sedang bercakap-cakap dengan murid-murid kepalanya setelah menerima laporan tentang segala tugas yang sudah dilakukan oleh murid kepala ini yang berhubungan dengan pekerjaan mereka. Kemudian Pak-san-kui memandang kepadanya dan berkata,

“Thian Sin, mari kita berlatih. Diam-diam telah hampir lima bulan engkau di sini dan mari kau perilhatkan apa yang sudah kau peroleh selama ini!” Kakek itu tertawa dan melirik ke arah puteranya.

Diam-diam Thian Sin tergetar. Dalam lirikan itu dia seperti melihat sesuatu dan tentu ada apa-apanya di balik ajakan berlatih ini! Apakah di dalam hati kakek itu juga mengandung keinginan yang sama dengan keinginannya sendiri, yaitu hendak menjatuhkannya dalam latihan itu?

“Baik, locianpwe!” katanya dan dia mengangkat tempat air minumnya, kemudian minum beberapa teguk air jernih itu, baru dia meloncat ke tengah ruangan lian-bu-thia itu.

Pak-thian Sam-liong dan Siangkoan Wi Hong lalu mengatur tempat duduk, menyingkirkan meja di pinggir dan mereka sendiri lalu duduk menonton karena mereka pun ingin sekali mellhat apa yang selama ini dilatih oleh pemuda itu dan Pak-san-kui.

“Mari kita lebih dahulu berlatih ilmu Hok-liong Sin-ciang!” kata kakek itu dengan gembira sambil menyelipkan huncwenya di ikat pinggangnya.

Meski pun tembakau di huncwenya masih belum padam, akan tetapi karena tidak dihisap maka asapnya hanya tersisa sedikit saja. Dia telah siap dengan kuda-kuda dari Ilmu Silat Hok-liong Sin-ciang menurut petunjuk di dalam kitab, wajahnya gembira sekali karena dia yakin bahwa dalam ilmu silat baru ini dia tentu mampu mengalahkan Thian Sin yang dia lihat gerakannya belum sempurna benar, masih kaku.

Ia pun tahu bahwa perhatian pemuda itu terhadap Hok-liong Sin-ciang harus dibagi untuk mempelajari ilmu huncwe namun belum ada sepersepuluhnya dipelajari oleh pemuda itu, bahkan boleh dibilang selama ini pemuda itu belum mempelajari apa-apa kecuali hanya menonton saja dia bermain silat dengan huncwenya. Dan dia tidak dapat dipersalahkan, tidak dapat dikatakan licik karena dia telah mainkan semua jurus simpanannya yang ada dengan huncwenya, tentu saja terlalu cepat sehingga tak mungkin dapat ditangkap semua oleh pemuda itu!

Thian Sin hanya mengangguk dan dia pun cepat menyerang dengan jurus-jurus Hok-liong Sin-ciang yang sudah dilatihnya bersama dengan kakek itu. Pak-san-kui mengelak lantas membalas serangan itu dengan gerakan yang sama anehnya, bahkan dari dua tangannya keluar hawa pukulan yang mengeluarkan suara bersuitan saking kerasnya. Namun, Thian Sin dapat menangkis dan balas menyerang.

Mereka saling serang dengan jurus-jurus Hok-liong Sin-ciang itu, dan keduanya ternyata sama tangguhnya. Akan tetapi, Thian Sin segera dapat melihat lowongan-lowongan pada setiap kali kakek itu menyerang. Ia melihat betapa kedudukan kaki atau tangan kakek itu terbalik, maka saat ia melihat kakek itu menggunakan jurus ke sebelas untuk menyerang kepalanya, dengan pukulan tangan kiri dari samping dibarengi pukulan tangan kanan dari atas, padahal seharusnya dari bawah, dia segera melihat lowongan dan sambil mengelak, kakinya menyambar ke arah lambung yang ‘terbuka’.

“Plakk! Plakk!”

“Aihhhhh…!”

Pak-san-kui terhuyung ke belakang, dan biar pun dia tadi dalam gugupnya masih mampu menangkis, tetapi kedudukannya terguncang sehingga dia terhuyung ke belakang. Wajah kakek itu menjadi merah karena jelas nampak oleh siapa pun juga bahwa dalam hal ilmu baru itu dia kalah oleh pemuda ini!

“Hyaaaaattt…!” Tiba-tiba dia sudah berjungkir balik dan mainkan ilmu kedua, yaitu Hok-te Sin-kun.

Tanpa mengeluarkan sepatah kata pun Thian Sin juga menggerakkan tubuhnya berjungkir balik dan mainkan Hok-te Sin-kun. Kini terjadilah pertandingan yang membuat Siangkoan Wi Hong dan tiga orang kakek Pak-thian Sam-liong menjadi bengong dan terheran-heran bercampur kagum.

Dua orang itu telah saling serang mempergunakan sepasang kaki yang dibantu sepasang tangan. Sambaran kaki mereka itu mendatangkan angin yang sangat dahsyat! Itu adalah ilmu yang amat hebat.

Mereka semua tidak tahu betapa wajah kakek itu menjadi pucat, sedangkan wajah Thian Sin merah dan nampak berseri-seri, sepasang matanya nampak mencorong. Ini tandanya bahwa tenaga yang digunakan oleh Pak-san-kui adalah tenaga yang terbalik dan salah! Setelah saling serang dengan hebatnya, tiba-tiba kedua kaki mereka beradu.

“Desss…!”

Dan akibatnya tubuh Pak-san-kui terdorong dan tentu dia sudah jatuh terbanting kalau dia tidak cepat meloncat bangun. Mukanya pucat sekali dan dia menyeringai karena merasa betapa kepalanya berdenyut pening. Itulah akibatnya karena dia terlalu banyak memakai tenaga terbalik yang akhirnya memukul dirinya sendiri itu!

Sebagai seorang ahil silat kelas tinggi, seketika maklumlah kakek ini bahwa selama ini dia tertipu! Bila tidak tertipu, tidak mungkin dalam kedua ilmu itu dia kalah oleh Thian Sin! Pula, pertemuan kaki tadi memberi tahu padanya bahwa dia sudah salah menggunakan tenaga, padahal semua itu menurut petunjuk kitab. Tahulah dia bahwa dia sudah tertipu, maka dengan marah dia lantas berkata,

“Thian Sin, sekarang ini mari kita lihat kemajuanmu mempelajari ilmu huncwe!” Sesudah berkata demikian, dia sudah maju menyerang dengan huncwenya!


Tag: Cerita Silat Online, Cersil, Kho Ping Hoo, Pedang Kayu Harum

Thanks for reading Pendekar Sadis Jilid 17.

Back To Top