Cersil Online Karya Kho Ping Hoo

Pendekar Sadis Jilid 19

DUA orang muda itu bagaikan lupa akan segala, hanya menuruti gairah nafsu birahi dan mabuk dengan permainan cinta mereka. Mereka itu tak ada ubahnya sepasang pengantin baru yang tahunya hanya makan minum serta bermain cinta. Cian Ling selalu melayani kekasihnya dengan mencarikan buah-buahan, memanggang daging kelinci dan kambing hutan, dan hubungan antara mereka menjadi semakin mesra saja.

Dan pada keesokan harinya, ketika matahari meneroboskan cahaya melalui celah-celah daun pohon dan menimpa tubuh mereka, menggugah mereka dari tidur nyenyak karena kelelahan, mereka terbangun dengan hati gembira dan dengan sinar mata saling pandang penuh kemesraan.

Thian Sin maklum bahwa kalau dia tidak hati-hati, dia bisa benar-benar jatuh cinta kepada wanita cantik yang menjadi wanita pertama yang pernah memilikinya. Akan tetapi, setelah mereka mandi di sumber air di dalam hutan dan sarapan pagi dengan daging panggang, tiba-tiba saja muncullah See-thian-ong yang memang sudah mereka duga sewaktu-waktu tentu akan muncul juga.

Kemunculan datuk kaum sesat wilayah barat ini hebat bukan main. Mula-mula terdengar suaranya, suara yang terdengar berat dan parau, akan tetapi yang datangnya entah dari mana, dan tahu-tahu terdengar suara itu seperti dekat sekali dengan mereka, memanggil nama muridnya.

“Cian Ling… di mana kau…?”

Mendengar suara ini, wajah gadis itu lantas berubah. Betapa pun juga, diam-diam dara ini memang merasa jeri sekali terhadap suhu-nya yang sakti, sebab itu secara diam-diam dia pun mengkhawatirkan keselamatan kekasihnya. Mendengar suara ini, dia pun tidak berani berayal lagi dan cepat-cepat menjawab sambil mengerahkan khikang-nya karena dia tahu bahwa suhu-nya itu masih jauh, mungkin masih berada di luar hutan.

“Teecu di sini, suhu…!”

Berkata demikian, dia memberi isyarat kepada Thian Sin untuk berhati-hati. Pemuda itu tetap duduk di atas rumput, kelihatan tenang saja walau pun jantungnya berdebar tegang dan seluruh syaraf di tubuhnya telah siap siaga menghadapi segala kemungkinan.

Tiba-tiba ada angin bertiup dari arah selatan. Thian Sin cepat memandang dengan penuh perhatian ke arah itu. Terdengar suara berkerosakan seperti ada binatang buas datang dari tempat itu lalu nampak daun-daun kering berhamburan bagaikan dilanda angin ribut. Melihat ini, Cian Ling sudah menghadap ke arah itu sambil merangkap kedua tangannya memberi hormat sambil berkata, “Suhu…!”

Cara pemberian hormat dari Cian Ling ini sederhana saja, tidak berlutut seperti kebiasaan murid terhadap gurunya. Hal ini saja sudah membuktikan bahwa hubungan antara guru dan murid ini lebih akrab dari pada guru-guru dan murid-murid lainnya.

Thian Sin memandang penuh perhatian dan dia kagum juga pada saat melihat bayangan seorang laki-laki tinggi besar datang dengan gerakan yang amat gagah dan tangkas. Apa lagi setelah laki-laki itu berdiri tak jauh dari tempat itu, dia memandang kagum.

Tak seperti Pak-san-kui yang berpakaian seperti seorang kakek hartawan, See-thian-ong ini merupakan seorang kakek yang bertubuh tinggi besar dan gagah sekali. Usianya lebih muda dibandingkan Pak-san-kui, belum ada enam puluh tahun, dan tubuhnya yang tinggi besar itu cocok dengan kulit mukanya hitam. Namun, bukan hitam buruk, melainkan hitam legam yang halus dan membuat dia nampak gagah, mengingatkan orang akan tokoh Thio Hwi, yaitu tokoh cerita Sam-kok yang gagah perkasa.

Dengan pakaian yang tidak terlalu mewah, mukanya yang hitam itu dihias sepasang mata yang lebar dan bundar, bersinar-sinar bagaikan mata harimau. Dari wajahnya dan gerak-geriknya terbayanglah kejantanan, kegagahan, kekasaran dan watak jujur yang tidak suka berpura-pura.

Rambutnya digelung ke atas, model rambut tosu dan tangan kirinya memegang sebatang tongkat. Inilah dia See-thian-ong yang amat terkenal itu, pikir Thian Sin tanpa bangun dari tempat duduknya. Pemuda ini memang sengaja bersikap tak acuh untuk membangkitkan rasa penasaran di dalam hati datuk itu.

“Apakah suhu datang karena dibakar oleh ocehan dari Ciang-suheng?” Cian Ling bertanya dan cara dara itu bertanya demikian terbuka juga menunjukkan bahwa ia memang sudah biasa bersikap biasa seperti itu terhadap gurunya.

Semenjak kemunculannya tadi, sepasang mata yang melotot itu sungguh mengingatkan Thian Sin akan mata tokoh Thio Hwi, selalu menatap kepada Thian Sin yang masih duduk di atas rumput. Menurut cerita Sam-kok, sepasang mata Thio Hwi juga selalu terbelalak dan tidak pernah atau jarang sekali dipejamkan sehingga pernah ketika tokoh Thio Hwi itu berjaga sambil tertidur dan sepasang matanya tetap terbelalak, membuat pasukan musuh ketakutan karena mengira bahwa orang gagah ini tidak tidur!

“Ha-ha-ha-ha! Siapa mau mendengar ocehan orang? Aku hanya tertarik, mendengar dari suheng-mu, bahwa putera mendiang Pangeran Ceng Han Houw datang berkunjung! Dia itukah orangnya?”

“Benar, suhu, dia adalah Ceng Thian Sin, putera mendiang Pangeran Ceng Han Houw jagoan nomor satu di dunia itu. Dia datang karena ingin berkenalan dengan suhu.”

“Ha-ha-ha, yang jelas, dia telah berkenalan denganmu! Dan aku tidak bisa menyalahkan engkau, Cian Ling. Dia memang tampan dan ganteng, mungkin seperti itulah ayahnya dahulu, si penakluk wanita itu seperti dikabarkan orang. Akan tetapi jagoan nomor satu di dunia? Ha-ha-ha, hal itu harus dibuktikan dahulu. Orang muda, mendengar engkau putera Pangeran Ceng, mari kau layani aku barang sepuluh jurus. Aku sudah mendengar akan sepak terjangmu selama ini.”

Thian Sin bangkit berdiri dan menjura. Dia dapat menilai watak kakek ini. Seorang datuk yang kasar akan tetapi jauh lebih gagah dibandingkan dengan Pak-san-kui yang memiliki sifat licik. Boleh jadi datuk ini kasar dan kejam, tidak pedulian, dan mau menang sendiri saja, akan tetapi setidaknya dia ini jujur dan tidak curang.

Tentu kakek ini sudah mendengar tentang dia, mendengar bahwa dia telah mengalahkan murid-muridnya dan juga mengalahkan putera Pak-san-kui maka kini tertarik dan hendak mengujinya. Dia harus berhati-hati. Kalau seorang datuk sakti seperti itu sudah tahu akan keunggulannya, maka tentu datuk itu tak akan berani memandang rendah sehingga akan mengeluarkan kepandaiannya.

“Locianpwe, sungguh aku merasa beruntung sekali dapat berhadapan dengan locianpwe, karena sudah lama aku mendengar bahwa locianpwe adalah seorang di antara locianpwe di empat penjuru dunia yang memiliki kesaktian tinggi. Aku yang muda memang sangat mengharapkan petunjuk darimu.” Setelah berkata demikian, Thian Sin menjura dan berdiri dengan sikap menanti, waspada dan tenang.

“Ha-ha-ha-ha, bagus sekali! Ternyata engkau patut menjadi putera pangeran yang pernah menggetarkan dunia kang-ouw itu. Nah, kini bersiaplah, orang she Ceng! Biar muridku menjadi saksi siapa di antara kita yang lebih unggul, aku, See-thian-ong, ataukah engkau, yang menggantikan Pangeran Ceng Han Houw!” Ketika tertawa kakek itu kelihatan jauh lebih muda dari usianya, dan Thian Sin tahu bahwa seorang laki-laki penuh kejantanan seperti ini tentu dapat menarik hati banyak wanita.

Akan tetapi, sebelum kakek raksasa itu bergerak, Cian Ling sudah melangkah maju dan menghadapi suhu-nya, lalu berkata, “Suhu…!”

“Ehh, ada apa manis?”

“Jangan suhu mencelakakan dia…!”

“Ha-ha-ha, kau khawatir kalau aku merusak boneka mainanmu sayang? Jangan khawatir, di dunia ini masih banyak pemuda-pemuda yang lebih ganteng dari pada dia.”

“Tapi aku… aku cinta padanya, suhu.”

Sepasang mata yang sudah lebar itu terbelalak. “Kau…? Cinta…? Uh, betapa bodohnya. Bukankah sudah sering kuajarkan padamu bahwa cinta adalah suatu kebodohan? Bahwa cinta hanya akan mendatangkan kesengsaraan hidup belaka? Aku tidak berjanji apa-apa, dan kita lihat saja bagaimana kesudahannya pibu ini nanti.” Dengan kasar dia kemudian menggunakan tangannya mendorong muridnya ke samping.

Terpaksa Cian Ling meloncat ke pinggir lantas memandang dengan alis berkerut karena betapa pun juga, dia tahu akan kesaktian gurunya dan akan keganasan ilmu dari gurunya. Dan dia masih belum puas dengan pemuda itu sehingga tidak ingin kehilangan Thian Sin yang begitu menyenangkan hatinya.

Kakek itu menggerakkan tangan yang memegang tongkat, lantas benda itu menancap di atas tanah sampai setengahnya. “Nah, engkau boleh mempergunakan senjatamu pedang itu, akan kuhadapi dengan tangan kosong. Ini baru adil namanya mengingat usiaku lebih matang darimu. Majulah dan keluarkan pedangmu, orang muda.”

Manusia sombong pikir Thian Sin. Dia pun tak mau kalah gertak, maka dia mengeluarkan pedangnya, bukan dicabut melainkan mengeluarkan berikut sarungnya dan dia pun lantas menancapkan pedang bersarung itu ke atas tanah.

“Locianpwe, aku datang untuk minta petunjuk, dan di dalam adu ilmu haruslah terkandung kejujuran dan keadilan. Apa bila locianpwe tidak mempergunakan senjata, aku pun masih mempunyai tangan dan kaki untuk melayanimu.”

Mata kakek itu semakin terbelalak, lalu tertawa. “Ha-ha-ha, engkau tabah sekali. Agaknya karena engkau telah menguasai ilmu dari Cin-ling-pai, seperti yang telah kudengar, maka engkau berani memandang ringan kepadaku, ya? Nah, boleh mari kita mengadu tangan dan kaki. Majulah!”

“Aku yang muda dan hanya tamu, mana berani maju lebih dulu? Silakan, locianpwe!”

Sikap Thian Sin yang selalu berlaku mengalah ini sungguh-sungguh merupakan tamparan bagi See-thian-ong. Biasanya, karena dia memiliki tingkatan yang lebih tinggi, dialah yang mengalah sebagai sikap orang yang kepandaiannya lebih tinggi. Akan tetapi sekarang dia bertemu batunya, seorang pemuda yang bersikap mengalah kepadanya!

“Bocah sombong, sungguh engkau tidak mengenal siapa See-thian-ong!” bentaknya dan sikap Thian Sin itu berhasil membuat kakek ini marah.

Memang inilah yang dikehendaki oleh Thian Sin. Dia tidak ingin kakek itu main-main, akan tetapi ingin memancing agar kakek itu mengeluarkan seluruh kepandaiannya untuk dapat diukurnya.

Setelah mengeluarkan bentakan itu, tiba-tiba saja kakek itu menerjang dan dua lengannya yang berkulit hitam berbulu panjang dan berukuran besar itu menyambar dari kanan kiri. Dua tangannya dengan telapak tangan terbuka menyambar dari kanan kiri seperti orang hendak menepuk lalat, dan yang dijadikan lalatnya untuk dihimpit oleh kedua tangan yang lebar dan kuat itu adalah kepala Thian Sin!

“Parrrrr…!”

Dua tangan itu saling bertemu ketika dengan gerakan lincah Thian Sin sudah melangkah mundur mengelak. Akan tetapi, bertemunya kedua tangan kakek itu selain mendatangkan suara nyaring, juga mengepulkan asap lantas tahu-tahu kedua tangan itu sudah meluncur dengan serangan dahsyat dan ganas sekali, yang kanan mencengkeram ke arah kepala lawan sedangkan yang kiri dengan jari tangan terbuka menusuk ke arah lambung!

“Hemmm…!” Thian Sin berseru, kagum karena serangan itu sungguh sangat ganas dan cepat, sebelum kedua tangan datang sudah menyambar angin pukulan dahsyat. Dia pun cepat-cepat mengerahkan tenaga Thian-te Sin-ciang, sengaja menangkis kedua lengan itu dengan kedua tangannya.

“Plakk! Dessss…!”

“Ahhh! Inikah Thian-te Sin-ciang?” Kakek itu berseru kaget ketika merasa betapa kedua lengannya yang disaluri penuh tenaga sinkang itu bisa terpental akibat terkena tangkisan pemuda itu.

Maklumlah dia bahwa berita yang didengarnya mengenai pemuda ini tidak kosong belaka. Tenaga Thian-te Sin-ciang tadi saja sudah membuktikan bahwa pemuda ini mempunyai tenaga kuat sekali, jauh lebih kuat dari pada tenaga murid-muridnya yang paling pandai sekali pun.

Thian Sin tidak mempedulikan seruan kakek itu dan dia pun cepat membalas serangan lawan dengan ilmu Silat Pat-hong Sin-kun dan setiap sambaran tangannya, dia kerahkan tenaga Pek-in-ciang sehingga kedua tangan itu mengeluarkan uap putih! Dua ilmu ini dia pelajari dari Yap Kun Liong dan kini dia mempunyai kesempatan untuk menggunakannya dalam praktek melawan musuh yang tangguh.

Begitu dihujani serangan oleh pemuda itu, See-thian-ong segera menjaga diri, mengelak dan menangkis sambil memperhatikan gerakan orang. Dia kagum sekali karena dia tidak yakin mengenal ilmu silat itu.

“Apa ini? Seperti Pat-kwa-kun, akan tetapi bukan! Dan uap putih ini… hemm, pernah aku mendengar tentang Pek-in-ciang. Inikah ilmu itu?”

Thian Sin mendesak terus tanpa menjawab, kemudian dia bahkan mengeluarkan semua ilmu silat tinggi yang pernah dipelajarinya. Dia mengeluarkan beberapa jurus dari Thai-kek Sin-kun, juga San-in Kun-hoat dengan dibantu tenaga Thian-te Sin-ciang.

Kakek itu semakin kagum, karena semua ilmu itu dikenalnya sebagai ilmu-ilmu silat yang benar-benar sangat bermutu. Berkali-kali dia memuji dan dia sungguh-sungguh terdesak, padahal pemuda itu hanya mengeluarkan beberapa jurus dari ilmu silat masing-masing itu.

Thian Sin juga bukan seorang pemuda bodoh. Dia tahu bahwa lawannya adalah seorang datuk yang sudah memiliki kematangan ilmu silat. Dia tidak mau dipancing seperti ketika menghadapi Pak-san-kui, yaitu dipancing untuk mengeluarkan semua ilmu-ilmunya agar dapat dipelajari oleh datuk itu. Maka dia lalu mencampur-campurkan semua ilmu silatnya sehingga membuat lawannya bingung dan kagum sekali.

Oleh karena maklum bahwa dia tidak akan mampu mempelajari ilmu-ilmu silat tinggi yang diselang-seling itu dan tahu bahwa kalau dia hanya bertahan saja, besar kemungkinan dia akan terkena pukulan yang cukup ampuh dan berbahaya, kini See-thian-ong mengambil keputusan untuk menyudahi pertandingan.

Tiba-tiba dia mengeluarkan teriakan yang parau menggetarkan bumi dan pohon-pohon di sekeliling tempat itu, dan berdiri dengan kedua kaki serta tangan terpentang lebar. Pada saat itu, Thian Sin sudah melakukan serangan pukulan ke arah dada kakek itu.

Melihat kakek itu berdiri dengan dada terbuka, mendengar pula betapa menyusul suara teriakan itu dan tubuh Si Kakek mulai menggembung, tahulah Thian Sin bahwa kakek itu sudah mempergunakan ilmunya yang mukjijat, yaitu yang oleh Cian Ling disebut sebagai Ilmu Hoa-mo-kang. Akan tetapi dia tidak peduli dan memukul terus, untuk menguji sampai di mana kehebatan ilmu itu. Dia melihat betapa kakek itu sama sekali tidak mengelak atau menangkis, bahkan menyerahkan dadanya untuk dipukul.

“Blukkkk…!”

Pukulan tangan kanan Thian Sin yang menggunakan Thian-te Sin-ciang sepenuh tenaga itu tepat mengenai dada, dan telinga Thian Sin laksana mendengar suara tambur dipukul lalu tangannya yang memukul itu tadi terpental kembali seperti memukul bola yang amat keras dan kuat. Tubuhnya sendiri sampai terhuyung akibat terbawa oleh tenaga Thian-te Sin-ciang yang membalik kembali melalui tangannya, dan untuk menjaga keseimbangan tubuhnya, dia sudah berloncatan jungkir balik mematahkan tenaga yang membalik itu.

“Ha-ha-ha, bagaimana pendapatmu tentang ilmuku tadi, orang muda? Dapatkah engkau melawannya?” See-thian-ong tertawa pula, hatinya merasa puas dan girang saat melihat lawannya terkejut menghadapi ilmunya.

“Locianpwe, ilmumu memang hebat, akan tetapi jangan mengira bahwa aku sudah kalah.”

Setelah berkata demikian, pemuda itu menerjang lagi ke depan, akan tetapi sekarang dia menggunakan dua tangannya untuk menyerang bagian-bagian tubuh yang tak terlindung oleh Hoa-mo-kang itu, seperti mata, hidung, bagian muka, dan bagian tubuh lainnya yang tulangnya menonjol dan tidak terlindung oleh daging, seperti tulang pundak, tenggorokan, sambungan siku, lutut dan sebagainya.

“Ahhh, kau memang cerdik!” Kakek itu berseru dan repot melindungi bagian-bagian yang terserang itu.

Akan tetapi karena tubuhnya sudah menggembung, maka mudah saja baginya, dengan hanya menggerakkan sedikit tubuhnya, maka bagian-bagian yang terserang adalah bagian yang terlindung hawa Hoa-mo-kang. Dan kini, begitu tubuhnya terpukul, maka otomatis tangannya langsung membalas serangan dari samping.

“Bluggg…! Dessss…!”

Ketika dengan kekuatan sepenuhnya tangan Thian Sin menyambar ke arah pundak untuk membikin patah tulang pundak kiri, kakek itu cepat miringkan tubuhnya sehingga pukulan itu mengenai dadanya, dan pada saat yang sama tangannya sudah menampar punggung Thian Sin.

Tubuh pemuda itu terpelanting, lantas bergulingan saking kerasnya pukulan lawan. Akan tetapi beruntung baginya bahwa dia tadi sedang mengerahkan tenaga Thian-te Sin-ciang sehingga tubuhnya pun menjadi kebal akibat terlindung oleh tenaga itu. Dia tidak terluka, sungguh pun guncangan tenaga hantaman yang keras itu sempat membuat isi dadanya tergetar dan napasnya menjadi agak sesak!

“Ha-ha-ha!” See-thian-ong tertawa girang dan bangga.

Thian Sin menjadi penasaran dan juga marah. Dia telah menerjang kembali, menusukkan telunjuk dan jari tengah ke arah sepasang mata lawan. Ketika lawannya miringkan tubuh, dia menghantam ke arah tenggorokan.

Kakek itu menaikkan tubuh dan miring, sehingga kembali pukulan itu luput dan mengenai dada, dan pada saat itu kakek itu menggunakan kedua tangannya untuk mencengkeram tengkuk dan punggung Thian Sin dengan jalan merangkulnya bagai seekor beruang. Akan tetapi, tiba-tiba saja kakek itu mengeluarkan teriakan keras.

“Aughhhhh…!” Kakek itu terkejut bukan kepalan karena begitu kedua tangannya mencengkeram, tenaga Hoa-mo-kang itu memberobot keluar melalui kedua tangannya lantas tersedot masuk ke dalam tubuh pemuda itu!

“Thi-khi I-beng…!” teriaknya.

Tiba-tiba saja tubuhnya seperti bola terisi penuh angin yang bocor, mengempis kembali lantas seluruh tenaganya lenyap sehingga dengan sendirinya tenaga sedot Thi-khi I-beng juga tidak berguna lagi dan terlepaslah kedua tangan yang melekat itu. Kakek itu cepat melempar tubuh ke belakang dan sebelum pemuda itu dapat menyerangnya kembali, dia telah bergulingan ke arah tongkatnya dan meloncat lagi dengan tongkat di tangan!

Mukanya berubah merah sehingga menjadi makin hitam, dan sepasang matanya seperti mengeluarkan api. Peristiwa tadi, dalam satu gebrakan ketika dia dikejutkan oleh Thi-khi I-beng, sungguh merupakan tamparan baginya. Biar pun dia belum dapat dikatakan kalah, namun segebrakan tadi menunjukkan bahwa fihak lawan yang lebih unggul! Tak mungkin dia dapat dikalahkan oleh seorang pemuda remaja seperti itu.

“Orang muda she Ceng, engkau memiliki banyak sekali ilmu tangan kosong yang hebat-hebat, bahkan Thi-khi I-beng yang baru sekarang kusaksikan sendiri sempat mengejutkan hatiku. Nah, aku sudah terlanjur memegang tongkat, mari kita main-main dengan senjata!”

Thian Sin maklum bahwa kini kakek itu tentu akan mengeluarkan ilmu tongkatnya yang menurut Cian Ling merupakan ilmu simpanan kakek itu yang amat hebat di samping Ilmu Hoa-mo-kang tadi. Dia tadi sudah tahu akan Ilmu Hoa-mo-kang yang amat dahsyat, akan tetapi dengan Thi-khi I-beng, dia akan dapat menghadapi Hoa-mo-kang sehingga dia tak perlu lagi takut terhadap ilmu kakek itu.

Kini, kakek itu hendak mengeluarkan ilmu simpanannya, maka hal itu baik sekali baginya untuk menguji. Sebelum dia mengambil sikap keras untuk menentang See-thian-ong ini, terlebih dahulu dia harus dapat mengukur sampai di mana kelihaian lawan. Maka dia pun meraih pedang berikut sarungnya yang tadi dia tancapkan di atas tanah dan di lain detik sudah nampak sinar perak berkilauan ketika dia mencabut Gin-hwa-kiam dari sarungnya.

“Aku akan melayani locianpwe dan mohon petunjuk,” katanya dengan sikap merendah.

Akan tetapi karena tadi dalam gebrakan terakhir dia merasa dirugikan, kini melihat sikap merendah itu bagi See-thian-ong seperti ejekan saja, maka sambil mengeluarkan seruan keras dia pun mulai menyerang dengan tongkatnya.

Tongkat itu terbuat dari kayu biasa saja, akan tetapi begitu digerakkan oleh tangan yang berukuran besar milik See-thian-ong, berubahlah tongkat itu menjadi gulungan sinar yang menyambar-nyambar dan mengeluarkan bunyi aneh, juga gerakan-gerakannya luar biasa anehnya. Tahu-tahu ujung tongkat itu telah melakukan totokan bertubi-tubi sehingga pada waktu Thian Sin menangkis dan mengelak darinya, ujung tongkat itu secara berantai telah melakukan tiga belas kali totokan sambung menyambung ke arah jalan-jalan darah maut di bagian depan tubuh lawan!

Thian Sin terkejut bukan main. Tak keliru keterangan Cian Ling. Memang ilmu silat kakek ini menjadi luar biasa hebatnya setelah dia memegang tongkat! Belum pernah dia melihat ilmu tongkat sehebat ini, dan ujung tongkat itu tergetar menjadi banyak sekali.

Inilah yang membuat ilmu tongkat kakek itu amat berbahaya, oleh karena ujungnya yang tergetar sehingga kelihatan menjadi banyak itu sukar diketahui mana yang asli dan mana bayangan-bayangannya. Hal ini membuat tongkat itu amat berbahaya.

Juga Thian Sin teringat akan ilmu Siang-bhok Kiam-sut (Ilmu Pedang Kayu Harum) yang pernah dipelajarinya dari ibu kandungnya. Siang-bhok Kiam-sut juga memiliki dasar yang bisa membuat sebatang pedang kayu sama ampuhnya dengan sebatang pedang pusaka. Akan tetapi gerakannya jauh berbeda dengan ilmu tongkat kakek ini sehingga dia tetap belum dapat menyelami dan dalam gebrakan pertama itu, dia terdesak hebat.

Thian Sin berlaku hati-hati sekali, memutar pedang Gin-hwa-kiam dengan Ilmu Thai-kek Sin-kun yang mengandung daya pertahanan sangat kuat untuk dapat melindungi dirinya dari ancaman bayangan ujung tongkat yang amat cepat itu.

Melihat betapa ilmu tongkatnya yang sangat dia banggakan itu kembali dapat mendesak lawan, kegembiraan See-thian-ong bangkit lagi. Dia mulai tertawa-tawa dengan girang dan sengaja menggunakan tongkatnya untuk mempermainkan lawan.

Memang hebat sekali ilmu tongkatnya itu. Tongkat di tangannya itu seolah-olah hidup dan menyambar-nyambar dari segala jurusan. Memang, dengan mengandalkan kepada daya tahan Thai-kek Sin-kun, Thian Sin masih bisa melindungi dirinya dengan membuat dirinya seperti terkurung benteng baja. Akan tetapi tidak mungkin dalam suatu pertandingan dia hanya membela diri saja tanpa membalas serangan.

Akan tetapi, setiap kali dia membalas, bahkan sudah dicobanya Ilmu Pedang Siang-bhok Kiam-sut, tetap saja setiap kali dia menyerang dia malah hampir saja celaka akibat kena disambar tongkat sehingga dia pun harus cepat-cepat kembali berlindung dalam gerakan Thai-kek Sin-kun untuk menyelamatkan dirinya. Memang benar dia pernah mempelajari Siang-bhok Kiam-sut, akan tetapi pada saat mempelajarinya itu, dia masih kecil dan dasar kepandaiannya belum matang sehingga ilmu itu pun kurang terlatih, atau inti sari ilmu itu masih kurang dapat dikuasainya.

Sesungguhnya, ilmu silat apa pun juga mengandung daya guna sendiri-sendiri dan hanya kematangan dalam menguasai suatu ilmu itulah yang membuat ilmu itu menjadi berguna dan kuat. Andai kata Thian Sin sudah betul-betul menguasai Siang-bhok Kiam-sut secara sempurna, belum tentu dia akan merasa terdesak oleh Ilmu Tongkat Giam-lo Pang-hoat yang dimainkan oleh See-thian-ong itu.

Ilmu silat hanya merupakan dasar gerakan saja yang mengandung unsur-unsur membela diri atau menyerang. Ketangguhan seseorang bukan tergantung sepenuhnya dari macam ilmu silatnya, melainkan tergantung kepada dirinya sendiri, kepada kematangannya dalam menguasai ilmu yang dimilikinya itu.

Tidak dapat dikatakan mana yang lebih kuat di antara Siang-bhok Kiam-sut dan Giam-lo Pang-hoat. Akan tetapi jika yang memainkan Siang-bhok Kiam-sut adalah Thian Sin yang masih mentah dalam ilmu itu, dan yang mainkan Giam-lo Pang-hoat adalah See-thian-ong pencipta ilmu itu, tentu saja Thian Sin kalah jauh! Buktinya, dahulu tokoh Cin-ling-pai yang merupakan pendiri Cin-ling-pai dan orang pertama yang menguasai Siang-bhok Kiam-sut, dengan pedang kayu harumnya dan ilmu pedangnya itu belum pernah bertemu tanding!

Kepandaian manusia memang ada batasnya, atau lebih tepat lagi, kemampuan manusia untuk menguasai suatu kepandaian akan ilmu pengetahuan adalah terbatas sekali. Kalau seseorang menghendaki agar dia menjadi ahli dalam suatu ilmu, dia harus mencurahkan seluruh perhatian dan kekuatan pikirannya untuk mempelajari dan memperdalam ilmu itu. Dan hal ini baru mungkin terjadi kalau memang pada dasarnya ada minat dan rasa cinta terhadap ilmu tertentu itu.

Jadi, syarat bagi seorang ahli membutuhkan tiga dasar, yaitu bakat, minat dan cermat. Bakat dalam arti kata kecenderungan kemampuan alamiah terhadap ilmu tertentu itu, dan bakat ini seolah-olah terbawa lahir oleh seseorang sehingga sebelum dia itu tahu apa-apa tentang suatu ilmu, dia telah memiliki kemampuan yang lebih besar dibandingkan dengan orang lain apa bila dihadapkan pada ilmu itu.

Minat adalah rasa cinta atau rasa suka akan ilmu yang dipelajarinya itu karena tanpa adanya minat atau rasa tertarik atau rasa suka ini, tentu saja dia tidak akan bersemangat mempelajarinya. Yang terakhir adalah kecermatan, atau ketekunan di dalam mempelajari ilmu itu.

Bakat memudahkan seseorang untuk mempelajari suatu ilmu, lalu minat mendatangkan gairah belajar, dan kecermatan menuntun kepada ketertiban belajar. Kalau ketiganya ini digabungkan menjadi satu, maka akan berhasillah seseorang menjadi ahli. Jika satu saja di antara ketiganya ini tidak ada, maka akan sukarlah untuk menjadi ahli dalam arti kata yang sedalam-dalamnya.


Thian Sin adalah seorang pemuda yang memiliki bakat besar sekali dalam hal ilmu silat. Pada saat masih kecil sekali, hal ini dapat nampak jelas. Begitu belajar, secara naluriah gerakannya sudah cekatan dan patut. Dan dia memang mempunyai minat yang sangat besar terhadap ilmu silat.

Akan tetapi, pengalamannya membuat dia di dalam usia muda sudah dijejali oleh banyak sekali ilmu silat tinggi sehingga dia tidak sempat untuk mematangkan satu pun di antara ilmu-ilmu itu. Oleh karena ketidak matangan inilah, maka begitu dia berhadapan dengan lawan yang sudah matang ilmunya seperti See-thian-ong ini, dia menjadi kewalahan dan terdesak terus.

Cian Ling yang sejak tadi mengikuti jalanannya pertandingan, memandang gelisah setelah melihat pemuda itu terdesak hebat oleh tongkat gurunya. Tadi pada waktu dua orang itu bertanding dengan tangan kosong, berkali-kali Cian Lin menahan seruan kagum melihat betapa pemuda itu bukan saja dapat menandingi gurunya, bahkan mampu mendesak dan bahkan pada gebrakan terakhir gurunya itu nyaris kalah! Akan tetapi, setelah kini gurunya menggunakan tongkatnya, dia melihat betapa Thian Sin terdesak hebat dan sinar pedang perak itu semakin lama menjadi semakin kecil dan suram, didesak dan dihimpit oleh sinar tongkat di tangan suhu-nya yang terus terkekeh-kekeh dengan senang.

Dia sudah mengenal gurunya, dan mengenal kekejaman hati gurunya yang tak mengenal ampun itu. Tentu saja dia merasa amat khawatir akan keselamatan Thian Sin. Dia belum ingin kehilangan pemuda yang amat menyenangkan hatinya itu.

Melihat betapa gurunya tertawa-tawa dan mendesak terus, bahkan sudah beberapa kali dia melihat ujung tongkat gurunya itu menghajar pangkal lengan kiri serta paha kanan kekasihnya, Cian Ling tidak mampu lagi menahan hatinya.

“Suhu, jangan celakai dia…!”

“Ha-ha-ha-ha, dia belum kalah, heh-heh-heh, bukankah begitu, orang muda?” Kakek itu mengejek.

Akan tetapi dia sungguh kecelik kalau mengira bahwa Thian Sin mengaku kalah. Pemuda ini memang telah terkena beberapa kali pukulan, akan tetapi dengan pengerahan Thian-te Sin-ciang, tubuhnya kebal dan hanya terasa kulit dagingnya saja memar, akan tetapi tidak sampai menderita luka parah sehingga dia masih terus bisa melakukan perlawanan tanpa pernah mengendur sedikit pun juga. Mendengar pertanyaan yang mengandung ejekan itu, dia menahan kemarahannya.

“Aku memang belum kalah, locianpwe!” katanya.

“Ha-ha-ha-ha, agaknya kalau belum mampus engkau tidak akan merasa kalah!” Kakek itu memutar tongkatnya lebih keras dan Thian Sin terkejut bukan main karena tanpa dapat dihindarkannya lagi, dadanya kena ditotok atau didorong oleh tongkat itu yang bergerak secara aneh sekali.

“Dukkk…!”

Dia tidak terluka parah karena tenaga Thian-te Sin-ciang melindungi dirinya. Akan tetapi guncangan oleh totokan yang amat keras itu membuat napasnya seperti terhenti sehingga dia terpelanting.

“Thian Sin…!” Cian Ling berteriak, akan tetapi pemuda itu sudah bangkit kembali.

Thian Sin maklum bahwa kalau dia hanya menggunakan ilmu-ilmunya yang biasa, maka dia tidak akan mampu menang. Teringatlah dia akan ilmu peninggalan ayah kandungnya. Tidak percuma selama ini, terutama ketika berada di rumah Pak-san-kui, dia mempelajari ilmu ayahnya itu dengan tekun, terutama sekali gerakan dari Ilmu Hok-te Sin-kun.

Kini, begitu melihat kakek itu sambil tertawa-tawa menubruknya kembali sambil memutar tongkat, tiba-tiba saja Thian Sin mengeluarkan pekik melengking dan tahu-tahu tubuhnya telah berjungkir balik! Dengan gerakan yang aneh sepasang kakinya menendang-nendang menyambut tongkat, sedangkan tangan kirinya mencengkeram ke arah pusar, dan tangan kanan yang memegang pedang menggerakkan pedang membabat kaki lawan. Dia hanya menggunakan kepala saja untuk menunjang tubuhnya yang sudah berjungkir balik.

“Ehh…?” Kakek itu terkejut sekali ketika tiba-tiba tongkatnya bertemu dua buah ‘tongkat’ lain berupa kaki pemuda itu dan merasa ada sambaran angin dahsyat yang menyerang dari bawah. Dia cepat meloncat, akan tetapi tak sempat mengelak dari hantaman tangan kiri Thian Sin.

Pemuda itu tadi mencengkeram, akan tetapi pada saat melihat lawan meloncat, lalu cepat mengubah cengkeramannya itu menjadi pukulan dengan tenaga Hok-liong Sin-ciang yang dahsyat.

“Dessssss…!”

Perut kakek itu terkena pukulan. Memang kakek itu cepat mengerahkan sinkang untuk melindungi perut, akan tetapi tenaga Hok-liong Sin-ciang itu adalah tenaga mukjijat maka tubuhnya terlempar dan terbanting roboh dengan keras sekali!

“Heiiiii…!” Saking kagetnya kakek itu berseru heran.

Akan tetapi saat dia bangkit berdiri, mukanya langsung menjadi merah saking marah dan malunya. Dia sudah terpukul roboh! Dan dia pun pernah mendengar akan ilmu-ilmu aneh dari Pangeran Ceng Han Houw, maka dia menduga bahwa ilmu jungkir balik tadi tentulah ilmu ayah pemuda itu.

“Itulah jurus peninggalan ayah kandungku, locianpwe!” Thian Sin berkata dalam keadaan tubuhnya masih berjungkir balik, merasa gembira bahwa jurus ilmu-ilmu silat peninggalan ayahnya demikian ampuhnya sehingga dapat membuat kakek tangguh itu roboh.

“Aku belum kalah!” teriak See-thian-ong dan dia pun sudah menerjang kembali, kemudian disambungnya dengan kata-kata yang penuh getaran aneh, “Berjungkir balik seperti itu tentu membuat kepalamu pening!”

Tongkat itu telah digerakkan lagi dan kini kakek itu menyerang dengan hati-hati. Thian Sin menyambut dengan kedua kakinya dan mulailah dia melakukan ilmu silat aneh dari ayah kandungnya. Akan tetapi tiba-tiba saja kepalanya terasa pening bukan kepalang. Benarlah kata-kata kakek itu tadi, berjungkir balik seperti itu membuat kepalanya terasa pening!

Akan tetapi, dia segera teringat bahwa tidak biasa dia merasa pening apa bila memainkan Ilmu Hok-te Sin-ciang, sehingga tahulah dia bahwa kepeningan itu datang dari pengaruh ucapan kakek itu. Sebagai anak angkat sekaligus murid seorang sakti seperti Pendekar Lembah Naga, tentu saja Thian Sin sudah pernah digembleng oleh ayah angkatnya itu tentang bagaimana harus menghadapi kekuatan yang tidak wajar.

Cepat dia mengerahkan khikang-nya lantas mengeluarkan suara melengking dan segera kepeningan kepalanya itu menjadi lenyap dan dia pun dapat menyambut serangan lawan dengan baiknya, bahkan dia dapat membalas dengan serangan dari atas menggunakan dua kakinya, dibantu oleh kedua tangannya dari bawah.

Kembali kakek itu merasa terkejut. Dia dapat merasakan getaran tenaga khikang dalam lengkingan suara pemuda itu yang membuyarkan pengaruh sihirnya terhadap pemuda itu, dan kini dia kembali kewalahan menghadapi ilmu jungkir balik yang aneh itu.

Tiba-tiba kakek itu mengeluarkan suara aneh seperti orang membaca doa atau mantera, sehingga dapat dibayangkan betapa kagetnya hati Thian Sin ketika melihat betapa tubuh lawannya itu perlahan-lahan lenyap! Mula-mula nampak suram-suram lalu semakin lama bayangan kakek itu menjadi semakin tipis. Sukar baginya untuk melawan bayangan yang hampir tidak nampak ini dan terpaksa dia meloncat lalu berdiri di atas kedua kakinya lagi sambil memutar pedangnya. Akan tetapi, kini bayangan lawan itu sudah tidak nampak lagi walau pun gerakannya masih terasa dan tertangkap oleh pendengarannya.

Thian Sin kaget dan berusaha mengerahkan khikang sambil membentak. Namun sia-sia belaka, kakek itu betul-betul telah menghilang dan masih terus menghujani dirinya dengan serangan. Pemuda ini berusaha mengandalkan pendengaran telinganya untuk menangkis dan mengelak, akan tetapi tetap saja tak mungkin dia dapat melawan orang yang pandai menghilang ini, yang memiliki ilmu tongkat demikian aneh dan lihainya.

Setelah berhasil mengelak dan menangkis beberapa kali akhirnya lehernya tertotok keras sekali. Sungguh pun dia sudah mengerahkan tenaga Thian-te Sin-ciang, tetap saja dia terpelanting keras dan merasa nanar. Dia cepat mengerahkan tenaga Thi-khi I-beng untuk menjaga diri dan membalas pukulan lawan.

Akan tetapi tiba-tiba pundaknya tertotok dan ternyata yang menotoknya itu adalah tongkat yang diluncurkan dan karena tongkat itu tidak dipegang orang, maka tentu saja Thi-khi I-beng tidak dapat menyerap apa-apa dan jalan darah thian-hu-hiat tertotok dengan tepat dan keras, mengakibatkan tubuh pemuda itu menjadi lemas dan lumpuh sama sekali!

“Ha-ha-ha-ha-ha, akhirnya engkau terpaksa harus mengakui keunggulanku, orang muda!” Kakek itu tertawa dan kini kakek itu pun dapat nampak kembali oleh Thian Sin. Pemuda ini memandang dengan sinar mata penuh penasaran.

“Locianpwe telah menggunakan ilmu siluman!” katanya memprotes.

“Ha-ha-ha-ha, dan sekarang aku akan membuatmu menjadi siluman tanpa kepala!” kata kakek itu.

Dia segera memungut pedang Gin-hwa-kiam yang sudah terlepas dari tangan pemuda itu, agaknya bermaksud ingin memenggal kepala Thian Sin. Kakek ini melihat bahwa pemuda itu merupakan seorang lawan yang sangat berbahaya sehingga kelak dapat mengancam kedudukannya, maka dia mengambil keputusan untuk membunuhnya saja.

“Suhu, tahan…!” Cian Ling sudah menjerit dan gadis ini sudah menubruk tubuh Thian Sin, melindunginya dari ancaman gurunya. “Suhu tidak boleh membunuhnya!”

“Heh-heh-heh, siapa yang melarangku dan mengapa tidak boleh?”

“Suhu, dia datang untuk mengadu ilmu dengan suhu sebagai orang muda minta petunjuk, bukan sebagai musuh. Adu pibu batasnya hanyalah kalah atau menang, dia sudah kalah mengapa harus dibunuh? Dan ke dua, suhu tidak boleh membunuhnya karena aku cinta kepadanya!”

“Ho-ho-ha-ha-ha! Cintamu hanya sedalam kulit, dan apa susahnya mencari pemuda yang lebih ganteng dari pada dia? Aku membunuhnya bukan karena bermusuhan dengan dia, melainkan mengingat bahwa dia telah memberontak, pernah membikin kacau di Su-couw dan di Lok-yang. Apa bila aku membunuhnya, bukankah itu berarti kita akan memperoleh jasa telah membunuh seorang pemberontak?”

“Hemmm, See-thian-ong, harap locianpwe tidak bicara tentang pemberontakan! Siapakah yang memberontak! Antara locianpwe dan aku ada persamaan bukan? Memang aku telah menyiksa si busuk Phoa-taijin itu, orang macam dia mana ada harganya untuk dijadikan sekutu? Akhirnya malah hanya akan mencelakakan sekutu-sekutu saja. Locianpwe, kalau locianpwe, Pak-san-kui Locianpwe dan juga Lam-sin Locianpwe, bersama-sama dengan aku membantu kekuatan dari utara, bukankah kita merupakan persekutuan yang lebih kuat lagi? Mendiang kakekku, Raja Sabutai di utara juga memiliki pasukan yang kuat dan aku dapat mengumpulkan mereka kalau waktunya telah tiba. Akan tetapi, jangan mengira bahwa kata-kataku ini hanya untuk melindungi nyawaku. Kalau locianpwe memang mau membunuhku silakan, aku bukan orang yang takut mati.”

Sejenak kakek hitam tinggi besar itu tertegun. Kakek ini paling suka akan kegagahan dan kejujuran dan memang dia sudah kagum sekali terhadap kegagahan pemuda ini. Akan tetapi dia juga khawatir akan kegagahan yang kelak akan mengancam kedudukannya itu.

Tiba-tiba dia mendapatkan pikiran yang baik sekali. Kekalahannya melawan pemuda itu terutama sekali karena pemuda itu memiliki ilmu jungkir balik tadi, ilmu yang dulu pernah didengarnya menjadi ilmu simpanannya mendiang Pangeran Ceng Han Houw.

“Ceng Thian Sin, di kalangan kang-ouw dikenal istilah balas membalas budi dan dendam mendendam. Kini nyawamu berada di tanganku, dan kalau sekali ini aku mengembalikan nyawamu, lalu apa yang dapat kau berikan kepadaku sebagai balasannya?”

Thian Sin adalah seorang pemuda yang cerdik sekali dan dia pun tahu bahwa kelemahan satu-satunya bagi para datuk ilmu silat seperti Pak-san-kui dan juga See-thian-ong ini, jika bukan kedudukan tinggi tentu juga ilmu silat. Akan tetapi dia masih pura-pura tidak tahu dan bertanya,

“Locianpwe, apakah yang bisa kuberikan kepada locianpwe? Harta milikku hanya pedang itu, dan beberapa macam ilmu silat yang telah dikalahkan olehmu.”

“Ha-ha-ha-ha, memang ilmu apa pun yang kau keluarkan, tidak mungkin engkau mampu menandingi See-thian-ong! Akan tetapi, di antara semua ilmu itu, aku tertarik sekali ketika melihat ilmumu berjungkir balik tadi. Nah, bagaimana kalau engkau memberi tahu padaku tentang ilmu jungkir balik itu sebagai pengganti nyawamu?”

Thian Sin menghela napas panjang. “Ilmu itu adalah peninggalan dari mendiang ayahku, Pangeran Ceng Han Houw, dan merupakan ilmu pusaka. Akan tetapi karena locianpwe dapat dikatakan orang sendiri, biarlah kuberikan kalau locianpwe hendak mempelajarinya. Bebaskan aku, dan kitab ilmu itu akan kupinjamkan kepada locianpwe.”

Girang sekali hati kakek itu. Dia bersikap memandang rendah ilmu itu padahal sebetulnya dia ingin sekali mempelajarinya. Dengan cepat tongkatnya bergerak lalu bagaikan seekor ular mematuk, ujung tongkat itu dua kali mengenai leher dan pundak Thian Sin sehingga pemuda itu seketika dapat bergerak kembali.

“Thian Sin, engkau sembuh kembali!” Cian Ling berkata dengan girang sambil memegang lengan pemuda itu.

“Dan engkau pun ikut bertanggung jawab, Cian Ling. Karena itu engkau pun berjasa dan engkau boleh minta upah sepuasnya dari pemuda ini, ha-ha-ha! Nah, keluarkanlah kitab itu, Thian Sin.”

Thian Sin segera mengeluarkan kitab peninggalan ayahnya itu, kitab pelajaran Ilmu Silat Hok-te Sin-kun dan menyerahkannya kepada See-thian-ong sambil berkata, “Locianpwe, kitab ini adalah tulisan ayah sendiri dan merupakan kitab pusaka bagiku maka aku hanya bisa meminjamkannya kepadamu selama tiga bulan saja. Setelah lewat tiga bulan, harap locianpwe mengembalikannya kepadaku.”

“Ha-ha-ha, tentu saja. Tidak ada ilmu yang membutuhkan waktu demikian lamanya untuk kupelajari!” katanya sambil membuka-buka kitab itu.

Thian Sin memungut pedangnya dari atas tanah dan menyarungkannya kembali, lantas mengebut-ngebutkan pakaiannya yang kotor, dibantu oleh Cian Ling.

“Apakah selama suhu mempelajari kitabnya itu dia boleh tinggal bersamaku?” Cian Ling bertanya.

Gurunya tertawa. “Tentu saja! Kini dia menjadi tamu kita dan engkau boleh melayaninya sepuasmu, ha-ha-ha!” Setelah berkata demikian, sekali melompat kakek itu lenyap di balik pohon-pohon.

“Untung engkau selamat, Thian Sin,” Cian Ling berkata sambil merangkulnya.

Thian Sin balas merangkul dan menghela napas panjang. “Karena bantuanmu, Cian Ling. Engkau telah menolongku sehingga aku berhutang budi kepadamu, entah bagaimana aku dapat membalasmu.”

“Ihhh, masa kau tidak tahu bagaimana harus membalasnya? Asal engkau selalu bersikap manis dan mencintaku, biar harus berkorban nyawa untukmu pun aku rela, kekasihku.”

Demikianlah, dengan melalui Cian Ling akhirnya Thian Sin berhasil berhadapan dengan See-thian-ong bahkan sudah berhasil menguji kepandaian datuk itu. Dia pun tahu bahwa kalau datuk itu tidak menggunakan sihir, dia akan mampu melawan dan menandinginya, bahkan mengalahkannya. Hanya ilmu sihir datuk itulah yang sangat berbahaya dan tidak dapat dilawannya, maka jalan satu-satunya untuk dapat mengalahkan datuk dari barat ini hanyalah menghadapi dan mengalahkan sihirnya.

Semenjak hari itu, Thian Sin diajak pulang ke Si-ning oleh Cian Ling. Gadis ini tinggal di Si-ning, di mana terdapat sebuah rumah besar milik See-thian-ong, tempat di mana kakek itu tinggal bersama selir-selirnya. Dan di sisi rumah besar itu terdapat pavilyun-pavilyun kecil di mana tinggal So Cian Ling di bangunan kecil sebelah kanan sedangkan Ciang Gu Sik tinggal di bangunan sebelah kiri. Masih ada lagi beberapa orang murid See-thian-ong yang tinggal di bangunan sebelah belakang dan mereka itu menjadi murid merangkap pelayan-pelayan yang mengurus rumah gedung guru mereka.

Ciang Gu Sik, murid kepala yang sudah lama jatuh cinta terhadap Cian Ling, tentu saja merasa sangat mendongkol, cemburu dan panas hatinya ketika melihat betapa pemuda putera pangeran itu menjadi tamu dan tinggal bersama dengan sumoi-nya itu. Akan tetapi dia tidak dapat berbuat sesuatu karena hal itu telah disetujui oleh gurunya.

So Cian Ling semakin tergila-gila terhadap Thian Sin. Selama petualangannya dengan kaum pria, yaitu semenjak dara itu dipaksa menyerahkan dirinya kepada gurunya, dan kemudian, dengan watak yang terbentuk oleh pendidikan gurunya dia menjadi tidak peduli akan urusan susila dan mendekati pria mana saja yang dikehendakinya, baru sekali ini dia benar-benar jatuh cinta! Bukan cinta nafsu birahi belaka, melainkan sungguh-sungguh jatuh cinta kepada Thian Sin dan timbul keinginan hatinya untuk selamanya tidak akan berpisah lagi dari pemuda itu.

Oleh karena inilah maka semua permintaan Thian Sin dilaksanakannya dengan hati penuh kerelaan dan kesetiaan. Juga, ketika Thian Sin bertanya bagaimana dia bisa menghadapi ilmu sihir dari See-thian-ong dapat ‘menghliang’ itu, Cian Ling lalu berusaha sedapatnya untuk memecahkan rahasia gurunya.

Dia sendiri memang sudah pernah mempelajari ilmu sihir dari gurunya. Akan tetapi ilmu sihirnya itu hanya terbatas pada mempengaruhi pikiran orang saja. Dengan ilmu sihirnya ini, Cian Ling dapat menundukkan laki-laki yang berani menolaknya, dan membuat lelaki itu bertekuk lutut dan jatuh cinta padanya.

Akan tetapi ilmu sihir untuk mempengaruhi pikiran orang lain ini pasti akan terbentur batu pada waktu berhadapan dengan orang yang kuat batinnya. Buktinya, semua ilmu sihir dari See-thian-ong yang bersifat untuk mempengaruhi pikiran orang lain dan bisa membalikkan pandangan atau pendengaran orang lain melalui pikiran, dapat dibuyarkan oleh Thian Sin melalui pengerahan khikang-nya.

Akan tetapi, ilmu sihir yang membuat dirinya lenyap dari pandang mata lawan itu berbeda lagi dan Cian Ling sendiri belum pernah mempelajarinya. Menurut suhu-nya, ilmu itu tidak mudah dimiliki orang, melainkan baru dapat dimiliki melalui pertapaan bertahun-tahun dan melalui pantangan-pantangan yang sangat berat. Ilmu itu termasuk ilmu hitam yang dekat dengan kekuatan-kekuatan gaib alam halus atau dengan lain kata-kata ilmu bantuan roh atau setan.

Ketika Thian Sin minta kepadanya agar gadis itu suka memberi tahu kepadanya tentang rahasia ilmu menghilang dari See-thian-ong itu, pada mulanya Cian Ling menjadi bingung sekali. “Kekasihku, sungguh mati aku sendiri belum pernah mempelajari ilmu itu. Ilmu itu terlalu jahat dan terlalu sulit dan cara memperoleh ilmu itu amat mengerikan, di antaranya bahkan harus tidur satu peti dengan mayat. Mana aku berani mempelajarinya? Maka aku tidak tahu bagaimana caranya melawan ilmu itu.”

Thian Sin kecewa sekali dan dengan sikap marah dia menjawab, “Cian Ling, kalau benar engkau cinta padaku, engkau harus dapat memecahkan rahasia ilmu itu. Aku penasaran sudah dikalahkan suhu-mu hanya karena ilmu itu, maka aku harus dapat menghadapi dan menandinginya. Apa bila engkau tidak dapat memecahkan rahasia ilmu itu kepadaku, apa artinya aku dekat denganmu?”

Karena takut kehilangan cinta pemuda itu, Cian Ling minta waktu tiga hari dan pergilah gadis ini menemui gurunya. Dengan segala kepandaiannya merayu, Cian Ling mendekati gurunya. Mula-mula See-thian-ong mentertawakannya.

“Heh-heh-heh, apa artinya ini, muridku yang manis? Bukankah engkau mempunyai putera pangeran itu untuk bersenang-senang? Mengapa tiba-tiba engkau mendekati aku Si Tua Bangka?”

Cian Ling cepat merangkul leher kakek itu. “Aihh, jangan berkata begitu, suhu. Bukankah sebelum aku berdekatan dengan pria mana pun juga, suhu yang merupakan pria pertama di dalam hidupku? Suhu merupakan suhu-ku, orang tuaku, juga cinta pertamaku. Terlalu lama dengan pemuda itu membuat aku bosan, dan kini aku sudah rindu sekali kepadamu, suhu.”

Dengan sangat pandainya, gadis yang muda ini akhirnya membuat datuk itu menyerah ke dalam gelora nafsu yang membuatnya menjadi buta, tidak dapat membedakan lagi mana yang sungguh-sungguh dan mana yang palsu. Lantas dengan sangat cerdiknya, sesudah merayu gurunya selama dua hari, membuat gurunya mabuk karena di dalam hati kecilnya memang datuk ini sangat sayang kepada Cian Ling, gadis ini baru membawa urusan ilmu menghilang itu dalam percakapan.

“Aku melihat ilmu menghliang dari suhu itu amat berguna dan hebat. Ahh, kalau saja aku dapat memiliki ilmu itu… betapa senangnya,” kata Cian Ling ketika mereka sedang rebah berdampingan di atas pembaringan dan Cian Ling membelai-belai rambut suhu-nya yang panjang dan sudah bercampur uban itu.

“Heh-heh-heh, bukankah telah pernah kukatakan bahwa untuk mempelajarinya amat sulit dan juga memakan waktu lama? Untuk apa ilmu itu bagimu? Ilmu yang kuajarkan padamu sudah cukup.”

“Akan tetapi, melihat betapa suhu baru dapat menundukkan putera pangeran itu sesudah menghilang, terasa olehku betapa pentingnya menguasai ilmu itu.”

“Ha-ha-ha, siapa bilang bahwa hanya dengan ilmu itu saja aku baru dapat mengalahkan dia? Hanya karena dia memiliki peninggalan ilmu dari ayahnya, ilmu jungkir balik bernama Hok-te Sin-kun itu sajalah yang membuat dia lihai. Akan tetapi Ilmu Hok-te Sin-kun sudah mulai dapat kukuasai, maka tanpa ilmu menghilang sekali pun sekarang dengan mudah dia akan dapat kutundukkan!”

“Tapi… tapi aku ingin sekali mempunyai ilmu menghilang itu, suhu!”

“Untuk apa?”

“Bayangkan saja alangkah senangnya. Dengan ilmu itu aku akan dapat memasuki rumah orang tanpa diketahui, dan memasuki kamar-kamar para pengantin baru lalu menyaksikan pemandangan yang amat bagus tanpa diketahui orang.”

Kata-kata gadis ini bagi orang biasa tentu akan dianggap cabul dan menunjukkan betapa hati gadis itu penuh dengan kecabulan. Akan tetapi tidak demikian anggapan orang-orang di golongan sesat itu. Kakek itu tertawa bergelak, merasa senang sekali.

“Ha-ha-ha, sungguh jalan pikiranmu sama benar dengan jalan pikiranku. Dulu, pada saat aku baru saja berhasil memiliki ilmu itu, aku pun suka sekali memasuki kamar pengantin baru dan menikmati pemandangan dari apa yang mereka lakukan, dan kalau aku tertarik, aku lalu menggantikan si pengantin pria setelah membuat dia tidak berdaya. Ha-ha-ha-ha, engkau memang cocok dan berjodoh menjadi muridku. Akan tetapi, sungguh tidak mudah mempelajari ilmu itu. Mana mungkin engkau sanggup bertahan untuk bertapa selama tiga tahun, menjauhi segala kesenangan, menjauhi pria?”

“Suhu, apabila aku tidak dapat mempelajari, setidaknya aku harus bisa menghadapi ilmu itu. Bagaimana kalau aku bertemu lawan yang memiliki ilmu menghliang seperti itu? Ihh, betapa mengerikan bila dipikir. Coba bayangkan, andai kata sekarang ini ada musuh yang memiliki ilmu itu berada di dalam kamar ini dan melihat apa yang kita lakukan!” Gadis itu bergidik.

Gurunya merangkulnya sambil tertawa. “Andai kata begitu, habis mengapa? Paling-paling orang itu akan iri hati dan ingin, ha-ha-ha-ha. Dan tidak mungkin ada orang yang mampu menggunakan ilmu itu tanpa dapat kulihat. Jangan kau khawatir, Cian Ling.”

“Tentu saja, ketika bersama suhu, aku tidak akan takut, akan tetapi aku tidak akan terus menerus berada di dekat suhu. Bagaimana jika aku sedang merantau sendirian kemudian berjumpa dengan orang yang mempunyai ilmu menghilang atau ilmu hitam lain lagi yang lihai?”

Akhirnya, sesudah mempergunakan segala macam bujuk rayu melalui kata-kata dan juga melalui tubuhnya yang muda, berhasil juga Cian Ling mendapat rahasia itu dari gurunya. Dengan hati girang dia berpisah dari suhu-nya dan segera menemui Thian Sin yang telah menanti-nantinya dengan hati mulai kesal dan curiga.

Karena dia memperoleh rahasia ilmu itu dengan mengorbankan perasaannya dan secara tidak mudah, maka Cian Ling juga menjual mahal. Dia membuat Thian Sin melayaninya dan menyenangkan hati menurut kehendaknya lebih dulu sebelum dia membuka rahasia itu. Dan ternyata rahasia itu tidaklah begitu sukar.

“Kalau engkau menghadapi ilmu menghilang atau ilmu hitam lainnya yang semacam, kau ambillah tanah kemudian sebarkan atau sambitkan tanah itu ke arah suara. Kalau terkena tanah, tentu ilmu itu akan buyar dan orangnya akan nampak lagi.”

Bukan main girangnya hati Thian Sin. Akan tetapi, dia tidak memperlihatkannya kepada Cian Ling, dan dengan sabar dia menanti hingga lewat tiga bulan. Dia hendak membiarkan See-thian-ong, seperti juga Pak-san-kui, tersesat dalam mempelajari Hok-te Sin-kun dan kitab tulisan ayahnya yang sengaja membuat kitab dengan rahasia-rahasia yang hanya diketahuinya sendiri. Orang yang mempelajari kitab-kitab itu tanpa mengenal rahasianya dan melatih diri berdasarkan petunjuk-petunjuk di dalam kitab itu, bukan memperoleh ilmu yang hebat melainkan malah merusak dirinya sendiri!

Sesudah lewat tiga bulan, dia menemui See-thian-ong, diantarkan oleh Cian Ling. Setelah menjura dengan hormat, Thian Sin berkata. “Locianpwe, waktu tiga bulan telah lewat dan kuharap locianpwe suka mengembalikan kitab itu kepadaku.”

Kakek itu tertawa. “Ha-ha-ha, kitabmu memang amat hebat. Akan tetapi, apakah engkau sudah bosan berada di sini? Bosan dengan muridku yang manis ini? Cian Ling, mengapa engkau memperbolehkan dia hendak pergi? Apakah engkau juga sudah bosan?”

“Suhu, aku hendak pergi merantau bersama dia!” jawab muridnya.

“Ha-ha-ha, Ceng Thian Sin. Aku sudah mempelajari kitab-kitabmu, akan tetapi aku belum pernah mempraktekkannya. Oleh karena itu, untuk membuktikan bahwa yang kupelajari itu bukan barang palsu, marilah kita berlatih sebentar dengan ilmu itu.”

Thian Sin mengerutkan alisnya. Tak disangkanya kakek ini demikian cerdik. Akan tetapi, dengan tenang dia menjawab, “Bagaimana jika aku tidak mau melayanimu, locianpwe?”

“Hemm, kalau engkau tidak mau melayaniku pun akan kupaksa! Engkau harus mau, dan sebelum kita bertanding lagi, jangan harap engkau akan dapat mengambil kembali kitab-kitabmu.”

“Maksud locianpwe, kitab-kitabku itu akan dijadikan semacam taruhan? Bagaimana kalau aku menang?”

“Ha-ha-ha, kau menang?” Pertanyaan ini kedengaran lucu sekali oleh datuk itu. Sebelum dia mempelajari kitab-kitab milik pemuda itu, Thian Sin sudah dapat dikalahkannya, mana mungkin sekarang dapat menang? “Apa bila kau menang, maka tentu saja engkau boleh membawa kitab-kitabmu dan juga engkau boleh membawa pergi Cian Ling.”

“Dan kalau aku kalah?” Thian Sin bertanya.

“Jika kau kalah, engkau tidak boleh pergi lagi, harus mau menjadi pembantuku, ha-ha-ha! Senang punya murid putera mendiang Ceng Han Houw!”

Ucapan itu terdengar sebagai hinaan terhadap mendiang ayahnya, maka muka Thian Sin berubah merah. “Locianpwe, karena pertandingan antara kita dulu terjadi di tempat sunyi itu, maka sekarang aku menantang locianpwe untuk melakukan pertandingan di tempat itu lagi. Tentu saja kalau locianpwe berani! Dan aku akan menanti di sana sekarang juga!”

Sesudah berkata demikian, Thian Sin berlari keluar dari tempat itu untuk pergi ke tengah hutan, di padang rumput yang indah dan sunyi itu. Cian Ling segera mengejarnya sambil memanggil-manggil namanya.

Sesudah kedua orang muda itu pergi, See-thian-ong mengerutkan alisnya. Tidak senang hatinya menerima tantangan pemuda itu. Dan hatinya lebih tak senang lagi ketika melihat betapa muridnya itu agaknya benar-benar jatuh cinta kepada Thian Sin.

Tidak mengapa baginya apa bila muridnya itu sekali waktu bermain cinta dengan pria-pria lain. Akan tetapi dia pun tak ingin kehilangan Cian Ling untuk selamanya karena selain dia sangat sayang kepada muridnya yang kadang-kadang juga menjadi kekasihnya itu, juga Cian Ling merupakan seorang pembantu yang sangat boleh diandalkan, bahkan lebih lihai dari pada murid kepala di situ, yaitu Ciang Gu Sik.

“Gu Sik…!” Tiba-tiba kakek itu berseru nyaring.

Muridnya yang setia itu segera berlari masuk dan menjatuhkan diri berlutut di depan kaki gurunya. “Teecu berada di sini, suhu.”

“Gu Sik, tahukah kau bahwa putera pangeran itu menantangku dan kalau menang dia akan membawa kembali kitab-kitabnya dan juga sumoi-mu akan ikut pergi bersamanya?”

Pria muda berwajah pucat itu menghela napas panjang. “Suhu, sumoi masih terlalu muda sehingga dia sangat lemah dan mudah sekali dihanyutkan oleh perasaannya, harap suhu suka memaafkannya.”

“Ha, engkau selalu membela sumoi-mu.”

“Memang teecu sangat mencintanya dan teecu lebih menghargai sumoi dari pada nyawa teecu sendiri.”

“Bukankah itu juga suatu kebodohan?”

“Memang, tapi teecu tidak berdaya…”

“Sudahlah, memang murid-muridku semua lemah! Sekarang, kumpulkan semua sute-mu, juga cepat undang para tokoh silat di kota ini dan sekitarnya untuk datang ke hutan dekat telaga, berkumpul di padang rumput tengah. Pertandingan sekali ini harus disaksikan oleh banyak orang agar mereka semua melihat bahwa putera Pangeran Ceng Han Houw yang terkenal itu dapat kutundukkan. Dan dia telah berjanji kalau kalah maka dia akan menjadi pembantuku!”

Ciang Gu Sik mengerutkan alisnya. Kalau jadi pembantu, berarti pemuda itu akan terus berada di situ, dan ini berarti bahwa dia akan kehilangan sumoi-nya!

“Suhu, kalau dia kalah, bukankah sebaiknya kalau dia dibinasakan saja? Ingat, suhu, jika memelihara macan amatlah berbahaya. Masih kecil dan lemah memang menyenangkan, akan tetapi kalau kelak sudah besar dan kuat, bisa berbahaya bagi yang memeliharanya.”

“Ha-ha-ha, aku mengerti maksudmu. Kita lihat saja bagaimana baiknya nanti. Bagiku, dia dibunuh atau tidak bukan soal lagi. Yang penting sekarang ini, mengalahkan dia di depan banyak orang.”

“Baik, suhu. Teecu akan mengumpulkan kawan-kawan.” Dan pemuda bermuka pucat itu lalu pergi dengan cepat untuk melaksanakan perintah gurunya.

Sementara itu, Thian Sin sudah siap berada di padang rumput di tengah hutan, di mana untuk pertama kalinya dia bertemu dan bertanding dengan See-thian-ong dan dikalahkan kakek itu dengan ilmu sihirnya. Cian Ling menyusulnya dan setelah tiba di tempat itu, dia berkata dengan suara khawatir,

“Thian Sin, engkau terlalu ceroboh. Kenapa engkau tidak mau berunding dulu denganku? Engkau menantang suhu dan membikin suhu marah. Berbahaya sekali, apa lagi sesudah suhu mempelajari kitab-kitabmu, berarti dia sudah mengenal ilmu-ilmumu yang paling kau andalkan.”

Thian Sin tersenyum tenang. “Lebih baik engkau mengkhawatirkan suhu-mu, Cian Ling. Sekali ini, dia tidak akan dapat menangkan aku!”

“Tapi, sungguh amat sulit untuk menangkan suhu, dan kalau kau kalah… sekali ini belum tentu aku akan dapat menolongmu…”

“Kalau sampai aku kalah dan dia membunuhku, aku tidak akan penasaran lagi, Cian Ling. Engkau sudah cukup banyak membantuku.”

“Dan kalau engkau menang?”

“Aku akan meninggalkan tempal ini!”

“Dan engkau akan mengajak aku, bukan?”

Thian Sin menggeleng kepalanya. “Aku akan pergi sendiri, Cian Ling. Persahabatan kita sampai di sini saja. Kelak mungkin sekali kita akan bertemu lagi.”

“Tetapi… aku… aku tidak mau berpisah darimu, Thian Sin… ahhh, aku akan merana, aku akan merindukanmu, aku cinta padamu…”

Thian Sin menggeleng kepalanya dan tersenyum. “Cian Ling, ingatlah bahwa hubungan di antara kita hanya sebagai sahabat, sama sekali tidak pernah ada janji cinta di antara kita dan tidak ada janji bahwa hubungan antara kita ini akan berkelanjutan. Aku mempunyai banyak tugas yang belum kuselesaikan, aku harus pergi, sendirian saja.”

Wajah Cian Ling berubah agak pucat. “Aku… aku akan merasa kehilangan…” Hampir dia menangis.

Sejak kecil gadis ini hidup di kalangan golongan sesat dan belum pernah dia merasa jatuh cinta kepada seorang pria. Hubungannya dengan para pria sebelum dia bertemu dengan Thian Sin hanyalah hubungan jasmani yang tidak pernah menyentuh hatinya. Akan tetapi, hubungannya dengan Thian Sin ini berbeda sama sekali. Bukan hanya hubungan jasmani yang mencari kepuasan belaka, melainkan lebih mendalam, yang membuat ia ingin selalu berdekatan dengan pemuda itu.

Thian Sin tersenyum ramah padanya. Bagaimana pun juga, gadis ini sudah berjasa besar kepadanya. Memberinya kenikmatan dan mengajarnya tentang kemesraan, bahkan telah menyelamatkan nyawanya ketika dia terancam maut di tangan See-thian-ong, kemudian bahkan membantunya menemukan kunci kelemahan ilmu sihir kakek itu.

Bagaimana pun juga, dia akan selalu menganggap gadis itu sebagai seorang sahabat yang baik, seorang penolong. Akan tetapi tidak mungkin dia menerima gadis ini sebagai seorang kekasih yang selamanya akan mendampinginya. Permainan cinta itu, bagaimana pun juga, akan membosankan.

“Tak ada pertemuan tanpa berakhir dengan perpisahan, Cian Ling. Jalan hidup kita saling bersilang, akan tetapi kelak kita tentu akan dapat saling bertemu kembali. Aku akan pergi meninggalkan tempat ini, melanjutkan perjalanan seorang diri saja, akan tetapi kelak kita pasti akan saling berjumpa kembali, karena bagaimana pun juga, aku tidak akan pernah dapat melupakanmu, Cian Ling.”

Sebelum gadis itu menjawab, tiba-tiba saja terdengar suara orang banyak datang dari luar hutan lantas bermunculanlah puluhan orang dari empat penjuru, mengurung tempat itu. Melihat bahwa yang berdatangan itu adalah para pembantu serta murid-murid suhu-nya, juga dia melihat bahwa di antara mereka banyak orang-orang kang-ouw dari Si-ning dan sekitarnya, Cian Ling terkejut bukan main. Permainan apa yang akan dilakukan suhu-nya ini, mendatangkan semua pembantu dan kenalan?

“Hati-hati… mereka adalah orang-orangnya suhu…,” Cian Ling berbisik.

Dan tidak lama kemudian muncullah See-thian-ong! Dia nampak gagah perkasa dengan pakaiannya yang longgar dan sederhana. Rambutnya yang penjang itu digelung ke atas dan diikat dengan pita kuning. Wajahnya yang hitam mengkilat itu berseri-seri dan kedua matanya yang lebar dan bersinar tajam itu nampak gembira.

Memang hatinya gembira sekali, karena dia melihat betapa banyak orang kang-ouw yang berdatangan di tempat itu setelah menerima berita dari muridnya. Dan dia gembira karena sebentar lagi dia akan dapat mengalahkan putera dari Pangeran Ceng Han Houw dengan disaksikan oleh banyak orang.

Kalau saja pemuda itu bukan putera Ceng Han Houw, tentu dia tidak akan mau bersusah payah mengumpulkan banyak orang saksi. Akan tetapi, mengalahkan putera pangeran itu bukanlah hal kecil, merupakan berita besar, apa lagi kalau diingat betapa pemuda putera pangeran itu memang lihai sekali, telah mewarisi banyak ilmu-ilmu tinggi dari Cin-ling-pai!

Yang ditakutinya hanyalah ilmu jungkir balik peninggalan Pangeran Ceng Han Houw itu, akan tetapi kini dia sudah menghafal dan mengenal ilmu itu. Dia tidak takut lagi bahkan merasa yakin bahwa dia akan dapat menundukkan lawan jika pemuda itu mengandalkan ilmu-ilmu dari kitab yang telah dipelajarinya selama tiga bulan.

Begitu melihat kakek raksasa itu, Thian Sin lalu melangkah maju. Baginya, berkumpulnya banyak orang itu tidak menimbulkan rasa gentar, karena dia merasa yakin bahwa seorang datuk yang berkedudukan tinggi dan mempunyai kesaktian seperti See-thian-ong itu tidak mungkin sudi mengandalkan pengeroyokan untuk menghadapi lawan.

Malah mungkin ada untungnya baginya, pikir Thian Sin. Paling tidak, oleh karena banyak orang yang menyaksikan, kakek yang banyak akalnya itu tentu akan merasa malu untuk melakukan kecurangan-kecurangan. Dengan suara lantang dia menyambut kedatangan kakek itu dengan kata-kata yang masih cukup sopan dan halus, namun penuh tantangan.

“Locianpwe See-thian-ong sudah menepati janji! Tiga bulan lewatlah sudah dan sekali ini aku akan mengadu ilmu melawan locianpwe, ada pun kitab-kitab yang kutitipkan kepada locianpwe menjadi taruhan! Harap locianpwe suka mengeluarkan kitab-kitabku itu supaya dipegang oleh orang lain dan siapa yang menang berhak menerima kitab itu.”

See-thian-ong tertawa bergelak. Senang hatinya karena pemuda itu tidak menyinggung di hadapan orang-orang banyak bahwa dia telah meminjam kitab-kitab pemuda itu untuk dia pelajari.

Memang sengaja Thian Sin bersikap demikian untuk melunakkan hati kakek ini sehingga kakek ini tidak akan mempergunakan siasat curang. Membikin marah kakek ini sebelum mereka bertanding, tentu akan berbahaya karena di dalam kemarahannya mungkin kakek ini tidak akan tahu malu lagi dan mempergunakan muslihat yang dapat membahayakan dirinya.

“Ha-ha-ha-ha, kitab-kitab peninggalan Pangeran Ceng Han Houw ini ternyata tidak begitu hebat seperti yang kukira! Ceng Thian Sin, sebagai putera Pangeran Ceng Han Houw dan sebagai murid Cin-ling-pai yang telah mewarisi seluruh ilmu-ilmu dari Cin-ling-pai, engkau sekarang sedang berhadapan dengan See-thian-ong! Tiga bulan yang lalu engkau sudah kukalahkan dan kuampuni nyawamu. Kalau sekali ini engkau berani maju lagi, sama saja halnya dengan engkau mengantar nyawa secara sia-sia. Bagaimana jika engkau mengaku kalah, lalu berlutut delapan kali dan atas nama Pangeran Ceng Han Houw dan atas nama Cin-ling-pai menyatakan tunduk kepada See-thian-ong?” Kata-kata ini dikeluarkan dengan suara keras oleh kakek itu, karena memang maksudnya agar dapat terdengar oleh semua orang.

Thian Sin menerima kata-kata itu dengan hati panas, akan tetapi dia tak mau dipengaruhi kemarahan. Dia lalu memandang ke sekeliling dan melihat betapa wajah orang-orang itu tersenyum mengejek, juga melihat betapa Ciang Gu Sik telah berdiri di belakang gurunya sambil memandang kepadanya penuh kebencian, juga tersenyum mengejek. Hanya Cian Ling seorang yang berdiri dengan muka pucat, memandang padanya dengan sinar mata penuh pernyataan cinta dan juga kekhawatiran.

Thian Sin menghela napas panjang. Sayang sekali, seorang dara seperti Cian Ling telah terperosok ke dalam pecomberan seperti itu, pikirnya dan merasa heran sendiri mengapa dalam saat seperti itu dia memikirkan keadaan gadis itu.

“Locianpwe, kalah atau menang di dalam suatu pibu adalah hal yang wajar dan baru bisa dikatakan kalah atau menang apa bila sudah dibuktikan. Maka, sekarang harap locianpwe suka mengeluarkan kitab-kitabku itu.”

“Ha-ha-ha-ha, kitab-kitab semacam ini tidak ada harganya!” Berkata demikian, kakek itu lantas menggerakkan tangannya dan tahu-tahu ada dua buah kitab yang melayang keluar dari lengan bajunya dan seperti dua ekor burung, kitab-kitab itu melayang-layang, seperti hendak mencari tempat mendarat.

Melihat ini, semua orang yang berada di situ memandang kagum, dan Thian Sin maklum bahwa peristiwa itu bukanlah ilmu sihir, namun sebuah demonstrasi kekuatan khikang dari See-thian-ong yang dengan kekuatannya yang amat besar telah menguasai kitab-kitab itu sehingga dapat dilayangkan ke mana pun dia suka.

“Harap locianpwe berikan kitab-kitab itu kepada Nona Cian Ling yang kupercaya sebagai pemegangnya,” Thian Sin berkata lagi.

Kakek itu masih tersenyum lebar dan begitu dia menudingkan telunjuknya, dua buah kitab itu melayang ke arah Cian Ling dengan kecepatan seperti dua buah peluru meriam! Cian Ling terkejut, menggunakan kedua tangan menerima kitab. Dia berhasil menangkap dua buah kitab itu, akan tetapi saking kuatnya tenaga yang mendorong kitab-kitab itu, wanita ini sampai terhuyung ke belakang.

“Ceng Thian Sin, engkau yang sudah mewarisi ilmu-ilmu Cin-ling-pai serta ilmu-ilmu dari mendiang Pangeran Ceng Han Houw, nah, kau majulah dan keluarkan semua ilmu-ilmu itu!” kata See-thian-ong.

Kini mengertilah Cian Ling mengapa suhu-nya mengumpulkan semua orang kang-ouw di daerah itu. Kiranya suhu-nya hendak mencari saksi untuk memamerkan bahwa dia sudah mampu mengalahkan wakil dari Cin-ling-pai dan putera Pangeran Ceng Han Houw, untuk mengangkat namanya agar lebih tinggi lagi! Juga Thian Sin dapat menduga maksud hati lawannya, maka dia pun tidak mau banyak bicara lagi.

“Awas serangan!” Thian Sin membentak nyaring dan dia sudah menggerakkan tubuhnya menyerang dengan jurus dari Ilmu Silat Pat-hong Sin-kun yang baru-baru ini dipelajari dari Kakek Yap Kun Liong. Dua tangannya yang mengerahkan tenaga Thian-te Sin-ciang, juga ilmu yang didapatnya dari kakek sakti itu, kini mengepulkan uap putih yang mengandung kekuatan dahsyat.

Akan tetapi, kakek tinggi besar itu sudah siap dengan Ilmu Hok-mo-kang yang membuat tubuhnya menggembung, penuh dengan hawa yang dahsyat bukan kepalang sehingga dia tidak takut menghadapi serangan-serangan berbahaya dari lawannya.

Thian Sin hanya memainkan beberapa jurus saja dari Ilmu Silat Pat-hong Sin-kun, dan sesudah beberapa kali mereka saling serang serta mengadu lengan, Thian Sin langsung mengubah lagi caranya bersilat, kini dia mainkan Ilmu Silat Thian-te Sin-ciang.

Juga ilmu silat yang membuat sepasang lengannya sekuat baja ini dia mainkan beberapa jurus saja, lalu disambung dengan San-in Kun-hoat dan Thai-kek Sin-kun dari Cin-ling-pai. Memang pemuda ini sengaja menahan dahulu dan tidak mengeluarkan ilmu simpanannya yang telah dipelajarinya dari peninggalan ayahnya, untuk mengecoh lawan dan agar tidak menimbulkan kecurigaan.

Hal ini membuat lawannya sangat penasaran. Justru ilmu-ilmu dari Pangeran Ceng Han Houw yang selama beberapa bulan ini dengan tekun dipelajarinya dari kitab-kitab itulah yang ingin dia lawan dan dia kalahkan.

“Ceng Thian Sin, mana itu ilmu-ilmu yang tersohor dari mendiang Pangeran Ceng Han Houw? Keluarkanlah, aku tidak takut, ha-ha-ha!”

Thian Sin memang juga sudah menanti saat ini. Begitu lawannya menantang, dia segera mengeluarkan pekik melengking kemudian tiba-tiba saja dia telah menyerang dengan ilmu Hok-liong Sin-ciang yang sangat hebat, ilmu ciptaan Bu Beng Hud-couw yang diwarisinya dari ayahnya.

Melihat pemuda itu menyerangnya dengan jurus kelima dari Ilmu Silat Hok-liong Sin-ciang (Ilmu Silat Sakti Menundukkan Naga), kakek itu tertawa. Dia tentu saja mengenal gerakan ini, karena itu cepat dia bersiap-siap menandinginya sebab telah tahu bagaimana caranya menghadapi jurus ilmu silat ini.

Akan tetapi, ketika dia sudah bergerak dan merasa yakin akan dapat memecahkan jurus ke lima ini sambil tersenyum mengejek, kakek itu terkejut bukan main! Jurus ini memiliki kelihaian dalam pukulan tangan kiri yang tersembunyi dan yang mengarah pada lambung lawan, sedangkan gerakan kaki tangan lainnya merupakan pancingan dan hanya gertakan belaka. Oleh karena itu, maka dengan sendirinya dia waspada terhadap pukulan tangan kiri yang tersembunyi dan tidak terduga-duga itu, yang juga mengandung inti tenaga di dalam jurus itu.

Akan tetapi kenyataannya lain sama sekali! Memang tangan kiri pemuda itu melanjutkan serangan seperti yang terdapat di dalam petunjuk kitab Ilmu Hok-liong Sin-ciang itu, akan tetapi pukulan tangan kiri pemuda ini biasa saja dan ‘kosong’, dan begitu ditangkisnya, tiba-tiba saja dia merasa datangnya hawa pukulan lain dari atas, yaitu dari tangan kanan lawan, yang datangnya berlawanan arah dengan pukulan tangan kiri, sama sekali terbalik!

Dia terkejut dan cepat dia membuang diri ke belakang, lantas bergulingan dan meloncat bangun dengan keringat dingin membasahi dahi. Meski pun dia tadi dapat meloloskan diri, akan tetapi sambaran hawa pukulan dahsyat tadi menyerempet pundaknya yang merasa panas seperti terbakar api!

“Inilah ilmu peninggalan ayahku, Pangeran Ceng Han Houw!” Thian Sin membentak keras dan menyerang lagi dengan Ilmu Hok-liong Sin-ciang!

Akan tetapi sekarang kakek itu sudah menaruh curiga dan tidak terlampau mengandalkan pengetahuannya tentang ilmu itu. Dan memang kini nyatalah olehnya bahwa semua jurus yang dikeluarkan oleh pemuda itu sama sekali berbeda dengan yang sudah dipelajarinya, walau pun nampaknya saja sama. Hanya ada persamaan pada kulitnya, akan tetapi amat berbeda pada isinya. Seperti emas tulen dengan emas palsu. Tahulah dia bahwa dia telah mempelajari kitab palsu dan marahlah See-thian-ong. Dia sudah dipermainkan dan ditipu oleh pemuda ini!

Betapa pun juga, dia merasa sangat penasaran. Pada saat Thian Sin mengubah ilmunya dengan berjungkir balik, yaitu mainkan ilmu silat sakti Hok-te Sin-kun, See-thian-ong yang ingin memamerkan kepandaian kepada semua orang bahwa dia pun dapat mainkan ilmu peninggalan Pangeran Ceng Han Houw, juga segera berjungkir balik untuk mengimbangi permainan lawan.

Akan tetapi kembali dia kecelik, dan sesudah mereka berputar-putar saling serang sampai belasan jurus, See-thian-ong selalu bertemu dengan kenyataan bahwa ilmu berjungkir balik yang dipelajarinya ini pun kosong! Dan kesombongannya untuk memandang rendah lawan ini hampir saja merenggut nyawa datuk dari barat ini!


Tag: Cerita Silat Online, Cersil, Kho Ping Hoo, Pedang Kayu Harum

Thanks for reading Pendekar Sadis Jilid 19.

Back To Top