Cersil Online Karya Kho Ping Hoo

Pendekar Sadis Jilid 30

NENEK itu tersenyum dan mulutnya menjadi miring, bibirnya tinggi dan sepasang mata itu berkilat-kilat. “Pendekar Sadis, apakah engkau berani minum arak dalam cawanmu itu?” sambil berkata demikian, nenek itu mengisi cawannya sendiri dengan arak sampai penuh, dari guci arak yang sama.

Thian Sin adalah seorang pemuda yang selain berkepandaian tinggi, juga amat cerdik. Dia maklum bahwa seorang datuk besar seperti nenek ini yang sudah berani mengangkat diri sebagai datuk wilayah selatan, yang merajai seluruh wilayah selatan, biasanya, seperti para datuk lain, memiliki ketinggian hati yang luar biasa.

Seorang datuk sudah terlalu percaya pada dirinya sendiri dan selalu menjaga kehormatan namanya sebagai seorang yang berada di tingkatan atas. Maka, kiranya tidak mungkinlah kalau seorang datuk seperti Lam-sin ini akan sudi menggunakan racun, suatu perbuatan yang amat rendah dan hanya dilakukan oleh golongan penjahat rendahan saja. Perbuatan seperti ini akan menghancurkan nama besarnya sendiri.

Lam-sin tentu akan menggunakan kepandaiannya untuk menjatuhkannya, bukan dengan mempergunakan racun. Apa lagi Lam-sin belum pernah mencoba sendiri kepandaiannya, maka tak mungkin datuk ini merasa gentar padanya sehingga sampai harus merendahkan diri menggunakan bantuan racun. Dengan pikiran ini, Thian Sin tersenyum memandang kepadanya.

“Andai kata engkau menggunakan racun, Lam-sin, maka aku akan mati sebagai pendekar gagah perkasa yang tidak takut akan kecuranganmu, akan tetapi sebaliknya engkau akan hidup sebagai seorang datuk yang paling rendah di dunia, akan dikutuk sebagai seorang datuk yang wataknya tidak lebih tinggi dari pada seorang penjahat yang paling hina sekali pun! Nah, takut apa minum arak suguhanmu?” Berkata demikian, Thian Sin mengangkat cawan araknya dan minum arak itu sampai habis.

“Heh-heh-heh, bagus sekali. Engkau memang cukup bernyali!” Nenek itu pun lalu minum araknya, akan tetapi bukan seperti lagak seorang jago minum yang kawakan, melainkan seperti seorang nenek lemah yang tidak begitu suka minum arak. Arak di cawan itu hanya diteguk seperempat saja, lalu cawannya dia letakkan kembali di atas meja.

“Nah, silakan, Pendekar Sadis. Makanlah seadanya dan jangan malu-malu, sesudah kita makan baru kita bicara nanti!”

Dan mereka berdua makanlah. Sungguh luar biasa sekali suasana di saat itu. Dua orang tokoh silat yang pada masa itu mendatangkan rasa seram di hati siapa pun juga, bahkan para pendekar menjadi kecil nyalinya apa bila mendengar nama mereka, kini duduk saling berhadapan sambil makan bersama! Padahal, keduanya sudah saling tantang-menantang dan bisa dibayangkan bahwa tak lama lagi mereka berdua akan saling serang dan saling berusaha untuk membunuh lawan.

Namun, melihat betapa mereka itu kini duduk semeja menghadapi hidangan yang banyak macamnya, makan dengan selera yang baik dan tampak enak sekali, seolah-olah mereka berdua itu bukanlah dua orang lawan yang sebentar lagi akan mengadu nyawa melainkan seperti dua orang sahabat lama yang baru saling jumpa dan kini merayakan perjumpaan mereka dengan gembira!

Dan anehnya, mereka itu makan tanpa saling pandang, tanpa mengeluarkan sepatah pun kata. Keduanya makan dengan enaknya, menyumpit sayur ini dan daging itu, tanpa saling menawarkan, seolah-olah mereka itu sedang berlomba makan.

Biar pun keduanya nampak makan bersama, namun terasa suatu tegangan luar biasa di antara mereka, bahkan lima orang pelayan yang berada di pinggiran itu dapat merasakan ketegangan luar biasa yang memenuhi kamar itu. Ketegangan yang amat panas dan yang sebentar lagi akan meledak menjadi suatu perkelahian seru dan mati-matian antara kedua orang yang kini makan minum bersama itu.

Thian Sin makan lebih banyak, juga minum arak lebih banyak. Nenek itu biar pun terlihat makan dengan sama girangnya, akan tetapi sepasang sumpitnya hanya mendorong nasi sedikit demi sedikit saja, dan mengambil sayur atau daging yang potongannya kecil-kecil. Malah araknya pun dilanjutkan dengan anggur yang tidak begitu keras.

Akhirnya, keduanya meletakkan sumpit dan mangkok kosong di atas meja, merasa puas dan kenyang. Sesudah membersihkan mulut dengan minum teh yang disajikan oleh para pelayan, keduanya duduk diam seperti orang bersemedhi. Sementara lima orang pelayan yang tahu akan kewajiban mereka itu, maklum bahwa acara makan minum sudah selesai maka tanpa diperintah lagi mereka segera membersihkan meja, membawa pergi sisa-sisa makanan sehingga sebentar saja meja makan itu pun bersih dan tak ada sedikit pun sisa makanan. Bersih mengkilap setelah digosok kain.

“Keluarlah kalian, tinggalkan kami sendiri,” tiba-tiba nenek itu berkata kepada lima orang pelayannya dan sungguh aneh, nada suaranya seperti orang yang merasa tak senang.

Lima orang pelayan itu saling pandang, tampak ragu-ragu. “Dan para pengawal…?” tanya Si Baju Ungu.

“Tinggalkan kami! Pergilah kalian semua dan jangan perbolehkan siapa pun juga masuk ke rumahku. Dan jangan keluar dari kamar kalian kalau tidak kupanggil!”

“Baik, pangcu…,” jawab mereka berlima dengan sikap takut-takut karena nenek itu terlihat marah.

Sesudah menjura ke arah Thian Sin mereka pun segera pergi dari situ, dengan langkah ringan dan cepat tanda bahwa mereka berlima itu bukanlah wanita-wanita cantik lemah. Hal ini pun dimengerti oleh Thian Sin semenjak dua di antara mereka tadi menyambutnya.

Nenek ini sungguh tinggi hati, pikirnya. Begitu pasti akan dapat memenangkan sehingga dia tidak mau dibantu oleh siapa pun juga! Pantaslah jika menjadi datuk kaum sesat. Dan agaknya memang tentu memiliki ilmu yang hebat maka berani bersikap sesombong ini.

Setelah lima orang pelayannya itu pergi dan meninggalkan mereka berdua saja, nenek itu lalu mengangkat muka memandang kepada Thian Sin. Pemuda itu pun balas memandang dan menanti dengan sikap waspada. Karena nyonya rumah belum bangkit, dia pun masih enak-enak saja duduk, berhadapan dengan nenek itu, hanya terhalang oleh meja.

“Nah, sekarang kita hanya berdua saja di sini. Gedung ini kosong sama sekali, hanya ada kita berdua. Percayakah engkau bahwa Lam-sin bukanlah penjahat kecil yang curang?”

Thian Sin tersenyum dan mengangguk. “Sampai detik ini memang benar demikian, akan tetapi untuk menentukannya harus ditunggu sampai saat terakhir.”

Lam-sin mengeluarkan suara mendengus dari hidungnya. “Huh, selama hidup aku belum pernah membunuh orang tanpa alasan, juga tidak sudi mengotorkan tangan pada orang yang tidak ada nama dan tidak kuketahui riwayatnya. Walau pun jangan dikira bahwa aku tidak dapat menebak siapa adanya engkau ini, Pendekar Sadis!”

Thian Sin tersenyum mengejek. Dia tidak percaya bahwa nenek yang selamanya belum pernah dijumpainya ini dapat tahu siapa dia sesungguhnya. Karena tidak ada orang yang tahu siapakah sebenarnya Pendekar Sadis. Paling-paling nenek ini hanya tahu bahwa dia adalah Pendekar Sadis.

“Benarkah engkau memang tahu siapa diriku sebenarnya?” Thian Sin memancing dengan suara menantang.

“Apabila aku dapat mengetahui siapa dirimu, tahu pula mengapa engkau mencariku dan mengapa engkau memusuhi Bu-tek Kai-pang, dan kalau aku tahu pula semua riwayatmu semenjak engkau kecil, siapa orang tuamu, nah, jika aku tahu semua itu, maukah engkau mendengarkan semua kata-kataku kemudian menemaniku bercakap-cakap, sebelum kita sampai pada akhir tujuan pertemuan ini, yaitu bertanding mati-matian untuk menentukan siapa yang menang dan siapa yang kalah di antara kita?”

Cerewetnya nenek ini, pikir Thian Sin sebal. Akan tetapi dia tertarik juga. Tidak mungkin nenek ini mengetahui semua itu tentang dirinya.

“Baik, nah, sekarang coba kau katakan siapa aku.”

“Namamu adalah Ceng Thian Sin. Benarkah?”

Thian Sin memandang dengan sepasang mata terbelalak. Nenek ini menyebut namanya seolah-olah nama itu tidak asing baginya.

“Engkau adalah putra tunggal dari Pangeran Ceng Han Houw. Ibumu adalah keturunan Cin-ling-pai. Benarkah?”

Thian Sin memandang dan menatap sepasang mata yang bersinar-sinar itu. Nenek ini luar biasa sekali. “Hemmm, kiranya engkau mempunyai jaringan mata-mata yang sangat luas, Lam-sin. Aku tak perlu menyangkal, memang benarlah semua yang kau katakan itu. Nah, selanjutnya bagaimana?”

“Ayah bundamu tewas karena dikeroyok oleh pasukan dan sesudah engkau mempelajari banyak ilmu, engkau lantas membalas kematian ayah bundamu dan engkau membasmi musuh-musuh mereka, termasuk ketua-ketua Hwa-i Kai-pang dan Tok-ciang Sianjin, dan karena hatimu sakit maka engkau menjadi kejam terhadap musuh-musuhmu dan engkau menjadi Pendekar Sadis. Benarkah?”

Thian Sin bangkit berdiri, akan tetapi segera duduk kembali. Ini sudah sangat keterlaluan! Bagaimana nenek ini sampai dapat mengetahui segala hal itu tentang dirinya?

“Aku tidak dapat menyangkalnya pula dan hanya iblis yang tahu bagaimana engkau dapat mengetahui semua itu. Dan sekarang ingin kudengar apakah engkau juga tahu mengapa aku mencarimu? Mengapa aku menantangmu?”

Nenek itu menyeringai yang tentu saja dia maksudkan tersenyum. Thian Sin cepat-cepat membuang pandang matanya supaya tidak usah melihat keburukan muka itu terlalu lama ketika Si Nenek menyeringai. Lalu nenek itu berkata,

“Aha, itu mudah saja. Engkau sengaja memancing dan sengaja mengacau dan menghina Bu-tek Kai-pang untuk memancing aku keluar, bukan? Dan engkau menggunakan Thi-khi I-beng untuk mengalahkan tiga orang ketua pembantuku.”

“Hemmm, jadi engkaukah kiranya bayangan yang menyerangku dengan dua kerikil kecil itu?”

“Hanya untuk memperingatkan padamu bahwa aku juga tahu tentang Thi-khi I-beng dan aku tidak takut menghadapinya! Heh-heh, dan kau kira engkau akan dapat lolos sekiranya aku mempergunakan Bu-tek Kai-pang mengeroyokmu dan aku sendiri keluar?”

“Hemm, kenapa tidak kau lakukan kecurangan itu! Sekarang pun masih belum terlambat. Kalau kau hendak mengerahkan anak buahmu untuk mengeroyokku, aku pun tidak takut, Lam-sin. Karena agaknya engkau sudah tahu semua hal tentang diriku, tentu engkau tahu pula mengapa aku menantangmu dan tahu bahwa aku tidak akan mundur selangkah pun andai kata engkau mengeroyokku.”

“Tentu saja aku tahu. Engkau datang hendak membalaskan kematian keluarga Ciu Khai Sun, bukan? Engkau datang untuk mencari pula Ciu Lian Hong, bukan? Heh-heh-heh!”

Thian Sin bangkit berdiri dan memandang tajam. “Lam-sin! Bila engkau menyembunyikan Hong-moi atau mengganggunya, aku akan…”

Lam-sin masih menyeringai pada saat dia mengeluarkan selipat surat. “Aku sudah cukup bicara, lebih baik engkau membaca sendiri surat dari Lian Hong yang sengaja ditulisnya untukmu ini!”

Thian Sin terlampau kaget dan heran mendengar ucapan ini sampai dia tidak lagi mampu mengeluarkan sebuah kata pun melainkan menerima lipatan kertas itu, lantas dibuka dan dibacanya. Surat itu singkat saja, ditulis dan ditanda tangani oleh Lian Hong dan memang ditujukan kepadanya.

Sin-ko,

Lam-sin adalah subo-ku dan juga subo Lam-sin yang menyelamatkan aku ketika terjadi penyerbuan keluargaku.

Ciu Lian Hong.


Pada waktu membaca surat itu sekali lagi, Thian Sin merasa jantungnya berdebar keras. Kemudian, setelah dia merasa yakin bahwa dia tidak salah baca, dia mengepal kertas itu dan memandang Lam-sin.

“Bagaimana aku dapat merasa yakin bahwa ini adalah tulisan Hong-moi? Aku tak pernah mengenal tulisannya.”

“Terserah kepadamu. Itu juga bukan aku yang minta, tetapi dia sendiri yang meninggalkan surat, katanya untuk mencegah kesalah fahaman seperti yang pernah terjadi saat pemuda bernama Cia Han Tiong, putera Pendekar Lembah Naga itu datang ke sini.”

“Apa? Tiong-ko sudah pernah datang ke sini?”

“Ya, malah juga Pendekar Lembah Naga serta isterinya. Mereka bertiga membawa pergi muridku begitu saja. Keluarga sombong dan tinggi hati! Huh, mual aku apa bila mengingat kesombongan mereka!” Memang nenek itu masih merasa hatinya sakit kalau mengingat betapa keluarga itu memandang rendah padanya, bahkan terang-terangan menolak untuk diajak berkenalan dan bersahabat!

Thian Sin termenung. Hatinya kecewa bukan main. Kalau pencarian mereka terhadap diri Lian Hong dapat dikatakan sebuah perlombaan, lagi-lagi Han Tiong yang menang. Kakak angkatnya itu yang lebih dahulu menolong Lian Hong walau pun Lian Hong agaknya tidak terancam bahaya, malah ditolong dan menjadi murid Lam-sin!

Saking kecewanya, Thian Sin menjatuhkan dirinya duduk di atas bangku lagi, tidak dapat berkata apa-apa hanya berulang kali menarik napas panjang dengan wajah muram tanpa disadarinya sendiri. Akan tetapi semenjak tadi sepasang mata nenek itu mengikuti semua gerak-gerik dan sikapnya, dan tiba-tiba nenek itu terkekeh.

Suara ketawa ini seperti menarik Thian Sin kembali ke alam sadar dan dia memandang kepada nenek itu, kini dengan pandangan lain karena ternyata nenek ini adalah penolong, bahkan menjadi guru Lian Hong. Tentu saja kedudukan ini membuat nenek ini menjadi seorang yang lain lagi, sukar dianggap sebagai musuh! Apa lagi dia tadinya menganggap nenek ini sebagai musuh untuk membalaskan sakit hati Lian Hong, siapa sangka dara itu malah diselamatkan olehnya dan malah diambil sebagai murid!

“Heh-heh-heh-heh, tak usah menjadi patah hati, orang muda. Dunia tidak hanya sesempit telapak tangan, melainkan luas sekali dan di dunia ini, selain Lian Hong, masih banyak terdapat wanita lain!”

Thian Sin terkejut sekali mendengar ini. “Apa…? Apa maksudmu…?”

“Maksudku sudah jelas, engkau mencinta Lian Hong dan merasa kecewa akibat keduluan Cia Han Tiong.”

Kata-kata itu tepat sekali menghantam perasaan Thian Sin karena memang demikianlah keadaan hatinya. Dia memandang tajam. Setankah nenek ini sehingga tahu akan segala hal mengenai dirinya, bahkan tahu juga apa yang terasa oleh hatinya pada saat itu? Akan tetapi dia cepat-cepat menggelengkan kepalanya dan membantah.

“Tidak, engkau salah. Hong-moi itu adalah tunangan Tiong-ko, calon isterinya. Jadi sudah sepatutnya kalau dia pergi bersama Tiong-ko dan keluarga Cia.”

“Hemmm, tidak perlu kau berbohong. Engkau nampak muram dan kecewa, juga berduka. Apa lagi kalau bukan karena patah hati? Seorang wanita tua seperti aku dapat dengan mudah melihat kenyataan itu!”

“Engkau keliru. Aku memang berduka karena aku merasa betapa hidupku sebatang kara di dunia ini.” Thian Sin menarik napas panjang dan dia benar-benar merasa betapa dia amat kesepian, tiada seorang pun yang mencintanya!

Sejenak mereka diam. Kalau Thian Sin tenggelam ke dalam kekecewaan dan kesedihan, nenek itu pun tenggelam ke dalam lamunan. Tiba-tiba nenek itu berkata, suaranya halus dan ramah.

“Ceng Thian Sin, kita ini sama!”

Thian Sin memandang heran. “Sama? Sama bagaimana?”

“Sama sebatang kara, sama kesepian.”

“Ahh, itu tidak mungkin! Engkau adalah Lam-sin, datuk wilayah selatan, ketua dari Bu-tek Kai-pang. Engkau dilayani dan dihormati oleh banyak anak buahmu, bagaimana engkau bisa sebatang kara dan kesepian?”

“Huh, apa itu Bu-tek Kai-pang? Sebelum aku tiba di sini, perkumpulan itu sudah ada. Aku hanya menundukkannya saja, dan aku tak peduli dengan mereka. Bu-tek Kai-pang bukan apa-apa bagiku, melainkan bekas lawan yang sudah menyerah. Aku sungguh sebatang kara dan kesepian, tiada bedanya dengan dirimu, Ceng Thian Sin.”

Pemuda itu memandang penuh perhatian kepada nenek yang luar biasa itu. Sukar untuk dapat diterimanya betapa seorang datuk seperti nenek ini, yang kaya raya dan juga amat berpengaruh, mempunyai kedudukan tinggi dan kekuasaan tak terbatas di selatan, dapat hidup kesepian dan berduka!

“Apakah engkau tidak mempunyai keluarga? Suami, anak atau cucu?”

Nenek itu menggelengkan kepala. “Aku hanya sebatang kara, seperti engkau. Aku… aku tidak pernah tidak mempunyai keluarga…”



Thian Sin terkejut. Kalau seorang nenek setua ini tidak pernah menikah, tentu saja tidak memiliki anggota keluarga seorang pun. Lalu dia menggeleng kepala dan menarik napas. “Sulit bisa dipercaya bahwa seorang datuk seperti engkau dapat hidup menderita duka.”

Nenek itu terkekeh. “Sudah cukup segala cerita sedih ini. Nah, aku sudah bisa mengenal semua keadaanmu, bukan? Sekarang engkau harus memenuhi permintaanku, menemani aku bercakap-cakap sebelum kita bertanding. Nah, mari kuperlihatkan kepadamu keadaan istana kecilku ini. Engkau adalah seorang tamuku sebelum kita nanti berhadapan sebagai lawan.”

Thian Sin yang memang sudah merasa kalah, ikut bangkit dan mengangguk. Nenek itu lalu mengajaknya berkeliling memasuki ruangan-ruangan istananya yang penuh dengan perabot halus dan mahal, penuh dengan hiasan-hiasan yang amat indah.

Di sebuah ruangan besar sebelah kiri terdapat kumpulan lukisan kuno dari pelukis-pelukis kenamaan yang tentu harganya amat mahal. Kumpulan lukisan di ruangan itu saja sudah merupakan sejumlah modal yang amat besar! Dan dia pun dikagumkan oleh pengetahuan nenek itu tentang lukisan karena nenek itu dapat mengenal lukisan-lukisan ini dan mampu pula menceritakan tentang pelukis-pelukisnya, segi-segi keindahan yang khas dari setiap lukisan.

Ketika nenek itu membawanya ke dalam ruangan musik, kembali Thian Sin dibuat kagum. Di ruang itu terdapat alat-alat musik serba indah, bahkan ada sekumpulan alat-alat musik kuno.

“Apakah engkau suka pula dengan musik dan nyanyian, Pendekar Sadis?”

Thian Sin mengangguk, merasa janggal bahwa mereka berdua yang bergaul seperti dua orang sahabat ini sebenarnya adalah calon lawan yang berbahaya, dan juga mendengar nenek itu menyebutnya Pendekar Sadis sungguh tidak sesuai dengan keakraban mereka ketika bersama-sama mengagumi alat-alat musik itu.

“Dan pandai bermain musik pula?”

“Ahh, tidak, aku hanya bisa sedikit meniup suling, kesukaanku sejak anak-anak.”

“Meniup suling? Bagus sekali! Dan aku pun suka meniup suling dan bermain yang-kim. Kalau begitu, mari kita main barang satu dua lagu, Pendekar Sadis!”

Berkata demikian Nenek Lam-sin lalu mengambil sebuah alat musik yang-kim dan dia pun mulai memainkan kawat-kawat yang-kim itu hingga terdengar suara merdu. Melihat cara jari-jemari itu menari-nari di atas kawat-kawat yang-kim dengan lincahnya dan terdengar serangkaian suara merdu, tahulah Thian Sin bahwa nenek ini memang pandai bermain yang-kim.

Kini yang-kim itu mulai memainkan sebuah lagu yang dikenalnya, maka hati pemuda ini pun tertarik sekali dan dia lalu mengambil sebuah suling dan meniup suling itu mengikuti lagu yang dimainkan oleh yang-kim. Maka kini terdengarlah paduan suling dan yang-kim, saling susul, saling membelit dan saling bergandengan, amat cocok dan sedap didengar. Sesudah memainkan dua tiga macam lagu, nenek itu menghentikan permainannya dan bangkit berdiri, sejenak memandang kepada Thian Sin lalu terkekeh.

“Heh-heh-heh, sungguh aneh dan lucu! Julukannya Pendekar Sadis, kabarnya kejamnya melebihi iblis, akan tetapi tiupan sulingnya begitu indah dan penuh perasaan!”

“Dan siapakah yang percaya jika Nenek Lam-sin, datuk sesat yang ditakuti oleh penjahat yang bagaimana pun ganasnya, ternyata pandai bermain yang-kim seperti puteri istana kaisar saja?” kata Thian Sin dan nenek itu tertawa, tiba-tiba suara ketawanya nyaring dan merdu sehingga mengejutkan hati Thian Sin. Nenek itu sungguh merupakan orang yang amat aneh luar biasa.

Kembali Thian Sin menjadi semakin kagum saja ketika nenek itu membawanya ke kamar perpustakaan. Di sana terkumpul kitab-kitab kuno, segala macam kitab sastera dan sajak terdapat di situ!

Satu di antara beberapa kesukaan Thian Sin adalah membaca kitab-kitab kuno, terutama sajak-sajak kuno. Maka melihat begitu banyaknya kitab-kitab sajak di dalam rak-rak buku di kamar perpustakaan itu, tentu saja dia memandang dengan kagum sehingga sepasang matanya bersinar-sinar, ada pun jari-jari tangannya meraba dan memilih-milih kitab-kitab itu dengan lembut.

“Aku mendengar bahwa Pendekar Sadis adalah seorang pelajar yang senang membaca sajak. Kiranya memang benar. Sungguh seorang teman yang sangat menyenangkan! Aku pun suka membaca dan menulis sajak, Pendekar Sadis!”

Ahh, kiranya banyak sifat-sifat nenek ini yang sangat berlawanan dengan nama besarnya sebagai datuk kaum sesat. Dia pernah berjumpa dengan Tung-hai-sian, Pak-san-kui dan See-thian-ong, tiga di antara datuk-datuk kaum sesat dan mereka itu memang semuanya hebat dan juga penuh kekuatan dan kekerasan.

Akan tetapi Lam-sin hanyalah seorang nenek lembut yang pintar bermain yang-kim, pintar pula mengumpulkan lukisan-lukisan yang bernilai dan malah kini suka pula membaca dan menulis sajak! Bukan main. Dia mulai menyangsikan apakah nenek ini juga benar-benar memiliki kelihaian seperti ketiga orang datuk lainnya itu.

Tiba-tiba nenek tua itu bertanya, “Pendekar Sadis, sesudah kita saling bertemu, maukah dalam kesempatan ini engkau menulis sajak untukku sebagai kenang-kenangan?”

Thian Sin mengerutkan alisnya. “Lam-sin, bukankah sebentar lagi kita akan saling serang dan mungkin saja aku atau pun engkau akan roboh dan tewas? Apa perlunya sajak dalam saat seperti ini?”

“Heh-heh, mati adalah soal nanti, sekarang kita hidup maka harus menikmati hidup yang sekarang ini. Andai kata engkau mati dalam pertandingan nanti, sajakmu akan merupakan kenang-kenangan yang cukup baik.”

Thian Sin mengerutkan kedua alisnya. Betapa pun juga, nenek ini sungguh tinggi hati dan merasa yakin bahwa dia akan menang nanti, hal ini telah berkali-kali disindirkan. Maka dia pun lalu berkata,

“Lam-sin, memang engkau benar, akan tetapi kematian dapat menimpa siapa saja dalam pertandingan nanti, termasuk juga engkau. Karena kita belum tahu siapa yang akan roboh dan tewas, maka sebaiknya kalau kita masing-masing menuliskan sajak, agar kalau yang seorang tewas, yang lain masih mempunyai kenang-kenangannya berupa sajak.”

“Ha-ha-ha, bagus! Bagus sekali usulmu dan memang cukup adil. Mari kita menulis sajak masing-masing!” Lam-sin lalu mengeluarkan kertas dan alat tulis yang tersedia di dalam kamar perpustakaan itu. Mereka pun lalu menulis sajak. Thian Sin menulis di atas meja di sudut kiri sedangkan nenek itu menuliskan sajak di atas meja yang berada di sudut kanan kamar.

Mereka selesai hampir berbarengan. Lam-sin selesai lebih dahulu, hanya beberapa menit kemudian Thian Sin pun menyelesaikan sajaknya. Sambil ketawa dan penuh keinginan tahu memancar dari sepasang matanya yang tajam itu, Lam-sin mengajak bertukar kertas yang penuh dengan tulisan. Kemudian, dengan suara lantang, nenek itu pun membacakan sajak tulisan Thian Sin.

“Lam-sin datuk dunia selatan mendatangkan kagum dan heran aku melihat perpaduan antara ketuaan dan kesegaran keganasan dan kelembutan!”

Sementara itu, Thian Sin juga membacakan tulisan tangan yang halus indah, yang sudah dikenalnya dari surat tantangan yang diterimanya.

“Pendekar Sadis yang tersohor kiranya hanya seorang pemuda hijau yang lemah lembut dan halus pandai bersuling dan bersajak betapa amat mengagumkan!”

Mereka saling pandang kemudian keduanya tertawa. Tanpa mereka sengaja, bunyi sajak mereka itu serupa betul. Keduanya menyatakan keheranan masing-masing sekaligus juga kekaguman hati masing-masing terhadap satu sama lain!

“Lam-sin, sungguh tulisanmu amat indah dan sajakmu juga indah bukan main,” Thian Sin memuji.

“Hemm, kepandaianmu menulis sajak juga sangat mengejutkan hatiku, Pendekar Sadis,” Nenek itu berkata.

Dan pada saat itu, sama sekali tidak terasa adanya permusuhan di dalam hati Thian Sin! Maka, sebagai penyesalan bahwa dia terpaksa harus bertanding melawan datuk ini, kalau pun bukan karena keluarga Ciu juga untuk membuktikan bahwa dia mampu mengalahkan semua datuk sesat sehingga dengan demikian ia akan mengangkat nama besar ayahnya dan melanjutkan cita-cita ayahnya untuk menjadi jagoan nomor satu di dunia, dia berkata.

“Lam-sin seorang tokoh seperti engkau ini, yang sudah tua dan memiliki banyak macam ilmu kepandaian yang hebat, dan yang sama sekali tidak patut menjadi seorang golongan sesat, mengapa engkau sampai menjadi datuk kaum sesat?”

“Hemm, apa kau kira aku menjadi datuk kaum sesat di selatan karena memang aku suka menjadi orang yang dianggap jahat? Huh, aku muak dengan sikap para pendekar sakti seperti keluarga Cia itu, yang merasa dirinya sendiri saja yang pandai, gagah dan bersih, memandang rendah kepada golongan lain. Aku tak peduli dianggap jahat dan engkau pun boleh saja memandang aku sebagai seorang datuk yang jahat. Akan tetapi ketahuilah, Pendekar Sadis yang tidak menyeramkan, bahwa dalam golongan hitam atau kaum sesat perlu ada yang ditakuti supaya mereka itu dapat terkendali. Kalau mereka itu tidak dapat dikendalikan, kalau tidak ada yang mereka takuti, maka mereka itu akan menjadi liar dan hal ini sangatlah berbahaya bagi seluruh rakyat. Biarlah aku disebut datuk kaum sesat, rajanya penjahat, akan tetapi aku paling benci bila melihat penindasan, apa lagi melihat perkosaan terhadap wanita. Kau tahu kenapa aku menolong Lian Hong dan menganggap dia sebagai murid? Karena dia hendak diperkosa orang dan tahukah engkau siapa orang itu? Seorang anggota Bu-tek Kai-pang sendiri, dan aku telah membunuhnya sendiri!”

“Hemm, memang aku melihat ada kejanggalan pada dirimu, Lam-sin. Ketika berhadapan denganmu, sungguh sama sekali aku tidak merasa sedang berhadapan dengan seorang datuk sesat, berbeda dengan ketika aku berhadapan dengan tiga orang datuk yang lain di utara, timur dan barat. Maka sungguh luar biasa kalau orang seperti engkau ini semenjak dahulu tidak pernah berkeluarga. Kalau kau lakukan hal itu, tentu sekarang engkau sudah menjadi seorang nenek yang dikelilingi cucu-cucunya yang tercinta.”

Mendengar kata-kata itu Lam-sin langsung menundukkan mukanya, sementara Thian Sin hanya memandang, mengira bahwa nenek itu tentu menjadi sedih mendengar ucapannya. Tiba-tiba nenek itu mengangkat mukanya dan Thian Sin terkejut sekali. Sepasang mata itu demikian tajamnya, mencorong seperti hendak menembus jantungnya dan mulut yang keriputan itu bertanya,

“Ceng Thian Sin, pernahkah engkau jatuh cinta?”

Thian Sin terkejut sekali, bukan hanya karena sinar mata yang tajam itu, akan tetapi juga mendengar nenek itu dengan tiba-tiba saja menyebut namanya secara lengkap, tidak lagi memanggil nama julukannya dengan nada yang mengejek. Juga dia terkejut dan bingung menerima pertanyaan yang sama sekali tak pernah disangkanya itu

“Cinta? Jatuh cinta? Ahh, aku sendiri tidak tahu. Memang banyak wanita cantik yang telah menarik perhatianku, akan tetapi jatuh cinta…? Ahh, aku tidak mengerti…”

“Hemm, bukankah engkau mencinta Lian Hong?”

Thian Sin menunduk lantas menarik napas panjang. Sukar menyangkal di hadapan nenek yang matanya tajam ini. “Entahlah, memang pernah aku jatuh cinta kepada gadis-gadis lain sebelumnya. Akan tetapi sesudah Hong-moi menjadi tunangan Tiong-ko, seperti juga dengan gadis-gadis sebelumnya yang gagal menjadi milikku, aku meragu lagi apakah aku benar-benar mencinta mereka itu. Aku tidak tahu apa-apa mengenai cinta, mungkin hanya menyangka saja bahwa aku pernah jatuh cinta kepada setiap gadis yang menarik hatiku.” Thian Sin berhenti sebentar, kemudian menyambung sambil menatap wajah keriputan itu, “Engkau sendiri bagaimana, Lam-sin. Engkau belum pernah menikah, apakah itu berarti bahwa sampai setua ini engkau juga belum pernah jatuh cinta?”

Nenek itu menggelengkan kepalanya. “Tidak pernah ada yang pantas menerima cintaku!” Setelah menjawab demikian, dia pun menyambung cepat, “Mari kita ke lian-bu-thia!”

Thian Sin tidak menjawab, hanya mengikuti nenek itu. Hatinya merasa ragu-ragu. Setelah nenek itu mengajak dirinya ke lian-bu-thia (ruangan berlatih silat) maka maksudnya tentu untuk mengajak dia bertanding. Dan kini dia ragu-ragu!

Bukannya dia takut menghadapi datuk ini. Akan tetapi untuk apa dia bertanding melawan nenek ini? Seorang nenek tua yang pandai bersajak, pandai bermain musik, yang begitu lemah lembut nampaknya.

Dia tahu bahwa apa bila dalam pertandingan ini dia berhasil merobohkan dan membunuh nenek ini, dia akan merasa menyesal selama hidupnya. Mungkinkah dia dapat berbangga mengalahkan seorang nenek tua renta seperti ini? Dan jika dia kalah pun akan membuat namanya menjadi bahan tertawaan orang-orang di seluruh dunia! Akan tetapi, dia sudah tidak dapat mundur lagi.

Seperti pada ruangan-ruangan lainnya, juga di ruangan ini Thian Sin melihat keadaan yang amat mewah dan indah. Di samping sangat luas dan bersih, ruangan lian-bu-thia ini juga mempunyai banyak jendela di atas sehingga udaranya segar, sungguh amat baik dipakai berlatih silat atau pun berlatih semedhi. Di sudut terdapat rak senjata yang penuh dengan segala macam senjata yang serba indah dan juga amat baik buatannya, dari bahan baja yang baik pula.

“Nah, sekarang tibalah saatnya bagi kita untuk mengadu ilmu silat. Bukankah itu yang kau kehendaki ketika engkau datang ke kota Heng-yang kemudian mencari gara-gara dengan orang-orang Bu-tek Kai-pang?”

Thian Sin mengangguk. “Tadinya memang begitu, demi membalaskan kematian keluarga Ciu, akan tetapi sekarang…”

“Sekarang bagaimana? Engkau takut? Heh-heh-heh!”

Merah muka Thian Sin. “Siapa takut kepadamu? Tapi, sekarang tidak ada alasannya lagi mengapa aku harus membunuhmu.”

“Engkau membunuhku? Hemm, jangan mimpi, orang muda. Dan tentang alasan, apakah kematian banyak anak buah Bu-tek Kai-pang itu masih belum cukup untuk membuat aku membunuhmu?”

Legalah rasa hati Thian Sin. Memang hal itu merupakan alasan yang cukup kuat baginya untuk menghadapi Lam-sin sebagai musuh.

“Bagus! Engkau tentu saja boleh membalaskan kematian para anak buahmu itu. Marilah, Lam-sin, kita bereskan perhitungan antara kita!” Dan pemuda itu lalu meloncat ke tengah ruangan lian-bu-thia lantas berdiri tegak dengan sikap tenang.

Dengan gerakan ringan bagaikan seekor burung pipit terbang saja, Lam-sin juga meloncat ke depannya. Thian Sin segera waspada. Dia maklum bahwa meski pun dia belum dapat mengetahui sampai di mana kepandaian nenek ini, akan tetapi satu hal yang sudah jelas adalah bahwa nenek ini memiliki ilmu ginkang yang hebat, yang tidak berada di sebelah bawah kepandaiannya sendiri.

“Menurut penuturan Lian Hong, ergkau mewarisi ilmu-ilmu dari Pendekar Lembah Naga, juga ilmu-ilmu dari keluarga Cin-ling-pai, bahkan telah menguasai Thi-khi I-beng, padahal Cia Han Tiong sendiri tidak pandai ilmu mukjijat itu. Agaknya, dalam hal ilmu silat, engkau malah lebih lihai dari pada putera Pendekar Lembah Naga. Nah, kini keluarkanlah semua ilmumu itu, orang muda!” Lam-sin menantang.

Thian Sin melihat bahwa di balik jubah nenek itu ada tersembunyi sepasang pedang tipis dengan gagang emas, berukir kepala ular, maka dia pun dapat menduga bahwa nenek ini tentu ahli bermain pedang pasangan. Akan tetapi pada waktu itu Lam-sin tidak mencabut keluar sepasang pedangnya, maka dia segera bertanya, “Lam-sin, kita bertanding dengan tangan kosong ataukah engkau hendak mempergunakan sepasang pedangmu itu?”

Nenek itu tersenyum menyeringai dan mengejek. “Apa sih bedanya dengan pedang atau tidak? Kedua tanganku ini dapat membunuh lebih cepat dari pada pedang kalau memang diperlukan. Kita berhadapan sebagai lawan, perlu apa kau tanya pakai senjata atau tidak? Kalau engkau sendiri mempunyai seribu macam senjata, keluarkanlah itu semua, aku tak akan undur selangkah pun!”

“Nenek sombong, tidak perlu banyak cakap lagi, sambutlah ini!” Thian Sin lalu menampar dengan gerakan sembarangan, tapi dia mengerahkan tenaga Thian-te Sin-ciang sehingga tangannya didahului sambaran angin pukulan yang dahsyat.

Akan tetapi, dengan gerakan yang sangat lincah sehingga tidak sesuai dengan orangnya yang sudah demikian tua, Lam-sin mengelak lantas dengan sama cepatnya, dari samping dia pun sudah membalas serangan Thian Sin dengan pukulan tangan kiri ke arah dada. Pukulan itu ringan bukan main, seperti kapas saja!

Akan tetapi Thian Sin langsung mengelak karena dia mengenal pukulan ampuh. Pukulan yang sangat ringan ini adalah pukulan Ilmu Silat Bian-kun (Ilmu Silat Tangan Kapas) yang nampaknya saja lembut dan tidak mengandung tenaga kasar sedikit pun. Namun jangan kira pukulan itu tidak berbahaya sebab di balik keringanan dan kelembutan itu terkandung tenaga sinkang yang sudah mencapai tingkat tinggi sekali sehingga orang yang terkena pukulan, meski pun kulitnya tidak lecet, akan tetapi di sebelah dalam tubuhnya bisa rusak dan terluka parah.

Mereka mulai saling pukul. Karena Lam-sin mengandalkan ginkang-nya, maka terpaksa Thian Sin mengimbanginya. Gerakan mereka cepat bukan main dan tiap pukulan, setelah dielakkan, disambut dengan pukulan juga sehingga dalam waktu singkat, gerakan mereka yang cepat itu sudah melewati tiga puluh jurus di mana mereka saling pukul namun selalu mengenai tempat kosong sebab keduanya menghindarkan diri dengan elakan-elakan yang tepat dan cepat.

Sesudah lewat tiga puluh jurus dengan mengandalkan kecepatan gerakan, tahulah Thian Sin bahwa kalau dia terus mengandalkan ginkang, maka dia akan menderita rugi karena harus diakuinya bahwa dalam ilmu ini, dia masih kalah setingkat oleh lawannya! Maka dia pun lalu mengerahkan sinkang-nya, segera menghentikan gerakan bersicepat itu dan kini dia memasang kuda-kuda dengan teguhnya, lalu mengubah ilmu silatnya.

Tadi, ketika dia berusaha mengimbangi kecepatan lawan, dia telah memainkan Ilmu Silat Pat-hong Sin-kun (Silat Sakti Delapan Penjuru Angin) yang dulu diterimanya dari pendekar sakti Yap Kun Liong. Dengan ilmu ini dia dapat bergerak cepat, atau setidaknya mampu membendung banjir serangan dari lawan yang memiliki kecepatan luar biasa itu. Kini, dia menghentikan gerakan cepatnya dan mengubah ilmu silatnya dengan Ilmu Silat Thai-kek Sin-kun yang kokoh kuat dan indah itu.

Melihat lawan mengubah ilmu silatnya, kalau tadi amat cepat dan seolah-olah lawannya itu berubah menjadi delapan orang sehingga diam-diam Lam-sin kagum sekali, tetapi kini berubah lambat dan kokoh kuat, Lam-sin tetap menyerang dengan sama cepatnya, hanya bedanya, kini dia mengarahkan satu pukulan ke kepala lawan dengan tenaga yang sangat dahsyat, bukan dengan tenaga halus seperti tadi.

“Haiiittt…!” Dia membentak, lalu terdengar desir angin pada saat pukulannya meluncur ke depan.

“Hemmm…!” Thian Sin cepat menangkis dengan gerakan tangkas dan kuat sekali karena memang dia sengaja mengerahkan tenaga untuk menangkis sambil mengadu kekuatan sinkang. Tentu saja untuk ini dia mengandalkan tenaga Thian-te Sin-ciang yang hebat itu.

“Dukkk…!”

Benturan dua lengan yang mengandung tenaga sinkang amat kuat itu hebat bukan main dan akibatnya, Thian Sin terdorong mundur dua langkah akan tetapi Lam-sin sendiri juga terhuyung ke belakang sampai tiga langkah!

Nenek itu terkejut bukan kepalang. Selama ini, belum pernah dia menemukan lawan yang sanggup menandinginya dalam hal ginkang dan sinkang. Sekarang, walau pun dalam hal ginkang (ilmu meringankan tubuh) pemuda itu masih kalah sedikit olehnya, akan tetapi sebaliknya di dalam hal sinkang agaknya dia kalah kuat! Hal ini membuatnya penasaran bukan main dan sambil menjerit, dia sudah menerjang lagi dan sekali ini dia mengerahkan seluruh tenaganya, menghantamkan lagi tangan kiri ke arah ubun-ubun kepala Thian Sin.

Pemuda ini maklum bahwa lawannya merasa penasaran, maka sambil tersenyum dia pun menangkis kembali, dan karena dia tahu bahwa lawannya mengerahkan seluruh tenaga, maka dia pun menggunakan tenaga Thian-te Sin-ciang yang masih ditambahnya dengan khikang yang diperolehnya dalam latihan ilmu peninggalan ayahnya.

“Desss…!”

Tubuh Thian Sin terhuyung sampai tiga meter ke belakang, akan tetapi sebaliknya, tubuh nenek itu terbanting roboh!

Nenek itu terkejut, namun dia cepat menggulingkan tubuhnya dan meloncat bangkit lagi, memandang dengan mata terbelalak. Bukan main marahnya dan dia sudah meloncat ke depan lagi. Thian Sin menyambutnya dengan tamparan dan menggunakan satu jurus dari San-in Kun-hoat sambil mengeluarkan pukulan Pek-in-ciang sehingga dari dua tangannya mengepul uap putih.

Melihat ini, nenek itu kagum sekali, akan tetapi cepat mengelak karena kini ia tahu bahwa mengadu tenaga akan merugikan dirinya. Maka dia telah mengubah lagi gerakannya, kini mengandalkan ginkang-nya untuk mendapat kemenangan. Setelah dia mengelak, tiba-tiba saja mulutnya berseru nyaring dan mendadak ada sinar hitam menyambar dari samping ke arah pelipis kepala Thian Sin. Sinar hitam itu menyambar seperti ular hidup.

Thian Sin cepat menundukkan kepalanya supaya dapat menghindarkan diri, dan ternyata sinar hitam laksana ular itu adalah kuncir rambut! Nenek itu mempunyai rambut panjang, sepanjang pinggangnya sesudah kuncir itu terlepas dari sanggulnya, dan anehnya, kalau rambut yang menutupi kepala itu tadi nampak putih penuh uban, setelah kini rambut yang panjang itu terlepas dari sanggul dan tergantung sebagai kuncir tebal, rambut itu masih nampak hitam dan subur sekali. Juga ketika menyambar lewat, Thian Sin dapat mencium keharuman kembang.

Kembali rambut itu menyambar-nyambar dengan ganasnya, lalu disusul dengan pukulan-pukulan sepasang tangan dan bahkan kini nenek itu juga mulai menggunakan kaki untuk menendang sehingga serangannya benar-benar amat dahsyat. Kedua kaki, kedua tangan dibantu oleh kuncir yang berbahaya itu, menyerang bertubi-tubi dan diam-diam Thian Sin kagum bukan main.

Pantaslah jika nenek ini menjadi datuk sebab ilmu silatnya memang hebat, kecepatannya sangat menggiriskan, bahkan rambutnya itu pun merupakan senjata yang lebih berbahaya dibandingkan kaki atau tangan wanita renta itu. Maka terpaksa dia pun harus cepat-cepat mengelak atau menangkis pukulan dan tendangan, akan tetapi dia tidak berani menangkis rambut karena maklum bahwa kalau ditangkis, rambut yang lemas itu dapat melibat dan membelit seperti ular sehingga dia akan terancam bahaya.

Thian Sin mulai terdesak oleh serangan-serangan yang sangat dahsyat itu. Tiba-tiba saja pemuda ini mengeluarkan kipasnya dan juga melolos sebuah sabuk kuning yang tadinya melibat di pinggangnya. Menghadapi rambut itu, dia teringat akan ilmu permainan sabuk yang dia pelajari dari neneknya, yaitu Cia Giok Keng.

Dia tahu bahwa satu-satunya senjata yang sanggup melawan senjata rambut itu hanyalah sabuknya ini. Sabuk ini memiliki sifat yang sama dengan rambut, lemas dan kalau perlu dapat juga dibuat kaku dengan penyaluran sinkang. Ada pun kipasnya bisa dipergunakan untuk menotok, atau kadang-kadang tangan yang memegang kipas itu tetap saja dapat mengirim pukulan.

Kembali lewat lima puluh jurus. Benar saja, setelah Thian Sin mempergunakan sabuknya yang dimainkan secara hebat dan indah sehingga sabuk itu bagaikan seekor naga kuning yang melayang-layang, dengan ujung sabuk yang dapat menotok jalan darah dan dapat pula dipergunakan untuk mematikan gerakan rambut lawan, maka nenek itu pun kembali terdesak.

“Lihat jarumku!” tiba-tiba nenek itu membentak dan ada sinar merah menyambar seperti kilat.

Thian Sin terkejut sekali, cepat mengebut dengan kipasnya sambil melempar tubuhnya ke belakang lantas dia bergulingan. Kipasnya sudah berlubang oleh jarum-jarum merah yang beracun! Keringat dingin segera membasahi lehernya karena pemuda ini maklum bahwa baru saja dia terlepas dari bahaya maut yang nyaris merenggut nyawanya!

Nenek itu tertawa dan melanjutkan serangannya, kini dengan sepasang pedang di kedua tangannya. Dia sudah mencabut siang-kiam (sepasang pedang) dan segera bergerak ke depan, menyerang Thian Sin bertubi-tubi. Nampak dua gulungan sinar hitam menyambar-nyambar dan membuat gulungan yang lebar.

Ternyata dua batang pedang itu adalah pedang yang berwarna hitam! Dan begitu kedua pedang itu bergerak maka Thian Sin harus cepat-cepat berloncatan ke belakang. Gerakan sepasang pedang itu amat hebatnya, juga aneh sekali. Maka tahulah dia bahwa nenek itu benar-benar sangat lihai dengan siang-kiamnya. Dia tidak tahu bahwa ilmu pedang nenek itu disebut Hok-mo Siang-kiam (Sepasang Pedang Penakluk Iblis) yang mempunyai dasar yang sama dengan Hok-mo-pang yang diajarkan oleh nenek ini kepada para pimpinan Bu-tek Kai-pang.

Memang hebat permainan pedang nenek itu sehingga biar pun Thian Sin sudah berusaha untuk memutar kipas dan sabuknya, tetapi tetap saja dia terdesak, bahkan lewat belasan jurus kemudian, ujung sabuk kuningnya sudah terbabat putus oleh sinar hitam! Nenek itu terkekeh senang dan serangannya menjadi semakin hebat.

Thian Sin terpaksa menyimpan sabuknya lantas mencabut keluar Gin-hwa-kiam. Nampak sinar perak berkelebat.

“Trang! Cringgg…!”

Nampak bunga api berpijar pada waktu dua kali pedang di tangan Thian Sin menangkis sepasang pedang hitam. Nenek itu merasa tangannya tergetar hebat. Memang dia tahu akan kekuatan dahsyat pemuda itu, maka dia pun cepat-cepat menyerang lagi, tidak mau mengadu senjata lagi.

Thian Sin juga memutar pedangnya, menangkis, mengelak dan balas menyerang dengan pedangnya yang dibantu oleh kipasnya! Akan tetapi, nenek itu memang luar biasa sekali. Sepasang pedang hitam itu masih dibantu dengan gerakan kepalanya sehingga membuat kuncirnya seperti menjadi pedang ketiga. Sama hitamnya, tidak kalah cepatnya dan juga berbahayanya. Thian Sin tidak berani main-main lagi. Kini dia tahu benar bahwa di antara empat orang datuk itu, nenek inilah yang paling berbahaya dan lihai!

Maka, sesudah semenjak tadi mereka bertanding lebih dari seratus jurus tanpa ada yang menang atau kalah dan mereka itu saling mendesak, Thian Sin lalu mengeluarkan suara melengking panjang dan sesudah menyimpan kipasnya, tiba-tiba tangan kirinya membuat gerakan menyerong miring, lantas dari tangan ini menyambar angin pukulan dahsyat, dan dia membarengi dengan tusukan pedangnya.

Serangan tangan kiri itu dahsyat bukan kepalang karena dia sudah mengeluarkan ilmunya yang dahsyat, yaitu Hok-liong Sin-ciang, ilmu yang telah disempurnakannya di dalam goa, langsung di bawah bimbingan bayangan Bu-beng Hud-couw sendiri berdasarkan ilmu dari kitab peninggalan mendiang ayah kandungnya.

Nenek itu mengeluarkan teriakan kaget dan sebatang pedangnya, yakni yang kiri, terlepas dari pegangan tangan. Dia masih mampu menangkis, kemudian menahan desakan Thian Sin dengan sambitan jarum merahnya. Thian Sin mengelak dan memutar pedangnya, lalu menyerang lagi, kini malah menggunakan ilmu Hok-liong Sin-ciang.

Nenek itu bingung menghadapi serangan-serangan ini. Pedangnya tidak ada artinya lagi karena sebelum pedangnya dapat menyentuh lawan, sudah ada sambaran hawa pukulan dahsyat yang membuat dia selalu terdorong mundur. Maka nenek itu pun menjadi nekat. Dia mengerahkan seluruh khikang-nya dan melawan keras sama keras!

Beberapa kali jurus-jurus yang dikeluarkan Thian Sin disambut oleh wanita tua itu hingga akibatnya Nenek Lam-sin terlempar dan terbanting. Akan tetapi, dia memang nekat dan kuat sekali. Agaknya tubuh yang tua renta itu mengandung kekuatan yang luar biasa dan kekebalan sehingga beberapa kali terbanting, dia masih terus melawan dengan nekat dan bahkan lebih ganas lagi. Thian Sin sendiri sampai merasa penasaran, kasihan dan tidak enak sekali. Mengapa nenek ini masih belum juga mengaku kalah?

Ketika nenek itu menubruk, Thian Sin menyambut dan menangkap pergelangan tangan yang memegang pedang, lalu dia menggerahkan Thi-khi I-beng! Nenek itu menjerit, akan tetapi tiba-tiba saja seluruh tubuhnya lalu mengendur sehingga sinkang tak lagi membanjir keluar. Agaknya nenek yang sangat lihai ini memiliki kecerdikan sehingga dia tahu persis bagaimana menghadapi Thi-khi I-beng.

Kepalanya cepat bergerak, rambutnya yang panjang menyambar dan dua kali, seperti ular hidup, ujung kuncir itu menotok ke arah kedua mata Thian Sin. Diserang seperti ini, tentu saja Thian Sin harus melepaskan pedangnya dan meloncat ke belakang. Kedua matanya tentu saja tidak dapat dilindungi dengan kekebalan.

Karena mulai kehabisan akal bagaimana untuk dapat mengalahkan nenek ini tanpa perlu membunuhnya, mendadak Thian Sin berjungkir balik dan dia sudah menggunakan Hok-te Sin-kun, tahu-tahu tubuhnya yang berjungkir balik itu mencelat ke depan lantas terdengar nenek itu berteriak kaget dan roboh terguling, kedua kakinya terasa lumpuh karena telah kena ditotok oleh jari-jari tangan Thian Sin yang tubuhnya berjungkir balik itu.

Sebelum pedang itu kembali menyambar, yaitu pedang hitam kanan yang masih dipegang oleh Lam-sin, Thian Sin sudah meloncat ke belakang. Sambil memandang kepada nenek yang tidak mampu berdiri lagi itu, dia berkata,

“Lam-sin apakah engkau belum juga mengaku kalah?”

Sejenak mereka mengadu pandang mata. Dan Thian Sin terkejut, sekaligus juga kasihan karena melihat nenek itu tiba-tiba saja menangis! Thian Sin tidak dapat berkata apa-apa, terheran-heran melihat hal yang sama sekali tidak pernah disangkanya ini. Lam-sin, datuk kaum sesat dari selatan ini, menangis seperti anak kecil! Menangis terisak-isak!

“Kau… kau kenapakah, nek?” Thian Sin bertanya sambil mendekati.

“Aku sudah kalah… lebih baik mati…!” Berkata demikian, Lam-sin menggerakkan pedang hitamnya ke arah leher sendiri.

“Jangan…!” Secepat kilat Thian Sin menubruk dan menangkap pergelangan tangan nenek itu.

Lam-sin meronta, akan tetapi Thian Sin segera merangkul dan memeluknya, memegangi pula pergelangan tangan kirinya. Karena kedua kaki Lam-sin tak dapat digerakkan, masih dalam pengaruh totokan, maka tenaga rontaannya tentu saja sangat berkurang, bahkan menjadi lemah sehingga dia tidak meronta lagi, melainkan menangis.

Sementara itu, ketika mencegah nenek itu membunuh diri dan memeluknya secara tidak sengaja, tangan berikut tubuh Thian Sin berhimpitan dengan tubuh nenek itu dan dia pun merasakan sesuatu yang amat aneh. Tubuh nenek itu padat, mengkal dan penuh, sama sekali bukan seperti tubuh seorang nenek tua renta, melainkan lebih pantas jika menjadi tubuh seorang dara!

“Kenapa engkau hendak membunuh diri hanya karena kalah olehku, Lam-sin?” Thian Sin bertanya, masih merangkul dan memegangi tangan Lam-sin walau pun pedang hitam itu sudah terlepas dari pegangan nenek itu.

“Engkau tahu… mengapa sampai saat ini aku belum menikah?” Akhirnya Lam-sin berkata dan ketika Thian Sin menggeleng kepala menyatakan tidak tahu, nenek itu melanjutkan, “Aku sudah bersumpah bahwa aku hanya akan menyerahkan diriku kepada seorang pria yang dapat mengalahkan aku… dan sampai detik ini… sebelum ini tidak ada seorang pun pria yang mampu menandingiku… karena itu aku belum pernah… sampai sekarang aku masih perawan… dan setelah akhirnya ada yang dapat mengalahkan aku… hu-hu-huh… engkau… engkau tentu tidak akan sudi menerimaku… maka dari pada aku terhina, lebih baik aku mati…!”

Thian Sin tersenyum dan mendekap kepala wanita yang menangis itu ke dadanya. Bukan hanya tubuh itu yang terasa hangat dan padat seperti tubuh orang muda, juga setelah dia merangkul dan berada dekat dengan nenek ini, dia melihat suatu hal yang tidak mungkin. Sepasang mata itu demikian jeli dan beningnya, sama sekali bukan mata nenek-nenek biar pun di pinggir mata itu keriputan.

Dan sekarang, setelah dekat sekali, baru Thian Sin melihat betapa ketika nenek ini bicara tadi, keriput pada pipinya, di tepi hidung dan mulut, juga di tepi matanya, sama sekali tak berubah, sama sekali tak bergerak. Mana ada keriput begitu kaku sehingga tidak bergerak ketika mulut bicara?

Juga suara nenek ini demikian halus dan bening, juga tidak seperti nenek tua, melainkan suara yang penuh dan suara orang muda. Dan gigi itu! Gigi yang berderet berwarna putih bersih, biar pun nenek itu berusaha untuk tidak membuka mulut terlalu lebar agar giginya jangan nampak.

“Engkau keliru, nenek tua renta yang baik!” Thian Sin berkata. “Biar pun engkau seorang nenek, namun engkau masih perawan, tubuhmu belum terjamah pria lain. Kalau memang demikian sumpahmu, aku pun bersedia menerimamu, aku bersedia membantumu untuk memenuhi sumpahmu.”

“Kau… kau mau…?” Lam-sin berkata dengan mata terbelalak.

Thian Sin melihat betapa indahnya mata itu. Dia pun tersenyum dan mengangguk, lalu dia memondong tubuh nenek itu dengan mudah dan ringannya.

“Benarkah kau… kau mau…?” Nenek itu seolah-olah tidak percaya.

Thian Sin mengangguk dan menundukkan mukanya, mencium ke arah leher di balik baju leher yang agak tersingkap itu. Leher yang kulitnya putih kuning dan halus, sedikit pun tak ada keriputnya seperti yang sudah diduganya, dan dia dapat mencium bau harum minyak wangi.

“Di antara seluruh kamar yang ada di dalam istana ini, hanya kamar tidur saja yang tadi belum kulihat, karena itu coba tunjukkan di mana kamar tidurmu, maka aku akan buktikan bahwa aku akan membantumu memenuhi sumpahmu, Lam-sin.”

Ketika dicium lehernya tadi, seketika tubuh Lam-sin menjadi lemas dan kedua lengannya sudah merangkul leher pemuda yang memondongnya, dan hanya terdengar bisikan dari muka yang disembunyian di dada Thian Sin, “Ke kiri… melalui pintu kiri itu…”

Thian Sin segera melangkah sambil memondong tubuh Lam-sin, memasuki pintu kiri dan selanjutnya, tanpa pernah mengangkat muka dari tempat persembunyiannya, Lam-sin lalu menunjukkan di mana adanya kamarnya. Karena tadi sudah diperintah oleh Lam-sin, lima orang pelayannya sama sekali tidak nampak karena mereka itu berdiam di dalam kamar masing-masing tanpa berani keluar!

Ketika Thian Sin sudah mendorong daun pintu kamar itu hingga terbuka, dia tercengang dan kagum. Sebuah kamar tidur yang luar biasa mewahnya! Begitu dibuka, bau semerbak harum menyambut hidungnya. Kamar itu dilengkapi dengan perabot yang serba indah dan mahal, dan tampak begitu bersihnya, sama sekali tak pantas menjadi kamar nenek-nenek peyot, pantasnya menjadi kamar seorang puteri istana!

Thian Sin melangkah masuk, lantas mempergunakan jari tangan yang memondong untuk menutupkan daun pintu lagi, kemudian dengan perlahan dia merebahkan tubuh nenek itu ke atas pembaringan yang berkasur tebal lunak dan bertilam sutera warna merah muda. Sebuah lampu yang berada di atas meja, agaknya tadi dinyalakan oleh pelayan, tertutup kap berwarna hijau sehingga membuat suasana di kamar itu nampak romantis dan indah sejuk.

“Kau… kau tidak mau membebaskan aku dari totokan?” tanya nenek itu.

“Ahhh, tentu saja! Aku sampai lupa, maafkan.”

Dengan halus Thian Sin meraba pinggang nenek itu. Dia bukannya menotok secara kasar, melainkan mengurut dan menekan lembut hingga totokan itu pun punah. Thian Sin duduk di tepi pembaringan dan tangannya meraba kaki nenek itu.

Otomatis Lam-sin cepat-cepat menarik kakinya yang diraba. “Apa… apa yang hendak kau lakukan…?” tanyanya, suaranya lirih dan gemetar.

Thian Sin tersenyum. Sikap nenek ini sungguh tak lebih seperti seorang dara remaja yang pemalu. “Aku hanya ingin melepaskan sepatumu, Lam-sin. Aku sendiri harus melepaskan sepatu, bukan? Pembaringan akan kotor…”

“Nanti…” kembali Lam-sin menarik kakinya. “Kau… kau padamkan dulu lampu itu. Aku… aku tidak bisa, aku malu… padamkan lekas, Thian Sin…”

Thian Sin meraih lampu di atas meja dan memadamkannya. Lenyaplah semua keindahan di dalam kamar yang kini telah menjadi gelap gulita. Thian Sin meraba-raba, melepaskan sepatu Lam-sin dan sepatunya sendiri, lalu memeluk nenek itu.

Dan malam itu Thian Sin mengalami sesuatu yang sangat luar biasa. Dia tidak ragu-ragu lagi bahwa wanita yang berwajah nenek ini sebenarnya adalah seorang dara muda yang memiliki tubuh indah, montok dan yang benar-benar selamanya belum pernah berdekatan dengan seorang pria!

Dan wanita ini menyerahkan diri dengan sepenuh hati dan rela, bahkan menangis saking bahagianya ketika berada di dalam pelukannya. Mereka itu bagaikan pengantin baru saja. Hanya yang agak mengecewakan hati Thian Sin adalah bahwa mereka berada di tempat yang gelap gulita. Lam-sin selalu menolak kalau dia hendak menyalakan lampu.

“Thian Sin, kasihanilah aku… jangan nyalakan lampu… engkau tunggu saja hingga besok pagi… ahh, bertahun-tahun aku menyembunyikan diri dan kini… setelah aku menemukan engkau… engkaulah orang pertama yang akan tahu segala-galanya… maafkan aku.”

Tentu saja Thian Sin mau memaafkannya dan pada saat dia menciumnya, Lam-sin balas mencium dengan kemesraan dan kehangatan yang membuat Thian Sin tercengang. Biar pun wanita ini mengubah mukanya sebagai nenek-nenek, entah dengan topeng apa maka demikian persisnya sehingga dia sendiri pun sebelum berdekatan muka tidak akan pernah menyangkanya, akan tetapi dia dapat menduga bahwa wanita ini tentulah seorang gadis cantik.

Tentu saja hal itu baru dapat dibuktikan besok dan malam ini, di dalam gelap, walau pun dia tidak dapat melihatnya, akan tetapi dia dapat merabanya dan memperoleh kenyataan bahwa memang Lam-sin seorang wanita yang masih muda, dan masih gadis.

Bermain cinta dengan wanita yang menyerahkan diri dengan penuh kerelaan, dan wanita yang sama sekali belum pernah diketahui bagaimana wajahnya, merupakan pengalaman baru bagi Thian Sin maka mendatangkan ketegangan luar biasa. Betapa pun juga, harus diakuinya bahwa mereka bermain cinta dengan penuh kesadaran, penuh kerelaan dan kemesraan.

Setelah malam lewat, pada keesokan harinya, sesudah sinar matahari mulai menerobos masuk sehingga kamar itu diterangi oleh cahaya keemasan matahari pagi, Lam-sin cepat menyembunyikan dirinya ke dalam selimut! Bahkan mukanya pun disembunyikannya, dan seluruh tubuhnya tertutup selimut!

Thian Sin bangkit duduk sambil tertawa. “Kekasihku yang manis, bukalah selimut itu dan mari kau memperkenalkan dirimu!”

Dari dalam selimut terdengar suara yang gemetar, “Aku… aku malu…”

“Ihh, bukankah kita sudah menjadi kekasih, bahkan telah menjadi suami isteri, walau pun tidak sah? Bukalah, aku ingin melihat bagaimana cantiknya wajah dewi pujaanku…”

“Thian Sin, jangan merayu engkau!”

“Sungguh, aku telah jatuh cinta padamu, dewiku…”

“Kepada Lam-sin nenek tua renta?”

“Bukan, melainkan pada seorang gadis yang cantik jelita dan bertubuh mulus dan indah.” Thian Sin memeluk dan dengan perlahan membuka selimut itu dan… dia pun terpesona!

Memang sudah diduganya bahwa gadis itu tentu seorang wanita muda yang cantik, akan tetapi tidak pernah diduganya akan sejelita ini! Seorang gadis yang cantik jelita dan manis sekali, yang kini memandang kepadanya dengan sepasang mata yang berseri-seri tajam akan tetapi juga malu-malu, yang kedua pipinya merah sekali dan bibirnya yang merah membasah itu tersenyum malu-malu.

“Ya Tuhan… engkau sangat cantik jelita!” katanya lirih dan Thian Sin lalu merangkulnya, mendekatkan muka itu lantas menciumnya dengan sepenuh kemesraan hatinya. Sampai terengah-engah wanita itu melepaskan diri, mendorong dada Thian Sin dengan lembut.

“Thian Sin, benarkah bahwa engkau cinta padaku?”

“Sungguh mati, sekarang cintaku padamu menjadi berlipat ganda!”

“Engkau tahu Thian Sin, bahwa aku sudah menyerahkan diri kepadamu sebagai seorang perawan, untuk memenuhi sumpahku.”

Thian Sin mengangguk dan mengelus rambut yang hitam panjang itu. “Dan aku merasa terharu, merasa berterima kasih sekali bahwa engkau percaya kepadaku.”

“Akan tetapi ketahuilah bahwa aku tidak dapat menikah denganmu, tidak dapat menjadi isterimu.”

Terkejut juga Thian Sin ketika mendengar hal ini. Sungguh aneh sekali. Dia melepaskan rangkulannya dan menatap wajah yang cantik itu. Sungguh manis sekali wanita ini, dan mempunyai bentuk tubuh yang indah menggairahkan. Dia merasa beruntung sekali dapat menjadi pria pilihan gadis seperti ini dan agaknya dia pun takkan pernah keberatan untuk mendampingi gadis ini selamanya!


Tag: Cerita Silat Online, Cersil, Kho Ping Hoo, Pedang Kayu Harum

Thanks for reading Pendekar Sadis Jilid 30.

Back To Top